@bende mataram@
Bagian 302
Tadi saja goloknya terlepas tanpa tersentuh tangan sang ewaresi karena
dadanya terbuka. Apalagi kini ia melihat tingkah laku sang Dewaresi di
hadapannya hendak menyakiti Fatimah. Seketika itu juga, ia bingung bukan
main. Tak dikehendaki sendiri, ia lari turun dari tangga sambil berkata
membujuk. "Sang Dewaresi! Janganlah engkau menyakiti dia? Letak kehormatan
seorang gadis hanyalah sekali itu saja. Karena itu merdekakanlah dia...
inilah permintaanku!" Mendengar ujar Gusti Ayu Retnaningsih, sang Dewaresi
tertawa gelak sampai tubuhnya tergoncang-goncang. Menyahut, "hm, tak
kusangka, bahwa seorang bangsawanpun akhirnya akan merasa kembali sebagai
manu-sia lumrah. Siapa mengira, bahwa engkau akhirnya akan meminta-minta
belas kasih-anku." Hebat ejekan sang Dewaresi terhadap gadis bangsawan itu
Namun Gusti Ayu Retnaningsih tak memedulikan martabatnya lagi demi
keselamatan Fatimah. Ia maju selangkah sambil berkata membujuk lagi. "Dia
murid Suryaningrat seperti aku. Kalau sampai kau rusak kehormatannya...
akibatnya akan panjang..." "Biar dia murid dewa, apa peduliku?" sahut sang
Dewaresi cepat. "Siapa suruh dia mem-bacok aku? Coba kalau aku tiada
cepat-cepat menggulingkan tubuhku, pada saat ini kepalaku telah terpisah
dari tubuhku. Hm—hm jangan mencoba engkau menggertak dengan nama
Suryaningrat! Apakah kau kira aku jeri terhadap murid-murid perguruan
Gunung Damar? Sekiranya Kyai Kasan Kesambi turun gunung hendak menuntut
dendam, dia ada tandingnya. Selain pamanku sendiri, Adipati Surengpati
tidak bakal tinggal diam memeluk tangan. Karena beliau adalah mertuaku. Kau
tahu?" . Gusti Ayu Retnaningsih tak tahu, apakah Adipati Surengpati
benar-benar mertua sang Dewaresi atau tidak? Hanya saja ia heran, mengingat
pergaulan Titisari yang erat dengan Sangaji. "Baiklah," katanya memutuskan.
Ia mau menganggap ujar sang Dewaresi separuh benar. "Karena engkau adalah
menantu Paman Adipati Surengpati, masakan engkau akan sudi memperkosa
seorang gadis kalang-an lumrah? Apakah keuntungannya." Waktu mengucapkan
kata-kata ini, suaranya agak menggeletar karena hatinya mengeluh. Sebagai
seorang bangsawan rusaknya kehormatan merupakan suatu pengucapan yang
mengerikan. Dalam dirinya timbul suatu pergulatan dahulu yang melampui
Datas-batas kemartabatannya. Sebaliknya, Fatimah merasa dirinya dihina.
Dengan mata melotot ia mendamprat. "Apa kauhilang? Siapa berani mengganggu
kehor-matanku?" Mendengar dampratan Fatimah, Gusti Ayu Retnaningsih
terharu. Gadis angin-anginan itu betapa mengerti tentang sepak terjang sang
Dewaresi. Maka ia berkata mencoba, "Sang Dewaresi! Engkau seorang gagah
perkasa. Sebaliknya dia seorang gadis tak berarti. Pastilah engkau mau
membiarkan dia pergi." "Hm... mana bisa aku membebaskan dengan gampang,"
sahut sang Dewaresi. Mendadak saja matanya berkilatan. Kemudian berkata
lagi, "Baiklah... dia akan kubebaskan. Tetapi engkau harus bersedia
meluluskan per-mintaanku." Gusti Ayu Retnaningsih menggigil. Teringat-lah
dia pada pengalamannya dahulu di Desa Gebang. Waktu itu, hampir saja ia
dipaksa meluluskan permintaannya. Untung, Sangaji dan Titisari keburu
menolong dan membe-baskan. Kalau tidak entahlah jadinya. "Kau minta apa
daripadaku?" ia mencoba menegas. "Marilah kita mengadakan suatu perjanjian
tukar menukar," sahut Sang Dewaresi. "Gadis ini akan kubebaskan tetapi
engkau harus bersedia menjadi penggantinya. Kau setuju tidak?*' Meskipun
sudah dapat menebak maksud sang Dewaresi namun ia terkejut juga mendengar
kata-kata itu. Untuk mencoba melawan, betapa dia mampu. Sebaliknya
mengharapkan suatu pertolongan lain adalah tak mungkin. Karena itu dia jadi
berputus asa. Tiba-tiba saja, tenaganya seolah-olah lenyap. Dan tak
setahunya sendiri, air matanya mengucur perlahan-lahan. 'Hai! Kita boleh
mampus! Tapi janganlah engkau mengucurkan air mata!" teriak Fatimah.
Mendengar suara Fatimah, sang Dewaresi tertawa melalui hidung. Dengan
pandang menatap Gusti Ayu Retnaningsih, ia berkata pasti. "Kalau menolak...
hm... gadis ini tidak-lah cukup berharga bagiku. Lihat! Dia akan Kutekak
tengkuknya." Setelah berkata demikian, tangannya menggempur meja. Dan meja
itu semplak berantakan. Gusti Ayu Retnaningsih terperanjat. Pikirnya, Guru
sendiri belum tentu memiliki tenaga begi-ii. Sesungguhnya, sang Dewaresi
hampir ewarisi ilmu kepandaian Kebo Bangah. Dibandingkan dengan
Suryaningrat murid bungsu Kyai Kasan Kesambi ia masih menang tangguh. Di
Desa Gebang, Sangaji kena dikalahkan. Sedangkan Sangaji bisa mengalahkan
Pringgasakti. Sebaliknya Wirapati dan Bagus Kempong merasa diri tak menang
melawan iblis itu. "Nah—bagaimana?" desak sang Dewaresi galak begitu
melihat rasa was-was Gusti Ayu Retnaningsih. "Aku harus mengganti
bagaimana?" sahut gadis bangsawan itu gugup. "Kau harus tunduk dan tak
membangkang segala perintahku dan kehendakku. Kalau tidak... tengkuk gadis
ini akan kupatahkan." Dan ia mengancamkan tangannya ke tengkuk Fatimah.
Sudah barang tentu, Gusti Ayu Retnaningsih yang tak pernah menyaksikan
suatu peristiwa ngeri bermain di depan matanya, terkejut melihat ancaman
itu. Sampai tak dikehendaki sendiri ia menjerit. "Bagaimana?" Sang Dewaresi
mengulang desakan lagi. Dengan terpaksa Gusti Ayu Retnaningsih mengangguk.
"Bagus!" seru sang Dewaresi menang. "Sekarang—tutuplah pintu depan itu!"
Gusti Ayu Retnaningsih enggan bergerak. "Kau dengar tidak perintahku ini?"
Sang Dewaresi membentak. Kena bentakan itu, mau tak mau Gusti Ayu
Retnaningsih melakukan perintahnya. Dengan hati berdebaran, ia menutup
pintu. "Bagus!" kata sang Dewaresi sambil melem-parkan Fatimah di atas
meja. Berkata nyaring, "Sekarang gadis ini kujadikan barang tanggungan.
Tulang sambungnya akan kugempur sedikit agar tak dapat bergerak." la
benar-benar melakukan apa yang diucap-kan. Dan berbareng dengan jeritnya
Gusti Ayu etnaningsih, Fatimah tak berkutik. Sang Dewaresi tertawa puas.
Kemudian dengan Dandang manis ia mengarah kepada Gusti Ayu Retnaningsih
yang berdiri bergemetaran. Berkata nyaring pula, "dahulu di Desa Gebang,
kesenangan kita kena ganggu bocah tolol itu. ^alam ini... kita bertemu
kembali bukan?" "Di sini tak akan ada yang mengganggu kita. Kau sedia
mengikuti perintahku bukan?" "Bangsat! Jangan dengarkan perintahnya.
Biarlah dia membunuh aku!" teriak Fatimah tiba-tiba. Dan mendengar teriakan
itu, sang Dewaresi bergusar bukan main. Meledak, "Bagus! Aku tadi berjanji
hendak membe-baskan engkau asai sala dia sanggup meng-gantikan. Tapi engkau
berteriak seperti anjing. Huh, kau tunggu saja aku membuktikan ucapanku."
Pandang matanya jadi bertambah liar. Semenjak kanak-kanak, Fatimah hidup
bebas dan boleh dikatakan setengah liar. Karena itu tak pernah takut kepada
segala. Sehingga sering membawa adatnya sendiri yang angin-anginan. Kini
menghadapi sang Dewaresi yang hendak membuktikan ucapan-nya ia jadi takut
bukan kepalang. Dan inilah untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia
benar-benar merasa takut. Fatimah jadi menggigil ketakutan. Mau ia meronta,
tetapi tenaganya telah dipunahkan sang Dewaresi. Satu-satunya jalan, ia
hanya bisa meludah dan mencaci kalang kabut. "Kau benar-benar anjing
bengal!" kutuk sang Dewaresi, kemudian menotoknya sehing-ga gadis itu jadi
terbungkam gagu. Setelah itu ia menatap kepada Gusti Ayu Retnaningsih dan
berkata, "Kau sudah berjanji hendak patuh kepada semua perintahku. Engkau
seorang bangsawan, harus bisa memegang janji. Kalau tidak, omonganmu tiada
harganya. Apakah aku harus memaksamu?" Baik Fatimah maupun Gusti Ayu
Retnaningsih benar-benar merasa dirinya tak berdaya. Fatimah tak dapat
bergerak dan berbicara, namun telinganya dapat mendengar dengan terang.
Diapun sedang menghadapi saat-saat yang mengerikan. Ingin ia berteriak
minta pertolongan Titisari, tetapi celakanya mulutnya tak dapat dibukanya.
Karena itu hatinya seolah-olah akan meledak. Sedang Gusti Ayu Retnaningsih
takut bukan main menghadapi bencana demikian. Apalagi, kalau sampai sang
Dewaresi bertindak dengan kasar. Hal itu, tak sanggup ia membayangkan.
Dalam pada itu Titisari telah memperbaiki diri. Tongkat besi yang tadi kena
rebut sang Dewaresi dapat digapainya kembali. Kemudian ia mempersiapkan
cundrik dan sen-ata rahasianya untuk berjaga-jaga menghadapi serangan sang
Dewaresi kembali yang mungkin sekali terjadi dengan tiba-tiba. Tatkala
mendengar peristiwa yang terjadi di ruang bawah, hatinya mendongkol dan
panas. Sebagai seorang wanita, ia bisa ikut merasakan penderitaan batin
Gusti Ayu Retnaningsih dan Fatimah. Tetapi dasar hatinya masih kanak-kanak,
maka timbulah suatu keinginan lain hendak ikut pula menyaksikan apa yang
bakal terjadi selanjutnya. Ia mendengar Gusti Ayu Retnaningsih. Mendadak
berkata nyaring dan tegas. "Kau bunuh sajalah aku!" Sang Dewaresi
tercengang sejenak. Sama sekali tak diduganya, Gusti Ayu Retnaningsih
hendak memutuskan sikap demikian. Sekonyong-konyong ia melihat benda
ber-keredap mengarah padanya. Itulah cundrik Gusti Ayu Retnaningsih yang
ditimpukkan dengan tak terduga. Tetapi sang Dewaresi bukanlah seorang
laki-laki lemah. Cepat ia mengibaskan tangan dan menangkis cundrik itu
dengan mudah. Melihat serangannya gagal, Gusti Ayu Retnaningsih tak mau
susah. Dengan sekali lompat ia hendak memungut cundriknya. Sebaliknya, sang
Dewaresi sadar akan bahaya. Diapun melompat pula dan merampas cundrik. Pada
saat itu tiba-tiba terdengar pintu diketuk dari luar: "Kula nuwun! Kula
nuwun. Itulah suaranya seorang wanita yang ingin bertemu dengan pemilik
benteng. Wajah Gusti Ayu Retnaningsih terus saja bersinar terang. Dalam
kepepatannya ia mem-peroleh sepercik harapan. Demikianlah dengan hati
berdebaran segera ia menghampiri pintu dan membuka dengan cepat. Dan di
ambang pintu, terlihatlah seorang gadis cantik molek yang terpotong
rambutnya dengan mengenakan pakaian Jawa. Di pinggangnya terselip sebatang
golok. Pandang wajahnya agak kuyu, namun tak mengurangi kejelitaan-nya.
Gusti Ayu Retnaningsih belum pernah mengenal atau bertemu dengan gadis itu.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar