@bende mataram@
Bagian 271
Seperti diketahui, tatkala Wirapati datang ke padepokan Gunung Damar
setelah merantau selama sepuluh tahun, ia melihat perubahan dalam diri
Ranggajaya. Kakaknya seperguruan yang dahulu tak pandai berbicara, kini
tangkas dalam suatu perdebatan. Karena itu, menghadapi Sangaji yang tak
pandai berbicara tidaklah menemukan sesuatu kesulitan. Bahkan ia merasa
lebih berwibawa. Maklumlah, tingkatannya samalah halnya dengan gurunya.
Pada waktu itu hati Sangaji kelabakan kehilangan pegangan. Sama sekali ia
tak merasa bersintuan dengan kitab Witaradya. Kalau saja ia bisa
memperlihatkan sesuatu ilmu kepandaian yang mengagumkan para pendekar,
adalah semata-mata diperolehnya dari eyang gurunya. Apa sebab, paman
gurunya bisa menguatkan tuduhan bakal mertuanya. Tapi dasar ia tak pandai
berbicara, maka mulutnya makin terasa mengunci.
Sebaliknya Adipati Surengpati menjadi kalap. Ia percaya Ranggajaya berkata
dengan sebenarnya. Lantas saja ia menyambar tangan Titisari. Setelah
membungkuk hormat kepada Kebo Bangah dan Gagak Seta, terus ia melesat
seperti kilat. Sebentar saja bayangannya tiada nampak lagi.
Titisari terkejut kena tersambar tangannya. Ingin ia hendak berbicara,
tetapi baru saja memperdengarkan suara, "Aji...!" tubuhnya telah terseret
ayahnya. Bayangannya pun sebentar pula hilang dari pengamatan manusia.
Ranggajaya tertawa perlahan melalui dadanya. Tatkala itu, Gagak Handaka
telah selesai menyalurkan jalan darah dan pernapasan. Semua pembicaraan
antara Ranggajaya, Sangaji dan Adipati Surengpati didengarnya dengan jelas.
Hanya saja, ia belum berani mencampuri karena waktu itu keadaan dirinya
tidak mengizinkan. Dan begitu kesehatannya pulih kembali, terus saja ia
berkata kepada Ranggajaya setengah menyesali.
"Ranggajaya! Apa sebab engkau berkata demikian?"
"Hm... dia boleh merasa diri seorang pendekar jempolan. Tapi nyatanya,
masih bisa ia kukelabui," jawab Ranggajaya dingin.
Mendengar jawaban Ranggajaya, Gagak Seta heran bercampur kaget. Lantas saja
ikut berbicara, "Jadi... Sangaji benar-benar tak tahu menahu tentang kitab
Witaradya?"
"Memang dia tak tahu menahu," jawab Ranggajaya dengan hormat.
"Ah! Engkau merusak urusan besar! Biarlah aku berbicara kepadanya..." Gagak
Seta terkejut. Terus saja ia melesat memburu Adipati Surengpati. Dalam hal
mengadu lari, tak usahlah Gagak Seta merasa kalah daripada rekan-rekannya.
Maka sebentar saja, tubuhnya telah lenyap pula dari penglihatan.
Setelah kedua pendekar itu pergi mening-galkan lapangan Kebo Bangah pun
segera melanjutkan perjalanannya. Barisan tahuannya lantas saja
berterbangan memenuhi angkasa. Sang Dewaresi berjalan di belakangnya,
sedangkan para pengiring mengiringi dengan penuh hikmat. Empat orang
penggembala tabuan tak ikut serta, karena lagi sibuk mengubur seorang
dayang yang kena korban jarum emas majikannya sendiri.
"Anakku Sangaji!" kata Ranggajaya. "Kau tahu kini tabiat mertua pilihanmu.
Kalau lagi kumat tabiatnya, dia bisa mengutungi anaknya sendiri. Tabiatnya
kejam, bengis dan tak per-dulian. Apabila di kemudian hari ia sampai
mengutungi lengan anaknya pastilah akan tambah tenar namanya."
Sangaji tersirap darahnya mendengar ucapan pamannya. Tak diketahui sendiri,
tubuhnya menggigil. Dalam hati, ia percaya mertuanya bisa berbuat demikian.
Alangkah akan hebat jadinya, apabila Titisari sampai kena dianiaya.
"Kau takut?" Ranggajaya tertawa. Mendadak saja ia memekik terkejut.
Tangannya menuding ke
arah tempat Bagas Wilatikta tertawan. Ternyata orang itu tiada lagi di
tempatnya.
Dengan langkah panjang, Ranggajaya dan Gagak Handaka memburu ke tempat itu.
Mereka menjelajahkan matanya dan benar-benar tawanannya telah melarikan
diri. Pastilah dia melarikan diri, sewaktu mereka lagi terlibat dalam
pertikaian tadi. Peristiwa itu adalah wajar. Hanya yang mengherankan Bagas
Wilatikta bisa membebaskan diri dari pukulan mereka berbareng. Sedangkan
tadi, ia luka parah pula.
Sungguh berbahaya orang itu! Akhirnya Gagak Handaka berkata seperti
menasehati diri sendiri. "Terang sekali, dia telah kita kunci pembuluh
darahnya. Tapi dia bisa membebaskan begitu cepat... Ranggajaya!
Kuperingatkan kepadamu seumpama engkau bersua dengan dia seorang diri,
jangan sekali-kali engkau berani melawannya. Aku pun takkan mampu..."
Ranggajaya memanggut kecil. Dalam hatinya, ia mengakui keperkasaan Bagas
Wilatikta. Tadi saja, andaikata tiada ber-sama-sama kakak seperguruannya
tidakkan bakal bisa merobohkannya. Itu pun harus menggunakan ilmu sakti
Pancawara yang sebenarnya tidak boleh dipergunakan dengan sembarangan.
"Orang itu juga yang dahulu melukai Paman Bagus Kempong," kata Sangaji yang
diam-diam mengikuti dari belakang.
"Hai! Kau tak salah lihat!"
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar