11.14.2019

@bende mataram@ Bagian 270

@bende mataram@
Bagian 270


Tubuh Gagak Handaka luput dari semua pukulan, namun setiap kali menghindari
lengan bajunya terobek juga. Bahkan rambutnya pun seperti kena terpangkas.
Lambat laun insyaflah dia, bahwa serangan Adipati Surengpati tak boleh
dianggap remeh. Maka dengan serentak ia meloncat tinggi dan melesat jauh di
depan. Kemudian berdiri dengan gagah sambil mempersiagakan serangan pembalasan.


Bagi Ranggajaya cukuplah terang, bahwa Gagak Handaka kini mempersatukan
segenap tenaganya hendak menggunakan ilmu sakti Pancawara tanpa ragu-ragu
lagi. Hatinya yang tegang, agak lega juga.


Dalam pada itu Adipati Surengpati telah memburu dengan cepat. Serentak ia
memukulkan telapak tangannya dan Gagak Handaka menyongsongnya dengan berani.


"Hai! Kau berani menyambut?" Adipati Surengpati berteriak heran. Dan
tatkala merasakan betapa Gagak Handaka memiliki tenaga yang hampir
seimbang, ia terkejut dan kagum luar biasa. Dasar hatinya mau menang
sendiri, maka sekaligus ia memberondong dengan tiga pukulan sakti sekaligus.


"Sang Adipati! Pukulanmu luar biasa kuat-nya. Tetapi masakan aku harus
menyerah mentah-mentah belaka?" terdengar Gagak Handaka bergumam.


Kemudian ia menyambut serangan Adipati Surengpati dengan ilmu sakti
Pancawara sambil tangan kirinya menyambar ikat kepala.


Dalam hal mengadu tenaga—meskipun Gagak Handaka memiliki ilmu sakti
Pancawara—masih kalah setingkat dan kalah ulet pula daripada Adipati
Surengpati. Maka itu, begitu tangan kirinya menyambar ikat kepala, tubuhnya
kena terdorong mundur beberapa langkah. Tetapi ia sangat sebat pula. Ikat
kepala Adipati Surengpati masih saja kena dijambretnya.


Adipati Surengpati melompat maju. Karena sangat murka, ia menyerang dengan
kedua tangannya sambil berseru. "Gunakanlah kedua tanganmu berbareng! Kau
takkan tahan!"


Peringatan Adipati Surengpati itu menyadarkan Gagak Handaka. Dengan sebat
ia membuang ikat kepala rampasannya, kemudian menghimpun semua tenaganya.
Dan dengan kedua tangannya ia menyambut serangan gempuran Adipati
Surengpati yang dahsyat luar biasa. Dan begitu dua tenaga itu beradu, tubuh
Gagak Handaka berkisar dari tempatnya. Kemudian jatuh berjongkok dengan
memejamkan mata.


Melihat Gagak Handaka terluka, Adipati Surengpati tak meneruskan
serangannya lagi. Sebagai seorang pendekar yang merasa diri bagai malaikat,
engganlah hatinya hendak menghajar lawan selagi terluka. Karena itu dia
meloncat mundur selangkah dan menunggu dengan berdiri tegak.


Beberapa saat kemudian, terdengarlah suara berkeruyuk dalam rongga dada
Gagak Handaka. Dan dari mulutnya terloncatlah darah segar. Seketika itu
juga wajahnya menjadi pucat lesi.


Semua yang menyaksikan pertempuran itu heran dan tercengang-cengang. Terang
sekali Gagak Handaka tidak bakal menang tetapi belum tentu bisa dikalahkan
dengan mudah. Apa sebab dia tak tahan menghadapi pukulan Adipati Surengpati?


Setelah memuntahkan darah, Gagak Handaka bangkit dengan perlahan-lahan.
Kemudian berkata, "Aku mencoba bertahan dengan ilmu sakti ajaran guruku.
Sayang sekali, aku tak diperkenankan membalas menyerang. Seumpama aku
sampai hati melanggar perintah Guru dengan membalas menyerang dan minta
bantuan adik seperguruanku, pastilah engkau takkan sanggup melawan
kehebatan ilmu sakti Pancawara. Kau percaya tidak?"


Adipati Surengpati membungkam dalam hatinya ia percaya akan keterangan
Gagak Handaka.




Tadi ia merasakan betapa teguh benteng pertahanannya. Seumpama Gagak
Handaka membalas menyerang—meskipun belum tentu bisa merobohkan—tetapi
apabila dibantu adik seperguruannya, rasanya tenaganya takkan kuasa
melawan. Karena itu hatinya tak enak sendiri. Serentak ia merogoh sebungkus
ramuan obat dari dalam sakunya. Kemudian diangsurkan kepada Gagak Handaka
sambil berkata setengah membujuk. "Minumlah! Inilah obat buatanku sendiri.
Dahulu pernah pula menolong nyawa gurumu. Sekarang kuakui dengan hati
bersih, bahwa gurumu memang seorang pendekar sakti tak terlawan pada zaman
ini. Meskipun belum tentu aku bisa menang, namun akan menguras habis semua
daya ingatanku untuk mempertahankan diri. Pergilah dengan selamat dan
sampaikan salamku."


Gagak Handaka memanggut sambil menerima sebungkus obat itu. Segera ia
menelannya dan kemudian menyalurkan napasnya. Di sampingnya berdiri tokoh
sakti Gagak Seta dan adik seperguruannya sendiri. Dengan pertolongan
mereka, darah yang bergolak dalam dadanya telah dapat dikuasai.


Sangaji kemudian menggendongnya dan membawanya berteduh. Pemuda itu dengan
hati tak keruan, mengurut-urut punggung dan pinggangnya. Maksudnya hendak
menolong melancarkan jalan darahnya. Meskipun dia bukan tabib, tapi dalam
dirinya mengalir getah sakti Dewadaru. Maka tak mengherankan, setelah
mengatur pernapasan dan jalan darah, sebentar saja Gagak Handaka telah
pulih kembali.


"Saudara Surengpati!" tiba-tiba Kebo Bangah berkata, "Kau rasakan sendiri
kini, betapa makin hebat si tua bangka itu. Melawan muridnya saja, kau
nampak kuwalahan. Apakah yang hendak kaukatakan?"


Adipati Surengpati merenungi ucapan Kebo Bangah. Mendadak ia tersenyum
wajar dan menjawab, "Saudara Kebo Bangah! Benar-benar aku membuatmu kecewa
ilmu kepandaian memang maju terus di luar pengamatan manusia. Seumpama di
kemudian hari aku harus mengakui keunggulan Kyai Kasan Kesambi, apakah yang
harus kusesalkan?"


"Bagus! Bagus! Itulah ucapan seorang ksatria sejati," sambung Gagak Seta
dengan tertawa lebar. Kemudian kepada Kebo Bangah, "Kau Kebo bangkotan,
belajarlah sepuluh dua-puluh tahun lagi. Apakah jeleknya?"


Mendengar ujar Gagak Seta, sebenarnya hati Kebo Bangah mendongkol bukan
main. Tetapi dasar licin, wajahnya bebas dari sesuatu kesan. Tetap saja ia
memancarkan kesan gembira dan segar. Hanya saja, tangannya terus mengibas.
Lalu berkata kepada Adipati Surengpati.


"Marilah kita berpisahan sampai di sini saja. Sekiranya Pulau Karimunjawa
cukup lapang, aku ingin mengunjungi barang tiga empat bulan. Di sana kita
berdua bertempur menguji sampai di mana kemajuan ilmu kepandaian kita
masing-masing."


"Eh, apakah kalian berdua akan bersekongkol untuk menciptakan semacam ilmu
pemusnah ciptaan Kyai Kasan Kesambi?" potong Gagak Seta.


"Saudara Surengpati hendak mendidik kemenakanku menjadi seorang pendekar.
Di waktu senggang, bukankah lebih baik aku mencoba-coba kepandaian Tuan
rumah?" sahut Kebo Bangah penasaran. "Kau pendekar jembel, urusilah dirimu
sendiri!"


"Baik! Segera aku akan mencari seorang pengemis perempuan. Siapa tahu, dia
mau kukawini. Dengan begitu, bukankah diriku bakal ada yang mengurus?"


Titisari yang selama itu berdiam diri terus saja menimbrung. "Paman Gagak
Seta! Di antara semua pembicaraan ini, cita-citamulah yang terbaik. Biarlah
kelak aku mengajari bibi memasak resep masakan Tionghoa, Jawa, Madura, Bali
dan Eropa..."


"Huuuu... siapa kesudian? Lebih baik ajarilah dia memasak cacing, jangkrik
dan belalang. Dengan begitu tak usah aku bersusah payah mencuri ayam, itik,
kambing atau lembu..."


Titisari tertawa geli mendengar ujar Gagak Seta. Sang Dewaresi mengerling
kepadanya. Begitu melihat keserian wajahnya dan kulitnya yang kuning bersih
darahnya berdesir jungkir balik.




"Saudara Gagak Seta!" tiba-tiba Adipati Surengpati berkata. "Marilah kau ku
undang datang ke Karimunjawa." .


"Terima kasih, saudara Surengpati. Aku si jembel ini merasa memperoleh
suatu kehormatan besar. Tetapi kawan-kawanku saat ini tersebar di seluruh
persada bumi. Ibukota kerajaan lagi mengalami kekeruhan. Kompeni Belanda
kini mengadakan pengawasan keras terhadap istana. Aku dan kawan-kawanku
ingin mengemis ke tangsi itu. Siapa tahu aku memperoleh itik, ayam, dan
roti Belanda," sahut Gagak Seta.


"Saudara Gagak Seta! Engkau sungguh seorang ksatria sejati. Seumur hidupku
tak pernah kau melupakan perjuangan bangsa. Aku kagum sekali..."


"Kau salah saudara Surengpati. Coba, andaikata aku mempunyai seorang puteri
secantik Titisari, masakan aku sudi keluyuran tak keruan juntrungnya..."


Semua orang lantas saja melemparkan pandangannya kepada Titisari. Pada
waktu itu, kesan tubuh Titisari seperti bunga bersemi, la nampak segar
bugar, menggairahkan dan jelita.


Mendadak saja, Adipati Surengpati membentak Sangaji. "Hai bocah tolol! Kau
sudah bisa memikat hatiku dengan jurus-jurus pemunah ilmu sakti Witaradya.
Tetapi janganlah engkau tergesa-gesa merasa diri sudah lulus. Aku telah
mencoba kekuatan pamanmu. Sama sekali tak kutemukan jurus-jurus itu. Karena
itu, sudahlah waktunya engkau berbicara terus terang. Katakan kini, dari
mana engkau mengetahui kunci ilmu Witaradya? Apakah engkau telah memperoleh
bagian kitab dari muridku Pringgasakti, kemudian kau perbincangkan dengan
kakek gurumu ..."


Sangaji kaget setengah mati, mendengar tuduhan Adipati Surengpati. Mau ia
menjawab, tetapi kerongkongannya seperti tersumbat.


"Hai nanti dulu!" Gagak Seta berkata, "kau memang seorang pendekar yang
bisa berubah dari hijau ke merah. Ada apa sih engkau begini angin-anginan?
Apakah alasanmu engkau menuduh bakal menantumu yang bukan-bukan. Menantumu
adalah seorang tolol. Hatinya sederhana. Apa yang diucapkan adalah kata
hatinya. Masakan dia hendak membohongi bakal mertuanya?"


Tetapi Adipati Surengpati tiada mengindahkan. Tetap saja ia memandang
Sangaji dengan wajah bengis. "Bagian kitab Witaradya hilang dicuri
Pringgasakti. Bukankah engkau telah mengabaikan hal itu kepada kakek
gurumu? Bilang!"


Dengan memaksa diri, Sangaji menguasai rasa kagetnya. Lalu menjawab sulit,
"Sama sekali aku tak tahu menahu tentang kitab itu. Waktu aku menghadap
kakek guru, aku hanya mengabarkan tentang pusaka Bende Mataram dan Keris
Kyai Tunggulmanik."


Tatkala itu, Ranggajaya yang sedang mem-bantu menyalurkan jalan darah Gagak
Handaka berdiri dengan perlahan dan memandang Adipati Surengpati dengan
tajam. Dahulu... semua murid Kyai Kasan Kesambi... melihat Sangaji sewaktu
sibuk memahami ilmu ciptaan Kyai Kasan Kesambi, tatkala mereka hendak
meninggalkan gunung. Mereka semua tahu, bahwa Sangaji memperoleh ilmu baru
dari gurunya. Hanya saja mereka tak sempat lagi hendak ikut mempelajari.
Kini, hati Ranggajaya luar biasa dengkinya terhadap Adipati Surengpati
karena pendekar itu melukai kakak seperguruannya dengan cara demikian.
Mendengar pendekar itu sedang menuduh Sangaji, sekaligus terbangkitlah rasa
permusuhannya. Lantas saja berkata memotong kepada Sangaji. "Kenapa engkau
berkata tak tahu menahu? Menurut pamanmu Bagus Kempong, engkau telah
berhasil merampas bagian buku Witaradya dari tangan Pringgasakti. Syukur
Adipati Surengpati seorang pendekar kelas wahid tak mengetahui hal itu.
Mestinya engkau sebagai cucu murid Kyai Kasan Kesambi harus berkata terus
terang, bahwa engkau telah memahami bagian kitab Witaradya yang kemudian
disempurnakan oleh eyang gurumu. Bukankah berkata terus terang atau
membohong, samalah halnya? Mulai saat ini, biar pun mertuamu sendiri akan
tunduk padamu."


Mendengar ujar Ranggajaya, Sangaji pucat lesi. Dengan tersekat-sekat ia mencoba


membantah. "Paman!... Kapan... kapan aku pernah berkata demikian?"


Ranggajaya melototkan matanya. "Pamanmu Bagus Kempong yang berkata. Bukan kau!"


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar