@bende mataram@
Bagian 86
Tak mengira dia kalau si pemuda itu benar-benar mengenal macam buah-buahan
yang mahal dan lezat dari negeri Tionghoa. Seseorang yang belum pernah
merasakan dan mencicipi macam buah-buahan itu, betapa bisa tepat mengatur
tata kelezatan dan mengenal namanya dalam bahasa Tionghoa. Sebaliknya,
Sangaji jadi bangga dan besar hati mempunyai kawan baru ini. Tadinya dia
merasa khawatir, mengingat ketajaman lidah si pemuda. Kalau sampai tak bisa
menyebut macam masakan Tionghoa, setidak-tidaknya dia ikut ditertawakan si
pemilik restoran. Tak tahunya, selain berlidah tajam, ia bisa diandalkan.
Bagi dia yang sama sekali tak mengenal nama jenis masakan Tionghoa
sehurufpun, lantas saja merasa takluk sampai ke bulu-bulunya.
Si pemuda itu rupanya tahu, kalau baik Sangaji maupun si pemilik restoran
mulai keran padanya. Maka ia sengaja memperlihatkan mutu dirinya. Dengan
gaya memaafkan dan memaklumi atas kemiskinan si pemi-ik restoran, dia
berkata, "Kalau aku menuruti kebiasaanku, takut kau tak dapat memenuhi.
Baiklah aku minta tujuh macam hidangan saja. Ceker bebek goreng, puya asap,
soto kijang, idah ayam cah, soto burung manyon, bakso kelinci, kaki babi
hong vr;"
Kali ini si pemilik restoran benar-benar merasa takluk, la berdiri
melongoh. Khawatir si pemuda akan memesan hidangan lainnya, cepat-cepat ia
memotong, "Tuan... Cirebon bukan Nanking. Bagaimana bisa kami menyediakan
macam masakan yang Tuan pesan."
"Mengapa tidak?" sahut si pemuda. "Semua pesanan ini, sudah kutaksir
sebelumnya akan dapat kausajikan. Apa susahnya? Ceker bebek. Di Cirebon
masa tidak ada itik? Lidah ayam. Masa di Cirebon tidak ada ayam? ..."
"Ya betul, Tuan. Tapi burung wanyoh,, kijang dan kelinci, di mana kami bisa
cari. Masakan kami harus menguber-uber binatang itu di tengah alam yang
begini luas?"
"Zie ye," kata si pemuda dalam bahasa Belanda. Kemudian ia berbicara dalam
bahasa Belanda dengan Sangaji amat lancar. Sekarang, baik Sangaji maupun si
pemilik restoran mempunyai kesan lain terhadapnya. Mereka yakin, kalau si
pemuda itu ternyata seorang pelajar yang lagi jatuh miskin. Maka diam-diam,
mereka bersikap hormat.
"Baiklah," kata si pemuda itu memaklumi. "Sediakan saja masakan yang
kaubanggakan. Aku berjanji akan memakannya habis tanpa berbicara. Dan
tolong ambillah anggur Pe-khoen-cioe."
"Tuan maksudkan arak?"
"Katakan saja anggur, biar temanku ini mau minum."
Kebetulan sekali si pemilik restoran mempunyai arak Pekhoen-cioe yang sudah
disimpan selama sepuluh tahun. Maka bergegas ia masuk ke dalam sambil
menghambur-hamburkan perintah menyediakan macam hidangan kepada juru-masak
dan pelayannya.
Sangaji puas menyaksikan penyelesaian babak-akhir adu lidah. Ternyata si
pemuda berpengetahuan luas. Meskipun kedengarannya berbicara tajam, tetapi
menyenangkan dan bisa memaklumi orang. Ini membuktikan, kalau meskipun si
pemuda cerdas otaknya dan luas pengalamannya, mau memaafkan serta memaklumi
perlakuan orang terhadapnya. Bukankah dia sama sekali tak menyinggung
apalagi bersikap menggugat perlakuan si pelayan yang mau menempeleng
kepalanya? Tapi dengan bersenjata pengetahuannya yang luas, dia bisa
menaklukkan tidak hanya terhadap si pelayan saja. Baik si pemilik restoran
dan dirinya sendiri benar-benar kena ditaklukkan.
"Saudara Sangaji masih mencoba. Apa benar-benar kita berdua nanti dapat
meng-habiskan semua hidangan yang akan disediakan?"
"Perang belum selesai seluruhnya," sahut si pemuda dengan tertawa. "Nanti
kita ajak si pemilik restoran makan bersama. Aku akan melayani dan kau yang
membayar. Aku ingin melihat, apakah hidangan yang dimakan bisa menjadi daging."
Mendengar rencana si pemuda, mau tak mau Sangaji tertawa geli. Alangkah
lucu, sekiranya bisa kejadian si penjual makan jualannya sendiri dan
dibayar oleh si pembeli. Kalau si penjual mempunyai harga diri, mana bisa
menelan traktiran si pembeli. Ini namanya cara pukulan baru yang bisa
membekas panjang dalam perut sampai usus-ususnya. Dan sekali lagi, Sangaji
kagum pada kecerdikan dan kepintaran si pemuda. Ia sampai mau percaya,
kalau otak si pemuda lebih cerdik dan lebih pintar daripada Wirapati,
gurunya yang dipuja selama ini.
Selang setengah jam, hidangan dan masakan yang menjadi kebanggaan pemilik
restoran Nanking tiba. Sangaji mencoba mencicipi. Terus-terang ia mengakui
kelezatannya. Tetapi si pemuda makan dengan ogah-ogahan. Melihat lakunya
yang ogah-ogahan, si pemilik restoran sibuk menduga-duga. Ini sudah
merupakan suatu siksaan baginya. Mendadak pula si pemuda berkata, "Apa
sudah betul bumbunya?"
"Masa bisa kurang?
"Cobalah makan! Kalau benar-benar kau-doyan, baru aku mau percaya."
Si pemilik restoran mana mau diajak meng-gerumuti masakannya sendiri yang
sedang dijualnya. Kalau disuruh memilih, lebih suka ia memperoleh celaan
daripada diperlakukan begitu. Tapi justru ia mempertahankan kehormatan
diri, hatinya selalu kebat-kebit. Bagaimana tidak? Di seluruh dunia ini
mana bisa seorang juru masak dicela masakannya? Meskipun andaikata si
pencela benar, dia akan siap-sedia hendak mempertahankan dan membela diri.
Si pemuda bersikap tak pedulian. la lalu berbicara dengan bebas menanyakan
asal-usul Sangaji. Tapi ketika si pemilik restoran mau mengundurkan diri,
cepat-cepat ia minta penjelasan tentang bumbu masakan yang dihidangkan,
kemudian mencela kekurangannya dan menggurui bagaimana semestinya.
Celakalah, dia benar-benar hatinya tersiksa. Mundur tak bisa, tetap berdiri
seperti jongos enggan.
Sangaji teringat pada pesan kedua gurunya. Dia harus bersikap hati-hati dan
tak boleh berbicara banyak. Maka dia tak mengaku berasal dari Jakarta. Cuma
menerangkan, datang dari daerah Jawa Barat dan pekerjaannya berburu.
Mendengar kata-kata berburu, si pemuda nampak girang. Segera ia menanyakan
ten-tang perangai dan lagak-lagu binatang perburuan. Maka terpaksalah
Sangaji mengiringi ke-mauan si pemuda sebisa-bisanya. la bercerita tentang
harimau, babi hutan, ular, burung, kijang, rusa, gajah, kera dan lutung.
Binatang-binatang itu memang pernah dijumpai sewaktu dahulu berburu dengan
keluarga Mayor De Hoop. Tetapi jika dikatakan dia mengenal
binatang-binatang itu dalam arti kata yang benar, tidak benar. Karena itu
tutur-katanya mengenai binatang-binatang itu, lebih bersifat ke
kanak-kanakan. Tapi justru bersikap ke kanak-kanakan, si pemuda yang
mendengarkan jadi kian tertarik.
"Aku ingin memiliki semuanya!" seru si pemuda girang. "Buat apa?"
"Buat main-main."
Sangaji dapat merasakan kegirangan si pemuda. Terus saja dia bicara dan
bicara. Si pemuda sendiri lantas juga menumpahkan semua angan-angannya. Ia
ingin menjelajah ke seluruh pelosok Pulau Jawa. Ia akan menyeberangi hutan,
mendaki gunung dan bukit-bukit serta memanjat pohon-pohon tinggi.
Amat gembiranya, tangannya berserabutan. Suatu kali Sangaji kena sentuh
tangannya. Dia kaget, karena tangan si pemuda dirasakan lunak. Diam-diam ia
mulai mengamat-amati wajah si pemuda. Ternyata berkulit halus pula,
berwarna kuning kehitam-hitaman dan bersih. Matanya lentik dengan bentuk
alisnya yang bagus. Maka perlahan-lahan, tak mau ia menduga lagi kalau si
pemuda itu adalah Sanjaya.
"Sebenarnya kamu berasal dari mana?" ia memberanikan diri untuk menanyakan
asal-usulnya.
"Jauh! Jauh amat!" jawab si pemuda.
Mendapat kesan kalau si pemuda tak mau berterus-terang, maka ia tak
mendesak lagi. Mendadak si pemuda berseru, "Ah, semuanya sudah menjadi dingin."
Sangaji terperanjat. Baru dia ingat akan macam hidangan yang begitu banyak
disedia-kan di depannya. Karena terlalu tenggelam dalam percakapan, ia
sampai lupa mencoba mencicipi semuanya.
"Biarlah suruh memanaskan," katanya.
'Tidak. Ini namanya kurang asli. Suruh saja mengundurkan dan mengganti
dengan ma-sakan lain," si pemuda seperti menggerutu. Ia lalu menyuruh si
pemilik restoran yang masih saja berdiri tegak di sampingnya untuk
mengangkat semua hidangan dan mengganti dengan masakan baru.
Si pemilik restoran bertambah heran. Hidangan belum semua dimakan.
Harganya-pun bukan murah, karena dia sendiri yang membuatnya istimewa.
Sekarang mau pesan hidangan yang lain. Selama dia membuka restoran di
Cirebon, belum pernah mempunyai tamu semacam hari itu. Tetapi ia tak
berbicara sepatahpun. Ia memanggil pelayan-pelayan-nya. Kemudian
mengundurkan diri dari samping si pemuda dengan hati lega. Maklumlah, dia
lantas merasa dibebaskan. Tapi di dalam hati dia menyukurkan Sangaji. Hm
... rasakan! Gangmu bakal disedot habis. Mengapa tak sadar dipermainkan
pemuda gila....
Sangaji sendiri tak memikirkan perkara berapa dia harus membayar semua
hidangan. Hatinya sudah merasa kena direbut si pemuda. Bahkan karena
senangnya, lantas saja dia mengambil sepasang pakaian baru dan diberikan
kepada si pemuda sebagai tanda ikatan persahabatan. Setelah itu ia
membekali pula uang sejumlah seratus ringgit. Bukan main besar jumlah itu,
sampai si pemilik restoran yang mendengar gerincing uang jadi ngiler.
Si pemuda menerima hadiah itu, tanpa mengucap terima kasih sepatahpun.
Bahkan tidak nampak kesan sedikitpun jua, seolah-olah sudah semestinya
Sangaji menghaturkan persembahan kepadanya.
Tatkala itu, masuklah seorang pemuda ke dalam restoran. Pemuda itu berwajah
amat cakap. Umurnya kurang lebih 19 tahun dan dandanannya mentereng. Ia
melirik kepada Sangaji.dan si pemuda,Ternudian dengan sikap angkuh duduk di
kursi sebelah sana. Ia memanggil pelayan dengan suatu isyarat. Kemudian
memesan empat macam masakan.
"Apa cukup buat bekal pulangmu?"
"Aku tak mau pulang ke rumah," jawab si pemuda dengan menggelengkan kepala.
"Mengapa?"
"Ayahku tak menghendaki aku pulang." Masa begitu, Sangaji heran.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar