5.27.2014

"Kita bermain, adik-beradik"





From: syauqiyahya@gmail.com

Minggu, 13 Januari 2013

Kacukan

Tersebutlah Hang Tuah; ia diusir dari kerajaan. Sultan Malaka percaya kepada fitnah bahwa sang laksamana telah berselingkuh dengan perempuan-perempuan Istana. Dengan murka yang bagai api ia menitahkan agar Tuah disingkirkan: "Segera buangkan, aku tahukan matinya!"

Adegan Hikayat Hang Tuah ini jadi pangkal telaah yang menarik oleh Henk Maier, pakar sastra Melayu klasik, yang dimuat dalam jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Riau in transition 153 (1997).

Maier menunjukkan, titah Sultan itu tak jelas sebenarnya: diusirkah Tuah? Atau dihukum mati? Dalam ambiguitas itu (satu hal yang akan tampak lagi dalam bagian berikutnya), laksamana itu akhirnya tak dibunuh. Ia malah mendapatkan sebuah kapal. Ia berlayar ke Indrapura.

Ia ke sana untuk membujuk Tun Teja, si jelita putri Perdana Menteri, agar mau dipersunting Sultan Malaka. Hang Tuah ingin mengambil hati baginda kembali; sudah lama yang dipertuan itu mendambakan Tun Teja, tapi selalu ditampik.

Gadis itu memang teguh. Sekali lagi ia menolak lamaran laksamana Malaka itu. Maka Hang Tuah pun memilih langkah diplomatis. Pelan-pelan ia membuat dirinya makin dikenal di Istana.

Syahdan, suatu hari Tun Jenal, abang si jelita, mengundangnya ke perhelatan untuk menghormatinya. Para biduan menyambutnya dan bertanya, akankah tamu agung itu berkenan dengan ragam musik Indrapura yang hendak dimainkan. Mereka ragu "karena ragam orang Indrapura bukan Melayu". Walau para biduan itu Melayu, mereka bukan "Melayu Melaka sungguh". Mereka "kacukan". Mereka hibrid.

Hang Tuah tersenyum sopan, menjawab bahwa ia, yang datang dari Malaka, juga bukan "Melayu" dalam arti yang murni. Ia juga "kacukan". "Orang Melaka gerangan Melayu kacukan, bercampur dengan Jawa Majapahit!" sahutnya.

Sebagaimana dilihat Maier, di sini ada permainan bahasa yang tak bisa begitu saja selesai diartikan. Ambiguitas muncul di tiap frasa. Kita tak dengan serta-merta dapat menyimpulkan apa arti "Melayu" di sana. Adakah "Melayu sungguh" sebenarnya nisbi? Tidakkah itu selamanya tak murni? Bermaksudkah Hang Tuah menunjukkan bahwa orang Malaka, di pusat ke-Melayu-an saat itu, justru punya unsur lain, yakni "Jawa Majapahit"? Dengan kata lain, "Melayu kacukan" tak lain adalah "Melayu sungguh"?

Tak ada konklusi. Tapi di adegan berikutnya dikotomi antara "kacukan" dan "sungguh" itu dicairkanâ€"atau ditunda. Saat menari tiba. Hang Tuah dipersilakan. Laksamana Malaka ini dengan merendah mengatakan ia tak pandai menari karenaâ€"ia kembali berkataâ€"ia bukan Melayu sungguh. Mendengar itu, si tuan rumah, Tun Jenal, menyahut: "Kita bermain adik-beradik; hendaklah jangan menaruh syak di hati."

Seperti ditunjukkan Maier, "bermain adik-beradik" bisa berarti "berpura-pura bersaudara kandung". Bisa juga berarti "Kita bermain, adik-beradik": persaudaraan itu telah terjadi dan sebab itu mereka bisa sewajarnya menari bersama. Yang penting adalah tak ada "syak di hati".

Dalam kisah Hang Tuah ini, apa arti "Melayu", apa pula arti identitas etnis atau budaya yang murni, pada akhirnya memang cair, ketika hubungan antarmanusia tumbuh dalam suasana tanpa syak wasangka.

Maka membaca Hikayat Hang Tuah, kata Maier, kita seperti selalu disarankan ke arah sebuah arti ke-Melayu-an: menjadi "Melayu" berarti mengandung hasrat menciptakan rasa kebersamaan, keinginan untuk persaudaraan di antara manusia-manusia konkret, bukan patuh buta kepada seperangkat konvensi yang abstrakâ€"atau kepada keyakinan akan adanya "satu identitas pribadi yang stabil".

Bagi Maier, thema Hikayat Hang Tuah adalah hasrat mempercayai "liyan" dan dorongan untuk membaur dengan "liyan". Tokoh utamanya sendiri menggambarkan itu: sebagai seorang anak muda Hang Tuah berbicara dalam 12 bahasa, mengabdi kepada Sultan Malaka, tapi mengembara di tujuh samudra tanpa repot dengan persoalan apakah dia "asli" atau tidak. Di zaman hikayat itu, pengertian "Melayu" tak mengandung "bobot eksklusivitas".

Tapi datang abad baru. Hari-hari ini "Melayu" (dan tak cuma "Melayu", tapi juga misalnya "Minang") justru identitas yang berhenti merantau. Ia jadi penanda "kaum" yang seakan-akan homogen dan tak bergerak karena diasumsikan tak berubah. Ia jadi sebuah identitas etnis atau budaya yang dibayangkan telah jadi hakikat yang kekal.

Orang tak mempersoalkan lagi adakah "hakikat yang kekal" itu. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan sebuah "identitas etnis" atau "budaya"? Sering itu semua dikaitkan dengan pengertian "kaum" atau "suku" atau "ras", tapi orang lupa, atau tak tahu, bahwa pengertian-pengertian itu guyah dan problematis.

Di sebuah kuliah umum tahun 1994, dengan judul Race, Culture, Identity: Misunderstood Connections, K. Anthony Appiah menguraikan dengan mendalam bagaimana pengertian "ras" muncul dalam sejarahâ€"dan bagaimana sebenarnya yang disebut "ras" itu tak pernah ada. Tapi ia melihat identitas "etno-rasial" tak henti-hentinya dibicarakan, bahkan jadi fokus dalam hubungan antarmanusia. Maka akhirnya yang "etno-rasial" itu jadi "imperialisme identitas", yang membuat pelbagai identitas lain dalam diri orang seorang tenggelam hingga manusia pun seakan-akan hanya terdiri atas ras-ras: cokelat, putih, hitam, atau kuning….

Memang, orang di sana-sini butuh bertopang pada identitas. Tapi, kata Appiah, identitas itu harus disadari sebagai penuh retakan dan tak ada dasarnya yang kekal. Dengan itu kita bisa "mempraktekkan ironi" antara "sungguh" dan "kacukan". Memakai saran Tun Jenal: kita "bermain".

Dan itulah yang dilakukan Hang Tuah di tengah para biduan Indrapura. Ia menari. Ia bergerak. Tak canggung.

Goenawan Mohamad


Tidak ada komentar:

Posting Komentar