9.30.2019

BAKSO PAK DJO

[BAKSO LEGEND PAK DJO SEJAK 1990-AN]
.
🏠 BAKSO PAK DJO
πŸ“Œ Jl. Mamyar tirtosari, gang XII no 2, surabaya, jawa Timur
⏲️ 10.00-18.00 WIB πŸ“· @laparlagimakanlagi
.


Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 217

@bende mataram@
Bagian 217


Di antara anak murid Kyai Kasan Kesambi, Wirapati adalah salah seorang
murid yang ahli dalam menggunakan senjata panjang. Dia terkenal dengan
sebutan Aria Sada Lanang ). Tatkala menerima ajaran ilmu senjata ia
diperkenalkan oleh gurunya tentang berma-cam-amcam aliran yang menggunakan
senjata sebagai sendi kekuatannya. Maka pengetahuannya tentang
perguruan-perguruan yang mengajar ilmu senjata cukup luas.


Demikianlah, tatkala melihat bentuk senjata kakek itu hatinya jadi
tercekat. Teringatlah dia, bahwa gurunya pernah memperkenalkan adanya suatu
aliran yang berpusat di sekitar Gunung Liman, yang mahir menggunakan
tongkat berkepala ular sebagai senjatanya yang ampuh. Cara bertahan dan
menyerang aliran Gunung Liman agak berbeda dengan ajaran gurunya. Tetapi
lebih ganas dan keji. Sebab kecuali dilumurui racun jahat, tiap jurusnya
tak memberi kesempatan kepada lawan untuk bernapas barang sekejap pun.
Cikal bakal aliran itu bernama Hewa. Apakah Hewa suatu sebutan atau gelar,
gurunya tak dapat menjelaskan. Memperoleh ingatan ini, Wirapati mencoba
menguasai diri. Seperti diketahui, dia diajar untuk menghormati angkatan
tua oleh gurunya, maka segera ia berkata penuh hormat.


"Apakah Kakek berasal dari Gunung Liman? Barangkali Kakek kenal dengan
seorang sakti bernama Hewa, sampaikan salamku."


Mendengar kata-kata Wirapati, Kakek itu terperanjat. Tak pernah diduganya,
bahwa Wirapati semuda itu sudah mempunyai penge-tahuan luas sehingga
mengenal asal-usulnya. Sesungguhnya Kakek itulah yang di sebut He-wa.
Namanya yang lengkap, Hajar Sandihewa. Jabatannya ketua aliran sakti dari
Gunung Liman. Kedatangannya ke Gunung Damar ialah atas undangan Patih
Danurejo dan dijanjikan akan memperoleh upah besar apabila berhasil membawa
pulang pusaka sakti


Pangeran Semono. Beberapa bulan lamanya ia mencoba mengumpulkan berita.
Selama itu, tak pernah ia memperkenalkan namanya atau memperlihatkan macam
kepandaiannya. Tak tahunya, baru saja ia muncul telah dikenal oleh seorang
pemuda layak cucunya. Karena itu, terpaksa ia menjawab, "Legakan hatimu.
Akulah sendiri yang bernama Hewa. Lengkap-nya Hajar Sandihewa."


"Golongan kalian selamanya tak pernah berhubungan atau bergaul dengan kami
dalam percaturan hidup. Mengapa tiba-tiba Kakek berada di Gunung Damar?
Apabila kami pernah melakukan suatu kesalahan, tolong berilah penjelasan."


Hajar Sandihewa tersenyum merendahkan, mendengar ucapan Wirapati.


"Memang antara golonganku dan golongan-mu tak pernah terjadi suatu
permusuhan. Aku pun pernah mendengar berita, tentang kegagahan anak murid
Kyai Kasan Kesambi. Tetapi kedatanganku kemari sesungguhnya hanya
menginginkan bocah itu agar memberi keterangan tentang pusaka Pangeran Semono."


Terdengarnya ia berbicara pantas. Tetapi nadanya berat dan mendesak. Bahkan
dengan lambaian tangan, ia memberi aba-aba kepada rombongan yang mengikuti
dari belakang agar mengepung lebih rapat. Terang sekali, ia hendak
memutuskan perkara itu dengan suatu kekerasan.


Mau tak mau, Wirapati mendongkol menyaksikan sikapnya. Karena itu mendadak
saja, ia berkata kaku.


"Seumpama aku bersitegang dan menolak kehendakmu apakah yang akan kaulakukan?"


"Ilmu Kyai Kasan Kesambi termasyur di seluruh jagad. Siapa yang tak kenal?
Aku pun termasuk salah seorang di antara mereka yang tak berani meremehkan
anak muridnya. Kebetulan sekali, kudengar kakak seperguru-anmu terluka dan
bocah itu keracunan.




Kesempatan ini sangat baik untuk kupergu-nakan memaksa kau dengan
mengandalkan jumlah banyak. Seumpama kau membandel, akan kami persilakan
engkau pergi dengan bebas. Hanya saja, kakakmu dan bocah itu harus kutahan."


Heran Wirapati mendengar kata-kata Hajar Sandihewa yang hendak
mempergunakan kesempatan itu untuk kepentingannya. Nyata sekali, betapa
rendah budinya. Karena itu, tak ada guna faedahnya berlaku hormat
kepada-nya. Maka serentak ia menegakkan kepala dan membentak, "Bagus! Jika
begitu, terpaksa aku memberanikan diri mencoba-coba ilmu sakti dari Gunung
Liman. Tapi andaikata engkau terpaksa mengalah satu dua jurus ter-hadapku,
bagaimana selanjutnya?"


"Jika aku kalah, sudah tentu kami beramai-ramai akan maju mengkerubut,"
sahut Hajar Sandihewa dengan tertawa riuh. "Habis inilah suatu kesempatan
bagus yang belum tentu kuketemukan dalam sepuluh tahun. Sebaliknya,
andaikata tiba-tiba saudara-saudara seperguruanmu secara kebetulan berada
di sini, kalian boleh mengkerubut kami. Dengan demikian, bukankah adil?"


Terang sekali, Kakek itu tahu—Wirapati hanya seorang diri, namun ia mencoba
men-cari kata-kata imbangan dengan mengumpa-makan anak murid Kyai Kasan
Kesambi tiba-tiba datang. Maksudnya hendak mempertahankan kehormatan
dirinya sebagai seorang dari angkatan tua. Sebaliknya, Wirapati jadi sadar
bahwa tiada gunanya mengadu mulut lagi. Tetapi hatinya sibuk memikirkan
keselamatan kakaknya seperguruan dan Sangaji yang lagi terserang sesuatu
racun. Cepat ia berpikir, biarlah kubekuknya dia untuk kujadikan sandera
memaksa kawan-kawannya mengadakan kerubutan. Dengan cara mengancam
nyawanya, bukankah kawan kawannya terpaksa membatalkan maksudnya hendak
mengkerubut aku dan Kangmas yang sedang terluka parah? Memperoleh keputusan
itu, segera ia meloncat dari kudanya dengan enteng sekali. Kemudian, ia
meminjam pedang Sangaji hadiah Willem Erbefeld. Berkata menantang, "Mari!
Kau adalah tamuku. Silakan menyerang dahulu."


Hajar Sandihewa dengan gesit melompat turun dari kudanya. Mendadak saja
terus menyerang dengan keji dan ganas. Benar-benar serangannya tak mengenal
ampun dan segan-segan. Wirapati dengan cepat mengelak tiga kali
beruntun-runtun sambil berpikir dalam hati, hari ini aku bertempur dengan
keselamatan Kangmas, perguruan dan Sangaji. Jika aku sampai gugur, rasanya
tak sia-sia hidupku di dunia. Tapi, hm. Sangaji belum memenuhi tekadnya
hendak membalas dendam ayahnya. Apakah dia harus tewas dalam pertempuran ini.


Pada saat itu ia melihat tongkat Hajar Sandihewa menyambar dahsyat. Segera
ia menangkis dan mencoba mengadu tenaga. Terlintaslah suatu pikiran.
Biarlah aku berpura-pura kalah tenaga. Dengan begitu, dia berpikir tak
perlu minta bantuan teman-temannya.


Apa yang terlintas dalam benaknya segera dilakukan. Begitu ia terbentur
tongkat Hajar Sandihewa, ia mundur tergeliat. Karuan Hajar Sandihewa yang
tadi beragu menghadapi anak-murid Kyai Kasan Kesambi, menjadi girang dan
berbesar hati.


Ha, katanya anak-murid Kyai Kasan Kesambi hebat tak terkalahkan. Ternyata
hanya berilmu dangkal. Tenaganya tak mele-bihi pekerja kampungan. Tahulah
aku se-karang, mungkin orang-orang itu hanya me-ngibul belaka, pikirnya.
Setelah itu berseru kepada kawan-kawannya! "Kalian tak usah membantu.
Biarlah aku membereskan bocah ini seorang diri."


Secepat kilat ia menyodokkan tongkatnya. Wirapati menangkis dengan susah
payah. Sekali-sekali ia menyerang juga, tapi nampak sekali tak berdaya.
Karena itu, hati Hajar Sandihewa kian menjadi besar. Sekaligus tim-bullah
angan-angannya hendak mempergu-nakan kesempatan ini untuk mengangkat nama.
Maka dengan tertawa riuh meren-dahkan lawan, ia menyambar pulang-balik
bagaikan burung sikatan.


Meskipun dia bergerak demikian cepat, namun tiap serangannya selalu kena
ditangkis




lawan. Memperoleh kenyataan itu, hatinya jadi panas. Dengan menjejak tanah,
ia hendak mengadu kegesitan. Tongkatnya terus menyambar, menyodok, memukul,
menebas dan memotong jurus tangkisan dan serangan.


Wirapati terus bermain mundur. Otaknya yang cerdas dan penglihatannya yang
tajam, segera menyelami ilmu Gunung Liman. Dan tak usah lama, ia telah
memperoleh kesim-pulan. Benar gerak-gerik Hajar Sandihewa cepat, ganas dan
ruwet. Tetapi banyak me-ngandung lubang kelemahan. Tetapi ia masih belum
mau membalas. Ia menunggu sampai lawannya dimabukkan semangat menang yang
berlebih-lebihan. Pada saat yang ditung-gu-tunggu sewaktu Hajar Sandihewa
mulai bertempur dengan membentak-bentak, segera ia merubah
tata-berkelahinya. Kemudian ber-kata, "Hajar Sandihewa! Apakah hanya ini
ilmu kepandaianmu? Hm, bagaimana kau berani berkeluyuran memasuki wilayah
Gunung Damar hanya dengan berbekal ilmu kepandaian murahan begini. Lihat
pembalasanku!"


Mendadak saja pedang Wirapati berputar seperti kitiran, kemudian mengalun
tinggi-ren-dah bagaikan gelombang laut merabu daratan. Hajar Sandihewa kena
dilihatnya. Terus saja ujungnya menusuk dan di tengah jalan tangan kirinya
menyodok tulang rusuk. Tak ampun lagi. Hajar Sandihewa runtuh ke tanah
sambil berteriak tinggi. Belum lagi ia sempat bangkit kembali, gagang
pedang Wirapati telah menyodok tulang lehernya. Seketika itu juga, kakinya
terus berlutut dan ia jatuh menu-lungkupi bumi.


"Hai, Hajar Sandihewa! Lihat! Mestinya beginilah gerakanmu!" kata Wirapati.
Terus saja ia menirukan gerakan lawan. Pedangnya bergetar lembut dan
menghamburkan pantul-an gelombang pendek. Tiba-tiba menusuk empat puluh
lima kali pada tubuh Hajar Sandihewa.


"Waduh!" teriak Hajar Sandihewa. Seluruh tubuhnya menjadi pedih dan nyeri.
Ia kagum luar biasa. Pikirnya, sekalipun dia tak berkisar dari tempatnya,
aku pun takkan sanggup menusuk sampai melebihi lima kali. Tapi dia bisa
menghamburkan satu serangan 45 kali tusukan dengan sekaligus. Biarlah aku
menjadi muridnya, kepandaianku masih selisih jauh


... hm ... mataku lamur sampai tak bisa menilai ketangguhannya.


Melihat Hajar Sandihewa kena dijatuhkan, kawan-kawannya yang mengepung
serentak turun dari kudanya dan siaga menyerbu. Cepat Wirapati mengancamkan
pedangnya ke teng-gorokan Hajar Sandihewa sambil membentak.


"Lekas kalian enyah dari Gunung Damar.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

TUMIS TOGE IKAN ASIN?

TUMIS TOGE IKAN ASIN?
by @dewi.yuliana23 ?
?
BAHAN :?
100 gram toge?
50 gram ikan asin berdaging tebal, saya pakai ikan asin tenggiri (biasanya
pakai jambal roti) cuci bersih, rendam air hangat, tiriskan potong kecil2?
1/2 buah bawang bombay iris kasar?
4 siung bawang putih iris?
1 buah cabe merah iris?
Daun bawang iris?
1 sdt saos tiram?
1/2 sdt kecap manis?
Sedikit air?
Kaldu jamur dan gula secukupnya .?
?
CARA MEMBUAT :?
1. Panaskan sedikit minyak, masukkan potongan ikan asin tumis sampai agak
kecoklatan?
2. Tambahkan bawang bombay, bawang putih dan cabe tumis lagi sampai wangi?
3. Masukkan saus tiram dan kecap manis aduk sebentar, tambahkan toge juga
sedikit air, beri kaldu jamur dan gula secukupnya?
4. Masak sebentar saja dengan api besar sambil diaduk sampai toge agak
layu, terakhir tambahkan irisan daun bawang aduk rata siap disajikan?
.?

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Umpan

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Mancing sambil masak2 outdoor. Enak

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Mammoth

Pada akhir tahun 2015 ditemukan fosil mammoth berbulu atau gajah purba di
Michigan.
Pada awalnya petani di Michigan menggali tanah untuk memasang jaringan pipa
air baru.


Ia mengira menemukan kayu pagar tua yang bengkok. Setelah digali lebih
dalam ternyata yang ditemukan adalah hal yang luar biasa, yaitu gading dan
tengkorak Mammoth dari masa 12-15 ribu tahun yang lalu.


Kepastian terungkap setelah ilmuwan dari Universitas Michigan yang
berkekuatan 15 orang melakukan penggalian.


Hasilnya dipastikan, tulang tersebut adalah gading mammoth.


Berdasarkan hasil penelitian, mammoth ini mati karena diburu. Sang pemburu
sengaja menyembunyikan dan berharap suatu waktu akan mengambilnya kembali.


Fosil yang ditemukan ini sepertinya jenis persilangan dari mammoth berbulu
dengan Mammoth columbian yang tingginya sekitar 4 meter.


Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Repotnya punya aquarium super gede

Repotnya punya aquarium super gede

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Best looking bream

Best looking bream going and she's a pretty girl from Oman
@morningtidefishing Gear used shore jigging @daiwaaustralia Saltiga 5000 x
30lb J Braid x Saltiga Airportable 77mhs #fishinglife #oman #instafish
#fisherman #angler #bream #catchandrelease #fishingtrip #morningtidefishing
#middleeast

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Hot spots

Tag 3 friends you no longer tell your hot spots too πŸ˜‚
.
.
via @bassdynasty
.
.
#bassfishing #fishing #fishy

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Makan siang

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Perubahan iklim

Namun, pelaku industri sektor energi, pelobi politik, dan lainnya selama 30
tahun terakhir menaburkan keraguan tentang sains terkait perubahan iklim.


Perkiraan terbaru adalah lima perusahaan minyak dan gas publik terbesar di
dunia menghabiskan dana melobi sekitar 200 juta Amerika dolar setiap tahun
untuk mengendalikan, menunda, atau menghalangi kebijakan iklim yang
mengikat secara hukum.


Penyangkalan akan sains perubahan iklim yang terorganisir dan terencana ini
telah berkontribusi kepada kurangnya kemajuan dalam mengurangi emisi gas
rumah kaca global (GRK)-berujung kepada manusia kini menghadapi darurat
iklim secara global.


Dan, ketika para penyangkal perubahan iklim menggunakan mitos - dalam
bentuk berita palsu (fake news) dan berita bohong - untuk merongrong ilmu
perubahan iklim, orang biasa akan kesulitan melihat fakta yang ada.


Berikut adalah lima mitos yang biasa digunakan dan sains yang membantah
mitos tersebut.


Mitos 1: Perubahan iklim hanyalah bagian dari siklus alam
Iklim Bumi selalu berubah, tetapi studi palaeoklimatologi atau ilmu tentang
"iklim di masa lalu" menunjukkan perubahan luar biasa dan tidak bisa
disebut alami dalam 150 tahun terakhir, yaitu sejak awal Revolusi Industri.


Hasil pemodelan menunjukkan bahwa pemanasan yang diprediksi di masa depan
tidak pernah terjadi dalam 5 juta tahun terakhir.


Argumen "perubahan secara alami" didukung oleh cerita bahwa iklim Bumi baru
saja pulih dari suhu dingin Zaman Es Kecil (1300-1850SM) dan suhu saat ini
benar-benar sama dengan Periode Hangat di Abad Pertengahan (900-1300SM).
Masalahnya adalah bahwa kedua Zaman Es Kecil dan periode Pemanasan Abad
Pertengahan bukanlah perubahan global tetapi perubahan iklim regional yang
memengaruhi Eropa barat laut, Amerika timur, Greenland, dan Islandia.


Sebuah studi yang menggunakan 700 catatan iklim menunjukkan bahwa selama
2.000 tahun terakhir, satu-satunya masa saat iklim di seluruh dunia berubah
pada saat dan arah yang bersamaan terjadi dalam 150 tahun terakhir, ketika
lebih dari 98% permukaan planet bumi ini telah menghangat.


Lanjut di komeng!


Sumber: nationalgeographic.grid.id
#misteri #sains #bintang #galaksi #nasa #bumi #bulan #blackhole

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Bawang Goreng

Bawang Goreng
By. @umi_babyraj


Bawang merahnya setelah di kupas, trs di cuci dulu, takutnya ada kotoran2,
trs keringin pake tisu.
.
METODE 1
250 g bawang merah iris tipis
1 sdt cuka dapur
1 sdt garam
.
Cara:
1. Bawang yg sudah di iris campur dengan cuka dapur sampai tercampur rata.
Diamkan 1 menit.
2. Bilas dengan air mengalir bawang yg tercampur cuka, tiriskan.
3. Taburi garam, campur rata.
4. Masukkan bawang di minyak panas, jangan di tinggal, aduk2 sampai kekuningan.
5. Klo sudah mulai kekuningan, kecilkan api, aduk2 sebentar, angkat.
(Jangan tunggu sampai kecoklatan, karena proses pa as pada bawang masih
berlanjut setelah di angkat).
6. Tunggu dingin, simpan di wadah kedap udara atau plastik, kemudian simpan
di kulkas agar tahan lama.
.
METODE 2
250 g bawang merah iris tipis
1 sdt cuka dapur
1 sdt kaldu jamur
4 sdt tepung maizena
.
Cara:
1. Bawang yg sudah di iris campur dengan cuka dapur sampai tercampur rata.
Diamkan 1 menit.
2. Bilas dengan air mengalir bawang yg tercampur cuka, tiriskan.
3. Taburi kaldu jamur, dan tepung maizena, campur rata.
4. Masukkan bawang di minyak panas, jangan di tinggal, aduk2 sampai kuning
pucat.
5. Klo sudah mulai kuning pucat , kecilkan api, aduk2 sebentar, angkat.
(Jangan tunggu sampai kecoklatan, karena proses pa as pada bawang masih
berlanjut setelah di angkat).
6. Tunggu dingin, goreng lagi pakai api kecil sampai kekuningan (sebentar
aja), angkat.
7. Tunggu dingin, masukkan wadah, simpan di kulkas.
.
.

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Habibie

Salah satu cara emak memotivasi anaknya taon 90'an.
Kalo kalian gimana guys?
.
.
.
By @daeng_hermanto

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Jangan lodeh tahu kacang panjang

Jangan lodeh tahu kacang panjang
Oleh @dapur_mamaalba .


Ini versi embahku dl, bumbu minimalis aja ya. Gak pake ebi, udang ataupun
daging tetelan.


Bahan:
1iket kacang panjang (10 lonjor)
1bks tahu goreng/ tahu sayur (5buah)
1lt santan
3cm lengkuas
3lbr daun salam
Gula merah
Garam
Kaldu bubuk (opsional)


Bumbu halus:
5buah bawang putih
8buah bawang merah
10bauh cabe merah keriting
5buah kemiri sangrai


Cara membuat:
Tumis bumbu halus beserta lengkuas dan daun salam sampai matang/ sampai
harum. Tambahkan sedikit air, masukkan kacang panjang yg sdh di potong2 dan
tahu yg sudah di iris2. Setelah mendidih masukkan santan, sesekali di aduk
supaya tidak pecah santannya. Bumbui dengan garam, gula merah dan kaldu
bubuk. Test rasa sesuai selera. Kecilkan api, masak sampai matang/ tanak.
.


Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Sambal Kacang Panjang Udang .

Sambal Kacang Panjang Udang .
.


Bahan :
by @eddriantjhia
Kacang panjang ( potong serong )
Udang
Tempe ( potong kotak mamanjang )
Bahan bumbu halus :
7 siung bwg merah
6 btr kemiri
1 cm lengkuas
1/2 cm kunyit
7 cabe merah keriting
Terasi seckukupnya
Santan secukupnya
Gula, garam secukupnya
Penyedap jamur totole secukupnya
.
.
Cara mrmbuat :
Tumis bumbu sampai wangi, masukan tempe, kacang panjang aduk rata masukan
santan, gula, garam dan penyedap, masak sampai mendidih, masukan udang,
masak sampai udang berubah warna lalu angkat



Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Bakso Bulnak Gresik

• • • • • •
Kamu biasa makan belut jadi lauk lalapan kan? Nah kalo di Bakso Bulnak
Gresik, belut tuh dibikin teman makan bakso. Ini infonya dari sis
@eattemptationsby⁣

Bakso Bulnak Gresik⁣
In frame : Bakso Belut⁣
Harga: Rp25k πŸ’Έ⁣
IG : @bulnak_gresik⁣
Lokasi: Jl. Karang Rejo X 40-3, Surabaya⁣
Jam buka : 11.00 - 21.00⁣
Halal: ✔️⁣


Testinya sis @eattemptationsby:⁣
Setelah viral dgn aneka bakso seafoodnya, skrg ada menu terbaru yaitu Bakso
Belut. Kuahnya enak, gurih asin, ga kerasa amis. .⁣


Ada yang pernah nyobain? Info di komen dong πŸ˜‰⁣



Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Namanya "ghost cat", tapi kok menggemaskan ya.. 😁

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Hampili

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Terjebak macet

Terjebak dalam kemacetan memang bukan sesuatu yang menyenangkan. Kalau
bisa, kita pasti ingin menghindarinya karena sangat menguras emosi.


Kemacetan ini terjadi di kawasan rute Beijing Tibet, sejumlah pengendara
kendaraan harus terjebak kemacetan sepanjang 100 km dan menghabiskan waktu
kurang lebih 12 hari, peristiwa ini terjadi pada Agustus 2010.


Bagaimana kalau kamu yang mengalaminya?


Para pengendara hanya mampu memacu 2 km/jam dalam dua hari, dan bagi yang
beruntung tiga hari baru dapat keluar dari kemacetan ini.


Kemacetan panjang ini disebabkan tidak hanya jumlah kendaraan yang
melampaui daya tampung jalan raya, melainkan adanya truk-truk pengangkut
beton yang membawa persediaan beton untuk perbaikan jalan di Beijing.


Dan lebih parahnya lagi, beton tersebut salah satunya akan diturunkan di
jalan raya yang sedang dilanda kemacetan ini.


Akibat kemacetan yang terjadi di rute Beijing-Tibet, para pedagang, baik
kios maupun toko mendapatkan keuntungan.


Para penjual dihari-hari kemacetan terjadi mengalami peningkatan penjualan,
khususnya makanan dan minuman. Namun bagi para pengendara kurang beruntung,
mereka menjadi korban pencurian akibat meninggalkan mobil terlalu lama. .

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 216

@bende mataram@
Bagian 216


Diam-diam dia berpikir dalam hati. Kangmas Bagus Kempong lebih kuat
dari-padaku, meskipun demikian kena dilukai. Hm, pastilah bukan orang
sembarangan. Dia pun mengincar Sangaji. Aih, agaknya pesan terakhir Wayan
Suage yang diungkapkan Sangaji, sudah bukan menjadi suatu rahasia lagi.
Jangan-jangan, dia pun termasuk salah seorang yang menyelundup dalam
barisan utusan Sri Sultan, sehingga dapat mendengar kata-kata Sangaji.
Bagus! Jika bangsat itu berani datang kembali dengan mengancam nyawa
Sangaji, biarlah aku mengadu nyawa. Karena ini, segera ia berkata kepada
Bagus Kempong, "Kangmas, apakah keadaan badanmu sudah pulih kembali?"


Persaudaraan seperguruan mereka sudah dipupuk semenjak kanak-kanak,
sehingga suatu isyarat mata atau suatu gerakan tangan sudah cukup untuk
saling memahami kehendak hati masing-masing. Maka Bagus Kempong lantas saja
bisa menerima, bahwa adik-seperguruannya mengkhawatirkan keadaannya.


"Aku hanya hendak melemaskan urat belikat belaka."


Setelah berkata demikian, kembali ia duduk bersemadi menenangkan hati. Ia
duduk dekat Sangaji. Teraba oleh suhu tubuh Sangaji yang agak tinggi, ia
menyenakkan mata. Sebentar ia memperhatikan paras pemuda itu, kemudi-an
memejamkan mata kembali. Sebagai se-orang pendekar yang berpengalaman
tahulah dia dengan sekali pandang, bahwa luka Sangaji meskipun teraba oleh
sesuatu racun tidak akan membahayakan nyawa.




Dalam gardu itu lantas saja terselimuti suatu kesenyapan. Angin mendesir
lembut meraba kain sarung yang terpancang menjadi tirai. Bulan di luar
nampak remang-remang. Suasana damai terasa meraba sekitar lembah
pegunungan. Wirapati jadi bermenung-menung. Dua belas tahun yang lalu,
seringkali dia lewat sekitar Dusun Salatiyang. Meskipun kini belum berubah,
tetapi pengalamannya sehari tadi mempunyai kesan tertentu. Daerah lembah
Gunung Damar yang dahulu aman tenteram, ternyata mulai dikunjungi
orang-orang tertentu yang mengandung maksud jahat.


Selagi ia bermenung, mendadak saja kain sarung yang terpancang di depannya
menggelembung lembut seperti teraba suatu tangan. Tajam ia mengamat-amati.
Benar juga. Perlahan-lahan sarung itu tersingkap. Kemudian muncullah kepala
seseorang men-jenguk ke dalam. Ia bersangsi dan mau men-duga, bahwa orang
itu mungkin seorang pe-ronda kampung atau salah seorang penduduk. Mungkin
pula seorang pengembara yang kebetulan lewat. Tetapi aneh! Mengapa
pendengarannya yang tajam tiada mendengar langkahnya. Memperoleh
pertimbangan ini, ia jadi curiga. Cepat ia bersiaga menghadapi kemungkinan.


Orang yang menyingkap sarung itu, seorang laki-laki berperawakan tinggi
tipis. Ia menge-nakan baju dan celana pendek. Tangannya menggenggam cambuk,
mirip seorang sais. Begitu melihat siapa yang berada di dalam gardu, terus
mundur dengan tertawa melalui hidung.


Melihat gerak-gerik orang itu. Wirapati yakin bahwa maksudnya tidak baik.
Hatinya menjadi mendongkol, mendengar nada tertawanya dan
kekurangajarannya. Tatkala sarung itu turun dan bergelombang ke luar, ia
membarengi dengan menyodokkan tangan dengan tenaga gendam.


Seketika itu juga, tirai sarung itu terbang dan tepat mengenai dada.
Laki-laki itu kaget sampai memekikkan suara. Tubuhnya terhuyung-huyung dan
akhirnya jatuh tertengkurap. Ia mencoba tertatih-tatih bangun. Begitu dapat
berdiri tegak mendadak saja berlari kabur sambil berteriak, "Bangsat! Ajal
kalian sudah di depan mata, masih berani berlagak sok pendekar?"


Bagus Kempong sudah tentu mengetahui peristiwa itu, tetapi dia tetap tak
bergerak dari tempatnya. Sebaliknya Wirapati terus berkata kepadanya,
"Sejiwan sudah berada di depan. Apakah kita tidak berangkat saja?"


Tidak!" sahut Bagus Kempong cepat dan tegas. "Malam ini biarpun badai turun
dengan dahsyat, kita tak perlu meninggalkan tempat ini. Esok pagi biarlah
kita berangkat bersama dengan merangkaknya matahari."


Mendengar kata-kata Bagus Kempong, Wirapati dengan cepat dapat memahami.
Se-mangat keperwiraannya lantas saja berkobar-kobar. Katanya bergelora,
"Ya, benar. Jarak perjalanan ke Sejiwan tinggal enam-tujuh pai. Betapapun
kita berdua tak becus menghadapi mereka masa harus merosotkan papan nama
perguruan. Masakan di kaki Gunung Damar, kita masih menempuh perjalanan
pada malam hari untuk menghindari mereka?"


"E-hm." Bagus Kempong berdehem. "Jejak kita terang sudah ketahuan
orang-orang ter-tentu. Biarlah mereka menyaksikan bagai-mana cara murid
Kyai Kasan Kesambi meng-hadapi ajalnya."


Sangaji mendengarkan ucapan guru dan pamannya dengan jelas. Gurunya sama
sekali tiada menyinggung dirinya. Pamannya pun demikian, seolah-olah dia
tidak termasuk hitungan. Di sini ternyata, bahwa guru dan pamannya tak
menginginkan dia terlibat dalam kesukaran. Bahkan mereka bersiap-sedia,
mengorbankan nyawa bila perlu demi menjaga keselamatan dirinya. Tetapi
bagai-mana dia mau diperlakukan demikian? Meski-pun dia tahu maksud baik
guru dan paman-nya, tetapi diam-diam ia sudah mengambil keputusan,




"Jika orang semalam datang kem-bali mengganggu Guru dan Paman karena
menginginkan diriku, biarlah aku mengadu nyawa."


Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan. Waktu itu matahari telah
sepenggalah tingginya. Angin meniup sejuk membawa hawa pegunungan. Mereka
meneruskan perjalanan dengan berkendaraan kuda. Bagus Kempong tak
membutuhkan bantuan tenaga Wirapati, meskipun kesehatan dan tenaganya belum
pulih seperti sediakala. Itulah sebabnya pula, kudanya hanya dibiarkan
berjalan perlahan-lahan.


Baru saja melampaui dua pai, mereka telah disusul satu rombongan berkuda.
Tidak jauh di sana, kira-kira seratus langkah di depan mereka berdiri empat
penumpang kuda pula yang bersiaga menghadang di tepi jalan. Dengan
demikian, mereka terjepit dari belakang dan depan.


Dengan sikap tak memedulikan, Bagus Kempong lewat di depan mereka. Sedangkan


Wirapati menjajari di sampingnya dengan waspada. Mereka yang menghadang
ternyata terdiri dari seorang kakek, seorang wanita muda yang cantik dan
dua perwira yang mengenakan pakaian seragam.


Wanita muda itu memegang pedang pan-jang dan dengan isyarat mata ia memberi
pe-rintah kepada si kakek agar menghadang dengan melintangkan kudanya.
Kedua perwira yang mendampingi ikut pula melintangkan kudanya sambil
tersenyum-senyum meren-dahkan.


Wirapati terus saja lari mendahului Bagus Kempong, sedangkan Sangaji
menjaga di belakang. Dengan menahan gejolak hati, Wirapati memberi hormat
dari atas kudanya. Kemudian menyapa,


"Terimalah hormat kami berdua. Bagus Kempong dan Wirapati anak murid Kyai
Kasan Kesambi. Tuan-tuan telah mengunjungi daerah kami dan ternyata kami
lalai meng-adakan penyambutan. CJntuk kelalaian kami harap dimaafkan.
Sekiranya Tuan-tuan berla-pang dada, dapatkah kami mengetahui nama-nama
Tuan yang mulia?"


Wanita muda itu hanya tersenyum belaka sebagai balasan. Sedangkan kedua
perwira yang mendampingi, meludah ke tanah.


Kemudian si kakek yang berambut gimbal membalas dengan kasar.


"Siapa sudi menerima hormatmu. Cukup serahkan saja bocah itu dan kami
takkan mempersulit kalian berdua."


"Bocah ini adalah murid kami. Dan kami adalah murid Kyai Kasan Kesambi.
Biarlah beliau yang memutuskan. Lagi pula apakah keuntungannya Tuan membawa
murid kami. Sekiranya Tuan membutuhkan petunjuk atau keterangan tentang
tempat-tempat yang Tuan kehendaki, lebih berhasil apabila membawa kami
berdua," sahut Wirapati yang dengan menahan marah. Tetapi di dalam hati dia
sibuk menimbang-nimbang, terang sekali mereka mencari perkara. Sangaji
hendak dibawanya supaya bisa dipaksanya menunjukkan pusaka warisan. Hm,
Kangmas Bagus Kempong menderita luka tak enteng. Tetapi masa aku harus
menyerah mentah-mentah di daerahku sendiri?


Tengah dia sibuk menimbang-nimbang, Kakek itu berkata dengan nada merendahkan.


"Pikirlah masak! Kakakmu seperguruan ter-luka berat. Bocah itu pun kurang
sehat. Tinggal kau seorang diri. Masa kamu mampu melawan kami?"


"Apakah kamu akan mengadu jumlah banyak?" Wirapati tak sabar lagi. Dengan
pan-dang tajam ia melepaskan kata-kata tajam pula.


"Bagus! Telah lama aku mendengar kabar, bahwa murid-murid Kyai Kasan
Kesambi tak gampang-gampang bisa diruntuhkan.


Pagi ini biarlah kita mencoba-coba, seru Kakek itu sambil mencabut tongkat
galih pohon




jambe ). Tongkat itu bentuknya seder-hana tetapi berkepala ular dan terus
diputar-putar sehingga mengeluarkan suara berdesing.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Nangka

.


Cemilan iseng sayaa.. Nangka manis bngt.. Ada yg mauuu nggaaa

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Eggs and Shrimp

Who's Hungry? Eggs and Shrimp on my @broilkingbbq @broilkingil @broil_king
Keg πŸ”₯
#shrimp #surfandturf #eggs #keto #paleo #fish #fishing #carnivore #asado
#surfandturf #chef #cheflife #foodporn #foodie #chefsofinstagram #foodies

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Entok

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Kocolan

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

9.29.2019

Makan di tetangga

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Sesuai

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Umpatan

Penggunaan kata-kata umpatan dan hinaan seringkali dikaitkan dengan
kata-kata kasar dan tidak baik. Namun, sebuah penelitian terbaru menemukan
adanya sesuatu yang sangat mengejutkan dari orang-orang yang sering
menggunakan kata umpatan. Ternyata, tingkat pengetahuan seseorang yang
besar terhadap kata-kata tidak senonoh ini sebenarnya memiliki hubungan
dengan kefasihan yang tinggi terhadap kata-kata pada umumnya.


Pada salah satu bagian penelitan yang diterbitkan dalam Language Sciences,
sebanyak 43 orang peserta yang berada di akhir masa-masa remaja hingga usia
dua puluh tahunan dikumpulkan. Dari seluruh peserta, para peneliti kemudian
membandingkan tingkat kefasihan mereka terhadap kosakata umum dan tingkat
pengetahuan mereka terhadap kata-kata kotor.


Pertama-tama, para peserta diminta untuk mengerjakan sebuah Controlled Oral
Word Association Test (COWAT). Tes ini menilai kemampuan peserta dalam
membuat kata-kata secara spontan sesuai dengan petunjuk yang tertera. Para
peserta diberikan waktu selama satu menit untuk menuliskan kata-kata
sebanyak mungkin yang dimulai dari huruf-huruf tertentu. Setelah
mengerjakan COWAT, mereka kembali diberikan waktu satu menit untuk
menuliskan sebanyak mungkin nama-nama hewan dan kemudian menuliskan
"kata-kata kotor" sebanyak mungkin.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang menuliskan banyak kata-kata
umum dalam tes kefasihan memiliki kemampuan untuk menuliskan nama-nama
hewan dalam jumlah yang lebih banyak, begitu juga dengan "kata-kata kotor."
Menariknya, para peneliti menemukan adanya hubungan positif antara
kelancaran berbicara kotor dengan ciri-ciri orang yang neurotik dan
memiliki kepribadian terbuka, namun berkorelasi negatif terhadap sikap
ramah dan tingkat kesadaran.


Sebagai informasi, kata-kata "f*ck," "sh!T" dan "bi^ch" adalah tiga kata
umpatan yang paling sering ditulis dalam tes. Beberapa kata ejekan lainnya
hanya disebut sekali atau dua kali. Namun jika ditotal, terdapat 400 kata
umpatan yang berbeda.


Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Bakmi dan ayam goreng

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Jembatan overtoun

Terhitung sudah 600-an anjing yang mencoba "bunuh diri" di jembatan keramat
Overtoun di Dunbartonshire, Skotlandia.
Dari sekian banyak itu, 50 ekor di antaranya berakhir dengan meninggal dunia.
Banyak kalangan mencoba memecahkan misteri 600 anjing yang bunuh diri di
jembatan angker Overtoun itu.
.
Dalam lima dekade terakhir, terdapat 600 anjing yang mencoba bunuh diri di
jembatan kuno itu.
.
50 anjing meninggal dunia. Sebagian lain selamat. Cassie, anjing berusia 3
tahun, menjadi salah satu yang berhasil lolos dari maut jembatan Onvertoun.
.
"Kami baru saja keluar dari mobil dan Cassie segera berjalan ke jembatan...
dia menoleh, melihat ke atas, dan meloncat. Saya sangat ingat bagaimana ia
menjerit saat melompat," ujar Alice Treverrow, pemilik Cassie, kepada Daily
Record. Tapi untungnya Cassie selamat.
.
Tapi itu tidak dialami oleh Ben, anjing jenis collie kepunyaan Donna Cooper.
Donna melihat dengan matanya sendiri bagaimana Ben meloncat, dan akhirnya
tewas.
.
Mengutip laporan Daily Mail, selama satu periode enam bulan 2015 lalu, lima
anjing dikabarkan tewas setelah meloncat dari jembatan.
.
Uniknya, semua kematian terjadi di posisi yang hampir sama: antara dua
sandaran yang ada di sisi kanan jembatan; dan semuanya terjadi di hari
dengan cuaca yang begitu cerah.
.
Selain itu, seluruh anjing yang meninggal seluruhnya adalah anjing dengan
jenis berhidung panjang: labrador, collie, dan retriever.
.
.

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Danau bening

Meski terkenal dengan kejernihan airnya, hingga membuat danau ini seperti
berisi kaca, danau ini memiliki legenda yang kelam. Menurut cerita,
kejernihan air di danau tersebut, berasal dari intan titipan milik para
pemuda yang ingin melamar putri seorang raja bernama Raja Gagak yang cantik
jelita.


Kecantikan putri bernama Napal Melintang bahkan memikat hati ayahnya
sendiri. Raja Guguk pun membawa lari putrinya tersebut dan meninggalkan
intan dari para pemuda di dasar danau. Sampai sekarang ini, masyarakat
sekitar masih percaya bahwa kilauan di dasar danau adalah intan peninggalan
Raja Gagak.


Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 215

@bende mataram@
Bagian 215


Berbareng dengan teriaknya, ia lari melesat ke jurusan barat menghadang
empat serdadu. Sekali bergerak, keempat serdadu itu jatuh berdeburan di
atas tanah. Maklumlah, mereka tiada memiliki suatu kepandaian yang berarti.
Bagi Bagus Kempong merupakan makanan empuk belaka.


Dalam pada itu, Sangaji berkelahi pula dengan penuh semangat. Hatinya tidak
segan-segan lagi melabrak sekalian serdadu, karena gemas menyaksikan
kekejaman menghajar seorang anak. Dengan pedang rampasannya ia merangsak.
Dengan tinjunya yang bertenaga ia menghajar kalang kabut.


"Bagus!" puji Wirapati gembira. Ia tak me-ngira, bahwa muridnya mau
berkelahi juga melawan golongan kompeni. Sekonyong-konyong ia melihat
seorang serdadu berewok menyerang dari timur. Cepat ia menangkis dan dengan
sekali gempur, sedadu itu jatuh tertelungkup. Tetapi mendadak saja,
tahu-tahu serdadu itu melesat dan berhasil menangkap pergelangan tangan
Sangaji.




Sangaji terperanjat. Tanpa berpikir lagi, ta-ngannya terus menghantam
dengan jurus ilmu sakti Kumayan Jati. Serdadu itu menggeliat mundur tiga
langkah sambil terpekik heran. Kemudian dengan gerakan aneh, ia menyerang
lagi. Kali ini lebih dahsyat dan tangkas. Tangan Sangaji kena ditangkapnya
dan terus ditarik maju.


Bagus Kempong dan Wirapati heran menyaksikan keperkasaan serdadu itu.
Tenaga Sangaji bukanlah suatu tenaga dorong murahan. Setiap pukulannya
mengandung tenaga ilmu Kumayan Jati. Namun serdadu itu kuat bertahan
seolah-olah kebal dari suatu pukulan betapa sakti pun. Mereka terperanjat,
tatkala melihat lengan Sangaji kena tangkap pula.


Maka tanpa berpikir lagi, Bagus Kempong melesat maju sambil melontarkan
gempuran. Serdadu itu kaget. Ia tahu bahaya. Cepat ia melepaskan
cengkramannya dan menangkis gempuran Bagus Kempong. "Plak!" Bagus Kempong
terkejut bukan kepalang. Ia merasa tenaga pukulan lawan begitu kuat
bagaikan gugurnya sebuah bukit batu. Tubuhnya sam-pai tergeliat mundur.


Sebaliknya serdadu itu pun tak tahan menangkis gempuran Bagus Kempong. la
tergeliat sampai tubuhnya berputar kemudian kabur dan lenyap di gelap malam.


"Jangan kejar! Berbahaya," Bagus Kempong berteriak memperingatkan.


Wirapati terkejut. Paras Bagus Kempong ternyata pucat lesi, terang sekali
terluka tiada enteng. Cepat Wirapati membopongnya. Se-baliknya, Sangaji
nampak duduk bersimpuh di atas tanah. Lengannya berdarah terkena
cengkeraman serdadu tadi. Maka cepat-cepat ia menyalurkan napas dan
darahnya, agar terhindar dari suatu kemungkinan terkena racun.


"Tolong muridmu dahulu!" bisik Bagus Kempong lemah. Dia sendiri terus duduk
menenangkan diri di atas tanah.


Waktu itu, Wirapati melihat tiga orang ser-dadu sedang datang mengepung
Sangaji.


Dengan sebat Wirapati menyambar senja-tanya. Sekali tusuk, dua orang mati
ter-jungkal. Lainnya segera melarikan diri. Tetapi Wirapati sedang marah.
Pedang rampasan terus ditimpukkan dengan sekuat tenaga. Agaknya hatinya
bergejolak hebat karena marah melihat kakak seperguruannya terluka oleh
akal licik seorang serdadu. Tenaga lontarannya kuat luar biasa sehingga
mem-bawa suara mendesing. Maka terdengarlah suara gedebrukan. Serdadu itu
mati tertancap lontaran pedang seperti terpantek di atas tanah.


Wirapati lantas menolong muridnya dan dibawa berdiri menghampiri Bagus
Kempong. Pada waktu itu para serdadu sudah meninggalkan kampung. Bagus
Kempong masih memejamkan mata mengatur perna-pasannya. Kemudian, merogoh
sebutir ra-muan obat buatan gurunya, wajahnya yang tadi pucat
perlahan-lahan bersemu merah kembali.


"Tenaga pukulan luar biasa kuat," katanya lemah berbarengan dengan
menyenakkan mata. Mendengar kakak seperguruan sudah dapat berbicara tenang,
hati Wirapati lega bukan main. Meskipun demikian, belum berani ia mengajak
berbicara lebih banyak lagi.


"Apakah orang itu benar-benar mening-galkan kita?" Bagus Kempong menegas
dengan lemah.


"Ya, bagaimana keadaan Kangmas?"


"Tak usahlah kau bercemas hati," sahut Bagus Kempong. Tangannya menggapai
pun-dak Wirapati. Dengan memejamkan mata ia merenung-renung. Sejenak
kemudian ia mem-buka matanya kembali sambil berkata, "Tak dapat aku menebak
siapa dia. Terang sekali ia seorang pendekar yang menyamar sebagai serdadu
murahan dengan menyembunyikan maksud-maksud tertentu. Melihat dia hendak
menculik Sangaji, pastilah dia mengincar pula pusaka keramat. Aih, tak
kukira begini besar pengaruh pusaka keramat Pangeran Semono. Baiklah...
marilah kita pulang ke gunung, kita minta keterangan Guru dari cabang
kesaktian manakah orang itu."




Mendengar ujar Bagus Kempong, tahulah Wirapati bahwa kakak seperguruannya
meng-hendaki agar dia membatalkan maksudnya mengambil pusaka warisan.
Mengingat di antara mereka yang memperebutkan pusaka sakti terdapat
orang-orang sakti. Sedangkan kakak seperguruannya terluka pula, maka ia
menerima baik saran itu. Cepat ia memapah Bagus Kempong dan dengan
hati-hati di-dudukkan di atas pelana kuda. Ia sendiri terus melompat naik
di belakangnya. Dengan demikian, ia dapat memeluk tubuh
kakak-seperguruannya. Sangaji sendiri, tak perlu memperoleh bantuan. Pemuda
itu sudah bisa menguasai diri. Meskipun demikian, Wirapati minta keterangan
kepadanya, "Sangaji! Bagaimana dengan lukamu?"


Dengan menggelengkan kepala Sangaji menjawab, "Hanya luka tak berarti.
Anehnya tubuhku merasa jadi panas."


Mereka menderapkari kudanya perlahan-lahan menuju ke timur kembali. Sampai
di Desa Salatiyang mereka berhenti di sebuah gardu penjagaan. Khawatir sisa
serdadu-serdadu tadi masih berusaha mengejarnya, maka Wirapati menutup
pintu gardu dengan selembar sarung. Setelah itu ia mendampingi
kakak-seperguruannya mengatur tata-napas. Sekali-kali ia meraba kening
muridnya pula yang berubah menjadi panas seperti seseorang terserang
penyakit demam.


Menjelang tengah malam, Bagus Kempong sudah pulih sebagian tenaganya. Ia
berjalan mondar-mandir melemaskan urat tulangnya. Kemudian berkata,
"Wirapati, adikku! Selama hidupku kecuali guru belum pernah kukete-mukan
seorang jago seperkasa orang tadi."


Wirapati mendengarkan kata-kata kakak-seperguruannya dengan cermat. Tapi
sewaktu ia menggempur serdadu itu, nampaknya begitu lemah. Dengan sekali
gempur, ternyata ia rebah. Setelah dipikir-pikir pulang balik, sadarlah dia
bahwa orang itu sebenarnya hanya berpura-pura untuk mengincar mangsa yang
dikehendaki. Merasa berhasil mengungkap mangsa yang dihendaki, dengan
mati-matian ia mencoba hendak mempertahankan. Sayang sekali baik Wirapati,
Sangaji maupun Bagus Kempong tidak begitu mengamat-amati bentuk tampangnya.
Maklumlah, kecuali hari gelap, dalam suatu pertempuran seru bagaimana
sempat pula memperhatikan perawakan lawan seorang demi seorang. Samar-samar
mereka hanya teringat, bahwa orang itu berperawakan agak pendek. Mukanya
penuh bulu.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Kantor Amazon dulu dan sekarang😁 .

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Ironis

coba dia tinggal di indo pasti gabakalan jadi bunuh diri
.
#creepyid
.
sumber @unexplaineedfeed

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 214

@bende mataram@
Bagian 214


"Aji! Tahukah engkau azas perguruan kita?" potong Wirapati. "Semenjak
kanak-kanak, aku diwajibkan menghafal tujuh deret kalimat hingga meresap
dalam lubuk hati. Yakni, menghormati Tuhan semesta alam, bumi kelahiran,
orang tua, guru, saudara tua, pergaulan dan sesama hidup. Mengapa selain
Tuhan, bumi kelahiran, orang tua, guru dan saudara tua, aku diharuskan
menghormati pergaulan dan sesama hidup pula? Karena sekalian satwa alam ini
adalah ayat Tuhan itu sendiri. Gagak Seta adalah seorang dari angkatan tua
yang setaraf dengan kakek-gurumu. Hanya bertemu saja dengan dia,
sesungguhnya merupakan suatu kehormatan besar. Apalagi sampai menurunkan
suatu ilmu. Apabila engkau tidak berkenan dalam hatinya, meskipun engkau
lahir sampai tujuh kali, takkan orang tua itu demikian murah hati
terhadapmu. Karena itu, di kemudian hari apabila engkau dapat bertemu
kembali dengan dia, sampaikan pula hormatku kepadanya. Hendaklah engkau
menekuni ilmu warisannya dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian, kau tak
mensia-siakan jerih payahnya. Aku sendiri berharap, mudah-mudahan engkau
bisa mengambil manfaatnya, sehingga di kemudian hari engkau bisa
menciptakan suatu ilmu gabungan antara ilmu perguruanku dan ajarannya.
Syukur pula, apabila engkau bisa mengambil sari-sari ilmu gurumu Jaka
Saradenta. Karena gurumu sesungguhnya adalah murid almarhum Kyai Haji
Lukman Hakim."


Betapa gembira hati Sangaji, tak terperikan mendengar ucapan gurunya.
Gurunya ternyata tiada bersakit hati atau menyesali. Tapi bahkan
menganjurkan pula. Inilah di luar dugaannya. Sesungguhnya apabila dia
se-orang pemuda yang encer otaknya, mestinya sudah dapat menebak keadaan
hati gurunya semenjak tadi. Sebab apabila gurunya tiada menyetujui,
pastilah dia akan kena tegur, tatkala habis bertempur melawan
Pring-gasakti. Bukankah dia bertahan dan melawan kegagahan iblis itu dengan
ilmu ajaran Gagak Seta? Ternyata kakak seperguruannya, guru-nya tiada pula
menaruh keberatan. Bahkan tiba-tiba ikut berkata, "Sangaji! Kulihat
gerakanmu masih menemukan suatu rintangan tertentu. Tunggulah sampai engkau
meng-hadap kakek gurumu. Siapa tahu, engkau bisa memperoleh suatu
petunjuk-petunjuk yang berharga."


Arah perjalanan mereka kini berubah lagi. Tepat bersamaan dengan
tenggelamnya mata-hari, mereka menghadap ke arah barat daya. Sangaji
mengikuti Guru dan pamannya tanpa minta keterangan. Seluruh hatinya
benar-benar takluk kepada keluhuran budi mereka berdua. Pada suatu desa,
mereka berhenti mengisi perut di sebuah kedai. Memang semenjak pagi hari
tadi, mereka hampir melalaikan kepentingan jasmaninya. Itulah sebabnya,
meskipun hidangan yang disajikan sangat sederhana, mereka menelannya dengan
lahap.


Dalam pada itu malam hari telah merangkak dengan diam-diam. Sekonyong-konyong




terdengarlah beberapa orang berlari-lari melintasi jalan. Salah seorang
melihat mereka dan dengan gugup melambaikan tangan,


"Raden(suatu sebutan semacam tuan)!, masuklah kekampung! Serdadu-serdadu
kompeni mulai membunuh orang."


"Membunuh orang? Mengapa?" sahut pemi-lik kedai dengan muka berubah.


"Siapa yang tahu? Kabarnya mereka me-maksa penduduk agar menunjukkan Desa
Karangtanggung, Singajaya, Gowong dan entah apa lagi. Siapa sudi
berkeluyuran begini malam hari sepanjang lembah Kali Jali. Salah-salah
matilah digigit ular."


Setelah berkata demikian, orang itu terus saja menghilang di balik
perkampungan. Seperti teman-temannya, ia mengira memper-oleh keamanan
apabila sudah bersembunyi dalam kampung.


"Raden! Nampaknya Raden tak beruntung. Di depan serdadu-serdadu kompeni
yang kabarnya begitu jahat. Aku sendiri terpaksa menutup warung," kata
pemilik kedai kepada Wirapati, Bagus Kempong dan Sangaji. Benar-benar ia
nampak gugup, hingga tangannya gemetaran.


Selamanya, anak murid Kyai Kasan Kesambi benci bukan kepalang kepada
istilah serdadu. Maklumlah, Kyai Kasan Kesambi adalah bekas pejuang
penentang penjajah. Dahulu ia merupakan salah seorang pembantu
kepercayaannya Pangeran Mangkubumi 1 dalam Perang Giyanti. Karena itu,
sikap hidupnya ini ditanamkan dalam lubuk hati sekalian murid-muridnya.
Meskipun demikian, Kyai Kasan Kesambi melarang keras melakukan pembunuhan
terhadap kompeni apabila tidak terpaksa. Soalnya, karena bagaimanapun
alasannya melaksanakan pembunuhan adalah suatu perbuatan yang berlumuran
darah. Sebaliknya jika sudah terlanjur demi membela keamanan, dia tak
pernah mengomeli. Malah seringkali dipuji. Ia hanya memberi saran agar
lebih berhati-hati. Jika bersua dengan petroli kompeni yang berjumlah dari
20 orang lebih baik menyingkir. Tetapi, kalau jumlahnya tak lebih dari 15
orang—apabila berbuat sewe-nang-wenang tehadap rakyat— bolehlah
mencoba-coba mengadu untung.


Kini, Bagus Kempong dan Wirapati men-dengar sepak terjang serdadu-serdadu
kom-peni. Keruan saja, darahnya langsung men-didih serentak mereka
melompati kudanya dan mengaburkan ke arah utara. Sangaji pun tak mau
ketinggalan. Dengan menunggang Willem, ia bisa gampang mengejar mereka
berdua. Hanya saja hatinya agak segan ber-lawan-lawanan dengan kompeni.
Maklumlah, hampir lima tahun, ia manja di dalam tangsi Belanda di Jakarta.


Kira-kira dua pai jauhnya, terdengarlah kesibukan-kesibukan di depan sana.
mereka mendengar jerit ngeri. Cepat-cepat mereka mengeprak kudanya. Apabila
sudah dekat dengan gemas mereka melihat dua orang ser-dadu Bumiputera
sedang menghajar seorang anak berumur 10-12 tahun. Terdengar mere-ka
membentak-bentak.


"Kau mau tidak mengantarkan kami?"


Anak itu tak kuasa membuka mulutnya. Kedua orang tuanya mencoba membela.
"Lepaskan dia! Biar kita berdua menjadi penunjuk kalian."


Mendengar ujar mereka, kedua serdadu itu tertawa mendongak hampir
berbareng. Men-dadak saja anak itu terus diangkat ke udara dan ditendang
dijungkir-balikkan. Sudah ba-rang tentu anak itu menjerit kesakitan selagi
masih berjungkir-balik di udara. Begitu jatuh tengkurap di atas tanah,
serdadu yang lain menyambarnya dan ditendang lagi ke udara. Kini mengarah
ke dalam barisan. Serdadu-serdadu yang lain segera menyambutnya dan
dilemparkan pula ke udara seperti bola keranjang.


Melihat sepak terjang mereka, darah Sangaji mendidih juga. Teringatlah dia
akan nasibnya dahulu tatkala diperlakukan demi-kian oleh Mayor de Groote.
Maka dengan gusar ia terus




melabrak maju. Tapi belum sampai ia sempat menerjang, ternyata guru-nya
sudah turun tangan. Anak murid Kyai Kasan Kesambi yang keempat itu dengan
tangkas meloncat dari kudanya selagi kakinya belum menginjak tanah,
tangannya sudah menyambar. Seorang serdadu yang lagi sibuk hendak menyambut
anak malang itu, tiba-tiba saja terjungkal di tanah dengan memuntahkan
darah. Sedangkan si anak terus dilemparkan perlahan kepada Bagus Kempong.


Melihat Wirapati menyerbu dengan men-dadak, serdadu-serdadu yang lain
terperanjat. Mendadak terdengar pekik pemimpin regu, "Hai! Bukankah mereka
ini yang kita cari?"


Berbareng dengan pekikannya pemimpin regu itu terus menusukkan bayonetnya.
Dia adalah seorang sersan. Meskipun hari remang-remang gelap, nyata sekali
bahwa dia seorang Belanda.


"Guru, awas!" Teriak Sangaji terkejut. "Hm," dengus Wirapati tenang.
"Kausaksikan bagaimana gurumu menghajar serdadu-serdadu. Empat tahun di
Jakarta, tangan gurumu tersekap dalam kantong celana demi keselamatanmu."


Dengan tertawa Wirapati menghadapi serangan sersan Belanda itu. Bayonet
tinggal belasan centi saja dari dadanya. Mendadak tangan kirinya membalik
dan terus menangkap laras senapan. Berbareng dengan itu, tangannya
menyodok. Laras senapan yang berbayonet itu membalik 180 derajat oleh
tepukan tenaga dorong. Belum lagi sersan itu sadar akan artinya, dadanya
tertembus bayo-netnya sendiri. Dengan sekali menjerit ia ter-jungkal di
tanah tanpa berkutik lagi.


Menyaksikan ketangkasan Wirapati, ser-dadu-serdadu lainnya berteriak-teriak
menyerbu rapat. Mereka bersenjatakan pedang dan tombak. Nyata sekali, bahwa
dalam suatu patroli hanya serdadu bangsa Belanda saja yang bersenjatakan
senapan. Lainnya yang berbangsa Bumiputera hanya bersenjatakan pedang
panjang, tombak atau penggada.


Tanpa bicara lagi, Sangaji terus meloncat turun dari kudanya. Cepat ia
rebut pedang salah seorang serdadu. Dengan tenaga sakti ilmu Kumayang Jati,
ia memutar pedang itu secepat kitiran. Dua kali ia membabat dan dua serdadu
kena tebas.


Melihat gelagat buruk, serdadu-serdadu yang lain terus melarikan diri
dengan tung-gang-langgang. Lari mereka berpencaran. Meskipun demikian,
mereka masih sempat pula melampiaskan dendamnya pada rakyat yang tadi
dipaksa ke luar dari rumah. Karena itu, banyak di antara penduduk yang kena
tikaman pedang atau kemplang penggada. Sehingga suara jerit ketakutan dan
kesakitan mengiang ke udara.


Bagus Kempong yang lagi menolong si anak, mendidih darahnya melihat sepak
terjang begundal-begundal kompeni Belanda. Dengan berteriak nyaring ia
berkata, "Jangan biarkan mereka lari berpencaran!"


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Ingatan fotografis

Aksi kriminal yang meretas kartu kredit memanfaatkan teknologi internet
sudah lazim saat ini, tetapi seorang kasir toko di Jepang mencuri perhatian
setelah ia membobol kartu kredit hanya berbekal ingatan.


Seperti dilansir CNet, Senin (9/9), kasir toko bernama Yusuke Taniguchi
yang berusia 34 tahun di Koto, Tokyo, Jepang ditangkap karena menguras
kartu kredit milik konsumen di toko tempat ia bekerja.


Taniguchi disebut memiliki ingatan fotografis dan kemampuan itu
dimanfaatkannya untuk mengingat informasi pelanggan mulai dari nomor kartu
kredit yang terdiri dari 16 digit, kode keamanan, tanggal kedaluwarsa,
hingga nama pemiliknya.


Ia ditangkap pada Maret lalu seusai membeli dua buah tas seharga 2.500
dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 35 juta. Ketika tas itu diantar ke
apartemennya, ia ditangkap polisi.


Saat apartemen digeledah, polisi menemukan sebuah buku catatan tempat ia
mencatat informasi-informasi kartu kredit milik 1300 korbannya.


Kepada polisi, Taniguchi mengaku barang-barang yang dibelinya menggunakan
kartu kredit orang akan dijualnya kembali. Polisi kini masih menyelidiki
kasus tersebut.


Sumber: suara.com
Foto: kktv.com
.

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Burung unta

Burung ini berasal dari sabana, bagian gurun Afrika di utara dan selatan
zona hutan khatulistiwa. Nama ilmiahnya adalah Struthio camelus.


Menurut mitosnya burung unta terkenal karena menyembunyikan kepala mereka
di dalam tanah saat berhadapan dengan bahaya. mitos ini tidak pernah
dicatat atau dilihat.
Tapi nyatanya, burung unta adalah binatang berkaki dua tercepat dengan
kecepatan lari mencapai 72 km/jam dan selama lebih dari 30 menit ia mampu
bertahan berlari dengan kecepatan 48 km/jam. Burung ini juga memiliki
kemampuan bermanuver yang baik ketika sedang berlari cepat.


Jadi ketika burung unta dalam bahaya, dia akan berlari, bukan
menyembunyikan kepalanya.
Dan apabila burung unta dalam keadaan tidak memungkinkan untuk berlari,
burung unta akan pura-pura mati, jika terpaksa burung unta juga mampu
membuat musuhnya luka parah dengan tendangan dari kaki mereka yang kuat.


Jadi kalau burung unta memasukan kepalanya kedalam tanah sebenarnya burung
unta sedang menggali lubang untuk telurnya atau sedang membolak-balikkan
telurnya. Ini terlihat seolah-olah burung unta sedang menyembunyikan
kepalanya. (Godongijo)




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

9.28.2019

Kupat tahu

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Anak burung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Piraiba

Piraiba gigante do meu parceiro @peixesdecouro no Rio Araguaia! πŸ‘πŸ½πŸŽ£

Contra a pesca predatória, a favor da pesca esportiva! 🎣

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Siapa disini yang salah? πŸ˜₯!!! .....!!!

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tibbets

Saya tahu kami melakukan hal yang benar karena ketika saya mengetahui akan
melakukan itu (pengeboman) saya pikir, ya, kami akan membunuh banyak orang,
tetapi demi Tuhan kami akan menyelamatkan banyak nyawa," Tibbets kepada
penulis Studs Terkel dalam sebuah wawancara tahun 2002


Militer AS pada saat itu telah memperkirakan jika melakukan invasi ke
Jepang maka akan lebih banyak lagi nyawa yang dikorbankan


baik dari pihak jepang maupun AS. Jadi, alasan serangan bom atom tersebut
ditujukan untuk mengakhiri perang. Adapun hilangnya nyawa warga sipil, tak
disesali oleh Tibbets yang telah wafat pada 2007 silam "Orang tak bersalah
akan terbunuh, tak ada satu pun perang di dunia ini yang tak pernah
membunuh orang tak bersalah," katanya kepada Terkel


Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Aurora Station

Terjangkau kali cukup jual ginjal 1 sama hati 1 ya, itu pun kalo cukup wkwk!! .
Sudah bosan tinggal di bumi? Cobalah Aurora Station, hotel pertama di luar
angkasa sekaligus menjadi hotel termahal sejagat raya. Yups sebab untuk
menginap di Hotel Aurora Station ini para customernya harus merogoh kocek
sebesar 9,5 juta dollar ataiu sekitar 131 miliar rupiah. Namun tenang saja
biaya sebanyak itu bukan harga per malam tapi untuk menginap selama 12
hari. Murah banget kan? Murah pala loe somplak!! Meski kita sendiri tahu
harga menginap di hotel luar angkasa itu mahalnya bikin berak jagung tapi
sebanding dengan fasilitas yang didapatkan. Di hotel luar angkasa ini para
tamu bisa bergerak bebas, terbang kesana kemari dengan gravitasi nol dan
melihat matahari terbit sekaligus terbenam selama 24 jam.


Adalah Orion Span, startup teknologi di Houston, Texas penggagas hotel yang
berlokasi di ruang angkasa ini. Mereka sudah mengumumkan kalau Hotel ini
siap dibuka untuk umum 2022 nanti.Aurora Station menjadi jawaban tempat
wisata menikmati keindahan alam semesta di luar bumi dengan harga yang
cukup murah. Karna di masa lalu bagi orang yang ingin wisata luar angkasa
harus membayar biaya 20 juta sampai 40 juta dollar AS, itupun melalui
Stasiun Luar Angkasa International (ISS). Tujuan didirikan Aurora Station
agar wisata ke luar angkasa bisa diakses semua orang dengan harga cukup
terjangkau. Dijadwalkan hotel ini akan diluncurkan ke orbit Bumi rendah
(LEO) dengan jaral 200 mil dari permukaan bumi. Hotel Aurora Station
memiliki panjang 43,5 kaki dengan lebar 14 kaki dan volume bertekanan 5650
kaki kubik.Soal fasilitas hotel ini dijamin lengkap dan mewah untuk
memaksimalkan kenyamanan customernya. Aurora Station memiliki tipe modular
dan bisa diisi enam orang sekaligus (dua orang bisa tinggal di ruangan suite).



Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Awesome picture

Awesome picture!
Via @animalswildheart

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Jangan takut mencoba hal baru 😎 . . Cr: Adidas Via: Bestvocals .

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tupai

Mungkin warga mengira itu zombie tuyul yang sedang berkeliaran πŸ˜…
.
.


Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Ikqn Amazon

Jacundá Amazônica! @antoniopedromolinari πŸ™πŸ½πŸŽ£

Contra a pesca predatória, a favor da pesca esportiva! 🎣

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Pohon

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Cakep

Boa noite! πŸ“· @wildlifephoto.nature
#onca #oncapintada #onça #natureza #animal #animalplanet #selva #selvagem
#natural #meioambiente #napesca

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Pirandira

Doblete de pirandira da nossa amiga @didipesca πŸ”πŸ”πŸ”πŸ˜πŸ†πŸŽ£
.
.
.
#fãsdapesca #Repost #tucunare #tucunareaçu #tucunareaçu #tucunaré #tucuna
#peacockbassfishing #peacockbass #cichla #cichlas #cichlatemensis
#pescadetucunaré #pescadeportivacolombia #pescadetucunare #fishingcolombia
#fishing #fish #catchandrelease #pesqueylibere #pesquesoltesempre
#pesquesolte #pesqueesolte #pesqueesoltesempre #13fishing #13fishingbrasil
#pescaxpertos

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Soto sapi nglaras roso

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 213

@bende mataram@
Bagian 213


"Dengarkan, kata beliau. Berbicara tentang mutu ilmu yang kaumiliki kini,
mungkin engkau kalah setingkat dengan saudara-saudara seperguruanmu.
Maklumlah, selama itu engkau merantau tiada kabar berita sepuluh tahun
lebih. Tetapi seorang ahli waris Kyai Kasan Kesambi mempunyai kewajiban
berat. Seseorang tidak cukup hanya mengutamakan ilmu-warisan belaka untuk
menjadi ahli-waris-nya. Tetapi terutama, jiwa besar, jujur dan pengalaman
yang luas. Syarat inilah yang kelak menjadi sendi utama untuk
memperkembangkan ilmu warisan Guru," ia berhenti mengesankan. Meneruskan,
"dengan berbekal jiwa besar, jujur dan pengalaman luas, engkau akan sanggup
melayani kemukjizatan sesuatu ilmu lebih mendalam lagi. Guru yakin, bahwa
kejujuran dan kebersihan hatimu kelak akan dapat mengatasi noktah-noktah
hati yang ren-dah jahat. Setelah itu, engkau akan maju lagi satu langkah
dengan tanpa kausadari sendiri, karena engkau kelak akan bisa mengusir
pen-jajah dan menegakkan negara. Itulah cita-cita guru. Apabila kelak
engkau bisa mewujudkan, alangkah menggirangkan dan membesarkan hati. Hal
itu berarti, bahwa engkau telah berhasil menunaikan kewajiban azas
perguru-an. Itulah sebabnya, Guru lebih mengutama-kan keadaan jiwa untuk
menjadi ahli warisnya. Kemudian baru bakat. Tentang kebesaran jiwa,
bagaimana kami berempat dapat menandingimu. Engkau pun memiliki bakat yang
jauh lebih bagus daripada kami. Soalnya, karena engkau agak lama merantau.
Tapi kami yakin, apabila engkau telah kembali ke perguruan, engkau akan
bisa melampaui kami berempat."


Mendengar ujar Bagus Kempong, Wirapati terperanjat sampai berjingkrak.
Dengan menggeleng-gelengkan kepala berbareng dengan menggoyangkan tangan,
dia berkata nyaring setengah gugup.


"Tidak! Tidak! Bagaimana aku bisa menjadi ahli-waris guru. Guru berbicara
demikian, semata-mata oleh rasa rindunya terhadapku. Hm, kemampuanku tak
dapat menandingi sekalian saudara seperguruan." "Wirapati! Itu semua adalah
amanat Guru." "Baik. Andaikata benar, aku pun tak berani menerimanya."


Bagus Kempong tersenyum. Berkata me-maklumi. "Ucapanmu ini pun menunjukkan
kejujuran dan kebesaran jiwamu. Engkau merasa diri rendah, itulah bagus.
Memang saat ini demikianlah keadaanmu, sehingga belum sanggup menilai
kesalahan muridmu. Muridmu memang masih hijau, sehingga semberono dalam
mengungkapkan sesuatu hal. Tetapi dikatakan melakukan kesalahan besar,
tidaklah kena. Karena, orang yang melompat dari mahkota daun tadi bukankah
temannya berjalan?"


"Temannya berjalan?" Wirapati keheran-her-anan. Terang sekali ia tadi
melihat sesosok tubuh melesat turun dari pohon. Gerak-geriknya cekatan dan
gesit. Meskipun tidak jelas jenisnya, tetapi masakan dia Titisari?


Bagus Kempong seperti dapat menebak kesibukan hatinya. Dengan tepat ia
berkata, "Siapa lagi kalau bukan dia? Diapun yang menambatkan kuda.
Mampaknya gadis itu menaruh perhatian besar terhadap muridmu, sehingga ia
berani memikul akibatnya dengan sengaja membuat suara gemeresak. Pastilah
dia bermaksud memberi peringatan, karena di balik belukar bersembunyi
orang-orang terten-tu yang lagi mengintai perjalanan kita. Aku pun
mula-mula menaruh syak kepadanya. Mendadak kudengar langkahnya yang ringan
dan gerakan tangan seolah-olah menuding. Itulah salah satu jurus ilmu
Karimun Jawa yang sering dibicarakan Guru. Hanya saja, dia mengubah kibasan
tangan dengan gerakan menuding."


Mendengar keterangan Bagus Kempong, Wirapati benar-benar merasa takluk.
Pikirnya, benar-benar maju pesat ilmu Kangmas Bagus


Kempong. Dalam satu detik, dia bisa menebak lawan atau kawan. Berbareng
pula mengku-




mandangkan aba-aba sandi. Bukankah kecerdasan otaknya jauh lebih cekatan
dan cerdas daripadaku? Betapa aku bisa menerima pencalonan guru menjadi
ahli warisnya? Terang sekali, guru berkata demikian karena rindu
semata-mata kepadaku.


Memang ketangkasan berpikir Bagus Kem-pong benar-benar mengagumkan. Bahkan
apabila dia mau mengutarakan dengan sebe-nar-benarnya, hati Wirapati bisa
menjadi kecil. Sebab sesungguhnya, jauh-jauh Bagus Kempong telah mengetahui
bahwa di belakang mahkota daun bersembunyi seseorang. Seper-ti diketahui
dia sudah memiliki ilmu rasa sejati. Meskipun panca inderanya belum
bekerja, rasa sejatinya telah mengkisiki. Ia mendengar pula tata-napasnya.
Sebagai salah seorang murid Kyai Kasan Kesambi yang telah menerima pula
ajaran menyelami ilmu sesuatu perguruan lainnya, sekaligus pikirannya
bekerja. Teringatlah dia nada tata napas itu. Bukankah tata-napas yang
dimiliki Adipati Surengpati dan puterinya tatkala mengadu kepandaian dengan
Sangaji? Pada saat itu pula, ia mendengar gemeresek belukar tak jauh dari
pohon. Maka begitu Titisari melesat turun ke tanah, dengan sengaja ia
berseru kepada Wirapati dan Sangaji agar melepaskan perhatiannya ke arah
lain. Ia berseru seolah-olah Titisari termasuk salah seorang dari mereka
yang mengintai di balik belukar. Dengan demikian ia memberi kesan pula
kepada mereka yang mengintai, bahwa Titisari bukan termasuk salah seorang
rombongannya. Inilah yang dinamakan ilmu sekali menepuk dua lalat mati.


Tengah Wirapati sibuk mengagumi ketang-kasan Bagus Kempong, terdengarlah
Sangaji berteriak nyaring, "Guru! Lihat! Lihat dia menyediakan tiga ekor kuda!"


Wirapati terus saja melesat menghampiri sebatang pohon yang terukir dengan
beberapa deret huruf. Bunyi huruf itu, "di depan patroli kompeni."


"Hai! Benar-benar dia." Dengus Wirapati "... patroli kompeni? Mengapa
kompeni berke-luyuran sampai di wilayah ini?"


Sangaji terus membagi kuda tunggangan. Bagus Kempong memperoleh seekor kuda
hitam. Terang sekali itulah salah seekor kuda pendekar-pendekar undangan
Pangeran Bumi Gede. Entah dengan cara bagaimana, Titisari ternyata bisa
merampasnya. Dan kuda putih ditunggangi Wirapati. Sangaji sendiri tetap
berada di atas punggung Willem.


"Peringatan ini, baiklah kita perhatikan," kata Bagus Kempong. "Agaknya
Patih Danurejo benar-benar berhasrat merebut pusaka sakti itu sampai minta
bantuan kom-peni. Inilah suatu kesalahan. Dengan menge-rahkan tenaga
kompeni berarti memberi kesempatan kompeni pula untuk mengenal
daerah-daerah yang bersembunyi di balik pegunungan."


Semenjak di Jakarta, Wirapati sudah mem-buktikan dengan mata kepalanya
sendiri, bahwa Patih Danurejo bekerjasama dengan kompeni untuk dapat
memenangkan per-soalannya. Hal itu bukanlah suatu kabar baru. Yang
diherankan ialah bahwa dalam waktu yang hampir bersamaan, ia menjumpai dua
kekuatan besar yang nampaknya saling bersaing. Daerah lembah Kali Jali
benar-benar merupakan ajang pertempuran yang sebentar atau lama akan
meletuskan suatu pertempuran menentukan. Terhadap Patih Danurejo, ia
memperoleh kesan buruk pertama-tama sepak-terjang Pangeran Bumi Gede dan
beker-jasamanya dengan kompeni. Karena itu diam-diam ia mengkhawatirkan
pihak utusan Sri Sultan Hamengku Buwono II yang tadi kena dilukai kakak
seperguruannya beberapa orang di antaranya.


"Nampaknya, jejak kita sudah mereka ketahui," kata Wirapati. "Kita kembali
ke tepi sungai atau meneruskan perjalanan ke Gunung Damar sama saja
bahayanya. Aji! Kalau kelak bertemu dengan Titisari, sam-paikan salamku
kepadanya."


Mendengar gurunya menyebut nama Titisari, berserilah mata Sangaji. Tetapi
tak berani membuka mulut. Memang, ia sudah menduga bahwa tentang beradanya
tiga ekor kuda di tempat itu adalah berkat jasa Titisari. Samar-samar dia
bisa menebak maksud gadis pujaannya itu, agar cepat-cepat meninggalkan
daerah yang dianggapnya berbahaya.




"Benar," sahut Bagus Kempong. "Kita pasti menjumpai rintangan-rintangan
perjalanan. Mengingat pesan almarhum yang dirahasia-kan, sebaiknya
janganlah kita memperlihatkan diri apabila tidak terpaksa. Hm, hampir saja
aku kesalahan tangan."


Nyata sekali, Bagus Kempong merasa menyesal karena melukai utusan Sri
Sultan meskipun tidak dengan sengaja. Diam-diam Sangaji berpikir, "Paman
hanya menggunakan tenaga selintasan saja. Tujuannya tidak melu-kai lawan.
Semata-mata mempertahankan diri. Mereka terluka, karena kesalahannya
sendiri. Meskipun demikian Paman begitu ber-duka. Alangkah mulia dia.
Kelak, aku pun akan meniru dia. Jika tak terpaksa, jangan sekali-kali
menggunakan ilmu Kumayan Jati." Memperoleh pikiran demikian, mendadak
teringat dia bahwa ia belum mengabarkan tentang ilmu Kumayan Jati kepada
gurunya. Serentak berkatalah dia hati-hati, "Guru! Maafkan kelalaianku.
Karena Guru tadi masih sibuk . berbicara dengan Paman, tak berani aku
mengganggu. Sesungguhnya, aku hendak mengabarkan bahwa di tengah perjalanan
bertemulah aku dengan seseorang yang mena-makan diri Gagak Seta. Meskipun
aku belum berani mengangkat guru kepadanya sebelum memperoleh ijin Guru,
tetapi aku telah meneri- 1 ma delapan bagian ilmunya. Untuk ini..."


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Es duren

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail