8.08.2019

@bende mataram@ Bagian 115

@bende mataram@
Bagian 115


Sangaji tersenyum. Tanpa meladeni ucapan Titisari ia lantas berkata, "Ayo,
kita pergi bersama."


Mereka lalu memberi perintah tukang perahu berlabuh. Begitu perahu menempel
di tepi pantai, keduanya segera meloncat dan lari menuju ke kadipaten
seperti sedang berlomba. Mereka memasuki pekarangan dengan meloncati dinding.


"Hebat!" kata Titisari. "Kamu bisa bergerak begitu gesit dan ringan."


Sangaji merah mukanya mendapat pujian itu. Meskipun demikian, hatinya
senang. Ia menangkap pergelangan tangan Titisari dan dibawanya berendap di
belakang gerombolan tetanaman. Dengan hati-hati ia memasang pendengaran.


Tidak lama kemudian, terdengarlah derap langkah berbarengan. Mereka
melongok serata tanah dan melihat dua orang penjaga sedang berjalan sambil
tertawa berkakakkan.


"Kautahu kenapa nDoromas Sanjaya mengurung gadis itu di rumah sebelah itu?"
kata seorang di antara mereka. Yang lain lantas mendengus, "Ah, seperti
kanak-kanak kemarin sore. Buat apa lagi, kalau bukan ..." ia tak
meneruskan, tapi lantas tertawa panjang. "Memang perempuan itu amat cantik.
Benar-benar cantik seperti seorang yang dilahirkan bidadari. Barangkali
gadis itu cantik semenjak dalam kandungan ibunya."


"Hai ... berhati-hatilah! Janganlah kau memuji begitu terang-terangan.
Sekiranya ndoromas Sanjaya mendengar bunyi pujian-mu, bisa terjadi kakimu
dikutungi sebelah ... Dasar kau buaya bangkotan!"


Mendengar percakapan mereka, Sangaji menduga-duga, "Siapakah gadis yang
dikurung Sanjaya di dalam rumah samping itu? Apa dia tunangan Sanjaya?
Kalau benar-benar tunangan Sanjaya, pantas dia menolak kawin dengan
Nuraini. Ah, kalau begitu Sanjaya tak dapat dipersalahkan. Tapi mengapa
tunangannya dikurung? Apakah Sanjaya dienggani gadis itu? Atau ... atau ...


Apakah ini yang dikatakan orang sedang dipingit?"


Kedua orang penjaga yang berjalan mendatang itu, kian mendekat. Yang
berbicara pertama kali membawa lentera dan yang kedua membawa sekeranjang
makanan dan minuman. Yang membawa keranjang makanan dan minuman berkata
lagi sambil tertawa gelak,


"nDoromas Sanjaya memang aneh. Dia mengurung gadisnya, tapi takut pula
gadisnya mati kelaparan. Lihat! Sudah begini malam, masih saja beliau
menyuruh mengantarkan seberkat makanan."


"Kalau tidak begitu, masakan beliau mempunyai harapan untuk merebut hati si
gadis?" sahut yang membawa lentera. "Hanya saja memang harus kuakui pula,
kalau selama hidupku belum pernah aku melihat gadis secantik itu ..."


Mereka lantas lewat dengan berderapan. Suara tertawanya masih saja
terdengar berisik. "Aji," bisik Titisari, "Ayo kita lihat gadis cantik.
Ingin aku melihat bagaimana gadis cantik itu ..." "Buat apa? Lebih baik
kita mencari obat," kata Sangaji.


"Aku ingin melihat si gadis cantik dulu. Bagaimana sih cantik itu?" Sangaji
heran. "Apa sih faedahnya melihat perempuan?"


"Bukan aku ingin melihat perempuan, tapi aku ingin melihat cantik,"
Titisari mendengus cepat.


Sangaji terhenyak. Sebagai seorang pemuda yang sederhana dan kurang
pengalaman, tak tahulah dia sifat khas seorang gadis. Kalau seorang gadis
sudah sadar akan arti kecantikan dirinya, akan cepat tertarik jika
mendengar kabar tentang kecantikan gadis lain. Hatinya belum lagi puas,
sebelum melihat dan menaksir-naksir kecantikan gadis lain dengan kecantikan




dirinya sendiri. Sekiranya dirinya jauh lebih cantik daripada gadis lain,
keinginannya malahan lebih besar untuk segera melihatnya.


Kadipaten Pekalongan ternyata berhalaman luas sekali. Banyak sekali
terdapat lika-liku jalan seolah-olah suatu jalanan rahasia dalam sebuah
benteng militer. Mereka tiba di sebuah pekarangan lebar. Di sana terdapat
sebuah gedung gelap yang merupakan rumah samping. Sebuah pohon mangga
raksasa berdiri tegak melindungi atapnya. Itulah sebabnya, maka gedung itu
nampak berahasia dan angker.


Kedua penjaga itu ternyata mengarah ke gedung tersebut. Seorang pelayan
segera menyambut kedatangan mereka. Sebentar mereka berbicara kasak-kusuk
dan tak lama kemudian pintu depan dibuka. Kedua penjaga lalu masuk.


Titisari ternyata seorang gadis yang cerdik. Cepat ia memungut sejumput
kerikil dan ditimpukkan ke lentera orang. Berbareng dengan padamnya
lentera, secepat kilat ia menarik lengan Sangaji dan diajaknya melompat
memasuki pintu. Si pelayan dan kedua penjaga tidak menyangka buruk. Mereka
mengira, lentera kejatuhan bongkahan batu atap. Maka sambil mendongak ke
atap dan mengutuk kalang kabut, mereka lantas sibuk menyalakan. Mereka
saling menolong, sehingga tubuhnya jadi membungkuk. Itulah sebabnya, mereka
tak mengetahui sama sekali masuknya Titisari dan Sangaji yang dapat melesat
begitu cepat dan tidak bersuara.


Titisari dan Sangaji cepat-cepat menyembunyikan diri dengan hati-hati pula.
Mereka menghadang masuknya dua orang penjaga di sudut tembok. Dalam gedung
amat gelap, maka mereka tak usah khawatir akan keper-gok.


Tatkala kedua penjaga memasuki gedung sambil membawa lentera, segera mereka
menguntit dengan berjingkit-jingkit. Ternyata gedung itu beruang. Hawanya
dingin meresap tulang. Terasa pula angin luar menggerumiti kulit.


Tak lama kemudian, kedua penjaga itu membuka sebuah pintu dan nampaklah dua
orang tahanan yang disekap di dalam kamar. Samar-samar nampaklah mereka
seperti laki-laki dan perempuan. Salah seorang penjaga segera memasang
lentera dan mengangkat tinggi-tinggi. Lentera itu mirip seperti tongkat
obor yang menyala gede. Sekarang nampaklah dengan jelas, siapakah mereka
yang terkurung.


Sangaji terperanjat. Ternyata mereka adalah Mustapa dan Muraini yang tadi
siang dikabarkan meninggalkan penginapannya karena mendapat undangan
seseorang yang tak dikenal. Mustapa kelihatan sedang marah, sedang Nuraini
duduk di sampingnya sambil menundukkan kepala.


"Nah—apa kabar? Bilanglah terus-terang, apakah pangeran itu senang pada
anakku atau tidak? Apa perlu memperlihatkan kekuasaannya sampai-sampai kami
berdua mengalami siksaan dan hinaan begini macam?"


"Siksaan? Hinaan?" Kedua penjaga itu menyahut hampir berbareng. Yang
membawa makanan lalu berkata keras, "Jika nDoromas Sanjaya bermaksud
menyiksa kalian, masa begini larut malam memerintahkan kami berdua
mengantarkan makanan? Dimanakah ada seorang tahanan mendapat perlakuan
begini manis, sekiranya kalian menganggap diri menjadi tahanan?"


Kata-kata penjaga itu masuk akal, sehingga Sangaji sendiri mulai sibuk
menduga-duga. "Sekiranya Sanjaya berniat menahan mereka, pastilah dia
takkan memperlakukan mereka begini baik. Eh—lantas? ... Hm, sebenarnya
Sanjaya senang kepada Nuraini atau tidak?"


Sangaji seorang pemuda yang jujur bersih dan sederhana. Otaknya yang
sederhana tak dapat menebak kelicinan dan kelicikan hati seseorang, la
mengira, kisah perjalanan hidup manusia dalam dunia ini berjalan secara wajar.


Terdengar Mustapa membentak, "Cuh! Kaukira macam apa aku ini, sampai
tampangmu bisa




menipu kami? Kuakui, memang aku kurang waspada. Tapi jangan berharap, aku
akan kena kalian jebak dalam perangkap. Majikanmu mengirimkan sekeranjang
makanan pada larut malam. Coba jawab, buat apa?"


Didamprat demikian rupa, kedua penjaga itu saling memandang. Mereka
terkejut atas ucapannya sendiri, dikirimkan sekeranjang makanan di tengah
malam membuktikan betapa majikannya menaruh perhatian besar kepada mereka
yang ditahan. Tak tahunya, kini Mustapa mengembalikan persoalan itu kepada
mereka dengan tak terduga-duga. Mereka tak kuasa memberi penjelasan mengapa
majikannya memerintahkan mengirim sekeranjang makanan di tengah malam.
Sebagai seorang yang cukup umur tahulah mereka, sekeranjang makanan itu
mempunyai arti penting dalam suatu permainan tertentu.


Dalam pada itu, terdengarlah suara pelayan yang tadi berada di luar gedung.
Dia berseru keras, "nDoromas Sanjaya."


Sangaji dan Titisari terkejut. Cepat-cepat ia memipitkan diri ke dinding
dan dengan hati-hati mencari tempat persembunyian yang agak terlindung.


Segera terdengarlah suara Sanjaya membentak kepada kedua penjaga.


"Kudengar Tuan Mustapa menyesali kamu, kenapa? Apakah kamu ingin kupatahkan
batang leher kalian sekaligus?"


Mendengar bentakan Sanjaya, kedua penjaga itu ketakutan sampai lentera yang
dipegangnya jadi bergoyangan. Mereka lalu menjawab, "Sama sekali hamba tak
mengganggu sehelai rambutnya pun." "Pergi!"


Seperti berebutan, mereka berdua lari berserabutan keluar. Tetapi sampai di
luar pintu, mereka saling pandang dan saling tertawa tanpa suara. Heran,
Sangaji menyak-sikan perangai mereka. Sebagai seorang pemuda yang jujur
bersih dan sederhana tak dapat ia mengerti macam permainan demikian.
Sebaliknya Titisari yang cerdik segera dapat menebak permainan itu. Terang
sekali, pekerti mereka itu telah diatur sebelumnya, agar meredakan amarah
Mustapa dan agar mendapat hati.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar