8.09.2019

@bende mataram@ Bagian 116

@bende mataram@
Bagian 116


Dalam pada itu, Sanjaya lalu menghampiri Mustapa setelah melihat pintu
telah tertutup rapat. Kemudian berkata dengan suara merendah, "Paman,
silakan duduk di atas bangku itu! Aku ingin menyampaikan sepatah dua patah
kata. Pastilah Paman salah paham terhadapku."


"Apalagi yang hendak kaubicarakan?" bentak Mustapa garang. "Terang-terangan
kamu telah mengurung kami seperti pesakitan. Apa artinya ini?" Suara
Mustapa terdengar gemetaran menahan amarah. Dan Sanjaya menyahut dengan
suara merendah dan luar biasa sabar,


"Maafkan aku. Sama sekali tidak ada maksudku mau menghina Paman atau
sengaja mengurung Paman sebagai pesakitan. Hati dan perasaanku pun tak enak
menyaksikan keadaan Paman. Karena itu dengarkan kata-kataku barang sebentar."


"Hm!" dengus Mustapa dengan mata melotot. "Kauboleh bergadang dan
mengelabui anak-anak ingusan, tapi jangan harapkan sesuatu dariku. Apa aku
tak mengenal sifat-sifat dan perangai orang-orang ningrat yang pandai
bermain pura-pura?"


Sanjaya mencoba meyakinkan, tapi setiap kali ia membuka mulut, Mustapa
selalu menyekatnya dengan dampratan-dampratan keras pedas. Namun Sanjaya
tak pernah memperlihatkan pandang menyesal atau mendongkol. Dia bahkan
tertawa manis luar biasa.


Nuraini rupanya mengetahui kesulitan Sanjaya, lalu dia menengahi, "Ayah!
Coba dengar dulu apa yang mau dikatakan."


"Hm!"


Sanjaya ternyata cerdik. Begitu mendengar suara Nuraini, lantas saja ia
berkata, "Biarlah disaksikan dia juga. Malam ini aku berkata, kalau aku
senang kepada puterimu."


Mendengar ucapan Sanjaya, Nuraini menundukkan kepala. Kedua pipinya memerah




jambu. Dan Titisari yang berada di dekat Sangaji mencubit siku si pemuda
sam-pai hampir terjingkat.


"Tapi mengapa kamu mengurung kami?" bentak Mustapa.


"Inilah yang mau kuterangkan," kata Sanjaya sabar. "Seperti Paman ketahui,
aku ini termasuk keluarga seorang pangeran yang mempunyai aturan-aturan
tertentu dalam kalangan rumah tangga. Jika orang mendengar kabar, kalau aku
akan memperisterikan seorang gadis yang kuketemukan di tengah jalan,
alangkah akan menghebohkan. Barangkali tidak hanya ayahku semata yang
marah, tetapi Sri Sultan pun akan ikut berbicara."


"Hm! Masa begitu?"


"Pernahkah Paman mendengar kisah seorang laki-laki dari Jepara bernama
Prana-citra? Pranacitra dulu adalah seorang penyabung ayam yang berhasil
memikat hati Rara Mendut, gadis pingitan Adipati Wiraguna. Dan apa
akibatnya? Mereka berdua kena bunuh dan raja tidak berusaha
menghalang-halangi perlakuan buruk itu."


"Baik. Lantas sekarang kau mau apa?" Mustapa mulai bersabar. Agaknya ia
dapat menerima alasan Sanjaya yang berbicara begitu wajar dan masuk akal.


Wajah Sanjaya berubah cerah. Mulailah dia berbicara lagi meyakinkan si
orang tua.


"Sekarang aku minta dengan sangat agar Paman berdiam beberapa hari dulu di
sini, sampai kami pulang ke Yogyakarta," katanya. "Seperti Paman ketahui,
tempat tinggalku di daerah Bumi Gede. Aku sendiri bernama Sanjaya. Beberapa
hari ini, kami semua berada di Pekalongan untuk menyelesaikan sesuatu
urusan negara. Begitu kami mendapat penyelesaian, segera kami berangkat
pulang. Paman akan kubawa serta. Apa ini bukan suatu rencana yang baik?
Sekalian Paman bisa merawat luka-luka Paman."


"Lantas?"


"Untuk sementara Paman akan kutempatkan di suatu dusun atau di sebuah rumah
pinggiran untuk beberapa bulan lamanya. Setelah orang-orang mengetahui,
Paman adalah termasuk keluarga baik-baik yang menetap di sebuah kampung,
aku kelak akan datang melamar. Dengan begitu, kita semua akan dapat
menghindarkan sesuatu kesan yang buruk."


Mustapa diam menimbang-nimbang. Dahinya berkerinyit dan mencoba mencari
kepu-tusan secermat-cermatnya. Sanjaya agaknya tahu menduga gejolak
benaknya. Ia kemudian berkata lagi, "Peristiwa ini, kalau dibiarkan liar
akan menyangkut kedudukan dan kehormatan ayahku. Seringkali aku menyalahi
ayahku, karena aku memang nakal. Ayahku pernah juga ditegur Sri Sultan dan
Gusti Patih. Maka kali ini, jika Sri Sultan mendengar warta tentang maksud
perkawinanku yang berkesan liar, pasti akan digagalkan. Karena itu, kupinta
dengan sangat agar Paman merahasiakan rencana dan perhubungan kita ini?"


Mendengar ucapan Sanjaya, Mustapa menegakkan kepala. Kembali ia bergusar.
Meledak.


"Eh, kamu berbicara menuruti pertimbangan dan kemauanmu sendiri. Sekiranya
kau telah mengawini anakku, apakah harus main bersembunyi selama hidupnya?"


"Jangan keburu nafsu dulu, Paman! Tadi telah kukatakan, aku akan melamar
gadismu setelah Paman menetap di suatu tempat tertentu. Mungkin pula, Ayah
akan mengatur cara pelamaran yang terhormat. Tapi, sementara ini,
perhubungan dan rencana kita harus dirahasiakan benar-benar. Jika sampai
bocor, akan gagallah semuanya ...


Wajah Mustapa berkerinyut.


"Telinga kiriku mau mendengar kata-katamu itu. Tapi yang kanan mana mau
percaya penuh semua keteranganmu. Aku ingin berbicara dengan ayah bundamu.
Kalau kau segan pada ayahmu, nah panggillah ibumu. Ini perkara perkawinan.
Perkawinan adalah suatu perkembangan hidup yang maha penting dan menentukan
bagi seorang perempuan."


Sanjaya tersenyum. Menjawab sabar, "Ibuku tak dapat kuganggu pada tengah
malam begini."


"Esok hari kan masih ada waktu?"


"Selama di Pekalongan ini, ibuku tak dapat diganggu. Dia sibuk melayani
ayah dan teta-mu-tetamu. Maafkan."


"Kalau begitu, enyahlah dari sini. Biar kamu berbicara melambung setinggi
langit tak bakal kudengarkan lagi," sahut Mustapa. la menyambar sebuah
mangkok dan dilemparkan ke atap hingga hancur berantakan.


Nuraini terkejut menyaksikan sikap ayahnya. Wajahnya berubah menjadi keruh.
Nampak sekali hatinya jadi berduka. Maklumlah, semenjak ia bertanding
melawan Pangeran Sanjaya, hatinya telah tertambat. Karena itu hatinya amat
bersyukur, ketika mendengar kata-kata Sanjaya yang berjanji hendak melamar
padanya dengan cara terhormat. Mendadak di luar dugaannya, ayahnya
mengambil sikap bermusuhan.


Sanjaya sendiri tak mempedulikan sikap garang Mustapa. Dengan merendahkan
diri ia memunguti pecahan mangkok dan dikumpulkan menjadi seonggok.


"Dengan sangat menyesal, terpaksa aku tak dapat menemani Paman lebih lama
lagi. Selamat malam."


Cepat ia mengundurkan diri dan berjalan . meninggalkan kamar, la tak
mempedulikan Mustapa dan Nuraini lagi.


Sangaji yang menyaksikan sikap Sanjaya, sibuk menimbang-nimbang. Pikirnya,
Sanjaya sudah berbicara terus-terang dan wajar. Sebagai seorang anak
ningrat dan hidup di dalam kalangan ningrat pasti mempunyai
kesulitan-kesulitan tertentu. Sayang, Mustapa tak mau mengerti. Maka ia
berkata dalam hati, baiklah kubujuknya dia ...


Mendapat pikiran demikian, segera ia hendak muncul dari persembunyiannya.
Tapi tiba-tiba Titisari menarik lengannya dan diajaknya keluar mengikuti
Sanjaya.


Di luar gedung Sanjaya memanggil dua orang penjaganya. "Apakah Ibu sudah
beradu?"


"Belum. Tadi kulihat beliau mondar-mandir di dalam kamar," jawab seorang di
antara mereka. "Barangkali menunggu nDoromas."


Dengan berdiam diri, Sanjaya berjalan mengarah ke sebuah gedung yang berada
di sisi gedung Kadipaten sebelah kanan. Sangaji dan Titisari terus
menguntit dengan diam-diam.


Sanjaya menolak daun pintu rumah dan masuk ke dalam kamar. Dengan cepat
pula Sangaji dan Titisari lari ke jendela dan mengintip dari sela-sela
jari-jari jendela. Mereka ingin melihat dan mendengarkan percakapan Sanjaya
dan ibunya.


"Bu!" mereka mendengar Sanjaya memanggil ibunya.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar