8.10.2019

@bende mataram@ Bagian 120

@bende mataram@
Bagian 120


Yuyu Rumpung menoleh kepada seorang pemuda berdandan serba putih. Dia
adalah salah seorang anggota rombongan Banyumas.


"Pergilah ke kamarku dam ambillah beberapa obat," kata Yuyu Rumpung. la
menulis nama-nama ramuan obat dan diberikan kepada pemuda itu. Lalu berkata
lagi, "Berikan obat itu kepadanya!"


Pemuda itu mengangguk sambil menerima surat Yuyu Rumpung dan dengan memberi
isyarat kepada hamba Pangeran Bumi Gede, terus saja berjalan keluar ruang
pertemuan.


Melihat hamba Pangeran Bumi Gede sudah berhasil menemui Yuyu Rumpung,
Sangaji amat gembira. Segera ia membisiki Titisari, "Yuk, kita ikuti mereka
...?"


Titisari tertawa perlahan sambil menggelengkan kepala. Rambutnya melajang
berputar dan ujungnya mengenai leher sampai ber-geridik karena geli.


Sangaji tak mau berbantahan dengan Titisari. Melihat Titisari enggan
berangkat, lantas saja ia bergerak mau meloncat turun dari atap. Mendadak
Titisari menangkap tangannya kuat-kuat. Kemudian diulurkan perlahan-lahan
ke bawah.


Sangaji sadar akan kekeliruannya-. Ah? Aku sembrono. Bukankah mereka yang
berada dalam ruang pertemuan orang-orang sakti? Sekiranya tadi aku meloncat
turun dengan begitu saja, masakan mereka takkan melihat aku.


Kewaspadaan dan sikap cermat itu, memberi pengalaman baru baginya. Jelas,
ia kalah berpengalaman dengan Titisari. Maka untuk kesekian kalinya, ia
merasa takluk pada si gadis.


Hati-hati ia menguntit hamba Pangeran Bumi Gede yang berjalan sempoyongan
di samping si pemuda berbaju putih. Tatkala menoleh ke belakang mau
menengok Titisari, ia terkejut. Ternyata Titisari belum berkisar dari
tempatnya semula. Gadis itu masih saja mendekam di atas atap. Bahkan
perhatiannya kini nampak bersungguh-sungguh.


Titisari memang seorang gadis yang nakal dan berani. Begitu ia mendapat
kesan tertentu tentang pertemuan orang-orang sakti di ruang kadipaten,
hatinya lantas tertarik. Segera ia mempertajam pendengarannya dan
perhatiannya ditumpahkan penuh-penuh. Tatkala melihat Sangaji berhenti
mengawasi dirinya, dengan terpaksa ia memberi isyarat kepada kawannya itu
agar berjalan terus. Dia sendiri mau tetap berada di tempatnya.


Kala itu, ia melihat seorang laki-laki kurus jangkung yang sudah
berkeriputan mulai berbicara. Suaranya agak parau, tapi tajam luar biasa.
Dialah Cocak Hijau yang duduk di atas kursi di samping Pangeran Bumi Gede.


"Saudara-saudara, apa pendapat kalian mengenai keperkasaan Panembahan
Tirtomoyo? Kemudian bagaimana pendapat kalian, tentang munculnya orang itu
di kota Pekalongan? Apakah dia secara kebetulan saja berada di Pekalongan
atau mempunyai maksud tertentu?"


"Peduli apa dia datang dengan sengaja atau kebetulan di Pekalongan?" teriak
seorang. "Dia telah berkenalan dengan gebukan Yuyu Rumpung. Jika tidak
mampus, pastilah akan cacat sumur hidupnya."


Titisari lalu mengamat-amati orang itu. Ternyata dia adalah Abdulrasim
jagoan dari Surabaya. Orangnya berperawakan agak tinggi. Tubuhnya padat
penuh otot-otot. Matanya tajam luar biasa dan gerak-geriknya gesit.


Tiba-tiba sang Dewaresi tertawa perlahan, tetapi getarannya memenuhi ruang
pertemuan. Kemudian berkata dengan kata-kata yang ditekankan agar
berwibawa, "Belum pernah aku melewati perbatasan Banyumas mengarah ke
timur. Tetapi aku pernah mendengar kabar tentang kesaktian orang-orang yang
bermukim di sekitar Gunung Lawu. Panembahan




Tirtomoyo memang terkenal namanya. Siapa yang tidak mengenal dia, sewaktu
menjadi pembantu utamanya Raden Mas Said, Kanjeng Gusti Pangeran
Mangkunegoro, kala bertempur sengit melawan kompeni dan Kanjeng Sultan
Mangkubumi 1? Sekarang kita semua bisa melihat, menyaksikan dan membuktikan
betapa perkasanya dia. Coba, ia kena pukulan Yuyu Rumpung, namun masih bisa
tegak berdiri bahkan tersenyum manis."


"Siapa bilang?" potong Cocak Hijau. "Aku berani bertaruh, dia akan cacat
seumur hidupnya."


"Itu betul?" sahut Abdulrasim. "Tinju Yuyu Rumpung bukan sembarang tinju.
Sekali kena gablokan Yuyu Rumpung, orang itu pasti tak dapat lagi
mempertahankan napasnya untuk satu hari saja ..."


Yuyu Rumpung yang nampak kesakitan menyambung dengan suaranya yang keras parau.


"Hihihaaa ... Cocak Hijau dan Abdulrasim, benar-benar bisa menina-bobokkan
orang. Aku dan dia masing-masing merasakan suatu penderitaan. Bagaimana
kita bisa berbicara tentang menang dan kalah?"


"Tidak," Cocak Hijau menyahut. "Biar bagaimana, dia bakal bercacat.
Sebaliknya kamu tidak."


"Betul! Kamu hanya membutuhkan beristirahat beberapa hari saja, lalu sehat
kembali dan bangun segar-bugar seperti raksasa menggeliat dari tidur
lelap," Abdulrasim menguatkan.


Pangeran Bumi Gede yang selama itu memperhatikan pembicaraan mereka, segera
menengahi, la mengambil sikap bijaksana dengan mempersilakan mereka
menikmati hidangan dan minuman. Kemudian berkatalah dia dengan suara
nyaring, halus dan meresapkan.


"Tuan-tuan telah memerlukan datang di kota ini, semata-mata oleh undangan
kami. Gntuk perhatian ini, perkenankan kami mengucapkan rasa terima kasih
dan penghargaan setinggi-tingginya. Kami tahu dan sadar, kedatangan
Tuan-tuan bukan disebabkan oleh undangan kami semata, tetapi karena
Tuan-tuan sadar akan kewajiban yang lain. Yakni, hendak berjuang menuntut
keadilan. Inilah keuntungan besar bagi Gusti Patih Danureja II. Hidup!"


Orang-orang yang mendengar kalimat tata penyambutan Pangeran Bumi Gede
demikian merendah dan penuh sopan, cepat-cepat bersikap merendah diri pula.
Kegarangannya lantas saja pudar.


"Sang Dewaresi biasa hidup mulia di daerah Banyumas. Yuyu Rumpung seorang
penasehat sang Dewaresi yang jarang terdapat dalam pergaulan adalah juga
seorang bijaksana." Kata Pangeran Bumi Gede lagi, "Cocak Hijau, Manyarsewu,
Abdulrasim dan pendekar-pendekar sakti lainnya bukanlah manusia lumrah.
Tuan-tuan sekalian adalah raja-raja tak bermahkota di daerah Tuan-tuan
masing-masing. Orang luar takkan mudah dapat bertemu dengan Tuan-tuan
sekalian. Meskipun demikian, tuan-tuan kini sudi melangkahkan kaki untuk
saling bertemu dan berkenalan di dalam ruang sesempit ini. Bagaimana hati
kami tidak akan bangga. Meskipun kami baru untuk pertama kali ini bertemu
pandang dengan Tuan-tuan, tapi kami telah yakin akan kesanggupan Tuan-tuan
sekalian. Tuan-tuan adalah golongan pejuang-pejuang keadilan. Semuanya
bersedia membantu usaha kami. Inilah suatu keuntungan besar bagi kami dan
negara."


Pangeran Bumi Gede lalu tertawa riang. Matanya berkilat-kilat. Terang
sekali, ia bergembira sampai ke dasar hatinya.


"Jika paduka memberi perintah sesuatu kepada kami, kami tak bakal menolak.
Itulah pasti," sahut Cocak Hijau. Yang lain-lain ikut pula mengamini.
Kemudian terdengarlah


Manyarsewu menyambung, "Nah, berilah perintah! Kami akan bekerja. Hanya
saja apa yang kami khawatirkan ialah, tenaga kami terlalu kerdil untuk
dapat memenuhi perintah-perintah paduka. Karena itu kami mohon maaf
sebesar-besarnya dan semoga paduka sudi melimpahkan doa restu." Sehabis
berkata demikian, ia tertawa panjang dan kuat sampai tubuhnya
bergoncang-goncang.




Mereka semua adalah pendekar-pendekar sakti yang memiliki kecakapan dan
kesaktian masing-masing. Mereka belum saling mengenal, karena itu dalam
hati mengharapkan suatu pekerjaan yang sulit dan besar agar mendapatkan
nama. Sikapnya garang berwibawa untuk mencari muka.


Pangeran Bumi Gede menyambut pernyataan mereka dengan mengangkat cawan
minuman keras. Sambil mempersilakan meneguk, dia berkata, "Kami telah
mengundang Tuan-tuan sekalian atas nama Gusti Patih Danurejo. Sudah barang
tentu, kami menaruh kepercayaan besar terhadap Tuan-tuan sekalian. Kami
berjanji tidak akan menyembun-yikan atau merahasiakan sesuatu pekerjaan
yang bagaimana besar dan penting sekalipun. Semuanya akan kami beberkan di
depan Tuan-tuan sekalian. Sebaliknya kami percaya kalau Tuan-tuan tak akan
menceritakan kembali kepada orang lain tentang apa yang bakal Tuan-tuan
dengar dan lihat. Dengan demikian akan menghindarkan fitnah-fitnah
pihak-pihak tertentu ..."


Semua orang mengangguk berbareng. Mereka tahu apa maksud Pangeran Bumi
Gede. Dengan sungguh-sungguh ditekankan, mereka harus dapat merahasiakan
sesuatu perkara besar dan penting.


"Apakah paduka ingin membeberkan suatu perkara rahasia yang penting
mengenai negara?" teriak Manyarsewu.


Pangeran Bumi Gede memanggut sambil meneguk cawan minuman keras.


"Ah! Jika begitu, kami harap paduka tidak sangsi lagi menilai kami semua.
Tenangkan hati paduka dan percayalah, kami setidak-tidaknya bukan
kanak-kanak kemarin sore yang bisa menjual omongan sampai ngiler."


Pangeran Bumi Gede mendehem. Dengan tenang ia meletakkan cawannya. Kemudian
memperbaiki letak duduknya sambil menyiratkan pandang kepada sekalian yang
hadir.


"Tuan-tuan! Dengarkan!..." ia berkata.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar