@bende mataram@
Bagian 87
"Buktinya, aku sampai ke mari. Tapi ayahku mana mencariku?"
Sangaji bertambah heran. Lantas saja tahu, kalau si pemuda itu biasa
dimanjakan ayah-nya. "Ibumu kan rindu padamu?"
"Ibuku sudah lama meninggal dunia. Kata Ayah, semenjak aku belum pandai
me-rangkak-rangkak."
Sangaji jadi terharu. Sekarang ia yakin benar, kalau si pemuda itu bukan
Sanjaya.
"Apa ibu sambungan tak mengurusmu, sampai ayahmu tak menghendaki kamu
pu-lang?" ia mencoba mencari kejelasan.
"Mana berani Ayah mengambil isteri baru? Kalau berani mencoba, dia akan
kuracun." "Siapa yang kau racun?"
"Isterinya," sahut si pemuda tanpa ragu-ragu. Melihat lagak-lagunya,
Sangaji percaya kalau si
pemuda itu akan melakukan apa yang telah diucapkan. Diam-diam ia merasa
diri bernasib lebih baik dari si pemuda. Itulah sebabnya pula, ia bertambah
berkasihan kepadanya.
Selagi dia sibuk menggerayangi keadaan si pemuda, mendadak di luar restoran
terdengar bentakan-bentakan dan bengar si Willem. Serentak darahnya
tersirap. Terus ia melompat dari kursinya dan lari ke luar. Betapa
kagetnya, ia melihat tiga pemuda berpakaian putih sedang mengepung si
Willem. Mereka berusaha hendak menyambar les, tetapi Willem be-rontak.
Itulah mereka semalam yang menghadangnya. Ia heran, kenapa mereka bisa
menyusul begitu cepat.
"Eh, di siang hari bolong kamu berani merampas kuda," bentaknya gusar. Ia
hendak meloncat menerkam salah seorangnya. Tiba-tiba saja seorang di antara
mereka jatuh tersungkur di tanah. Heran dia, mengapa roboh sendiri. Ia
menoleh dan dilihatnya si pemuda kumal berdiri di belakangnya sambil
bersenyum. Belum lagi dia membuka mulut, si pemuda berkata mendahului,
"Jangan pedulikan maling-maling itu. Pesanan kita sudah datang."
"Mereka hendak merampas kudaku," Sangaji mencoba memberi penjelasan. "Tapi
aneh, dia roboh sendiri tanpa ku ..."
la tak meneruskan, karena melihat si pemuda sudah balik duduk kembali. Maka
ia duduk pula di sebelahnya, kemudian melirik kepada pemuda mentereng.
Pemuda mentereng dan tampan itu, justru memandang padanya. Dengan demikian
pandang mata mereka bertemu. Pemuda itu mengangguk hormat. Pandang matanya
heran dan mengagumi.
"Inilah air tehmu," temannya mendadak berkata, la segera mengarahkan
perhatiannya kepada temannya yang sedang menuang air teh. "Kudamu kenapa
diincar mereka?" tanya si pemuda.
Sangaji hendak menyahut, mendadak didengarnya suara langkah berderapan. Ia
menoleh. Ternyata enam orang pemuda berpakaian putih memasuki restoran
dengan pandang mengancam. Tetapi mereka tidak menunjukkan tanda-tanda mau
menyerang. Mereka seperti sedang menyelidiki dirinya dan sikapnya
berhati-hati. Tak lama kemudian salah seorang di antara mereka, melemparkan
suatu benda tajam. Sangaji terperanjat. Jarak antara dia dan enam orang
pemuda berpakaian putih itu sangat dekat. Sudah barang lentu, tak mungkin
lagi dia menangkis lemparan benda tajam itu. Seketika itu juga ia bergerak
hendak menghindari, tapi teringatlah dia kalau temannya berada di
belakangnya. Pabila dia melompat ke samping, temannya pasti kena sambaran
benda tajam tadi. Di luar dugaan—selagi dia belum mendapat keputusan,
pemuda mentereng yang duduk di kursi sebelah sana, meloncat gesit seperti
terbang. Dengan sekali sambar, ia berhasil menangkap benda tajam itu.
Ternyata benda itu, sebilah belati kecil terbuat dari benda logam berwarna
ke kuning-kuningan.
Pemuda mentereng itu tidak berhenti sampai di situ saja. Ia memperlihatkan
ketangkas-annya. Cepat luar biasa, ia melesat dan menerjang enam orang
pemuda berpakaian putih sekaligus. Entah bagaimana, mereka kena dihajar
pulang balik.
"Mundur!" teriak salah seorang di antara mereka. "Belum waktunya kita
mengadu ke-pandaian. Ingat! Dia si pemuda berpakaian mentereng!"
Mendengar teriakan itu, lainnya lalu lari ber-serabutan. Sebentar saja
lenyap dari pengli-hatan. Ketika suara mereka tak kedengaran lagi, pemuda
mentereng itu menghampiri Sangaji dan temannya. Dengan sedikit membungkuk
dia bertanya, "Apakah aku boleh mengenal nama kalian berdua?"
Sangaji segera akan menjawab, tetapi Sangaji dan pemuda berpakaian kumal
sedang duduk bersama akan menikmati hidangannya, tiba-tiba kawannya
mendahului, "Kami ini bangsa perantau. Tidak ada artinya memperkenalkan
nama kami yang tidak ada harganya."
Pemuda mentereng yang tampan itu, tersenyum. Ia membungkuk hormat lagi
sambil menegas, "Apakah kalian berasal dari kepu-lauan Karimun Jawa?
Menilik Ilmu Sentilan kalian yang bisa merobohkan lawan tanpa berkisar dari
tempat, sangat kukagumi."
Kawan Sangaji menyahut, "Apa sih bagusnya Ilmu Sentilan dari Karimun Jawa?"
Pemuda mentereng bersikap tak mendengarkan kata-kata si pemuda kumal.
Pan-dangnya mengarah kepada Sangaji yang sudah berdiri tegak di depannya.
"Baiklah, kalau kalian tak mau memperkenalkan diri," akhirnya dia berkata
setelah me-nimbang-nimbang sejurus. "Kita berpisah sampai di sini. Lain
hari kita bertemu kembali."
Sangaji membalas membungkuk ketika melihat si pemuda mentereng membungkuk
hormat padanya. Ia tak menduga sesuatu, tiba-tiba si pemuda mentereng
melesat kepadanya sambil mengayunkan tangannya. Serangan si pemuda
mentereng, sama sekali tak di duga Sangaji. Namun ia masih berwaspada.
Betapa herannya, ia melihat gerakan sambaran si pemuda mentereng seperti
gerakan
Pringgasakti yang dulu pernah menerkam pergelangan tangannya. Teringat akan
pe-ngalamannya dulu, segera ia mengerahkan tenaga. Getah Dewadaru
disuruhnya bekerja. Itulah sebabnya begitu sambaran si pemuda mentereng
mengenai sasaran, lantas saja mental kembali. Ia heran sampai terlongong
sebentar.
"Mengapa ... mengapa kau menyerangku?" Sangaji minta penjelasan.
Si pemuda mentereng tertawa perlahan. Menyahut, "Aku cuma ingin menguji
ilmumu. Tadinya kukira kauhebat. Sehebat Ilmu Sen-tilanmu. Tak tahunya, kau
tak memiliki ilmu berkelahi yang pantas untuk dibicarakan ..."
Terang, si pemuda merendahkan Sangaji. Tapi Sangaji tak kuasa membalas.
Memang ia seorang pemuda yang tak pandai berperang bdah. Sebaliknya
kawannya tidak demikian. Menyaksikan Sangaji tak mampu membalas hinaan
lawan, ia segera berseru, "Hai! Apa kamu mau pergi?"
Memang, waktu itu si pemuda telah meng-ungkurkan hendak meninggalkan
restoran. Dia puas, karena telah dapat menghina lawan. Karena seruan si
pemuda kumal, ia menoleh.
"Apakah kamu mau berbicara?"
"Berbicara sih, tidak," sahut si pemuda kumal. "Cuma aku menemukan benda
ini. Apa-kah ini kepunyaanmu?"
Baik Sangaji maupun si pemuda mentereng, heran melihat benda tajam salah
seorang rombongan pemuda berpakaian putih, berada di tangan si pemuda
kumal. Jelas, tadi benda tajam itu telah kena tangkap si pemuda mentereng
dan disisipkan pada ikat pinggang. Ba-gaimana bisa berada di tangan si
pemuda kumal?
Dengan tersipu-sipu, si pemuda mentereng menerima kembali benda
rampasannya. Kemudian mundur beberapa langkah sampai di ambang pintu.
Tiba-tiba ia melihat empat butir benda berwarna kuning menyambar dirinya.
Gugup ia menangkis berserabutan. Karena gerakannya cepat, ia berhasil
menangkis semua. Meskipun demikian, ia kaget bercampur heran. Segera ia
mengamat-amati mereka berdua. Dilihatnya Sangaji tetap berada di tempatnya.
Si pemuda kumalpun tak berubah tempat, tetapi mulutnya tersenyum kecil.
"Baiklah! Lain kali kita bisa bertemu kembali," seru si pemuda mentereng.
Ia melem-parkan segenggam uang makanan, kemudian melesat pergi.
Sangaji heran menyaksikan tingkah-laku si pemuda mentereng. Mengapa dia
tiba-tiba menangkis berserabutan, pikirnya. Diapun melihat melesatnya empat
butir benda kuning, tetapi ia tak dapat menduga darimana datangnya.
"Hai, mengapa benda tajam si pemuda tadi bisa berada di tanganmu?"
Si pemuda kumal tertawa. Katanya; "Selagi dia menyerangmu, benda itu jatuh.
Lalu ku-pungut dan kuperlihatkan kepadanya. Coba kalau tidak secara
kebetulan aku menemukan benda itu, kau bisa direndahkan ..."
Sangaji adalah seorang pemuda yang jujur. Menimbang, jawaban si pemuda
cukup masuk akal,
ia tak mengurus lebih lanjut. Waktu itu pelayan-pelayan restoran sedang
sibuk me-munguti uang si pemuda mentereng, dengan berdiam diri. Rupanya
mereka kenal siapakah si pemuda mentereng itu. Maka mereka tak berani mengomel.
Dengan persetujuan si pemuda kumal, Sangaji pun membayar semua hidangan
yang telah disediakan. Jumlah penghitungannya sangat mahal. Semuanya
berjumlah dua puluh ringgit. Tetapi Sangaji membayar harga hidangan dengan
berdiam diri dan dengan gampang. Malahan, ia memberi persen pula kepada
para pelayan dan pemilik restoran. Keruan saja, dia dan temannya lalu
mendapat perlakuan luar biasa. Mereka berdua dielu-elukan sebagai raja.
Kedua pemuda itu, keluar dari restoran tanpa tujuan. Willem dituntun
Sangaji dan melangkah dengan gagah. Si pemuda kumal kagum.
"Maling-maling tadi akan merampas kudamu. Pasti kudamu bagus."
"Tidak hanya kudaku saja yang mau dirampas, tapi kantong uangku juga,"
sahut Sangaji. Kemudian ia mengisahkan riwayat perjalanan dan keperkasaan
Willem. Si pemuda ikut berbesar hati mendengar kegagahan Willem.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar