#MENIKAH_DENGAN_SETAN
#PART14_
BEBERAPA_MINGGU_SEBELUM
________
"Bagaimana hasilnya Pak Darmin?"
"98% cocok Den."
Dihadapan laki-laki paruh baya itu, Rhandra marah anak muda itu murka,
wajahnya memerah. Gelas digenggamnya langsung ia lempar ke lantai. Nafasnya
tersengal-sengal, emosi dalam jiwanya kembali ke permukaan. Niat untuk
mengembalikan semua hartanya pupus.
Untuk beberapa saat Darmin terdiam, memperhatikan amarahnya yang memuncak.
Laki-laki itu tidak berani menenangkan amarah Rhandra.
"Siapkan semuanya pak!"
"Polisi sudah memeriksanya Den, serahkan semuanya ke mereka," begitu tenang
Darmin menyikapi hatinya yang sedang berkecamuk.
"TIDAK!, kali ini tidak Darmin, saya harus pergi!"
"Baik Den!"
"Bagaimana dengan Non Halimah Den?" tanya Sum yang mendadak hadir di tengah
mereka.
Rhandra diam sesaat, hati dan pikirannya tak sejalan. Wajah istrinya
beberapa belakangan ini terus hadir di mimpi juga pikirannya. Namun
keinginan untuk mengakhir hubungan dengan Halimah amatlah besar. Rhandra
ingin menyelesaikan semua masalahnya, kehadiran Halimah hanya membuatnya
lemah tak berdaya.
"Siapkan semua perlengkapan saya Mbok, besok saya berangkat." Rhandra
menghindar dari pertanyaan Sum.
***
Rhandra Abyakta baru saja duduk di kursi pesawat, menuju Jakarta. Laki-laki
itu berangkat sendiri tanpa pengawal, ia meminta Darmin untuk terus
mengawasi Halimah, istrinya.
Rhandra menjadi laki-laki yang penuh dengan amarah, ia merubah
penampilannya rambutnya yang panjang ia rapihkan dan ia potong hingga
seleher, janggut dan kumis tipis kini menghiasi wajahnya. Rhandra
mengenakan setelan jas yang sangat pas di tubuhnya. Setelan berwarna biru
dongker dan kemeja berwarna biru muda.
Penemuan jasad Arkadewi menimbulkan luka di hatinya, Sudah dipastikan bahwa
ia bukan korban dari tindak kekejaman warga desa. Sampai saat ini pun
Rhandra masih bertanya-tanya, jasad siapa yang terkubur di Gedong tua,
kenapa nama dia dan nama ibunya persis tertulis diatas makam.
Perjalanan menuju Jakarta tak memakan waktu lama, atas saran Dirk Haan
pamannnya, Rhandra langsung menuju ke kediaman Haris Gunawan, laki-laki
yang dulunya pernah menjadi pengacara pribadi Abyakta Ayahnya. Haris kini
tak bekerja lagi dengan keluarga Abyakta, sejak meninggalnya Mahadi,
posisinya sebagai pengacara keluarga tergantikan.
Rumah Sakit Adinata, pria bernama Haris Gunawan sedang terbaring lemah
didalam. Rhandra masuk, ia langkahkan kakinya menuju ruangan VVIP di Rumah
Sakit kenamaan di bilangan Jakarta. Laki-laki itu Nampak terbaring lemah,
persis disebelah Haris seorang wanita yang seusia dengan Rhandra terlelap
dengan posisi menunduk, kedua tangannya terlipat menopang kepalanya.
"Permisi," sapa Rhandra seraya membuka pintu ruangan mereka.
"Hmm …." Wanita itu terbangun. Rambutnya ikal sebahu, tubuhnya tinggi
semampai, lipstick merah mengukir bibirnya yang tebal.
"Kamu siapa?" tanyanya.
"Rhandra … Rhandra Abyakta, saya ingin berbicara dengan Haris!"
"Kenapa kamu baru datang!" rutuk wanita itu seraya menunjukkan jarinya pada
Rhandra.
Rhandra diam tak mengerti.
"Sekian lama, Ayahku menunggu kedatanganmu! ia terus menerus memanggil namamu!"
"Saya tidak mengerti," ucap Rhandra heran.
"Saat ini Ayah saya tidak bisa berbicara, entah apa yang ingin ia
sampaikan. Sudah cukup keluarga kalian membuat Ayah saya menderita."
"Eee … Ee …" Haris mendengar percakapan mereka, tangannya terangkat
berusaha menggapai tubuh putrinya.
Rhandra mendekat.
"Haris!" sapanya.
Perlahan laki-laki tua itu menggerakkan tulang lehernya, Ia menengok ke
arah Rhandra yang kini berada di sebelah kanannya.
"An ... Andra …" sapanya tak jelas. Laki-laki itu menderita struk disekujur
tubuhnya.
"Ini!" Putrinya memberikan Rhandra sebuah note kecil, tulisan tangan
Ayahnya beberapa waktu yang lalu.
"Rhandra Hidup, surat itu kutitipkan padanya!" Tulisan latin dan sangat
berantakan ditulis langsung oleh seorang penderita struk berat, butuh waktu
lama baginya untuk bisa membacanya.
"Saya tidak mengerti, ada yang bisa membantu saya menjelaskan isi pesan
ini?" Rhandra memaksa laki-laki yang terbujur kaku diatas tempat tidurnya.
"Silahkan duduk," ajak wanita itu yang belakangan ia tau bernama Marina.
"Rhandra ... Saya tidak tahu persis, masalahmu. Namun Ayahku dulu pernah
bekerja dengan Ayahmu, Sejak kematian Ayahmu beberapa orang seperti preman
selalu datang kerumah kami. Mereka mengacak-ngacak rumah kami, entah apa
yang mereka cari. Kadang mereka mengancam ingin membunuh Ayah saya atau
keluarga kami. Kami pindah, namun mereka terus menganggu kami, suatu hari
mereka datang lagi. Mereka menyiksa Ayah saya, dan kini ayah saya shock, ia
menderita struk akibat tekanan yang ia derita."
"Maaf … Saya sama sekali tidak mengetahui hal ini."
"Saya paham, karena memang Ayah saya terlihat sedang melindungi dirimu."
Rhandra terenyuh, ia bangkit. Laki-laki itu mendekati tubuh Haris, Rhandra
pegang tangannya. "Terimakasih." Rhandra memegang tangannya erat.
Rhandra keluar, ia sudah mendapatkan petunjuk, meski ia tak tahu dimana ia
bisa mendapatkan surat yang dimakasud. Haan pamannya pernah mengatakan,
bahwa Rhandra berhak atas 70% saham harta Mahadi Abyakta namun hal itu tak
pernah terealisasi, Haan adalah saksi berikut juga Haris yang kini
terbaring lemah di rumah sakit. Surat yang dimaksud bisa jadi adalah surat
wasiat dari Mahadi untuknya.
Selepas dari Rumah sakit, Rhandra menuju ke Abyakta Group. Sebuah
perusahaan besar berdiri disalah satu gedung-gedung pencakar langit di
Jakarta. Laki-laki itu masuk dengan amarah juga keberanian.
"Saya ingin bertemu dengan Harsa." Ucapnya pada salah satu wanita receptionist.
"Pak Harsa?" tanyanya heran.
"Ya!"
"Mohon maaf pak sudah buat janji?"
"Katakan, Rhandra Abyakta ingin bertemu dengannya."
Wanita itu terperangah mendengar nama belakangnya.
"Oh baik sebentar Pak."
Wanita itu membawa Rhandra ke sebuah ruangan. Ruangan rapat, beberapa
bangku kosong satu buah meja panjang besar, dan layar LCD di hadapannya.
Rhandra duduk, ia menunggu kehadiran Harsa kakak tirinya, Kaki kanannya
berpangku pada lutut kirinya, kedua tangannya ia satukan. Laki-laki itu
sudah tak sabar ingin memberikan teguran keras padanya. Kecurigaannya pada
keluarga Puspa sudah sangat matang.
Langkah itu berhenti di depan pintu. Suara kunci berputar, lalu derit
engsel saat pintu terkuak lebar.
Beberapa orang melangkah masuk, dan membiarkan pintu itu tertutup dengan
sendirinya.
"Rhandra!"
Rhandra memperhatikan satu-satu dari mereka.
"Puspa!" jarinya menunjuk pada wanita paruh baya, ia mengenakan pakain
hitam, dengan rambut berwarna putih yang ia sanggul di belakang, keriput
diwajahnya tak sedikit.
"Harsa!" kembali ia menunjuk jarinya, laki-laki itu terlihat lebih tua
darinya. Tubuhnya tinggi hampir sama dengannya, wajah jawanya sangat kental
dengan kumis yang menghias di wajahnya.
"Maharani! Cantik!" Maharani mengenakan kemeja sutra bermotif bunga dan rok
sepan selutut, bentuk wajahnya mirip dengannya, alisnya tebal, rambutnya ia
buat ikal sebahu.
"Apa benar kamu Rhandra?!" tanya Puspa penasaran.
"Menurutmu?" tanyanya tenang, posisi duduknya masih sama dari sebelumnya.
"Rhandra kami terus mencarimu!" Maharani mulai membuka suaranya.
"Oh ya …."
"Tunggu! Bagaimana kami bisa yakin bahwa kamu benar Rhandra? Setahu kami …"
Harsa mulai memancing Rhandra.
"Mati?" jawabnya sinis.
"Kalian pikir aku sudah mati atau …." lanjut Rhadra, sikap dan nada
bicaranya seakan memancing emosi mereka.
"Jika benar kamu Rhandra, apa buktinya?!"
Rhandra bangkit dari kursinya, ia berpindah duduk diatas meja. Kakinya yang
jenjang ia lipat, dua tangannya memegang pada bibir meja.
"Apa yang ingin kalian lakukan? tes DNA? ada Maharani disini, kapan kita
bisa lakukan?"
Harsa menghela nafas, sikap Rhandra cukup membuatnya jengkel.
"Dengan siapa kamu selama ini? ibu mencarimu selama ini Nak." Puspa mulai
berbicara banyak.
"Ibu? … hehehehe … Bukankah dia sudah mati? benarkan Puspa?"
"Jaga sikapmu Rhandra!" rutuk Maharani, emosinya sudah terpancing.
Puspa menepuk pundak Maharani.
"Nak, Ibu memang mencarimu … Sejak tragedi itu, Ibu mendengar anak yang
meninggal adalah anak yang berusia 3 tahun, setahu Ibu kamu masih berusia 1
tahun. Sejak itu Ibu terus mencarimu, dengan siapa kamu sebenarnya?" tutur
Puspa, ia bicara dengan lembut.
"Mencari untuk membunuhku? seperti yang kau lakukan pada ibuku?!"
"Maksud kamu apa!" Dengus Harsa, tangannya memukul pada meja.
"Diam!" Rutuk Rhandra
Wajah bengis Harsa terlihat, wajahnya memerah, urat-urat dipipinya mulai
Nampak.
"Apa ingin kuuraikan kejahatan kalian satu persatu ?" Rhandra melipat kedua
tangan di depan dada.
"Maksud kamu apa Rhandra? tidak ada yang membunuh Dewi, ia mati ditangan
warga.Malam itu warga menyiksanya dan …."
"Lalu siapa wanita yang didalam sumur tua genilangit!"
Dengus Rhandra, matanya memerah melotot ke arah Puspa.
Puspa bereaksi. Tubuhnya mulai oleng, Rahangnya bergemeletuk dengan wajah
memerah. Jelas terlihat ketakutan di kilatan matanya.
"Wanita siapa ? siapa?" Maharani semakin bingung dengan apa yang mereka
bicarakan.
"Dengar! kedatangan saya kesini hanya untuk meminta pengakuan dari Ibu
kalian, setelah itu aku berjanji aku tidak akan mengganggu kalian. Aku
tidak haus harta seperti kalian!"
Harsa murka, ia berlari dan mencoba mengarahkan pukulan keras kearahnya.
Kepala Rhandra tersentak ke samping. Memejamkan mata menantikan pukulan
darinya.
"Pelacur pasti akan menghasilkan bajingan!" Rutuk Puspa sambil mendelik
marah pada Rhandra.
"Pelacur?" Rutuk Rhandra.
"Lalu kamu sebut apa dirimu? wanita kesepian? wanita maruk? Pembunuh?"
lanjut Rhandra. Ia mendekat ke arah puspa.
Plakk!! Puspa menampar Rhandra sekuat tenaga.
Wajah Rhandra Tersentak ke samping.
"He … hehehehe …." Rhandra tertawa, ia berhasil membuat keluarganya emosi
dan ketakutan. Laki-laki itu pergi, ibu jarinya mengusap luka di pipinya
dan tangan yang satunya ia masukkan ke saku celananya.
"Tunggu!" sergah Puspa.
"Penyakitmu? apa kamu sehat?"
Rhandra bergeming, Puspa baru saja menyerang kelemahannya. Laki-laki itu
tak menjawab, ia melanjutkan langkahnya.
****
Laki-laki berdarah belanda itu termenung di kamar hotel yang ia sewa selama
beberapa hari di Jakarta. Tubuhnya ia rebahkan diatas ranjang, dua buah
nakas dikanan kirinya, terdapat lampu naks dan satu buah telepon,
dihadapannya persis sebuah balkon menghadap barat. Laki-laki itu termenung,
pikirannya terus memikirkan kejahatan keluarga tirinya yang mereka lakukan
pada Ibunya, teka-teki terus menghantui pikirannya.
Rhandra mengusap wajahnya, pikirannya kalut ia hadapkan tubuhnya ke kanan,
sebuah telepon persis dihadapannya. Kerinduannya akan Halimah mendadak
hadir, Rhandra bangkit.
"Pak Darmin bagaimana?" tanya Rhandra melalui sambungan telepon.
"Non Halimah baik Den … hanya …."
"Hanya apa?"
"Sudah beberapa kali ia datang ke Gedong tua, ia terlihat sangat sedih."
Tak lama suara ditelepon menjadi hening.
"Den … Den …."
"Ah ya Pak, saya masih dengar … Biarkan saja Pak, dia pasti bisa
melaluinya." kilahnya. Rhandra terus mencoba membohongi perasaannya.
"Bagaimana disana?"
"Polisi sepertinya belum datang, saya sudah menggertak mereka."
"Hati-hati Den, mereka sanggup melakukan apapun."
"Saya tak takut mati Pak Darmin."
"Ya … tapi bagaimana dengan Non ?"
Rhandra menghela nafas. Darmin dan Sum sangat tahu apa yang bisa membuatnya
bahagia.
"Kenapa dengan dia?" tanyanya.
"Sudahlah Den … Dua hari lagi tanggal 11 Aden pulang?"
"Ada apa dengan tanggal itu?"
"Hari kelahiran Non, Den."
Rhandra menutup telepon, Darmin dan Sum terus menerus mengingatkan akan
istrinya, si kembang desa yang jatuh cinta padanya.
Hatinya semakin kalut, kini Halimah mengusai alam pikirannya, seketika
dendam, teka-teki akan keluarganya lenyap saat hati juga pikirannya tertuju
pada Halimah. Wajahnya selalu terukir di pikirannya, senyumnya,
tangisannya, jeritan suaranya terngiang-ngiang di telinganya.
Rhandra kembali, ia sampai di Solo pukul 9 pagi dan dari sana ia langsung
menuju Magetan, Poncol Lawu, Surau tempat Halimah mengajar.
Wanita itu sedang mengajar, di pekarangan surau ia berteriak-teriak
mengenalkan huruf-huruf arab pada anak-anak berusia 5 tahun. Suaranya
melengking, Rhandra tersenyum mendengarnya. Suaminya rindu akan
teriakannya, teriakan ia yang selalu meminta tolong saat melihat hantu.
Laki-laki itu bersembunyi dari pandangan, ia menggunakan kemeja berwarna
hitam dan kacamata, rambutnya ia kepal di belakang. Laki-laki terlihat
gagah, kaki jenjangnya ia lipat dan tubuhnya ia sandarkan ke tembok.
'Non, sepertinya tak punya uang Den, Ia berhutang sepeda di bengkel depan
Surau.' Laporan Darmin ia terima kemarin.
"Halimah …." ucapnya menahan rindu.
Rhandra membayar hutang Halimah pada laki-laki si pemilik bengkel. Lalu ia
kembali pulang.
Rhandra, menerima kabar tentang Halimah beberapa hari belakangan. Ia dengar
dari Darmin, Haikal begitu bersemangat mendekati istrinya. Istrinya tahu
benar bagaimana cara menjaga diri juga kehormatannya. Selama Haikal
mendekatinya, tak sedikitpun ia perhatikan Halimah tergoda akannya. ia juga
tahu setiap hari istrinya selalu menangis menunggu kedatangannya
Hari ini 11 Desember adalah hari kelahirannya. Lagi-lagi Rhandra tak bisa
menutupi perasaannya, pagi itu didepan surau ia melihat Halimah begitu
cantik. Ia berbalut pakaian berwarna biru muda, dengan kerudung merah muda
yang menghiasi wajahnya yang putih. Tak ada bedak maupun gincu yang terhias
dibibirnya, semua natural. Semua pakaian Halimah sebagian besar adalah
pakaian kurung khas Malaysia buatan Dasinun, baju kurung selutut dan rok
sepan hingga ke ujung kaki.
Haikal terlihat menunggunya di pintu gerbang, Rhandra kalah satu langkah
darinya. Ia sudah menyiapkan sebuah hadiah untuknya.
Ia perhatikan mereka bercakap-cakap, lagi-lagi Halimah menunjukkan sorot
mata yang sinis, kedua tangannya ia lipat di dada menunjukkan sikap
defensive, penolakan yang membuat laki-laki itu berdiam lama di belakangnya.
Halimah lagi-lagi membuat hatinya terenyuh. Haikal bukanlah laki-laki
biasa, ia berasal dari keluarga berada, ia juga memiliki anugrah tubuh dan
wajah yang rupawan, perhatiannya pada Halimah pun sangat ia tunjukkan,
tidak ada yang kurang darinya. Jika Halimah mau, ia bisa saja menolaknya
dan pergi dengan laki-laki yang terlihat sangat mencintainya itu.
Rhandra diam, ia pergi membelikannya sebucket bunga mawar merah untuknya,
siang itu ia berikan padanya melalui salah satu siswanya yang sedang
bermain diluar sekolah.
Setelahnya ia kembali.
"Den … Non Halimah hilang, semua warga sibuk mencarinya!" Darmin
mengabarinya lewat telepon.
Rhandra bergegas, ia tinggalkan telepon yang masih tersambung diujung
telepon Darmin berteriak-teriak memanggil namanya.
Dari Magetan, Mobil yang dikendarai Rhandra melaju cepat menuju Desa
Poncol, tempat Gedong tua berada. Rhandra sangat yakin Halimah berada
disana. Matanya fokus kedepan memperhatikan setiap hambatan yang melintas
dihadapannya, Rhandra panik kekhawatiran membuncah didalam dadanya.
Tiba di Gedong tua hari sudah malam, waktu menunjukkan pukul 7 malam lewat
28 menit, sepeda Halimah terlihat tergeletak di halaman. Rhandra bergegas,
ia mencari Halimah disetiap sudut ruangan, pencariannya pun terhenti di
kamarnya di lantai tiga.
Halimah tak sadarkan diri saat ia datang, keadaan Halimah sangat
mengkhawatirkan, pakaian yang ia kenakan tadi pagi penuh dengan debu,
hijabnya yang berwarna merah muda sudah berantakan tak menentu, wanita itu
tergeletak meringkuk diatas lantai.
Dengan penuh rindu juga kesedihan ia cium kening istrinya, peluh diwajahnya
ia usap dengan lembut. Ia sandarkan tubuhnya dilantai, kakinya diluruskan
ia peluk istrinya untuk beberapa menit, di kedua sudut matanya menetes air,
Rhandra menangis ia menangisi keadaannya dengan Halimah. Tak lama ia ambil
tasnya, dan membopongnya. Tubuh Halimah begitu ringan dari sebelumnya,
entah sudah berapa lama ia tak makan, mulutnya kering tak seperti biasanya.
Halimah terlihat sengsara. Rhandra merebahkan tubuhnya di kursi belakang
mobilnya , ia membawa Halimah pulang bersamanya.
Senja itu setelah kepergian Halimah, Ia meratapi kesedihannya, ia menarik
nafas panjang, ia yakin bahwa Halimah adalah wanita kuat yang mampu melepas
kepergiannya.
Sinar senja yang berwarna kemerahan menyinari wajahnya. Jendelanya
menghadap persis ke arah barat, saat senja laki-laki ini bisa melihat
langsung bagaimana matahari tenggelam.
Rhandra masih duduk bersandarkan tempat tidur. ia menekuk lututnya kedua
tangannya ia letakkan diatasnya. Air matanya kerimg, nafasnya sudah mulai
teratur.
"Makan dulu Den …." Sum datang membawa makanan serta obat yang harus ia
minum, ia meletakkannya di atas Nakas.
"Keluarkan itu Mbok."
Sum melihatnya, sorot matanya begitu tajam. Katup matanya membesar karena
kesedihan yang ia rasakan.
"Den …" sapa Sum, seraya duduk dibawah mengikutinya.
"Tadi si Mbok, ikut mengantar Non."
Rhandra diam ia tak merespon, sorot matanya masih menatap kedepan, tangan
juga tubuhnya tak bergeser sedikitpun.
"Non Halimah, seperti tak bernyawa Den …. Air matanya sudah kering, si Mbok
khawatir dia …."
"Dia punya Tuhan, Mbok!" terdengar parau dan bergetar suaranya.
"Seseorang masih bisa punya Tuhan Den, tapi belum tentu semangat hidup."
"Tuhan hanya sebuah alasan baginya untuk tidak membunuh dirinya lebih
cepat. Tanpa adanya semangat hidup, seseorang akan lebih mudah mendekati
bahaya, yang ada dalam pikirannya hanya kematian, ketenangan …."
"Dia akan mendapatkannya Mbok, Haikal laki-laki yang baik ia pantas untuk
Halimah." Rahangnya bergemeletuk dengan wajah memerah. Jelas terlihat
kecemburuan di kilatan matanya.
"Aden sendiri?"
"Saya? kenapa dengan saya? Saya hanya tinggal menunggu kematian, bukankah
itu yang Dia (Tuhan) inginkan. Membuat saya lahir kedunia, menjadikan
sampah yang tak ada nilai, lalu mengambilnya kembali!"
"Apa Aden sanggup hidup tanpa Non?" tanya Sum, air mata menetes di pipinya.
Rhandra diam, mulutnya bergetar.
"Sepertinya yang Non Halimah rasakan sama dengan yang Aden rasakan. Haikal
tidak akan bisa membuatnya tersenyum Den, sepanjang jalan ia hanya terus
mengucapkan kematian."
"Saya harus bagaimana, Mbok? apa saya harus menghancurkan hidupnya? wanita
itu berhak hidup bahagia!" Rhandra berbalik, sorot matanya tajam tangannya
meremas tempat tidur disebelahnya.
"Pikirkan baik-baik Den, Non Halimah mungkin bisa mati lebih cepat dari
Aden, seseorang yang sudah memiliki penyakit bertahun-tahun …." Sum
bangkit, ia keluar dengan perasaan haru dan memelas. Melihat dua insan yang
saling menyiksa diri seperti ini seperti mengiris hati, tak sanggup berbuat
apa-apa hanya menunggu kabar duka diantara keduanya.
Rhandra kembali menangis, ia sandarkan kepalanya di atas tangan. Perasaan
cinta juga khawatir menyeruak didalam dada.
"HAAAAAA!" teriakkannya terdengar hingga keluar, ia keluarkan balutan emosinya.
______
#BERSAMBUNG
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar