@bende mataram@
Bagian 118
Titisari segera menekan pundak kawannya dan dibawanya menjauhi pintu.
Bisiknya, "Ayo, kita mencari obat. Apa gunanya rnempedulikan dia."
Sangaji terkejut. Menjawab hampir gagap, "Tahukah kau di mana obat itu
tersimpan?" "Ayo, kita cari."
Sangaji kecewa. Hatinya ragu. Maklumlah, halaman kadipaten ini begitu luas
dan banyak gedungnya. Di manakah dia akan dapat menemukan obat ramuan yang
dikehendaki Panembahan Tirtomoyo. Tetapi ia tak sempat berpikir terlalu
lama, Titisari telah menariknya pergi melintasi halaman.
Orang itu kini menjadi kaget dan ketakutan, karena tajam belati Titisari
terasa digaritkan kelengannya.
Bulan waktu itu sedang terselimuti awan. Halaman kadipaten nampak semu dan
samar-samar. Cepat mereka mengarah ke sebuah gedung. Sekonyong-konyong
mereka men-* dengar langkah terantuk-antuk batu. Tak lama kemudian
terdengarlah suara mengomel.
"Tamu! Tamu! Sampai berjenggot... ya sampai pun ubanan, masa orang-orang
gede itu ingat menaikkan pangkat... Ih!"
Cepat mereka meloncat ke belakang gerombol pohon kemuning dan bersembunyi.
Selagi Sangaji mau mengamat-amati laki-laki itu, mendadak saja Titisari
meloncat menyongsong orang itu.
Orang itu berdiri tegak tercengang-cengang. Ia tak berkutik sedikit pun.
Matanya tajam mengawasi Titisari. Maklumlah, dia diancam sebuah belati.
"Siapa kau?" bentak si gadis.
Orang itu kini menjadi kaget dan ketakutan, karena tajam, belati Titisari
terasa digaritkan ke lengannya. Segera ia menjelaskan, dia adalah salah
seorang pegawai Pangeran Bumi Gede bagian keuangan.
"Bagus! Kamu menjadi pengurus umum, bukan?" kata Titisari. Orang itu
mengangguk.
"Jika begitu, tentu kamu tahu di mana disimpannya obat-obatan untuk
persediaan majikan dan tetamu undangan lainnya?"
"Memang majikanku membawa obat-obatan yang diperlukan. Bahkan semenjak tadi
siang, beliau memberi perintah menguras habis semua obat-obatan dalam kota
ini untuk persediaan para tetamu. Dalam hari-hari belakangan ini, Pangeran
Bumi Gede akan mempunyai tamu undangan luar biasa banyaknya. Obat-obatan
bermacam-macam ramuan sangat dibutuhkan."
"Bagus! Sekarang tunjukkan di mana obat-obatan itu disimpan!" potong
Titisari garang. "Majikan sendiri yang menyimpang. Aku ... aku ..."
"Majikan yang mana?" "Majikan ya majikan!"
Titisari menangkap lengan orang itu dengan tangan kirinya, kemudian
digencet ke belakang punggung sambil mengancamkan pisaunya.
"Kau bilang tidak?" gertaknya. "Sungguh mati, aku tak tahu ... di mana
majikan menyimpan obat-obatan itu ..."
"Majikan yang mana?"
"Majikan ... majikan ... anak Pangeran Bumi Gede ... nDoromas ... nDoromas ..."
Titisari memuntir lengan orang itu, sampai merintih kesakitan, la tak
berani berteriak, karena belati Titisari telah menempel urat lehernya.
"Kenapa kautadi bilang majikan ya majikan ...?" bentak Titisari.
"Sungguh mati ... sungguh mati, aku tak tahu perkara obat-obatan itu ..."
orang itu merintih
ketakutan.
Titisari tak mempedulikan penderitaan orang. Lengan yang telah dipuntir ke
punggung, disodokkan ke atas. Keruan saja terdengarlah suara gemeretak. Dan
lengan orang itu patah sekaligus. Orang itu hampir saja berteriak, jika
Titisari tidak cepat-cepat menyumbat mulutnya dengan saputangannya. Maka
beberapa detik kemudian, orang itu rebah pingsan tak sadarkan diri.
Sangaji terperanjat. Sama sekali tak diduganya, kalau Titisari bisa berbuat
sekejam itu. Tetapi ia tak berkata sepatah katapun juga. Ia hanya mengawasi
dengan hati tercengang-cengang, setelah rasa terkejutnya terkikis tipis.
Titisari tak membiarkan orang itu roboh pingsan lebih lama lagi. Segera ia
menotok tulang iga-iganya. Ketika orang itu menggeliat sadar, cepat ia
membangunkan. Kemudian terdengarlah bentaknya, "Kau bisa berbicara yang
benar tidak? Jika mungkir lagi, lenganmu yang sebelah akan kupatahkan juga."
Orang itu lantas saja menangis. Ia menjatuhkan diri dan bersimpuh di
hadapan si gadis yang begitu cantik jelita tapi kejam.
"Dengan sebenarnya Nona ... sama sekali aku tak mengetahui sekelumit pun
tentang obat-obatan itu," ia merintih.
Titisari rupanya dapat mempercayai omongannya. Tetapi suaranya masih bengis.
"Berdiri! Dan sekarang pergilah menghadap majikanmu! Bilang, kamu tadi
jatuh ke parit sampai lenganmu patah. Bilang juga, kamu telah berusaha
mencari obat patah tulang di seluruh kota, tetapi tak berhasil karena tidak
ada. Kamu pasti akan diberi obat itu."
Orang itu segera berdiri. Tatkala mau berjalan, tiba-tiba Titisari berkata,
"Eh,—tunggu dulu." Belum lagi orang itu menoleh, mendadak dadanya disodok
sampai lontak darah.
"Nona ..." orang itu terengah-engah. "Apa dosaku ... apakah kesalahanku,
hingga nona menyiksaku tanpa perkara?"
"Bilang juga pada majikanmu ... dadamu perlu obat bubuk untuk mengobati
luka dalam," kata Titisari tak mengindahkan.
Membentak, "Cepat pergi! Tapi awas! Jika kamu main gila, akan kupatahkan
batang lehermu. Aku akan mengikutimu sejarak empat langkah. Kaudengar?"
Orang itu mengangguk, la telah membuktikan, bagaimana gadis cantik itu
bersungguh-sungguh. Kalau ia berani berlaku sembrono, pasti nona itu akan
membuktikan ucapannya tanpa ragu-ragu lagi. Itulah sebabnya ia memutar
tubuhnya sambil terbatuk-batuk darah.
Selangkah demi selangkah, orang itu berjalan. Tubuhnya nampak bergemetaran.
Kadang-kadang ia sempoyongan. Tetapi Titisari benar-benar kejam, la dorong
orang itu, sehingga mau tak mau harus memaksakan diri agar berjalan lebih
cepat lagi.
Tatkala itu Sanjaya masih berbicara dengan ibunya, la heran melihat pegawai
keuangan ayahnya datang menghadap pada waktu larut malam.
"Hai, ada apa?" ia bertambah-tambah heran sewaktu melihat hambanya
bermandikan peluh dan nampak kesakitan. Orang itu menerangkan mengapa
memberanikan diri menghadap padanya, seperti yang dipaksakan Titisari. Air
matanya bercerocosan keluar, karena berusaha menahan sakit.
"Berilah dia obatnya!" sahut ibu Sanjaya penuh iba.
. Sanjaya menaikkan alis. Dahinya berke-rinyut.
"Semua persediaan obat untuk tetamu undangan disimpan Yuyu Rumpung,
penase-hat sang Dewaresi. Pergilah menghadap padanya!"
"nDoromas! Bagaimana orang semacam hamba bisa mendapat obat daripadanya?"
Sanjaya diam menimbang-nimbang, kemudian menulis surat. Setelah surat itu
diberikan pada hambanya, ia segera mau menutup pintu kamar. Agaknya dia tak
senang diganggu oleh siapapun juga pada hari jauh malam.
Orang itu membungkuk-bungkuk hormat. Ingin ia menyembah beberapa kali, tapi
lengannya tak dapat digerakkan. Maka terpaksalah dia mengundurkan diri
sambil menundukkan kepala.
"Terima kasih ... terima kasih, nDoromas."
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar