9.13.2019

@bende mataram@ Bagian 189

@bende mataram@
Bagian 189


Terhadap sang Dewaresi, Sangaji gemas dan geram. Ingin sekali ia
menumbangkan orang itu yang bersikap sewenang-wenang dan mau menang
sendiri. Maka ia menekuni empat jurus tambahan itu dengan penuh semangat
dan dendam berkobar-kobar. Sebentar saja, sudahlah ia dapat memahami.


Sebaliknya, sang Dewaresi heran menyaksikan tingkah laku Gagak Seta.
"Bagaimana orang mengajari seseorang di depan lawannya? Bukankah hal itu
menggelikan benar? Di dunia mana saja suatu ilmu diajarkan kepada seseorang
dengan rahasia. Tujuannya untuk mengejutkan lawan dan menghujani pukulan
tertentu yang tak terduga sama sekali." Mendadak suatu pikiran berkelebat
dalam benaknya. Pikirnya, apakah orang tua itu se-ngaja hendak merendahkan
aku? Memperoleh pikiran demikian cepat ia merenungi dan ikut pula menekuni
empat jurus itu. Dasar otaknya cerdas dan cerdik. Maka dengan mudah ia
sudah dapat memahami dan ternyata keempat jurus itu amat sederhana dan
mudah dihapal. Tetapi satu hal ia salah perhitungan. Memang Ilmu sakti
Kumayan Jati nampaknya sederhana. Namun justru kesederhanaannya itulah
letak kuncinya yang tersulit. Seseorang yang cerdas otaknya dan cepat
memahami takkan dapat menyelami intisari Ilmu Kumayan Jati dengan sempurna,
seperti Titisari. Karena dasar rahasia serta kunci ilmu sakti Kumayan Jati
itu ialah berdasarkan suatu tenaga ajaib khas milik tata-jasmani yang
tersembunyi.


Sangaji berhasil menelaah ilmu sakti Kumayan Jati, karena pertama-tama, ia
memiliki getah sakti pohon Dewadaru yang tiada duanya dalam dunia ini.
Kedua, otaknya tidak begitu cerdas dan pengucapan hatinya sangat sederhana.
Itulah suatu keuntungan yang tak pernah terduga oleh manusia mana pun juga
di dunia ini. Agaknya tabiat dan cetakan manusia Sangaji seolah-olah
sengaja disediakan alam untuk menjadi ahli waris Ilmu Kumayan Jati di
kemudian hari.


Demikianlah, setelah keempat jurus ilmu sakti Kumayan Jati sudah dipahami,
mulailah ia bertempur kembali melawan sang Dewaresi. Sang Dewaresi tiada
takut melawannya, karena




dia sudah paham akan keempat jurus itu. Dengan pandang merendahkan ia
bahkan mulai pula menyambut serangan Sangaji dengan jurus yang baru
diajarkan tadi. Tapi mendadak, terkejutlah dia. Tiba-tiba ia menemui suatu
kesulitan yang tak terduga. Benar, gerakan keempat jurus itu sama sekali
tak salah, tetapi tatkala hendak mengerahkan tenaga jasmani, ia merasa
seperti tercebur dalam rawa berlumpur. Karuan saja cepat-cepat ia hendak
menarik kembali. Tapi kasep, Sangaji waktu itu terus melontarkan pukulan
ilmu sakti Kumayan Jati yang sudah lengkap. Gugup sang Dewaresi menangkis
dengan sekenanya. Inilah suatu kesalahan telak yang ditunggu-tunggu setiap
pukulan ilmu sakti itu. Yakni, membuat lawan sibuk demikian rupa, sehingga
terpaksa menangkis. Maka begitu sang Dewaresi menangkis pukulan Sangaji ia
terlontar mundur empat langkah.


Seketika itu juga, pucatlah muka si raja tak bermahkota itu. Seluruh
tubuhnya terasa nyeri. Napasnya pun nyaris terdesak ke dalam rongga dada.
Untung, bagaimanapun juga. Dia adalah kemenakan seorang pendekar sakti
pula. Sebentar dapatlah ia menguasai diri dan terus menyerang Sangaji
dengan pukulan-pukulan ajaran pendekar Kebo Bangah. Ilmu ajaran pendekar
sakti Kebo Bangah ini, terlarang keras untuk diperlihatkan di sembarang
tempat. Kecuali apabila dalam keadaan terjepit. Sekarang, sang Dewaresi
menggunakan ilmu ajaran itu. Suatu tanda, bahwa dia sudah merasa terjepit.
Tapi, meskipun sudah mencurahkan seluruh kepandaiannya, hasilnya hanya
berimbang, la tak berhasil menumbangkan Sangaji.


"Sungguh berbahaya!" keluhnya dalam hati. "Apabila aku tak dapat
terjatuhkan di depan mata si jembel itu, pastilah akan runtuh keharuman
nama pamanku."


Sambil bertempur ia memeras otak. Mendadak, teringatlah dia akan ilmu
simpanan pamannya yang khusus diciptakan untuk melawan tokoh-tokoh sakti
seangkatan pamannya. Ilmu itu baru separoh bagian yang sudah diwarisi.
Pamannya benar-benar berpesan, agar menyimpan ilmu itu. Sebab apabila
sampai ketahuan salah seorang pendekar seangkatannya, akan sia-sialah
usahanya untuk merebut kedudukan sebagai pendekar sakti nomor wahid. Dengan
berkerut-kerut ia berpikir dalam hati, hm, apakah dalam keadaan begini, aku
tak diperkenankan meng-gunakan ilmu rahasia itu? Semenjak kanak-kanak, aku
dididik Paman untuk mewarisi ilmu saktinya. Tetapi ternyata aku tak dapat
berbuat banyak terhadap murid si jembel Gagak Seta yang baru saja diberi
pelajaran. Kalau aku sampai kena dikalahkan... apakah kata si jembel itu
terhadap Paman?


Masih saja dia beragu hendak mengeluarkan ilmu rahasia keluarganya. Tetapi
ia kena desak terus, bahkan seringkali kena terhajar. Sedangkan tadinya, ia
merasa bisa memenangkan Sangaji. Dasar, ia berwatak manja dan mau menang
sendiri, tak dapatlah lagi ia menggenggam rahasia ilmu keluarganya dapat
terdesak mundur mendadak saja ia melontarkan pukulan dahsyat dan aneh.
Pukulan itu mengeluarkan desis seperti seekor ular hendak menyemburkan
bisa. Tubuhnya berkelebat seperti bayangan dan bergerak melilit lawan.


Melihat serangan itu, Sangaji segera menangkis. Tetapi di luar dugaan, ia
seperti kehilangan tenaga tangan lawan. Tangan sang Dewaresi
sekonyong-koyong lemas seperti ular.


Inilah suatu pantangan utama, bagi ilmu sakti Kumayan Jati yang berpokok
kepada tenaga keras. Tetapi andaikata Sangaji sudah berpengalaman,
sebenarnya ia bisa pula me-rubah menjadi pukulan lembek seperti yang pernah
diperlihatkan Gagak Seta dua bulan yang lalu, tatkala menghadapi sebatang
pohon.


"Plok!" Batang leher Sangaji kena tamparan sang Dewaresi, tanpa dapat
membalas. Ia terperanjat. Cepat ia menundukkan kepala dan membalas serangan
dengan dahsyat. Tapi sekali lagi, ia menghadapi suatu tangan yang
lemas-lembut. Sang Dewaresi ternyata bertempur dengan melenyapkan tenaga.
Ia hanya mengadu kegesitan, menggeser kaki atau mengelak. Itulah sebabnya,
maka tenaga lontaran ilmu sakti Kumayan Jati yang membutuhkan sasaran kuat,
tiada berdaya sama sekali. Tenaga pukulannya seperti deru angin meninju
udara kosong.


"Plok!" Sekali lagi sang Dewaresi berhasil menghajar batang leher. Dan
kembali Sangaji




terperanjat. Cepat ia berputar dan melontarkan pukulan gempuran. Sang
Dewaresi tak mau menangkis dengan mengadu tenaga. Tangannya lemas kembali
dan bergerak dengan berputaran. Memperoleh pengalaman dua kali
berturut-turut, betapa bebal otak Sangaji, bisa juga berpikir cepat.
Buru-buru, ia menarik lontaran pukulannya. Kemudian teringatlah dia akan
pukulan lemas. Segera ia hendak menandingi tata-berkelahi sang Dewaresi
dengan pukulan lemas. Tetapi berbareng dengan terbersitnya pikiran itu,
pundaknya sudah kena terhajar lagi. Kali ini terasa panas, dan nyeri. Dan
belum lagi dia bisa menggunakan jurus-jurus lembek, dua kali berturut-turut
ia kena terpukul.


"Anakku Sangaji, mundur!" perintah Gagak Seta. "Hitunglah kamu kalah satu
kali. Maklum, kamu kalah berpengalaman dengan dia. Tak mengapa."


Sangaji seorang pemuda penurut. Begitu mendengar perintah Gagak Seta, terus
saja ia meloncat ke luar gelanggang. Dengan menahan rasa sakit, masih saja
ia sempat membungkuk terhadap lawannya menyatakan kekalahannya. Katanya,
"Benar-benar aku mengagumimu. Aku menyatakan kalah terhadapmu."


Lega hati sang Dewaresi mendengar pengakuan itu. Dengan membusungkan dada,
ia mengerlingkan mata kepada Titisari. Mulutnya berkulum senyum, namun ia
tak berani berkata sepatah kata pun untuk lebih menggait perhatian gadis
yang digandrungi itu.


Dalam pada itu Gagak Seta, terdengar tertawa bergelak-gelak. Kemudian
berkata nyaring.


"Si Kerbau Bangkotan ternyata seorang bandot yang rajin juga. Dua puluh
tahun tak pernah bertemu. Mendadak kini mempunyai ilmu simpanan hebat. Kau
boleh menyatakan terima-kasih kepada pamanmu, karena aku si jembel belum
memperoleh ciptaan untuk memecahkan ilmu rahasia keluargamu. Nah, pergilah
kamu dari sini dengan baik-baik. Aku takkan mengganggumu."


Mendengar ujar Gagak Seta, sang Dewaresi terkejut. Pikirnya, aduh, celaka!
Karena terpaksa, aku mengeluarkan ilmu rahasia ini. Paman berpesan agar aku
merahasiakan benar, kare-na berbahaya apabila kena dilihat salah seorang
pendekar sakti lawan Paman. Kini, ternyata si jembel itu sudah mengetahui.
Hm, kalau sampai Paman mengetahui kelancang-anku, aku bisa dihukumnya berat."


Teringat akan pesan pamannya, kegembiraan hatinya lenyap seperti embun
terhembus cerah matahari. Dengan membungkam mulut ia membungkuk hormat
terhadap Gagak Seta. Sekonyong-konyong Titisari berseru, "Eh, tunggu dulu.
Aku mau berbicara denganmu."


Mendengar seruan Titisari, sang Dewaresi heran menebak-nebak, sampai
terhentilah langkahnya hendak keluar serambi depan. Ia mengamat-amati gadis
itu. Matanya berkilat-kilat, karena jantungnya berdebar.


Titisari kemudian bersembah kepada Gagak Seta sambil berkata takzim.


"Paman Gagak Seta! Berlakulah adil. Aku selalu bersama dengan Sangaji.
Mengapa, hanya dia seorang yang Paman terima sebagai murid?"


Gagak Seta tercengang mendengar kata-kata Titisari. Kemudian tertawa sambil
menggelengkan kepala. Menjawab, "Sebenarnya, aku sudah melanggar
pantanganku sendiri dengan menerima seorang murid. Selama aku hidup sampai
hari ini, belum pernah terbintik dalam otakku hendak menerima seorang
murid. Tapi ternyata, nasi sudah menjadi bubur. Sangaji sudah menjadi
muridku. Karena itu pula, tak dapat lagi aku berbuat suatu kesalahan.
Dengan terpaksa aku harus mengecewakan hatimu. Tapi ayahmu sendiri luar
biasa pandainya. Bagaimana bi-sa aku mengambil puterinya sebagai muridku?"


Titisari terperanjat dan mukanya berubah seperti tersadar. Kemudian dengan
perlahan-lahan dia berkata, "Oh maaf! Aku lupa, kalau Paman takut kepada
ayahku," dia membentak dengan muka membara.


"Kau berkata apa? Aku takut? Hm... hm..."


"Mengapa Paman tak berani menerimaku sebagai murid?"


Gagak Seta kena terbakar hatinya. Seketika itu juga menjawab, "Aku tak
berani menerimamu sebagai muridku? Siapa bilang? Nah, saksikan semua. Mulai
hari ini, aku mengambil seorang murid baru lagi. Yakni kamu! Mustahil, si
setan belang akan bisa menggerogoti tulang-belulangku ..."


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar