10.09.2019

@bende mataram@ Bagian 223

@bende mataram@
Bagian 223


Mereka memasuki kamar Bagus Kempong. Waktu itu Bagus Kempong sedang
melakukan semadi. Dengan tekun ia mengatur pernapasannya. Tanpa berbicara
lagi, Gagak Handaka dengan Ranggajaya terus saja menempelkan tangannya
masing-masing ke dada dan punggungnya. Kemudian dengan berbareng mereka
menyalurkan anasir hawa lewat lubang urat syaraf dan urat tali jantung.
Seperti diketahui, jasmaniah ini terbagi tiga anasir. Yakni: anasir api,
bumi dan air. Masing-masing memiliki kadar gaib, yang selaras dan seimbang,




hanya dalam saat-saat tertentu ketiga anasir itu bergolak oleh suatu
pengaruh dari luar. Seseorang yang mengalami pergolakan bahan pokok ini,
harus secepat mungkin bisa mengendalikan diri. Apabila tidak, kesehatannya
akan terganggu. Setidak-tidaknya akan menderita penyakit urat syaraf yang
sulit untuk dikembalikan seperti sediakala.


Sebagai anak murid Kyai Kasan Kesambi, Gagak Handaka dan Ranggajaya diajar
mene-kuni asal bahan bagan manusia. Seringkali Kyai Kasan Kesambi
merasukkan istilah-istilah anasir air, bumi, api ke dalam ingatannya.
Sedangkan anasir angin atau hawa selalu ditaruh di belakang ketiga anasir
tersebut seolah-olah suatu lampiran belaka yang tidak begitu penting.
Memang, anasir hawa atau angin terjadi oleh suatu akibat pergeseran
(percampuran) ketiga anasir itu. Karena itu, Kyai Kasan Kesambi
menitikberatkan ajarannya kepada penguasaan ketiga anasir pokok. Seseorang
yang sudah mahir menguasai ketenangan ketiga anasir tersebut, takkan
gampang-gampang bisa terperosok ke dalam anasir angin yang penuh melagukan
hawa nafsu, hawa amarah dan nafsu-nafsu kehendak lainnya. Sebaliknya, dia
akan memperoleh manfaat besar karena sari-sari anasir ketiga tersebut akan
saling terjalin merupakan benteng maha dahsyat. Tetapi apabila benteng itu
sekali kena terpecahkan oleh suatu arus hawa dari luar, maka yang
terpenting ialah mengimbangi arus desakan hawa itu dengan perlahan-lahan.
Kemudian dengan teratur pula mengusirnya pergi.


Demikianlah, apabila Gagak Handaka dan Ranggajaya dengan berbareng
menyalurkan anasir hawa dari sari-sari pergerakan ketiga anasir bumi, air
dan api. Seketika itu juga, dalam diri Bagus Kempong terasa segar hangat.
Perlahan-lahan racun hawa yang menggoncangkan daya tahan anasir tiga kena
didesak mundur. Tak sampai satu jam lamanya, kesehatannya lantas saja pulih
kem-bali. Butir-butiran keringat yang berasal dari tumpuan anasir hawa
merembes, keluar lewat sumsum, tulang, darah, urat-urat, daging, kulit dan
rambut.


"Ih!" Gagak Handaka mengerenyitkan kening sambil melepaskan tangannya.
"Apabila aku tiada memperoleh bantuan Ranggajaya dan engkau sendiri, belum
tentu aku dapat mengusir tenaga racunnya yang tersekam dalam tubuhmu."


Bagus Kempong masih belum berani berbicara, hati-hati ia menarik napas dan
memeriksa ruas-ruas tulang sambung. Apabila benar-benar tiada gangguan
lagi, baru dia berkata: "Selama hidupku selain Guru, baru kali itulah aku
berhadapan dengan seseorang yang memiliki tenaga pukulan maha dahsyat.
Memang tadinya sama sekali aku tak mengira, karena melihat dia kena dipukul
Wirapati sekali rebah. Mendadak saja tatkala aku mengadu tenaga, suatu
dorongan dahsyat menusuk urat nadi. Cepat-cepat aku hendak bertahan diri,
tapi nampaknya telah kasep. Namun andaikatapun aku bersiaga sebelumnya,
tenaga orang itu benar-benar bukan tandinganku."


Gagak Handaka meninggikan alis. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menebak
asal usul orang itu dengan titik tolak bekas pukulannya. Tetapi tetap saja,
teka-teki itu tak dapat dipe-cahkannya. Ranggajaya yang masih sibuk
mengusap keringatnya sekonyong mendengus.


"Apakah dia berberewok?"


Bagus Kempong dan Wirapati mengiakan dengan berbareng.


"Hm," dengusnya lagi. "Terang-terangan dia bermuka berewok, meskipun
demikian kalian kena tuduh. Apalagi, seumpama orang-orang itu pernah
mengenal tampangku."


Ranggajaya mukanya berbulu juga, sehing-ga oleh ujarnya itu sekalian
saudara-saudara seperguruannya tertawa terbahak-bahak. Sangaji sendiri
meskipun merasa diri dari angkatan muda diam-diam ikut tertawa pula.
Pikirnya, pamannya seorang ini nampaknya angker dan keren, tetapi pandai
pula berke-lakar meskipun bernada sungguh-sungguh.


Malam harinya, mendung padepokan Gunung Damar telah tersapu bersih.
Maklumlah Wirapati telah kembali dan kesehatan Bagus Kempong sudah pulih.
Semenjak sore hari, mereka duduk berkumpul memperbin-cangkan orang
berberewok yang memiliki pukulan sakti itu. Mereka




mengingat-ingat tokoh-tokoh yang pernah diperkenalkan gurunya dan
membawa-bawa pula tokoh utama pada zaman itu, tetapi tetap belum memperoleh
kata sepakat. Terasa benar, bahwa asal usul orang itu tersekap di balik
halimun kabut tebal yang susah ditembus. Karena membawa-bawa nama
tokoh-tokoh sakti pada zaman itu, mendadak saja Sangaji terus berkata:
"Paman sekalian. Sebenarnya dengan tak sengaja, aku telah menerima ilmu
Kumayan Jati dari Paman Gagak Seta. Meskipun aku tiada mengangkatnya
sebagai guru."


"Hai! Gagak Seta?" Gagak Handaka terkejut. Terus saja ia meraih tangannya
dan didekapkan dengan hangat ke dadanya. Berkata mengesankan. "Anakku!
Berbahagialah engkau! Berbahagialah! Engkau seperti dihampiri malaikat
Jibril yang datang mengkaruniai suatu ilmu maha sakti. Mengapa engkau
bersegan-segan? Apabila engkau telah menjadi murid Paman Gagak Seta,
kedudukanmu sejajar dengan kami."


Mendengar ujar Gagak Handaka, Sangaji terkejut sampai tak terasa menarik
tangannya. Ia merasa, di balik kata-kata itu pamannya menegurnya dengan
tajam. Tetapi sebenarnya, Gagak Handaka berkata dengan jujur dan
setulus-tulusnya. Dalam kebimbangannya, cepat ia menyiratkan pandang kepada
gurunya untuk mencari kesan. Tetapi Wirapati memandangnya dengan manis
sekali. Juga Ranggajaya, Bagus Kempong dan Suryaningrat. Oleh pandang
mereka ia seperti terpaku. Wajahnya berubah hebat.


"Sangaji!" kata Wirapati. "Tentramkan hatimu. Benar-benar pamanmu tiada
mencelamu. Bahkan aku pun sendiri menyesal, mengapa engkau tiada
cepat-cepat mengangkat beliau sebagai guru. Coba andaikata engkau telah
mengangkat beliau sebagai guru, pastilah engkau akan diwarisi sekalian ilmu
saktinya. Pada zaman ini, beliau termasuk salah seorang tokoh maha sakti di
samping Adipati Sureng-pati, Kebo Bangah dan guru kami."


"Guru! Tak berani aku berbuat demikian," potong Sangaji gugup. "Budi Guru
terhadapku sebesar Gunung Semeru. Apabila aku tiada memperoleh asuhan Guru,
apakah arti aku ini dalam percaturan hidup? Tidak! Tidak! Guru adalah
pelita hidupku. Guru adalah seumpama mercu suar hidupku. Bagaimana aku
berani mengambil sesuatu keputusan dengan melalaikan Guru, meskipun
andaikata malaikatpun datang menawari aku kunci surga. Meskipun aku harus
menyeberangi lautan pedang, apabila Guru yang menitahkan aku pun takkan
menyesal dan beragu."


Bukan main hebat kesan ucapan Sangaji yang dilepaskan dari hati
setulus-tulusnya, bagi pendengaran sekalian anak murid Kyai Kasan Kesambi.
Seperti diketahui, anak murid Kyai Kasan Kesambi diajar untuk menghargai
jiwa luhur di atas segalanya. Maka begitu mendengar ucapan pemuda itu,
seketika mereka berdiri serentak. Bahkan Suryaningrat yang berperasaan
halus, terus saja memeluknya dan menciumi dengan hati terharu.


"Anakku, anakku!" katanya berbisik, "Berbahagialah engkau! Karena engkau
dilahirkan sebagai seorang ksatria sejati." Kemudian kepada Wirapati,
"Andaikata aku mempunyai seorang murid begini tinggi nilainya, biarpun
usiaku dikurangi dua puluh tahun, tiada kusesalkan. Ah, benar-benar tak
tersia-sia keper-gianmu ke daerah barat. Kangmas Wirapati telah menemukan
suatu butir mustika yang paling berharga pada zaman ini."


Gagak Handaka, Ranggajaya dan Bagus Kempong dengan berbareng mengucapkan
selamat pula kepada Wirapati. Sedangkan Sangaji sendiri, terlongoh-longoh
keheranan menyaksikan perangai dan sikap mereka. Pemuda yang berhati
sederhana itu jadi bi-ngung.


"Pantas! Pendekar-pendekar tadi menyebut majikannya kena pukul cucu murid
guru. Alihkan anakku sendiri, Sangaji. Siapa yang mengira?" kata Ranggajaya
penuh semangat. Kemudian ia minta keterangan tentang diri majikan para
pendekar yang mengunjungi padepokan tadi siang.


Mereka semua bersikap terbuka hatinya. Maka lambat laun Sangaji dapat
menguasai diri dan segera memberi keterangan. Bahkan ia tak kepalang
tanggung lagi. Dikisahkan riwayat hidupnya dengan sejelas-jelasnya.
Wirapati pun ikut menguatkan, menambahi dan membubuhi sehingga pembicaraan
itu menjadi lancar sedap serta mengasyikkan. Tak terasa, larut malam




telah dilalui. Tetapi masih saja mereka tak mau melepaskan diri dari
rangkaian cerita. Bahkan, manakala kisahnya mulai menyinggung warisan
Pangeran Semono yang berupa Bende Mataram, Keris Kyai Tunggulmanik dan Jala
Korowelang. Seketika wajah mereka berubah menjadi tegang. Betapa tidak?
Kecuali cerita khayal itu benar-benar ada, mereka semua terlibat semenjak
dua belas tahun yang lalu. Wirapati menghilang dari padepokan Gunung Damar
karena munculnya peristiwa pusaka Pangeran Semono. Juga saudara-saudara
seperguruan-nya direcoki orang terus menerus perkara pusaka itu. Dan oleh
peristiwa perebutan pusaka itu pula, akhirnya gurunya lantas menyekap diri
dalam pertapaan bertahun-tahun lamanya.


Sampai matahari terang benderang, mereka masih sibuk memperbincangkannya.
Baik Bagus Kempong, Wirapati dan Sangaji tidak menghiraukan lagi rasa
lelahnya setelah melalui perjalanan malam panjang. Dengan sungguh-sungguh
dan senang hati mereka memberikan keterangan-keterangan dan
kesaksian-kesaksian semua peristiwa yang dialami. Hal itu membuat Gagak
Handaka, Ranggajaya dan Suryaningrat berpikir keras.


Demikianlah setelah lima hari mereka ber-kumpul dan berbicara maka
datanglah saat yang mendebarkan hati. Biasanya sepuluhhari sebelum hari
ulang tahun, guru mereka berkenan keluar dari pertapaan untuk menemui
sekalian muridnya. Hari itu, jatuh pada hari Jumat Pahing. Sepuluh hari
lagi, Kyai Kasan Kesambi akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke-83.
Tepat waktu matahari lagi mengintip di ufuk timur, Kyai Kasan Kesambi
terdengar mendehem tiga kali. Orang tua itu berkesan gembira dan syukur,
karena selama menyekap diri dalam perse-madian telah memperoleh suatu ilham
sebagai bahan penciptaan ilmunya yang kelak akan menggoncangkan dunia. Ilmu
itu bersumber kepada kodrat alam yang selalu bergerak dan berasa. Kelak ia
menamakan ilmunya: Sukma Buwana Langgeng. Orang tua itu sengaja menggunakan
istilah buwana dan bukan bawana sebagai lazimnya yang pernah di dengar
orang semenjak lama. Karena dia hendak membedakan secara tegas antara
pengertian buwana dan bawana. Buwana adalah kegiatan gaib (dalam),
sedangkan bawana adalah gelar. Gntuk memperjelas kedudukan istilah itu dia
menggambarkan, bahwa Buwana diperintah oleh Hyang Ismaya. Sedangkan Bawana
diperintah Hyang Manikmaya. Di kemudian hari, dia berhasil pula menciptakan
ilmu-ilmu sakti bersumber pada kodrat gerak dan rasa seperti: Cundamani ),
Lumembak Kumambang, Rasa Sejati-sejatinya Rasa, Tulis tanpa papan dan Papan
tanpa tulis, Terang tiada cahaya, Sangkan-paran ), Trisakti dan sebagainya.
Dengan diketemukan kunci pengertian gaib itu, kini dia tiada merasa segan
menghadapi ilmu-ilmu sakti lainnya semenjak zaman dahulu sampai pada dewasa
itu. Tak usahlah dia malu dibandingkan dengan ilmu-ilmu sakti
pendekar-pendekar Mangkubumi 1, Sultan Agung, Panembahan Senopati, Kebo
Bangah, Pangeran Samber Nyawa, Kyai Haji Lukman Hakim, Gagak Seta atau
Adipati Surengpati. Maka pagi hari itu, dengan dada lapang ia hendak
menemui murid-muridnya.


Dengan mengibaskan tangan kanannya seperti gerak lambaian tangan wajar,
ter-bukalah kamar persemadiannya. Sekonyong-konyong ia menjumpai suatu
penglihatan yang nyaris tak dipercayai sendiri. Benarkah yang berdiri di
depan ambang pintu adalah Wirapati muridnya keempat yang menghilang selama
dua belas tahun lebih. Segera ia menguncak-uncak kedua matanya agar bisa
melihat dengan tegas. Dan pemuda yang berdiri di depannya benar-benar
adalah Wirapati.


Dalam pada itu, Wirapati terus saja me-nubruk kedua lututnya dan dengan
suara parau berkata sambil menyembah.


"Guru! Muridmu keempat menghaturkan selamat."


Gagak Handaka, Ranggajaya, Bagus Kempong dan Suryaningrat berturut-turut
pula menghaturkan sembah takzim. Hampir berjanji mereka berkata: "Guru!
Wirapati telah kembali pulang ke pangkuan Guru...


"Kyai Kasan Kesambi adalah seorang perta-pa yang berperawakan tinggi tegap.
Umurnya kini




telah mencapai 83 tahun. Dan hampir 60 tahun, dia menyekap diri di atas
pegunungan jauh dari persoalan dunia. Karena itu dia di sebut sebagai
seorang pertapa suci. Hatinya bebas dan tiada terikat oleh semua bentuk
masalah dunia. Meskipun demikian, karena hubungannya dengan kelima muridnya
bagaikan ayah dan anak-anak, maka begitu melihat munculnya Wirapati
mendadak saja terus memeluknya dan menciumnya dengan air mata berlinangan.


Kelima muridnya dengan cepat menyedia-kan pakaian bersih dan menolong pula
mem-bersihkan badannya. Sambil membiarkan sekalian kelima muridnya
menyatakan kasih sayangnya, ia terus saja berwawan-sabda de-ngan muridnya
keempat, Wirapati. Wirapati sendiri bisa membawa diri. Agar tiada
me-risaukan hati orang tua yang baru saja menyekap diri dalam pertapaan
semadinya, ia hanya mengisahkan riwayat perjalanan selama dua belas tahun
dengan singkat. Sama sekali tak menyinggung tentang pusaka warisan Bende
Mataram yang menjadi pokok soal atau tentang orang berewok yang memukul
Bagus Kempong. Katanya kemudian, "Guru! Siswa terlalu lancang, karena
mengambil murid tanpa seijin Guru."


"Ha, ha, alangkah lucu ujarmu," tukas Kyai Kasan Kesambi.


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar