11.30.2019

Bahaya

--
Sent from myMail for Android

Dasaran di korowelang

--
Sent from myMail for Android

Wolfish

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 295

@bende mataram@
Bagian 295


Gerak-gerikmu mewakili rakyat yang kau pimpin." Fatimah masih menyangka,
Surapati adalah Pangeran Ontowiryo. Keruan saja hampir ber-bareng, Surapati
dan Gusti Ayu Retnaningsih menolak dugaan itu. Kata Surapati gugup, "Aku
bukan seorang pangeran. Aku bernama Surapati, murid Ki Hajar Karangpandan."
"Apa kau bilang?" Fatimah kini jadi ter-cengang-cengang. Pandangnya beralih
kepada Gusti Ayu Retnaningsih minta penjelasan. "Benar. Dia bukan Pangeran
Ontowiryo," kata Gusti Ayu Retnaningsih perlahan. Wajahnya terus saja
berubah merah jambu. "Ah! Kalau bukan Pangeran Ontowiryo, apa sebab ke
mari?" "Hanya secara kebetulan saja aku singgah ke mari," sahut Surapati.
"Eh—macammu! Secara kebetulan pula engkau menggerogoti ketelaku sampai
hampir habis." "Untuk ini aku bersedia membayar. Kalau tak sudi kubayar aku
akan melakukan segala perintahmu sebagai penebus sepiring ketela-mu."
"Bagus!" sahut gadis angin-anginan itu dengan cepat. "Kau telah berjanji
sendiri. Nah, duduklah makanlah ketelaku semua tanpa minum!" Surapati
tercengang. Sama sekali tak diduganya, perintah gadis itu terlalu lunak.
Diam-diam ia berpikir, dari luar kelihatannya galak. Siapa tahu hatinya
sebenarnya baik. Maka dengan senang hati, segera ia duduk dan mulai
menggerumuti ketela. Tapi meng-gerumuti ketela sebenarnya mempunyai caranya
sendiri. Kalau tiada hati-hati, lambat-laun tenggorokan bisa pepat. Benar
juga, belum lagi Surapati menghabiskan lima buah ketela besar, ia mulai
kelabakan mencari minum. Tetapi ia malu memperoleh kesulitan. Dengan licin
ia mulai memutar lidah. "Nona! Kau rupanya kenal dengan pendekar Wirapati.
Apakah dia sanakmu?" "Kau benar... apa maksudmu?" sahut Fatimah. Surapati
tertawa menyeringai. "Dahulu hari, guruku pernah bertanding melawan
pendekar Wirapati. Masing-masing membawa seorang murid yang harus
dididiknya dalam jangka waktu dua belas tahun. Murid guruku bernama
Sanjaya. Dialah kakak seperguruanku putera Gusti Pangeran Bumi Gede.
Sedangkan murid pendekar Wirapati, bernama Sangaji. la berhenti mencari
kesan sambil menelan ludah. Kemudian meneruskan, "untuk menemukan muridnya,
pendekar Wirapati harus merantau ke barat sampai datang ke Jakarta. Dalam
hal ini gurukulah yang beruntung. Dengan gampang bisa menemukan muridnya.
Ah, hebat akhirnya." Mendengar cerita Surapati, mau tak mau Fatimah dan
Gusti Ayu Retnaningsih tertarik hatinya. Bahkan Titisari yang sudah
menge-tahui hal itu ikut memasang kupingnya. Memang Surapati pandai
berbicara. Dahulu tatkala bertemu dengan Sangaji, Wirapati dan Jaga
Saradenta, ia bisa membakar hati orang. Peristiwa itu terjadi di Jakarta,
sewaktu ia di-utus Pangeran Bumi Gede menyesapi berita tentang beradanya
lawan anak-angkatnya sekalian menguji kepandaiannya. Kini, ia lagi
mempunyai maksud tertentu terhadap dua gadis itu. Baginya adalah mudah
untuk memikat hati mereka dengan memutar lidah-nya. Dalam hal inf
Fatimahlah yang tertambat hatinya, demi pemuda itu menyebut-nyebut nama
kakaknya. Sesungguhnya belum pernah ia bertemu muka dengan kakaknya dalam
keadaan jelas. Sewaktu kakaknya (Wirapati) merantau ke daerah barat, ia
baru berumur tiga tahun, la tinggal bersama ayah bundanya yang hidup
sebagai petani. Tatkala daerah perbatasan kerajaan terjangkit penyakit
kolera, ayahnya meninggal dunia. Kemudian Kyai Kasan Kesambi mengambil
suatu kebijak-sanaan. Suryaningrat—muridnya yang bungsu diutus menilik
keadaan keluarga Wirapati. Perintah itu dilakukan satu tahun sekali. Begitu
Fatimah berumur dua belas tahun, mulailah Suryaningrat menurunkan ilmu
warisan perguruan Gunung Damar. Semenjak itu, Suryaningrat menilikinya
setiap tiga bulan sekali sampai pada suatu hari ibu Fatimah menyusul
suaminya ke alam baka. Fatimah jadi seorang gadis yatim piatu, la hidup
merdeka, tapi tanpa pengawasan dan pendidikan. Sehingga akhirnya menjadi
seorang gadis yang senang membawa maunya sendiri. Pada saat-saat tertentu,
ia berada di dalam benteng apabila sedang berlatih. Gurunya sering
meyakinkan bahwa kakaknya sewaktu-waktu akan pulang menjenguknya. Karena
kakaknya adalah seorang pendekar besar, alangkah tidak baiknya apabila dia
menjadi seorang gadis tiada guna. Maka dalam khayalannya ia selalu
mengharap-harap kedatangan kakak-nya. Setiap kali gurunya datang
menje-nguknya, selalu ia menanyakan kabar beri-tanya. Begitu juga terhadap
Gusti Ayu Retnaningsih. Tetapi baik Suryaningrat maupun Gusti Ayu
Retnaningsih tak dapat mengabarkan kepergian kakaknya dengan jelas. Kini ia
mendengar warta tentang alasan kepergian kakaknya dari mulut Surapati.
Keruan saja hatinya tertarik bukan main. "Lantas bagaimana?" desaknya
dengan bernafsu. Surapati adalah seorang pemuda yang sudah masak dan
mempunyai banyak pe-ngalaman mengenai kesan seseorang. Melihat perhatian
Fatimah begitu besar, timbullah kenakalannya hendak mempermainkan. Sahutnya
acuh tak acuh. "Apa yang lantas?" "Kau mengumbar mulutmu setengah matang,
masakan enak didengarkan kuping?" damprat Fatimah gregetan. "Ingat janjimu!
Kau harus menebus ketelaku yang kaugero-goti!" Surapati berpura-pura
terkejut, la mendo-ngak ke atap, lalu membuka mulut hendak meneruskan
berbicara. Sewaktu hendak mulai, sengaja ia menyumpali mulutnya dengan
sebongkah ketela. Kemudian mengumbar monyongnya. Tentu saja kata-katanya
kurang jelas. Gusti Ayu Retnaningsih adalah seorang bangsawan murni.
Gerak-geriknya halus dan hatinya perasa. Terus saja ia menyodori sege-las
air teh. Sebaliknya Fatimah yang beradat angin-anginan, lantas menyemprot.
"Kalau kau mau minum, bilanglah! Masakan nyengar-nyengir seperti monyet?
Siapa kesu-dian melihat monyongmu kesumpalan ketela... Idih!" Itulah
kehendak Surapati. Diam-diam hatinya girang, karena ia merasa diri menang.
Sambil menyambar gelas air teh, ia mengerling kepada Gusti Ayu Retnaningsih
yang menggairahkan hatinya. "Nah... teruskan!" desak Fatimah lagi sete-lah
Surapati meneguk airnya. "Apakah kau ingin mendengar hebatnya guruku?"
sahut Surapati tenang-tenang. "Siapa kesudian mendengarkan kehebatan
gurumu." "Hah... apa kau bilang?" Surapati tak senang. "Guruku adalah
seorang laki-laki sejati di kolong langit. Betapa bisa Wirapati nempil
kepandaiannya? Belum lagi muridnya diadu dengan kakak seperguruanku ia
sudah kena kujatuhkan." "Hm," Fatima menggerutu. "Mari kita tinggalkan
burung yang pandai mengoceh ini." Gusti Ayu Retnaningsih mengangguk tanda
setuju sambil berkata, "Memang, aku berniat hendak minta diri. Aku khawatir
akan keper-gok Kangmas Pangeran." "Hai, nanti dulu!" teriak Surapati
nyaring sambil berdiri. "Kau bilang aku mengoceh seperti burung? Hm... kau
kira apa murid-murid Ki Hajar Karangpandan?" "Kalau tidak semacam burung
pastilah semacam monyong babi. Kau mau apa?" "Bedebah!" maki Surapati
sambil meng-gempur meja. la benar-benar tersinggung kehormatannya. Matanya
melotot dan bibirnya bergemetaran. "Kalau aku sebangsa burung atau monyong
babi, lantas kalian bangsa apa?" "Aku murid Suryaningrat. la adalah adik
seperguruan Wirapati. Kau bilang sendiri, Wi-rapati seorang pendekar. Nah,
dengan sendiri-nya termasuk golongan pendekar. Bukan seperti monyongmu!"
sahut Fatimah tajam. Mendengar ujar Fatimah, tubuh Surapati menggigil
karena menahan marah. Gusti Ayu Retnaningsih yang berperasaan halus,
kemu-dian berkata menengahi. "Biarlah aku mohon diri dahulu. Apabila kalian
tersesat di Yogya, sudilah mampir barang sebentar." Fatimah terhenyak
mendengar keputusan Gusti Ayu Retnaningsih hendak berangkat benar-benar.
Berat rasa hatinya akan segera terpisah dengan saudara seperguruannya.
Sebaliknya Surapati yang belum reda hawa amarahnya terus saja berkata,
"Hai! Kau bilang, aku kauharapkan mampir ke rumah-mu? Bagaimana bisa? Kau
belum lagi memperkenalkan dirimu." Mendengar suara Surapati yang masih
bernada galak, kembali watak Fatimah yang angin-anginan menyahut. "Kau
mengaku adik seperguruan anak angkat Pangeran Bumi Gede! Kalau engkau
diharapkan mampir, itu-lah suatu anugerah. Kau tahu siapa dia? Dialah
tunangan Pangeran Ontowiryo lawan besar majikanmu." Surapati kaget
bercampur heran, la jadi bersangsi. Pikirnya, masakan dia tunangan Pangeran
Ontowiryo? Kalau benar apa sebab sampai keluyuran di sini seorang diri?
Mendadak saja timbullah niat jahatnya. Kalau bisa membekuk Nona itu,
bukankah besar artinya? Memperoleh pikiran demikian, terus saja ia melompat
menghadang pintu. "Berhenti!" gertaknya. "Kalian kini jadi tawananku."
Setelah berkata demikian, ia tertawa riuh. Fatimah seorang gadis yang tajam
mulut-nya. Barangkali memiliki ketajaman otak pula. Hanya sayang, ia belum
berpengalaman dalam kehidupan petualangan. Karena itu tak disadari sendiri,
ia telah membuka suatu rahasia besar yang merupakan pantangan dalam suasana
perang. Maksudnya tadi hanyalah sebagai gertakan belaka untuk membuat hati
Surapati mengkeret. Tak tahunya, ucapannya itu mempunyai ekor panjang yang
sangat berharga bagi pihak yang saling bermusuhan. Meskipun tak
takut—mengingat keperkasaan Surapati tadi—hatinya tergetar juga. "Kau
banyak bertingkah di sini. Kau mau tangkap dia?" "Jangan mimpi!" bentak
Fatimah. Belum lagi habis perkataannya, Surapati telah melompat dan
menyerang dengan sung-guh-sungguh. Tadi, ia telah menyaksikan sen-diri,
betapa mereka bisa berkelahi dengan baik. Dalam hal ketangguhan, tak
usahlah dia khawatir akan gagal dan kalah. Gusti Ayu Retnaningsih sadar,
bahwa ia kalah tangguh. Namun demikian, tak sudi ia dijatuhkan pamornya.
Demi membela ke-agungan perguruannya, serentak ia menang-kis serangan itu.
Fatimahpun tak mau berpe-luk tangan pula. Segera ia menyerbu lawan dari
samping. Dengan demikian pertempuran bertambah lama bertambah seru. Di
ruang atas, Titisari menyaksikan semua-nya itu semenjak tadi. Hatinya ikut
men-dongkol menyaksikan lagak Surapati. "Dia berani menghina Aji! Coba
kalau Aji dapat kutinggalkan, masakan aku tak mampu menghajarnya," katanya
dalam hati.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Monkey

🐒 📷 Photo by @lwiro_primates
.
.


#hondamonkey #monkeyingaround #monkeyboy

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Great Persian carpet flower

Great Persian carpet flower shot by @kaktuskabak 🌱 Succulent seed web shop
💚 www.rareplant.me 💚
📷: @roots2flower




#gardencity #gardenstyle #gardensofinstagram #urbanorganicgardener
#gardeningisfun #kitchengarden #gardeningbooks #ilovegardening
#happygardeninglife #gardeningph #gardenersworld #gardeningismytherapy
#gardeningseason #roofgarden #gardeningclass #vegetablegardening
#gardeninggeek #gardeningideas #gardeninggoals #gardeningphoto #zengarden
#kensingtongardens #gardeninguk #gardeningaustraliamag #landscapegardening
#diygardening #gardenofeden #gardeninglovers #gardendesigner
#gardeningisgoodforthesoul

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

ROLADE TAHU DAUN SINGKONG

ROLADE TAHU DAUN SINGKONG?
Bahan:?
- 5 tahu putih besar?
- 2 butir telur?
- 8 - 10 lbr daun singkong (pakai daun singkong yg lebar)?
- 1 bks saset kaldu bubuk?
- 4 siung bawang putih haluskan?
- secukupnya garam?
- 1/2 sdt merica bubuk?
- 1 butir telur untuk pencelup?
- Minyak goreng secukupnya?
?
Cara Membuat:?
1. Rebus daun singkong sampai layu. Tidak perlu sampai empuk betul agar
tidak hancur. Tiriskan.?
2. Lumatkan tahu sampai hancur, masukkan bawang putih halus, garam, kaldu
bubuk dan merica. Koreksi rasa.?
3. Jika sudah pas masukkan telur aduk sampai tercampur rata.?
4. Ambil daun singkong sekitar 4-5 lembar. Susun melebar lalu isi dengan
adonan tahu sampai menutup permukaan daun singkong.?
5. Lalu gulung perlahan. Lakukan sampai habis. Kukus kurang lebih 25 menit
atau sampai daun singkong berubah warna. Matikan api, diamkan sampai dingin
biar set.?
6. Potong2 tahu rol sesuai selera besarnya lalu goreng dengan dicelupkan ke
kocokan telur sampai kuning kecoklatan. Angkat, tiriskan dan sajikan dengan
cabe rawit.?
-?
-

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tolong kirim kan teman siapa tau orang tua nya liat

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Mangur cilik

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Bakwan

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 294

@bende mataram@
Bagian 294


Hanya saja, ia kurang latihan dan kurang ulet. Maklumlah dia seorang
puteri ningrat. Keadaan hidupnya sehari-hari serba gampang dan tersediakan.
Perjuangan melawan kepahitan hidup tak pernah dialaminya. Majunya Gusti Ayu
Retnaningsih, diluar dugaan Cocak Hijau. Begitu juga halnya dengan
Surapati. Pemuda itu menjadi keheran-heranan, berbareng girang. Girangnya
ia memperoleh bantuan. Herannya ia jadi menebak-nebak siapakah gadis itu
sebenarnya. Itulah sebabnya, kalau tadi merasa repot, ia kini bisa membalas
menyerang dengan cepat dan penuh semangat. Mula-mula Cocak Hijau agak lemas
juga menghadapi Gusti Ayu Retnaningsih. Ia menyangka setan perempuan lebih
perkasa dan jahat daripada setan laki-laki. Tetapi setelah bertempur dua
tiga gebrakan, hatinya jadi lega. Ternyata setan perempuan itu lebih lemah
daripada setan laki-laki. Benar tipu-tipu serangannya hebat dan ruwet,
namun dia tahu setan perempuan itu kurang latihannya. Karena itu, walaupun
dikerubut dua, hatinya tetap besar. Sangaji dan Titisari yang mengintip
dari ruang atas, mengkhawatirkan kedudukan kedua muda-mudi itu. Mereka
tahu, lambat laun kedua muda-mudi itu akan kalah. Sedangkan mereka kenal,
Cocak Hijau sebagai seorang pendekar yang bengis dan kejam. Dalam hati
mereka ingin menolong, tapi keadaannya tak mengizinkan. Mereka tak bisa
melepaskan diri dari suatu keharusan saling menempel. Pada saat itu, mereka
mendengar Surapati berkata nyaring. "Nona! Biarlah aku melayani dia seorang
diri." Tetapi betapa mungkin Gusti Ayu Retnaningsih mau mendengarkan maksud
baiknya. Sebagai seorang puteri ningrat yang dididik mengutamakan
keperwiraan, takkan ia mengkhianati temannya senasib. Meskipun tahu tak
bisa memenangkan lawan, tetap ia melawan sebisa-bisanya. Bagaimana
akhir-nya, ia menyerahkan diri kepada nasib. Melihat Gusti Ayu Retnaningsih
tak mau mendengarkan seruannya, Surapati jadi gugup. Lantas saja ia
berkata, "Hai! Musuhmu adalah aku! Biarkan dia keluar gelanggang dengan
selamat!" Cocak Hijau tertawa lebar. Sekarang yakin-lah dia, bahwa kedua
muda-mudi itu bukannya hantu atau setan. Hatinya bertambah lega.
Gerak-geriknya bertambah mantap dan membahayakan. Hatinya yang mau menang
sendiri lalu mulai berkata, "Mana bisa aku membiarkan gadis cantik ini
bebas merdeka tanpa membayar? Biarlah kutangkapnya dahulu..." Berpikir
demikian, serangannya kini meng-arah kepada Gusti Ayu Retnaningsih. Dengan
mengerahkan tenaga sedikit ia menangkis cundrik. Kemudian tangannya maju
hendak menyambar pinggang. Surapati jadi cemas. Cepat menangkis. Serunya
gugup, "Nona! Lekaslah lari!" "Baik! Tapi jawablah dulu! Siapa gurumu?"
sahut Gusti Ayu Retnaningsih. "Guruku bernama Ki Hajar Karangpandan. Nah,
janganlah takut. Sebentar lagi dia datang!" Sudah terang, Surapati hendak
menggertak Cocak Hijau dengan mengandalkan nama gurunya. Sebaliknya Gusti
Ayu Retnaningsih jadi terkejut mendengar nama itu. Segera berkata, "Ki
Hajar Karangpandan? Kalau begi-tu... kalau begitu..." Belum lagi ia habis
berbicara, Surapati sudah memotong. "Nah, pergilah! Asal kau bisa menolong
nyawamu sendiri, pastilah guruku kelak bisa membalaskan dendam." Nama
pendekar Ki Hajar Karangpandan bukanlah merupakan nama yang asing bagi
pendekar Cocak Hijau. Ia tahu, bahwa lawan-nya lagi menggertak dirinya.
Dasar adatnya berangasan, ia lalu membentak dengan nada tinggi hati. "Aku
pernah dikerubut beramai-ramai. Suruhlah gurumu datang membawa
teman-temannya seperti Wirapati, Jaga Saradenta, Ki Tunjungbiru dan
Tirtomoyo...! Masakan aku kena kau gertak?" Terang sekali, Cocak Hijau lagi
mengobral cerita burung. Sewaktu berada di Pekalongan, bukan Cocak Hijau
yang kena keroyok. Malahan Ki Hajar Karangpandanlah yang kena keroyok Cocak
Hijau, Manyarsewu dan pendekar-pendekar lainnya. Namun Surapati terperanjat
juga mendengar Cocak Hijau bisa menyebutkan deretan nama pendekar-pendekar
yang pernah didengar. Ia percaya seba-gian, bahwa Cocak Hijau
setidak-tidaknya per-nah mengukur tenaga dengan nama-nama pendekar yang
disebutkan. Mendadak saja ia mendengar suara mendengus dari arah ruang
belakang. "Hm—kau menyebut nama kakakku Wira-pati? Apakah kau sudah bosan
hidup?" Ketiga orang itu kaget. Serentak mereka menoleh dan terlihatlah
Fatimah berdiri tegak dengan membawa sebatang golok di tangan-nya. Surapati
dan Cocak Hijau belum kenal Fatimah. Mereka terus saja meloncat mundur
dengan alasan masing-masing. Bagi Surapati, munculnya gadis itu di luar
dugaan. Mungkin pula memiliki ilmu kepandaian diluar dugaan. Sebaliknya,
benak Cocak Hijau yang masih dipengaruhi takhayul, setengah menyangka bahwa
Fatimah adalah setan baru yang mungkin jahat benar. "Hai! Kau bilang pernah
dikerubut Wirapati? Siapa bilang?" bentak Fatimah. "Aku," sahut Cocak Hijau
dengan tinggi hati. "Hm, tak mungkin anak-murid Gunung Damar mengekerubut
macam monyongmu. Cobalah bunuh!" "Mana dia?" Cocak Hijau masih tetap
ta-kabur. Belum lagi ia memperoleh jawaban, Fatimah telah mengibaskan
goloknya dan menyerang dengan cepat luar biasa. Waktu itu Sangaji dan
Titisari dalam keadaan cemas. Melihat munculnya Fatimah mereka mempunyai
sekelumit harapan. Hanya saja mereka belum pernah melihat nilai ilmu
kepandaian gadis yang berwatak angin-anginan itu. Di luar dugaan, Fatimah
bisa bergerak dengan sebat dan membahayakan. Dalam gebrakan permulaan,
Cocak Hijau kena dimundurkan tiga langkah. "Dia pun tak bakal menang,"
bisik Titisari. Dia pernah mencoba kekuatan Fatimah. Dengan sendirinya,
bisa mengukur kemam-puannya. Maka ucapannya itu mengejutkan hati Sangaji.
Dalam hal kegesitan dan ketangguhan, Fatimah menang setingkat daripada
Gusti Ayu Retnaningsih. Maklumlah, dia seorang gadis yang dipaksa hidup
dengan berjuang. Dengan demikian ia lebih memiliki keuletan dan ketabahan
daripada Gusti Ayu Retnaningsih. Hanya saja, ilmu kepandaian yang diwarisi
tidak lengkap dan kurang teratur. Dalam gebrakan permulaan, gerakannya bisa
menge-labui lawan. Tapi lambat laun, ia akan kehi-langan keseimbangan.
Waktu itu Gusti Ayu Retnaningsih dan Surapati berdiri di luar gelanggang
dengan hati kebat-kebit. Dengan penuh perhatian mereka mengikuti
pertempuran itu. Mendadak saja mereka melihat bahaya. Fatimah kena didorong
masuk dalam lingkaran tipu musli-hat. Tak dikehendaki sendiri, terloncatlah
seruan Gusti Ayu Retnaningsih. "Fatimah! Awas!" Mendengar seruan peringatan
Gusti Ayu Retnaningsih, hati Cocak Hijau jadi men-dongkol. Sebab dengan
demikian, gagallah tipu muslihatnya. Dan karena mendongkol, lantas saja ia
menyerang Gusti Ayu Retna-ningsih. Surapati, terkejut. Cepat ia menangkis
dan membalas menyerang. Dengan begitu, Cocak Hijau dikerubut tiga orang.
Meskipun gagah, akhirnya Cocak Hijau kewalahan juga menghadapi tenaga
gabungan itu. Masing-masing mempunyai cara penye-rangan dan pertahanan yang
khas. Yang satu dari ajaran pendekar Ki Hajar Karangpandan. Dan hanya saja,
ilmu kepandaian yang dua khas ajaran perguruan Gunung Damar yang tak boleh
dipandang ringan. Mau tak mau ia jadi bingung. Kini ia bermaksud hendak
meloloskan diri, tetapi kepungan mereka sa-ngat rapat. Suatu kali ia kena
dilibat Surapati. Tahu-tahu pahanya kena ditusuk golok Fatimah. Ia kaget
dan dengan menggerung membalas menyerang. Namun segera dikurung Gusti Ayu
Retnaningsih dan Surapati dengan berbareng. Karena lukanya itu,
kelincahannya jadi agak berkurang. Meskipun demikian, biar bagaimana ia
menang tenaga dan pengalaman. Dalam adu tangkisan, Gusti Ayu Retnaningsih
kena terbentur ke samping. Mendadak saja pundaknya kena terbabat pedang
Surapati. la merasa kesakitan. Selagi begitu, Fatimah menampar pedangnya
sehingga jatuh berkelontangan ke tanah. Melihat jatuhnya pedang, dengan
sebat Surapati memukul kepala Cocak Hijau berbareng dengan Gusti Ayu
Retnaningsih yang menusukkan cundriknya ke paha. Tak ampun lagi Cocak Hijau
roboh terjengkang ke tanah. Dan Fatimah yang berwatak angin-anginan, terus
saja meludahi mukanya. Kemudian pangkal goloknya diletakkan ke lengan
lawan. "Jangan disakiti!" teriak Gusti Ayu Retnaningsih. "Kita ikat saja
dia!" Seperti burung kecil yang tunduk kepada perintah majikan, Surapati
lantas melepaskan ikat pinggangnya yang terbuat dari kain batik. Kemudian
dibuat pengikat lengan Cocak Hijau. Fatimah menyumbangkan ikat ping-gangnya
pula yang panjangnya lebih dari sepuluh depa. Dengan penuh semangat, ia
segera mengikat Cocak Hijau erat-erat dari kaki sampai ke leher. Dengan
demikian, Cocak Hijau kini mirip sebuah pisang goreng terbungkus daun
kelapa. Seluruh tubuhnya terbebat rapat-rapat. Hanya tinggal kepalanya
belaka yang nongol seperti kepala itik. "Tuuu rasakan! Melawan anak-anak
kemarin sore saja kau tak mampu." Damprat Fatimah. "Masihkah monyongmu
berkaok-kaok menantang Wirapati segala?" Cocak Hijau memaki kalang-kabut.
Tangkisnya setengah menggugat. "Kalian curang. Coba satu lawan satu."
"Iddiiih—katamu, kau pernah dikerubut Wirapati, Jaga Saradenta... dan siapa
lagi tadi? Ih! Melawan kita saja tak becus." "Siapa bilang tak becus?"
Dasar watak Fatimah angin-anginan, terus saja ia menyobek sudut kainnya.
Lalu disum-batkan ke mulut Cocak Hijau sehingga pendekar yang selamanya tak
pernah kalah itu, tak dapat lagi berkaok-kaok mengumbar mulutnya, la hanya
bisa melototkan matanya sampai merah membara. Mulutnya masih saja berusaha
berontak dengan menyemburkan bunyi ah - ih - uh. "Nona..." kata Surapati.
"Tak kusangka aku akan berjumpa dengan murid pendekar Wirapati." Setelah
berkata demikian, ia mem-bungkuk hormat kepada Fatimah. "Kau bilang aku
murid Wirapati?" potong Fatimah acuh tak acuh. "Kau salah terka. Aku murid
Suryaningrat seperti tunanganmu. Kau seorang pangeran janganlah sembarangan
membungkuk hormat terhadap seseorang.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

What is Persimmon fruit?🤔⠀

What is Persimmon fruit?🤔⠀

Originally from China, persimmon trees have been grown for thousands of
years for their delicious fruit and beautiful wood.⠀

Their orange-colored fruits called persimmons are known for their sweet,
honey-like flavor.⠀

While hundreds of types exist, the Hachiya and Fuyu varieties are among the
most popular.⠀

The heart-shaped Hachiya persimmons are astringent, meaning they are very
high in plant chemicals called tannins that give the unripe fruit a dry,
bitter taste.⠀

This type of persimmon needs to be fully ripe before eating.⠀

Fuyu persimmons also contain tannins, but they are considered
non-astringent. Unlike Hachiya persimmons, the crisp, tomato-shaped Fuyu
variety can be enjoyed even when not completely ripe.⠀

Persimmons can be eaten fresh, dried or cooked and are commonly used around
the world in jellies, drinks, pies, curries and puddings.⠀

Have you ever tasted one?😋⠀
.⠀⠀
.⠀⠀
.⠀⠀
.⠀⠀
Credit @starkbros

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Pretty amazing 😍

Pretty amazing 😍 *
@Adam.J.Altman


*


#turtles_insta #turtleman #turtleship #turtledove #turtledoves
#turtlenecksweater #turtlegram #turtlewax #turtlelover #turtlebay
#turtleturtle #turtlepower #greenturtle #turtles

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

What Moms are best for 🤗

What Moms are best for 🤗
.
.
📸| @allmychicks
.
.
.
.
.
.
.
#chickenlife #homesteading #chickensofig #chickensofinstagram
#raisingchickens #backyardchickens #chickens #fresheggs #chooks #hens
#chickensaspets #backyardpoultry #chickenart #freerangechickens
#urbanchickens #hen #poultry #petchickens #petchicken #freerangechickens
#mychickens #homesteadlife #homestead #roosters #chickencoop #rooster
#crazychickenlady #happychickens #instachicken #poultryofinstagram

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

11.29.2019

Turtle

Smile, it's #SundayFunday! 😁 Did you know that turtles don't have teeth??
Even though it may appear at first glance that this smiling Burmese Roofed
Turtle has an impressive set of sharp chompers, that's just the serrations
of its beak, which of course act almost like teeth to help it chew its
food. Not much is known about the natural life of this exceptionally rare
turtle, thought to be extinct until it was rediscovered in the early 2000s.
Even though they are critically endangered and still facing many trials,
conservation efforts to combat its impending extinction have brought the
Burmese Roofed Turtle (Batagur trivittata) back from the brink! That's
something to smile about!
.
.
.
.
#turtleconservancy #turtlesintrouble #turtleconservation
#wildlifeconservation #conservation #turtles #turtlesofinstagram

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Barbados keyhole limpets

Barbados keyhole limpets have a nearly central, oval hole, and alternating
small and very large radiating ribs giving a scalloped edge.
Fun fact: They anticipate low tide and return to resting spots before the
water leaves their rock. A limpet fleeing a predator (like a sea star) will
move a few inches an hour. 🤓
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#flshelling #floridashelling #shellfacts #seashellfacts #limpets
#bluelimpets #lionspaw #blueshells #seashells #shells #seashells🐚 #Etsy
#etsyshop #etsyseller #etsysellersofinstagram #polishedshells #shellcollector

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Aquarium bagus

Would you like to sit back, relax and enjoy this tank? ⁦☺️⁩😊
.
.
Credit: @thefishgallery
#fishstore #aquarium #fishtank #plantedaquarium #aquascape #fish #monsterfish

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Discus tank

Wow! Is all I have to say about this tank! What an amazing theme! Credit to
@buceplant .
.
.
Via @aquariumhobby
#terrascaping #aquascape #plantedtank #aquascaper #plantedaquarium
#aquariumlife

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Gorengan

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Asiatica

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Shrimp

So are they being friendly or trying to eat me?! #shrimphobby #neocaridina
#shrimplife #shrimptank #plantedtank #aquarium #tropicalfish #pimpofshrimp
#Shrimp
#redcherryshrimp #cherryshrimp
#neocaridina #freshwaterfish
#berried #freshwateraquarium #shrimptank #shrimpkeeping #fishtanks
#aquariumshrimp #aquariumsofinstagram #shrimpy #shrimphobby #aquarium
#babyshrimp #aquariumhobby #petfish #fishkeeping #aquascape #caridina #crawfish

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

A leopard with a unique eye

A leopard with a unique eye




Picture Credit : Wayne Wetherbee
• • • • • •


#leopard
#traveldiary

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Sungai naga biru

Sungai tersebut mengundang decak kagum berkat bentuknya yang menyerupai
naga biru dalam mitologi China. .
.
.
.
#langitmisteri

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Anglaspis

Anglaspis


Anglaspis es un género extinto de agnato heterortocata cateaspidiforme. Los
fósiles se encuentran en los estratos marinos de Europa, desde el período
siluriano tardío hasta la extinción del género durante el Devónico
temprano. Las especies silurianas tardías de Anglaspis se encuentran en
estratos marinos de Gales e Inglaterra, mientras que la mayor parte de las
especies devonianas tempranas se encuentran en los estratos envejecidos en
Devonian de la isla Spitsbergen, en Svalbard, Noruega.
____________________________
#cientificos #paleoart #cienciaytecnologia #dinosaurioseverywhere
#biologystudent #biotechnology #laboratorylife #biodiversidad #planetatierra

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

11.28.2019

Sculpture of a Titanoboa skeleton

Sculpture of a Titanoboa skeleton, by the Chinese–French artist Huang Yong
Ping, displayed at Queensland Art Gallery in Brisbane


Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 293

@bende mataram@
Bagian 293


Meskipun demikian, kenangan itu senantiasa mengganggu benaknya. Teringat
bahwa Sangaji adalah murid Wirapati, tiba-tiba saja teringatlah dia pula
kepada Fatimah. Ia tahu Fatimah adalah adik Wirapati. Dengan dalih rindu
kepada sesama keluarga perguruan ia nekad berangkat ke luar kota seorang
diri. Sebagai seorang gadis yang sudah menghisap alam perguruan, tidaklah
dia sekukuh gadis-gadis golongannya yang teguh memegang adat keraton. Maka
dengan membawa cundrik pusaka perguruan, diam-diam ia berangkat ke luar
istana dengan tak memedulikan api peperangan yang mulai membakar tepi kota.
"Kau mencari seorang pemuda bernama Sangaji?" ia minta ketegasan. "Ya.
Apakah Nona kenal padanya?" seru Surapati setengah girang. Gusti Ayu
Retnaningsih hendak menjawab. Tiba-tiba sebuah kepala berwajah keriput
muncul di ambang pintu. Dialah Cocak Hijau yang jadi penasaran kena
dipermainkan hantu. Begitu melihat Surapati dan Gusti Ayu Retnaningsih,
cepat ia menarik kepalanya. Lantas berteriak menantang. "Hai, setan alas!
Kalau kau laki-laki, ayo bertempur di tengah matahari!" Surapati dan Gusti
Ayu Retnaningsih saling memandang dengan heran. Apakah orang itu bermaksud
menantang mereka? Kalau benar, apa alasannya. Dalam pada itu Titisari
mencubit Sangaji sambil berkata perlahan. "Dia datang lagi. Hebat ini
nanti." Sangaji melemparkan pandang ke pintu. Pikirnya kalau sampai
bergebrak—terang sekali Surapati dan Gusti Ayu Retnaningsih bukanlah
tandingnya Cocak Hijau. Memikirkan demikian, diam-diam ia berdoa semoga
mereka berdua cepat-cepat mengangkat kaki. Memang Cocak Hijau benar-benar
lagi penasaran. Tadi ia lari mendahului, tatkala melihat hantu muncul di
samping kamar atas. Setelah menimbang-nimbang, ia memutuskan balik kembali.
Dasar hatinya keras dan bera-ngasan. Ia tak sudi kena dipermainkan begitu
murah. Maka tanpa memberi tahu Ma-nyarsewu ia kembali seorang diri ke
benteng. Pikirnya, biasanya setan atau hantu atau iblis, berkeliaran di
malam hari. Apa sebab mendadak muncul pula di siang hari bolong. Coba
kulihatnya. Dengan hati mantap ia memasuki halaman. Lalu mengintip dari
luar dinding. Ia melihat Surapati dan Gusti Ayu Retnaningsih lagi duduk
berhadap-hadapan dan sedang meng-adakan pembicaraan. Pikirnya, aneh!
Masakan gadis lumrah? Dia terlalu cantik. Tak mungkin seorang gadis desa
yang secara kebetulan memasuki benteng. Hm... jangan-jangan mereka ini
penjelmaan setan. Hih! Memperoleh pertimbangan demikian, ia bersiap-siap.
Lalu menantang dari luar. Dalam pada itu Surapati dan Retnaningsih masih
saja heran bercampur geli. Lambat laun seperti berjanji, mereka merasa lagi
menghadapi seorang yang kurang waras otaknya. Cocak Hijau mengulangi
tantangannya sam-pai tujuh delapan kali. Tapi tetap saja, ia tak memperoleh
jawaban. Baik setan pria dan iblis perempuannya tak menggubrisnya. Ia jadi
lebih yakin, bahwa setan memang tak berani berkelahi di tengah matahari.
Karena itu, hatinya kian menjadi besar. Keberaniannya sebagai pendekar
sekaligus timbul lagi. Namun demikian untuk nekad menyerbu memasuki ruangan
dalam, ia masih berbim-bang-bimbang. Mendadak saja teringatlah dia kepada
batu. Pikirnya, coba biar kulempari batu. Ingin kutahu, apakah setan-setan
tak takut kepada batu. Begitu memperoleh keputusan, terus saja ia mencari
batu-batu dan ditumpuknya menjadi sebuah onggokan. Kemudian mulailah dia
bekerja. Dengan berjingkit-jingkit ia mengintip lagi. Dilihatnya kedua
setan itu masih saja duduk dengan berdiam diri. Hatinya jadi panas, karena
merasa terhina. "Bagus keberanianmu memang hebat! Tapi rasakan kini
timpukan tuanmu ini!" Terus saja ia menyinsingkan lengan bajunya dan
menyambitkan empat batu sekaligus. Surapati dan Gusti Ayu Retnaningsih kian
tercengang mendengar ucapan Cocak Hijau. Tak ragu-ragu lagi mereka mengira
sedang berhadapan dengan orang edan benar-benar. Belum lagi ia memutuskan
sikap, mendadak saja empat batu menyambar bagaikan anak panah. Untung, hati
Cocak Hijau masih bercampur jeri. Karena itu sambitannya tak tepat.
Meskipun demikian mendesingnya empat batu itu mengejutkan mereka. Serentak
mereka meloncat bertebaran. Surapati ke kiri dan Gusti Ayu Retnaningsih ke
kanan. Sebaliknya, Cocak Hijau heran karena sam-bitannya tak mengenai
sasarannya. Sebagai seorang pendekar biasanya ia mengandalkan kepandaiannya
sendiri. Selama hidupnya belum pernah sambitannya luput dari sasarannya.
Itulah sebabnya ia bertambah yakin lagi berhadapan dengan setan yang pandai
menghilang. Gugup ia berpikir: O ya... dahulu aku pernah mendengar bahwa
setan perempuan lebih jahat daripada setan laki-laki. Biarlah yang
perempuan dahulu kuremukan kepalanya. Dan setelah berpikir demikian terus
saja ia menimpuk ke arah Gusti Ayu Retnaningsih. Keruan saja Gusti Ayu
Retnaningsih terkejut setengah mati. Inilah pengalamannya untuk yang
pertama kalinya, ia diserang seseorang tanpa mengerti kesalahannya. Dalam
kagetnya ia melompat menghindarinya. Surapati lebih cepat lagi. Tatkala
melihat ancaman bahaya, dengan gesit ia menjejak tanah dan menangkis batu
itu dengan pedangnya. Seketika itu juga terbersitlah letikan api menusuk
udara. "Setan alas! Nah, pulanglah ke asalmu!" teriak Cocak Hijau. Setelah
berteriak demikian, mendadak saja ia melompat masuk dan menyerbu dengan
pedangnya pula. "Hayo! Hayo! Pulang ke asal-mu! Pulang ke asalmu!" Mulutnya
berkaok-kaok. Cocak Hijau adalah seorang pendekar beradat berangasan dan
sembrono. Meskipun demikian ilmunya tinggi. Sebagai seorang pendekar yang
berkedudukan di Gresik, belum pernah ia dikalahkan. Hanya sekali ia pernah
bertempur sama kuat dengan Manyarsewu. Karena itu tikamannya hebat. Gerakan
tangannya menimbulkan kesiur angin. Surapati dan Gusti Ayu Retnaningsih
bertambah heran. Melihat gerakannya yang hebat, kini mereka sadar sedang
berhadapan dengan seorang pendekar yang kurang waras otaknya. Tak berani
ayal lagi, Surapati terus saja menyongsong tikaman itu dengan pedangnya.
Lalu membentak, "Jahanam! Kau siapa?" Tapi Cocak Hijau tak menggubris
per-tanyaannya. Dalam hatinya ia takut kena semprot ilmu siluman si setan.
Terus saja ia menikam lagi dan menikam lagi. Dengan terpaksa Surapati
membela diri. Sebat luar biasa ia menangkis serangan itu lagi tiga kali
berun-tun-runtun. Melihat cara menangkisnya Cocak Hijau jadi lega hati.
Terang sekali, setan kali ini bukanlah setan semalam. Ilmunya tidak begitu
tinggi. Karena itu, kini ia mau berbicara dan tak takut kepada bahaya ilmu
silumannya. "Hai, setan alas! Kau kepengin mendengar namaku? Siapa sudi?
Aku tidak begitu goblok sampai kau mau mengecohku. Coba kalau aku sampai
memperkenalkan, bukankah engkau akan datang memusuhi pada malam hari gelap
gulita dengan ilmu silumanmu? Huuh... kentutmu!" Dengan mengerahkan
tenaganya, ia memutar pedangnya cepat sekali bagai kitiran. Kemudian
merangsak dengan cepat dan berani. Surapati segera saja jatuh di bawah
angin. Selangkah demi selangkah ia terdesak sampai nyaris memepet dinding.
Cocak Hijau jadi girang. Dengan hati lapang ia memutar pe-dangnya dan
bergerak hendak menusuk. Teta-pi Surapati bukanlah murid seorang pendekar
murahan. Melihat bahaya ia tidak menjadi gugup. Terus saja ia memiringkan
tubuhnya. Dan ujung pedang Cocak Hijau menancap ke dinding keropos sampai
jadi berguguran. Setelah itu sebat Surapati menghajar lengan Cocak Hijau
sebelum pedangnya sempat dicabut. Tetapi Cocak Hijau benar-benar seorang
pendekar gagah pula. Dengan matanya yang awas ia melihat gerakan lawan.
Terus saja ia mengangkat kakinya dan menyongsong sabetan itu dengan
tumitnya. Tepat tangkisannya. Tangan Surapati kena dilemparkan ke samping.
Dan belum lagi bersiaga, Cocak Hijau sudah mencabut pedangnya dan
melancarkan serangannya kembali. Gusti Ayu Retnaningsih melihat bahaya.
Terdorong rasa senasib, mendadak saja ia mengangkat kursi dan melemparkan
dengan sebat. Dengan demikian, batallah serangan Cocak Hijau. "Terima kasih
Nona, " kata Surapati. Dalam hatinya ia kagum kepada kelincahan puteri itu
yang nampak halus gerak-geriknya. Dalam pada itu, Cocak Hijau mulai
menye-rang lagi. Tatkala ujung pedangnya menusuk dada, pedang Surapati
menangkis. Hebat kesudahannya. Keras melawan keras. Telapak tangan Cocak
Hiaju sampai merasa panas dan agak nyeri. "Bagus! Tenagamu benar-benar
tenaga setan!" teriak Cocak Hijau bergusar. "Sekarang terimalah seranganku
ini!" Dengan menggerung ia mengibaskan pedangnya. Lalu dengan sebat menusuk
perut tiga kali beruntun. Surapati terkejut. Ia meloncat mundur em-pat
langkah sambil berteriak, "Nanti dulu! Agaknya ilmumu hampir sejalan dengan
ilmu Manyarsewu. Apakah kau teman seperguru-annya?" Cocak Hijau terhenyak
sejenak mendengar teriakan Surapati. Tapi sebentar lagi, ia sadar kembali.
Membentak, "Kau setan alas! Tentu saja kau kenal saudaraku Manyarsewu!"
Sadarlah Surapati, bahwa ia lagi bertempur melawan salah seorang pendekar
lawan gurunya di Pekalongan. Karena itu, kini ia tidak ragu lagi. Terus
saja ia menggempur dengan hebat. Meskipun demikian, Surapati kalah
pengalaman. Sebentar kemudian, ia terdesak lagi sampai terpaksa
berputar-putar dari tempat ke tempat. Gusti Ayu Retnaningsih yang hanya
berdiri di luar gelanggang, lambat laun mencemaskan keadaan Surapati.
Menimbang bahwa diapun terancam bahaya, maka tanpa memedulikan akibatnya
terus saja ia mencabut cundriknya yang panjangnya setengah lengan. Lalu
berka-ta keras, "Saudara! Jangan takut! Aku akan membantumu!" Hampir
berbareng dengan pernyataannya, cundriknya telah menikam ke arah punggung
Cocak Hijau. Ia adalah murid Suryaningrat. Meskipun belum mewarisi
kepandaian guru-nya, tapi apabila dibandingkan dengan murid-murid pendekar
murahan tak usah dia merasa kalah.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

⁣Telor Ceplok Crispy

⁣Telor Ceplok Crispy⁣⁣
.⁣⁣
.⁣⁣
Bhn :⁣⁣
6btr telur⁣⁣
.⁣⁣
Adonan basah :⁣⁣
100gr terigu kunci biru⁣⁣
1/4sdt bwg putih bubuk⁣⁣
1/4sdt baking powder⁣⁣
1/4sdt garam⁣⁣
1/4sdt gula pasir⁣⁣
1/4sdt lada⁣⁣
Air es secukupnya (test kekentalan)⁣⁣
⁣⁣
Adonan kering :⁣⁣
100gr terigu cakra⁣⁣
2sdm maizena⁣⁣
1/4sdt bwg putih bubuk⁣⁣
1/4sdt garam⁣⁣
1/4sdt lada⁣⁣
1/4sdt royco ayam⁣⁣
⁣⁣
Minyak sayur secukupnya⁣⁣
⁣⁣
Cara :⁣⁣
- ambil 1btr telur kemudian goreng ceplok, angkat, sisihkan⁣⁣
- ambil 1 wadah dan tempatkan semua bhn adonan basah, sisihkan⁣⁣
- ambil 1 wadah lg dan tempatkan semua bhn adonan kering, sisihkan⁣⁣
- ambil 1bh telur ceplok, masukkan kedlm adonan basah kemudian balurkan lg
kedlm adonan kering⁣⁣
- lakukan sampai hbs⁣⁣
- goreng dgn minyak panas smpai kecoklatan⁣⁣
- angkat dan tiriskan⁣⁣
- sajikan dgn sambal⁣⁣
- enjoy 😋⁣⁣
.⁣⁣
.⁣⁣

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Mulberries

Would you like to have a bowl of mulberries? 😋⠀
.
.⠀⠀
.⠀⠀
Credit @harmonygardens_az

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

? TEMPE KEMANGI CABE IJO

?
TEMPE KEMANGI CABE IJO?
?
Bahan:?
- 1 papan tempe?
- 2 ikat kemangi?
- 2 lbr daun salam?
- 2 lbr daun jeruk?
- 2 cm lengkuas, geprek?
- Garam?
- Kaldu bubuk?
?
Bumbu uleg:?
- 10-15 biji cabe ijo?
- 5 siung bawang merah?
- 4 siung bawang putih?
- 2 cm jahe?
?
Caranya:?
1. Potong dadu tempe, lalu goreng hingga matang.?
2. Tumis bumbu uleg, daun salam, daun jeruk dan lengkuas hingga wangi. Lalu
masukkan tempe yg sudah digoreng, beri sedikit air juga garam dan bubuk
kaldu. Masak hingga air menyusut. Kemudian terakhir masukkan kemangi, masak
hingga layu. Koreksi rasa, angkat dan sajikan. .?
.?
.?

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Epic shot of Bluefin blowing up on bait!

Tuna Tuesday — Epic shot of Bluefin blowing up on bait! 📸 @oshineflorida
@scssam

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Wanita Suku Kayan di Thailand

Wanita Suku Kayan di Thailand akan terlihat cantik dengan leher panjang.
Mereka memanjangkan leher mereka dengan memakai kumparan atau gelang
kuningan sejak berusia lima tahun. Setiap kumparan atau gelang kuningan ini
akan diganti dengan yang lebih panjang secara berkala.


Berat kumparan kuningan tersebut yang mendorong tulang selangka turun dan
menekan tulang rusuk sehingga membuat leher ini menjadi lebih panjang.
Kumparan ini tidak akan dilepas, kecuali jika ingin diganti dengan yang
lebih panjang.


Wanita-wanita suku kayan melakukan ini demi alasan kecantikan, namun
baru-baru ini, para antropologi atau ahli budaya memunculkan teori tentang
tujuan dari adat unik ini, yakni agar lebih menarik, melambangkan naga
(figure penting dari cerita rakyat Kayan) dan untuk mencegah harimau
menerkam mereka.(liputan6)



Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

The whole family joined together for the meal, what a special moment on this picture

The whole family joined together for the meal, what a special moment on
this picture.
-
Photo credit: @naturebydanielrosengren
-
#travelphotographer

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

11.27.2019

SAMBAL TERASI

SAMBAL TERASI?
by @retno_anggrain?
.


Bahan2 :?
- 10 buah cabai merah keriting?
- 10 buah cabai rawit?
- 3 siung bawang merah?
- 2 siung bawang putih?
- 1/2 buah terasi (ABC digoreng)?
- 3 buah tomat (yg kecil)?
- 1/2 buah gula merah?
- 1/4 sdt gula putih?
- 1 sdt peres garam?
.?
Cara Membuat :?
1. Goreng cabai merah, cabe rawit, bawang merah, bawang putih sampai agak
layu, angkat kemudian di ulek bersama gula, garam, terasi goreng?
2. Goreng tomat sampai layu dgn api kecil (jgn sampai gosong krn akan
mempengaruhi rasa)?
3. Tambahkan tomat yg sudah digoreng ke dlm ulekan, ulek lg tp jgn terlalu
halus.?
4. Sambal siap dihidangkan?
?
SELAMAT MENCOBA

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Caterpillars Increase Their Body Mass by as Much as 1,000 Times or More.

A beautiful photo by @saidkry
Congratulations for being selected for a place in this gallery! 🎉 💚 🎉

And most of all thank you Kry for sharing your work with us. Be sure to
show some support and give this gallery a visit. Tag #insectguru for a
chance to be featured.

Caterpillars Increase Their Body Mass by as Much as 1,000 Times or More.

The larval stage of the life cycle is all about growth. Within the span of
a few weeks, the caterpillar will grow exponentially. Because its cuticle,
or skin, is only so pliable, the caterpillar will molt multiple times as it
gains size and mass. The stage between molts is called an instar, and most
caterpillars go through 5 to 6 instars before pupating. No wonder
caterpillars consume so much food! (thoughtco.com)

#caterpillar #caterpillars #naturelove #naturelovers #nature #insect
#insects #fact #facts #world #savetheplanet #earth #forest #entomology
#naturehike #naturelovers #natureisbeautiful #nature #naturewalk
#naturephotograph #dayshots #insectsofinstagram #photooftheday #fauna

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

King of the jungle 🦁 🌲

King of the jungle 🦁 🌲


Amazing capture by
📷 Unknown

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 292

@bende mataram@
Bagian 292


Dalam pada itu, Gusti Ayu Retnaningsih mulai sibuk memperbaiki letak
pakaiannya. Kemudian berjalan ke ambang pintu hendak menyongsong kedatangan
kekasihnya. Tapi ternyata Pangeran Ontowirjo tak jadi mema-suki halaman
benteng. Ia hanya duduk tegak di atas kudanya dengan mengamat-amati
benteng. Sebagai seorang prajurit, benteng itu menarik perhatian-nya.
Pengiring-pengiringnya menjajari dengan penuh waspada dan nampak mengadakan
pembicaraan. Beberapa waktu kemudian Pangeran Ontowirjo memutar kudanya.
Dan dengan suatu isyarat tangan ia memerintahkan sekalian pengiringnya
meninggalkan benteng, menuju barat laut. Melihat Pangeran Ontowiryo
meninggalkan benteng, Gusti Ayu Retnaningsih jadi kecewa. Mau ia berteriak
memanggilnya, tapi segera mengurungkan. Martabatnya sebagai puteri
bangsawan tidak mengizinkan berbuat demikian di tengah alam terbuka. Maka
dengan laju ia menghampiri meja dan menghempaskan diri di atas kursinya.
Lalu berdiam diri dengan pandang berme-nung-menung. Selagi ia
bermenung-menung, mendadak terdengar suara langkah mendekati ambang pintu.
Dan muncullah seorang pemuda berpe-rawakan ramping yang berdiri terkejut
begitu melihat Gusti Ayu Retnaningsih. "Ah... maaf...," katanya gugup,
"apakah aku salah masuk?" Gusti Ayu Retnaningsih tak kurang-kurang
kagetnya. Tatkala mendengar langkah kaki, ia mengharap kedatangan Pangeran
Ontowiryo. Siapa tahu dia berubah pikiran dan datang melihat-lihat benteng.
Di luar dugaan ia meli-hat seorang pemuda yang sama sekali asing baginya.
Meskipun ia termasuk seorang puteri ningrat yang pernah berguru di luar
istana dan mempunyai pergaulan agak luas, namun betapapun juga ia belum
mempunyai pengucapan hati sebebas Fatimah atau gadis-gadis dari kalangan
rakyat. Itulah sebabnya, tiba-tiba saja ia menjadi kemalu-maluan
seolah-olah terbongkarlah rahasia hatinya. Dengan gugup pula menyahut
sulit. "Tu... tuan mencari siapa?" Pemuda berperawakan ramping itu, masih
saja berdiri tegak seakan-akan kehilangan daya ingatan. Tak lama kemudian
ia nampak berbimbang-bimbang. "Sebenarnya... hendak aku berteduh. Di
mana-mana terjadi pertempuran. Penduduk mengungsi sampai dusun-dusun jadi
sepi... Apakah Nona juga berteduh di sini?" "Tidak." "Tidak?" pemuda itu
tercengang. "Kalau tidak, apakah benteng ini milik keluarga Nona?" "Tidak."
Memperoleh jawaban tidak dua kali, pemu-da itu benar-benar heran.
Dilayangkan matanya dan ia melihat beberapa deret kursi yang teratur
berjajar menghadap meja pan-jang. Mendadak saja suatu ingatan menusuk
benaknya, lalu minta keterangan. "Apakah di sini markas suatu pergerakan?"
Belum lagi Gusti Ayu Retnaningsih men-jawab pertanyaan itu, Fatimah keluar
dengan membawa niru besar penuh minuman. Begitu melihat pemuda ramping itu
ia tersenyum manis. Mengira, bahwa pemuda itu Pangeran Ontowiryo dengan
hormat ia mempersilakan. "Apakah Pangeran tak sudi memasuki pon-dokanku?
Jelek-jelek aku bakal iparmu." Sudah barang tentu, pemuda itu terkejut
bercampur heran, la sudah terkejut sewaktu dipanggil pangeran, mendadak
mendengar pula istilah ipar. Yang kelabakan adalah Gusti Ayu Retnaningsih.
Mau ia memberi keterang-an, tapi Fatimah sudah mengambil tindakan. Begitu
habis meletakkan nirunya, terus saja ia melompat dan menarik tangan pemuda
itu memasuki ruangan dalam. "Duduklah! Masakan malu-malu segala?" katanya.
Pemuda ramping itu didorongnya duduk dan jatuh terhenyak di atas kursi
dengan pandang terlongong-longong. "Aku bukan pangeran," ia mencoba memberi
penjelasan. "Kau boleh mengaku apa saja. Masakan aku bisa kau kecoh?"
bantah Fatimah dan terus menyodorkan minuman dan sepiring ketela Jawa.
"Kaumakanlah! Sekali-sekali kau bela-jar menggerogoti batu!" Sekarang
jelaslah bagi Gusti Ayu Retna-ningsih, apa yang dimaksudkan menggerogoti
batu-batu. Itulah ketela Jawa yang bentuknya seperti batu. Dasar pemuda itu
lapar, maka tawaran itu merupakan suatu karunia baginya. Tanpa ragu-ragu ia
menyambar ketela itu. Fatimah lantas saja mengerling genit kepada Gusti Ayu
Retnaningsih sambil berkata, "Nah, kau temani kekasihmu. Bukankah di sini
lebih bebas daripada dalam istana?" Sehabis berkata demikian. Fatimah lari
ke dapur dengan sekencang-kencangnya. Hati-nya girang bukan main, seperti
kanak-kanak menemukan suatu permainan. Yang merasa runyam adalah Gusti Ayu
Retnaningsih. Wajahnya merah padam karena malu dan bingung. Pemuda yang
berada di depannya tak kurang-kurang pula heran bercampur malu. Tapi dasar
laki-laki, ia lebih berani menghadapi sesuatu persoalan. Setelah dua tiga
kali diperlakukan Fatimah demikian rupa mendadak saja terbersitlah suatu
perasaan naluriahnya. Diam-diam ia mulai mengamat-amati Gusti Ayu
Retnaningsih. Pikirnya, dari mana gadis secantik ini? Pastilah dia bukan
gadis desa... Dalam pada itu, Titisari dan Sangaji yang mengintip di ruang
atas ikut tertarik pula. Mula-mula mereka menduga yang datang ialah
Pangeran Ontowiryo. Sama sekali mereka tidak mengetahui, bahwa Pangeran
Ontowiryo mendadak saja berubah haluan. Maklumlah, mereka hanya
mengandalkan kepada pembicaraan Gusti Ayu Retnaningsih dan Fatimah. Tapi
begitu pemuda itu muncul di ambang pintu, mereka jadi heran. Terang sekali,
dia bukan Pangeran Ontowiryo. Mes-kipun mereka hanya sekilas pandang
melihat Pangeran Ontowiryo, tapi bagi mata mereka sudah cukup mengesankan.
"Lihat!" bisik Titisari. "Saudaramu sepergu-ruan bisa mati kaku
dipermainkan begitu oleh Fatimah." Sangaji adalah seorang pemuda perasa.
Mendengar dan menyaksikan sikap Fatimah terhadap pemuda itu, ia jadi geli
bercampur iba. Tiba-tiba suatu ingatan menusuk be-naknya. Tak terasa
terlompatlah kata-katanya. "Ah! Diapun berada di sini?" "Siapa?" Titisari
heran "Itulah Surapati murid Ki Hajar Karang-pandan," sahut Sangaji cepat.
"Dialah dahulu yang dikirimkan Pangeran Bumi Gede ke Jakarta menjajal-jajal
kemampuanku. Dahulu aku pernah dikalahkan sampai guruku Wira-pati menjadi
gusar..." Setelah ia menerangkan sejarah pertemuan-nya dengan Surapati
lebih jelas lagi. Kemudian berkata mengandung cemas. "Pangeran Bumi Gede
adalah musuh Pangeran Ontowiryo. Celakalah kalau dia tahu, bahwa Gusti Ayu
Retnaningsih adalah tunangan Pangeran Ontowiryo. Dia bisa dijual
mentah-mentahan." Sehabis berkata demikian, darahnya lantas saja tersirap
sampai tubuhnya nyaris ber-goyangan. Tentu saja Titisari terkejut bukan
kepalang. Cepat ia mendekap pinggang kekasihnya sambil berbisik, "Aji! Biar
apa saja yang terjadi, kau kularang memikirkan dia, entahlah kalau aku tak
berada di sam-pingmu." Hebat pengaruh bisikan Titisari itu. Sebagai seorang
pemuda yang halus perasaannya, tahulah dia ke mana maksud gadis itu.
Pikirnya dalam hati, benar katanya. Kalau aku terlalu memikirkan gadis
lain, bukankah berarti aku menusuk perasaannya? Oleh pikiran itu, hatinya
jadi tenang kembali. Kini ia bisa mengamat-amati kedua muda-mudi itu lagi
dengan hati bebas. Surapati waktu itu masih saja menggerumu-ti ketela Jawa
dengan lahap sambil sekali-kali menyiratkan pandang kepada Gusti Ayu
Retnaningsih. "Sebenarnya siapakah Nona?" akhirnya ia memberanikan diri
minta keterangan. Gusti Ayu Retnaningsih tak segera menja-wab. Pandangannya
runtuh kepada pinggang Surapati yang nampak mengenakan pedang panjang. Ia
sadar akan suasana peperangan. Kalau bersikap terus terang jangan-jangan
malah membahayakan diri. Maka dengan hati-hati ia membalas minta
keterangan. "Gadis tadi adalah sahabatku. Dan kau siapa?" "Namaku Surapati.
Secara kebetulan sekali, aku lewat di sini. Memang aku lagi mencari tempat
berteduh. Desa-desa yang kulalui hampir semuanya menjadi sepi." "Apakah
engkau seorang prajurit?" "Tidak." "Kalau engkau bukan seorang prajurit,
apa sebab membawa-bawa pedang dalam per-jalanan?" Memperoleh pertanyaan
demikian, Surapati sejenak terhenyak. Ia diam menimbang sambil
mengamat-amati pedangnya. Lalu menjawab, "Aku lagi mencari seorang
temanku." "Siapa?" Sebenarnya pertanyaan ini tidaklah wajib dijawabnya.
Tapi begitu matanya terbentur dengan pandang Gusti Ayu Retnaningsih yang
cantik dan dengan penuh wibawa, mau tak mau runtuhlah hatinya. Dengan
alasan tak sampai mengecewakan hati gadis itu, lantas saja ia menjawab,
"Temanku itu bernama Sangaji. Ia berasal dari Jakarta. Menurut kabar, ia
sudah hampir satu tahun berada di Jawa Tengah. Karena rasa rinduku, ingin
aku mencari sampai ketemu." Meskipun keterangannya setengah ber-bohong,
tapi begitu mendengar nama Sangaji, wajah Gusti Ayu Retnaningsih lantas
saja berubah. Terlebih-lebih Titisari, meskipun ia sudah mendengar
keterangan Sangaji tentang pemuda itu. Diam-diam ia berpikir, apa
mak-sudnya hendak mencari Aji? Dalam pada itu Surapati begitu melihat
perubahan wajah Gusti Ayu Retnaningsih, terus saja meletakkan ketelanya.
Kemudian menegas, "apakah Nona pernah bertemu dengan dia atau kenal
padanya?" Gusti Ayu Retnaningsih adalah seorang pu-teri ningrat. Sebagai
seorang puteri bang-sawan, ia mengutamakan watak keperwiraan. Karena itu,
tak dapat ia berbohong. Se-sungguhnya, tentang pemuda Sangaji ia mem-punyai
kesan tersendiri. Teringatlah dia akan budi Sangaji tatkala pemuda itu
menolong dirinya dari lembah hina. Seumpama tiada Sangaji, apakah jadinya.
Melihat Sangaji yang berperawakan tegap dan berparas tidak buruk, diam-diam
dia jatuh hati. Hanya saja teringat bahwa dia sudah ditunangkan dengan
Pangeran Ontowiryo. Tak dapat ia mengizinkan hatinya merana sesuka-sukanya.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Ikan mas

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Habis

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

The first fish

What was the first fish you've ever gotten? ☺️
Credit: Unkown ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
📲
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
📸 @thewetspottropicalfish ⁣ 💎


Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Danish Mastiff

Wow amazing! 💪💪 | Photo by ©Danish Mastiff
#nature_perfection

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Ngengat

Photo by @butterflybabegallery
#wildlifeowners

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Carrot

Which is your favorite carrot color? I'm partial to the combo in the
middle, which reminds me of one of my favorite varieties of all time, Gniff
Carrots. These are a few select varieties from @bejo_seeds. Here's some
interesting nutritional info on the color of carrots from the Carrot Museum
in the UK: ⁣

Orange carrots: highest in beta-carotene, contain smaller amounts of
alpha-carotene, gamma-carotene, lutein, zeaxanthin.⁣

Purple carrots: highest in anthocyanins, also contain beta-carotene and
alpha-carotene and small amounts of lutein and zeaxanthin.⁣

Purple carrots that are orange inside: high in anthocyanins, beta and
alpha-carotene.⁣

Purple carrots that are red inside: richest in anthocyanins and lycopene. ⁣

Purple carrots that are white inside: anthocyanins, little beta-carotene.⁣

Red carrots: highest in lycopene, also contain smaller amounts of lutein,
beta-carotene, alpha-carotene.⁣

Yellow carrots: highest in lutein, may also contain zeaxanthin.⁣

White carrots: no pigment-giving antioxidants.


💋
😍
💟


*
🎥🎞 @epicgardening


#gardeningtherapy #gardeningmakesmehappy #gardeninglife #gardens
#gardeningtime #gardeningisfun #gardeningwithkids #gardeningislife
#gardeningday #gardeningtools #gardeningclass #gardeningproblems
#gardenlife #gardeningideas

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Goldfish porch pond

Goldfish porch pond by @faviancit0! 😍 How peaceful would it be to sit next
to this on a warm summer day?! ☀️ ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⁠
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⁠


Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Bener juga nih kata bang Sudjiwo Tejo 😁

Bener juga nih kata bang Sudjiwo Tejo 😁

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

- The Soca valley

- The Soca valley is breathtaking both above and under the surface. Even
before you dive into the river you can feel the energy of its pristine,
crystal clear waters 💎
Photo and caption by @martin.strmiska
.
.
.
#earth #instagood #earthpix #sunset #wonderful #photography #travels
#beauty #art #vacations #love #travel #nature #geography #animals #place
#natgeo #discover #worldwide #explore #landscape #instagram #colorful
#canada #Switzerland #cute #awesome #wildlife #world #amazing

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

11.26.2019

Buncis Cah Ebi Terasi

?
Buncis Cah Ebi Terasi?
?
Bahan :?
Buncis secukupnya, rebus sebentar saja.?
1 genggam Ebi/udang kering?
1 ruas Lengkuas, digeprek?
Garam, gula, kaldu jamur secukupnya?
Air secukupnya?
Minyak untuk menumis?
.?
Bumbu yg dihaluskan :?
8 bh bawang merah?
3 bh Bawang putih?
10 bh cabe merah keriting?
10 bh cabe rawit?
Terasi bakar secukupnya?
.?
* Rendam ebi dengan air hangat. Lalu cuci bersih dan ditumbuk/ulek, sisihkan.?
* Panaskan minyak, tumis ebi. Masukkan bumbu halus dan lengkuas. Beri gula,
garam, kaldu jamur dan air secukupnya.?
* Masak hingga sambal matang, masukkan buncis. Aduk2 dan Koreksi rasa.?
.?
.?


?
#jajanan #resepmudah #yukbelajarmasak #berbagiresep #reseprumahan #resepkue
#kumpulanresepmasak #reseproemahan #resepbaking #resepsederhana
#makanankhasindonesia #tutorialmasak #guniezzt #doyanbakingcemilan

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

the Blue Crab

Modelled off the Blue Crab, The #Smashcrab is perfect for the flats or
dropoffs. 🦀🦀🦀 #inspiredbythechase #chasebaitsusa
.
.
.
.
.
#Fishing #Saltlife #SweetWater #Inshore #InshoreFishing #Offshore #Ocean
#Tackle #FishingLures #WhatGetsYouOutdoors #FishingDaily #Swimbait
#Topwater #Tackle #CatchAndRelease #TightLines #FishingDaily #InstaGood
#PicOfTheDay #SportFishing #FreshCatch #Redfish

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Picasso Clownfish and his friend the Dogfish Black Picus

Picasso Clownfish and his friend the Dogfish Black Picus⁣

🐠🐡🐟🐠🐡🐟🐠🐡🐟🐠🐡🐟🐠⁣

📽 All credit reserved to @toglukdemiremre⁣




#aquariumfish⁣



Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 291

@bende mataram@
Bagian 291


Karena itu tak sempat menjawab bisikan Titisari. Melihat Sangaji tak
menaruh perhatian, Titisari melemparkan pandangan-nya kembali kepada Gusti
Ayu Retnaningsih dengan kepala penuh teka-teki. Tatkala itu, masuklah
Fatimah dari pintu belakang. Begitu melihat Gusti Ayu Retna-ningsih, lantas
saja berlarian kemudian memeluk erat. "Retnaningsih! Kau begini sudah
besar!" serunya girang. Gusti Ayu Retnaningsih tak kurang-kurang pula
girangnya. Hanya saja dalam kegirangan-nya pandangannya sayu melihat
keadaan Fatimah. Rasa heran Titisari kian meningkat. Pikirnya, siapa sih
sebenarnya Fatimah ini? Nampaknya dia begitu akrab dengan anak ningrat itu.
Kebetulan sekali, sewaktu itu Sangaji sudah mulai menarik tenaga
hisapannya. Setelah mengatur tata napasnya, perlahan-lahan matanya terbuka.
Terus saja ia mengarahkan pandangannya ke bawah sana dan melihat pertemuan
mesra antara Fatimah dan Gusti Ayu Retnaningsih. "Kau masih belum juga
bersedia keluar dari sini?" kata Gusti Ayu Retnaningsih menegas. Fatimah
melepaskan pelukannya sambil menggelengkan kepala. Sejenak kemudian
menyahut. "Selama dia sendiri tidak membawa aku... aku akan tetap menunggu
di sini." Gusti Ayu Retnaningsih menghela napas, la duduk di atas kursi
sambil terus merenungi Fatimah. "Baiklah kuwartakan kepadamu," la berkata
lembut. "Kakakmu sebenarnya sudah datang dari perantauan." Mendengar
kata-kata Gusti Ayu Retna-ningsih, Fatimah nampak kaget sampai tersentak.
Matanya berkilatan, kemudian maju satu langkah sambil berkata kurang yakin.
"Kalau benar-benar sudah datang, mengapa dia belum kemari? Bukankah dia
harus meninjau makam ayah bunda?" "Kau tak percaya?" Fatimah menggelengkan
kepala. Dan dengan sinar tajam Gusti Ayu Retnaningsih berusaha meyakinkan.
"Masakan kau tak mempercayai wartaku ini. Kapan aku pernah berbohong
padamu?" "Kau bohong atau tidak, apa peduliku? Manusia manakah di dunia ini
yang tak pernah membohong?" sahut Fatimah cepat. Rupanya wataknya yang
angin-anginan akan kumat. Sebaliknya Titisari dan Sangaji jadi
tercengang-cengang. Mereka tahu Gusti Ayu Retnaningsih adalah puteri
bangsawan. Tapi Fatimah begitu enak saja membawa adatnya. Padahal kesan
dirinya tak melebihi seorang dayang belaka, meskipun memiliki beberapa
kelebihan sedikit. Apakah dia keturunan bangsawan juga? Sementara itu,
Gusti Ayu Retnaningsih nampak menghela napas lagi. Lalu berkata
tertekan-tekan, "Aku sendiri pernah bertemu dengan muridnya." "Muridnya?
Apakah dia mempunyai murid?" "Hm, bukankah kepergiannya ke daerah barat
adalah untuk menyusui calon murid-nya?" jawab Gusti-Ayu Retnaningsih. Dan
mendengar jawaban itu, hati Sangaji memukul dengan keras. Meskipun masih
samar-samar, kata-kata itu terasa seperti lagi membicarakan dirinya.
"Siapa?" Fatimah menegas. "Namanya Sangaji. Apakah kau belum per-nah
mendengar wartanya dari guruku?" Bukan main terguncang hati Sangaji
mendengar pernyataan itu, meskipun hatinya tadi samar-samar sudah dapat
menebak. Terang sekali mereka lagi membicarakan gurunya Wirapati. Apakah
hubungannya antara gurunya dan Fatimah? Teringat akan keadaan gurunya pada
dewasa itu, hatinya lantas saja mengeluh. Tentu saja Titisari kembali
terkejut untuk kesekian kalinya. "Tenang! Tenang! Jangan kauturuti luapan
hatimu. Perlahan-lahan bukankah kita bisa menyelidiki?" Meskipun pandai,
pada saat itu dugaan Titisari hanya benar separuh. Ia mengira Sangaji
terharu karena Fatimah ternyata masih mempunyai hubungan dengan dia. Sama
sekali tak diduganya, bahwa kekasihnya pada saat itu lagi terkenang kepada
gurunya yang sedang menderita hebat di atas pem-baringan. "Siapa? Sangaji?"
Fatimah menegas. Gusti Ayu Retnaningsih memanggut. Tak disadari sendiri
Fatimah lantas saja mendo-ngak ke atas. Mulutnya berkomat-kamit: "Ah!
Apakah benar siluman itu murid kakakku?" "Apakah kau pernah berjumpa?"
Gusti Ayu Retnaningsih kini berganti heran. Fatimah ragu-ragu. Pandangannya
belum beralih dari ruang atas. Dalam pada itu Sangaji dan Titisari yang
berada di ruang atas merasa seperti terpandang. Sekarang mereka baru
mengetahui dengan jelas, apa sebab Fatimah bisa menggunakan jurus Wirapati.
Ternyata gadis itu adalah adik Wirapati. Soalnya kini, kapan Wirapati
mengajari jurus itu kepadaya? Sejenak kemudian, pandang Fatimah runtuh ke
tanah. Perlahan-lahan ia memutar tubuhnya menghadap Gusti Ayu Retnaningsih,
lalu berkata setengah berbisik, "Ya—aku pernah bertemu dan memukulnya
beberapa kali." Seperti air terluap dari bendungan. Gusti Ayu Retnaningsih
meloncat dari kursinya. Berseru girang. "Kau pernah bertemu? Di mana?"
Mendengar luapan suara Gusti Ayu Retnaningsih, Titisari mencubit paha
Sangaji. Waktu itu masa istirahat. Dengan demikian tangan kiri Titisari
bisa bergerak dengan merdeka. "Kau dicari! Turunlah! Bukankah suatu
pertemuan yang menggembirakan?" Merah muka Sangaji digoda demikian.
Buru-buru ia menangkis. "Sst! Bukankah perkenalanku bersama-sama dengan
engkau? Aku sudah berada di sampingmu. Meskipun malaikat sendiri yang
mencari, dengan aku berdiri." Mendengar jawaban Sangaji, bukan main lega
hatinya Titisari. Sinar matanya terus saja berkilat-kilat dan kepalanya
diletakkan di atas pundak kekasihnya. "Kau pernah bertemu di mana?" Gusti
Ayu Retnaningsih mengulangi pertanyaannya, karena melihat Fatimah tetap
membungkam. Fatimah hendak menjawab, mendadak saja batal sendiri. Ia
menyambar pergelangan ta-ngan gadis ningrat itu dan berkata penuh perasaan.
"Sebenarnya... aku ini adalah adik sepergu-ruanmu. Karena gurumu adalah
guruku. Aku mempunyai seorang kakak yang mesti bisa mengajar aku. Tapi ia
belum sempat bertemu denganku. Menurut Ibu... kakak adalah seorang pemuda
yang manis. Semenjak Ayah meninggal dunia, ia diambil anak angkat oleh
Eyang Guru. Aku ditinggal hidup seorang diri dengan Ibu sampai... sampai
Ibu meninggal dunia. Ibu pesan, aku tak boleh meninggalkan makam beliau
sebelum Kangmas Wirapati membawa aku pergi..." "Kau adalah adik
seperguruanku?" potong Gusti Ayu Retnaningsih. "Hm... benar... karena
engkau datang sesudah aku. Tapi dalam hal ilmu kepandaian... kau berada
jauh di atasku." "Siapa bilang? Guru kita jarang sekali singgah ke mari.
Aku seolah-olah dianggapnya tak pernah ada dalam dunia ini." "Ah, kau
terlalu perasa," sahut Gusti Ayu Retnaningsih. Kemudian mengalihkan
pem-bicaraan. "Bagaimana? Apakah kau belum mau meninggalkan tempat ini
untuk menemui kakakmu?" "Apakah Kakak sudi menerima aku?" Gusti Ayu
Retnaningsih berbimbang-bim-bang. Dan di atas sana Sangaji sedang menunggu
jawaban gadis ningrat itu, sekalian mendengar warta tentang gurunya.
Melihat sikap gadis ningrat itu, agaknya sudah menge-tahui bahwa gurunya
dalam keadaan luka parah. Teringat akan penderitaan dan cinta kasih
gurunya, hati Sangaji lesu. Tak disadari sendiri ia meraba-raba kantongnya.
"Kau mencari apa?" tanya Titisari. "Aku mempunyai obat pemunah racun yang
mengeram dalam tubuh guru dan obat penyembuhnya," jawab Sangaji pelahan.
"Kau mau mengambilkan?" ' "Dari mana kau peroleh?" Titsari heran. Sangaji
kemudian menceritakan dengan singkat asal mula diperolehnya obat pemunah
racun tersebut dari tangan Bagas Wilatikta. Mendengar keterangan itu,
Titisari bergembira. Terus saja ia mengeluarkan obat dari kantong Sangaji
dan diamat-amati. "Titisari, berjanjilah!" kata Sangaji dengan
sungguh-sungguh. "Tak peduli apa saja yang bakal terjadi, sudikah engkau
menyampaikan obat pemunah ini kepada Guru?" "Mengapa tak kau sendiri?"
"Siapa tahu... siapa tahu... barangkali aku... belum tentu selamat dari
sini, mengingat banyaknya bahaya yang mengancam..." Sangaji tersekat-sekat.
"Hm... kalau kau mati, masakan aku akan hidup terus?" potong Titisari
dengan suara bergemetaran. Dan Sangaji jadi terharu bukan main. Kepalanya
menunduk ke ruang bawah. "Apakah Kakak sudi menerima aku?" Fatimah
terdengar menegas. "Tentu... tentu..." jawab Gusti Ayu Retna-ningsih
berbimbang-bimbang. "Soalnya... soalnya." "Soalnya bagaimana?" Gusti Ayu
Retnaningsih hendak menyam-paikan keadaan diri Wirapati, tetapi ia sadar
akibat warta buruk itu. Tatkala mulutnya hen-dak bergerak, mendadak di jauh
sana terde-ngar suara langkah. Fatimah terkejut. Cepat ia lari ke pintu dan
melongok ke luar halaman. "Hai! Apakah itu pengiring-pengiringmu?" seru
Fatimah. Gusti Ayu Retnaningsih lari pula ke ambang pintu dan menjenguk ke
luar. Ia melihat serombongan pasukan berkuda mengiringkan seorang pemuda
berbaju putih dengan takzim. Wajahnya lantas saja berubah. Ternyata dia
adalah tunangannya. Pangeran Ontowirjo. "Sst! Fatimah!" bisik Gusti Ayu
Retnaningsih gugup, "apakah engkau bisa menyediakan sekedar makanan dan
minuman?" Fatimah tercengang. "Untuk siapa? Dia?" Gusti Ayu Retnaningsih
mengangguk. "Eh... dia?" Fatimah menegas lagi. "Apakah engkau kenal
padanya?" Gusti Ayu Retnaningsih menundukan ke-pala. Raut mukanya bersemu
dadu. Menyahut tak jelas. "Kalau tiada halangan... dialah bakal ipar-mu."
Mendengar pernyataan Gusti Ayu Retna-ningsih, Fatimah terperanjat seperti
tersengat lebah. Dasar wataknya angin-anginan, lantas saja ia melompat
memeluk tiang. "Bagus?" serunya girang. "Aku bakal mem-punyai ipar. Hanya
saja tak dapat aku menye-diakan makanan dan minuman yang layak. Eh... siapa
namanya?" "Pangeran Ontowiryo. Mengapa?" Kembali Fatimah terkejut sampai
sejenak terhenyak. Maklumlah, hampir rakyat seluruh wilayah kerajaan tahu
akan sepak terjang Pangeran Ontowiryo yang kerap kali me-mimpin laskar
memusnahkan perusuh-pe-rusuh negeri. Namanya termasyhur dan men-jadi pujaan
penduduk. "Kau benar-benar kejatuhan wahyu!" seru Fatimah lagi. Kemudian
lari ke ruang belakang dengan sekencang-kencangnya sambil berka-ta,
"Biarlah kucarikan dulu air kali dan batu-batu." "Batu-batu? Untuk apa?"
Gusti Ayu Retnaningsih minta penjelasan. "Biar dia belajar menggerogoti
batu-batu?" jawab Fatimah. Meskipun ada hubungan keluarga perguru-an,
agaknya Gusti Ayu Retnaningsih belum kenal watak Fatimah yang
angin-anginan. Itulah sebabnya, begitu mendengar jawaban Fatimah, ia
berdiri tegak terlongong-longong dengan kepala menebak-nebak. Sebaliknya
Titisari dan Sangaji yang berada di ruang atas, mau tak mau tersenyum geli
menyaksikan adegan itu. "Gadis itu benar-bebar gendeng?" gerutu Titisari
perlahan.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tamarillo

Have you ever heard of tamarillo?⠀

🍅Tamarillo is aboriginal to South America. Tamarillo, also known as "Tree
Tomato", is now cultivated in many parts of the world. One of the largest
producers of tamarillo is New Zealand. The name was revised to
differentiate it from the ordinary tomatoes, thus emphasising on its exotic
variety.⠀

🍅Tamarillo is packed with vitamins A, C, E and pro-vitamin A. It has a
good source of B-complex vitamins such as niacin, thiamine, and riboflavin. ⠀

🍅It is beneficial for people who want to lose weight. Consumed raw,
sprinkled with herbs or in the form of salads, the juice of tamarillo acts
as a detoxifier when consumed.⠀

🍅Tamarillo offers vitamins A, C and E to ensure your skin stays healthy
and radiant.⠀

🍅The chlorogenic acid present in tamarillo helps lower blood sugar levels
in type-II diabetes mellitus. ⠀

🍅In Ecuador, the natives warmed tamarillo leaves and wrapped them around
the neck to treat inflamed tonsils.⠀

Have you ever eaten a Tamarillo? 🍅🍅🍅⠀
.⠀⠀
.⠀⠀
.⠀⠀
.⠀⠀
Credit @cropswapaustralia

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Male California Valley Quail

Male California Valley Quail
_______________________________
Owner: @danlindphoto
_______________________________

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Wild

Photo via @pitbully_tc
#wildanimallive

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

flying fish

A flying fish glides gracefully through the air 🐟😍 There are some 40
species of flying fish. All have evolved winglike pectoral fins that allow
them to take to the air after an underwater takeoff sprint at speeds of
some 37 miles an hour (60 kilometers an hour). The fish have been known to
soar 655 feetd (200 meters) in a single flight! 💙————————————————


————————————————
Credit : @seanscottphotography
————————————————
#instaanimal #conservation #wildliferehab #wildlifephotography
#global4nature #wildlife_inspired #animalsofinstagram #wildlifeconservation
#wildlifeartist #wildlifeofaustralia #animals #africa #animalpolis
#wildlifeowners #wildlife_perfection #animalsaddict #wildlifeonearth
#igswildlife #wildlife #wildlifetrust #wildlifephotos #wildlifeprotection
#ig_africa #majestic_wildlife_ #wildliferefuge #wildlife_supreme
#naturephotography #igs_africa #wildlifeplanet #wildlifesafari

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail