6.11.2014

Apa dan Siapa 'Pasukan Nasi Bungkus'





From: "A.Syauqi Yahya"

Selasa, 22/04/2014 14:23 WIB
Apa dan Siapa 'Pasukan Nasi Bungkus'
Prins David Saut - detikNews
FOKUS BERITA
Hasil Pemilu 2014 Mengejutkan
Jakarta - Waketum Gerindra Fadli Zon mengeluhkan banyaknya 'pasukan nasi bungkus' yang mem-black campaign Prabowo Subianto. Di kalangan pengamat media sosial sendiri 'pasukan nasi bungkus' itu dikenal sebagai akun anomin sewaan untuk pencitraan tokoh tertentu.
Dalam paparan hasil survei di Universitas Paramadina, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (16/3/2014) lalu, Senior Media Analyze dari lembaga monitoring media Awesometrics Satria Setianda menuturkan, akun-akun itu kerap muncul ketika ada momentum tertentu. Tujuannya jelas untuk pencitraan.
Saat ditelusuri, salah satu akun anonim telah berkicau sebanyak 800 kali, namun follower-nya 0. Dan follow-nya hanya beberapa orang yang di antaranya adalah kandidat capres.
"Saya curiganya itu sewa beberapa orang, akun berbeda-beda tapi mention sama. Misalnya ada 100 akun dijadwalkan berkicau bisa jam sama semua dan isinya sama persis semua, demi pencitraan," kata Satria.
Menurutnya, aku resmi biasanya memiliki banyak follower. Nah, akun palsu atau anomin biasanya hanya dijadikan semacam buzzer. "Sekali tweet berapa rupiah. Ada juga begitu, ada yang followernya 0 ada juga yang banyak," imbuhnya.
Satria mengamati, akun-akun anonim itu menyediakan jasa tweet mulai dari ratusan ribu per tweet hingga jutaan rupiah untuk satu kali kicauan. Hal ini tergantung jumlah follower yang dimiliki akun tersebut. Satria memberi contoh, ada satu aku memiliki 1.000 follower, dan 1.000 follower itu memiliki masing-masing 100 follower, maka dampak kicauannya bisa mencapai 100 ribu akun.
"Kalau harga pasnya saya nggak begitu, tapi ada juga yang satu kali tweet dari Rp 100 ribu sampai jutaan rupiah. tergantung jumlah follower-nya, semakin banyak semakin tinggi harganya," papar Satria.
Istilah untuk akun-akun ini adalah akun komersil, akun komersil resmi selalu terang-terangan menuliskan tweetnya dibayar oleh pihak kedua. Namun berbeda dengan akun komersil anonim yang tak menyebutkan kicauannya adalah sewaan atau bukan.
"Akun anonim itu kita belum identifikasi total, misalnya kita lihat yang dominan saja. Seperti akun Pak Suryadharma Ali itu tidak ada, tapi ada akun yang menyebut namanya," ujar Satria.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar