@bende mataram@
Bagian 88
"Dia kuda jempolan," katanya memuji sambil melompat-lompat girang. Sejurus
kemudi-an, dia diam seperti lagi berpikir. Berkata hati-hati, "Kak! Apa aku
boleh minta sesuatu da-rimu?"
"Tentu!" sahut Sangaji cepat. "Katakan! Kalau aku bisa melakukan, tentu
akan kuker-jakan." "Sebenarnya aku senang juga pada si Willem. Apa boleh
kuminta?"
"Kamu senang benar? Baik, akan kuhadiah-kan si Willem kepadamu," sahut
Sangaji pula.
Si pemuda itu terperanjat. Sebenarnya dia hanya main-main belaka. Bukankah
dia baru berkenalan? la sudah dapat memastikan, kalau Sangaji akan menolak
permintaannya. Tak tahunya —di luar dugaan—Sangaji meluluskan
permintaannya. Hebat pengaruh kerelaan Sangaji melepaskan kudanya. Si
pemuda kumal itu mendapat kesan bersimpang-siur. Hatinya bercampur keharuan
mendalam. Dia adalah seorang pemuda yang menurut keterangannya, tiada
beribu lagi. la merasa tak dikehendaki juga oleh ayahnya. Itulah sebabnya,
begitu menerima rasa kasih-sayang dari Sangaji, seketika itu juga air
matanya mengalir, la menangis sedih sampai membungkuk-bungkuk di pinggir
jalan. Keruan saja, Sangaji yang tidak merasa berbuat sesuatu yang aneh,
jadi kebingungan. Segera ia meraih dan minta penjelasan mengapa dia menangis.
"Apakah kamu sakit?" tanyanya.
Si pemuda menggeleng-gelengkan kepala. Tapi ia terus mendekam
menyembunyikan mukanya.
"Adik! Apa yang salah?" Sangaji minta penjelasan lagi. Memang ia pantas
memanggil si pemuda adik, karena usianya jelas lebih muda daripadanya.
Perlahan-lahan, si pemuda kumal mengangkat kepalanya. Kemudian menoleh dan
mengamat-amati Sangaji. Pandangnya penuh haru dan rasa terima kasih.
Sebaliknya Sangaji merasa tak berbuat sesuatu. Kini malahan
keheran-heranan, ketika melihat warna pipi si pemuda kumal yang
kehitam-hitaman luntur sedikit. Di balik warna kulit yang kehitam-hita-man,
tersembullah kulit muka lagi yang berwarna kuning langsat.
Apa dia menderita sakit, sampai menjadi pucat? Sangaji sibuk menduga-duga.
Menda-pat dugaan demikian, cepat ia memapah si pemuda kumal dan diletakkan
di atas pelana si Willem.
"Terima kasih," bisik si pemuda kumal. "Aku akan meneruskan perantauanku."
Sangaji mengangguk sambil menepuk paha si Willem. Ia berkata kepada
kudanya: "Willem! Dia adalah sahabatku, tak beda dengan diriku sendiri.
Lindungilah dia dan bawalah dia ke tempat tujuannya. Nah, pergilah!"
Willem lantas saja lari berderap. Sangaji mengikuti dengan pandangnya
sampai makin lama makin menjauh. Tiba-tiba ia melihat Willem berhenti
beberapa waktu. Kemudian berputar
kembali dan datang berbalik.
"Apa ada yang ketinggalan?" Sangaji menyambut.
Si pemuda kumal menggeleng. Tangannya melambai. Maka Sangaji menghampiri.
"Kak, apa aku boleh mengenal namamu?" ujar si Pemuda.
"Ah!" Sangaji terperanjat. Baru kini sadar, kalau selama berkumpul dan
berbicara, masing-masing belum memperkenalkan namanya. Maka serentak ia
menjawab, "Aku bernama Sangaji. Kamu siapa?"
Si pemuda kumal tak menyahut. Dia hanya mengulurkan sehelai kertas yang
dilipat. Katanya memesan, "Bukalah, setelah dua hari dua malam. Kamu akan
mengenal namaku."
Sangaji menerima lipatan kertas itu dengan berdiam diri. Setelah si pemuda
pergi, dia meneruskan berjalan mencari penginapan. Ia tidak keluar dari
kamarnya sampai malam tiba dengan diam-diam. Pengalamannya sehari tadi
alangkah banyak dan menyenangkan. Tapi tatkala ia mau memadamkan lampu
untuk terus tidur, tiba-tiba pintu kamar didobrak orang. Belum lagi dia
menyapa, muncullah lima orang pemuda berpakaian putih di depannya. Itulah
anak buah sang Dewaresi yang masih penasaran, karena kawannya seorang kena
dirobohkan.
Perawakan kelima pemuda hampir sama. Hanya tiga orang yang nampak menyolok.
Yang pertama, berperawakan paling kokoh. Mukanya hitam dan berkumis tebal
teratur.
Matanya bulat seperti gundu. Yang kedua, tinggi jangkung. Mukanya bopeng
dan mulutnya selalu mengulum senyum mengejek. Orang ini lantas saja
melompat ke atas tempat tidur dengan menghunus golok. Nampaknya ia
berangasan dan ditugaskan memegat Sangaji di atas pembaringan, siapa tahu
Sangaji menyimpan senjata rahasia di bawah bantal. Dan yang ketiga
berperawakan gendut. Perutnya buncit. Mulutnya lebar. Telinganya persegi.
Melihat mereka menerobos masuk. Sangaji terperanjat. Apalagi dia telah
dapat menebak siapa mereka. Segera ia mundur ke sudut menjaga kemungkinan.
Si kurus bopeng yang berada di atas pembaringan, lalu berkata nyaring, "Kau
baru tahu kami sekarang, bukan? Hai lebarkan lobang telingamu dan
dengarkan. Kami semua anak buah sang Dewaresi, berasal dari Banyumas. Kau
tahu, siapakah sang Dewaresi? Meskipun bukan Adipati maupun Bupati, tapi
beliau merajai seluruh daerah Banyumas. Biar bupati Banyumas sendiri,
membungkuk sepuluh kali dulu sebelum berbicara. Dan sekarang, siapa dia
yang berdiri tepat di depanmu?"
Sangaji mengarah kepada orang yang berperawakan paling kokoh dan berkumis
tebal teratur. Terdengar si kurus bopeng memperkenalkan, "Dialah pemimpin
rombongan kami. Namanya Kartawirya berasal dari Tasikmalaya. Orang Banyumas
memberi julukan padanya, Singalodra. Dan dia yang gemuk itu bernama Cekatik
gelar Simpit Ceker Bebek. Sebab biarpun gendut, dia bisa berenang
menyeberangi Nusakambangan seperti itik. Yang dua itu Kasun dan Maling. Aku
sendiri diberi julukan Setan Kobar, sebenarnya nama kanak-kanakku Bagus
Irawan ..."
Mendengar si kurus bopeng menyebut dirinya Setan Kobar, Sangaji bisa
menerima. Memang rupanya mirip setan seumpama di dunia ini benar-benar ada
setan. Tapi tatkala memperkenalkan nama kanak-kanaknya sebagai Bagus
Irawan, itulah yang tak cocok sama sekali. Bagaimana si kurus jangkung lagi
bermuka bopeng, bisa mempunyai nama Bagus. Diam-diam, ia tertawa geli dalam
hati. Tapi mulutnya membungkam dan kewaspadaannya tiada kurang.
"Sebenarnya apa maksud kalian kemari?" dampratnya.
Si Setan Kobar tertawa meriah memekakkan telinga. Lalu menjawab, "Kami anak
buah sang Dewaresi tak biasa dihina orang. Lagi pula tak pernah kami
memberi hutang piutang. Tapi kalau toh ada orang hutang satu, harus
membayar satu pula. Kontan dan pakai bunga. Nah, dengarkan apa kata
pemimpin rombongan kami!"
Sangaji pernah mendengar nama Kartawirya dari keterangan gurunya Wirapati.
Dialah yang memberi tanda udara dan mengincar kantong uangnya. Pikirnya,
orang ini tentu bukan orang sembarangan. Melawan dia seorang, belum tentu
aku menang. Sekarang di sini ada lima orang. Baiklah, aku berlaku
bijaksana. Memikir demikian ia melirik ke jendela. Tapi si Setan Kobar
benar-benar awas seperti setan. Dia tahu maksud Sangaji, lalu mendamprat
sambil tertawa meriah. "Jangan kau berpikir bisa lari meloncat jendela!
Baiklah dengarkan kata sang Singalodra akan berbicara, supaya kupingmu
tidak kehilangan sepatah katanya."
Sangaji sadar, dia benar-benar terkurung rapat. Berbicara dalam hal
pengalaman, mana bisa dia mengatasi "mereka. Maka mau tak mau ia terpaksa
mendengarkan dampratan si kurus bopeng.
"Bocah" kata Kartawirya garang. "Tak biasa aku menagih hutang seorang
bocah. Lagipula, mana bisa aku menerima pembayaran tanpa bunga. Sekarang
jawablah! Di mana gurumu?"
"Guruku tidak di sini? Kalau ada, masa membiarkan aku kalian kurung?"
Jawaban Sangaji tepat dan masuk akal. Maka Kartawirya nampak terperanjat
dan kecewa. Katanya, "Ah! Kalau begitu, kuberi kau kesempatan untuk
bernapas malam ini. Esok pagi, kau harus datang menemuiku di perbatasan
Cirebon sebelah timur bersama gurumu. Dengan begitu, kau bisa membayar
hutang sebagaimana mestinya. Aku akan menunggu."
Setelah berkata demikian, Kartawirya keluar dari kamar sambil memberi
perintah: "Kita pergi! Tutup pintu!"
Mereka semua keluar dari kamar. Si kurus bopeng melompat turun dari atas
pem-baringan. Lalu ia menutup pintu kamar dengan gerakan menghentak. Tentu
saja, pintu ter-banting keras sampai berbunyi berbeletokan.
Sangaji mendengar mereka menggerendel ointu. Kemudian ia memadamkan pelita
dan duduk di tepi pembaringan. Lantas ia mengintip keluar dari sela-sela
jendela, dilihatnya kamar terjaga rapat. Nampak si Setan Kobar, Cekatik
gelar Simpit Ceker Bebek berjalan mondar-mandir bersama Kasun dan Maling.
Kira-kira seperempat jam lagi, Sangaji mendengar suara gemerisik di atas
genting. Lalu terdengarlah bentakan si kurus bopeng, "Hai bocah! Jangan
kaukira bisa kabur!"
Sangaji heran. Siapakah yang dimaksudkan si kurus bopeng. Dia sendiri
berada di dalam kamar. Dengan menahan napas, ia benar-benar mengintip,
mereka kelihatan sibuk. Si kurus bopeng dan Cekatik gelar Simpit Ceker
Bebek memasuki alam gelap seakan-akan bergerak mengejar sesuatu. "Kita
berdua tetap di sini," bisik Kasun kepada Maling.
"Mengapa tidak membantu?" bantah Maling.
"Mereka pasti bisa menangkap dia. Apa perlu kita ribut-ribut?"
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar