@bende mataram@
Bagian 221
"Manyarsewu! Cocak Hijau! Sawungrana! Baiklah kita mendengarkan saran
pendekar Gagak Handaka. Mari kita duduk dengan te-nang-tenang. Manaka a
Bagus Kempong dan Wirapati belum pulang ke gunung, bagaimana kita bisa
memperoleh keterangan yang benar. Tetapi ketahuilah hai pendekar Gagak
Han-daka yang kami hormati, sesungguhnya kami mengalami suatu kejadian yang
sangat menusuk hati. Biarlah kami terangkan lebih jelas lagi, agar Tuan
memperoleh gambaran.
Kemarin pagi, kami berempat habis mengadu senjata dengan kedua
adik-seperguruan Tuan. Oleh suatu peristiwa ganjil, terpaksa kami berpisah.
Kami membawa pulang nDoromas Sanjaya putra Pangeran Bumi Gede yang terluka
parah. Malam itu, kami beristirahat dengan sepuluh pendekar undangan
lainnya dalam suatu pesanggrahan. Tak
tahunya, malam itu pesanggrahan kami digerayangi orang."
"Orang itu menyebar bius, sehingga kami tidur pulas. Tetapi untunglah, kami
tidaklah selemah dugaannya. Lapat-lapat, kami berem-pat melihat sesosok
tubuh yang mengenakan muka samaran. Terang sekali, dia adalah anak-murid
Kyai Kasan Kesambi. Orang itu dengan kejinya mematahkan sendi tulang-tulang
rekan-rekan kami. Terus sesumbar dengan melepaskan pukulan khas ajaran
perguruan Tuan."
"Pukulan keluaran perguruan kami, bukan-lah suatu ajaran yang sulit dan
rahasia. Setiap orang apabila mempunyai kepandaian sedikit, pasti bisa
menirukan," potong Gagak Handaka.
"Benar! Tetapi apabila bukan anak-murid Kyai Kasan Kesambi, mengapa bisa
meng-ungkat-ungkat peristiwa perkelahian kemarin pagi?" menungkas
Abdulrasim dengan cepat.
"Dia mengejek kami dengan mengatakan, bahwa kami berlindung di balik
kedatangan Adipati Surengpati dan iblis Pringgasakti."
"Adipati Surengpati?" Gagak Handaka ter-kejut.
"Nah, Tuan pun terkejut pula. Sesungguh-nya apabila bukan dia, masakan
mengetahui suatu peristiwa kemarin pagi tatkala Adipati Surengpati muncul
dengan tiba-tiba. Karena hal ini menyangkut pula tentang nama Adipati
Surengpati, maka perkenankan kami meng-hadap Kyai Kasan Kesambi. Kyai Kasan
Kesambi adalah seorang tokoh tertinggi pada zaman ini. Tiap ksatria di
seluruh jagat me-ngagumi dan percaya kepadanya. Kami ingin memperoleh
peradilannya. Masakan orang tua itu akan berlaku berat sebelah karena
mem-bela muridnya."
Meskipun kata-kata pendekar Abdulrasim sangat beralasan dan agak
segan-segan, tetapi sebenarnya bernada mendesak. Sudah barang tentu,
Ranggajaya dapat menangkap maksudnya. Jawabnya tenang, "Guruku sedang
bersemadi. Sampai sekarang belum keluar dari pertapaan. Lagi pula, perkara
keduniawian diserahkan kepada Kangmas Gagak Handaka. Kecuali, apabila
tetamu itu adalah seorang tokoh penting pada zaman ini, mungkin guruku sudi
menemui."
Terang sekali maksud ucapan Ranggajaya anak-murid Kyai Kasan Kesambi yang
berwatak angkuh itu hendak berkata kepada mereka, bahwa mereka belum
berharga untuk dapat menemui gurunya. Karuan saja Cocak Hijau yang
berangasan dan mudah tersinggung sekaligus berdiri tegak sambil tertawa
dingin. Berkata tajam, "Sungguh! Semua peristiwa
.dalam dunia ini nampaknya terjadi dengan kebetulan. Baru saja kami datang,
gurumu Kyai Kasan Kesambi lantas saja menutup pintu karena sibuk bersemadi.
Bagus! Tetapi masakan utang nyawa harus disudahi sampai begini saja, karena
Tuan rumah beralasan sedang bersemadi? Cuh!"
Mendengar ucapan Cocak Hijau yang tajam itu cepat-cepat Manyarsewu
mengedipi mata agar menguasai diri. Tetapi nasi sudah menjadi bubur.
Seketika itu juga, Ranggajaya terus saja membentak karena tersinggung.
"Jadi kaumaksudkan guruku sengaja berdalih bersemadi karena takut
menghadapi tampangmu?"
Cocak Hijau adalah seorang pendekar ber-adat kaku dan kukuh. Meskipun
seorang berangasan-sekali menentukan sikap-tak sudi mengalah. Maka dengan
tertawa melalui hidung ia menentang pandang Ranggajaya dengan mata tak
berkedip.
Dalam keadaan demikian, betapa Gagak Handaka terkenal sebagai pendekar
sabar dan pendiam, tertusuk juga hatinya mendengar nama baik gurunya
direndahkan seseorang. Semenjak menjadi murid Kyai Kasan Kesambi, belum
pernah ia mendengar dan melihat seseorang menghina gurunya dengan
ucapan-ucapan kasar. Maka dengan menahan diri dia berkata, "Kalian datang
dari jauh dengan mengenggam tujuan beralasan. Tetapi kami
tak ingin menyusahkan kalian. Silakan pergi saja dengan selamat!" Setelah
berkata demikian, dengan sengaja ia mengibaskan lengan bajunya. Seketika
itu juga, angin keras menyambar ke depan. Pendekar Abdulrasim, Sawungrana,
Manyarsewu dan Cocak Hijau sekonyong-konyong terjengkang ke belakang.
Ternyata kibasan lengan pendekar Gagak Handaka yang nampaknya halus, dan
ringan saja, di luar dugaan membawa suatu tenaga tindasan yang keras luar
biasa. Abdulrasim, Sawungrana, Manyarsewu dan Cocak Hijau bukanlah
sekelompok pendekar murahan. Tetapi kena sapu kibasan lengan Gagak Handaka
dada mereka menjadi sesak. Terasa napasnya nyaris putus. Cepat-cepat mereka
menghimpun tenaga hendak bertahan, tetapi angin kibasan Gagak Handaka cepat
datang-nya dan menghilang pula dengan cepat. Segera himpitan tenaga yang
menindas dada lenyap tak berbekas. Dengan lega, mereka bisa menghirup napas
kembali.
Wajah Abdulrasim dan Sawungrana nampak merah membara karena malu. Sedangkan
Manyarsewu dan Cocak Hijau menjadi pucat kuyu. Sungguh tak terduga, bahwa
Gagak Handaka benar-benar sakti. Andaikata Gagak Handaka berniat jahat,
sekali mengibaskan lengannya untuk yang kedua kalinya, pastilah mereka akan
terluka parah. Salah-salah bisa mampus seketika itu juga. Diam-diam bulu
romanya menggeridik tak setahunya sendiri. Sekarang sadarlah mereka, bahwa
pendekar yang bersikap tenang, sabar dan halus gerak-geriknya itu memiliki
suatu kepandaian yang susah diukur.
Di antara keempat pendekar undangan Pangeran Bumi Gede, Mayarsewu tergolong
salah seorang pendekar yang jujur. Serentak ia membungkuk sambil berkata
penuh hormat.
"Terima kasih atas kemurahan Tuan Gagak Handaka. Perkenankan kami
mengundurkan diri."
Dengan membungkuk hormat pula, Gagak Handaka membalas.
"Terima kasih pula atas kunjungan Tuan-tuan. Entah kapan, kami akan
memerlukan mengunjungi Tuan diistana Bumi Gede sebagai pembalasan."
Waktu itu Manyarsewu, Abdulrasim, Sawungrana dan Cocak Hijau sudah bergerak
mengundurkan diri. Gagak Handaka segera pula mengantarkan mereka sampai ke
seram-bi depan.
"Sudahlah! Tak perlu Tuan mengantarkan kami," kata Manyarsewu. Diam-diam ia
kagum dan menaruh hormat kepada Gagak Handaka. Ternyata Gagak Handaka tidak
hanya tinggi ilmu kepandaiannya, tetapi juga amat sopan santun. Oleh
sikapnya itu, rasa permusuhannya sekonyong-konyong lenyap dua pertiga bagian.
Selagi mereka saling mengucapkan kata-kata merendah, masuklah Suryaningrat
dengan tergesa-gesa. Kemudian berkata kepada Gagak Handaka, "Kangmas!
Kangmas Bagus Kempong dan Wirapati telah kembali. Kangmas Bagus Kemong luka
parah. Dia kena pukul seorang laki-laki berperawakan pendek tegas dan
bermuka berewok. Kudengar mereka membicarakan tentang laki-laki berewok
itu, barangkali kita bisa memperoleh keterangan."
Mendengar ujar Suryaningrat, Gagak Handaka dan Ranggajaya terperanjat.
"Bagus Kempong terluka? Benarkah itu?"
Gagak Handaka dan Ranggajaya benar-benar terperanjat sehingga berubahlah
wajah mereka. Segera mereka menoleh kepada tetamunya. Dengan agak gugup
Gagak Handaka berkata, "Silakan Tuan-tuan menunggu. Mereka ternyata sudah
datang. Bagus Kempong bahkan terluka."
Abdulrasim, Sawungrana, Manyarsewu dan Cocak Hijau saling memandang.
Meskipun tiada saling berkata, mendadak saja mereka bisa percaya kepada
keterangan Gagak Handaka. Melihat dan menyaksikan sikap Gagak Handaka yang
tenang dan sabar kini mendadak bisa menjadi agak gugup, pastilah bukan
suatu permainan sandiwara. Dan apabila Bagus Kempong benar-benar terluka
oleh seseorang yang bermuka berewok,
bukankah tuduhan mereka jadi tak beralasan? Daripada akan menanggung malu
dan mungkin pula akan menghadapi hal-hal yang kurang enak ditambah
tingkatan kepandaiannya yang tak nempil bila dibandingkan dengan kepandaian
anak-anak murid Kyai Kasan Kesambi,serentak mereka mengambil keputusan
untuk cepat-cepat meninggalkan padepokan. Setelah saling memberi isyarat,
Abdulrasim terus berkata.
"Tak usahlah kami mengganggu Tuan-tuan lebih lama lagi. Rupanya Tuan-tuan
lagi mem-peroleh kesibukan dan biarlah kami melapor-kan peristiwa ini
kepada atasan. Bagaimana kelak diputuskan terserahlah yang berwenang."
Setelah berkata demikian, Abdulrasim men-dahului keluar halaman dengan
diikuti ketiga rekannya. Gagak Handaka dan Ranggajaya menunggu sampai
mereka lenyap di bawah gundukan tanah, kemudian mereka berkata berbareng
kepada Suryaningrat minta kete-rangan.
"Suryaningrat! Kakakmu Wirapati benar-benar telah kembali pulang ke gunung?
Di manakah dia?"
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar