9.14.2019

@bende mataram@ Bagian 190

@bende mataram@
Bagian 190


Titisari tertawa girang. Jebakannya ternyata berhasil. Maka dengan suara
nyaring ia berkata, "Ucapan seorang jantan bernilai seribu ekor kuda, kata
pepatah. Mulai sekarang, guru ja-ngan menyesal mempunyai murid seperti aku.
Sekarang murid minta penerangan kepada guru, bagaimana cara menandingi ilmu
si ku-nyuk itu yang bergerak seperti ular?"


Gagak Seta diam berpikir. Tak tahu dia menebak maksud Titisari. Tetapi dia
percaya, akan kecerdikan otaknya. Pastilah anak siluman belang itu
mempunyai maksud tertentu, pikirnya. Maka ia tertawa gelak. Tatkala hendak
memberi penjelasan, sekonyong-konyong Titisari berkata, "Bukankah untuk
menangkap ular, harus dipergunakan tali? Nah, tali itu harus melingkar
demikian rupa sampai si ular akan terlilit sedikit demi sedikit."


"Bagus!" seru Gagak Seta girang. Dasar ia seorang pendekar bertabiat Jenaka
serta ugal-ugalan, maka kumatlah dia ketika mendengar kelakar Titisari.
Dengan bertepuk tangan dia berkata lancar, "Apa lagi, kalau kamu mempunyai
garam. Maka tak perlulah kau bersusah payah mencari tali. Cukup dengan
menebarkan segenggam garam dan ularitu akan kelojotan kehilangan tenaga
gerak. Dia akan mati lemas tanpa bersuara..."


Sang Dewaresi tak mengerti ke mana tujuan percakapan ini. Tetapi dia merasa
lagi dipermainkan. Dengan pandang tak senang ia membersitkan penglihatan
dengan benak me-nebak-nebak. Matanya merah membara oleh hawa penasaran dan
kurang tidur.


"Sebenarnya apakah kehendakmu memanggilku?" tegurnya tak bersabar lagi.


Dengan tersenyum Titisari menatap wajahnya. Kemudian menjawab, "Hai, kamu
berbicara dengan siapa?"


Sang Dewaresi tercengang. Membalas, "Bukankah aku bersedia menerima
perintahmu?"


"Bagus!" Titisari tertawa menggoda. Tiba-tiba ia merogoh suatu benda
berbungkus dari dalam dadanya. Tatkala dikibarkan ternyata sebuah kebaya
berduri tajam, entah terbuat dari bahan apa. Ketika Gagak Seta melihat
benda itu, ia berjingkrak karena girangnya. Katanya nyaring, "Ah! Anak
siluman! Apakah kamu menerima warisan benda mustika itu dari ayahmu? Hm,
dengan mengenakan perisai mustika Syech Siti Jenar, kamu akan menjadi
kebal. Dan tiada barang tajam di dunia ini yang dapat menembusnya. Hai!
Apakah ayahmu sudah menceritakan riwayat perisai mustika itu?"


Titisari menggelengkan kepala dengan mata berseri. Dalam pada itu, semua
yang hadir di serambi, mengarahkan seluruh perhatiannya kepada benda
mustika yang berwujud kebaya berwarna hitam halus dan berduri tajam.


Gagak Seta kemudian berkata lagi sambil tertawa mendongak ke atap.


"Anakku! Menurut kabar, perisai mustika itu dahulu, adalah milik Narpati
Gajah Mada Mahapatih kerajaan Majapahit. Itulah sebabnya pula, mengapa
Mahapatih Gajah Mada tak dapat dilawan orang. Ia terkenal sakti dan kebal.
Setiap negeri yang didatanginya dengan tergesa-gesa menyatakan takluk.
Kemudian mustika itu jatuh ke tangan pahlawan Majapahit Kusen. Pahlawan
itulah yang berhasil menewaskan Sunan Kudung, salah seorang calon wali
Bintara. Juga Sunan Drajat, Sunan Kudus dan Sunan Giri tak mampu
mengalahkannya. Setelah negeri Majapahit runtuh, tiada kabar beritanya lagi
tentang benda mustika itu.


Tiba-tiba Sunan Kudus mengabarkan, bahwa benda itu jatuh ke tangan Syech
Siti Jenar. Inilah bahaya. Maka dengan tergesa-gesa Sunan Kalijaga
menciptakan sebuah baju sakti pula bernama Kotang Ontokusuma yang
dikabarkan sebagai baju sakti Arya Gatotkaca, Raja Pringgadani yang oleh
kesaktian baju tersebut bisa terbang mengarungi angkasa. Inilah suatu




cara untuk dapat mengurangi pengaruh kesaktian benda warisan Mahapatih
Gajah Mada terhadap rakyat." Orang tua itu berhenti mengesankan. Ia tertawa
perlahan dan tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. "Sekarang kulihat kamu
mendapat warisan benda sakti Syech Siti Jenar. Aku tak usah berkhawatir
lagi. Aku percaya, kau bisa menggebuki ular buduk kemenakan si Kerbau
Bandotan. Hanya saja, mulai hari ini kamu harus sanggup memperlihatkan
gigimu. Seperti almarhum Syech Siti Jenar, pahlawan sakti yang tiada
terlawan. Kau tahu? Tabiat dan perangai Syech Siti Jenar adalah setali tiga
uang dengan ayahmu. Sifatnya menyendiri, kokoh pendiriannya dan tak
perdulian ter-hadap segala. Itulah sebabnya, mengapa Syech Siti Jenar
dibenci oleh sekalian wali. Aha... biar orang percaya kepada cerita itu,
aku sekelumit pun tak sudi mendengarkan.


Bagaimana mungkin, rahasia bisa berubah menjadi anjing buduk? Itulah
fitnah! Padahal tatkala Syech Siti Jenar dihukum, sama sekali tiada
mengadakan perlawanan. Seumpama beliau melawan, kutanggung sekalian wali di
Demak akan bisa dijungkir-balikkan. Begitulah juga nasib ayahmu. Meskipun
hampir semua orang yang merasa dirinya gagah benci kepada ayahmu, aku si
jembel tetap menghormati. Tapi itu pun bukan berarti, bahwa aku setuju
kepada tingkah-lakunya."


"Paman! Paman berbicara tak keruan jun-trungnya," tukas Titisari. "Aku lagi
menghadapi ular bandot dan bukan lagi menghadapi salah seorang wali."


Gagak Seta terkejut. Kemudian tertawa terbahak-bahak sambil menyahut.


"Ah, betul! Memang mulutku senang melantur tak keruan juntrungnya. Nah,
sekarang perlihatkan kemampuanmu menangkap ular bandot."


"Bagus! Aku murid Gagak Seta, masa tak mampu menjungkir-balikkan ular itu?"
Titisari berseru nyaring. Dan sambil mengenakan baju mustika, lantas saja
memasuki gelanggang.


Sang Dewaresi tiada gentar, meskipun sedikit banyak hatinya terpengaruh
juga oleh riwayat benda mustika itu. Pikirnya, walaupun kamu mengenakan
perisai dari dewa, masa tak mampu merobohkanmu dalam satu gebrakan saja."
Kemudian berkata, "Nona, silakan maju! Aku rela mati dalam tanganmu yang
kuning langsat."


"Idih!" maki Titisari. "Semua ilmu tempurmu, adalah suatu ilmu lumrah.
Tiada harganya untuk kaupamerkan kepadaku. Murid Gagak Seta ingin melihat
ilmu rahasiamu yang busuk. Ayo, kita mulai! Tapi berjanjilah! Jika kamu
sampai menggunakan ilmu lain, kau terhitung kalah."


Dengan tersenyum sang Dewaresi menjawab, "Aku akan melayani sekehendakmu."


"Hm—hm... tak kukira, kau ular bandot bisa juga pandai berbicara," Titisari
tertawa. Tiba-tiba saja tubuhnya melesat. Dan dengan menggunakan Ilmu Ratna
Dumilah ajaran Gagak Seta ia terus menyerang dengan bertubi-tubi.
Sesungguhnya ilmu sakti Ratna Dumilah membutuhkan kegesitan untuk
mengacaukan perhatian lawan. Itulah sebabnya, maka tubuh Titisari
berkelebat seperti bayangan. Sebentar ia melontarkan pukulan tangan dan
tiba-tiba berubah menjadi tendangan kaki tanpa berhenti.


Sang Dewaresi terkejut bukan main. Sama sekali tak diduganya, kalau
Titisari memiliki ilmu demikian hebat. Kini, tak lagi dia berani
merendahkan lawan. Cepat ia menggeserkan kaki dan mengelak selekas mungkin.
Kemudian ia menekuk lengan dan dengan lemas melontarkan serangan balasan.
Itulah salah satu jurus ilmu rahasia pendekar sakti Kebo Bangah. Sasaran
bidikannya menjurus ke pundak. Barangsiapa kena terhajar, pasti akan roboh
seketika itu juga. Tapi mendadak, tangannya sakit luar biasa, kecuali itu
tenaga lontarannya seperti terbalik. Sebentar heranlah dia, teringat akan
benda mustika cerita Gagak Seta tersadarlah dia. Cepat-cepat ia memeriksa
tangannya selintasan karena takut kena racun. Ternyata darah mulai mengucur
membasahi kulitnya. Itulah akibat baju berduri yang tajam luar biasa.
Tetapi darahnya tetap merah. Suatu tanda bahwa duri benda mustika itu tiada
mengandung racun. Maka legalah hatinya. Meskipun demikian, hatinya jadi ciut.




Kini ia tak memperoleh sasaran bidikan yang terulang. Seluruh lengan,
punggung dan dada Titisari terlindung oleh benda mustika yang benar-benar
tak mempan oleh tinju betapa keras pun. Gntuk menyerang kaki, tidaklah
mungkin. Karena Titisari bisa bergerak demikian gesit dan sukar diduga.
Satu-satunya tempat yang kosong dari lindungan benda sakti ialah, muka dan
rambut, la jadi kebingungan, sambil berlompatan menghindari serangan, ia
berpikir keras.


Tak kukira, gadis begini hebat kepandaiannya. Benar-benar puteri adipati
Karimun Jawa yang sakti dan murid Gagak Seta yang tiada cela. Tapi kalau
aku mengalah, bagaimana mungkin aku melihat sinar matahari lagi.
Sebaliknya, jika kuterkam mukanya, bukankah sayang seribu sayang! Dia
begini cantik jelita. Apakah rambutnya saja yang harus kurenggut? Ah,
rasanya kurang pantas. Aku akan dituduh sebagai seorang yang berlaku kasar
dan meninggalkan tata-tertib gelanggang... Hm... hm...


Benar-benar, ia tak dapat memperoleh keputusan, karena itu, ia jadi
kerepotan. Makin lama, ia makin kena terdesak. Hatinya kagum bukan main dan
bertambah gandrung kepada Titisari. Maklumlah, hampir seluruh kepandaiannya
sudah dicurahkan untuk merobohkannya dengan menggunakan ilmu rahasia
pamannya. Tadi, dia begitu gampang menampar Sangaji. Tapi kali ini macet,
karena Titisari menggunakan perisai benda mustika yang tak mempan kena
tinju dan pukulan. Syukurlah dia cerdas, la merobek lengan bajunya dan
tangannya segera dibebatnya. Dalam hatinya sudah memperoleh keputusan
hendak menyerang muka Titisari dan merenggut rambut. Jika perlu ia
memberanikan diri memukul tubuh yang diselimuti benda mustika. Pikirnya,
tanganku sudah terlindung pula, masa tak mampu menembus perisai benda mustika.


Tetapi sekonyong-konyong Titisari meloncat keluar gelanggang sambil berseru
mendamprat. "Kau palsu! Kau kalah! Kau hendak menggunakan ilmu lain."


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar