7.21.2019

@bende mataram@ Bagian 90

@bende mataram@
Bagian 90


"Apakah Tuan Muda bukan penduduk kota Tegal?" dia bertanya kepada Sangaji.
"Aku datang dari Cirebon, Pak. Karena terlalu malam, aku tak mendapat
penginapan." "Tuan Muda mau ke mana?"


"Ke Pekalongan."


"Eh, sejalan dengan kami pula," kata laki-laki itu sambil memberi tempat
kepada gadis-nya. Lalu dia tak berkata-kata lagi. Agaknya da terlalu capai
dan sudah biasa hidup dalam perantauan. Itulah sebabnya, dia gampang tidur
di mana saja dia berada. Lain halnya dengan Sangaji. meskipun dia pernah
mengalami tidur di teritisan pada masa kanak-kanaknya, aetapi nasibnya
kemudian sudah berubah baik. Kecuali itu, ingatannya diamuk oleh
kenangan-ya sendiri semasa kanak-kanak yang begitu pahit. Maka hampir satu
malam penuh, tak dapat ia memicingkan mata barang seben-tarpun.


Sebelum fajar menyingsing, diam-diam ia meninggalkan teritisan. Laki-laki
berkaki bun-ting dengan gadisnya masih saja tidur dengan naknya. Ia terus
berjalan mengarah matahari terbit. Kira-kira menjelang sore hari, sampailah
da di Pekalongan. Di kota ini, ia mendapat tumah penginapan. Semalam penuh
ia tidur menebus rasa lelahnya.


Pada keesokan harinya, ia terbangun karena etukan lembut. Segera ia membuka
pintu dan i lihatnya, pelayan rumah penginapan berdiri dengan hormat di
depannya. Kata pelayan itu, "Semalam ada seorang pemuda yang tak mau
menyebutkan diri menanyakan tentang ke-adaan Tuan. Dia titip pesan kepada
kami, apa Tuan sudah membuka lipatan kertas?"


Mendengar ujar pelayan rumah penginapan, Sangaji kaget seperti tersengat
lebah. Baru dia ingat pada kertas lipatan yang diberikan kawan barunya.
Menduga kalau orang yang datang ke rumah penginapan adalah pemuda itu,
girangnya bukan kepalang. Gntung buat si pelayan, ia mendapat persen tak
terduga-duga. Keruan dia bergembira sampai tak bisa berbicara.


"Apa dia datang?" seru Sangaji gembira. Pelayan itu cuma bisa mengangguk.


"Di mana dia sekarang?" Sangaji menegas. "Dia lantas pergi."


"Kapan?"


"Semalam."


Sangaji kecewa. Tetapi ia yakin, kalau kawannya itu masih berada di dalam
kota. Maka cepat-cepat ia merapikan pakaiannya. Kemudian lari ke kamar mandi.


Pekalongan ternyata bukan kota kecil. Banyak pula gedung-gedung Tionghoa
berdiri dengan megahnya. Selain itu, gedung-gedung pemerintahan banyak yang
mentereng pula. Pantas setengah abad yang lalu pernah meletus pemberontakan
hebat di kota ini, pikir Sangaji.


Sangaji terus berjalan-jalan tanpa tujuan. Ia memutuskan mau berusaha
mencari kawannya. Selain itu, siapa tahu kedua gurunya sudah tiba juga di
kota ini. Bukanlah menurut tutur-kata mereka akan datang ke Pekalongan
intuk menyelidiki suatu perserikatan yang mencurigakan?


Kira-kira pukul sepuluh, Sangaji memasuki sebuah restoran kecil. Sesudah
itu ia bersiap untuk




berangkat lagi. Mendadak tak jauh dari restoran itu, terlihatlah suatu
lapangan penuh kerumunan orang. Sebagai seorang yang datang dari jauh,
cepatlah dia tertarik. Ia mengira suatu tontonan rakyat. Mungkin lenong
Jawa Barat, mungkin pula kentrung Pesantren atau tontonan khas dari daerah
Pekalongan.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar