10.09.2019

@bende mataram@ Bagian 222

@bende mataram@
Bagian 222


Suryaningrat heran. Ternyata kedua kakak-nya seperguruan benar-benar
merindukan Wirapati, sampai seolah-olah tak memper-hatikan keadaan Bagus
Kempong yang terluka oleh sesuatu pukulan dahsyat.


Waktu itu Wirapati telah muncul dari balik pintu angin. Segera ia lari
menyongsong Gagak Handaka dan Ranggajaya.


"Kangmas Gagak Handaka! Kangmas Ranggajaya! Aku datang kembali!" serunya
terharu.


Gagak Handaka adalah seorang yang sa-ngat mengutamakan Yudanegara ).
Meskipun hatinya terguncang melihat adik sepergu-ruannya yang hilang tiada
kabar berita selama dua belas tahun, masih saja dia bersikap penuh tata
cara. Dengan memanggut kecil ia menyambut menguasai diri.


"Wirapati, adikku! Selamat, selamat! Akhir-nya engkau kembali juga."


Sebaliknya, Ranggajaya yang beradat kaku, mendadak saja terus berkata
sambil me-nerkam lengan.


"Wirapati! Keempat orang itu menfitnah dirimu begitu kurangajar. Bukankah
kamu tidak melukai rekan-rekan mereka dengan cara licik? Hm, pastilah kau
telah mendengar semua tuduhannya. Heran! Ternyata kau jauh lebih sabar
daripadaku sendiri. Benar-benar tepat pujian Guru terhadapmu. Engkau calon
seorang pendekar besar pada zaman yang akan datang."


"Peristiwa itu sulit untuk diterangkan. Dengan sungguh-sungguh kukatakan,
bahwa aku sama sekali tak melakukan perbuatan terkutuk itu. Kangmas Bagus
Kempong pun tidak. Bahkan dia menjadi salah seorang kor-ban di antara
mereka. Dia pun kena pukulan orang bermuka berewok yang gerak-geriknya
sangat samar-samar dan susah ditebak."


Gagak Handaka dan Ranggajaya girang mendengar ujar Wirapati. Dengan
demikian tak sia-sialah mereka mempertahankan kebersihan namanya. Meskipun
demikian, Ranggajaya masih minta ketegasan, "Orang-orang Banyumas, bukan
pula kau yang membinasakan?"


"Seorangpun aku tidak membunuhnya. Meskipun dalam keadaan terjepit masih
saja aku tak melupakan ajaran guru. Bahwasanya murid Kyai Kasan Kesambi
dilarang keras membunuh sesama bangsa apabila tidak ter-lalu terpaksa."


"Bagus!" seru Ranggajaya girang. "Hm, dua belas tahun kami terus-menerus
dikeroyoki urusan pembunuhan itu. Tetapi aku yakin, bahwa bukan kau yang
melakukan pem-bunuhan itu. Sekarang ternyata benar belaka."


Setelah itu, Gagak Handaka minta keterangan tentang diri orang bermuka
berewok yang ..




memukul Bagus Kempong. Segera Wirapati menerangkan dengan sejelas-jelasnya.
Tetapi baik Gagak Handaka atau Ranggajaya tidak juga dapat menebak siapakah
orang itu yang memiliki pukulan dahsyat sampai bisa melukai Bagus Kempong.


"Biarlah nanti kita minta petunjuk guru, setelah beliau selesai bersemadi,"
akhirnya Gagak Handaka memutuskan. Kemudian ia membawa sekalian
adik-adiknya seperguruan menjenguk Bagus Kempong. Mendadak di tengah jalan
ia melihat Sangaji. Heran ia menoleh kepada Wirapati minta penjelasan.


"Ah, hampir lupa aku." kata Wirapati ter-sipu-sipu. "Sesungguhnya, aku
telah mem-punyai seorang murid."


"Murid?" Gagak Handaka dan Ranggajaya menyahut berbareng.


"Ya," Wirapati menjawab dengan agak segan. Kemudian dengan singkat ia
mengi-sahkan riwayat perjalanannya sampai bertemu dengan Sangaji.


"Bagus! Bagus!" kata Gagak Handaka dan Ranggajaya berbareng pula. "Kita
kini mem-punyai seorang kemenakan murid."


"Kabarnya Dimas Suryaningrat mempunyai murid pula," Wirapati minta
ketegasan. "Ya," ujar Ranggajaya. "Dan sudah barang tentu seorang bidadari
pilihan."


Mendengar ujar Ranggajaya, Suryaningrat merah mukanya. Mereka lantas saja
tertawa berkakakan. Gagak Handaka terus menggan-deng Sangaji dan diajaknya
pula masuk ke dalam. Sebagai seorang pendekar, dengan cepat ia mengetahui
bahwa Sangaji bukanlah seorang pemuda sembarangan. Cepat ia mengamat-amati,
kemudian tersenyum se-nang sambil berkata, "Sangaji! Tenaga jas-manimu luar
biasa kuat. Apakah gurumu benar-benar hanya seorang belaka?"


Semenjak ikut mengintip di belakang pintu angin, diam-diam Sangaji telah
mengagumi pribadi Gagak Handaka yang agung dan bijak-sana. Maka begitu ia
memperoleh pertanyaan dengan mendadak, sekaligus berubahlah mukanya.


"Paman!" katanya sulit. "Selain Guru, aku masih mempunyai seorang guru
lagi. Namanya Jaga Saradenta. Tetapi kecuali mereka berdua, sesungguhnya di
tengah jalan aku berjumpa dengan seorang tokoh sakti. Meskipun aku belum
mengangkatnya sebagai guru, tetapi dia..."


"Baiklah... kelak engkau bisa dengan perla-han-lahan menerangkan hal itu
semua kepada sekalian paman-pamanmu," tungkas Gagak Handaka. Pendekar yang
agung pribadinya itu tahu, bahwa Sangaji agak susah hendak menjelaskan.
Terasa pula bahwa anak muda itu bersikap hendak membela diri. Maka
cepatcepat ia mengalihkan pembicaraan. "Kabarnya kota Jakarta amat
ramainya. Pastilah jauh berlainan dengan keadaan di gunung. Biasa-kanlah
hidup sunyi di atas gunung ini. Pastilah, kelak engkau akan memperoleh
keindahannya di tengah kesunyian..."


* * *


Bersambung

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar