12.02.2019

@bende mataram@ Bagian 297

@bende mataram@
Bagian 297


BENAR-BENAR Adipati Surengpati muncul di dalam benteng dengan jubahnya
abu-abu. Seperti biasa, wajahnya mengenakan topeng mayat yang terbuat dari
kulit manusia. Dia berdiri tegak di ambang pintu bagai Dewa Yama hendak
menyebarkan maut. Tiada seorangpun yang mengatahui, kapan dia tiba. Dan
tiada seorangpun yang mendengar gerak langkahnya. Ia muncul dengan
tiba-tiba seolah-olah memiliki ilmu siluman. Meskipun topengnya tak
bertaring, tetapi hebat perbawanya. Pandangnya beku dan menyayat hati. Ia
tegak bagaikan patung, sehingga tak seorangpun berani mengadu pandang.
"Nona! Kau siapa memanggil-manggil anak Surengpati untuk minta
pertolongan?" katanya kepada Fatimah. Ia harus mendengar gadis ini
menyebut-nyebut namanya. Agaknya gadis itu pernah mengenal anaknya. Seperti
diketahui, Gagak Seta meninggalkan benteng untuk mencoba memanggilnya.
Tetapi mencari di mana Adipati Surengpati berada samalah sukarnya dengan
menjaring angin. Tetapi Gagak Seta kenal akan tabiat dan sepak terjang
rekannya itu. Segera ia menggurat tulisan sandi pada suatu tempat tertentu,
kemudian meneruskan perjalanan menye-berangi laut Jawa hendak mendarat di
Kari-mun Jawa. Pada saat itu, Adipati Surengpati belum bermaksud pulang ke
pulaunya. Ia mempunyai kebiasaan lewat di tempat-tempat tertentu yang biasa
disinggahi manakala sedang mengadakan perjalanan. Maka dengan demikian, ia
bisa membaca pesan Gagak Seta. Terus saja ia mencari benteng kuno yang
disebutkan, la datang, sewaktu Cocak Hijau me-rabu Surapati, Fatimah dan
Gusti Ayu Retna-ningsih. Ia menyaksikan pula, betapa muda-mudi itu saling
bertengkar dan akhirnya mengadu kepandaian. Dan apabila mereka bertiga
berada dalam bahaya menghadapi pendekar-pendekar undangan Pangeran Bumi
Gede, terus saja ia muncul dan berdiri tegak di ambang pintu. Fatimah heran
melihat tibanya Adipati Surengpati. Ia belum pernah berjumpa atau mengenal
nama besarnya. Karena itu tak segera ia menjawab. Maklumlah, hatinya penuh
curiga. Meskipun ia melihat para pendekar terkejut juga melihat
kedatangannya, siapa tahu dia justru pemimpinnya. "Nona! Jawablah
pertanyaanku ini," Adipati Surengpati menegas. "Kulihat kau pandai
bertempur. Siapa gurumu?" Fatimah penuh kebimbangan, tapi ia menggelengkan
kepala. Tatkala pandangnya bertemu dengan topeng Adipati Surengpati, hati
kanak-kanaknya mulai tergerak. Mendadak saja timbullah wataknya yang
angin-anginan. Terus saja ia menghampiri sambil tertawa geli. "Apa-apaan
ini? Masakan pada siang hari bolong begini, kau masih tetap menjadi hantu?"
Adipati Surengpati mengerutkan keningnya, ia berpikir sejenak. Tadi ia
melihat cara Fatimah melayani lawannya. Sebagai seorang pendekar besar,
dengan segera ia mengenal ilmu gadis itu. Itulah ilmu perguruan Gunung
Damar. Hanya, jurus-jurusnya kacau dan tak teratur. Tahulah dia, bahwa
gadis itu belajar dengan sembarangan saja. Melihat begitu, ia jadi teringat
kepada puterinya sendiri yang di-sayangi. Titisari pun enggan pula menekuni
ilmu kepadanya yang hendak diwariskan dengan teratur. Teringat akan
puterinya, ia jadi sayang kepada Fatimah. Timbullah keputus-annya hendak
membela gadis itu. "Eh... anak!" katanya. "... hidungmu berdarah karena
kena diserang babi bang-kotan itu. Apa sebab engkau tak membalas?" "Aku tak
mampu melawan dia. Apalagi membalas," sahut Fatimah sambil mengusap
darahnya. "Siapa bilang kau tak mampu membalas," potong Adipati Surengpati
cepat. "Kaudekati dan hajarlah seperti caranya. Kau dipukul sekali dan
engkau harus membalas sepuluh kali. Itulah utang-piutang wajar dengan
bu-nganya sekali." Dasar watak Fatimah angin-anginan, ia senang mendengar
ucapan Adipati Surengpati yang bernada liar. Lantas saja ia tertawa senang.
Serunya girang, "Bagus!" Ia menghampiri Cocak Hijau dan melototkan matanya.
Tanpa mempertimbangkan lagi bahwa dia bukan tandingan pendekar itu, terus
saja ia menggaplok mengarah hidung. Tentu saja Cocak Hijau bukanlah sebuah
boneka. Ia seorang pendekar yang beradat berangasan bengis dan percaya
kepada kepandaiannya sendiri. Maka itu, begitu melihat berkelebatnya tangan
Fatimah dengan cepat ia hendak menangkis berbareng menyerang. Tetapi ia
terkejut setengah mati. Belum lagi ia menggerakkan tangannya, lengannya
mendadak kehilangan tenaga. Ketiaknya terasa menjadi nyeri dan kejang tanpa
dimengerti sendiri. Karena itu tangan Fatimah terus melayang menyambar
hidungnya tanpa rintangan lagi. Bluk! Ia kaget berbareng kesakitan. "Inilah
yang kedua!" seru Fatimah gembira. Panas hati Cocak Hijau kena gaplokan itu
tanpa dapat menangkis. Segera ia memasang kuda-kudanya. Tangan kirinya
ditarik untuk melindungi dada. Apabila tangan Fatimah hendak menyambar
hidungnya lagi, ia hendak menyodok dari bawah. Tapi kali inipun ia tak
berdaya juga. Sewaktu tangan kirinya hendak dibenturkan, kembali ketiaknya
terasa kena tusuk dengan mendadak. Lalu lengannya lemas dengan sendirinya
dan melayang turun tanpa tenaga. Karena itu, untuk yang kedua kalinya
Fatimah berhasil menggaplok hi-dungnya. Bahkan kali ini gaplokannya jauh
lebih hebat daripada tadi. Bluk! Tubuhnya ter-goyang-goyang dan nyaris
terjengkang ke belakang. Selagi Cocak Hijau kaget dan kesakitan berbareng
heran, semua yang hadir di situ tak kurang-kurang pula herannya.
Manyarsewu, Yuyu Rumpung, Abdulrasim dan Sawungrana adalah
pendekar-pendekar yang mahir pula menggunakan senjata rahasia dalam suatu
pertempuran jarak jauh. Karena itu, pendengarannya tajam melebihi manusia
lumrah. Mereka mendengar suara kesiur angin halus luar biasa, setiap kali
Cocak Hijau hendak menggerakkan tangannya. Mereka tahu, pastilah itu suara
senjata rahasia Adipati Surengpati. Hanya saja mereka tak mengenal macam
senjata rahasia apa yang dipergu-nakan. Biasanya seseorang akan mati
kera-cunan kena sambitan senjata rahasia. Tapi Cocak Hijau hanya mati kutu
belaka. Inilah suatu bukti, bahwa senjata rahasia Adipati Surengpati adalah
lain daripada biasanya. Tentu saja mereka tak mengenal senjata rahasia
Adipati Surengpati. Karena senjata rahasia Adipati Surengpati berwujud
jarum halus yang dilepaskan dari balik lengan jubahnya. Siapa dapat
mengelakkan serangan begini? "Yang ketiga!" terdengar Fatimah berseru lagi.
Cocak Hijau terkejut. Karena kedua tangan-nya kini terasa menjadi lumpuh,
sedangkan ia tak sudi menerima bogem mentah tanpa dapat menangkis, maka ia
bermaksud hendak me-loncat mundur. Tapi baru saja ia hendak mengangkat
kaki, tiba-tiba urat-uratnya menjadi kejang. Dan kedua kakinya mati kaku.
Itulah sebabnya ia kaget setengah mati. Maka tahulah dia, bahwa pukulan
Fatimah yang ketiga inipun tak dapat dielakkan. Hatinya mendongkol dan
ingin menjerit tinggi. Tetapi kalau sampai menjerit, habislah sudah nama
besarnya. Karena itu, buru-buru ia menguasai diri. Tapi justru ia berbuat
demikian, air matanya sekonyong-konyong hendak meloncat ke luar. Bagi
seorang pendekar, mengeluarkan air mata merupakan pantangan besar pula.
Celakalah dia! Karena menahan rasa mendongkol dan sakit hati, air matanya
akhirnya merembes juga ke luar. Gugup ia hendak mencoba menyusutnya. Tapi
kedua lengannya telah kehilangan tenaga gerak. Karena itu akhirnya air
matanya bercucuran membasahi kedua pipinya. Fatimah berwatak angin-anginan,
namun sebenarnya, hatinya penuh rasa iba, pemurah dan perasa. Begitu
melihat Cocak Hijau men-cucurkan air mata, ia membatalkan gaplokan-nya yang
ketiga. Lalu berkata lembut. "Sudahlah, jangan menangis! Aku takkan
menghajarmu lagi. Dua kali sudahlah cukup...!" Suara lembut itu bahkan
lebih hebat menyayat hati daripada gaplokan betapa keraspun. Maklumlah, dia
adalah seorang pendekar besar yang mempunyai nama. Sepak terjangnya
disegani, dihormati dan ditakuti orang. Kini, terang-terangan dihina
seorang gadis kemarin sore di hadapan para pendekar undangan Pangeran Bumi
Gede. Hati siapa takkan hancur menghadapi peristiwa demi-kian. Mendadak
saja tubuhnya menggigil dan bergoyang-goyang. Terus saja ia berbatuk-batuk
menyemburkan gumpalan-gumpalan ludah dan liur jantung. Lalu ia menoleh
kepada Adipati Surengpati dengan mata membelalak. Membentak, "Tuan!
Siapakah engkau sebenarnya? Secara menggelap engkau melukai aku. Apakah itu
seorang pendekar?" Adipati Surengpati tertawa dingin. Menyahut, "Hm...
apakah kau cukup berharga untuk mengetahui namaku? Kau ini macam manusia
apakah sampai berani berbicara demikian kepadaku?" Dengan wajahnya yang
menakutkan, Adipati Surengpati menyiratkan pandang kepada sekalian
pendekar. Tiba-tiba memben-tak. "Semua saja, menggelinding ke luar!" Mereka
tadi mendengar belaka percakapan antara Adipati Surengpati dan Fatimah.
Karena itu, meskipun Adipati Surengpati tak sudi memperkenalkan namanya,
mereka semua tahu siapa dia sebenarnya. Mereka semua tahu dan kenal sepak
terjang Adipati Surengpati yang bengis kejam dan tak mengenal ampun. Itulah
sebabnya, walaupun perintah itu mengejutkan tetapi hati mereka lega juga.
Maklumlah, untuk mengangkat kaki dengan diam-diam, mereka merasa malu.
Sebaliknya hendak melawan apakah bekal-nya? Karena itu, semenjak tadi
mereka ber-sikap diam. Kini mendengar perintah terang-terangan agar
meninggalkan benteng. Ini berarti, bahwa Adipati Surengpati mengampuni mereka.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar