8.08.2019

@bende mataram@ Bagian 114

@bende mataram@
Bagian 114


"Tembang ini namanya Kinanti," tiba-tiba Titisari berkata. "Kamu mengenal
bunyi bait-baitnya, tidak?"


"Aku bisa mendengarkan jelas kalimat-kalimatnya, tetapi terus terang saja
aku kurang mengerti," sahut Sangaji. "Kamu seakan-akan lagi menceritakan
tentang seorang gadis anak raja Dwarawati yang lagi merindukan seorang
kesatria pegunungan bernama Irawan. Siapakah nama gadis itu?"


Titisari tertawa. Menjawab tak ragu, "Namanya Titisari." "Ah!"


"Benar! Kau boleh minta penjelasan kepada sembarang orang yang mengenal
cerita wayang. Puteri raja Dwarawati itu bernama Titisari. Dia kelak kawin
dengan seorang kesatria jantan yang lahir di pegunungan. Kesatria itu
bernama Bambang Irawan."


Sangaji diam menimbang-nimbang. Sekonyong-konyong saja, hatinya bergoncang.
Mau ia menduga, kesatria pegunungan yang bernama Bambang Irawan itu,
diumpamakan dirinya sendiri. Karena pikiran itu, wajahnya terasa menjadi
panas. Cepat-cepat ia melayangkan pandangnya ke arah laut untuk mengusir
kesan yang bukan-bukan.


Titisari sendiri waktu itu lagi bercerita.


"Menurut Ayah, cerita itu menggambarkan angan sejarah kemanusiaan, agar
orang tidak begitu membedakan antara golongan ningrat dan golongan rakyat
secara berlebih-lebihan. Lihatlah, meskipun Titisari itu puteri seorang
raja akhirnya dia kawin juga dengan seorang laki-laki dari pegunungan.
Lihatlah pula contohnya pahlawan kita Untung Surapati.




Meskipun ayah-bunda Gntung Surapati tak keruan asalnya, tapi dia bisa kawin
dengan puteri Patih Nerangkusuma Raden Ayu Gusik Kusuma."


Sangaji pernah mendengar sejarah pahlawan Gntung Surapati dari mulut Willem
Erbefeld. Karena itu hatinya cepat tertarik. Kesan hatinya yang bernada
yang bukan-bukan, lambat-laun tersapu bersih dari perbendaharaan rasanya.
Tetapi setelah mende-ngarkan cerita Titisari beberapa waktu lamanya,
teringatlah dia kepada Panembahan Tirtomoyo.


"Titisari! Belum pernah aku pergi melintasi Jawa Tengah. Kota Pekalongan
inipun belum kukenal sudut-sudutnya. Tentang cerita Bambang Irawan dan
Gntung Surapati, tak dapatkah kauceritakan di kemudian hari? Aku akan
mendengarkan perlahan-lahan agar meresap dan merasuk dalam darah dagingku.
Sekarang ini kita harus berdaya secepat mungkin untuk menemukan obat ramuan
buat Panembahan Tirtomoyo."


"Mengapa tergesa-gesa? Ayam pun belum tidur lelap," sahut Titisari tak
peduli. "Lebih baik kita menyewa sebuah perahu, lantas berlayar di atas
lautan menikmati angin laut dan cerah alam. Lihat, bulan bersinar cerah."


"Panembahan Tirtomoyo berkata, ia bisa tewas kalau aku tak berhasil
menemukan obat ramuan yang dikehendaki dalam waktu dua belas jam," Sangaji
mencoba menjelaskan.


"Tak usahlah kaucemas hati. Aku tanggung, kamu akan memperoleh obat itu."


Semenjak bertemu dan berkenalan dengan Titisari yang dulu menyamar sebagai
seorang pemuda, Sangaji sudah mengagumi kepandaian dan kecerdikannya.
Kecuali itu ia menaruh kepercayaan penuh padanya. Itulah sebabnya, begitu
ia mendengar Titisari berkata dengan sungguh-sungguh, hatinya menjadi lega.
Katanya dalam hati, aku percaya, dia pasti telah mendapat akal dan yakin
benar bisa mendapatkan obat untuk Panembahan Tirtomoyo."


Mendapat keyakinan demikian, lantas saja dia melayani si cantik yang manja.
Ternyata Titisari benar-benar mencari sampan untuk disewa dalam semalam
suntuk. Kemudian ia memasuki perkampungan memborong ikan-ikan laut bermacam
jenis.


Dengan gembira ia memasaknya di tengah laut sambil berbicara tiada
hentinya. Ia mengisahkan cara menggantung si Setan Kobar, Cekatik gelar
Simpit Ceker Bebek dan Maling. Juga diterangkan bagaimana akalnya, ia
mengganggu si Kartawirya ketika Sangaji sedang bertempur melawan Sanjaya.


"Bagus!" seru Sangaji gembira. "Kamu dapat mempermain-mainkan beberapa jago
begitu gampang."


"Apa susahnya mempermain-mainkan mereka. Mereka sebangsa jago-jago konyol
tidak berharga," sahut Titisari gembira. Tangannya lantas berserabutan
karena gembiranya.


Tak terasa bulan mulai condong ke barat. Hari telah melampaui larut malam.
Gelombang laut kian terasa kuat. Dengan acuh tak acuh arusnya datang
berdeburan melanda pantai. Tangan Titisari tiba-tiba bergerak dan
menggenggam tangan Sangaji erat-erat. Berkatalah dia setengah berbisik,
"Mulai malam ini, tidak ada yang kutakuti lagi..."


"Takut? Apa yang kautakuti?" Sangaji heran.


"Ayahku seorang laki-laki kejam dan bengis. Tak sudi dia kuikuti. Kamu
pasti mau kuikuti, bukan?"


"Tentu!" Sangaji menyahut cepat. Pandangnya sungguh-sungguh dan meyakinkan
orang. "Kamu tahu, hatiku begini gembira. Belum pernah aku mendapatkan
kegembiraan hati seperti sekarang ini..."


Mendengar ucapan Sangaji yang bernada sungguh-sungguh, puaslah hati
Titisari. Tanpa mempedulikan tukang perahu lagi, ia menyandarkan tubuhnya
ke dada Sangaji. Dan tangannya meremas kuat-kuat. Sangaji membiarkan
dirinya direbahi tubuh si gadis. Tapi tatkala ia mencium harum wewangian
dari rambut si gadis, hatinya mendadak jadi berdegupan. Ketika




tangannya kena diremas kuat-kuat, jantungnya berdenyutan. Tetapi ajaib!
Tanpa disadari sendiri, tangannya membalas meremas pula.


"Aji!" sekonyong-konyong Titisari berbisik. "Pernahkah kamu belajar
melintasi lautan?"


Sangaji teringat kepada nasibnya dua belas tahun yang lalu, ketika dipaksa
pergi berlayar bersama ibunya ke Jakarta dengan seorang laki-laki bernama
Kodrat. Dua tahun yang lalu, diapun pernah berlayar melintasi lautan menuju
Pulau Edam dengan Ki Tunjungbiru. Tetapi kalau dikatakan berpesiar,
tidaklah kena. Karena pengalaman melintasi lautan itu, terjadi dengan tak
dikehendaki diri.


"Dua kali aku pernah berlayar di tengah lautan, tetapi karena terpaksa."


"Jika begitu, kamu belum pernah merasakan indahnya lautan?" tukas Titisari.
"Apa sih indahnya lautan?" Sangaji minta keterangan.


"Seperti malam ini. Apakah hatimu tak merasa gembira?"


Ditanya demikian, Sangaji terkejut. Memang hatinya sedang bergembira.
Tetapi kalau dikatakan terjadi karena indahnya lautan, tidaklah kena. la
merasa gembira oleh sesuatu perasaan aneh yang belum pernah dialaminya.


"Hai, apa hatimu tak merasa gembira?" Titisari mengulang pertanyaannya lagi
sambil menegakkan tubuh.


Gugup Sangaji menjawab dengan anggukan kosong. "Aku gembira sekali.
Benar-benar gembira sampai terasa dalam dasar hati."


"Bagus! Itulah yang kuharapkan. Akupun bergembira pula. Hanya sayang, kita
akan berpisah dengan lautan ini yang membuat hati kita mendapat suatu
kegembiraan."


"Mengapa?" Sangaji terkejut. Ia mengira, Titisari hendak mengambil selamat
berpisah.


"Bukankah sebentar lagi kita harus mencari obat. Nah, kautahu sekarang ...
orang-orang tua kerapkali pandai mengganggu kegembiraan hati orang-orang muda."


Sangaji tersentak. Diingatkan perkara Panembahan Tirtomoyo, ia jadi girang
hati. Cepat ia menyahut, "Ah! Ke mana kita harus mencari obat ramuan itu?"


"Apa kamu mengira, orang-orang yang ada di kabupaten Pekalongan merampas
semua obat-obatan yang kaubutuhkan?"


"Kurasa begitu."


"Jika begitu, kita pergi ke kadipaten."


"Tak dapat kita pergi ke sana," tukas Sangaji cepat. "Kalau kita ke sana
samalah halnya ular mencari gebuk!"


"Habis? Apa kamu sampai hati membiarkan Panembahan Tirtomoyo cacat seumur
hidup? Bukankah dia yang berani mengorbankan nyawa untuk melindungi dirimu?
Jangan-jangan ...


luka itu bisa membahayakan nyawanya, sehingga kamu hanya akan menemukan
mayatnya belaka ..."


Tubuh Sangaji bergetaran. Jantungnya berdenyut. Semangatnya terbangun.
Dengan mata berkilatan ia berkata, "Aku akan pergi, meskipun harus
mengantarkan nyawaku. Tetapi kuharap kamu jangan turut serta."


"Jangan turut serta? Mengapa?"


Sangaji terdiam. Memang ia tak mendapat alasan untuk memperkuat
kata-katanya. Maka ia menatap wajah Titisari dengan pandang menebak-nebak.


"Aji!" kata Titisari. "Aku tahu, kenapa kamu melarang ikut serta. Tetapi
andaikata kau mendapat bencana, apa kau kira aku akan dapat hidup seorang
diri?"


Mendengar kata-kata si gadis, hati Sangaji jadi terharu.




Ingin ia memeluk karena girangnya. Gntung waktu itu Titisari berkata lagi,
"Aku kini memanggilmu Aji. Biarlah begitu. Kelak kalau perlu aku akan
memanggilmu dengan sebutan kakak atau kangmas. Bukankah usiamu lebih tua
dari padaku?"


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar