12.03.2019

@bende mataram@ Bagian 298

@bende mataram@
Bagian 298


Apakah ini bukan suatu anugerah? Yuyu Rumpung pernah merasakan hukum-an
Gagak Seta. Dengan sendirinya ia kenal pula, siapakah Adipati Surengpati.
Terhadap mereka berdua, hatinya yang biasanya sebe-sar bongkahan batu
mendadak saja meng-keret menjadi sekecil biji asam. Dialah yang bergerak
paling dulu hendak cepat-cepat meninggalkan benteng. Tapi baru saja
berge-rak dua langkah, dengan tiba-tiba Adipati Surengpati berdiri
menghalang di ambang pintu. Terpaksa ia menghentikan langkahnya dan berdiri
tegak tiada berkutik. "Iblis!" bentak Adipati Surengpati. "Telah kuberi
kalian ampun, kenapa belum ada yang bergerak? Apakah kamu menghendaki aku
membunuh kalian semua?" Yuyu Rumpung ketakutan sampai kakinya menggigil. Ia
mengerti bahaya. Karena itu, dengan suara parau ia mengajak kawan-kawannya.
"Adipati Surengpati telah memerintahkan kita semua meninggalkan benteng.
Apa lagi yang kalian tunggu? Hayo keluar!" Benar ia berteriak demikian,
tetapi kakinya belum juga melangkah. Karena sesungguhnya ia takut ngeloyor
seorang diri. Manyarsewu yang beradat berangasan pula, tak tahan
direndahkan Adipati Surengpati. Dengan memberanikan diri ia menerjang
sam-bil membentak, "Minggir!" Matanya melotot dan merah membara. Tapi
Adipati Surengpati tak memedulikan. Bahkan dengan suara dingin ia berkata,
"Kau mau mendesak aku minggir? Hm... jangan mimpi! Dengarkan! Siapa yang
menyayangi nyawa-nya, hendaklah merangkak keluar melalui
selakanganku!"(Kedua kakinya) Pendekar Abdulrasim, Sawungrana, Manyarsewu,
Yuyu Rumpung dan lain-lainnya saling memandang untuk minta pertimbangan.
Hati mereka mendongkol berbareng gusar. Manyarsewu lantas membentak. "Baik!
Kau memang hebat. Tapi masakan kau berani melawan kami beramai-ramai?"
Setelah membentak demikian, terus ia menubruk maju. Tetapi tahu-tahu,
tengkuknya kena cekuk. Tangan kirinya dipuntir ke punggung. Rekatak!
Lengannya patah sekaligus. Kemudian dengan enteng saja, Adipati Surengpati
meng-angkat tubuhnya dan dilemparkan ke ruang tengah dengan sikap dingin.
Sudah barang tentu Manyarsewu menjerit kesakitan. Namun Adipati Surengpati
tak memedulikan. Ia mendongak ke atap dengan sikap acuh tak acuh. Melihat
Manyarsewu kena dirobohkan begitu gampang mereka semua merasa ngeri. Mereka
adalah pendekar-pendekar undangan Pangeran Bumi Gede. Kesanggupannya
mele-bihi pendekar lumrah. Mereka merupakan momok hebat bagi rakyat jelata.
Meskipun demikian, kena pandang Adipati Surengpati, hatinya menggigil
ketakutan. Bulu romanya menggeridik. Dan entah apa sebabnya, tenaga
jasmaninya seperti punah. "Kamu sayang akan nyawamu tidak? Bi-lang!" bentak
Adipati Surengpati dengan bengis. Tiada seorangpun berani menjawab. Mereka
seolah-olah telah merasa apa artinya bentakan Adipati Surengpati kali ini.
Karena itu, tanpa mengindahkan kehormatan diri lagi Yuyu Rumpung terus saja
merangkak keluar melewati selangkangan Adipati Surengpati. Melihat
perbuatan Yuyu Rumpung, pendekar-pendekar lainnya tak berani pula
mem-bangkang. Seorang demi seorang lantas saja keluar dengan
merangkak-rangkak. Bahkan lambat-laun jadi saling berebutan. Abdulrasim
menolong membebaskan Cocak Hijau dari siksaan Adipati Surengpati. Kemudian
dengan menyeret Manyarsewu, Cocak Hijau memberosot pula dari selang-kangan
Adipati Surengpati dengan diikuti pendekar Abdulrasim. *** Begitu sampai di
luar, cepat-cepat mereka meninggalkan benteng. Dalam hati, mereka mengutuk
dan mengumpat. Mau tak mau, mereka harus mengakui bahwa nama besarnya
habislah sudah pada hari itu. Kegarangannya dan keangkerannya pudar
sekaligus tanpa tawar-menawar lagi. Adipati Surengpati tertawa mendongak ke
udara. Kemudian membentak pula kepada Surapati. "Kaupun tak segera keluar?"
Surapati tadi telah kena tangkap Manyarsewu. Ia belum dapat bergerak dengan
leluasa. Karena itu tak dapat pula merangkak ke luar. "Aku bukan termasuk
golongan mereka. Aku murid Ki Hajar Karangpandan yang mem-punyai tempat
sendiri dalam masyarakat," katanya berani. "Hm," dengus Adipati Surengpati.
"Apakah kau bosan hidup? Aku takkan mengha-langimu. Nah, keluar!" Surapati
adalah murid Ki Hajar Karang-pandan. Betapapun juga, ia mewarisi watak
gurunya. Ia tak sudi diperlakukan semacam para pendekar. Dengan menentang
pandang ia menyahut. "Kau dengar, aku murid Ki Hajar Karangpandan." "Kalau
kau murid Ki Hajar Karangpandan, lantas bagaimana?" potong Adipati
Surengpati. "Apakah kau lantas minta tempat istimewa?" Adipati Surengpati
tahu, bahwa sebagian tenaga Surapati belum pulih. Mendadak saja ia
mengibaskan tangannya. Suatu kesiur angin mendarat tajam pada pinggang
Surapati. Dan sebelum pemuda itu sadar apa artinya, tenaganya telah pulih
kembali. Serentak ia bangun berdiri dan memandang tajam kepada Adipati
Surengpati. Katanya ketus, "Kau memang hebat. Tapi jangan mimpi kau bisa
menggertak murid Ki Hajar Karangpandan!" "Hm, apa sih hebatnya Ki Hajar
Karang-pandan," dengus Adipati Surengpati tak senang, la menjumput sebatang
galah sepan-jang satu kaki, lalu dilemparkan acuh tak acuh kepada Surapati.
Cara melemparnya nampaknya enteng dan sederhana. Tapi kesudahannya hebat.
Pemuda itu dengan mengerahkan segenap tenaganya mencoba menangkis. Namun ia
kena tolak juga. Belum lagi memperbaiki diri, tahu-tahu giginya copot dua
biji. Sudah barang tentu, sakitnya bukan alang kepalang. Mulutnya lantas
saja menyem-burkan segumpal darah. "Akulah Adipati Surengpati yang kau
harap memperlihatkan tampangnya. Inilah tam-pangku. Kau mau apa sekarang?"
kata Adipati Surengpati. Surapati terkejut dan tercekat hatinya. Menilik
bunyi perkataannya, terang sekali Adipati Surengpati telah mendengar
ucapan-nya tadi. Gusti Ayu Retnaningsih—meskipun pernah bentrok dengan
pemuda itu—kebat-kebit juga hatinya, mengingat sepak-terjang Adipati
Surengpati yang luar biasa. Fatimah pun tak terkecuali. Pikirnya dalam
hati, pemuda ini bisa celaka menghadapi dia. Rupanya Adipati Surengpati
mendengar belaka semua ucapannya yang takabur. Entah hukuman apa yang bakal
dijatuhkan... Surapati meraba pipinya. "Tiap orang memang kenal nama
besarmu. Tetapi apa sebab tingkah lakumu bergitu kerdil? Kau hanya berani
menggertak seorang tak berarti seperti aku." Surapati memang mempunyai
keberanian di luar dugaan orang. Dahulu—tatkala meng-hadapi Wirapati dan
Jaga Saradenta di Jakarta—ia berani pula mendamprat dan bersikap angkuh.
Meskipun akhirnya ia kena dijungkirbalikkan, namun keberaniannya patut
dipuji pula. Kali ini ia menghadapi Adipati Surengpati. Keberaniannya
melawan berbicara tak kurang pula. Tetapi Adipati Surengpati lain daripada
Wirapati dan Jaga Saradenta yang bisa mengampuni kesalahan seseorang. Tokoh
sakti itu luar biasa bengis dan senang menuruti kemauannya sendiri tanpa
mempertimbangkan pendapat orang lain. Ia bisa membunuh seseorang tanpa
berkedip. Tetapi kali ini, ia mempunyai kesan luar biasa terhadap Surapati.
Mendadak saja ia bisa menghargai dan sayang kepadanya. Teringatlah kepada
masa mudanya sendiri yang juga tak kenal takut dan bandel. Maka ia mencoba,
"Bagus! Kau berani mencela aku. Coba kalau kau berani, makilah aku!"
Setelah berkata demikian, ia maju menghampiri. Surapati nekad. Ia tak
mengerti ancaman. Dengan membusungkan diri ia meledak. "Aku kau suruh
memakimu? Baik, dengarkan! Kau iblis! Kau setan! Kau siluman!" Pada dewasa
itu, pangkat adipati bukanlah pangkat sembarangan. Pangkat itu hanya bisa
dikenakan oleh kaum bangsawan. Barang-siapa bertemu dengan seorang adipati,
harus cepat-cepat bersembah. Bahasanya harus rapi apabila harus menjawab
sesuatu pertanyaan. Sedikit terdengar kekasarannya, segera akan dikenakan
hukuman. Karena dia akan dipandang memusuhi sang adipati. Tapi kali ini,
Surapati tidak hanya berlaku kasar malahan berani memaki pula. Bisa
dibayangkan betapa hebat hukuman yang akan diterimanya. Di luar dugaan
Adipati Surengpati bahkan tertawa terbahak-bahak. Memang watak Adipati
Surengpati lain daripada manusia lumrah. Ia adalah seorang bangsawan yang
tiada kokoh memegang tata pergaulan. Pandangan hidupnya senantiasa
bertentangan dengan pandangan hidup yang wajar. Kalau seseorang berkata
ya—dia malah berpendapat sebaliknya. Seseorang memuji sesuatu, ia bahkan
memakinya. Karena itu, begitu kena maki Surapati, kesan hatinya justru
sebaliknya. Ia menjadi senang dan gembira sampai tubuhnya
bergoncang-goncang. Katanya riuh, "Bagus! Bagus! Kau bersemangat. Hatimu
jantan bagai banteng terluka. Memang aku iblis! Setan dan siluman! Maka
tepatlah makianmu. Tingkatan gurumu masih jauh berada di bawahku, karena
itu betapa bisa aku melayani tampangmu. Nah, kau pergilah!" Sambil berkata
demikian, Adipati Surengpati mengulur sebelah tangannya dan dengan
kecepatan luar biasa, ia menerkam dada Surapati. Kemudian dengan sekali
hen-tak, ia melemparkan pemuda itu keluar pintu. Surapati kena terkam tanpa
berdaya. Tahu-tahu, tubuhnya melayang ke udara. Ia kaget setengah mati. Mau
ia percaya, bahwa dia bakal jatuh berjungkir balik di atas tanah.
Kesudahannya di luar dugaan. Ia jatuh dengan tetap berdiri tegak, seperti
kena tangkap. Kemudian diturunkan dengan perlahan-lahan ke tanah. Murid Ki
Hajar Karangpandan itu heran sampai terlongong-longong. Akhirnya bergumam,
"Sungguh berbahaya manusia itu..." Sekarang—meskipun ia mempunyai
keberanian—tak berani lagi mencaci-maki Adipati Surengpati. Ternyata
kepandaian siluman dari Karimun Jawa itu bagai dewa sakti dari khayangan.
Maka dengan mendekap pipinya yang bengkak, pengap ia memutar tubuh dan
berjalan dengan meninggalkan benteng. Gusti Ayu Retnaningsih segera
menya-rungkan cundriknya.


Bersambung


Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar