11.12.2019

@bende mataram@ Bagian 268

@bende mataram@
Bagian 268


Meskipun Adipati Surengpati kenal akan mulut jahil pendekar dari Sarandil
itu, namun hatinya kena juga terbakar. Mendadak saja ia menoleh kepada sang
Dewaresi dan terus berkata, "Hai kau Dewaresi! Aku sudah berjanji,
barangsiapa yang kalah dalam ujian ini akan kuberi hak untuk memilih satu
macam kepan-daianku. Nah, pilihlah salah satu ilmu kepandaianku. Sebaliknya
kalau engkau ingin menyerahkan hal ini kepadaku, akan kubuat engkau seorang
jantan yang bisa menandingi murid-murid Kasan Kesambi. Berkatalah!"


Mendengar ucapan Adipati Surengpati, Gagak Seta dan Sangaji terkejut.
Titisari pun tak terkecuali. Hanya Kebo Bangah seorang yang lantas saja
tertawa riang. Kata pendekar itu, "Kemenakanku betapa bisa mengenal
keahlianmu. Kalau tadi dia gagal menempuh ujian, kali ini pun dia bakal tak
becus pula memilih ilmu yang baik untuknya. Karena itu biarlah semuanya ini
kami serahkan padamu belaka."


Kebo Bangah mengenal kepandaian Adipati Surengpati yang luar biasa. Kali
ini hatinya sedang panas. Kalau saja ia terlanjur berjanji hendak membentuk
sang Dewaresi menjadi seorang ksatria setangguh murid-murid Kyai Kasan
Kesambi, inilah suatu kesempatan yang tak bisa terulang untuk yang kedua
kalinya. Karena itu, terus saja ia bersuara mewakili kemenakannya.


Girang luar biasa adalah sang Dewaresi. Setelah ia kena dikalahkan dalam
ujian, hatinya menjadi ciut. Mulutnya seperti tersekap tak kuasa berbicara
lagi. Kini mendadak ia memperoleh jalan lain yang bisa membawa suatu
kemungkinan menguntungkan. Pikirnya, bagus! Kalau aku menyerahkan diri agar
dia membentuk aku sebagai wakil dirinya untuk melawan murid-murid Kyai
Kasan Kesambi, bukankah berarti aku akan berada di Pulau Karimunjawa untuk
suatu masa latihan yang tak terbatas? Ini berarti pula, aku akan tinggal
cukup lama di samping Titisari. Masakan dalam waktu itu aku tak bisa
menyergapnya? Dia boleh menghindari aku di waktu sadar. Tetapi... masakan
dia terusmenerus tak pernah lengah sedetik dua detik? Hihaa...


haa...


Oleh pikiran itu, wajahnya terus saja berseri-seri. Dengan membungkuk
hormat ia berkata, "Paman Adipati! Apa yang diucapkan pamanku, adalah
keputusanku sendiri. Dengan disaksikan bumi dan langit, semenjak saat ini
aku menyerahkan diriku kepada Paman. Di kemudian hari, aku akan berjuang
dengan segenap jiwa ragaku demi kepentingan Paman menghadapi murid-murid
Kyai Kasan Kesambi di mana pun mereka berada."


Mendengar ujar sang Dewaresi, hati Adipati Surengpati jadi terharu. Memang
dalam hatinya sebenarnya lebih condong memilih sang Dewaresi menjadi
menantunya.


"Kau sudah menyanggupkan diri, itulah baik. Hanya saja semenjak kini kau
tak boleh bergerak sesuka hatimu," kata Adipati Sureng-pati pendek.


Sampai di situ Kebo Bangah, sang Dewaresi dan Adipati Surengpati puaslah
sudah dengan alasannya masing-masing. Hanya Titisari, Sangaji dan Gagak
Seta yang nampak bersungut-sungut. Tetapi mereka tiada yang membuka mulut.


Gagak Seta adalah seorang ksatria yang terbuka hatinya. Memperoleh kesan
yang terlalu menekan, tak betahlah ia menguasai diri. Terus saja ia tertawa
terbahak-bahak. "Bagus! Bagus! Kalian bertiga memang termasuk golongan
siluman. Hm... apalagi yang harus kita bicarakan."


Sekonyong-konyong dari jauh terdengar suara bentakan sayup-sayup. Itulah
suatu tanda, bahwa di jauh sana terjadi suatu pertempuran hebat. Mereka
lantas saja memasang kuping.


"Anakku Sangaji! Mari kita lihat!" ajak Gagak Seta.


Mereka semua adalah golongan manusia yang gemar melihat sesuatu
perkelahian. Maka begitu mendengar ajakan Gagak Seta, terus saja mereka
berlari-larian saling mendahului. Tidaklah mengherankan, bahwa sebentar
saja mereka telah mendekati gelanggang perkelahian.




Ternyata mereka melihat tiga bayangan manusia berlari-larian ke jurusan
barat dengan suatu kecepatan luar biasa. Dilihat dari gerak-geriknya,
terang sekali mereka bukan orang sembarangan. Sebaliknya termasuk golongan
pendekar kelas utama.


"Hai Kebo Bandotan dan kau saudara Surengpati!" seru Gagak Seta. "Mereka
bukan masuk golonganmu. Juga bukan golonganku.


Cara mereka berlari bukankah mengingatkan kita kepada ilmu Kyai Kasan Kesambi?"


Terkejut Sangaji mendengar seru Gagak Seta. Terus saja ia menajamkan
penglihatannya. Tanpa berkata lagi, ia menyambar pergelangan Titisari dan
sambil menjejak bumi memburu tiga bayangan itu yang sedang kejar mengejar.


Tiga bayangan yang berada di depan mereka waktu itu melesat luar biasa
cepatnya. Yang satu kabur dan yang dua sedang menyusul. Sangaji mengerahkan
segenap tenaganya dan melompat-lompat seperti kemasukan setan. Titisari
merasa seperti dibawa terbang melintasi awan. Mereka berdua kini bukanlah
seperti lima enam bulan yang lalu. Semenjak menerima warisan ilmu sakti
pendekar Gagak Seta, gerak-geriknya gesit melebihi manusia lumrah. Itulah
sebabnya, beberapa waktu kemudian mereka mulai bisa menyusul. Ternyata yang
sedang mengejar bayangan yang kabur itu ialah Gagak Handaka dan Ranggajaya.


Mendadak Ranggajaya menimpuk dengan sebatang kayu berbentuk penggada. Orang
yang dikejar melompat ke samping dan menangkis dengan pedangnya. Dengan
adanya sedikit kelambatan itu, Gagak Handaka berhasil menyusul dan menikam
dengan pedang pula.


Gugup orang itu melesat ke samping dan membalas dengan pukulan telapak
tangan. Sangaji kaget sampai mengeluarkan seruan tertahan. Sebab, orang itu
ternyata seorang laki-laki berewok yang dahulu melukai Bagus Kempong dalam
perjalanan pulang ke Gunung Damar. Muka orang itu nampak pucat dan
rambutnya terurai. Cepat-cepat Sangaji menarik lengan Titisari dan
menghadang di sebelah barat.


Hebat gempuran telapak tangan orang berberewok itu. Dahulu Bagus Kempong
sampai kena dilukai. Kali ini dia seimbang dengan tenaga Gagak Handaka.
Bahkan tubuh Gagak Handaka nampak tergetar sedikit. Serentak Gagak Handaka
menyarungkan pedangnya. Kemudian bersama Ranggajaya terus saja mengepung
rapat. Mereka sedang mempersiagakan ilmu Pancawara.


"Setan! Iblis!" bentak laki-laki itu. "Apa perlu kamu berdua menguber-uber
aku?"


"Hm! Hari ini barulah kuketahui, bahwa engkaulah biang keladi perbuatan
licik. Dengan akal keji, engkau menjebak adikku seperguruan. Ternyata
engkau tidak hanya membuatnya cacat, tetapi merampas kedua benda pusaka
milik tanah Jawa. Nah, kemba-likan kedua benda itu dan serahkan obat
penyembuh cacat adikku!" bentak Gagak Handaka.


Selama di padepokan Gunung Damar, belum pernah Sangaji mendengar pamannya
itu berbicara melebihi sepuluh kata. Kini mendadak bisa memberondong dengan
kata-kata yang ditekankan, terkuasai. Suatu tanda, bahwa pamannya itu lagi
dalam keadaan marah tak terkuasai lagi.


Orang berberewok itu mendengus melalui hidungnya. "Mereka yang melukai
adikmu adalah Malangyuda, Panji Pengalasan, Citrasoma, Randukintir, Baruna,
Bagus Tilam dan begundal-begundal Suma, Wira, Pitra dan Salamah. Apa
sangkut pautnya dengan aku?"


"Masakan ular tanpa kepala? Engkau seorang ksatria. Kepandaianmu tiada
rendah pula," sahut Gagak Handaka berwibawa. "Baiklah! Kau boleh berdusta
sampai dunia kiamat. Tetapi tak pernahkah engkau berpikir, bahwa salah
seorang di antara bawahanmu yang membawa daku mengenalmu?"


Mendengar keterangan Gagak Handaka, seketika itu juga berubahlah wajah yang
berberewok itu. Lantas saja ia berteriak tinggi sambil menjejak bumi. "Huh!
Aku Bagas Wilatikta, masakan bisa kau ingusi. Memang kedua benda itu ada
padaku. Memang, adikmu yang sombong hati,




akulah yang menjebaknya. Tetapi apa salahku? Dalam dunia selebar dan seluas
ini, seseorang boleh merdeka mencapai angannya. Siapa yang lemah, dialah
mangsa yang kuat. Kau mau bilang apa?"


"Tentang kedua benda itu, bisa dirundingkan perlahan-lahan. Tetapi
perbuatanmu yang keji itu, haruslah kau cuci bersih secepat mungkin.
Serahkan obat penyembuhnya. Dengan de-mikian namamu tak akan tercemar dalam
dunia ini."


"Hihuuuu... apakah itu nama cemar dan nama baik?" potong Bagas Wilatikta.
"Semuanya adalah omong kosong belaka. Tentang kedua benda itu sudah kujual
kepada pemerintah Belanda. Lihat niih... perutku kosong! Keluargaku banyak.
Apakah aku harus menelan nama cemar dan nama baik belaka? Cuh! ... Dan
tentang obat penyembuh adikmu, jangan mimpi di siang hari bolong. Meskipun
andaikata saat ini aku mengantongi obat penyembuhnya, masakan akan
kuberikan dengan begitu saja? Ketahuilah bahwa ada di antara bawahanku kena
dilukai adikmu pula. Dialah Bagus Tilam yang kini mati tidak hidup pun tidak."


"Baik. Mari kita tukar nyawa. Kami akan menyembuhkan bawahanmu itu dan
engkau memberikan obat penyembuhnya." Gagak Handaka menyabarkan diri.


"Aku tak mempunyai waktu untuk beromong kosong macam begini. Sampai ketemu
di akhirat!" Bagas Wilatikta terus saja melompat hendak berlari.


"Tahan!" bentak Ranggajaya. Kemudian dengan Gagak Handaka ia menyerang dari
kiri dan kanan.


Bagas Wilatikta memutar pedangnya bagai-kan kitiran dan menyambut serangan
Rang-gajaya dan Gagak Handaka. Dahulu Sangaji pernah menyaksikan, betapa
perkasa dan hebat pukulan orang berberewok itu. Kini dia menyaksikan pula
ilmu pedangnya. Gerak-geriknya gesit dan indah. Agaknya tak gampang-gampang
Gagak Handaka dan Ranggajaya bisa mengalahkan meskipun maju dengan berbareng.


Dugaan Sangaji benar juga. Sesudah lewat puluhan jurus, Bagas Wilatikta
belum juga jatuh di bawah angin. Bahkan makin lama makin nampak gagah.


Sungguh sayang! pikir Sangaji. Orang begitu perkasa, apa sebab mempunyai
pekerti bertentangan dengan angger-angger laku seorang ksatria. Coba,
seumpama musuhnya bukan paman Gagak Handaka atau paman Ranggajaya pastilah
sudah berhasil menumbangkan.


Kira-kira lima puluh jurus lagi, mendadak saja Gagak Handaka bersuit
panjang. Inilah suatu tanda, bahwa pendekar itu mengajak adik
seperguruannya menggunakan ilmu sakti Pancawara. Terus saja mereka
merapatkan diri. Kemudian dengan mendadak melepaskan suatu pukulan
berbareng. Seketika itu juga, pedang Bagas Wilatikta maupun mereka yang
melihat terkejut sampai mengeluarkan suara tertahan. Kedahsyatan pukulan
ilmu Pancawara itu tak pernah mereka duga sebelumnya.


Tetapi Bagas Wilatikta ternyata bukanlah seorang pendekar murahan. Begitu
pedangnya terlepas dan kabur di udara, tersentak ia melompat maju sambil
menggempurkan tangannya. Terus saja Gagak Handaka dan Ranggajaya
menggabungkan diri dan menyongsong pukulan itu. Kesudahannya hebat. Tubuh
Bagas Wilatikta kena terhentak dan terpental sepuluh langkah. Tubuhnya
terbanting di atas tanah dan kemudian mendekam dengan memuntahkan darah segar.


Gagak Handaka dan Ranggajaya dengan cekatan lalu mengepungnya lagi dan
melepaskan pukulan tajam. Seketika itu juga Bagas Wilatikta tak dapat
berkutik lagi.


"Hebat! Hebat! Sungguh dahsyat!" sorak Gagak Seta dengan jujur. Ingin ia
menyatakan kesan hatinya, mendadak terdengar Sangaji lari sambil berseru
girang.


"Paman!"


Gagak Handaka dan Ranggajaya menoleh berbareng. Dan begitu melihat Sangaji,
wajahnya




bersinar terang. Dengan berbareng pula mereka maju menyongsong dan mendekap
kepala pemuda itu.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar