@bende mataram@
Bagian 300
Kemudian mendaki tangga dan menghampiri ruang atas. Terdengar dia berkata
seolah-olah kepada Gusti Ayu Retnaningsih. "Tongkat ini biasanya kubuat
mengganjal pintu sekalian alat penggebuk anjing. Kalau aku mesti pergi
meninggalkan benteng, ia kusimpan dalam kamar itu!" Mendengar ujar Fatimah,
Gusti Ayu Retna-ningsih tersenyum geli. Teringat akan watak Fatimah yang
sok angin-anginan, ia berkata menggoda. "Apakah itu tongkat wasiat?"
Fatimah tak menjawab, ia memasukkan tongkat itu ke dalam kamar melalui
lobang dinding dengan sikap acuh tak acuh. "Hm," terdengar suara mendengus.
Itulah suara Titisari menyesali Fatimah. "Kau hendak meninggakan benteng.
Apa sebab mendekati kamar? Dinding banyak matanya. Kalau sampai ketahuan
seseorang, nyawamu akan kuambil." "Kau berkata yang bukan-bukan seperti
anak bawel. Apa sebab tidak menghaturkan terima kasih? Aku mengantarkan ini
demi kebaikanmu." Gusti Ayu Retnaningsih yang mengira Fatimah sedang
menyesali dirinya, segera menyahut gugup. "Bukan aku tak tahu terima kasih.
Hanya saja, aku memang usilan.1 Baiklah, aku sangat berterima kasih
kepada-mu... atas kesedianmu mengantarkan aku menginap ke kampung." Fatimah
mendengar kata-kata Gusti Ayu Retnaningsih. Tetapi hatinya mendongkol
mendengar sesalan Titisari. Dasar ia seorang gadis yang biasa mengumbar
kemauannya sendiri, lantas saja ia membalas mendamprat. "Meskipun ini bukan
wasiat, tapi tongkat ini cukup untuk membuat pecah batokmu. Kau tahu?"
Keruan saja, yang kaget ialah Gusti Ayu Retnaningsih. Ia adalah seorang
puteri bang-sawan yang tak biasa mendengar kata-kata kasar yang ditujukan
kepadanya. Dan celakanya, ia mengira dampratan Fatimah itu dialamatkan
kepadanya. Karena itu ia kemudian menyahut gemetaran. "Adikku Fatimah!
Sekiranya engkau tak senang hati memberi keterangan tentang tongkat itu,
biarlah aku tak usah mendengar. Untuk kelancanganku ini, maukah engkau
memaafkan?" Klontang! Tongkat itu telah dilemparkan Fatimah ke dalam kamar
melalui lobang dinding. Kemudian berbalik cepat mengung-kurkan pintu sambil
berkata nyaring. "Aku akan pergi. Kau boleh mampus di situ!" Benar-benar
Gusti Ayu Retnaningsih menjadi gelisah. Hatinya rasa runyam tak keruan.
Pikirnya bingung dalam hati, aku hanya minta keterangan tentang tongkat itu
dan ia agaknya benar-benar tak senang hati. Kalau dipertimbangkan, memang
akulah yang usilan. Terang sekali benda itu adalah tongkat biasa, tapi aku
menyebutnya sebagai tongkat wasiat. Tentu saja ia merasa tertusuk hatinya.
Kata-kata sendaku ini mungkin dianggapnya mengejek dirinya. Baiklah aku
minta maaf padanya. Memperoleh pikiran demikian, cepat ia memburu dan
menyongsong Fatimah di kaki tangga lalu berkata hati-hati. "Adikku
Fatimah... maafkan aku. Kata-kataku memang kurang tepat." Fatimah terhenyak
sejenak mendengar ucapan Gusti Ayu Retnaningsih. Ia seperti lagi
menyiasati, lalu menyahut dengan suara agak heran bercampur geli, "Minta
maaf padaku? Apa yang harus kumaafkan? Hayo, kita pergi!" Kini, Gusti Ayu
Retnaningsih yang menjadi keheran-heranan sampai ia berdiri
menjublak,(tertegun) ia jadi serba salah dan tak mengerti. Mendadak saja
teringatlah dia, bahwa watak saudara-seperguruannya ini sok angin-anginan
dan senang membawa adatnya sendiri.Teringat akan hal itu, ia jadi jengkel
bercampur geli. Pikirnya, terang sekali dia memaki-maki aku. Sekarang aku
minta maaf padanya. Ia menolak... Tadi ia memujikan aku biar mati di sini.
Mendadak mengajak pergi... Apakah... apakah dia sedang kumat? Tetapi Gusti
Ayu Retnaningsih adalah seorang puteri yang perasa. Ia belum puas sebelum
memperoleh keterangan sejelas-jelasnya, apa sebab ia kena maki dan kutuk.
Maka ia berkata minta keterangan: "Fatimah! Kau tadi memaki dan mengutuk
aku. Apakah aku terlalu salah kepadamu?" Fatimah terhenyak sejenak.
"Tidak!" Gusti Ayu Retnaningsih berlega hati. Namun ia masih minta
penjelasan. "Kalau aku tidak terlalu salah kepadamu, apa sebab engkau
memaki dan mengutuk aku?" Kembali Fatimah terhenyak. Tiba-tiba ia ingat
sesuatu. Lantas tertawa lebar sambil berkata, "Pertanyaanmu terlalu melit.
Aku memaki, biarlah aku memaki. Aku mengutuk, biarlah aku mengutuk. Tapi
tenteramkan hati-mu... aku tak bermaksud sungguh-sungguh kepadamu." Setelah
berkata demikian, kemu-dian mengalihkan pembicaraan. "Hayolah kita
berangkat! Kau mau menunggu siapa lagi? Rupanya kau kurang senang kutemani
di sini." Gusti Ayu Retnaningsih hendak menjawab, tiba-tiba terdengarlah
suara menyahut dari luar ambang pintu. "Kalau tak senang kautemani, biarlah
aku yang menemani. Tanggung senang dan nikmat." Berbareng dengan habisnya
kata-kata itu, muncullah seorang laki-laki berpakaian putih, la berdiri
tegak di ambang pintu penuh kewibawaan. Wajahnya tampan dan mengulum senyum
buaya. Dialah sang Dewaresi yang tadi siang mengikuti Kebo Bangah ke luar
benteng. Fatimah heran melihat sang Dewaresi, yang tiba-tiba saja muncul di
ambang pintu. Dengan pemuda itu, belum pernah bertemu. Selagi ia
mengamat-amati, mendadak saja ia kaget mendengar jerit Gusti Ayu
Retnaningsih. "Hai! Kau kenapa?" Ia tercengang. Berbeda dengan Fatimah,
Gusti Ayu Retna-ningsih kenal siapakah dia. Orang itulah yang dahulu
menculiknya di Desa Gebang. Dan hampir saja rusaklah kehormatan dirinya,
apabila tiada memperoleh pertolongan Sangaji dan Titisari. "Dia orang
jahat!" teriaknya sulit. "Aku kenal dia." Mendengar teriak Gusti Ayu
Retnaningsih, Fatimah terkejut. Sang Dewaresi tersenyum lebar. Dengan
langkah seorang majikan, ia memasuki ruang tengah. Pandangnya disapukan ke
seluruh ruang. Mendadak saja berhenti pada pintu ruang atas. "Apakah mereka
berada di sana?" tanyanya. Ia jauh berlainan dengan Gusti Ayu
Retna-ningsih. Kecuali sudah berpengalaman menjadi seorang petualang besar,
otaknya cerdas pula. Seperti diketahui, tadi siang ia mengisiki pamannya
tentang jejak Sangaji. Setelah mencari ubek-ubekan sehari penuh ia kembali
ke benteng dan sempat mendengarkan omongan Fatimah dengan Gusti Ayu
Retnaningsih. Ia melihat pula betapa Fatimah mendaki tangga dan berbicara
menghadap pintu atas sebagai seorang petualang yang luas pengalamannya,
segera ia mencurigai tingkah laku gadis itu. (Jntuk sementara ia
menyabarkan diri dengan berharap akan memperoleh keterangan lebih jelas, la
mengintip pembicaraan Gusti Ayu Retnaningsih dan Fatimah. Ternyata Fatimah
kurang wajar menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Gusti Ayu
Retnaningsih. Dan bagi sang Dewaresi cukuplah sudah untuk memperkuat
alasannya mencurigai Fatimah. "Apakah mereka berada di sana?" ia meng-ulang
pertanyaannya. "Mereka yang mana?" Fatimah mencoba mengelak. "Siapa lagi
kalau bukannya si bocah Sangaji dan Titisari." "Siapa mereka?" "Hm—di
hadapanku masakan engkau bera-ni berlagak pilon?" desak sang Dewaresi.
"Kalau aku benar-benar pilon, kau mau apa?" Fatimah membawa adatnya yang
angin-anginan. Dewaresi tertawa perlahan. Katanya menekan-nekan,
"Terang-terangan, engkau telah berbicara dengan mereka. Masakan engkau
berani mengingkari?" Setelah berkata demikian dengan tiba-tiba ia melesat
mendaki tangga. Sebentar saja ia sudah berada di ruang atas dan berjalan
mondar-mandir melintasi pintu yang terkunci dari dalam. Fatimah terkejut
bukan main sampai ia memperdengarkan pekikannya. Gusti Ayu Retnaningsih
tergetar pula mendengar pekik Fatimah. Meskipun ia sama sekali tak berani
ikut menduga-duga, tetapi ia sudah bisa menebak sembilan bagian. Tanpa
disadari sendiri tubuhnya bergetaran. Melihat kedua gadis itu
memperlihatkan rasa cemasnya sang Dewaresi bertambah yakin. Tanpa
berbimbang-bimbang lagi, terus saja ia mendupak daun pintu. Pintu itu
berusia tua melebihi umurnya sendiri. Kena tendangannya, sekaligus
terjeblak dan runtuh beran-takan. Menuruti kebiasaannya, ingin ia segera
memasuki dengan sikapnya yang girang. Tetapi ia ingat, kali ini dia akan
menghadapi Sangaji dan Titisari. la pernah merasakan ketangguhan Sangaji
dan kecerdikan Titisari yang melebihi manusia lumrah. Anak Adipati
Surengpati itu pernah mengingusinya sampai dua kali berturut-turut tanpa
bisa membalas. Yang pertama di serambi kadipaten Peka-longan dan yang kedua
di Desa Gebang. Bahkan beberapa hari yang lalu ia hampir mati, kena jarum
Titisari di hadapan paman-nya tatkala sedang diuji Adipati Surengpati.
Teringat akan hal itu, mau tak mau ia harus berhati-hati dan tiada berani
berceroboh. Itulah sebabnya, ia menunggu beberapa saat dengan sikap
waspada. Apabila tiada reaksinya, diam-diam ia jadi curiga bercampur heran.
Karena ruang kamar gelap gulita, cepat ia turun dan datang kembali dengan
membawa obor. Sekarang ia melihat Titisari yang duduk berjajar dengan
Sangaji. Wajah Sangaji nampak pucat dan kuyu. Napasnya berjalan
perlahan-lahan dan nampak tiada bertenaga. Diam-diam ia bersyukur dalam
hati, karena sebagai seorang yang sudah berpengalaman tahulah dia, bahwa
lawan yang disegani itu sedang menderita luka parah. Sebaliknya terhadap
sikap Titisari ia jadi gemas dan cemburu. Gadis itu walaupun nampak kucai
tiada mengurangi kejelitaannya. Matanya masih saja bersinar menyala. Ia
duduk menempel bagai seorang mempelai baru yang ingin disanjung rayu.
Kulitnya yang kuning bersih kelihatan padat dan montok. "Adikku! Apakah kau
sedang berlatih di sini?" Sang Dewiresi minta keterangan. Sudah barang
tentu sang Dewaresi tahu, bahwa gadis itu sedang menolong mengembalikan
kesehatan Sangaji. Tetapi ia emoh melihat kenyataan demikian. Dalam lubuk
hatinya, benar-benar ia tak rela Titisari bekerja untuk saingannya. Baik
Sangaji maupun Titisari tiada memperlihatkan reaksinya. Sangaji tak
bergerak dan sedang tenggelam dalam semadinya. Dan Titisaripun yang sehat
bersikap acuh tak acuh, meskipun hatinya tergetar bukan main. Semenjak
mendengar suara sang Dewaresi, tahulah dia bahwa tempat persembunyiannya
bakal ketahuan. Dengan cermat ia mengawasi gerak-gerik orang itu.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar