@bende mataram@
Bagian 301
Tatkala sang Dewaresi mendekati pintu, cepat ia berbisik kepada kekasihnya.
"Jangan bergerak! Dan bersikap-lah seperti engkau lagi dalam semadi dan
tiada bertenaga. Aku akan memancingnya agar mendekat. Lalu hantamlah dia
dengan Kumayan Jati untuk menghabisi nyawanya. Ingat! Kau harus melakukan
dengan sungguh-sungguh. Sebab kalau kau gagal kitalah yang bakal mati di
tangannya." "Tetapi... aku belum dapat menggunakan tenaga tangan," sahut
Sangaji dengan berbisik pula. Titisari hendak memberi petunjuk, tatkala
tiba-tiba pintu kena diruntuhkan. Kemudian tak lama lagi, sang Dewaresi
muncul dengan membawa obor di tangan. Menghadapi kenya-taan itu, cepat ia
mengasah otak. Pikirnya gelisah, aku harus mengusir dia selama lima hari
lagi. Tetapi bagaimana caraku? Aku tak bisa meninggalkan Sangaji. Sekali
akan melepaskan tempelanku, dia akan jatuh terkapar memuntahkan darah...
Tatkala sang Dewaresi menuruni tangga hendak mengambil obor, teringatlah
dia kepa-da ganjal pintu besi yang dimasukkan Fatimah lewat lubang dinding.
Tanpa berpikir panjang lagi ia segera menariknya ke samping. Dalam pada itu
sang Dewaresi masih jeri terhadap Sangaji. Benar ia telah memperoleh
keterangan dari pamannya, bahwa Sangaji terluka parah kena dilibat
orang-orang tertentu (Wilatikta dan kawan-kawannya) tetapi ia tak berani
gegabah menghadapi pemuda itu. Dasar cerdik, ia mau mencoba dahulu.
"Adikku! Keluarlah! Apa perlunya menyekap diri dalam kamar selembap itu..."
Dengan sebelah tangannya ia mengulurkan tangan. Maksudnya hendak menguji
reaksi Titisari dan Sangaji. Tetapi Titisari dan Sangaji masih saja berdiam
diri seolah-olah tak mendengar ujarnya. Melihat demikian, sang Dewaresi
maju setapak lagi sambil meletakkan obor. Mendadak saja, Titisari bergerak.
Tahu-tahu sebuah tongkat besi berkesiur mengemplang kepalanya. Sang
Dewaresi kaget sampai berjingkrak. Untung ia gesit. Ia bisa mengelak dan
cepat mundur. Meskipun bebas jantungnya berde-gupan tak keruan. Titisari
menyesal bukan kepalang, karena serangannya gagal. Seumpama dia bisa
ber-gerak dengan leluasa, pastilah ia akan melom-pat memburu dan menyusul
kemplangan. Tetapi tangannya tak boleh terlepas dari genggaman Sangaji.
Sekali terlepas, akibatnya tak bisa dibayangkan. Itulah sebabnya, terpaksa
ia menundukkan kepala dengan hati jengkel dan pepat. Ia sadar akan arti
kegagalan itu. Sebab untuk seterusnya, sang Dewaresi akan bersikap lebih
berwaspada dan sewaktu-waktu malah bisa melancarkan serangan balasan. Dalam
pada itu Gusti Ayu Retnaningsih heran bukan main mendengar suara tongkat
besi menghajar lantai, la melihat pula sang Dewaresi meloncat mundur dengan
gugup. ~erang sekali, ia lagi menghindari suatu hajaran. Siapakah yang
menghajarnya? Teringat akan kata-kata sang Dewaresi tentang Sangaji dan
Titisari, ia jadi sibuk sendiri. Apakah mereda benar-benar berada di dalam
kamar itu? Sang Dewaresi tatkala itu sudah berdiri tegak mengancam di
pintu, la tahu, Sangaji Jan Titisari tak dapat berbuat banyak. Segera ia
mengumpulkan keberanian dan memu-tuskan hendak membalas menyerang. Meskipun
Titisari sudah menduga akan menghadapi serangan balasan demikian, namun
hatinya tercekat pula. Maklumlah ia tak bisa bergerak dengan leluasa.
Dengan sebisa-bisanya ia mencoba menghalau setiap serangan dengan tongkat
besinya. Tetapi ia berlawanan dengan sang Dewaresi yang cerdik. Setiap kali
ia menyodokkan tongkat besinya, sang Dewaresi mundur. Kemudian maju
menyerang dengan cepat dan lincah, apabila Titisari sedang menarik tongkat
besinya. Diserang maju mundur demikian, lambat laun Titisari merasa
kuwalahan juga. Diam-diam, hatinya mulai mengeluh. Sadarlah dia, bahwa
akhirnya ia akan berada dalam kekuasaan jahanam itu. Fatimah dan Gusti Ayu
Retnaningsih melihat kesukaran Titisari. Tanpa memedulikan keselamatan
diri, serentak mereka memanjat tangga hendak membantu. Masing-masing
bersenjata golok dan merupakan dua sekawan murid Suryaningrat. Tadi mereka
telah memperlihatkan suatu kerja sama tatkala menghadapi Cocak Hijau dan
Surapati. Meskipun belum rapi, namun kesanggupan dan kemampuan mereka tak
boleh dipandang ringan. Sang Dewaresi tertawa lebar melihat maju-nya
mereka. Dia adalah seorang petualang tangguh dan pernah pula mencekuk Gusti
Ayu Retnaningsih dengan gampang. Karena itu ia tak memandang sebelah mata
kepadanya. Dengan suatu gerakan gesit, ia menyambar tubuh Sangaji dan sama
sekali tak mengacuhkan mereka. Meskipun tenggelam dalam semadi,
sesung-guhnya Sangaji melihat belaka perkelahian itu. Ia tahu, dirinya tak
bisa berbuat sesuatu. Itulah sebabnya begitu diserang Sang Dewaresi ia
hanya dapat memejamkan mata menunggu maut. Sebaliknya Titisari kaget bukan
main. Dengan mati-matian ia melemparkan tongkat besinya dan membabat
pinggang lawan. Sang Dewaresi sudah bersiaga. Cepat luar biasa ia menangkap
tongkat besi dan ditariknya keras. Iga-iga sang Dewaresi belum pulih
kembali seperti sediakala kena pukulan Sangaji, namun dalam mengadu tenaga
dengan Titisari tak usah dia kalah, la seorang yang berpengalaman dan
berkepala besar. Dengan sebe-lah tangan ia menarik dan tangan lainnya
di-kerjakan untuk menyerang musuh. Titisari kaget. Hatinya sangat cemas
meng-hadapi perlawanan demikian. Betapa tidak? Ia hanya dapat
mempertahankan diri dengan sebelah tangan. Sedangkan tangannya yang lain
harus tetap menempel pada tubuh Sangaji. Sekali terlepas, celakalah
Sangaji. Kini ia menghadapi tarikan sang Dewaresi. Apabila tongkat besinya
kena direbut, sudah bisa dibayangkan betapa hebat akibatnya. Itulah
sebabnya, ia harus membagi tenaganya. Tangan kirinya menekam tangan Sangaji
dan tangan kanannya berkutat mempertahankan tongkat besi. Tubuhnya sampai
melengkung dan hampir tergeser kena tarik. Menghadapi kenyataan demikian,
tiada jalan lain kecuali melepaskan tongkat besinya. Memperoleh keputusan
demikian, ia segera mengikuti tenaga tarikan. Kemudian melepaskan genggaman
dibarengi dengan so-dokan. Setelah itu dengan cepat ia merogoh senjata biji
sawo. Terus saja ia mengham-burkan biji sawo itu menyerang dengan
berondangan. Sang Dewaresi terkejut. Ia pernah merasakan kesaktian senjata
biji sawo di Desa Gebang. Dahulu—seumpama tiada ditolong Gagak Seta—ia bisa
jatuh terkapar tiada berdaya. Karena itu, tatkala melihat benda
ber-keredep, cepat ia menjatuhkan diri dan bergulingan menjauhi. Itulah
cara satu-satunya untuk menghindarkan diri dari serangan senjata rahasia
Titisari. Tapi justru pada saat itu, Fatimah dan Gusti Ayu Retnaningsih
datang menyerang dengan berbareng. Kembali sang Dewiresi tercekat hatinya.
Ia menggulingkan tubuhnya lagi. Dengan demikian, golok Fatimah yang menetak
lehernya menancap di lantai. Tepat pada saat itu, biji sawo Titisari
menyambar dan mengenai punggung Fatimah. Tak ampun lagi, punahlah tenaga
Fatimah. Lengannya tak dapat digerakan lagi. Sang Dewaresi cerdik. Dengan
matanya yang jeli, ia melihat keadaan Fatimah. Maka sambil tertawa ia
melompat dan menyambar tengkuknya dengan mudah. Kemudian sebat luar biasa
ia menarik lengan Fatimah dan dibawa mundur ke luar pintu. "Kau mau apa
sekarang?" dampratnya sengit. Gusti Ayu Retnaningsih terhenyak menyak-sikan
Fatimah kena bekuk begitu mudah. Dalam hatinya ia heran, apa sebab Fatimah
tak dapat membela diri. "Serang! Aku kena senjata!" seru Fatimah nyaring.
Semangat Gusti Ayu Retnaningsih seperti tergugah. Terus saja ia mengibaskan
goloknya dan membabat pinggang sang Dewaresi. Ia murid Suryaningrat.
Meskipun belum mahir, namun serangannya cukup berbahaya dan tak
gampang-gampang bisa dielakkan. Tapi ia menghadapi sang Dewaresi yang
tangguh. Kecuali itu, sudah mengetahui kelemahannya. Dengan sebat ia
mengelak sambil mendorongkan tubuh Fatimah sebagai perisai. Kemudian
tangannya menyelonong hendak mendekap dada. Sudah barang tentu, Gusti Ayu
Retnaningsih takkan membiarkan dadanya kena dekap laki-laki buaya itu.
Dalam gugupnya ia menarik babatannya. Kemudian dengan cepat melindungi
dadanya. Meskipun demikian, tak urung tangan sang Dewaresi masih saja bisa
merobek bajunya. Dan tak dikehendaki sendiri, terbukalah dada puteri
bangsawan itu. Saking kagetnya, wajah Gusti Ayu Retnaningsih pucat lesi.
Sebagai seorang bangsawan besarlah arti terbukanya dadanya. Tak terasa,
goloknya terlepas sendiri dari genggamannya. Lalu dengan tersipu-sipu ia
mencoba menutupi dadanya. Dalam pada itu, sang Dewaresi mencelat mundur
sampai ke tangga. Kemudian dengan menggondol Fatimah ia turun ke bawah dan
duduk melepaskan napas di atas meja. Mau tak mau, hatinya tergetar
mengingat hebatnya serangan senjata rahasia Titisari. Ia bergidik sendiri,
manakala membayangkan betapa aki-batnya seumpama kena bidikan Titisari.
Anak Surengpati itu benar-benar hebat, pikirnya. Baiklah aku akan
menyerangnya dari sudut ketenangan hati. Aku akan mempermainkan anak
bangsawan dan gadis ini di depan hidungnya. Apabila ketenangan jahanam itu
bisa kukacaukan... dia akan mati lemas sendiri. Sebagai seorang yang
berpengalaman tahu-lah dia, bahwa pantangan seseorang yang lagi
menyembuhkan luka parahnya dengan jalan bersemadi ialah kekacauan hati.
Apabila kena terkacau, jalan darahnya bisa lepas tak ter-kendalikan.
Akibatnya melumpuhkan urat nadi dan akhirnya merusak jantung. Siapa saja
akan mati dengan sendirinya, manakala berada dalam keadaan demikian.
Memperoleh pikiran demikian, bukan main girangnya sang Dewaresi. Pikirnya,
kalau bocah itu mampus... masakan Titisari tak kumiliki? Hm, apakah daya
andalan seorang perempuan? Lalu berkatalah dia nyaring kepada Gusti Ayu
Retnaningsih yang masih berada di loteng. "Eh, Nona! Kau biarkan temanmu
ini mati. dalam genggamanku atau tidak?" Setelah berkata demikian, ia
mengangkat tubuh Fatimah ke atas meja. Gusti Ayu Retnaningsih adalah
seorang pu-teri bangsawan yang halus perasaan.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar