@bende mataram@
Bagian 117
Seorang wanita setengah umur keluar dari belakang kelambu dan datang
menyambut Sanjaya. Sangaji dan Titisari cepat-cepat beralih ke daun pintu
dan mendekam di sana sambil menajamkan mata dan telinga. Mereka melihat ibu
Sanjaya duduk di atas kursi kayu jati. Wajah ibu Sanjaya ternyata masih
menarik. Kulitnya kuning langsat. Bentuk mukanya menyedapkan.
Di dalam kamar terang-benderang, sehingga Sangaji dan Titisari dapat
melihat raut muka ibu Sanjaya sejelas-jelasnya. Ternyata di atas mulutnya
tersembul sebuah tahi lalat-hitam cukup terang. Matanya menyala jernih.
Bibirnya tipis dan rambutnya panjang hitam legam. Perawakan tubuhnya tinggi
semampai dan padat. Pakaiannya sederhana dan kesannya tidak tinggi hati.
Umurnya kurang lebih empat puluh tahun.
"Ibu! Mengapa Ibu belum juga tidur?" kata Sanjaya sambil memegang
pergelangan tangan ibunya. Kemudian ia memelukkan tangan ibunya ke
lehernya. Nampak sekali, betapa manja Sanjaya terhadap ibunya. "Bukankah
aku berada di sini? Mengapa Ibu bersedih hati? Lihatlah, aku tetap sehat
tak kurang suatu apa ..."
"Di kota orang, kamu membuat kekacauan. Kalau sampai terdengar ayahmu, apa
yang terjadi? Apalagi kalau gurumu mendengar lagak-lagu dan perangaimu, ...
kamu... kamu... ah, pastilah hebat akibatnya. Gurumu seorang yang berwatak
berangasan. la tak takut kepada semua. Meskipun kamu berusaha berlindung di
belakang benteng kasultanan, dia tak peduli."
"Ibu! Tahukah Ibu, siapakah Pendeta yang datang dalam arena tadi siang?"
Sanjaya memotong.
"Pendeta?"
"Dia tadi kuundang pula hadir di pendapa kadipaten. Kuperkenalkan pula dia
kepada tetamu-tetamu undangan Ayah."
"Siapa dia? Dan apa hubungannya dengan perbuatanmu tadi siang?"
"Dia datang melerai pergumulanku melawan si pemuda tolol. Dia bernama
Panembahan Tirtomoyo. Dia mengaku, kakak guruku ..."
"Ih," Ibu Sanjaya terkejut. "Sanjaya, hati-hatilah! Aku pernah melihat
gurumu membunuh beberapa orang tanpa mengejapkan mata, jika dia sedang
marah. Benar-benar aku takut kepadanya ..."
Sanjaya menegakkan tubuhnya. Dengan heran ia minta penjelasan. "Pernahkah
guru membunuh orang? Kapan dan mengapa?"
Ibu Sanjaya tidak menjawab. Ia melemparkan pandang ke arah pintu dengan
mata merenung-renung. Kemudian berkata pelahan, "Peristiwa itu sudah lama
lampau ... lama sekali ... Kenapa gurumu membunuh orang, aku sudah lupa ..."
Sanjaya tak mendesak lagi. Kini ia bersikap gembira dan berkata penuh
kekanak-kanakan.
"Ibu tahu kakak guruku mendesak padaku, agar menyelesaikan urusanku dengan
si buntung kaki. Aku berjanji hendak menyelesaikan dengan sebaik-baiknya,
asal saja si buntung kaki mau diatur."
"Apakah kamu sudah membicarakan hal itu dengan ayahmu? Jika ayahmu telah'
mengizinkan, alangkah akan baik jadinya," potong ibunya.
Sanjaya tertawa gelak. Menjawab cepat, "Ibu, Ibu memang berhati mulia dan
lembut. Tapi semenjak siang tadi telah kuperdayakan si buntung kaki dengan
gadisnya. Aku berpura-pura mengundang mereka menghadiri pesta.
Tak tahunya mereka kukerangkeng di gedung sebelah ini. Nah, biarpun
Panembahan Tirtomoyo menjelajah ke seluruh dunia, tak bakal dia dapat
menemukan mereka."
Sangaji yang mengintip di luar pintu terkejut. Hatinya lantas saja menjadi
mendongkol. Hatinya bergolak. Dengan geram ia berkata dalam hati, ah kukira
kamu berbicara sungguh-sungguh dengan Paman Mustapa. Tak tahunya, kamu
sangat licin, licik dan jahat!
Ibu Sanjaya pun tak menyetujui akal licik puteranya. Ia menegor, "Kamu
telah mempermainkan anak dara seseorang dan mengurungnya juga. Apa
maksudmu? Nah, bebaskan mereka! Berilah uang bekal agar bisa pulang ke
kampung halamannya."
Sangaji sependapat dengan kata hati ibu Sanjaya. Pikirnya dalam hati, hati
ibunya jauh lebih baik daripada anaknya. Pendapatnya benar-benar adil.
Tetapi Sanjaya seperti tak mendengarkan. Suara tertawanya dinaikkan.
"Ibu, Ibu belum tahu masalahnya. Orang seperti dia, tak membutuhkan uang
dan tidak tahu juga arti uang. Jika dia kulepaskan, dia bisa berbahaya.
Mulutnya akan diumbar dan mencanangkan kabar berita tak keruan jun-trungnya
perkara diriku. Kalau sampai terdengar guru, urusan bisa runyam."
"Habis? Apa kamu mau mengurung mereka seumur hidupnya?" potong ibunya.
Tetapi Sanjaya tetap saja tertawa.
"Tadi telah kucoba membujuk ayah si gadis, agar mau berdiam di suatu
tempat. Aku bilang, beberapa bulan lagi aku akan melamar anaknya. Nah,
kalau dia mau mendengar kata-kataku, biarlah gadisnya menunggu lamaranku
sampai menjadi nenek-nenek."
Setelah berkata demikian, Sanjaya tertawa terbahak-bahak. Dan Sangaji yang
berada di luar pintu, heran menyaksikan perangainya, la mendongkol
berbareng terkejut. Ia mencoba mengamat-amati Sanjaya. Pikirnya, benarkah
dia Sanjaya kawanku sepermainanku dulu?
Makin lama hatinya makin mendongkol. Tiba-tiba saja, ia tak dapat lagi
menguasai hatinya. Serentak ia bangkit hendak menggempur daun pintu.
Mendadak suatu tangan halus menangkap pergelangan tangannya sambil
berbisik. "Sabar Aji..."
Halus dan merdu suara itu. Ia terkejut dan melihat Titisari menyanggahnya
dengan pandang manis luar biasa. Ia jadi sadar atas kecerobohannya.
Cepat-cepat ia menguasai nafsunya yang hampir menyentak cepat. Kemudian
mengintip lagi.
"Si kaki buntung itu benar-benar licin," kata Sanjaya. "Telah kucoba
membujuknya, tetapi tetap saja dia bersitegang. Bahkan hampir-hampir aku
kehilangan kesabaranku. Nah, biarkan dia mengeram dalam kamar lembap itu.
Kalau perlu sebulan dua bulan. Aku ingin tahu, akhir permainannya ..."
"Sanjaya!" tegor ibunya halus, "kulihat anak gadisnya manis, cantik dan
cemerlang. Gerak-geriknya halus dan sopan. Menurut penda-patku, tidak ada
celanya. Baiklah aku yang membicarakan halnya dengan ayahmu. Percayalah,
Ayah pasti akan mendengarkan tiap patah kataku. Dengan begitu, persoalanmu
akan bisa diselesaikan."
"Ih! Mengapa Ibu berbicara yartg bukan-bukan?" potong Sanjaya. "Ingat Bu,
kita ini termasuk keluarga apa? Bagaimana aku bisa mengawini seorang gadis
jalanan? Ayah sering berkata kepadaku, aku akan dicarikan jodoh dengan
keluarga ningrat yang sepadan dengan kedudukan Ayah. Ayah berjanji akan
berusaha berbesan dengan Gusti Patih. Kalau mungkin salah seorang puteri
Sultan. Sayang ... Ayah kini berlawanan dengan Sri Sultan. Sekiranya ..."
"Sekiranya apa?"
"Aku akan bisa menjadi salah seorang menantu Sultan."
Ibu Sanjaya menarik napas panjang. Tetapi ia tak berkata lagi. Matanya
kemudian nampak suram. Ia berduka mendengar kata-kata anaknya.
"O ya ..." Sanjaya mengalihkan pembicaraan. "Tadi kudengar, si tua buntung
itu hendak berbicara dengan Ibu. Jika sudah berbicara dengan Ibu, baru dia
percaya pada semua omonganku."
"Bagus? Tetapi jangan harap, aku akan membantumu mempermain-mainkan dia.
Tak baik akibatnya."
Sanjaya meloncat dari tempat duduk dan berjalan mondar-mandir sambil
tertawa geli.
Sangaji dan Titisari mempunyai kesempatan untuk mengamati ibu Sanjaya lebih
teliti lagi. Perempuan itu benar-benar berhati mulia. Pandangannya jernih.
Matanya cemerlang.
Hidungnya tajam, suatu tanda kalau dia berhati tegas dan jujur. Tetapi
mereka tak dapat memastikan, apakah dia permaisuri Pangeran Bumi Gede atau
salah seorang selirnya. Tetapi andaikata dia seorang selir, sikapnya yang
agung dan hatinya yang mulia itu tak mengurangi kewibawaannya. Sekarang
mereka mengamat-amati gerak-gerik San-jaya. Alangkah jauh berbeda. Pemuda
itu nampak licin, licik dan terlalu sadar akan kedu-dukannya. Memikirkan
tentang perangainya, tiba-tiba saja tubuh Sangaji bergemetaran. Agaknya
hawa amarahnya meluap ketika teringat nasib Mustapa dan gadisnya yang
terang-terangan sedang dipermain-main-kannya.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar