11.14.2019

@bende mataram@ Bagian 269

@bende mataram@
Bagian 269


"Anakku! Lihat, inilah biang keladi yang melukai gurumu," kata Gagak
Handaka dengan sederhana.


Girang luar biasa hati Sangaji, menyaksikan kedua pamannya dapat
mengalahkan Bagas Wilatikta. Serentak ia merenggutkan diri dan
memperkenalkan mereka kepada Gagak Seta, Kebo Bangah, sang Dewaresi,
Titisari dan Adipati Surengpati.


"Nah, saudara Surengpati!" kata Gagak Seta nyaring. "Hebat tidak
murid-murid Kyai Kasan Kesambi?"


Adipati Surengpati adalah seorang pendekar yang tinggi hati dan mau menang
sendiri. Tadi ia sudah kena dibakar Kebo Bangah dan kini menyaksikan
kegagahan murid-murid Kyai Kasan Kesambi. Sudah barang tentu hatinya panas
seperti air mendidih. Dengan tersenyum mengejek ia menyahut, "Memang hebat.
Tapi belum tentu."


Sehabis berkata demikian terus saja ia menyerang Gagak Handaka. Betapa
terkejut Gagak Handaka tak terperikan. Maklumlah serangan itu sama sekali
tak diduganya. Syukur, bahwasanya ia murid Kyai Kasan Kesambi yang tertua.
Gurunya seringkali menceritakan sepak terjang dan tabiat-tabiat pendekar
seangkatannya. Kerap kali mereka sengaja mencoba sampai di mana kemajuan
saingannya mewariskan ilmunya kepada murid-muridnya. Karena itu, dengan
serentak Gagak Handaka bangun semangatnya. Meskipun dalam hati ia mengakui
takkan mungkin mengalahkan Adipati Surengpati, tetapi demi mempertahankan
pamor perguruannya ia akan berjuang sebisa-bisanya.


Pada detik-detik yang membahayakan, mendadak saja ia mengelak ke samping
sambil membalik tubuh. Kemudian mengawaskan penyerangnya dengan setengah heran.


"O... Gusti Adipati Surengpati. Apakah begini cara Tuan memperkenalkan diri?"


Serangannya Adipati Surengpati tadi adalah suatu sambaran yang sudah
dilatihnya dua puluh tahun lebih. Sebatnya luar biasa, akan tetapi Gagak
Handaka dapat mengelakkan dengan suatu gerak yang sederhana. Sudah barang
tentu diam-diam hati Adipati Surengpati terkesiap. Pikirnya, benar-benar
Kasan Kesambi sudah berhasil mengadakan gerakan pemunahnya. Inilah bahaya.


Karena itu, ia tidak menyerang lagi, hanya merenungi Gagak Handaka dengan
kagum. Kebo Bangah, sang Dewaresi, Titisari dan Gagak Seta tegang dengan
sendirinya. Gugup Sangaji maju menengahi sambil berkata kepada Gagak Handaka.


"Paman! Sekarang ini Gusti Adipati Sureng-pati adalah mertuaku. Itulah
Titisari calon isteriku. Karena itu, kita pun adalah keluarga sendiri."


Gagak Handaka menghela napas. Katanya agak menyesali, "Pantaslah, selama
engkau di padepokan sering kulihat duduk termenung. Rupanya ada yang
mengganggu pikiranmu. Gusti Adipati Surengpati adalah seorang pendekar
besar. Sayang, hatinya agak kejam bengis dan terlalu tinggi hati. Tabiatnya
aneh pula. Karena itu, apakah puterinya tidak mewarisi tabiat ayahnya?
Kuharap, engkau takkan menyesali seumur hidupmu apabila mengalami
kepahitan-kepahitan tak terduga dalam perjalanan hidupmu..."


Titisari mendekati sambil tertawa manis. "Paman! Atas doa Paman,
mudah-mudahan aku takkan menyusahkan Sangaji di kemudian hari dan untuk
selama-lamanya..."


Gagak Handaka mengangguk. Kemudian kembali mengarah kepada Adipati
Surengpati. Berkata tak kurang hormat, "Gusti Adipati, dua puluh tahun
lamanya, Tuan tak pernah bertemu dengan guru kami. Kami pun baru untuk yang
pertama kali ini bertemu pandang dengan Tuan. Tetapi nama Tuan selalu
mengisi ruang pelajaran kami di perguruan Gunung Damar. Apa sebab dengan
tiba-tiba Tuan menyerang kami tanpa peringatan lagi?"




"Apakah kau murid tertua Kasan Kesambi?" sahut Adipati Surengpati pendek
angkuh. Gagak Handaka mengangguk.


"Dan dia?" Adipati Surengpati menuding kepada Ranggajaya.


"Murid perguruan Gunung Damar berjumlah lima orang. Dialah adikku
seperguruan nomor dua. Mengapa?" sahut Gagak Handaka.


Adipati Surengpati tersenyum pahit. Berkata sengit, "Kau kini berhadapan
dengan lawan gurumu. Mengapa saudaramu itu tak kau ajak maju berbareng?"


Gagak Handaka adalah murid Kyai Kasan Kesambi yang berwatak brahmana. Dalam
segala hal ia bisa berlaku tenang. Pikirannya penuh dan pertimbangannya
luas. Pada saat itu tahulah dia, bahwa tiada gunanya lagi berbicara panjang
lebar dengan Adipati Surengpati yang senang membawa kemauan-nya sendiri.
Meskipun demikian, tetap ia bersikap sopan dan tenang. Dan dengan
membungkuk sedikit ia menjawab, "Dalam hal ini aku mempunyai alasanku
sendiri. Tuan adalah angkatan tua yang harus kuhormati."


Singkat jawabannya Gagak Handaka, tapi cukup tegas dan berwibawa. Dengan
hati-hati ia mulai mempersiapkan diri. Teringat lawannya bukanlah tokoh
sembarangan, maka dengan terpaksa ia lantas saja mengerahkan ilmu sakti
Pancawara. Seperti diketahui, ilmu sakti tersebut jarang dipergunakan
apabila tidak dalam keadaan memaksa. Kehebatannya di luar dugaan seseorang.
Karena tenaga lontarannya bagaikan pukulan seorang sakti kelas wahid. Dan
apabila digabungkan dengan salah seorang dari perguruannya, tenaganya
bertambah dua kali lipat. Dalam hatinya, tiada niat hendak mencelakai
Adipati Surengpati. Karena itu, ia emoh mengajak Ranggajaya agar membantu.


"Hai! Siapakah namamu sebelum kau mampus di tengah ladang ini?" gertak
Adipati Surengpati. "Gagak Handaka."


"Nah, tahukah engkau siapa saja yang berada di sini? Dialah pendekar dari
Gunung Serandil Arya Kebo Bangah. Dan ini pendekar Gagak Seta."


Gagak Handaka lantas saja membungkuk hormat terhadap mereka. Sedianya ia
hendak berbicara, tetapi Adipati Surengpati telah berkata lagi. "Gurumu
telah mencuri ilmu Witaradya dan Kala Lodra. Karena itu kami berdua merasa
dirugikan."


"Mencuri?" sahut Gagak Handaka dan Ranggajaya hampir berbareng. Serentak
mereka bersiaga menghadapi perkelahian yang menentukan.


Sangaji jadi bergelisah. la tahu, kedua pamannya pasti tak dapat lagi
menguasai kesabarannya lagi manakala nama kehormatan gurunya difitnah
demikian. Dia sendiri pun meskipun kini sudah dipilih menjadi
menantunya—akan berani menentang pula, apabila gurunya dihina dan dituduh
sebagai pencuri. Tetapi betapa pun juga, ia tak ingin melihat kedua
pamannya bertempur melawan mertuanya. Maka dengan suara gemetar ia mencoba
melerai. Mendadak Gagak Seta menarik lengan bajunya sambil berkata cukup
terang.


"Sangaji! Tak usahlah engkau mencampuri urusan ini. Mertuamu sekalipun
terdengarnya galak, tetapi tahu membatasi diri. Aku kenal dia. Meskipun
terdengarnya menghina Kyai Kasan Kesambi, sebenarnya hanya bermaksud hendak
menyalakan api marah pamanmu. Dengan begitu ia akan bisa mencoba kekuatan
Paman dan kakek gurumu yang benar. Lihat sajalah! Sekiranya benar-benar
mertuamu akan menghabisi kedua pamanmu, aku ada di sini. Meskipun belum
tentu bisa menang, tetapi mengalahkan aku tidaklah begitu gampang."


Mendengar kata-kata Gagak Seta, secara tak langsung Gagak Handaka dan
Ranggajaya tersadar. Karena itu, masih saja mereka bisa bersikap tetap
hormat terhadap Adipati Surengpati. Sebaliknya Kebo Bangah yang menghendaki
lain, terus saja ikut menimbrung.


"Hai, pendekar jembel! Gampang kau mengoceh seperti burung. Kau anggap apa
aku ini? Masakan aku tinggal memeluk dada, melihat engkau banyak bertingkah
terhadap saudara




Surengpati? Di sampingku masih ada Dewaresi dan anakku Titisari. Mereka pun
takkan tinggal diam. Nah, genaplah pertandingan ini. Empat musuh empat. Kau
mau bilang apa?"


Hebat ucapan Kebo Bangah ini. Didengar selintasan terasa mengancam juga.
Namun Gagak Seta hanya tertawa panjang seolah-olah tak mengindahkan.
Malahan dengan memanggut-manggut ia menjawab, "Boleh coba! Boleh coba!"


Dalam pada itu Gagak Handaka memperta-hankan diri.


"Meskipun tidaklah seagung Gusti Adipati, tetapi guruku tahu membedakan
antara per-buatan layak dan buruk menurut ukuran-ukuran naluriah dan budi
pekerti dalam pergaulan hidup. Masakan hendak mengalahkan kekuatan lawan
saja, seseorang harus mencuri buku wasiatnya? Lagi pula apakah sih hebatnya
ilmu sakti Witaradya dan Kala Lodra, sehingga Tuan yang agung sudi mendakwa
guruku sebagai pencuri?"


"Apa kau bilang?" bentak Adipati Surengpati. "Kau anak kemarin sore berani
menghina aku? Jika begitu jangan kau persalahkan aku. Hari ini, janganlah
engkau mengharapkan pulang dengan selamat!"


"Seorang ksatria takkan melarikan diri dari gelanggang. Tentang mati dan
hidup adalah takdir belaka," sahut Gagak Handaka dengan gagah. Kemudian
berkata memerintah kepada Ranggajaya, "Minggirlah! Janganlah kau berkutik
dari tempatmu. Aku akan melawannya sendiri dengan tenagaku sendiri."


Gagak Handaka adalah murid Kyai Kasan Kesambi yang tertua dan berwibawa.
Setiap katanya merupakan keputusan yang tak boleh diganggu-gugat. Maka
Ranggajaya segera meloncat ke tepi dengan tak membantah.


"Awas!" teriak Adipati Surengpati dan terus saja melompat sambil menyerang.


Tubuh Gagak Handaka bergoyangan ke kiri ke kanan. Dan dengan suatu gerakan
sederhana, ia berhasil membebaskan diri dari serangan Adipati Surengpati
yang sebat luar biasa.


Adipati Surengpati heran, mengapa Gagak Handaka tak melakukan pembalasan
selagi membebaskan diri, ia pun heran pula, cara Gagak Handaka mengelakkan
serangan. Seketika itu juga, sadarlah dia. Cepat ia meloncat mundur sambil
berkata nyaring. "Aku Adipati Surengpati, masakan kaulayani seorang diri?
Panggil adikmu seperguruan!"


"Aku Gagak Handaka mempunyai alasanku sendiri."


"Bagus! Jangan menyesal!" Adipati Surengpati menyahut dengan cepat. Terus
saja ia mengulurkan tangan dan menyambar dengan dahsyat.


Gagak Handaka mundur jumpalitan dan terus bergulingan di atas tanah. Keruan
saja Sangaji terperanjat luar biasa. Gugup ia berteriak, "Kanjeng Romo!
Ampuni pamanku!"


Cepat ia menjejak tanah hendak maju, tapi lengannya kena disambar Gagak
Seta. "Hai! Jangan berlaku tolol! Lihat gerakan pamanmu!"


Oleh sanggahan itu dengan tak sengaja Sangaji melepaskan penglihatannya
kepada Gagak Handaka. Waktu itu Gagak Handaka terus bergulingan dengan
tiada hentinya. Lincahnya bukan main. Tetapi Adipati Surengpati bukan pula
seorang anak kecil. Dengan sebat ia terus memburu, memukul dan menendang.
Meskipun demikian semua serangannya kena dielakkan berturut-turut.


"Perhatikan gerak-gerik pamanmu!" bisik Gagak Seta kepada Sangaji.


Sangaji terus memperhatikan dengan cermat. Kini insyaflah Sangaji, bahwa
cara berguling pamannya merupakan suatu ilmu pemunah yang dahsyat dan licin
tak terkira. Itulah suatu ilmu pemunah tingkat tinggi yang gayanya
mengingatkan kepada cara eyang gurunya tatkala berputar-putar di udara
selagi hendak mulai mencoret suatu jurus ciptaan-nya. Teringat akan hal
itu, terus saja ia mengamat-amati dengan seksama. Tatkala melihat bagian
pelipatan diri yang indah, tak terasa terloncatlah mulutnya. "Bagus!"




Adipati Surengpati benar-benar menjadi penasaran, karena semua serangannya
dapat digagalkan dengan mudah. Hatinya kian panas dan menyerang kian hebat.
Kesudahannya luar biasa mendebarkan hati.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar