9.12.2019

@bende mataram@ Bagian 188

@bende mataram@
Bagian 188


Dipermainkan demikian, hatinya mau meledak. Maklumlah, selama hidupnya
belum pernah dia dipermainkan seseorang begitu kurang ajar. Dengan
menggerung, ia menyem-burkan tulang itu dari mulutnya. Tepat pada saat itu
berkelebatlah sesosok bayangan turun dari atas. Karena mendongkol, segera
ia menyambutnya dengan pukulan dahsyat. Tapi kembali dia heran, dia tak
berhasil mengenai sasaran. Sebaliknya tangannya seperti menangkap sesuatu.
Tatkala dilihat ternyata tulang kepala seekor kambing. Ia mendongkol
berbareng heran. Dan kembali ia mendongakkan kepala. Dan terdengarlah
seorang berkata, "Nah, bagaimana dengan ilmu silat


pasaran?"


Sangaji dan Titisari mengenal suara itu. Berbareng mereka berseru girang.
"Paman Gagak Seta!"


Sekalian orang yang berada di serambi rumah itu mendongakkan kepala ke
atap. Mereka melihat Gagak Seta lagi menggerogoti paha kambing dengan
nyamannya. Mulutnya penuh dengan bongkahan-bongkahan daging, sedangkan
kedua tangannya berkutat mencengkeram tulangnya seolah-olah khawatir akan
terlepas.


Melihat Gagak Seta, hati sang Dewaresi jadi kecut. Dengan hormat ia
berkata, "Ah, kiranya Paman berada di atas. Dari sini aku memberi hormat."


Benar-benar dia membungkuk hormat. Kemudian membuang tulang batok kambing
ke lantai.


"Hm, kau masih mengenalku?" dengus Gagak Seta dingin. Dengan acuh tak acuh
masih saja dia menggerogoti paha kambing.


"Bukankah aku pernah bertemu dengan Paman? Dengan ini aku menyesali diriku
sendiri, mengapa mataku begini buta sampai tak mengetahui Paman. Sewaktu
aku berjumpa dengan Paman, segera aku mengirimkan warta kilat dengan burung
dara. Aku memperoleh petunjuk-petunjuk yang berharga, bagaimana aku harus
membawa diri jika bertemu dengan Paman. Dan pamanku menyampaikan pesannya,
agar aku menghaturkan hormatnya kepada Paman. Pamanku berdoa dan selalu
berharap, agar Paman tetap sehat wal'afiat."


"Eh, Kerbau Bandot itu pandai juga berpura-pura," tukas Gagak Seta.
"Mestinya dia harus memakiku kalang-kabut dan mengutuki Tuhan pula, mengapa
aku belum mampus. Aku memang seorang pencuri ayam dan pencuri kambing.
Lihat apa yang kugerogoti ini, tapi aku bukanlah seorang pencuri anak dara.
Hai! Apakah pamanmu masih sehat kuat?"


Benar-benar sang Dewaresi tak dapat berkutik ditelanjangi Gagak Seta di
depan orang banyak. Tetapi mengingat kesaktian Gagak Seta ia harus pandai
membawa diri. Maka dia hanya mengangguk kecil belaka.


"Hai kunyuk!" tegur Gagak Seta garang. "Kau tadi bilang, bahwa ilmuku
adalah ilmu pasaran. Bukankah kamu sengaja merendahkan?"


Sang Dewaresi sedih bukan main ditegur demikian. Gerutunya menyesali diri,
"Hm— siapa mengira, dia sudah berada di situ. Benar-benar ilmunya tak boleh
dibuat gegabah


..." Kemudian berkata dengan takzim, "Paman, maafkan kelancanganku ini.
Karena menurutkan hati saja, aku mengoceh tak keruan."


Gagak Seta tertawa terbahak-bahak sambil melompat turun ke lantai.


"Kau tadi menyebut anak muda itu sebagai orang gagah. Tapi ternyata dia
kena kaukalahkan. Jika begitu kamulah si orang gagah. Ha ha ha ..."


Sang Dewaresi tak berani menyahut sem-barangan. Meskipun hatinya mendongkol
bukan main, ia berjuang mati-matian untuk menguasai. Karena apabila sampai
kena terje-bak, dia bisa babak-belur menghadapi seorang sesakti pamannya.


Gagak Seta berkata lagi, "Aku tahu, karena kamu percaya kepada ilmu si
bangkotan busuk, maka kau mengira bisa berbuat semau-maunya di wilayah ini.
Benarkah dengan berbekal ilmu bangkotan itu kau bisa malang-melintang tanpa
tandingan? Hm! Hm! Jangan bermimpi! Selama aku belum mampus, kukhawatirkan
kamu tak mendapat tempat di sini."


Sang Dewaresi masih terus mengendalikan diri. Dengan membungkuk terpaksa ia
menyahut, "Paman adalah pendekar sakti seperti pamanku sendiri. Karena itu,
aku wajib patuh kepada semua kehendak Paman. Paman menghendaki apa?"


"Eh, kau bilang apa? Bagus! Kau hendak memaksaku, agar menghina angkatan
muda? Mana bisa begitu?"




Sang Dewaresi membungkam mulut. Itulah satu-satunya sikap untuk melawan
Gagak Seta agar selamat.


"Dengarlah!" damprat Gagak Seta. "Aku si tua bangkotan ini tidaklah
sekerdil pamanmu. Kalau hatiku lagi berdendang kerapkali aku memberi satu
dua petunjuk kepada seseorang yang kejatuhan rejeki. Seperti Sondong
Majeruk itu. Tapi ia hanyalah suatu ilmu kasar belaka. Dia belum boleh di
sebut sebagai ahli warisku. Karena itu, kau tak boleh merendahkan ilmuku
sebagai ilmu silat pasaran. Hm! Hm! Bukanlah aku tukang membual, tapi kalau
aku sudah mengangkat seorang murid yang langsung kudi-dik, belum tentu tak
dapat menjungkir-balikkan tampangmu meskipun kau sudah mewarisi ilmu
pamanmu. Kau percaya tidak?"


"Tentu, tentu. Bagaimana aku tak percaya?" sahut sang Dewaresi berpura-pura.


"Bagus! Kau pandai berpura-pura!" tukas Gagak Seta yang dapat membaca isi
hatinya. "Mulutmu berkata begitu tapi hatimu memaki kalang-kabut. Pamanmu
kerbau bangkotan pun pandai berbicara seperti monyong-mu.


"Tidak, tidak. Sama sekali tidak. Masa aku berani memaki Paman?"


"Paman Gagak Seta!" sela Titisari gemas. "Jangan percaya ocehannya! Di
dalam hatinya, dia sedang memakimu kalang-kabut!"


"Bagus! Bagus!" Gagak Seta kena terbakar. "Jadi kau berani memaki?"


Berbareng dengan kalimatnya yang penghabisan, tubuhnya berkelebat dan
tahu-tahu pedang tipis sang Dewaresi telah berpindah ke tangannya. Sudah
barang tentu sang Dewaresi terperanjat bukan main. Selama hidupnya, belum
pernah pedangnya terampas dengan terang-terangan. Dia merasa diri termasuk
golongan pendekar yang gesit, tangkas dan cekatan. Namun dibandingkan
dengan kepandaian Gagak Seta, benar-benar dia mati kutu. Mau tak mau
terpaksalah dia menelan kenyataan yang pahit itu.


"Hm!" dengus Gagak Seta. "Pedang apakah ini?"


Titisari menyahut, "Itulah pedang yang biasa dipergunakan memasak di dapur.
Kalau bukan untuk menyembelih babi, mungkin ayam pengkor."


Mendengar kata-kata Titisari, hati sang Dewaresi mendongkol tak kepalang.
Matanya sampai merah dan dengan bersungut-sungut mengawasi Titisari. Tetapi
Titisari tak peduli. Dengan pandang mata tajam pula ia menentangnya. Dasar
sang Dewaresi gandrung kepadanya, maka ia mau mengalah. Hilanglah
kemendongkolan hatinya dan seketika jadi gregetan. Ih! Sekali kau
kutangkap, takkan kulepaskan sebelum tubuhmu reyot tak keruan.
Ingat-ingatlah itu! ancamnya dalam hati.


"Hai pencuri dara, dengarkan!" kata Gagak Seta. "Jika aku melawanmu—biarpun
kamu mendatangkan seribu dewa—takkan kau memperoleh tempat berpijak. Karena
itu, aku hendak melantik seorang murid untuk melawanmu ..."


Benar-benar sang Dewaresi direndahkan. Seketika itu juga panaslah hatinya.
Dengan berani ia membalas.


"Saudara tolol ini, tadi bertempur denganku beberapa jurus. Seumpama Paman
tidak mengganggu, pastilah aku akan dapat menumbangkan. Lantas, Paman
hendak melantik murid yang mana lagi?"


Gagak Seta tertawa gelak sambil mengerling kepada Sangaji yang menelan
hinaan sang Dewaresi dengan berdiam diri.


"Anakku Sangaji, apakah kamu muridku?"


Teringatlah Sangaji, bahwa orang tua itu dahulu menolak kehendaknya tatkala
menyebutnya sebagai guru. Bahkan sewaktu ia hendak bersembah, dia membalas
memberi sembah pula. Maka cepat ia menjawab, "Aku tak mempunyai rejeki
untuk menjadi murid-mu.


"Nah, kau telah mendengar," kata Gagak Seta kepada sang Dewaresi. Dan sang
Dewaresi




menjadi heran. Ih! Jadi dia bukan muridnya? Habis, siapakah guru anak itu?
Dia begitu hebat! pikirnya.


Dalam pada itu Gagak Seta tak mengindahkan apa yang berkutik dalam hati
sang Dewaresi. Dengan mata bersinar-sinar ia merenungi Sangaji dan berkata
memutuskan.


"Hari ini dan jam ini pula, aku hendak melantik seorang murid. Dan
engkaulah kulantik menjadi muridku. Apakah kau senang mempunyai guru
seperti aku?"


Mendengar keputusan Gagak Seta, Sangaji girang bukan main. Serentak ia
membungkuk dan bersembah dengan takzim sampai berulang tujuh kali.


"Hai anak tolol!" damprat Gagak Seta. "Kau hanya bersembah seperti orang
tak waras. Mengapa mulutmu tak mengucapkan sepatah kata, menyebut aku
sebagai gurumu?"


"Dalam hatiku, Paman adalah guruku. Tetapi pada saat ini belum berani aku
menyebut Paman sebagai guruku, sebelum memperoleh izin kedua guruku. Aku
berjanji hendak minta izin kedua guruku ..."


Sejenak Gagak Seta merenungi ucapan Sangaji. Akhirnya tertawa panjang
sambil berkata, "Benar? Itulah perbuatan seorang yang berhati mulia, yang
tak mau melupakan asal-usul. Nah, biarlah sekarang aku melengkapi ilmumu.
Aku akan mengajarmu empat jurus pelengkap. Lihat!"


Gagak Seta kemudian mengajari empat jurus pelengkap ilmu sakti Kumayan Jati
yang berjumlah delapan belas jurus. Seperti diketahui, Sangaji sudah
memiliki empat belas jurus Ilmu Kumayan Jati. Maka kini lengkaplah sudah.
Tinggal enam jurus lagi yang merupakan kunci mendampar musuh dengan
pelontaran tenaga dahsyat.


Dengan sabar Gagak Seta mengulangi keempat jurus itu sampai Sangaji paham
benar. Tahu-tahu matahari sudah menyingsing di timur. Burung-burung mulai
memperdengarkan suaranya. Dan penduduk mulai pula bekerja mencari nafkah.
Dalam serambi rumah baru itu, jadi terang benderang.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar