11.11.2019

@bende mataram@ Bagian 267

@bende mataram@
Bagian 267


"Aku adalah murid Wirapati. Dan guruku itu murid Kyai Kasan Kesambi.
Tatkala guruku kena luka parah, Eyang Guru sedang bersilat di tengah malam
hari sampai hampir menjelang subuh. Kebetulan sekali, aku dapat melihatnya.
Entah bagaimana, otakku bisa menangkap sebagian. Malahan, lambat laun aku
bisa memahami semua jurus-jurusnya. Dan tatkala aku melihat Paman Gagak
Seta bertempur melawan Paman Kebo Bangah, mendadak saja aku menemukan
kelengkapannya. Begitulah, maka aku kini sudah dapat memahami 325 jurus
sekaligus dari penglihatan itu."


Gagak Seta tertawa terbahak-bahak sehingga air matanya berlinangan. Sejak
lama tahulah dia, bahwa Sangaji adalah cucu murid Kyai Kasan Kesambi. Hanya
saja untuk menge-sankan mereka, ia berpura-pura bersikap tak tahu menahu.
Dengan demikian, keterangan Sangaji itu bagai canang menggaung di udara bebas.


"Saudara Surengpati!" Akhirnya Gagak Seta berteriak nyaring. "Tak kukira...
si tua bangka itu masih bisa mendendamkan sesuatu. Kau menyaksikan sendiri,
betapa gagah dan perkasa jurus-jurusnya. Inilah celaka bagi si bandot Kebo
Bangah dan kau sendiri. Terang-terangan, si tua bangka itu mencurigai kamu
berdua. Ilmu ciptaannya merupakan ilmu pemunah jurus Kala Lodra dan
Witaradya. Nah, kalian berdua mau bilang apa?"


Dengan terhenyak Kebo Bangah dan sang Dewaresi saling memandang. Sejurus
kemudian Kebo Bangah berkomat-kamit, "Kasan Kesambi? Hm! Betapa mungkin!
Sama sekali dia belum pernah melihat lembaran buku Witaradya dan Kala
Lodra, masakan bisa men-ciptakan suatu ilmu pemunah begini rupa? Apakah aku
harus percaya, dia memperoleh kisikan dari malaikat? Hm ... hm...! Nanti
dulu! Apakah engkau telah menyerahkan buku Witaradya kepadanya yang hilang
digondol Pringgasakti?"


"Apakah ilmu ciptaan Eyang Guru adalah ilmu sakti Witaradya?" Sangaji
heran. "Inilah aneh! Belum pernah sekali juga aku membi-carakan tentang
buku tersebut. Juga Eyang Guru tak pernah menyinggung-nyinggung. Hanya saja
pada hari itu, guruku kena akal licik sehingga luka parah. Dan pada malam
harinya, Eyang Guru bersilat dengan wajah bersungut-sungut di tengah
halaman. Kuka-takan tadi, kebetulan sekali aku melihatnya. Tatkala Eyang
Guru mengetahui, aku dibiarkan seorang diri mengingat-ingat semua jurusnya.
Apakah engkau menuduh pula, aku mencuri ilmu ciptaan Eyang Guru?"


Diam-diam Adipati Surengpati menghela napas. Sebagai seorang yang cerdik
dan serba pandai tahulah dia, bahwa Kyai Kasan Kesambi lagi melampiaskan
dendamnya kepada salah seorang di antara mereka yang dicurigai. Celakanya,
dia pun ikut tersangka pula melukai muridnya.


Benar-benar segala peristiwa di dunia ini tiada yang terjadi secara
kebetulan. Semuanya seperti teratur. Andaikata Sangaji tak melihat ilmu
ciptaan eyang gurunya, masakan aku akan memilihnya sebagai calon suami
anakku, pikirnya pulang balik. Rupanya bocah ini sudah ditakdirkan menjadi
jodoh anakku.


Selagi Adipati Surengpati menimbang-nim-bang peristiwa itu, Kebo Bangah
meneruskan pengusutannya. Tanyanya nyaring, "Siapa yang melukai gurumu?"


Segera Sangaji menguraikan peristiwa pade-pokan Gunung Damar semenjak
dibanjiri tamu-tamu dari berbagai daerah sampai gurunya terluka parah. Baik
Adipati Surengpati, Gagak Seta, Kebo Bangah, Titisari dan sang Dewaresi
mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan hati-hati. Maka ma-sing-masing
merasa, bahwa ekor peristiwa akan jadi panjang dan berbahaya. Kalau saja,
Kyai Kasan Kesambi akhirnya turun gunung, dunia akan menjadi gempar. Sebab,
handai taulan Kyai Kasan Kesambi tidak hanya terdiri dari para ksatria,
tetapi raja dan pangeran-pangeran berada di belakangnya. Sebentar atau lama
akan menyangkut soal pemerintahan negara pula.




"Bagus! Kau sudah memberi keterangan sebisa-bisamu," potong Kebo Bangah.
"Tapi kau menyinggung soal benda pusaka Bende Mataram. Cobalah beri
keterangan di manakah kedua benda tersebut tadinya disimpan?"


Sangaji hendak memberi keterangan, men-dadak Adipati Surengpati menyanggah.
"Anakku Sangaji! Tak usahlah engkau terlalu banyak berbicara!"


Kemudian berpaling kepada Kebo Bangah dan berkata, "Inilah urusan yang
tiada sangkut-paut dengan kita. Apa perlu direntang panjang? Saudara Kebo
Bangah dan saudara Gagak Seta, dua puluh tahun yang lalu kita bertiga
pernah berkutat mempertahankan kehormatan diri. Kini, aku telah memisahkan
diri dan berdiam, di sebuah pulau agak jauh di utara. Marilah kalian
kuundang berpesta pora. Dan di sana kita bisa berbicara dari hati ke hati
tanpa gangguan lagi. Nah, apakah pendapat kalian?"


Titisari terus saja menyambung, "Paman Gagak Seta! Aku berjanji akan
membuat beberapa masakan bagimu. Di pulau Kari-munjawa, terdapat pula
gundukan tanah dan rumput hijau. Di tengah alam Paman bisa menikmati
sepuluh dua puluh macam masakan yang kauhendaki."


Gagak Seta tertawa lebar mendengar ujar Titisari. "Sekarang, tercapailah
rasa hatimu. Lihatlah, betapa girang engkau... sampai mau memberikan segala
yang kaumiliki kepadaku."


Digoda demikian, Titisari tertawa riang. Memang ia seorang gadis berhati
polos. Apa yang terasa di dalam hatinya terbayang jelas pada wajah dan
sikapnya. Maka terus saja ia berbicara lancar. "Paman Gagak Seta! Paman
Kebo Bangah! Kalian berdua kuundang datang. Juga terhadap sang Dewaresi,
aku pun tak boleh mensia-siakan. Kau mau datang, bukan?"


Titisari kemudian memanggut manis terhadap sang Dewaresi dengan sikapnya
yang wajar. Keruan saja, hati sang Dewaresi kelabakan tak tentu kesannya.


Kebo Bangah kemudian membungkuk ter-hadap Adipati Surengpati. "Saudara
Sureng-pati...


aku berterima kasih mendengar maksud baikmu. Hanya saja, perkenankan kita
berpisah sampai di sini saja..."


"Saudara Kebo Bangah!" sahut Adipati Surengpati. "Kau datang dari jauh dan
aku belum kau beri kesempatan melayanimu seba-gaimana lazimnya. Masakan kau
akan mem-biarkan hatimu kurang tentram?"


Sama sekali Kebo Bangah tak tertarik kepada undangan itu. Kemenakannya
telah kalah. Pikirnya, apa perlu lagi berkumpul dengan saingannya. Hanya
saja, tatkala melihat ilmu ciptaan Kyai Kasan Kesambi yang diperlihatkan
Sangaji di hadapannya, hatinya jadi tertarik. Maklumlah, sebagai seorang
pendekar yang merasa diri tiada yang mampu menandingi, terkejut apabila
menyaksikan jurus-jurusnya yang benar-benar merupakan ilmu pemunah ilmu
Kala Lodra. Diam-diam ia berpikir pulang balik, anak tolol itu agaknya
sudah bisa menguasai ilmu ciptaan si tua bangka. Kalau di kemudian hari
sudah memperoleh bentuknya, bukankah akan mencelakakan aku? Sebelum
terlanjur, biarlah kubu-juknya agar mau mengulangi jurus-jurusnya dua tiga
kali. Masakan aku tak sanggup meng-hapalkan jurus perlawanannya. Dan
setelah memperoleh pikiran demikian dengan wajah berseri ia berkata kepada
Adipati Surengpati.


"Saudara Surengpati! Setelah engkau mem-peroleh calon menantu, kini kau
bakal bersa-habat dengan si jembel Gagak Seta. Dalam beberapa bulan saja,
kamu berdua pasti akan berhasil menciptakan suatu ilmu hebat yang tak
terlawan lagi."


"Ha, kau mengiri?" Gagak Seta tertawa pan-jang.


"Aku bukan beriri hati, tapi berbicara perihal yang nyata."


Kembali Gagak Seta tertawa panjang. Berkata setengah mengejek, "Masakan aku
tak kenal ulu hatimu. Di mulutmu kau bilang begitu, tetapi di hatimu lain."


Dua pendekar itu memang bermusuhan dan saling mendendam. Gagak Seta adalah
seorang




pendekar yang terbuka hatinya. Sebaliknya Kebo Bangah tidak. Ia seorang
pendekar licik dan licin. Dalam hatinya ia bersumpah takkan hidup tentram
sebelum Gagak Seta mampus di tangannya. Tapi karena licik, dendam itu tak
nampak pada wajahnya. Demikian pulalah kali ini, begitu mendengar Gagak
Seta tertawa panjang dua kali, terus saja ia membarengi tertawa pula.


"Saudara Gagak Seta! Aku berkata dengan sejujurnya. Kalian berdua pasti
akan bisa men-ciptakan suatu ilmu hebat di kemudian hari. Hanya saja, ilmu
itu tiada gunanya lagi. Sebab pada saat ini teranglah sudah, siapa di
antara kita yang bakal menduduki tempat teratas..."


"Eh, kau berkata apa?" sahut Gagak Seta terkejut. "Mungkinkah engkau telah
berhasil menciptakan suatu ilmu baru yang tiada ban-dingnya lagi di kolong
langit ini?"


Kebo Bangah tersenyum. Menjawab dengan suara merendah. "Apa sih
kehebatannya Kebo Bangah, sehingga akan dapat menduduki ksa-tria tersakti
nomor wahid? Yang kumaksudkan ialah orang yang memberi ilmu sakti kepada
Sangaji."


Mendengar jawaban Kebo Bangah, Gagak Seta tertawa. Berkata menegas, "Apakah
yang kau maksudkan Kyai Kasan Kesambi. Kalau benar, aku harus
mempertimbangkan dahulu. Ilmu kepandaian saudara Surengpati bertambah hari
bertambah maju. Dia makin gagah dan panjang umurnya, sedangkan Kyai Kasan
Kesambi usianya sudah mendekati seratus tahun. Engkau sendiri masih nampak
berwibawa dan perkasa. Tinggal akulah yang ketinggalan. Habis makanku tak
teratur dan tak terurus. Maksud hati mau beristeri, tetapi tiada seorang
pun di kolong langit ini yang mau kuajak hidup melarat."


"Tetapi saudara Gagak Seta," potong Kebo Bangah. "Meskipun kita bertiga ini
bergabung menjadi satu, rasanya susah mengalahkan kyai tua bangkotan yang
bermukim di atas Gunung Damar itu."


"Apa?" sahut Adipati Surengpati terkejut. "Kau maksudkan kita bertiga tak
mampu mengalahkan Kasan Kesambi?"


"Benar. Karena dia sudah berhasil mencip-takan suatu ilmu pemunah untuk
menghadapi kita berdua."


"Hal itu belumlah pasti," sahut Adipati Surengpati lagi. "Jurus-jurusnya
memang hebat. Tetapi tenaga saktinya, masakan bisa melebihi kita yang
berusia jauh lebih muda?"


Senang hati Kebo Bangah mendengar perkataan Adipati Surengpati. Jika
Adipati Surengpati bisa dibakar hatinya, bukankah secara tidak langsung
akan renggang juga dari Sangaji yang ternyata menjadi cucu murid


Kyai Kasan Kesambi? Dasar ia berhati licik dan licin, maka terus saja ia
bermain sandiwara.


"Pastilah ilmu ciptaan si tua bangka itu masih mempunyai sambungannya. Kita
berdua pernah mengadu ilmu kepandaian melawan dia. Sedikit banyak ia telah
mengenal ilmu simpanan kita. Selang dua puluh tahun, bukankah dia seperti
harimau tumbuh sayapnya? Dengan tekun ia mendalami ilmu kita dan kini
ternyata ia sudah berhasil pula men-ciptakan ilmu pemunahnya."


"Hm... mungkin benar Kyai Kasan Kesambi bisa melebihi aku. Tetapi tak bakal
bisa melawan engkau," potong Adipati Surengpati panas.


"Janganlah kau berkata begitu. Kau terlalu merendah. Kita berdua adalah
setali tiga uang. Kalau kau mengakui bisa dikalahkan si tua bandotan, maka
teranglah sudah siapa yang lebih unggul dariku. Dan inilah yang
kukha-watirkan."


Ia lantas berhenti berenung-renung. Dan melihat kesungguh-sungguhannya,
Adipati Surengpati tersenyum. "Lihat saja tahun depan!" katanya. "Aku akan
mengundangnya, saudara Kebo Bangah akan bisa menyaksikan siapa di antara
kita yang menang."


Kebo Bangah merenunginya dengan sung-guh-sungguh. Katanya kemudian,
"Saudara Surengpati! Ilmu silatmu telah lama aku meng-agumi. Akan tetapi
jikalau engkau berkata bisa mengalahkan si Kasan bangkotan, benar-benar aku
bersangsi. Janganlah engkau menganggap




enteng padanya. Dengan murid-muridnya saja, belum pasti engkau bisa
mengalahkan dengan gampang..."


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar