4.28.2014

Pantas menjadi presiden atau "Too good to be true"


From: "Rovicky Dwi Putrohari" 

"Too good to be true"
Menjadi presiden itu tidaklah mudah. Menemukan migas tidak mudah, hanya dengan tongkat bercabang mengaku mampu untuk mencari minyak gas dan mineral logam adalah, "too good to be true". Pelajaran di kuliah fakultas teknik geologi kita saja enam tahun belum tentu menghasilkan penemuan mineral, migas atapun air.
Demikian juga dua setengah tahun sbg gubernur menyatakan siap memimpin negara seluas ini. Ini juga "too good to be true". Apalagi sebagai menteri menko menyatakan siap menjadi presiden padahal masih suka memangku boneka. Demikian juga jendral yg mampu mempimpin pasukan elit tidak ada yg sertamerta menjadi presiden setelah ketahuan dulunya "ngerjain mahasiswa". Termasuk juga membuat Indonesia Mengajar saja, sangat mungkin belum cukup utk mampu menjadi presiden.
Kalau kita memiliki nalar yg diajarkan disekolah, tentunya tahu mana yang wajar dan mungkin, mana yang sangat sulit atau kecil kemungkinannya serta mana yang "too good to be true". Atau kita justru selama ini telah dibodohi ? Oleh gegap gempitanya media ?
Sejarah kita membuktikan presiden yg "buatan", hasil rekayasa politik, serta presiden yg belum pernah memegang penguasaan eksekutif skala nasional, hanya bertahan 3 atau malah hanya 2 tahun saja. Habibie saja ngga kuat menahan goncangan lebih dari dua tahun.
Saya tidak selalu sepakat dgn SBY, tapi saya melihat sepak terjang sebelumnya sebagai Jendral dan sampai sebagai menteri merupakan langkah-langkah dan jenjang yang "wajar dan normal" dalam menduduki posisi sebagai Presiden. Kewajaran, SBY mampu menduduki dua kali, sepuluh tahun, lumayan.
Negara RI ini negari yg besarnya sekian puluh kali dari luas propinsi, dan ratusan kali sebuah kabupaten. Jadi yang akan kuat memimpin bukanlah pemimpin hasil rekayasa. Siapapun bisa memenangkan pemilu, tapi belum tentu mampu bertahan.

Rdp
Sent from my iPad

--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar