10.21.2014

Ruwatam


From: A.Syauqi Yahya 



SABTU, 18 OKTOBER 2014 | 23:40 WIB

Ruwatan

Putu Setia
Mereka datang dengan seragam khas Jawa. Membawa kembang setaman, membawa dua ekor ayam: hitam dan putih. Di depan rumah Amien Rais di Condongcatur, Yogyakarta, mereka melaksanakan ruwatan. Mbah Sukir berdoa dalam bahasa Jawa, kurang-lebih artinya: "Semoga Bapak Amien Rais lepas dari sandikolo dan kembali bersih. Semoga bangsa ini terhindar dari bencana dan segala hal yang tidak baik. Semoga rakyat Indonesia bisa sejahtera."
Saya yang menonton lewat televisi sangat terharu. Apa yang dilakukan Paguyuban Masyarakat Tradisi (Pamatri) Yogyakarta ini sungguh mulia. Mendoakan seseorang kembali bersih dan mendoakan bangsa terhindar dari bencana. Tetapi kenapa ada polisi, kenapa tak ada Amien Rais, tokoh yang diruwat?
Dari pemberitaan media, saya akhirnya tahu ruwatan itu semacam "aksi demo" untuk Amien Rais. Tapi saya mengesampingkan hal itu. Bagi saya, yang sesekali melakukan ruwatan versi Bali, ritual itu adalah sakral. Apakah ada hal-hal yang sakral dijadikan guyonan?
Mendoakan Amien Rais kembali bersih dan lepas dari sandikolo tentu baik. Sandikolo aslinya dari bahasa Jawa Kuno: Sandyakala. Adalah waktu pergantian antara siang dan malam yang sering diganggu setan, karena itu wajib memanjatkan doa supaya selamat. Sebagai manusia yang masih bergerak di dunia dengan segala aktivitas, tentu kadang bisa "kotor", baik dalam berucap maupun bertingkah. Diruwat menjadi "kembali bersih" bukankah sesuatu yang agung?
Doa Mbah Sukir, "bangsa ini terhindar dari segala hal yang tidak baik", saya kira langsung disetujui Gusti Allah. Tak sampai 24 jam, presiden terpilih Joko Widodo bisa bertemu dengan calon presiden yang kalah, Prabowo Subianto. Prabowo menghormat secara militer, sesuai dengan latar belakang hidupnya. Jokowi membungkuk dengan tulus, teladan santun para leluhur. Mereka bersalaman, saling dukung, Prabowo memberi ucapan selamat, bahkan meminta pendukungnya untuk ikut mendukung Jokowi. Saya berpendapat kejadian ini termasuk hasil ruwatan Mbah Sukir-untuk yang berbeda pendapat silakan menertawakan saya.
Saya sering merenung-terutama di kala baterai handphone lemah dan tak bisa nge-tweet-bangsa ini perlu melakukan ruwatan secara massal dan berjadwal. Katakanlah setahun sekali, pilih hari yang sudah disaktikan, semisal Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan, Hari Kebangkitan Nasional, atau memang diadakan Hari Ruwatan. (Ide terakhir itu mohon tak disebut sinting). Tentu ruwatan itu dicarikan esensinya, yakni merenungi kekotoran kita selama ini, misalnya, apakah benar kita memihak rakyat sementara kita berebut jabatan dengan mengorbankan hak rakyat. Apakah benar kita mendirikan partai yang modern, padahal yang jadi pengurus inti adalah anak-anak kita. Dan contohnya bisa banyak. Nah, kekotoran itu kita bersihkan dengan jalan ruwatan. Tak perlu ayam hitam dan ayam putih. Cukup duduk bersama dalam sebuah dialog yang tulus. Siapa tahu ruwatan bisa mempertemukan dua tokoh yang selama sepuluh tahun tak pernah ngobrol.
Gaya Jokowi adalah ciri khas "peruwat sejati". Dengan kebersihan hati, dia temui "lawan-lawannya" memakai baju putih, tanpa membawa ayam putih. Ternyata "setan-setan sandikolo" bisa kabur. Prabowo yang selama ini dikesankan kaku, marah melulu, tak menghormati tamu, ternyata lain. Jangan-jangan memang dari dulu kesantunan Prabowo ditutupi "setan sandikolo".
Besok Jokowi dilantik sebagai presiden. Mari momentum ini kita jadikan ruwatan massal, berpikir jernih hanya untuk kesejahteraan masyarakat, seperti doa Mbah Sukir di rumah Amien Rais. Amin.

--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar