12.06.2013

Pelecehan Seksual !


Dari: <syauqiyahya@gmail.com>

> Awas Menjadi Korban Pelecehan Seksual!
>
> Oleh: Titin Murtakhamah | 15 January 2013 | 07:53 WIB
>
> Seperti biasanya, saya dan seorang teman satu SMP dengan riang bersepeda beriringan sehabis pulang sekolah. Sambil bersepeda kami saling bercerita, tentang nilai-nilai pelajaran, guru-guru dan tentu saja cowok-cowok yang kami taksir. Sedang asyik bercerita, seorang laki-laki yang juga bersepeda menyelonong mendahului kami tanpa mengebel dulu. Tak dinyana, laki-laki tersebut memegang payudara saya sambil berlalu dan tertawa-tawa. Sontak, saya kaget dan sejenak bingung dengan apa yang terjadi. Sepuluh detik berselang, baru saya bisa berpikir bahwa saya baru saja mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Kami mengejar pelaku, meski akhirnya memang tidak bisa kami kejar. Kejadian itu kami simpan rapat-rapat, bahkan diantara teman saya yang menjadi saksi peristiwa itu.
>
> Di sekolah pun, kami bermain seperti tidak ada masalah apa-apa. Bahkan ketika seorang guru di sekolah kami yang mengajar mata pelajaran semacam administrasi atau akuntansi sederhana sering memegang tangan-tangan kami, para murid perempuan. Sang guru, seolah sedang melihat pekerjaan kami dari belakang, sembari menyentuh dan mengusap-usap punggung kami, atau berpura-pura melihat kebersihan kuku sambil mengusap dan memegang tangan kami. Hampir setiap hari kami mengalami itu, bergantian antar murid. Anehnya, kami memang merasa tidak nyaman dan aman dengan perlakuan tersebut, tetapi hanya berani membicarakannya secara bisik-bisik antar murid. Semuanya diam, tak ada yang melaporkan ke guru lain atau kepala sekolah. Dan, sang guru cabul tetap bebas berkeliaran menjalankan aksinya dari generasi ke generasi.
>
> Suatu hari rumah saya menggelar hajatan. Semua saudara diundang, termasuk saudara sepupu laki-laki saya yang tinggalnya di kota lain. Sepupu saya tersebut usianya jauh di atas saya. Tentu saya sangat senang bertemu dengan saudara yang (hampir) sebelumnya tidak saya kenal. Terbatasnya ruang tidur, membuat kami terpaksa tidur bersama-sama, menggelar tikar – kleleran. Saat yang lain tidur, sepupu saya ternyata tidak. Dia bergerilya mencium dan menggerayangi saudara-saudara perempuannya yang lain. Tentu saja kami kaget dan bingung akan apa yang terjadi. Saat kami tanyakan padanya, dia pura-pura sedang mencari sesuatu. Anehnya, malam berikutnya, dia mengulangi lagi perbuatannya itu. Kami pun akhirnya memintanya untuk keluar rumah dan mencari tempat tidur di tempat lain. Saat menuliskan bagian ini, perasaan saya benar-benar tak karuan, masih terbayang betapa sakit hati saya padanya. Sayangnya, saya tidak sempat mengajaknya bicara tentang masalah ini secara terbuka karena yang bersangkutan keburu meninggal karena kecelakaan.
>
> Setiap setahun sekali diselenggarakan pengajian besar-besaran di pesantren terdekat kami. Banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru desa, dan kami pun anak-anak muda senang sekali dengan kegiatan seperti ini. Hehehe..keluar rumah bertemu banyak orang. Meski kadang harus berdesakan untuk bisa mencapai panggung, kami akan dengan riang menjalaninya. Malam itu, saya dan beberapa teman pergi ke pengajian. Menerobos kerumunan banyak orang, tetapi auwww, ada yang meremas kemaluan saya. Sontak saya berteriak, 'setan kamu' dan berjalan sambil marah-marah, meski saya tidak tahu persis siapa yang melakukannya. Teman saya menyuruh saya untuk diam. Dan, saya pun diam meski hati tetap tidak terima.
>
> Lalu, sore tersebut, saya berkumpul dengan kakak dan sepupu perempuan saya yang kebetulan sedang menginap di rumah. Pembicaraan ngalor ngidur saya dengarkan. Sebagai anak yang terkecil diantara saudara-saudara saya tersebut, saya hanya berani mendengarkan, sesekali mengamini dalam hati atau menolak diam-diam. Obrolan pun berujung pada kisah saudara sepupu saya sewaktu memeriksakan sakitnya ke dokter di sebuah Puskesmas. Sewaktu diperiksa oleh dokter S, demikian nama yang saya ketahui, sepupu saya diperlakukan tidak wajar. Berdalih bahwa itu adalah prosedur pemeriksaan, seluruh pakaian sepupu saya harus dibuka, diremas payudara dan kemaluannya. Sebagai pasien dan awam, sepupu saya mengira bahwa memang seharusnyalah pemeriksaan terhadap orang sakit meski sebenarnya dia merasa tidak senang dan tidak nyaman. Mendengar sepupu saya bercerita seperti itu, sontak saya pun berteriak keras-keras bahwa saya pun mengalami seperti apa yang dialami sepupu saya tersebut sewaktu saya masih kelas 5 SD oleh dokter yang sama. Lega, akhirnya saya berani juga  menceritakan peristiwa yang saya alami sekitar empat tahun lalu (saat cerita itu terungkap, saya kelas 3 SMP). Kabar terakhir yang saya dengar, dokter S tidak bekerja di Puskesmas itu lagi, dimutasi entah di mana karena banyak pasien yang kemudian melaporkan kejadian yang sama ke pihak Puskesmas.
>
> Sewaktu SMA, sesekali saya naik bus kota. Kondisi bus yang berdesakan menjadi kesempatan emas para tangan jahil untuk bergerilya. Entah sudah berapa kali pantat saya menjadi korban, pelakunya bisa sesama penumpang atau kernet bus yang berdalih ingin membantu menaikkan penumpang. Saya dan teman-teman biasanya hanya marah-marah, tetapi bingung harus bagaimana menghadapi situasi ini. Karena belum tentu para penumpang lain akan membantu kami seandainya kami melawan. Perasaan malu memilih kami untuk tidak melanjutkan perlawanan.
>
> Dan, rangkaian peristiwa itu sudah saya alami sejak saya masih kecil SD, SMP, SMA sampai yang terakhir  beberapa tahun lalu. Ketika itu saya sedang di lampu merah mengendarai sepeda motor, sepulang kantor. Tiba-tiba laki-laki yang juga bermotor di samping saya mencolak-colek tangan saya dengan sengaja. Langsung saya marah dan mengancamnya akan melaporkannya ke polisi terdekat. Buru-buru si laki-laki itu minta maaf dan sayangnya lampu hijau menyala. Si laki-laki kabur meninggalkan saya yang masih marah.
>
> Luka hati saya  pendam bertahun-tahun, mendiagnosis pengalaman-pengalaman buruk sendirian dan mengobatinya sendiri berbekal pengetahuan terbatas yang saya miliki. Sampai kemudian saya kuliah dan menemukan informasi tentang pelecehan seksual. Betul, saya ternyata adalah korban pelecehan seksual. Pelecehan seksual adalah saat engkau merasa tidak nyaman dan aman ketika orang lain memperlakukanmu dengan cara yang tidak wajar dan berkonotasi seksual  baik dalam bentuk ucapan, tekanan psikologis maupun perbuatan yang  membuat martabatmu sebagai manusia direndahkan.
>
> Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa tidak hanya saya atau sepupu perempuan saya yang pernah mengalami pelecehan seksual tetapi sebagian besar perempuan dan pembaca pernah merasakannya. Bentuk yang dialami mungkin juga bermacam-macam mulai dari  ucapan-ucapan tak senonoh, lelucon jorok dan tidak bisa diterima, komentar tentang penampilan, mengerling dan undangan yang mencurigakan, diperlihatkan gambar-gambar porno, kontak fisik yang tak perlu seperti menepuk, menyentuh, mengelus-elus atau memegang bagian-bagian tubuh tertentu, ajakan seksual sampai kepada serangan fisik dan perkosaan.
>
> Tempat kejadiannya bisa dimanapun, di tempat-tempat umum seperti angkutan umum, sekolah, ruang praktek dokter, masjid, jalan, tempat kerja sampai tempat yang katanya aman, yakni rumah. Pelakunya juga bisa siapa saja, mulai dari orang yang tidak kita kenal sama sekali sampai orang yang paling dekat dengan kita seperti teman kerja, teman sekolah, guru, dokter, orang tua, saudara dan lain-lain.
>
> Korban pelecehan seksual sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. Mengapa? Ya, kondisi sosial budaya yang menempatkan posisi laki-laki lebih tinggi daripada perempuan menjadi kesempatan bagi sebagian laki-laki untuk menyalahgunakan kekuasaannya dengan mencoba mendapatkan keuntungan seksual dari perempuan. Relasi kuasa yang timpang dalam hubungan sesama manusia seperti halnya perempuan dan laki-laki sebagaimana pengalaman saya, dokter dengan pasiennya, guru dengan muridnya, kernet bus dengan penumpangnya, atasan dengan bawahan, majikan dengan pembantu, kakak dengan adik dan sebagainya membuat sebagian orang menyalahgunakan kekuasaannya baik yang berupa kuasa harta, kuasa pengetahuan, kuasa kewenangan dan kuasa 'kelelakiannya' untuk melecehkan dan  merendahkan martabat mereka yang diposisikan oleh sosial budaya sebagai yang  lebih rendah dan tidak tahu apa-apa.
>
> Korban pelecehan seksual biasanya akan merasa kehilangan kepercayaan diri, harga diri dan kehormatan diri, merasa tidak aman, penurunan prestasi kerja, stres, sakit dan terganggu dalam hubungan antar personal. Seperti halnya pengalaman saya, saya sempat mengalami sebagian dari itu semua, memendam luka hati dan semacam dendam pribadi selama bertahun-tahun. Sebagian yang lain mungkin mengalami dampak yang lebih parah dari yang saya alami.
>
> Maka jika engkau menjadi korban pelecehan jangan diam, bersuaralah, teriaklah!! Jika kita hanya diam, pelaku akan semakin berani dan nekat melakukan aksinya, korbannya pun akan semakin banyak. Selalu tanamkan dalam dirimu bahwa pelecehan seksual yang terjadi bukan kesalahanmu. Segera lakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Membuat catatan tentang kejadian seksual yang engkau alami. Catat dengan teliti identitas pelaku, tempat kejadian, waktu, saksi dan yang dilakukan oleh pelaku termasuk ucapan-ucapan pelaku. 2. Bicara dengan orang lain tentang pelecehan seksual yang engkau alami. Ceritakan kepada teman, suami, orang tua, atau siapapun yang engkau percayai. 3. Memberi pelajaran pada pelaku dengan cara mengatakan kepadanya bahwa tindakannya tidak dapat diterima. Engkau dapat melakukannya dengan ucapan verbal, telepon atau surat. 4. Melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian karena tindak pelecehan seksual adalah tindakan yang melanggar hukum. 5. Jika engkau mengalami kesulitan untuk mengatasi sendiri masalahmu, mintalah bantuan lembaga yang bersedia untuk mendampingi korban pelecehan seksual seperti P2TP2A maupun LSM-LSM perempuan dan anak yang ada di sekitarmu. Berikut ini beberapa LSM/lembaga  yang bisa dikunjungi: - Rifka Annisa Yogyakarta - K3JHAM Semarang - Savy Amira Surabaya - Pulih Jakarta - Mitra Perempuan Jakarta - Flower Aceh - Swara Parangpuan Sulawesi Utara - PKPA Medan - LBH Apik (di beberapa propinsi ada) - Rumah Perempuan Kupang - LP3AP Jayapura - Asa Puan Pontianak
>
> Sekali lagi BERSUARALAH. Diam bukan lagi emas.
>
> Tangsel 14 Januari 2013.
>
> --

Tidak ada komentar:

Posting Komentar