8.10.2019

@bende mataram@ Bagian 119

@bende mataram@
Bagian 119


"Pergilah kepadanya selekas mungkin, sebelum dia tidur," kata ibu Sanjaya.
"Setelah sembuh, baru kamu boleh menghaturkan terima kasih."


Hamba Pangeran Bumi Gede segera berlalu dari gedung. Belum lagi melangkah
sejauh sepuluh langkah, pundaknya telah ditempel


Titisari. Sekali lagi, sebilah belati mengancam punggungnya. Terdengar
kemudian si gadis mengancam dengan setengah berbisik, "Cepatlah menghadap
Yuyu Rumpung malam ini juga!"


Orang itu mencoba menguatkan diri. Baru beberapa langkah berjalan, tubuhnya
terhuyung hampir roboh, la merintih, tetapi Titisari segera mengancam lagi,
"Sebelum kamu mendapat obat itu, jangan harap nyawamu selamat. Kau dengar?"


Bukan main kagetnya hamba Pangeran Bumi Gede itu. Dengan menggigit
bibirnya, dipaksanya kakinya berjalan selangkah demi selangkah. Dunia di
depannya seolah berputar kontrang-kantring, tetapi ia menguatkan diri.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Wajahnya pucat lesi dan
berkerinyut.


Ia berjalan memasuki lorong gedung yang merupakan jembatan penyambung
antara gedung dan gedung. Di sana terdapatlah banyak penjaga dan
pelayan-pelayan yang selalu bersiap menunggu perintah dan pekerjaan. Mereka
heran melihat si pegawai keuangan berjalan tertatih-tatih dengan diiringkan
seorang gadis cantik dan seorang pemuda. Menyangka bahwa mereka termasuk
tetamu undangan atau salah satu sanak keluarga tetamu undangan, maka mereka
pun bersikap diam.


Setibanya di depan kamar Yuyu Rumpung, seorang pelayan segera menyambut
dengan sikap hormat. Tatkala ditanyakan dimanakah Yuyu Rumpung berada,
pelayan itu menjawab dia lagi menghadiri rapat rahasia di ruang depan
dengan Pangeran Bumi Gede. Mendengar keterangan si pelayan, hamba Pangeran
Bumi Gede itu nampak bergemetaran karena hampir kehabisan tenaga.


Sangaji menjadi iba menyaksikan penderitaannya. Segera ia datang menolong
dan membimbing tubuhnya yang benar-benar telah kehilangan tenaga.


Mereka lantas saja memasuki ruang depan. Dua orang penjaga segera
menyongsong dan menegor keras.


"Berhenti! Siapa kamu?"


"Aku hendak menemui Tuan Yuyu Rumpung. Katakan aku Pengurus Istana," jawab
hamba Pangeran Bumi Gede seraya mengangsurkan surat Sanjaya. Melihat surat
Sanjaya, dua penjaga itu mundur. Tapi tatkala melihat Sangaji dan Titisari
segera mereka mau menegor. Hamba Pangeran Bumi Gede cepat-cepat memberi
penjelasan, "Mereka keluarga tetamu undangan."


Titisari tetap bersikap tenang. Matanya yang tajam, dengan cepat mengenal
siapa dua penjaga itu. Mereka adalah Setan Kobar dan Cekatik gelar Simpit
Ceker Bebek. Sebaliknya mereka tak mengenal Titisari yang pernah
menggantung diri mereka di atas pepohonan beberapa hari yang lalu di
pinggiran kota Cirebon. Maklumlah, Titisari kini berdandan sebagai gadis.
Tapi jika pandang mereka bertemu dengan Sangaji, mendadak saja mereka maju
serentak terus mau menyerang.


Titisari berlaku cepat luar biasa. Belum lagi mereka bisa berbuat sesuatu,
iga-iganya kena




terhajar dua kali berturut-turut. Tanpa dapat berkutik, mereka kena
dilemparkan ke tanah dan jatuh terkapar tak kuasa bangun.


Sangaji kagum menyaksikan kehebatan si gadis. Ia berada di dekat si gadis,
namun tak melihat gerakannya yang begitu gesit dan cepat. Lantas saja
teringatlah dia pada kejadian dulu di restoran Cirebon, ketika kawan-kawan
Kartawirya kena dirobohkan begitu mendadak ketika mau mencuri kudanya.
Diam-diam ia memuji di dalam hati, ah, hebat ilmu Titisari. Pastilah mereka
dulu kena juga serangan Titisari yang begini cepat dan berbahaya. Eh, macam
ilmu apa yang dimilikinya?


Sangaji adalah pemuda yang dibesarkan di kota besar yang jauh di daerah
barat. Dia tak mengenal macam ilmu-ilmu sakti yang terdapat di daerah Jawa
Tengah. Sebenarnya Titisari lagi menggunakan suatu ilmu sakti yang terkenal
dengan sebutan Aji Pangabaran. Aji Pangabaran adalah suatu ilmu rahasia,
yang dapat digunakan untuk melenyapkan tenaga orang dengan sekali serang.
Jika si pemilik Aji Pangabaran mempunyai Aji Munduri, akan celakalah orang
yang diserang. Tak ampun lagi akan bisa dirontokkan semua tulang rusuknya.
Gntung bagi dua hamba-sahaya sang Dewaresi itu. Agaknya Titisari hanya
memiliki Aji Pangabaran dengan jurus-jurusnya yang khas, sehingga dengan
demikian tidak membahayakan nyawanya.


"Ssst! Kau lagi memikirkan apa?" tegur Titisari sambil tertawa, manakala
melihat temannya merenung-renung. la meloncat menghampiri Setan Kobar dan
Cekatik gelar Simpit Ceker Bebek. Kedua orang itu didepak bergulingan ke
arah gerombolan tetanaman. Kemudian diringkus erat-erat dan mulutnya
disumbat dengan robekan kain. Setelah itu ia mendorong maju tubuh hamba
Pangeran Bumi Gede sambil berkata memerintah, "Masuk!"


Begitu hamba Pangeran Bumi Gede memasuki ruangan, ia sambar lengan Sangaji
dan dibawa melompat ke atas atap. Dengan hati-hati ia merayap mendekati
penglari jendela dan mengintip dari sana.


Dalam ruangan kadipaten, nampak terang-benderang. Meja penuh hidangan dan
kursi-kursi penuh sesak dengan tetamu-tetamu undangan. Sangaji terperanjat
dan ciut hatinya, tatkala melihat siapa mereka yang berada di dalam ruangan
itu. Ternyata mereka adalah tetamu-tetamu tadi siang yang telah
memperlihatkan kepandaiannya masing-masing.


Tepat di depan hidungnya, duduk sang Dewaresi yang didampingi Yuyu Rumpung.
Orang tua botak yang nampak kurang segar. Suatu bukti, benturan Panebahan
Tirtomoyo masih meninggalkan bekas dalam tubuhnya. Di sampingnya duduk lima
belas orang sakti lainnya. Abdulrasim dari Surabaya. Putut Tunggulnaga,
Sawungrana, Glatikbiru, Wirya-dikun, Somakarti, Wongso Cldel, Joyokrowak,
Orang-aring, Trunoceleng, Kejong Growong, Munding Kelana, Banyak Codet,
Sintir Modar dan Gajah Banci. Dan di dekat seseorang yang berdandan
mentereng duduklah Mayarsewu dan Cocak Hijau.


Sangaji mengamat-amati orang yang berdandan mentereng. Nampak sekali orang
itu besar sekali perbawanya. Romannya cakap, matanya sipit, dan mulutnya
senantiasa menyungging senyum. Karena dia belum kenal siapakah dia, maka
perhatiannya mengarah kepada Yuyu Rumpung yang tadi siang mengadu kekuatan
dengan Panembahan Tirtomoyo. Melihat orang begitu nampak kesakit-sakitan,
ia berkata dalam hati, nah, rasakan ini. Mengapa kamu gegabah mencoba
kekuatan Panembahan Tirtomoyo.


Tetapi teringat Panembahan Tirtomoyo menderita luka hebat pula, hatinya
jadi getar juga.


Tatkala itu, hamba Pangeran Bumi Gede telah menyerahkan sepucuk surat
Sanjaya kepada Yuyu Rumpung. Orang tua botak itu mengamat-amati. Kemudian
dengan tertatih-tatih ia berjalan menghadap orang yang berdandan mentereng.
Dengan membungkuk hormat ia berkata minta penjelasan, "Maaf, mengganggu
sebentar. Apakah tulisan ini guratan tangan putra paduka?"




Ternyata orang yang berdandan mentereng itu, Pangeran Bumi Gede. la
mengamat-amati surat Sanjaya dan mengangguk membenarkan.


"Berilah obat yang diminta!"


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar