9.11.2019

@bende mataram@ Bagian 187

@bende mataram@
Bagian 187


"Bagus!" seru Titisari gembira. Dengan memegang lengan Sangaji, dia berkata
mengajak, "Aji! Badut ini menurut kabar bertempat tinggal di wilayah
Banyumas. Mari kita berpesiar ke sana. Bukankah Banyumas memiliki
pemandangan yang indah pula?"


Belum lagi Sangaji menjawab, sang Dewaresi buru-buru menyahut, "Aku hanya
menghendaki engkau seorang diri untuk selama-lamanya. Apa perlu bocah tolol
ini menyertai kita berdua?"


Mendengar sang Dewaresi menyebut Sangaji si tolol, Titisari bergusar hati.
Dengan sekali melesat ia menyambar pipi sang Dewaresi seraya mendamprat.


"Bedebah! Kau berani memaki dia? Kaulah si badut tolol."


Sesungguhnya sang Dewaresi gandrung kepada Titisari, seorang gadis
padat-singsat, tangkas-gesit yang usianya lagi memasuki tujuh belas tahun.
Begitu ia melihatnya, matanya berseri-seri. Tak bosan-bosan ia
mengamat-amati perawakan tubuhnya dan kejelitaan wajahnya yang begitu
serasi. Sama sekali tak diduganya, kalau gadis yang begitu molek bisa
berubah begitu hebat dengan mendadak. Karena tiada mengira sama sekali,
maka dia lengah tak berjaga-jaga. Tahu-tahu pipinya terasa panas kena
tampar Titisari. Untung, gadis itu meskipun sudah menguasai ilmu sakti
Ratna Dumilah belum memiliki tenaga bayu. Itulah sebabnya, maka tamparannya
tiada menimbulkan luka. Meskipun demikian, sang Dewaresi terperanjat
setengah mati. Maklumlah, selama hidupnya belum pernah dia kena tampar
seseorang dengan berhadap-hadapan.


Sang Dewaresi jadi mendongkol. Cepat ia hendak membalas dengan menyerang
dada. Maksudnya hendak berkurang ajar pula dengan menggerayangi. Titisari
nampaknya seperti lengah. Ia membiarkan tangan sang Dewaresi sampai masuk
sejari di depan dada. Mendadak saja, ia melesat ke samping dan menampar
lagi dengan jurus sakti Ilmu Ratna Dumilah yang mengagumkan.


Sang Dewaresi kaget. Aneh, dengan ilmu apakah dia bisa menerobos
penjagaanku? pikirnya. Hatinya jadi gemas. Maka ia menyerang kembali. Juga
kali ini, Titisari bisa mengelak dan mengirimkan serangan. Mau tak mau sang
Dewaresi merasa kuwalahan. Karena untuk menghajar Titisari dengan
sung-guh-sungguh, hatinya tak sampai hati. Bagaimana mungkin tangannya akan
menyakiti kemungilannya yang begitu menggiurkan?


Akhirnya kemendongkolannya ditumpahkan kepada Sangaji. Pikirnya, biar
kurobohkan pemuda ini. Kalau dia sudah kurobohkan, tanpa kumengapakan pasti
runtuh pulalah hatinya.


Mendapat keputusan demikian, ia berpura-pura menyerang Titisari. Tetapi
mendadak kakinya menyepak ke belakang mengarah Sangaji yang masih berdiri
tegak. Itulah jurus serangan sakti ajaran pendekar Kebo Bangah, pamannya
yang termasyhur sebagai tokoh sakti yang utama.


Sangaji terperanjat, karena tiada menyangka diserang demikian rupa. Untuk
mengelak, tiada kesempatan lagi. Sebaliknya dia pun tak sudi diserang tanpa
membalas. Maka cepat ia melontarkan serangan balasan yang mendadak pula.
Dengan demikian, mereka berdua terpaksa adu tenaga. Brak! Kedua-duanya
menggeliat mundur dengan kesakitan. Dan mereka jadi penasaran pula.
Akhirnya ber-tempurlah mereka dengan dahsyat. Laskar Sondong Majeruk jadi
keheran-heranan, melihat cara bertempur Sangaji. Dengan cepat mereka
mengenal jurus pertahanan Sangaji tatkala diserang sang Dewaresi dengan
mendadak. Itulah satu jurus yang seringkali dipergunakan Sondong Majeruk
untuk menolong diri.


"Hai! Dia pun mengenal jurus makan sate kambing!" seru salah seorang di
antara mereka dengan suara tertahan. "Mengapa dia mengenal jurus itu pula?"


Sesungguhnya, tatkala sang Dewaresi menyerangnya dengan tiba-tiba, tanpa
berpikir lagi ia menyambut dengan jurus makan sate kambing. Kemudian dia
mendesak dengan jurus-jurus lain yang dahsyat dan teratur.




Sondong Majeruk yang sudah dapat tegak berdiri lagi, heran sampai
terlongong-longong melihat jurus-jurus Sangaji. Pikirnya, Ilmu Kumayan Jati
adalah ilmu rahasia pendekar Gagak Seta. Karena rejeki besar semata, aku
dapat mewarisi satu jurusnya. Tetapi pemuda ini memiliki jurus-jurus lain
yang jauh lebih banyak. Dia bisa pula menggunakan dengan cepat, tepat dan
kuat. Apakah dia sudah mewarisi Ilmu Kumayan Jati?


Sang Dewaresi sendiri heran pula. Menurut Yuyu Rumpung, pemuda itu hanya
berkepandaian lumrah. Tapi ternyata begini hebat dan susah dilawan. Apakah
selama berpisah kurang lebih dua bulan ini, sudah berjumpa dengan iblis
atau malaikat yang bisa merubahnya menjadi manusia baru? Mendadak
teringatlah dia kepada Gagak Seta. Bukankah pemuda itu berada bersama dia?
Pikirnya, bukan mustahil dia sudah memiliki ilmu Gagak Seta. Baiklah
kuujinya dengan ilmu sakti Paman Kebo Bangah."


Cepat ia menghujani Sangaji dengan bertubi-tubi. Tetapi sampai empat puluh
jurus masih saja belum bisa dikalahkan. Meskipun demikian, lambat-laun ia
melihat juga kelemahan lawannya. Dasar ia mempunyai pengalaman jauh lebih
banyak. Maka sedikit demi sedikit ia bisa mendesaknya.


Sesungguhnya Sangaji agak kerepotan juga. Dia sudah menggunakan empat belas
jurus ilmu sakti Kumayan Jati. Kemudian mengulangi lagi dengan memutar
balik. Begitulah seterusnya berulang-kali. Dan inilah kelemahannya. Sang
Dewaresi yang cerdik lantas saja bisa menebak rahasia dirinya. Lewat
beberapa jurus lagi, dia merasa kewalahan. Sang Dewaresi dapat mencegat
jurus-jurusnya sebelum dilancarkan dengan sem-purna. Kecuali itu,
gerak-geriknya bertambah lincah. Setelah bertempur selama dua belas jurus
lagi, pundaknya mulai kena terhajar. Syukur, tubuhnya kuat dan dalam
dirinya mengalir getah sakti Dewadaru. Maka begitu kena pukul, lantas
mempunyai daya bertahan. Itulah sebabnya, hajaran itu tak menyakiti tubuhnya.


Melihat keuletan Sangaji, untuk sementara sang Dewaresi tak berani
mendesak. Ia hanya berputar-putar mencari lowongan dan menunggu pula.
Sangaji mengulangi jurusnya yang lambat-laun dapat dikenalnya. Kemudian
merangsaklah dia dengan bertubi-tubi serta tiba-tiba. Waktu itu Sangaji
sudah habis memainkan empat belas jurusnya. Maka anak muda itu bersiaga
hendak mengulangi lagi. Inilah saat yang ditunggu-tunggu sang Dewaresi.
Dengan cepat, ia menyambar pundak dan mencengkeram dada sekaligus.


Sangaji terperanjat. Jalan untuk keluar seolah-olah buntu dan pepat. Merasa
terjepit, mendadak saja ia malah menubruk. Itulah ajaran ilmu Jaga
Saradenta dan Wirapati yang dahulu dipersiapkan untuk melawan Pringgasakti.
Sang Dewaresi terkejut bukan kepalang. Inilah suatu kejadian yang tak
diduganya. Tahu-tahu lengannya kena terhajar dan ter-cengkeram. Kaget ia
meloncat mundur, tapi tak urung lengan bajunya rontang-ranting.


"Sungguh berbahaya!" keluhnya dalam hati. Ia harus merasa bersyukur, tulang
lengannya tidak remuk. Sebaliknya Sangaji girang dengan hasil itu.


Kini ia mendapat suatu penemuan baru. Ternyata suatu ilmu itu tidak
selamanya harus mengikuti jurus-jurus yang sudah ditentukan. Dalam suatu
perkelahian kiranya diperkenankan memutar-balikkan atau mencampuradukkan
dengan ilmu lain. Semuanya harus disesuaikan dengan corak-perkelahiannya.
Memperoleh pendapat demikian, Sangaji bisa menambal kekurangannya jurus
ilmu sakti Kumayan Jati dengan ilmu ajaran Jaga Saradenta dan Wirapati.
Maka makin lama ia menjadi makin tangguh dan berbahaya.


Sang Dewaresi jadi kerepotan. Kini ia tak dapat menebak corak jurus
lawannya. Nampaknya jadi kacau dan campur-aduk, tapi anehnya jauh lebih
berbahaya dan sukar diduga. Mendapat kesan, bahwa Sangaji sukar dirobohkan
dengan segera, maka sang Dewaresi merubah tata-berkelahinya. Kini ia
memperlambat gerakannya seolah-olah berayal. Kemudian melontarkan ejekan
menghina untuk memanaskan hati lawan. Memang dia seorang raja tak
bermahkota yang sudah berpengalaman. Selain mengenal ilmu sakti ajaran
pamannya, pandai pula




berperang urat-syaraf. Maka Sangaji kena dijebaknya sehingga anak muda itu
berkelahi dengan bernafsu.


"Hm, inilah ilmu si jembel Gagak Seta?" ejek sang Dewaresi. "Kukira ilmunya
setinggi gunung, tak tahunya hanya ilmu silat pasaran."


Hati Sangaji jadi panas mendengar nama Gagak Seta direndahkan demikian
rupa. Maka ia membalas mendamprat.


"Ilmuku tiada sangkut-pautnya dengan dia. Benar aku sudah memperoleh
petunjuknya, tapi akulah yang dasar goblok."


"Eh, benarkah kamu si goblok atau si kerbau tolol itu?" Sang Dewaresi
tertawa terkekeh-kekeh.


Hati Sangaji kian mendongkol. Dengan penuh semangat, ia mendesak.
Sebaliknya, sang Dewaresi hanya melayani dengan ayal-ayalan. Orang itu
sudah memperhitungkan perkelahian itu dalam jangka waktu panjang. Pikirnya,
biar habis tenaganya dahulu, baru kuhajar kalang-kabut.


Memang, lambat-laun tenaga Sangaji jadi kendor juga, meskipun semangat
tempurnya masih berkobar-kobar. Mendadak . sang Dewaresi melesat dengan
gesit. Kemudian menyerang dengan tiba-tiba. Tangan kanannya mencengkeram
rambut dan yang lain menyodok ke arah dada. Selain itu, kakinya didepakkan
menyerang lambung.


Benar-benar Sangaji dalam keadaan bahaya. Nampaknya sulit untuk mengelak.


Titisari yang menonton adu kepandaian itu dengan waspada, terkejut melihat
kekasihnya terancam bahaya. Sejak tadi dia sudah mempersiapkan senjata
bidiknya yang terdiri dari isi sawo. Benci dia melihat tingkah-laku manusia
dari barat itu. Maka begitu memperoleh kesempatan, ia hendak menghajar
dengan diam-diam. Kini ia melihat bahaya, karuan saja hatinya tercekat.
Cepat ia melontarkan senjata bidikan tujuh delapan biji sekaligus.


Sang Dewaresi terkejut melihat berkelebat-nya senjata bidik itu. Cepat ia
melolos pedang tipisnya dan menyapu sekian biji itu. Hanya saja dia merasa
aneh. Terang sekali, dia sudah berhasil menyapu bersih, tetapi lututnya
menjadi sakit. Dengan hati terkejut ia melompat mundur dan terus
memeriksanya. Ternyata ada sebutir biji sawo yang berhasil menembus kainnya
dan menancap pada kulitnya. Tentu saja ia marah bukan kepalang. Dengan
menggerung dia meledak.


"Binatang manakah yang membokong dari jauh? Kalau berani, marilah
berhadap-hadapan dengan terang-terangan..." Belum lagi ia menyelesaikan
kalimatnya, sebuah benda melayang cepat menyambar kepadanya. Ia hendak
mundur, tetapi sia-sia belaka. Tahu-tahu mulutnya telah tersumbat penuh. Ia
kaget bercampur gusar, karena mulutnya mendadak terasa asin. Cepat-cepat ia
menyemburkan keluar. Ternyata yang menyumbat mulutnya adalah sekerat tulang
itik.


la mendongak ke atas, karena dari sanalah asal serangan tadi. Tapi sekali
lagi ia kena hajar. Mendadak saja atap rumah seperti rontok. Dan debu
berbareng pecahan genting merontoki matanya. Dengan gemas, terpaksalah dia
melompat ke samping. Kembali dia mendongak dan mulutnya siap mengumpat.
Tetapi sekali lagi, sebelum mulutnya berhasil melepaskan suara, sekerat
tulang menyumbatnya dengan tiba-tiba. Kali ini rasanya masam dan pedas
bukan kepalang.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar