8.31.2019

@bende mataram@ Bagian 167

@bende mataram@
Bagian 167


"Bagus! Seperti seorang belajar menari atau menabuh gender. Tiap-tiap
bagian ada namanya. Umpamanya dalam ilmu menabuh gender atau clempung
terdapat istilah-istilah, Jarik-Kawung, Kutut Belut, Gantungan, Petih, Ayu
Kuning dan sebagainya. Nama-nama itu boleh diciptakan sesuka hati oleh yang
mengajar. Pokoknya memudahkan untuk penelitian dan ingatan. Juga pukulan
kuberi nama. Yang kautekuni tadi kuberi nama, Cacing Gering. Kemudian
perubahannya kuberi nama, Congor Babi, Anjing Buduk, Sate Gangsir, Terpedo
Kambing, Telur Kerbau, Sambel Goreng... hai! hai! Mana isterimu? Aduh, aduh
perutku! Perutku!"


Sehabis berkata begitu, ia menekan-nekan perutnya yang tiba-tiba jadi
keruyukan. Lantas lari




berserabutan memasuki gua. Rupanya begitu menyebut jenis masakan,
teringatlah dia kepada masakan itu sendiri. Kebetulan sekali, semenjak tadi
pagi perutnya belum terisi sebutir nasi pun. Karuan saja, ia jadi blingsatan.


Mau tak mau Sangaji tersenyum geli. Siapa mengira, orang sesakti dia,
mempunyai tabiat doyan makan dan menggelikan. Sebentar ia mengawasi larinya
Gagak Seta yang pontang-panting memasuki gua, kemudian segera dia berlatih.


Waktu itu, Titisari telah mulai memasak di dalam gua. Ia tahu Gagak Seta
sedang menurunkan ilmu saktinya kepada Sangaji. Diam-diam ia bersyukur
dalam hati. Ia berdoa, moga-moga Gagak Seta berkenan menurunkan seluruh
ilmu saktinya dan Sangaji sanggup pula menerima warisannya. Untuk ikut
menyatakan terima kasih, dengan sungguh-sungguh ia memasak beberapa resep
masakan yang istimewa. Pikirnya, biarlah Paman Gagak Seta tahu, kalau kami
tahu apa arti terima-kasih. Tapi selagi ia membumbui beberapa ekor ikan dan
sedang pula dibakar, di luar dugaan asapnya meruap sampai ke luar gua.
Tahu-tahu, Gagak Seta sudah berada di sampingnya sambil mencak-mencak.


"Masakan apa ini? Masakan apa ini?"


Belum lagi Titisari dapat menjawab, tangannya sudah menyambar dua ekor ikan
sekaligus dan digerogoti sampai tulang-tulangnya.


"Bukan main! Bukan main!" pujinya berulang kali. Mulutnya terus dijejali
penuh-penuh, sampai tak kuasa berbicara lagi. Sekaligus menghabiskan enam
ekor ikan sebesar lengan kanak-kanak.


Ketika keenam ekor ikan tadi sudah habis dikunyahnya, barulah ia teringat
kepada Sangaji yang perutnya belum terisi sebutir nasi juga. Lantas ia
berkata menyesali diri sendiri.


"Ai! Ai! Perut edan! Perut gendeng! Mana kawanmu si bocah tolol itu! Suruh
berhenti dulu! Masa mau berlatih sampai mati?"


Tetapi Titisari hanya membalasnya dengan senyum. Bahkan tanpa berbicara ia
menyodorkan dua ekor ikan bakaran lagi. Gagak Seta jadi perasa, la jadi
sungkan sendiri. Meskipun demikian, tangannya menerima pemberian itu.


"Masakanmu benar-benar hebat!" ia mengalihkan pembicaraan untuk
menyembunyikan rasa sungkannya. "Masakan apa ini namanya?"


"Sebenarnya, kalau Paman agak bersabar sedikit, akan kumasakkan semacam
masakan khas dari Karimun Jawa," sahut Titisari seolah-olah menyesali.


"Ah!" Gagak Seta terhenyak. Mendadak mulutnya berliur tak karuan. Dan mau
tak mau, Titisari geli juga menyaksikan pera-ngainya.


"Baiklah! Biarlah aku menangkap beberapa ekor ikan lagi dan aku ingin
mencoba masakan Karimun Jawa."


"Tak usah tergesa-gesa," potong Titisari membesarkan hati. "Aku percaya,
Paman pandai menangkap ikan. Tapi aku yakin Paman belum pandai memilih
jenis ikan."


Gagak Seta diam menimbang-nimbang. Kemudian berkata mengakui.


"Ya, benar. Bagaimana aku bisa melawanmu dalam hal memilih jenis ikan."
Titisari kemudian mengalihkan pembicaraan.


"Kulihat muridmu tadi sudah bisa mematahkan batang pohon dalam sekali tumbuk."


Gagak Seta menggelengkan kepala sambil berkata, "Belum! Belum bisa dia
mematahkan batang pohon. Paling-paling hanya menggoyang-goyangkan sampai
melengkung. Sebenarnya, dia harus sanggup mematahkan sebatang pohon sebesar
lengan dengan sekaligus. Mengingat ia telah memiliki rejeki besar dalam
dirinya."


"Apakah itu?"




"Dia memiliki semacam tenaga ajaib dalam dirinya. Katanya, itulah getah
pohon sakti Dewadaru," sahutnya sungguh-sungguh. "Pastilah kamu mengerti,
bahwa untuk memi-liki pukulan sakti, orang harus berlatih dulu sampai
memiliki dasar tenaga murni. Inilah dasar utama. Sebab sekali pun orang
memiliki macam ilmu silat yang sebagus-bagusnya, tetapi tidak ada tenaga di
dalamnya adalah semacam hembusan angin menyerak-nye-rakkan dedaunan. Itu
tidak ada gunanya." Ia berhenti dengan dahi berkerenyit seakan-akan
berpikir keras. Tiba-tiba bertanya, "Hai Nona kecil, apa dia suamimu?"


Titisari adalah seorang gadis yang cerdas dan cerdik. Meskipun demikian,
mendapat pertanyaan Gagak Seta, ia terbungkam. Orang tua itu lantas tertawa
terbahak-bahak.


"Eh! Eh! Apakah aku salah omong? Ah, akulah yang tolol! Bukankah kalian
sedang berpacaran melulu? Baiklah! Aku kenal watak ayahmu. Seumpama kamu
sudah menyetujui pemuda itu, dan ayahmu merintangi, aku tak bakal diam. Aku
akan tampil ke depan mengurus perjodohan kalian. Andaikata ayahmu
menentang, biarlah aku bertempur satu tahun sampai salah seorang mati."


Entah apa sebabnya, Titisari bahagia mendengar kata-kata Gagak Seta.
Hatinya tiba-tiba menjadi senang dan tentram sampai air matanya hampir
membersit dari kelopak mata. Maka cepat-cepat ia menundukkan pandang ke
tanah sambil mencari sisa ikan lainnya, hendak dibakarnya dengan segera.


Gagak Seta adalah laki-laki yang sudah banyak makan garam. Dengan
sendirinya, tahulah dia menebak keadaan hati si gadis. Maka dengan lancar
ia berkata, "Dengarkan, Nona manis. Bakal suamimu itu, meskipun bakatnya
kalah jauh daripadamu tetapi berkat getah sakti itu, dia kelak akan menjadi
seorang pendekar ajaib yang sakti luar biasa. Tadi kulihat keajaiban
terpancar dari dirinya. Apabila kemudian hari, ia bisa melebur kedua macam
ajaran mengatur napas dan menghimpun tenaga yang dimiliki, tubuhnya akan
kebal dari segala. Bahkan apabila kena serangan dahsyat, maka yang
menyerang itu akan terpental balik. Sekarang tinggal melatih dan memasaknya
sampai kokoh benar. Siapa tahu, kedua macam ilmu mengatur napas dan
menghimpun tenaga akan bisa pula membersihkan otot-otot urat saraf,
sehingga pada suatu hari akan menjadi seorang manusia yang cerdas luar
biasa. Mengapa? Karena pada hakekatnya, Ilmu Bayu Sejati dan Kumayan Jati
itu seumpama sepasang suami istri yang saling memberi rasa asmara."


Titisari bersyukur dalam hati, mendengar tutur Gagak Seta. Ia percaya,
kalau ketajaman mata seorang ahli seperti yang cerdik, ia pandai
menyembunyikan kesan hatinya. Pandangnya tetap murung. Bahkan ia bisa
berkata dengan nada Gagak Seta tak mungkin salah. Tetapi sebagai seorang
gadis kurang senang.


"Bagus! Tapi dasar Paman berat sebelah. Seumpama dia menghinaku, apakah
yang akan Paman lakukan?"


Gagak Seta hendak mengambil hati si gadis. Mengapa dia berlaku demikian,
tidak seorang-pun di dunia ini yang bisa menerangkan. Dia sendiri tak
pandai membaca perasaan hatinya. Yang terasa dalam hati ialah ia senang
melihat Titisari, seolah-olah gadis itu bagian dari dirinya sendiri.
Barangkali karena tingkah lakunya begitu lincah dan cekatan. Lagi pula bisa
melayani dirinya. Kecuali itu pandai memasak pula. Rasanya, dia segan mau
berpisah daripadanya.


"Nona manis! Janganlah kamu bersedih. Coba katakan, apa yang kaupinta?
Seyogyanya aku hanya mengajar bakal suamimu satu dua jurus semata?" katanya.


"Tidak! Tidak!" Sahut Titisari cepat. "Bahkan Paman harus mengajarkan
dengan sungguh-sungguh. Syukur bisa menerima seluruh kepandaian Paman.
Hanya saja, Paman harus pula memberi ilmu simpanan kepadaku, yang bisa
memenangkan dia."


"Eh, anak siluman. Kamu benar-benar licin seperti ayahmu."


"Baiklah. Memang aku tak punya anak dan merindukan seorang anak selincah
kamu. Rasanya




tidak ada ruginya, mengabulkan permintaanmu. Moga-moga dikemudian hari—
kalau tulang belulangku sudah rontok—kau sudi mengurusi." Ia berhenti
mengesankan. Meneruskan, "Bakatmu lebih baik daripada calon suamimu itu.
Sebelum dia bisa memahami semua ilmu yang kuberikan kepadanya, kamu akan
kuberi suatu ilmu. Aku percaya, kamu akan cepat mengerti sebelum dia paham
ekornya. Ilmu itu merupakan tenaga imbangan dahsyat dari Kumayan Jati.


Namanya, Ratna Dumilah. Konon kabarnya—menurut cerita—ilmu itu berasal dari
Sanghyang Tunggal yang diberikan kepada putranya kedua, Sanghyang lsmoyo.
Ilmu itu khusus untuk melawan Ilmu Kumayan Jati yang diberikan Sanghyang
Tunggal kepada putranya ke empat, Sanghyang Manikmaya.


Tetapi karena kalian berdua adalah calon suami-isteri, maka akan kubuat
sedemikian rupa sehingga kalian berdua tak bisa saling menyentuh dan
melukai. Kau mengerti maksudku?"


Sehabis berkata demikian dan belum lagi Titisari membalas pertanyaannya, ia
meloncat dan bersilat berputaran cepat luar biasa. Gerak-geriknya cekatan,
gesit luar biasa sampai bisa mengaburkan penglihatan. Tapi anehnya, tidak
menerbitkan suatu tenaga dahsyat yang membahayakan. Setelah ia berhenti
bersilat, Titisari sudah bisa mengingat-ingat separah.


"Seluruhnya berjumlah 36 jurus," kata Gagak Seta. 'Tetapi mempunyai silang
perpecahan tujuh sudut tiap jurus. Jadi berjumlah 7 x 36, ditambah dengan
delapan penjuru. Utara, barat, selatan, timur, kemudian tenggara, barat
daya, timur laut dan barat laut. Jadi keseluruhan berjumlah 7 x 36 x 8 =
1008 jurus pecahan. Meskipun nampaknya tidak bertenaga, tetapi ilmu itu
memiliki daya lingkaran rahasia dan daya libatan rahasia. Dalam sekali
putaran, ilmu itu membawa pengaruh hawa tertentu. Sudut anginnya tajam luar
biasa, bagaikan sebilah pedang. Karena Ismoyo itu artinya dunia, maka
gerakannya berputar terus menerus seperti arus samudra dan arus angin yang
mengitari jagad. Kau sudah paham?"


Titisari lantas berdiri. Terus ia bersilat menirukan gaya Gagak Seta. Dasar
otak terang dan memiliki bakat keturunan yang luar biasa, hampir saja dia
bisa melakukan gerakan-gerakan Ilmu Ratna Dumilah dengan sempurna. Dia
hanya membutuhkan beberapa petunjuk dan penjelasan. Selang tiga jam, dia
sudah hapal seluruhnya. Tinggal memahirkan belaka.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Uang 5000

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Mahseer besar milik teman

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Makan

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Siomay

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Aquarium siku

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Telapak penempel

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Telo ungu yg enak dan manis

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 166

@bende mataram@
Bagian 166


Sangaji tadi heran menyaksikan pukulannya sendiri yang sudah mempunyai
prabawa, sampai hatinya tak mau percaya. Ia belum mendapat pegangan
darimanakah asal tenaga dorong sekuat itu. Tetapi diam-diam hatinya bangga
dan bersyukur. Mendadak Gagak Seta memerintahkan agar menggempur padanya..
Keruan saja, ia jadi bingung berbimbang-bimbang. Pikirnya, mahkota dedaunan
bisa kuron-tokkan. Apakah dia yang terdiri dari darah dan daging bisa
bertahan? Gagak Seta rupanya bisa menebak kata hatinya. Maka orang tua itu
berseru nyaring, "Pukulanmu lagi bisa menggoyangkan pohon. Takkan mampu
menewaskan aku."


Mendapat penjelasan itu, anak muda itu jadi berlega hati. Segera ia menarik
napas menurut ilmu ajaran Gagak Seta. Tubuhnya meliuk, lutut ditekuk dan
sambil berputar ia menjodok. "Dak"


Gagak Seta tergetar sedikit. Matanya menutup rapat.


Mulutnya kemudian mengulum senyum. Katanya, "Eh—lumayan juga. Sekarang
gunakanlah ilmu tarikan napas yang pernah kautekuni. Dan gempurlah aku!"


Heran Sangaji mengawasi orang tua itu. Hatinya beragu lagi. Apakah
pukulanku tadi salah, sehingga tidak ada pengaruhnya?— pikirnya sibuk. Ia
tak tahu, kalau pukulannya tadi seujung rambut pun tak berbeda dengan
pukulannya yang pertama sewaktu memukul pohon. Hanya saja, keputusan Gagak
Seta mengumpankan diri sendiri untuk memperoleh jawaban, adalah luar biasa.
Jika tidak mempunyai pegangan kuat, bagaimanapun juga takkan berani
menerima pukulan Sangaji.


"Hai tolol!" bentak Gagak seta. "Pukulanmu hebat! Tak beda dengan tadi.
Hanya saja belum bisa menewaskan aku! Kaudengar? Nah—jangan tergugu seperti
orang linglung!


Sekarang kerjakan apa yang kuperintahkan tadi. Aku ingin mengetahui titik
perbedaannya." Puaslah hati Sangaji mendapat penjelasan ini. Diam-diam
hatinya kagum kepada orang-tua itu.




Benar-benar hatinya merasa takluk. Apakah tubuhnya lebih kukuh daripada
sebatang pohon? pikirnya lagi. Tak sempat lagi ia menunggu jawabannya.
Dalam dirinya terasa ada semacam hawa hangat yang merayap memenuhi
tubuhnya. Kemudian ia maju menggempur Gagak Seta.


Hebat suara itu. Tetapi Gagak Seta seperti tak merasakan sesuatu. Matanya
merem-me-lek seperti seseorang yang lagi menikmati makanan lezat.


"Telah kuduga! Telah kuduga!" serunya girang. Kemudian ia tertawa
berkakakan sambil mendongakkan kepala.


"Bocah tolol! Dengarkan penjelasanku! Apa yang pernah kaupelajari itu
adalah bait-bait Ilmu Bayu Sejati. Itulah suatu ilmu yang mengutamakan
tenaga semata untuk daya pertahanan. Apakah orang yang mengajarimu, pernah
menerangkan nama ilmu itu?"


Sangaji bergeleng kepala.


"Ah! Sekarang tahulah aku, mengapa kau begitu ulet, tabah dan makin lama
makin gagah tatkala kau tadi bertempur melawan calon isterimu. Itulah
berkat ajaran ilmu tarikan napas Bayu Sejati. Dasarnya adalah sama. Yakni
bersandar pada tenaga sakti kodrat manusia. Eh—eh ...


bocah tolol! Siapa mengira, kamu mempunyai tenaga sakti getah pohon
Dewadaru. Itulah karunia alam yang hebat bukan kepalang," kata Gagak Seta
girang. Kemudian ia merebahkan diri ke tanah dan berbaring merenungi angkasa.


"Sekiranya di kemudian hari kau berhasil menjalin dua ilmu ini sebagai satu
pengucapan, alangkah kamu akan jadi gagah perkasa. Tapi sekarang—di bawah
asuhanku— kamu kularang mengingat-ingat ilmu ajaran yang lalu. Sebab
lakunya jauh berlainan. Ilmu ajaranmu dahulu, adalah ilmu buat perempuan,
bukan buat laki-laki. kalau kamu diserang, kamu hanya mampu bertahan.
Sekiranya lawanmu menggenggam senjata tajam, apakah kamu hanya menerima
hajarannya belaka tanpa bisa membalas? Eh—bocah tolol! Akhirnya kamu hanya
jadi bakaran sate kambing!" ia berhenti mengesankan. "Karena itu, meskipun
kelak kamu mahir dengan ilmu ajaran dahulu, paling-paling kamu hanya bisa
menjadi seorang ahli olahraga belaka. Paling-paling kamu hanya pandai
meloncati jurang, memanjat pohon seperti kera dan tahan berenang di lautan
seperti ikan."


Gagak Seta tertawa berkakakan. Sangaji jadi heran terkejut. Mula-mula ia
memang agak tersinggung mendengarkan ulasan orang tua itu yang begitu
menusuk. Tetapi apa yang dikatakan adalah benar. Teringatlah dia, bagaimana
Ki Tunjungbiru pernah mem-pamerkan kepandaiannya menangkap dua ekor kera,
meloncat jurang dan bersampan di atas lautan menembus derum angin dan
gelombang. Dia pun hanya mengesankan, bahwa ilmu ajarannya hanya berguna
untuk membantu menelan ajaran ilmu kedua gurunya.


"Memang Ki Tunjungbiru hanya berkata, kalau ilmu itu adalah ilmu untuk
bersemedi. Bukan untuk berkelahi." Sangaji mencoba untuk mempertahankan.


"Bagus!" Sahut Gagak Seta cepat. "Aku pun tak mencela ilmu itu. Tapi kau
tahu apa arti bersemedi itu? Semedi itu adalah perempuan waktu hamil. Dia
tak bisa bergerak cepat. Tak bisa makan terlalu kenyang. Tak bisa minum
sebanyak sediakala. Tak bisa tidur tengkurap atau miring terlalu lama.
Pokoknya serba kurang dan tanggung. Laripun dia tak mampu.


Apa lagi berkelahi. Karena itu aku berkata, ilmu semedi itu adalah ilmu
perempuan! Kamu sakit hati?"


Sebenarnya Sangaji mendongkol mendengar semua kata-kata Gagak Seta. Tapi
karena kesannya lucu, diam-diam ia tersenyum geli.


"Lantas? Apakah yang harus kulakukan?" Ia mengalihkan pembicaraan.


"Berlatih dan berlatih, tolol!" damprat Gagak Seta. "Rejekimu sudah terlalu
besar. Bahwasanya tanpa bertapa, kamu sudah memiliki tenaga sakti yang
ajaib. Dulu aku pun tak bisa memiliki suatu bekal seperti kamu. Aku cuma
bisa menghapal jurus-jurusnya belaka. Tenaga saktinya, harus kutempuh
dengan bertapa selama tiga tahun terus menerus."




Sangaji tak berkata lagi. Ia memilih sebatang pohon yang berdiri tak jauh
daripadanya. Kemudian ia berlatih. Mula-mula ia mengatur napas dan
memusatkan ke urat nadi menurut ajaran Gagak Seta. Setelah itu menekuk
lutut, berputar dan meliuk tubuhnya. Lantas menyodok dengan menumpahkan
seluruh tenaga napasnya yang tersekam. Dan batang pohon di depannya lantas
saja bergoyang-goyang.


"Hai! Bocah tolol!" damprat Gagak Seta. "Mengapa mengoyang-goyangkan pohon?


Apa kamu mau menangkap tikus? Kamu harus bisa menggempur musuh dengan
sekali pukulan. Bukan untuk mengitik-ngitik biar kegelian."


Sangaji tertawa menyeringai. Mukanya merah kebiru-biruan karena tercekat
hatinya. Segera ia minta petunjuk-petunjuk.


"Dengar!" kata Gagak Seta. "Sudah kukatakan tadi, kalau aku akan menyulapmu
menjadi tandingan anak siluman Karimun Jawa. Kamu harus sadar, bahwa bakal
isteri-mu itu cerdas otaknya. Bakatnya pun lebih besar daripadamu. Ia
mengenal bermacam-macam ilmu. Gerak-geriknya cekatan. Tapi hanya penuh
gertakan-gertakan belaka. Janganlah kamu sampai kena dipengaruhi. Tunggu
saja, sampai dia memukul benar-benar! Jika pukulannya tiba, nah— papakilah
dengan pukulanmu. Dia pasti kalah."


"Apa hanya itu saja?"


"Apa kau bilang?" bentak orang tua itu. "Sudah kukatakan ia memiliki ilmu
bermacam ragam. Gerak-geriknya, pasti sukar kauduga. Sekali kena pukul, dia
akan bisa membalas dengan ilmu tangkisan yang lain lagi. Sebab yang baru
kaupelajari ini, hanya satu macam ilmu saja. Di kolong langit ini, kamu
akan me-nemukan ratusan macam ilmu sakti."


Sangaji diam merenung-renung. Sekarang ia merasa dirinya kecil. Tadinya ia
mengira, sesudah mendapat ilmu ajaran gurunya rasanya cukup buat bekal
merajai orang. Tak tahunya, ilmu sakti di dunia ini banyak ragamnya.
Pantas, kedua gurunya tak mampu mengalahkan Pringgasakti meskipun dikerubut
empat orang.


"Sekarang yang penghabisan," kata Gagak Seta.


"Sesudah ini, tak mau lagi aku berbicara. Tadi kujelaskan, kalau kamu harus
berusaha menggiring lawan ke suatu pojok tertentu. Jepitlah dia dengan
gerakan-gerakan begitu rupa sampai dia tak mampu bergerak. Kemudian
hantamlah dengan Ilmu Kumayan Jati. Atau tunggu saja lawanmu sampai
memukulmu. Begitu ia memukul, sambutlah ia dengan suatu pukulan pula."


"Jika demikian aku harus bisa bergerak cepat dan sebat," potong Sangaji.
"Tentu saja, tolol!"


Sangaji tertawa geli. Istilah tolol yang diucapkan orang tua itu terlalu
sering, lambat-laun terdengar sedap juga. Bagaikan seorang minta sambal
dalam suatu perjamuan makan.


"Telah kukatakan kepadamu, kalau semua jurus ajaranku berjumlah delapan
belas dan enam ayunan. Pukulan keras ini terbagi menjadi sembilan. Tentu
saja ada perubahan-perubahannya. Setiap jurus aku beri nama, agar
memudahkan ingatanmu yang tolol. Kautahu?"


Sangaji mengangguk.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Masakan kerang full kolesterol

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Selesai makan

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

8.30.2019

Otak-otak

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Wader apa ini?

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Sop nila brambang asem

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 165

@bende mataram@
Bagian 165


"Itupun adalah satu macam pukulan Ilmu Kumayan Jati. Pokoknya terbagi
menjadi dua.


Pukulan Keras dan pukulan Lemas. Kedua-duanya adalah pukulan mematikan.
Setiap sasaran yang kena bidik kedua macam ilmu itu, bisa kamu bayangkan
bagaimana akibatnya. Soalnya sekarang ialah, bagaimana cara memperoleh
bidikan itu sampai dia tak dapat bergerak. Caranya ialah, kita harus
berusaha mem-pengaruhi, menjebak, mengurung, mencekam, menangkap,
menjaring, melibat dengan tata-berkelahi bermacam ragam. Dan tata-berkelahi
ini tidak boleh terlalu berbelit. Sederhana saja tapi harus mengandung
suatu siku-siku mata angin yang bisa merupakan pedang penggiring atau
cemeti pelipat. Dengan demikian, musuh bisa kita kelabui. Ia mengira ilmu
tata-berkelahi Kumayan Jati begitu sederhana. Tak tahunya jika sekali kena
libat, takkan gampang-gampang dia bisa membebaskan diri. Nah, anakku!
Masing-masing ragam tata-berkelahi kedua macam pukulan Ilmu Kumayan Jati
itu berjumlah sembilan. Jadi jumlah semuanya delapan belas jurus. Ayunan
lontaran enam jadi seluruhnya berjumlah dua puluh empat. Sanggupkah kamu
mentelaah Ilmu Kumayan Jati ini adalah semata-mata tergantung pada nasibmu
belaka. Sebab, orang takkan bisa mempelajari ilmu ini hanya mengandalkan
kecerdasan otak. Dan hanya dapat memperoleh kulitnya saja. Karena itu,
orang harus berani bertapa agar mendapat kekuatan alam yang mumi. Paling
tidak tujuh bulan. Kausanggup?"


Selama hidupnya, Sangaji belum pernah berpuasa. Tentang istilah bertapa itu
baru didengarnya untuk yang pertama kali dari Panembahan Tirtomoyo. Maka
begitu ia mendengar tuntutan Gagak Seta, mulutnya bungkam seribu bahasa.


Gagak Seta tidak mendesaknya lagi. Dengan sikap acuh tak acuh ia berkata,
"Hai! Mengapa kamu tergugu seperti katak? Biar kamu berdiam diri seribu
hari, tahulah aku kalau kamu takkan mampu menerima warisan ilmu ini. Hal
itu bukan kesalahanku. Aku sudah membuka tangan dan sekarang tergantung
pada bakatmu belaka. Bukankah aku berkata, bahwa bakatmu sangat miskin dan
kalah jauh dari anak iblis itu?"


Sehabis berkata demikian, ia kemudian mengajari Sangaji cara mengatur dan
menguasai napas.


"Napas itu adalah tali hidup. Meskipun napas itu bukan menentukan hidup dan
matinya orang, tetapi termasuk alat yang penting dan kuat."


"Apakah Paman ingin berkata, orang bisa hidup tanpa napas?" Sangaji heran.
"Benar."


"Masa orang bisa hidup tanpa napas?"


"Ah, kau bocah tolol! Sewaktu kamu dulu di kandung ibumu dalam perut,
apakah kamu sudah bisa bernapas? Apakah kamu sudah mempunyai hidung dan
jantung? Itulah suatu bukti, kalau dalam diri manusia ini bersemayam suatu
tenaga rahasia yang menghidupi napas itu sendiri. Jika kamu bisa menemukan
tenaga itu, kamu akan bisa menguasai seluruh alam ini. Sekarang carilah
tenaga itu, lewat pernapasanmu. Jika kautekun, mudah-mudahan kamu berhasil."


Dua jam kemudian, Sangaji bisa mengatur dan menguasai napas. Maklumlah, dia
pernah mendapat ajaran Ki Tunjungbiru. Tapi sewaktu menginjak ke tataran
selanjutnya, dia heran dan kaget. Ajaran tarikan napas Gagak Seta itu jauh
berlainan dengan ajaran tarikan napas Ki Tunjungbiru. Lagi pula mempunyai
daya guna yang aneh. Tiba-tiba saja, ia merasa dalam dirinya ada suatu
tenaga yang bergolak. Itulah tenaga getah pohon Dewadaru yang kena tersedot
ke luar. Tenaga getah itu lantas saja bergolak dan berputar bergulungan ke
seluruh tubuh. Baik Sangaji dan Gagak Seta sendiri tak pernah mengira,
kalau daya guna ilmu




napasnya bisa membangunkan tenaga uapan getah sakti. Pemuda itu jadi kaget
luar biasa. Mukanya lantas menjadi merah membara dan matanya jadi
berkunang-kunang.


"Hai, kamu kenapa?" Gagak Seta terkejut. "Kosongkan angan! Tebarkan
semangat! Jangan kaupusatkan seperti orang bersemedi."


Sangaji ingin mengiyakan tetapi mulutnya seperti terkunci. Maka ia hanya
mengangguk. Mukanya kian nampak makin membara.


Gagak Seta menghampiri sambil memijit uratnya, la menggoncang-goncangkan
tubuhnya. Terasa keras bukan kepalang seperti sebongkah batu. Pikirnya,
semua berjalan lancar menurut bunyi ajaran. Tapi kenapa bocah ini?
Bagaimana bisa sesat?"


Sebagai seorang pendekar yang sudah mendapat gelar sakti, ia merasa
terpukul melihat kenyataan itu. Ingin ia mendapat jawabannya dan
menyelidiki secermat-cermatnya.


"Sekarang lepaskan semuanya! Tengadahkan mukamu ke angkasa. Buka mulutmu!
Cepat!"


Suara Gagak Seta agak menggeletar. Karena melihat anak muda itu biru
pengap. Perlahan-lahan Sangaji dapat menguasai diri. Dengan cermat ia
mengikuti petunjuk Gagak Seta. Tak lama kemudian, rongga dadanya menjadi
lega. Ia bisa bernapas seperti sediakala. Hanya terengah-engah seperti
seseorang yang tengah lepas dari cengkraman binatang galak.


Dalam pada itu Gagak Seta mondar-mandir mencari kunci jawabannya. "Apakah
kamu telah melepaskan semua anganmu?" tanyanya penuh selidik. Sangaji
mengangguk.


"Telah kautebarkan semangatmu?" "Ya."


"Kaukosongkan dirimu?" "Ya."


"Kausalurkan semua deburan darahmu ke seluruh urat nadi?" Sangaji mengangguk.


"Aneh!" ia bergumam. Ia yakin, kalau Sangaji menjawab dengan sebenarnya.
Karena tadi, ia telah memeriksanya. Pikirnya, ya, semua telah berjalan
seperti semestinya. Apakah yang mengganggu? Memang pada zaman dahulu orang
hampir menyamakan Ilmu Kumayan Jati dengan Ilmu Bayu Sejati. Meskipun
bersumber sama, tetapi lakunya jauh berlainan. Ilmu Bayu Sejati
mengutamakan kekuatan urat nadi, tulang-belulang yang bersandar pada napas.
Tetapi Ilmu Kumayan Jati biarpun mengutamakan tenaga napas, tetapi hanya
bersifat sebagal penyalur. Napas itu hanya dipergunakan sebagai pengungkap
daya kekuatan yang terpendam." la terus merenung. Tiba-tiba suatu pikiran
berkelebat dalam benaknya.


"Eh bocah tolol! Apakah kamu pernah mendapat pelajaran ilmu bernapas?"


Sangaji mengiakan. Melihat pemuda itu mengangguk, seleret cahaya tersembul
pada raut muka Gagak Seta. Ia mau menduga, bahwa Sangaji pernah tersesat
dalam pelajaran. Maka ia menguji penuh selidik.


"Coba bagaimana kamu melakukan ilmu bernapas itu!"


Sangaji kemudian menghapal dua belas kata petunjuk bersemedi ajaran Ki
Tunjungbiru. Mendengar bunyi hapalannya, Gagak Seta yang sudah mempunyai
dugaan yang bukan-bukan jadi merenung-renung lagi.


"Siapa yang mengajarimu bersemedi?" ia masih mencoba. "Ki Tunjungbiru."


"Siapa dia?"


"Menurut kabar, dulu dia bernama Otong Darmawijaya."


"Eh, kau bilang apa?" Gagak Seta terkejut. Dahinya berkerenyit. "Apakah dia
belum mati? Ih! Benar orang itu belum tinggi ilmu bergumulnya, tetapi dia
memiliki tenaga ajaib.




Apakah... apakah... kamu... hai, kenapa kamu mendapat ajaran daripadanya?
Orang itu tak gampang-gampang menerima murid."


"Dia bukan guruku. Dan aku tak pernah pula berguru kepadanya." Sangaji
menerangkan. "Aku menerima petunjuknya berkat jasaku menyedot getah pohon
Dewadaru sebagai pembalas dendamnya."


"Getah pohon Dewadaru? Apa itu?" Gagak Seta heran.


Sangaji kemudian menerangkan dengan singkat tentang sifat pohon sakti itu
menurut pendengarannya saja tatkala Ki Tunjungbiru berbicara di dalam
perahu dahulu. Gagak Seta mendengarkan dengan penuh perhatian. Lantas
berkata, "Eh! Apakah di dunia ini ada suatu macam pohon ajaib-ajaib
demikian rupa? Inilah aneh!" ia berhenti menimbang-nimbang. Berkata lagi
memutuskan, "Baiklah! Coba ulangi lagi menarik napas menurut ajaranku.
Kemudian tirukan semua gerakanku."


Sangaji segera melakukan ilmu menarik napas ajaran Gagak Seta, kemudian
menirukan gerakan selanjutnya. Waktu itu Gagak Seta menekuk lutut sambil
meliukkan tubuh. Tiba-tiba menyodok ke arah suatu pohon.


"Bidik!" perintahnya.


Sangaji cepat-cepat menyodok. Ternyata batang pohon yang berdiri di
depannya bergoyang. Mahkota daunnya runtuh berhamburan.


"Bagus! Bagus!" seru Gagak Seta kagum. "Inilah hebat! Tanpa bertapa kamu
sudah bisa menguasai setengah jurus Ilmu Kumayan Jati, meskipun lagi
menggoyang-goyang tupai!"


la berjalan mondar-mandir kembali seperti sedang menghadapi satu soal yang
belum mendapatkan kunci jawabannya. Sekonyong-konyong kepalanya mendongak
dan berputar menghadap Sangaji.


"Aji! Coba gempurlah aku!"


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Ngopi

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Kondangan

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 164

@bende mataram@
Bagian 164


Tatkala Sangaji sedang asyik mengamat-amati kedua kudanya merenggut
rerumputan, sekonyong-konyong pundaknya terasa kena raba. Ia kaget luar
biasa. Karena sebagai anak murid Wirapati dan Jaga Saradenta, ia sudah
diajar dan diasuh meng-gunakan ketajaman pendengaran. Tapi si pendatang
kali ini tidak dapat tertangkap oleh pendengarannya. Suatu bukti bahwa
ilmunya sudah mencapai taraf kesempurnaan yang susah untuk dinilai. Waktu
ia menoleh, dilihatnya Gagak Seta berdiri merenungi dirinya.


"Eh, bocah! Dalam hal kecerdikan dan bakat, kamu kalah jauh daripada
kawanmu. Tapi dalam hal kejujuran barangkali aku memilihmu, kawanmu itu
mempunyai sifat-sifat berbahaya. Tak bisa aku lekas-lekas percaya
kepadanya. Karena itu, kemarilah! Aku akan mewariskan suatu ilmu khusus
bagimu," katanya.


Dengan gembira Sangaji menghadap padanya. Kemudian Gagak Seta berkata
melanjutkan, "Sekarang cepatlah kamu bersumpah kepadaku, bahwa tanpa
seijinku kamu kularang mewariskan ilmu ini kepada siapa saja. Juga terhadap
bakal isterimu yang licin sebagai belut itu. Nah, bersumpahlah!"


Sangaji yang sudah jadi bergembira, sekonyong-konyong nampak pudar. Pandang
mukanya jadi resah.


"Paman! Aku tak dapat bersumpah demikian terhadapmu. Sebab kalau Titisari
meminta agar aku mengajarkan ilmu Paman, tak dapat aku menolak."


Tapi ilmuku ini bukan ilmu murahan. Bakal berimu itu cerdik luar biasa dan
mempunyai s -at-sifat liar. Kalau kamu tak pandai menjaga diri, di kemudian
hari kamu bakal bisa ditak-lukkan dan disusahkan."


Sangaji diam menimbang-nimbang. Sejurus kemudian menjawab, "Jika demikian,
biarlah Paman tak usah mengajariku. Tak ingin aku belajar sesuatu ilmu yang
kelak akan merisaukan hati. Biarlah Titisari jauh lebih gagah daripadaku."


"Hai! Mengapa?"


"Sebab kalau dia minta kuajari, tak dapat aku menolaknya. Inilah sulit. Aku
akan mengkhianati Paman. Sebaliknya kalau kutolak, rasanya kurang
menyenangkan. Tak sampai hatiku, melihat dia akan bermurung sedih karena aku."


Mendengar keterangannya, Gagak Seta tertawa lebar. Gerutunya, "Anak goblok!
Biar otakmu bebal, hatimu mulia dan matamu tajam. Kau jujur sekali. Rasanya
tak gampang-gampang pula, bertemu dengan seorang pemuda seperti kamu.
Baiklah! Biarlah aku menyulapmu menjadi tandingan anak Adipati Surengpati
Karimun Jawa." la berhenti mengesankan diri. Meneruskan, "Kamu tahu, ayah
calon isterimu itu angkuh luar biasa. Ganas, kejam dan gagah perkasa.
Kegagahannya sebanding dengan Arya Penangsang pada zaman Kerajaan Bintara.
Dia merasa diri menjadi orang sakti nomor satu di jagad ini. Aha ... nah,
biarlah dia menyenakan mata. Kamu akan kuwarisi ilmuku Kumayan Jati. Tapi
entah kaumampu atau tidak. Sebab untuk bisa memiliki ilmu itu, kamu harus
berani bertapa paling tidak tujuh bulan..."


Sehabis berkata demikian, dia lantas berputar sambil menekuk lutut.
Kemudian tangannya menyodok. Dan tiba-tiba sebatang pohon yang berdiri
tegak dua puluh langkah di depannya,


patah berantakan. Dan dengan suara gemeretak, pohon itu tumbang sekaligus.


Sangaji kagum luar biasa. Hatinya bergetar. Dahinya pucat, karena
terperanjat dan tercekam suatu perbawa yang luar biasa kuat. Sama sekali
tak disangkanya, kalau dengan suatu sodokan yang nampaknya begitu sederhana
bisa menumbangkan sebatang pohon sebesar tubuhnya. Kalau saja itu seorang
manusia, bisa dibayangkan bagaimana akan hancur berkeping-keping. Tiba-tiba
saja insyaflah dia, apa arti julukan dan gelar orang sakti itu. Benar-benar
bukan suatu gelar kosong melompong.


"Pohon itu adalah suatu benda tak bergerak," Gagak Seta menjelaskan dengan
sederhana. "Jika dia manusia tidaklah semudah itu kena bidik. Sebab dia
bisa maju mundur, mengelak, meloncat tinggi atau mengendapkan diri. Karena
itu, tata-berkelahi Ilmu Kumayan Jati adalah lain daripada yang lain. Kamu
harus bisa mendesak musuh demikian rupa, sehingga dia tak dapat bergerak
lagi seolah-olah terdorong ke pojok. Kemudian kauhantam dengan pukulan itu.
Kalau dia bergerak hendak menangkis, nah itulah maksud pukulan Kumayan Jati
sesungguhnya. Sebab begitu dia menangkis, dia akan runtuh seperti
tumbangnya pohon tadi."


Sekali lagi. Gagak Seta melontarkan pukulan Ilmu Kumayan Jati ke arah suatu
pohon yang lebih besar. Pohon itu pun lantas saja gemeretak patah
berantakan dan tumbang ke tanah.


"Tapi Ilmu Kumayan Jati itu tidaklah hanya berupa suatu pukulan tunggal
belaka. Sekiranya hanya satu macam pukulan belaka, akan cepat diketahui
lawan. Lalu lawan akan berusaha menciptakan suatu daya pertahanan sehingga
Ilmu Kumayan Jati tidak berguna lagi. Sekarang lihat!"


Gagak Seta memutar tubuh untuk yang ketiga kalinya. Tiba-tiba tangannya
bergerak seperti mengusap, ke arah sebatang pohon. Sehabis bergerak
demikian, ia berdiri tegak sambil tersenyum puas.


Sangaji heran mengapa orang tua itu tersenyum puas. Dilihatnya pohon yang
menjadi sasaran bidiknya masih saja segar-bugar. Tidak nampak suatu
perubahan. Ingin ia minta penjelasan, tiba-tiba Gagak Seta berkata memerintah.


"Mengapa berdiri tegak seperti batu? Dekatilah dan lihat!"


Dengan kepala kosong, Sangaji menghampiri pohon itu. Sesampainya di depan
pohon itu, tak tahulah dia apa yang harus dilakukan.


"Dorong!" Perintah Gagak Seta dari kejauhan.


Sangaji mendorong pohon itu dengan telapak tangannya. Mendadak saja, pohon
itu roboh hancur berkeping seperti rapuh.


"Hai! Mengapa begini rapuh?" serunya heran. Gagak Seta tertawa berkakakan.


"Kamu masih belum percaya? Nah, cobalah pilih sebatang pohon yang terkuat!"


Di seberang-menyebrang jalan, banyak terdiri batang-batang pohon liar. Maka
dengan mudah Sangaji bisa memilih pohon kuat sentosa. Ia mencoba memeriksa
dengan suatu dorongan dan depakan. Yakin, bahwa pohon itu tangguh sentosa,
maka segera ia berkata nyaring.


"Inilah pilihanku."


"Bagus! Sekarang minggirlah cepat dan sedikit menjauh!" perintah Gagak Seta.


Dengan cepat Sangaji melompat ke samping. Ia berdiri tegak mengawaskan
gerak-gerik Gagak Seta yang sedang berputar mengayunkan tangan kemudian
seperti tadi, ia mengusapkan tangannya. Setelah itu berdiri tegak sambil
tersenyum. Perintahnya, "Periksalah!"


Dengan kepala menebak-nebak dan jantung berdegupan, Sangaji menghampiri
pohon itu. Ternyata pohon itu sekaligus roboh berantakan begitu kena raba.
Orat-uratnya hancur seperti terhangus. Kulitnya remuk berkeping seperti
abu. Sudah barang tentu, anak muda itu heran


terlongoh-longoh seperti kanak-kanak menonton permainan sulap.


"Nah, ke marilah!" perintah Gagak Seta. "Dengarkan kuberi kamu suatu
penjelasan."


Dengan rasa takjub, kagum, hormat dan takluk, Sangaji datang
menghampirinya. Orang tua itu lantas saja memberi penjelasan.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Kwitau

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Pesta

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Kucing liar

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Makan cumi

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Mi

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 163

@bende mataram@
Bagian 163


"Iblis kecil!" maki Gagak Seta. "Kepandaian ayahmu belum kauwarisi
sepersepuluh bagian. Tetapi sifat iblisnya telah kauwarisi seluruhnya.
Apakah aku begitu tolol sampai kena kausan-jung puji? Kau berdua tak pantas
menjadi kawanku. Yang satu goblog dan yang lain anak iblis. Selamat malam."


Sehabis berkata demikian, dengan suatu kesehatan luar biasa ia menyambar
tempurungnya. Dan tahu-tahu tubuhnya telah melesat ke luar gua.


Sangaji tercengang-cengang sampai mulutnya terlongoh. Dia berdiri tertegun
mengawasi melesatnya Gagak Seta.


"Titisari!" katanya sejurus kemudian. "Benar-benar dia seorang yang luar
biasa. Tabiatnya pun luar biasa pula."


"Sebenarnya dia seorang yang baik hati. Hatinya mulia pula," sahut Titisari
sambil duduk terhenyak seperti menghempaskan diri. Tetapi sesungguhnya dia
seorang gadis yang cerdik




luar biasa. Dengan ketajaman matanya, ia melihat kuping Willem dan kawannya
tegak. Suatu tanda, bahwa binatang itu melihat sesuatu.


Telah diketahui bahwa ketajaman indera binatang jauh lebih tajam daripada
indera manusia. Maka ia menduga, kalau Gagak Seta belum meninggalkan gua
sungguh-sungguh. Mempunyai dugaan demikian lantas saja dia berkata seperti
menyesali diri.


"Aji! Dengan sebenarnya kukatakan kepadamu, ilmunya lebih tinggi daripada
Ayah. Sayang, dia terlalu cepat meninggalkan kita..."


Sangaji heran.


"Kamu belum pernah menyaksikan macam kepandaiannya. Mengapa kamu bisa
berkata demikian?"


"Ayahku sering berkata kepadaku." "Apa katanya?"


"Ayahku berkata, bahwa pada zaman ini orang yang bisa mengalahkan dia hanya
Paman Gagak Seta seorang. Kyai Kasan Kesambi pun tak mampu. Sebab orang tua
itu sudah menarik diri dan hidup sebagai pertapa belaka. Sayang! Sungguh
sayang! Sekiranya kita bisa memperoleh warisan kepandaiannya, ayahku yang
mengusirku akan terkejut bila melihat ke-pandaianku. Pasti dia tak berani
sembrono lagi mengusirku."


Dugaan Titisari benar-benar tepat. Gagak Seta belum meninggalkan gua.
Memang tadi, ia hendak meninggalkan gua. Tetapi hujan belum lagi reda dan
ia tahu, kalau sekitar tempat itu tidak ada gua lagi. Maka dia memepet
dinding mulut gua sambil memasang telinga. Inginlah dia tahu, apa yang
dibicarakan anak iblis itu. la yakin, bahwa Titisari dan Sangaji takkan
mengetahui dirinya. Tetapi orang pandai pun kadang-kadang bisa salah duga.
la tak memperhitungkan tentang kedua kuda anak-anak muda itu yang mempunyai
indera jauh lebih tajam daripada kodrat manusia. Maka ia kena dipermainkan
Titisari.


Pikir orang tua itu, eh—nampaknya Adipati Surengpati tak pernah mengagumi
diriku. Tak tahunya, di dalam hatinya ia menghormati dan menghargai aku.
Siapa menyangka demikian? la menjadi berbesar hati, bangga dan puas.
Hatinya berubah menjadi senang. Sama sekali tak diduganya pula kalau
Titisari sebenarnya lagi mereka-reka cerita.


"Aji!" kata Titisari. "Kukatakan kepadamu, bahwa ayahku memang seorang
pendekar tiada bandingnya. Kau pasti sudah pernah mendengar kemasyhuran
namanya."


"Ya. Pernah aku mendengar nama ayahmu disebut-sebut Ki Tunjungbiru," sahut
anak muda itu dengan sungguh-sungguh.


"Hanya sayang, aku belum pernah berguru kepadanya. Ilmu yang kutuntut
daripadanya, hanya sekelumit. Inilah kesalahanku sendiri. Semenjak
kanak-kanak, aku senang diman-jakan. Kurang rajin dan senang bermain-main
mencari ikan 'dengan para nelayan. Coba, kalau aku tidak begitu, pasti aku
sudah bisa menghajar orang-orang macam Yuyu Rumpung dan begundal-begundal
Pangeran Bumi Gede." Sampai di sini Titisari nampak bermu-rung. Pandangnya
diruntuhkan ke tanah dan seolah-olah dia benar-benar sedang berduka. Tapi
sebenarnya dia lagi bermain sandiwara. Kemudian meneruskan, "Tadi sewaktu
aku bertemu dengan Paman Gagak Seta, hatiku yang penuh sesal sekaligus bisa
tersapu bersih. Kenapa? Sebab aku berpengharapan bisa berguru kepadanya.
Ilmunya lebih tinggi daripada Ayah. Jika aku pulang membekal tiga, empat
ilmunya saja sudah berani berlagak di depan Ayah. Sayang... sungguh sayang!
Apakah kata-kataku menyinggung perasaan hati Paman Gagak Seta?"


"Titisari! Perasaanku tak sehalus kamu. Sama sekali tak dapat menjelaskan,
apakah kamu tadi menyinggung perasaan Paman Gagak Seta," sahut Sangaji
gugup sebab anak muda itu melihat kedua mata Titisari nyaris menitikkan air
mata.


"Ah! Pasti aku telah menyinggung perasaannya. Baik kusadari maupun tidak.
Sebab dia adalah




seorang pendekar yang berhati mulia. Jika tidak tersinggung perasaannya,
mengapa sampai meninggalkan kita?"


Titisari nampak berduka benar. Mendadak saja dia menangis. Hebat permainan
sandiwaranya. Sebaliknya Sangaji jadi gugup benar. Dengan sekuasa-kuasanya,
ia mencoba menghiburnya dengan memeluk lehernya. Karena hiburan dan pelukan
Sangaji itu, tiba-tiba Titisari menjadi bersedih hati benar-benar.
Tangisnya kian naik. Kali ini benar-benar menangis terharu, karena merasa
diri anak yatim-piatu. Ibunya telah tiada dan ia berada jauh di rantau orang.


Gagak Seta yang berdiri memepet dinding gua, menjadi tertarik hatinya.
Orang tua itu mengira, bahwa gadis itu lagi menangisi dirinya.


"Aji!" kata Titisari tersekat-sekat. "Ayah pernah berkata kepadaku, bahwa
Paman Gagak Seta mempunyai suatu ilmu sakti tiada bandingnya di kolong
langit ini. Menurut ayah, ilmunya itu sangat disegani rekan-rekannya.
Sampai Kyai Kasan Kesambi dan Pangeran Mangkubumi segan pula kepadanya.
Kabarnya Raden Mas Said gelar Pangeran Samber Nyawa itu pun, takut
kepadanya. Tapi


ilmu apakah itu... ah aku lupa. Hm... kalau kita berdua bisa mewarisi ilmu
itu... o, betapa goncang dunia ini. Ah... hm... ilmu apakah itu? Mengapa
aku kini jadi pelupa?"


Titisari berlagak seperti menyesali kebebalan ingatannya. Sebaliknya Gagak
Seta masih belum juga sadar, bahwa dirinya lagi dipermainkan orang. Karena
Titisari terlalu memuja ilmunya dan memuji dirinya begitu berkali-kali dan
nampak bersungguh-sungguh, ia jadi tak kuat menahan hati. Lantas saja ia
melesat memasuki gua, sambil berkata menerangkan.


"Ilmu itu bernama Kumayan Jati."


Titisari terkejut bukan kepalang. Tetapi ia girang luar biasa. Segera
menyahut, "Ya benar! Benar!"


Sehabis berkata demikian, ia berdiri dan melompat-lompat setengah menandak
sambil merangkul leher Sangaji. Sudah barang tentu, anak muda itu jadi
kelabakan. Ia sudah terperanjat oleh kedatangan Gagak Seta kembali, kini
ditambah dengan tingkah-laku Titisari yang bisa berubah mendadak dari
menangis jadi girang luar biasa. Dia yang berhati polos dan jujur,
bagaimana bisa mengerti permainan sandiwara itu.


"Eh—ayahmu bisa juga berkata terus-te-rang," kata Gagak Seta bersyukur
dalam hati.


"Tadinya kusangka, ia akan mengangkat diri menjadi seorang sakti nomor satu
di kolong langit ini, setelah Kyai Kasan Kesambi menarik diri dan Pangeran
Mangkubumi I wafat. Tak tahunya...


eh kamu berdua... lekaslah memasak kopi lagi. Aku mau tidur di sini."


Dan belum lagi mendapat jawaban, orang tua itu lantas saja merebahkan diri,
sebentar kemudian angan-angannya telah amblas entah ke mana. Dengkurnya
keras luar biasa seakan-akan tidak memedulikan gunung gugur.


Titisari segera mengambil bubuk kopi. Dengan kerlingan mata ia minta
pertolongan Sangaji agar membantunya menyalakan perdiangan. Ia sangat
gembira, sampai pandang matanya berkilat-kilat.


"Aji! Bersyukurlah pada Dewa atau Tuhan atau siapa saja yang kausujudi,"
bisiknya. "Esok hari, kita akan menjadi orang lain... "


Waktu itu telah jauh malam hujan agak reda. Kini angin meniup dengan
kerasnya. Rasa dingin menyelinap ke seluruh tubuh. Untung mereka dekat
dengan perdiangan api sehingga dingin angin itu membuat rasa menjadi aman.


Mereka tiada berkata-kata lagi. Rasa kantuk mulai menggerumuti tubuh.
Apabila Titisari telah menyediakan kopi Gagak Seta, mereka berdua kemudian
duduk saling berdekatan. Dan tanpa dikehendaki sendiri, kedua-duanya telah
tertidur lelap.




Keesokan harinya, mereka terbangun hampir berbareng. Yang pertama
dilihatnya adalah tubuh Gagak Seta yang meringkas seperti landak.
Dengkurnya masih saja kuat luar biasa. Hanya saja anehnya, kopi yang
disediakan semalam telah ludas. Pastilah orang tua itu diam-diam telah
bangun dan menikmati kopi hangat seorang diri. Melihat mereka tidur, tak
sampai hati dia mengganggu. Kemudian balik kembali keperaduannya dan
meneruskan impiannya di jagad lain.


Sangaji segera melepaskan kedua kudanya, sedang Titisari terus saja
menyelam ke dalam sungai berburu ikan. la anak seorang adipati yang
bermukim di tengah lautan. Karena itu, sudah biasa bergaul dengan air.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

8.29.2019

Buryam

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Pecel bakmi

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 162

@bende mataram@
Bagian 162


Gagak Seta tertawa. Sebagai seorang tokoh sakti tahulah dia, bahwa gadis
cilik itu sedang mencari alasan untuk menutupi kedunguan Sangaji dalam
lapangan ilmu berkelahi. Tetapi ia berdiam membungkam mulut.


"Kulihat gerak-gerik kalian, bukan seorang segoblok kerbau. Paling tidak,
kalian sudah pernah belajar berkelahi lima tahun. Sekarang, coba kalian
bertempur! Ingin aku melihat."


Titisari segera mengajak Sangaji berkelahi. "Ayo, Aji! Kita bertempur."
"Bertempur?" Sangaji berbimbang-bimbang.


"Ya. Bertempur! Kalau kamu tak memperlihatkan seluruh kepandaianmu,
bagaimana Paman Gagak Seta sudi mengajarimu?"


Sangaji menyahut setelah sejurus diam menimbang-nimbang.


"Tetapi... kalau aku tak becus, janganlah menyalahkan guruku. Semua itu
terjadi karena ketololanku. Paman Gagak Seta, berilah aku petunjuk-petunjuk
yang berguna bagiku."


Gagak Seta tersenyum menjawab, "Memberi petunjuk satu dua jurus, tak
mengapa. Tetapi memberi petunjuk lebih dari lima jurus, itu lain perkara."


Sangaji heran mendengar jawaban orang itu. Tetapi belum sempat ia berpikir,
mendadak saja Titisari telah menyerangnya sungguh-sungguh.


"Awas!" gertaknya.


Sangaji benar-benar diserangnya bertubi-tubi. Karena tidak berniat
berkelahi bersungguh-sungguh, maka ia kena gebuk empat kali beruntun.


"Berkelahilah yang sungguh-sungguh! Paman Gagak Seta bukan orang
sem-barangan. Dia tahu, kamu berkelahi dengan sungguh-sungguh atau tidak,"
bisik Titisari.


Karena bisikan itu, terbangunlah semangat Sangaji. Maka ia terus saja
menangkis si gadis dan sekali-kali melepaskan serangannya. Dalam hal tenaga
dan keuletan, Sangaji menang jauh daripada Titisari. Maklumlah, selain
watak asli, Sangaji telah menghisap getah pohon Dewadaru. Gerakannya gesit
dan kuat. Setiap pukulannya mengandung per-bawa. Tetapi Titisari pun bukan
seorang gadis sembarangan. Dia anak Adipati Karimun Jawa Surengpati.
Meskipun belum sempurna setidak-tidaknya ia pernah mendapat didikan dan
asuhan ayahnya. Karena itu, gerak-geriknya luar biasa aneh dan gesit, la
mengenal macam-macam ilmu. Tatkala ia kena desak, mendadak saja dua
tangannya ditarik seolah-olah meringkaskan diri. Kemudian di luar dugaan,
ia menyapu tubuh Sangaji dari bawah.


"Bagus!" puji Gagak Seta gembira. "Kamu siluman cerdik."


Sangaji kena hantam beberapa kali, tetapi ia belum mampu membalas. Maka ia
mau mendesak Titisari dengan sungguh-sungguh. Tenaganya berlipat ganda.
Dalam tubuhnya seakan-akan ada suatu bendungan air yang hendak membobol
tanggul. Hanya sayang, ia belum pandai menyalurkan. Itulah sebabnya, tenaga
yang dahsyat hanya tersekap dalam tubuh seperti air bergolak. Sekalipun
demi-kian, ia nampak bersemangat. Beberapa kali ia merangsak dan mendesak.
Kini, Titisari benar-benar repot. Seumpama bertempur benar-benar ia akan
dapat dikalahkan Sangaji dalam waktu tiga jam lagi. Maklumlah, tena-ganya
takkan mampu menandingi tenaga getah Dewadaru. Gagak Seta sendiri,
diam-diam heran, pikirnya, anak goblog ini seperti punya mukjizat. Eh,
mukjizat apa yang dimi-likinya?


Sejalan dengan pikirannya, ia melihat Titisari kena desak Sangaji sampai ke
pojok. Mendadak saja di luar dugaan, gadis itu me-ngeluarkan ilmu
simpanannya ajaran khas dari ayahnya. Itulah ilmu "Meninju Odara Kosong"
yang terkenal dengan sebutan "Ilmu Gora Mandala." Seseorang yang sudah
mahir ilmu ini akan dapat mementalkan seekor kerbau dari jarak dua puluh
langkah._ Bisa diba-yangkan betapa dahsyat ilmu ini. Konon pada zaman dulu,
yang terkenal




memiliki ilmu ini adalah pahlawan Majapahit Kasan-Kusen dan Adipati Jipang
Panolan Arya Penangsang. Mereka diceritakan bisa menggugurkan gunung dengan
sekali hantam dari jarak jauh.


Itulah sebabnya, begitu Titisari mengeluar-kan ilmu dahsyat simpanannya,
lantas saja ia bisa mengatasi kekalahannya. Untung, dia belum mahir. Bahkan
belum menguasai sepertujuh bagian. Karena itu hanya dapat membuat Sangaji
repot karena gerakan-gerakan dan jurus-jurus yang aneh luar biasa. Enam
kali ia berhasil menghantam tubuh Sangaji. Kemudian meloncat ke luar
gelanggang sambil tertawa.


"Titisari, kamu hebat!" Sangaji kagum. Matanya berkilat-kilat karena
girang. Waktu itu Gagak Seta mengerenyitkan dahi.


"Ayahmu memiliki ilmu kepandaian yang jarang ada tandingnya di jagad ini.
Mengapa kamu menghendaki aku mengajar dua tiga jurus kepadamu? Apa kamu mau
mengolok-olokku?" katanya dengan suara dingin.


Titisari terperanjat. Pikirnya, darimana dia mengenal ilmu ayahku? Bukankah
Ilmu Gora Mandala ciptaan ayah sendiri? Sehabis berpikir demikian, segera
ia bertanya, "Paman! Apakah Paman kenal ayahku?"


"Mengapa tidak?" sahut Gagak Seta dengan suara agak keras. "Dia iblis!
Siluman dari Ka-rimun Jawa. Sedangkan aku dijuluki orang Gagak Seta.
Meskipun namaku sebenarnya, Saring. Kami pernah bertempur setiap setahun
sekali untuk menguji kepandaian."


Titisari heran. Sebagai anak Adipati Surengpati tahulah dia, bahwa ayahnya
sangat ditakuti orang. Ilmunya tinggi dan belum pernah bertempur melawan
seseorang melebihi tiga jurus. Karena itu diam-diam ia berpikir, dia pernah
bertempur beberapa kali melawan Ayah. Dia masih tetap segar bugar. Kalau
tak memiliki ilmu tinggi, bagaimana mungkin bisa bertanding melawan Ayah.
Kemudian ia mencoba.


"Paman! Bagaimana Paman bisa mengenalku?"


"Kalau aku belum mengenalmu sebelumnya, bagaimana aku berani menyebut
dirimu sebagai anak iblis. Coba, larilah kamu ke danau. Jengukkan mukamu ke
permukaan air. Pandang matamu, bentuk mukamu dan alismu, bukankah seperti
wajah siluman dari Karimun Jawa? Apa lagi setelah melihat cara berkelahimu.
Hm, meskipun belum pernah aku berjumpa denganmu, tetapi ilmu Gora Mandala
itu takkan muncul di depan mataku, apabila bukan keluarga siluman dari
Karimun Jawa. Di seluruh jagad ini, hanya ayahmu yang memperdalamnya."


Titisari mendongkol, mendengar Gagak Seta selalu menyebut ayahnya sebagai
siluman, tetapi ia tahu kalau sebutan itu sebenarnya adalah tata-sikap
menghargai ayahnya. Maka ia bisa berlagak tak menghiraukan.


"Paman selalu menyebut ayahku sebagai siluman. Maksud Paman hendak berkata
bahwa ayahku hebat bukan?"


"Memang ayahmu hebat!" sahut Gagak Seta dingin. "Tetapi dia bukanlah nomor
wahid di kolong langit ini."


Titisari melompat kecil karena girang dan bangga, katanya nyaring. "Kalau
begitu, Pamanlah orang nomor wahid di kolong langit ini."


"Itu pun bukan," bantah Gagak Seta. "Pastilah kamu pernah mendengar, bahwa
di kolong langit ini ada tujuh orang yang terkenal sebagai tokoh-tokoh
sakti. Bih! Inilah gelar berlebih-lebihan. Kami, Kyai Kasan Kesambi,
Mangkubumi 1, Pangeran Samber Nyawa, Kebo Bangah, Kyai Haji Lukman Hakim,
ayahmu dan aku adalah manusia-manusia biasa yang terdiri dari darah dan
daging. Kami hanya memiliki suatu kepandaian sedikit dan pada suatu kali
pernah mengadu kepandaian. Ternyata yang kami akui nomor satu ialah Kyai
Kasan Kesambi. Dan kedua Pangeran Mangkubumi 1."


"Siapakah Kyai Kasan Kesambi?" Titisari minta keterangan.


"Apakah ayahmu tak pernah membicarakan dia?" Titisari menggelengkan kepala.
"Aku tahu," tiba-tiba Sangaji menyela.


Titisari dan Gagak Seta menoleh padanya. Mereka nampak heran. "Darimana
kamu tahu!" Titisari bertanya.


"Guruku bernama Wirapati. Menurut guru, Kyai Kasan Kesambi adalah gurunya.
Jadi dia adalah kakek-guruku."


"Hai!" Gagak Seta terperanjat. "Jika demikian, kalian ini minum air dari
suatu sumber hebat! Mengapa kalian minta pengajaran dari-padaku?"


"Benar ayahku seorang berilmu tinggi, tapi dia terlalu angkuh," kata
Titisari. "Aku bahkan diusirnya pergi."


"Hai! Hai! Siluman itu bertambah hari bertambah sesat!" maki Gagak Seta.
Titisari tak senang mendengar Gagak Seta memaki ayahnya.


"Dia adalah ayahku. Tak senang aku mendengar Paman memaki Ayah sebagai
siluman sesat."


Gagak Seta tercengang mendengar teguran Titisari. Kemudian tertawa
berkakakan sambil berkata, "Bagus! Bagus! Inilah namanya si anak berbakti
kepada orangtua. Tetapi orang-tua menyia-nyiakan si anak."


Sehabis berkata demikian, ia menoleh kepada Sangaji. "Hai anak tolol! Kamu
mengaku cucu-murid Kyai Kasan Kesambi. Tapi kamu tak dapat berkelahi dengan
baik. Entah kakekmu itu hendak mendidikmu sebagai pendeta atau memang
kamulah yang goblok."


"Akulah yang goblok," sahut Sangaji.


Gagak Seta terhenyak heran. Sebentar ia mengamat-amati pemuda itu. Kemudian
berkata sambil memanggut-manggut kecil.


"Tahulah aku kini. Anak murid Kyai Kasan Kesambi sudi mengambilmu sebagai
murid, karena kamu seorang berhati jujur. Tapi sayang... menjadi seorang
pendekar tidak hanya mengutamakan kejujuran belaka, la harus sanggup
mengatasi segala hal. Tidak hanya yang nampak terang, tetapi yang busuk pun
harus bisa melihat dan mengatasi dengan sekali pandang. Bakatmu sangat
miskin. Karena itu aku heran, mengapa puteri seorang Adipati Karimun Jawa
sudi berkawan dengan-mu.


Sangaji tak bersakit hati. Dia malah tertawa. Titisari pun tidak
tersinggung pula. Dengan merendahkan diri dia menyahut, "Paman! Justru dia
tolol, aku senang bila dia bisa berkawan dengan Paman. Ayahku belum pernah
melihat dia. Kelak apabila melihatnya, pastilah kawanku ini bisa
membanggakan diri sebagai teman Paman Gagak Seta. Aku tanggung, ayahku akan
segan begitu mendengar kawanku menyebut nama Paman Gagak Seta."


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Telur ikannya sepertinya enak banget

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Indomi

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Asuh

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 161

@bende mataram@
Bagian 161


"Titisari! Entahlah! Otakku bebal dan aku merasa dungu. Bagiku... kalau aku
sendiri belum memiliki dan merasakan sendiri pula, rasanya aku belum bisa
mengiyakan. Entahlah...


mengapa aku mempunyai pendapat demikian? Tak salah bukan?"


Titisari meruntuhkan pandang ke perdi-angan. la membungkam. Meskipun
otaknya cerdas luar biasa, bagaimana dia bisa mengadili ucapan Sangaji yang
dinyatakan dengan jujur. Sangaji sendiripun tak pernah mengira kalau
pernyataan itu dikemudian hari akan terjadi. Dia tidak hanya memiliki ilmu
semacam itu, bahkan akan memiliki suatu ilmu tertinggi di jagad ini.


Waktu itu, air telah mendidih benar-benar. Dengan cekatan Titisari mengaduk
bubuk kopi. Harum kopi mengasap ke seluruh ruang goa. Mendadak saja, hidung
Gagak Seta ber-gerak-gerak. Belum lagi Titisari selesai mengadukkan gula,
orang tua itu sudah melesat dan sekaligus menyambar tempurungnya.


"Harum! Harum! Eh, Hidungku! Hm... kau percaya tidak anak muda? Hidungku
ini nyaris kupotong sendiri karena begitu galak."


Sangaji dan Titisari terperanjat. Sama sekali mereka tak mengira, orang tua
itu bisa bangun dengan sekonyong-konyong. Tadi ia tak bergeming karena
siraman air panas. Tapi dengan hawa kopi hangat belaka, hidungnya bisa
mengajak bangun. Ini aneh dan menggelikan.


Mau tak mau, kedua pemuda itu sibuk menduga-duga pribadi pendekar sakti
tersebut.


"Ah, Nona kecil! Benar-benar aku takluk padamu," kata Gagak Seta setelah
menghirup kopinya. "Hm, begini lezat. Sepuluh tahun lamanya aku pernah
mengaduk-aduk dapur istana Kasunanan dan Kasultanan. Tak pernah sekali
juga, aku menikmati kopi sehebat ini. Barangkali benar-benar kamu anak iblis."


Setelah berkata demikian, ia tertawa terkekeh-kekeh. Kemudian dengan mulut
se-rabutan ia mencoba menghirup habis kopinya.


Titisari waktu itu membuat tiga tempurung kopi. Sebenarnya satu untuk
Sangaji dan lain untuknya sendiri. Tetapi ketika melihat keserakahan Gagak
Seta, ia menyerahkan kopinya. Bahkan Sangaji dengan hormat berbuat demikian
juga.


"Hai! Apa kalian akan menyuapku?" tegur Gagak Seta seperti uring-uringan.
Tetapi ia menerima juga suguhan. Dan dengan sekali hirup, ia menghabisi
riwayat kopi hangat pada malam hari itu.


"Hai! Hai! Perutku!" Gagak Seta menyesali perutnya sendiri. Lantas ia
mengeluarkan seonggok tembakau dan seikat kelobot.


Dengan penuh kepuasan, ia menggulung sebatang rokok raksasa dan disumpalkan
ke dalam mulutnya. Sangaji melompat ke perdiangan menolong menyalakan,
kemudian duduk dengan takzim di depannya.


"Hm," dengus Gagak Seta sambil mengepulkan asap ke udara. "Aku tahu, kalian
begini bersikap baik kepadaku karena mempunyai maksud yang tidak baik.
Kalian mau menyuapku, agar aku sudi mengajari sesuatu ilmu bukan?"


Sangaji hendak membantah, mendadak ia melihat pandang mata Titisari memberi
isyarat kepadanya. Karena itu ia batal sendiri.




"Baiklah! Tak mengapa. Aku telah menenggak kopi dan semua ikan kalian.
Rasanya kurang adil, jika aku tak membayar dengan sepantasnya. Nah, aku
ingin kalian memperlihatkan kepandaian macam apa kepadaku."


Sangaji menoleh kepada Titisari minta pertimbangan. Gadis itu mengangguk
kecil. Dan mereka berdua lantas berdiri.


"Paman!" tiba-tiba Titisari berkata, "Sama sekali tak kuduga bahwa Paman
seorang jahat."


"Jahat?" Gagak Seta heran. "Paman berpura-pura tidur untuk mendengarkan
pembicaraan kami bukan?"


Sebentar Gagak Seta terhentak. Kemudian menangkis, "Baik. Aku mendengar
semua pembicaraanmu, Apa salahnya?"


"Bagus!" Titisari membalas. "Kami pun menyuguh seseorang sekedarnya, karena
kami hanya mempunyai beberapa ekor ikan lele, sambel dan kopi. Tapi Paman
mengatakan tidak baik. Manakah yang tidak baik."


Kembali Gagak Seta terhenyak. Kemudian tertawa meledak.


"Iblis kecil! Kau benar-benar licik!" serunya, "Baiklah, aku mengaku kalah.
Tetapi seumpama orang membayar, aku masih kurang satu lagi. Aku
menggerogoti ikan-ikanmu dan kalian sudah menagih bayarannya dengan
menyiram air panas. Aku telah menghirup habis kopimu... Nah, untuk ini aku
belum membayar. Sekarang mau kutebus dan kubayar hutang itu. Karena aku tak
sudi berhutang budi pada kalian."


"Paman sudi membayar, juga baik. Tidak membayar pun, baik pula." "Kenapa?"


"Sebab dalam hal ini tidak ada jual-beli. Kalau aku menyiram air panas,
bukan maksudku menagih bayaran. Sama sekali tidak! Tapi semata-mata, karena
ingin mendapat keyakinan apakah Paman benar-benar tokoh sakti bernama Gagak
Seta."


"Apa ada yang bakal memalsu?" Gagak Seta memotong. "Apa ada Gagak Seta
palsu?" Titisari tak mau mengalah. "Di manakah Gagak Seta palsu?" Gagak
Seta tersinggung.


"Kalau Paman sudah yakin tidak Gagak Seta palsu, mengapa Paman membicarakan
perkara palsu dan tulen?"


Untuk ketiga kalinya, Gagak Seta terhenyak, la mengamat-amati Titisari
secermat-cermat. Kemudian tertawa berkakakan.


"Belut kecil! Benar-benar kamu seperti anak iblis!" serunya kagum. Kemudian
mengalihkan pembicaraan, "Baik! Nah, kamu anak muda, siapakah namamu?"


Sangaji yang semenjak tadi berdiam diri, kemudian menjawab, "Namaku
Sangaji. Dan dia Titisari."


"Hm, nama bagus! Kamu mau minta pelajaran ilmu apa? Bilang! aku akan
mengajarimu sejurus dua jurus sampai bisa."


Sangaji diam berpikir. Tak tahu dia apakah yang harus dikemukakan. Dalam
soal ilmu kepandaian tata-berkelahi sesungguhnya pengetahuannya kurang
luas. Maklumlah, dia hanya menjadi murid Jaga Saradenta dan Wirapati dalam
waktu empat tahun saja.


Selama itu—karena tergesa-gesa, kedua gurunya tak pernah memberinya
pengertian tentang macam ilmu yang berada di persada bumi ini.


"Paman Gagak Seta." Tiba-tiba Titisari menolong dia berbicara. "Dia ini
seorang laki-laki yang sok uring-uringan. Dia gampang marah. Kalau dia
kalah bertanding melawanku, dia menggeremengi aku sepanjang hari sampai
kupingku ngeri dibuatnya."


"Hai! Kapan aku pernah menggere-mengimu... ?" Sangaji memotong
tergegap-gegap. Tetapi




kakinya terus digencet Titisari, sehingga tahulah dia bahwa kawannya itu
sedang mengarang cerita burung. Maka terpaksa ia membungkam mulut.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

8.28.2019

Malam

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Menetas

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Man

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Anak buaya

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Leker

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Softfrog

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 160

@bende mataram@
Bagian 160


"Mengapa? Kalau terhadap binatang saja dia begitu memperhatikan,
terlebih-lebih terhadap seorang manusia."


"Bagus!" Gagak Seta tertawa menggelora. "Mengapa kamu tertawa?"


"Aku ingin tertawa dan tertawalah aku. Siapakah yang melarang orang
tertawa?" Gagak Seta menyahut cepat. Kemudian berkata kepada dirinya
sendiri. "Alangkah untung kawanmu itu... eh suamimu... eh kawanmu. His!
His! Kurangajar mulut ini."


Tahulah Titisari, bahwa orang tua itu sedang menggoda padanya. Sekaligus
merahlah mukanya dan hatinya jadi mendongkol. Hanya aneh, dalam hati
kecilnya terbersit rasa syukur yang membahagiakan. Tetapi seorang perempuan
bukanlah perempuan, apabila tak bisa main sandiwara. Maka dengan wajah
cemberut ia mengangsurkan tempurung Gagak Seta kepada pemiliknya kembali.


"Baik. Terimalah harta-bendamu ini kembali. Aku tak mau memasakkan kopi
bagimu." "Hai! Hai! Mengapa?" Gagak Seta terkejut.


"Tak senang aku kauolok-olok." "Siapa yang mengolok-olok?" "Kau tadi
ngomong apa?"


"Itu kan mulutku. Dan mulutku bukan aku!"


Gagak Seta membela diri sungguh-sungguh. Dan mau tak mau Titisari tertawa
geli juga dalam hati, menyaksikan perangai orang itu yang aneh. Pikirnya,
memang benar kata orang. Bahwasanya orang yang berilmu tinggi seringkali
mempunyai tabiat-tabiat dan kebiasaan-kebiasaan yang aneh serta
edan-edan-an. Maka ia mengurungkan niatnya dan segera ia membungkuki
perdiangan memasak kopi.


Dalam pada itu, Sangaji telah memasukkan kedua kudanya. Karena tiada
tonggak atau batu yang mencongakkan diri dari dinding gua, terpaksa ia
menghunus pedang pemberian Mayor Willem Erbefeld dan ditancapkan ke tanah
dengan sekali tetak. Kemudian ia mengikat kendali kedua kudanya sekaligus.


"Hai anak muda! Apa kamu mau tidur bersama kuda?"


"Apakah sekiranya mengganggu Paman?" balas Sangaji bertanya.


"Tidak! Tidak! Sama sekali tidak!" Gagak Seta menyahut dan terus berbaring
di tanah. Sebentar saja ia mendengkur bagaikan babi hutan.


Heran Sangaji mengamat-amati. Kemudian dengan berjingkat-jingkat ia
menghampiri. Sekali lagi ia memeriksa dan mengamat-amati. Dan benar-benar
orang tua itu tidur mendengkur.




Aneh, pikirnya, la habis berbicara dengan suara kuat. Lalu dengan tiba-tiba
bisa tertidur begitu gampang. Ilmu apakah ini? Tertarik kepada tingkah-laku
Gagak Seta yang aneh itu.


"Kukira dia benar-benar tidur," kata Titisari yakin. "Ayahku pernah
membicarakan tentang suatu ilmu penutup panca-indera yang bisa tahan
terhadap segala senjata tajam atau racun. Ilmu itu namanya Keyong Buntet.
Aku sendiri belum pernah menjumpai seseorang yrang berilmu demikian. Tetapi
mengingat dia pernah bertempur berkali-kali melawan Ayah, pastilah ia bukan
orang sembarangan."


"Dia?"


Titisari mengangguk.


"Apakah perkaranya?" Sangaji minta keterangan.


"Itulah soal orang-orang tua. Kamu kenal nama-nama tokoh sakti pada zaman
ini? Yang pertama, Kyai Kasan Kesambi. Kemudian ayahku. Kemudian dia—Gagak
Seta. Dan keempat, Seorang tokoh dari perbatasan Jawa Barat. Nama gelarnya
Kebo Bangah."


Hai! Apakah dia Gagak Seta yang pernah dibicarakan guruku? pikir Sangaji.
Hatinya terkesiap. Lantas saja dengan hormat ia menjauhi. Berkata pada
Titisari setengah berbisik, "Dulu aku pernah mendengar Ki Tunjungbiru
menyebut-nyebut namanya tatkala berjumpa dengan kedua guruku. Ah! Inilah
anehnya!"


"Apakah di jagad ini ada sesuatu peristiwa yang kebetulan? Kenapa aku bisa
berjumpa dengan dia?"


Titisari tidak menjawab. Dengan berdiam diri ia menyiduk air panas dengan
tempurung Gagak Seta. Kemudian menghampiri orang tua itu.


"Hai, kau mau apa?" Sangaji terkejut.


"Ingin kutahu, apakah benar-benar Gagak Seta dan apakah dia benar-benar
memiliki ilmu Keyong Buntet," sahut Titisari. "Sekiranya dia berilmu Keyong
Buntet, pastilah kulitnya tidak mempan dan dia pun tidak bergeming,
sekiranya tidak memiliki, pastilah dia bisa menghindari sebelum air
mendidih ini menyiram tubuhnya."


Dan berbareng dengan kalimatnya yang penghabisan ia menyiramkan air panas
itu. Sangaji terkesiap bukan kepalang. Mau ia meloncat mencegah
sedapat-dapatnya. Mendadak saja ia melihat suatu keanehan. Orang tua itu
seperti tak mempunyai rasa. la tetap tidur mendengkur dan tubuhnya tak
bergeming.


Semenjak kanak-kanak, Sangaji hidup di Jakarta dan bergaul rapat dengan
kompeni-kompeni Belanda. Sedikit banyak, cara berpikir orang-orang Barat
terekam juga dalam benaknya. Terhadap ilmu-ilmu sakti, tak pernah ia
mendengar kabar. Kecuali tatkala bertemu dengan Panembahan Tirtomoyo dan
mendapat keterangan daripadanya. Namun demikian, tak pernah ia yakin bahwa
ilmu yang disebutkan Titisari benar-benar bisa membuat kulit daging begitu
kebal. Pikirnya, apakah benar ilmu itu yang melindungi tubuhnya atau dia
penjelmaan siluman?


Sambil berjalan kembali ke perdiangan, Titisari berkata, "Aji! Barangkali
kamu belum pernah melihat wayang kulit."


"Ya. Kenapa?"


"Kalau kamu sekali melihat, kutanggung akan tertarik. Sebab di sana kamu
akan mengenal banyak sekali tokoh-tokoh sakti yang disebut orang, Ksatria.
Seorang ksatria mengutamakan kegesitan yang kecerdasannya apabila bertempur
melawan raksasa. Dia cekatan dan berusaha jangan sampai kena sentuh. Itulah
ilmu yang kita pelajari dan kita kenal pula. Tetapi di samping itu, ada
pula suatu ilmu sebagai pagar diri. Yakni, ilmu kekebalan yang disebut ilmu
Kedotan. Barangsiapa memiliki ilmu itu tak gampang-gampang bisa dilukai
senjata. Itulah yang belum pernah kaukenal. Kau percaya tidak?"


Perlahan-lahan Sangaji duduk berjongkok sambil mengamat-amati tubuh Gagak
Seta. Berkata




setengah berbisik, "Pernah aku mendengar pengertian itu dari Panembahan
Tirtomoyo." "Dan kamu sangsi, bukan?"


"Ya."


"Sekarang kamu telah menyaksikan kejadian aneh di depan matamu. Bagaimana
penda-patmu?"


Sangaji tak cepat menjawab, la seperti lagi bergulat penuh selidik.
Akhirnya berkata sambil melepas napas.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Marah

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Fotocopy

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

@bende mataram@ Bagian 159

@bende mataram@
Bagian 159


Sangaji menoleh ke Titisari dan ia tercengang-cengang lagi melihat kawannya
itu begitu penurut. Percaya, kalau Titisari yang cerdik dan cerdas otak
pasti sudah menemukan sesuatu hal yang beralasan, segera ia datang
membantu. Tetapi baru saja, ia hendak berjongkok tiba-tiba orang yang
menamakan diri Gagak Seta itu menolaknya.


"Jangan sampai kau sentuh ikan-ikan itu. Tanganmu akan mengotori dan
merubah selera."


Kena dorong itu, Sangaji terkejut. Ia merasakan suatu tenaga dahsyat yang
halus sehingga tiba-tiba saja tubuhnya sudah kena digeser pergi sampai
memepet dinding. Teringat akan sikap Yuyu Rumpung yang tiba-tiba jadi jinak
oleh suatu gertakan saja dan ia sendiri merasakan pula tenaga orang itu
begitu dahsyat, mau tak mau ia harus bisa menempatkan diri.


"Paman! Apakah benar-benar Paman doyan sambel lele?" tiba-tiba Titisari
berkata dengan suara riang dan ikhlas.


"Apa kamu merasa kurugikan?"


"Tidak! Sama sekali tidak! Aku hanya ingin minta ketegasanmu. Kalau Paman
doyan ikan lele, biarlah esok hari aku menangkap yang lebih banyak lagi.
Dan aku akan memasakkan Paman yang istimewa."


"Eh Nona kecil! Aku singgah kemari karena kebetulan saja. Sewaktu aku lagi
mengutuki hujan tiba-tiba aku mencium bakaran ikan."


Dengan cekatan Titisari melayani orang itu. Ia membakar terasi yang segera
menusuk hidung sangat tajam, sampai orang kulit putih itu mulutnya jadi
berliur.


"Wah cepat! Cepat!" orang itu menjerit-jerit. "Aku bisa mati kausiksa."


Titisari tertawa geli menyaksikan perangai orang kulit putih itu. Tatkala
ia mendengar, bahwa orang itu bernama Gagak Seta, teringatlah dia akan
tutur-kata ibunya. Orang itu pernah bertanding melawan ayahnya mengadu
kepandaian. Masing-masing tiada yang kalah atau menang. Tadi, sewaktu ia
melihat orang bule bisa masuk ke dalam gua seperti kelelawar sampai bisa
menerobos penjagaan Yuyu Rumpung, ia sudah curiga.


Karena ciri khas pribadi Gagak Seta itu ialah warna kulitnya yang putih.
Ayahnya sering menyebutnya sebagai si jembel bule. Ia adalah salah seorang
dari tujuh tokoh sakti pada zaman itu. Pertama, Kyai Kasan Kesambi. Kedua,
Pangeran Mangkubumi I. Ketiga, Adipati Surengpati. Keempat, Kyai Haji
Lukman Hakim. Kelima, Gagak Seta. Keenam, Kebo Bangah. Dan ketujuh, Raden
Mas Said yang terkenal dengan Pangeran Samber Nyawa. Mengingat dia
menduduki urut nomor lima, bisa dibayangkan betapa tinggi kepandaiannya
bahkan kini, sesudah Pangeran Mangkubumi I, Kyai Haji Lukman Hakim dan
Pangeran Samber Nyawa sudah wafat, ia menduduki nomor urut yang ketiga.
Sebenarnya nomor urut itu adalah tutur-kata orang belaka. Andaikata keempat
tokoh sakti itu saling bertempur mengadu kepandaian tidak salah seorang
yang bisa memperoleh tingkat tertinggi. Masing-masing memiliki gegebengan
sendiri yang sudah mencapai tingkat sempurna.


Waktu itu Titisari selesai mempenyet tiga ekor ikan lele dan diserahkan
dengan senyum ikhlas kepada Gagak Seta. Ternyata Gagak Seta seperti orang
sebulan tidak makan. Begitu dia mencium bau ikan, terus saja tangannya
menyambar dan dengan serakah dijejalkan ke dalam mulutnya, la makan begitu
bernafsu, sampai ketiga ekor lele itu lenyap hingga ke tulang-tulangnya.


"Bukan main! Bukan main!" serunya memuji. "Entah kau ini anak iblis, anak
setan atau anak malaikat! Tanganmu begitu sedap, sampai aku benar-benar
merasa takluk. Hai, bagaimana kamu bisa membuat ikan kali ini begini
nikmat? Setua ini, belum pernah aku merasakan suatu


kenikmatan seperti hari ini."


Titisari tertawa dan ia menyodorkan dua ekor ikan lagi yang sebenarnya
adalah bagiannya dan bagian Sangaji.


"Ah! Bagaimana aku..." Gagak Seta menolak. "Kamu berdua belum makan..."
Tetapi mulutnya berkata demikian, tangannya sudah menyambar dan sebentar
saja dua ikan lele itu telah habis digerogoti. Setelah itu dia
berjungkir-balik sambil menekan perutnya.


"Hai perut edan! Perut bangsat! Bagaimana kamu berani menggaglak milik orang!"


Mula-mula Sangaji heran menyaksikan perangai orang itu. Berdiam diri ia
beradu pandang dengan Titisari. Tetapi begitu mendengar ucapannya, mau tak
mau ia tersenyum geli.


"Hai anak muda!" tiba-tiba Gagak Seta berdiri tegak di depannya sambil
merogoh kantongnya, ia berkata lagi, "Kulihat tadi, kamu belum kebagian.
Berapa aku mesti bayar?"


"Aku bukan seorang penjual makanan," jawab Sangaji sederhana. "Seumpama aku
pun seorang penjual makanan, terhadapmu tak bakal kuminta uang. Kamu
kuanggap sebagai sahabat."


"Eh, mana bisa begitu? Malam ini hujan badai. Malam begini ini, enaknya
makan serba hangat dan minum."


"Aku takkan mati kelaparan, karena tidak makan ikan lele sekali saja."
Sangaji tersenyum.


Gagak Seta tertawa lebar. Dengan agak sungkan, ia berkata, "Inilah sulit.
Selama hidupku, tak pernah aku menerima budi seseorang. Meskipun aku
seorang jembel."


"Apakah arti lima ikan lele? Lagi pula kami tidak membelinya. Kami hanya
mengambil dari sungai. Kalau kamu ingin membalas budi, nah lemparkan uangmu
ke dalam sungai."


Gagak Seta terkekeh-kekeh. Mendadak Titisari menyambung.


"Kamu tadi ingin menikmati minuman hangat pada malam hari begini? Bagus!
Tunggulah barang sebentar! Aku akan memasak kopi untukmu."


"Hai! Hai! Jangan! Jangan! Bagaimana aku bisa menerima pemberianmu?" teriak
Gagak Seta. Tetapi sekali lagi mulutnya mengucap demikian, tangannya lantas
saja mengeluarkan tempurung usang dari dalam ikat pinggangnya dan terus
diangsurkan kepada gadis itu.


Titisari tersenyum geli sambil mengerlingkan mata kepada Sangaji.


"E-hem! Anak muda!" kata Gagak Seta kepada Sangaji. "Apakah dia isterimu?"


Merah muka Sangaji mendengar pertanyaan itu. Belum lagi dia menjawab, Gagak
Seta meneruskan.


"Dia begitu pintar dan cekatan. Kau sangat beruntung! Hm... sekiranya dulu
ada yang sudi jadi istriku dan kemudian mempunyai anak gadis seperti dia,
tanggung kukantongi selama hidupku. Kau tak bakal bertemu, anak muda. Eh,
siapa namamu?"


Sangaji hendak membuka mulut, tetapi sekali lagi Gagak Seta memotong.


"Kulihat tadi kedua kudamu kehujanan di luar. Apa kamu mau membiarkan
binatang-binatang itu sakit perut?"


Teringat akan kudanya, Sangaji terkejut. Ya, kedua kudanya tadi belum lagi
diteduhkan ke dalam gua. la hanya mencencangnya begitu saja di bawah
mahkota dedaunan. Sama sekali tak terpikirkan, kalau mahkota dedaunan belum
tentu dapat melindungi deras hujan turun terus-menerus tiada hentinya.
Serentak ia meloncat dan melesat ke luar gua. Hujan deras tak diacuhkan,
Pakaiannya yang kotor kena debu gua sewaktu berkelahi tadi, cepat jadi
basah kuyup.


Gagak Seta mengawaskan dengan meng-urut-urut jenggotnya yang berwarna
kelabu. Berkata kepada Titisari, "Apa dia suamimu?"


Tadi Titisari mendengar Gagak Seta menegas kepada Sangaji tentang
hubungannya. Gadis itu




ingin sekali mendengarkan jawaban Sangaji. Kini, di luar dugaannya dia pun
menghadapi suatu pertanyaan yang mestinya mudah, tapi tiba-tiba begitu
sulit. Sampai otaknya yang cerdaspun tak kuasa menjawab. Mau dia mengiakan,
mendadak saja jantungnya ber-degupan.


Gagak Seta tidak mendesak. Ia hanya tertawa perlahan sambil berputar
menghadap padanya. "Anak muda itu seperti tabiatku."


"Apakah yang sama?" Titisari menyahut sulit mengatasi perasaannya.


"Agak ketolol-tololan, seperti masa mudaku. Mungkin otaknya bebal. Coba
lihat! Terhadap binatang saja, dia berani membiarkan dirinya kehujanan.
Apakah kekuatan tubuhnya jauh lebih kuat daripada kuda?"


Orang tua itu lantas tertawa terkekeh-kekeh.


"Justru demikian, aku senang berkawan dengan dia," Titisari membela. "Hai!
Kawan?"


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail