6.12.2014

nanti Amien Rais tambah bingung ngomong apa?


From: <syauqiyahya@gmail.com>

Sabtu, 28 September 2013 | 23:27 WIB

Risma

Putu Setia

Nama lengkapnya Tri Rismaharini. Jabatannya Wali Kota Surabaya. Tapi saya belum pernah bertatap muka dengan dia. Saya bukan arek Suroboyo. Saya hanya kagum melihat wajah Surabaya yang lebih bersih. Tamannya asri, sungainya jernih, jika dibandingkan dengan di masa lalu. Dari warga, saya tahu, inilah prestasi Wali Kota Risma.

Kebetulan saya ingin menulis seorang tokoh. Tapi kenapa Risma, yang tak membuat berita pekan-pekan ini? Kenapa bukan Ruhut Sitompul, yang gegap-gempita di berbagai media? Saya harus mengatakan dengan jujur, saya ingin menulis sesuatu yang serius untuk bangsa ini, bukan menulis lelucon. Saya ingin mengajak pembaca untuk optimistis melihat Indonesia ke depan, bukan larut dalam perseteruan para badut. Risma adalah pilihannya.

Risma adalah pejabat publik yang tahu apa yang harus dikerjakannya. Ia tidak memasang baliho mengajak rakyatnya menyukseskan program pembangunan--seperti para bupati di daerah saya. Ia langsung blusukan. Tatkala hujan, dia meninjau sungai apakah ada pintu air yang tersumbat. Pada saat jalanan kotor, dia memunguti sampah untuk memotivasi warga merayakan kebersihan. Karena itu, saya tak heran jika Risma langsung memberhentikan ajudannya yang merasa jijik tatkala disuruh memungut sampah.

Risma apa adanya. Dia pernah ikut mengatur lalu lintas saat Surabaya terkena macet parah. Padahal para pejabat di pusat masuk ke busway jika ada macet atau dikawal polisi bersirene mengaung. Wanita ini ingin menjadikan Surabaya kota yang bebas pelacuran--suatu langkah terpuji meski itu sangat berat. Caranya tidak dengan mengerahkan Satpol PP yang membawa pentungan. Tidak pula dengan mengerahkan preman yang mengamuk sambil berteriak "hancurkan maksiat..., hancurkan maksiat...". Risma datang berdialog dengan para pelacur, memberi motivasi bahwa pekerjaan itu tidak di jalan yang benar dan generasi yang tumbuh di lokalisasi bukanlah generasi yang sehat. Setelah ia memberikan motivasi itu, para pelacur diberi keterampilan, dan lokalisasi pun ditutup. Tempat prostitusi yang sudah ditutup adalah Bangunsari, Dupaksari, dan Klakah Rejo. Target akhir tahun ini, lokalisasi Dolly--dan para "pemburu seks" tahu bagaimana kejayaan Dolly.

Prestasi Risma itu diakui, bukan hanya oleh masyarakat, tetapi juga para elite politik. Dan itu membuat Risma diharap-harap mau "dinaikkan statusnya", misalnya, mau dijadikan calon Gubernur Jawa Timur, bahkan belakangan mau diundang konvensi calon presiden oleh sebuah partai. Risma menolak tegas. Alasannya sederhana, khas rakyat. Jabatan itu "diatur oleh Yang Di Atas", bukan dikejar-kejar. Tentu ini menarik, pada saat jabatan presiden "dikejar" oleh banyak orang, bahkan ada yang sampai mengemis-ngemis minta dipilih sambil menebar berbagai impian. Risma tak pernah mikir jabatan itu.

Masih banyak lagi prestasi yang membuat saya tertarik menulis soal Risma, sekaligus yang membuat saya punya harapan kepada negeri ini di tengah karut-marut politik golongan. Ketika teman saya tahu bahwa saya akan menulis soal Risma, dia langsung heran: "Kenapa tidak menulis Joko Widodo, yang kini diharap-harap menjadi presiden?" Saya sempat terkekeh: "Saya kan hobi main biliar. Mengincar bola tertentu bisa dengan menyundulkan bola lain." Ah, teman saya pura-pura bego. Coba semua kata Risma dalam tulisan ini diganti Jokowi, esensinya tetap sama. Kalau terang-terangan saya memuji Jokowi, nanti Amien Rais tambah bingung ngomong apa. Bangsa ini punya pemimpin yang bermutu dan membuat kita optimistis. Risma atau Jokowi pemimpin yang akan dilahirkan semesta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar