3.17.2019

#menikahdengansetan Part 15------------




#menikahdengansetan
Part 15------------


Kata 'membebaskan' yang terucap di mulut Rhandra begitu menusuk jantungnya.
Halimah masih diam, ia terus menerus menyangkal perkataan Rhandra kepalanya
menggeleng berulang kali, air matanya kering, sorot matanya kosong tak berisi.


Wanita itu terus merenung di kamarnya, wajahnya berpangku pada tangan
diatas lututnya, ia masih termenung memikirkan Rhandra dengan penyakitnya,
memikirkan dirinya yang hancur akan perasaanya, Rhandra lebih berarti dari
apapun, ia begitu berharga untuknya. Tak peduli seberat apapun penyakitnya
Halimah hanya ingin bersamanya, bernafas untuknya, menghabiskan sisa
usianya bersama Rhandra suaminya.. Halimah tak setegar seperti saat Haikal
mengatakan membebaskannya. Kali ini ia hancur.


Air mata Dasinun meleleh, ia menyaksikan jiwa yang hilang dari jasad
Halimah. Halimah hidup namun tak bernyawa, ia bisa mendengar namun tak
ingin mendengar. Berulang kali ia mengingat ke masa lalu, mengingat
dosa-dosa yang mungkin pernah ia lakukan, sehingga putrinya kini menerima
akibatnya.


"Nak, minum dulu." sapa Dasinun.


"Nak…."


"Halimah, sadar Nak. Apa yang terjadi denganmu?"


Halimah tetap diam, Dasinun menghentakkan bahunya,
wanita itu tetap bergeming.


"Apa yang terjadi denganmu Nak?"


Sebelumnya kemarin, Dasinun sibuk mencarinya. Halimah tidak pulang, Dwi
juga Sur turut larut dalam pencarian. Setiap rumah Dasinun ketuk hanya
untuk menanyakan keberadaan putrinya.


Malam itu pun Dwi pergi menemui Haikal dirumahnya, Haikal juga beberapa
warga desa turut membantu Dasinun untuk mencari Halimah. Mereka pun
mengunjungi Gedong tua, ia menemukan sepeda Halimah disana, namun setelah
mencari hingga keseluruh penjuru Gedong tua, mereka tak jua menemukan Halimah.


Berita kehilangan Halimah pun tersebar hingga ke desa sebelah. Berita
tentang pernikahan Halimah dengan arwah Rhandra Abyakta makin menguat
setelah ditemukan sepeda Halimah di Gedong tua.


"Istighfar Nak…."


"Halimah, istighfar…."


Halimah tetap bergeming, hidupnya terasa hampa. Yang ia ingin kan hanya
Rhandra, ia ingin Rhandra kembali untuknya, tak peduli seberat apapun
penyakitnya asal Rhandra bersamanya, tak peduli berapa lama lagi usia
Rhandra, Halimah hanya ingin bersamanya.


Siang menjelang, Halimah tak juga sadar. Ia terus duduk diam, entah kemana
arah pandangannya. Halimah tak mau makan juga minum.


Haikal datang, tak lama setelah ia memarkirkan mobilnya. Sur berlari ke
arahnya. "Mba Halimah sudah pulang Mas."


Senyumnya merekah, Haikal menarik nafas lega. Ia berlari ke dalam. Dasinun
menyambutnya dengan wajah yang penuh dengan rasa cemas.


Atas seizin Dasinun, Haikal bisa masuk melihat Halimah di kamarnya. Halimah
terlihat duduk diam di ujung tempat tidurnya, dua lututnya menempel di
dadanya, sorot matanya kosong dan hanya ada kesedihan di dalamnya.


Haikal duduk disamping tempat tidurnya. Menatap wajah wanita yang kini
genap berusia 24 tahun, kecantikannya tidak larut meskipun kesedihan
melanda dirinya.


"Halimah …."


"Halimah, apa apa denganmu?"


"Halimah, apa yang terjadi denganmu di Gedong tua? apa kamu bertemu dengan
Rhandra?" Hati-hati Haikal bertanya, melihat keadaan Halimah yang sangat
mengkhawatirkan baginya.


Karena Haikal adalah satu-satunya alasan Rhandra berani meninggalkan
Halimah. Rhandra berfikir hanya dengan Haikal, Halimah bisa bahagia. Hati
halimah sesak memikirkannya. Haikal ada dekat dengannya, namun tak ada
kebahagiaan dihatinya secuil pun.


Ujung bibir Halimah tertarik ke atas, senyum sinis tersungging. Dengan
sorot mata penuh kebencian.


"Kenapa kamu begitu peduli denganku mas? Aku tidak butuh perhatianmu,
menjauhlah dariku. Perlu berapa kali Aku harus memintamu untuk pergi
dariku?" decik Halimah dengan suara berat tertahan.


Haikal menarik napas. Ia merasa takut melihat ekspresi wajah Halimah. Atau
mungkin merasakan kekhawatiran yang amat dalam padanya.


Dasinun mendengar perkataan Halimah pada laki-laki yang sudah banyak
membantunya.


"Nak, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Semalaman Nak Haikal mencarimu."


Halimah bergeming, Dasinun datang membawa kan air putih untuk Haikal.


Wajah Halimah memerah, badannya berkeringat dan menggigil.


"Kamu baik-baik saja Halimah?" tanya Haikal.


Dasinun merespon, ia pegang dahi juga tubuh putrinya. Halimah demam, ia
mengigil namun berusaha untuk menahannya.


"Kamu sakit Nak, sebentar ibu cari obat"


"Halimah kita ke rumah sakit?" bujuk Haikal
Wanita itu masih diam. Dasinun panik, ia mengambil jaket juga dompet yang
ia simpan di lemari.


"Ayo Nak, kita ke Rumah sakit saja."


"Tidak usah, Bue …."


"JANGAN MENOLAK! Bue sudah sabar dengan kelakukan mu!" rutuk Dasinun pada
Halimah.


Halimah lemas tak berdaya, tubuh itu lunglai kedua kakinya tak sanggup
menahan tubuhnya.


Haikal mengantar Dasinun juga Halimah menuju Rumah sakit. Sore itu mereka
memeriksa kondisi Halimah yang sudah tak bertenaga.
------
"Kurang istirahat, kurang makan, ada sedikit lebam di kepala itu yang
menyebabkannya demam. Jika panasnya tidak turun dalam tiga hari, datang
lagi ya"


Dasinun berbincang dengan dokter yang mejanya tak jauh dari tempat ia
berbaring. Dokter wanita itu terlihat sangat sibuk, antrian pasien menumpuk
hanya untuk ia periksa. Ia sekedar menyimpulkan lalu memberikan resep obat.
Diatas ranjang, Halimah terus menatap Dokter yang baru saja merawatnya,
beribu pertanyaan mendadak muncul di pikirannya.


"Tidak ada masalah serius kan Dok?" tanya Dasinun khawatir.


"InsyaAllah Tidak ada, bu. Silahkan bu, pasien lain sudah menunggu."


"Terimakasih Dok."


Dasinun memapah Halimah, mereka menuju keluar ruangan. Pintu menuju keluar
hanya satu, sebuah kunci menempel di dalam.


Dasinun keluar, tak lama Halimah merampas dompet dari tangannya, ia masuk
kembali dan mengunci pintu ruangan.


"Kamu mau apa? SUSTER!" teriak Dokter panik melihat Halimah. Wanita itu
sudah tersungkur dibawah karena lemah.


"Halimah!" teriak Dasinun dari luar seraya menggedor-gedor pintu dari luar.
Tak hanya Dasinun, beberapa suster diluar pun geram akan prilaku Halimah.


"Saya mohon Dokter … Berikan saya waktu untuk bertanya."


"Tidak ada masalah serius dengan penyakitmu! Pasien lain banyak yang
menunggu saya mohon!"


"Kali ini saja dok, saya tidak punya uang banyak, saya
mohon." tutur Halimah, kondisinya sangat mengenaskan wanita itu duduk
dibawah seraya menangis. Ia menunjukkan beberapa uang kecil dari dompet ibunya.


Dokter itu terenyuh, ia mendekati Halimah dan memegang pundaknya.


"Katakan."


"A ... Ap … Apakah HIV bisa disembuhkan?"


"Sampai saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkannya.Mbak, namun ada
Obat yang bisa mengurangi perkembangan virus dalam tubuh penderita HIV"
Hati Halimah hancur mendengarnya.


" … Apakah penderita HIV bisa hidup normal?"


"Bisa … Selama ia mengkonsumsi obat ARV dengan baik juga tepat waktu, ia
harus memiliki seseorang untuk terus menjaga waktu pemberian obat. Sebisa
mungkin tidak boleh telat. makanannya harus dijaga, sebisa mungkin tubuhnya
harus dijaga dari luka, sayatan pisau, atau apapun itu, jika luka harus
segera diobati. Karena seorang ODHA sistem kekebalan tubuhnya sudah rusak.


ODHA juga bisa bekeluarga mereka juga bisa memiliki keturunan. Meskipun
belum ada obat yang bisa menyembuhkannya, tapi penderita ODHA masih
memiliki satu kesempatan agar ia bisa sembuh."


Halimah terperangah jawaban dokter membuka pemikirannya, Rhandra masih bisa
bekeluarga laki-laki itu masih punya harapan untuk memiliki keturunan.


"Apa itu dok?" tanya Halimah.


"Allah mba … Hanya Allah yang memberikan penyakit dan Allah juga yang maha
menyembuhkan."


"Mba siapapun yang menderita HIV dikeluarga mba, saya turut simpati.
Sebaiknya, penderita HIV harus melaporkan diri ke dinas setempat, mengingat
warga desa kita yang masih awam akan informasi dikhawatirkan akan ada
tindakan diluar dari kemanusiaan, dan di Desa kita sudah sering terjadi.
Ada lagi yang ingin ditanyakan mba?


"T …terimakasih Dokter, terimakasih."


"Bawa saja uangnya."


Dokter itu membantu memapahnya, dan membuka pintu yang ia kunci. Dasinun
juga Haikal terlihat panik. Semua pasien yang mengantri mencibirnya, tak
sedikit yang mengatakannya tak waras.


Mendengar jawaban dokter akan pertanyaan, membuat Halimah semakin yakin
untuk tetap bertahan dengan Rhandra. Cintanya tulus, ia ingin Rhandra terus
bisa bersamanya. Ia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Rhandra.
Dokter benar, bahwa obat dari segala macam penyakit hanya Allah.


Halimah bangkit, ia harus yakin Allah akan menyembuhkan penyakit suaminya.
Ia harus yakin, Rhandra bisa berubah dan sembuh.


Haikal mengantarnya pulang. Seribu pertanyaan menganggu pikirannya.
Keanehan sifat Halimah setelah hilangnya ia kemarin, membuat Haikal semakin
bertanya-tanya.


'Rhandra Abyakta dimana kau?' tanya Haikal di hatinya.


Mereka sampai, Dasinun memapahnya masuk ke dalam. Haikal pamit, ia mulai
mencari tahu lebih dalam tentang keberadaan Rhandra. Perubahan sikap
Halimah hari ini membuatnya yakin, kemarin adalah hari yang paling
menyedihkan baginya.


Halimah bagai kehilangan nyawa. Jasadnya hidup namun nyawanya sudah mati.
Seseorang telah mematikan hatinya.


****
Halimah membuka mata, Obat dokter telah cukup membuatnya tidur nyenyak
untuk beberapa jam lamanya. Lehernya masih sedikit sakit dan kepalanya
masih berputar-putar. Wanita itu membuka jendela, hari masih malam. Ia
menuju kamar mandi, ia basuh wajahnya dengan penuh haru.


Ia bentangkan sajadah di hadapannya. Tahajud adalah jawaban dari
kegundahannya, selepas sholat dengan penuh tenaga juga haru dan rasa
Takdzim pada sang Khalik, wanita itu mengadahkan tangan.


"Ya Allah … Izinkan hambamu mengeluh, hamba sudah tak sanggup menopang air
mata juga menahan perihnya dada ini. Allah … Mengapa cinta ini begitu
berat, kenapa kau tanamkan cinta ini jika akhirnya harus berakhir. Aku tak
sanggup berpisah dengannya ya Allah, jika kematian bisa membawaku
bersamanya di Surgamu … Aku ikhlas ya Allah, mungkin akan lebih baik jika
aku menunggunya disana bersamamu dalam pelukmu,…." Halimah menarik nafas,
nafasnya tersengal-sengal.


"Ya Allah … Sembuhkanlah penyakit Rhandra Abyakta, tunjukkan keadilanMu
dimatanya, laki-laki itu tak bersalah ya Allah … Aku merindukannya … Aku
rindu suamiku ya Allah …" Halimah menutup matanya dengan tangan, air mata
sudah penuh mengisi matanya. Ia mengangkat jari telunjukknya dan terus
berdoa … Allahuma ya Allah sembuhkan suamiku … Sembuhkan Rhandra, Allahuma
ya Allah sembuhkan penyakitnya … Hilangkan virus itu dalam tubuhnya … Sem …"


Halimah bersujud, tangisannya pecah dalam sujud.
Dasinun membuka pintu kamar putrinya. Halimah roboh, wanita paruh baya itu
menghampirinya, Ia angkat tubuh Halimah dari sujudnya.


"Kesini Nak …." Ia pindahkan kepala Halimah ke dadanya.
Ia usap dahinya yang basah.


"Sayang, anak Bue … Masih ingatkah kamu Nak, saat kamu dulu menangis? Bue
akan mencubit pahamu, karena tangisanmu yang sulit dihentikan. Apa perlu
Bue melakukan itu? Hati Bue sakit Nak, melihatmu seperti ini … Katakan pada
Bue, apa yang terjadi denganmu?"


"Halimah mencintai Rhandra Bue … Kemarin dia meminta Halimah untuk pergi,
Bue benar Rhandra mengidap penyakit HIV, tapi itu tidak menyurutkan cinta
Halimah padanya sedikitpun, halimah harus apa Bue … Dia pasti membutuhkan
Halimah disisinya, dia sangat egois menyimpan penyakit juga deritanya
selama ini, bukankah suami istri harus berbagi kebahagiaan juga kesedihan?
kenapa nasib Halimah seperti ini Bue ?"


Dasinun diam, entah ia harus percaya atau tidak. Dasinun belum bisa
memutuskan, wujud Rhandra sama sekali tak ada di bayangannya. Ia hanya tau
laki-laki yang selalu datang untuknya adalah laki-laki bernama Haikal.


"Sabar Nak …" Dasinun menciup keningnya. Ia peluk putrinya erat.


Halimah terjaga hingga pagi, selepas sholat subuh Halimah bersiap-siap,
baju kurung berwarana hitam ia pilih untuk mewakili perasaannya, kerudung
hitam membuat wajahnya terlihat terang. bibirnya pucat, begitupun sekitar
pupil mata putih bersih.


"Kamu mau kemana Nak?"


"Halimah mau ngajar Bue …."


"Kamu masih kurang sehat, Nak!"


"Halimah sudah lebih baik Bue." Jawabnya, senyum tipis itu akhirnya keluar
dari wajahnya.


"Kalau begitu biar tunggu Nak Haikal, dia akan mengantarmu."


"Tidak usah Bue … Biar Halimah naik sepeda."


Wanita itu bersiap, dikenakannya kaus kaki di ruang depan. Cemas dan
khawatir menguasai perasaan Dasinun.
Fajar menyingsing, Halimah kembali mengayuh sepedanya. Ia berangkat lebih
pagi dari waktu biasanya. Udara dingin menusuk hingga ke kulit ari, wanita
itu tersenyum seperti tak ada masalah yang menimpanya. Beberapa wanita
mencibir saat melihatnya, Halimah bergeming ia membalas sorotan mata tajam
mereka dengan senyuman.


Halimah berhenti, seorang wanita paruh baya terlihat kesulitan membawa
gabah padi di pundaknya, ia membantu membawanya hingga ke gerobak. Beberapa
yang melihatnya tetap nyaman dengan cibiran.


"Matur nuwun, Nduk."


"Nggih Mbok, Assalamualaikum."


Halimah tersenyum, ia lanjutkan lagi perjalanannya ia berharap kebaikan
yang ia lakukan bisa Allah ganti dengan kesembuhan Rhandra. Sampai di
Surau, beberapa orang tua murid terlihat berkumpul di halaman Yayasan.
Halimah memarkirkan sepedanya, ia berjalan pelan ke arah mereka. Sorot mata
tajam juga sinis mereka lemparkan menyambut kedatanganya.


"Bu Ibu … Menunggu siapa?" tanyanya lembut, pundaknya ia bungkukkan memberi
rasa hormat.
Mereka bergeming, tak menjawab.


"Halimah … Ayo masuk !" Teman mengajarnya menarik lengan Halimah.


"Halimah, mereka mendesak agar kamu tak mengajar anak-anak lagi."


"Kenapa?" raut wajahnya berubah. Anak-anak adalah satu-satu harapan
kebahagiaan baginya.


"Kita tunggu Pak Haikal saja, biar ia yang menjelaskan pada mereka.
Sekarang kamu tunggu saja di kantor."


Halimah menunggu, mereka tak mengizinkan Halimah memegang anak-anak hingga
Haikal datang. Tak lama Laki-laki yang mereka tunggu datang. Ia duduk di
tengah bersama ibu-ibu yang menuntut berhentinya Halimah sebagai guru.


"Mohon maaf bu … Saya tidak bisa memberhentikan Bu Halimah, dia adalah guru
yang rajin disini, anak-anak juga senang dengan kehadirannya."


Halimah mendengar dari balik jendela, rasa khawatir memenuhi relung hatinya.


"Kalau begitu, anak-anak kami yang akan keluar dari sini. Kami tidak mau
anak kami diajar oleh seorang wanita yang melakukan praktek penyugihan!
Menikah dengan Setan!"


"MasyaAllah itu fitnah bu …," jawab Haikal membela wanita yang ia cintai.


"Saya akan berhenti Bu Ibu, terimakasih sebelumnya. Mohon jangan
berhentikan anak-anak dari sini, Tempat ini adalah tempat terbaik dari
kesekian banyak lembaga di Desa kita." Halimah keluar dari ruangannya, ia
mengutarakan isi hatinya.


"Halimah!" Haikal mencoba menghalanginya.
"Nggak apa-apa Mas."


"Saya memang sudah menikah Bu Ibu, tapi bukan dengan Setan, dan saya pun
tak pernah melakukan praktek penyugihan." Lanjutnya tenang.


Halimah pamit, wanita itu meninggalkan Surau dengan berat hati. Tak tahu
kemana lagi kaki akan membawanya. Wanita itu hanya menuruti setiap
langkahnya. Halimah naik kesepedanya, ia kembali menuju pulang. Ia nikmati
angin yang berembus ke wajahnya, harapan da asanya sudah pupus sejak
Rhandra memutuskan berpisah dengannya.


Ia memberhentikan sepedanya di sebuah jembatan. Ia memandang kebawah, sorot
matanya kosong, tak ada yang ia lakukan, ia hanya melihat air yang mengalir
dari pengunungan menuju ke kota.


Halimah pijakkan kakinya, ke salah satu anak pagar jembatan, ia bentangkan
ke dua tangannya. Embusan angin membuat dirinya lebih tenang dan nyaman.


"APA YANG KAMU LAKUKAN!" rutuk seseorang seraya menangkap tubuhnya. Sorot
matanya tajam, laki-laki itu kini memeluk tubuhnya.


"Rhandra …." Suaminya mengenakan pakaian serba hitam, kemeja gombrong lusuh
berwarna hitam, dan jeans hitam.
Rhandra diam, ia mengalihkan pandangannya.


"Aku tahu kamu akan datang, aku tahu kamu selalu memperhatikanku, aku tahu
kamu begitu peduli padaku, karena aku tahu kamu begitu mencintaiku, berapa
harga nyawamu? 1 hari? 1 minggu? 1 bulan? 1 tahun? 10 tahun … katakan?
setiap manusia punya harga akan kematiannya, kamu tidak bisa menakarnya.
Kamu tak perlu khawatir Rhandra, aku tak akan bunuh diri. Biar Allah yang
menjemputku dengan tanganNya."


"DIAM!" teriakan Rhandra, sudah lama tak terdengar di telinganya. Teriakan
yang seketika membuat aliran darahnya lambat, dan detak jantungnya melemah.


"Aku lelah denganmu Rhandra … Pergilah jika kamu mau!"
Kedua pasang mata itu saling menatap, sesaat suasana menjadi hening.
Keduanya terpaku untuk waktu yang cukup lama.


Halimah melepaskan tangan Rhandra yang masih menempel erat di perutnya. Ia
mengambil sepedanya, dan meninggalkan Rhandra. Dari jauh ia melihat tubuh
Halimah meninggalkannya. Kali ini Rhandra benar-benar merasa di tolak,
seperti yang pernah Halimah lakukan dulu. Istrinya meninggalkannya dalam
kesunyian.


Halimah pasrah, ia lelah mengingatkan Rhandra akan kesetiaannya.
***
Rhandra masuk ke dalam mobil, nasihat Sum terus melintas di kepalanya.
Halimah menantangnya, ia bisa lebih nekat darinya. Cukup lama ia termenung
di dalam, wajah Halimah yang sinis padanya terus terlintas di pikirannya.


Ia kembali pulang menuju rumah yang ia sewa di kota Magetan. Rhandra selalu
meminta Darmin untuk berganti tempat dengannya, perhatian Rhandra pada
Halimah tak akan luntur. Mungkin Halimah pun juga sudah menyadari, bahwa
selama ini Rhandra terus mengawasinya. Hati Rhandra pun hancur , Halimah
tak pernah tahu bagaimana penyakit itu menyiksanya, diasingkan, dihina,
dicaci, belum lagi efek rasa sakit, mual yang begitu berat.


Sum menyambutnya, Rhandra terlihat lemah. Ia tergopoh-gopoh berjalan, ia
sakit sejak kemarin ia menolak untuk minum obat.


"Den …."


"Saya ingin istirahat Mbok …." Rhandra rebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Minum obat ya Den, Mbok mohon…."


"Tubuh saya kuat Mbok, penyakit ini mendarah daging ditubuh saya cukup lama
… Tidak semua seberuntung saya. Bagaimana dengan Halimah? apa ia akan
sekuat saya?"


Sum diam, ia tak mampu menjawab pertanyaan Rhandra.


Dirk Haan pamannya pernah mengatakan bahwa Rhandra adalah anak yang kuat
tak seperti anak penderita HIV lainnya, HIV yang dideritanya bisa teratasi
dengan baik, Rhandra pun terus dilatih Haan untuk menjaga tubuhnya, ia
berolahraga, ia juga memakan makanan sehat sejak ia kecil, ia menjalani
semua perintah pamannya.


Anti-retroviral virus pada era 70-an masih sangat terbatas bahkan mungkin
tak ada di Indonesia, itulah alasan Haan akhirnya membawa Rhandra pergi
bersamanya ke belanda.
Sejak divonis HIV positif, Haan membantu hidupnya dengan hidup sehat dan
sebisa mungkin tak sakit. Caranya tergolong berhasil di Belanda negeri asalnya.


Kadang ARV pun jarang ditemukan di belanda, Dokter Haan yang juga pamannya
terus memantau kondisi Rhandra agar menjadi lebih baik. Kondisi kombinasi
obat Rhandra yang terbatas, memaksa dia untuk juga ikut mengonsumsi obat
kanker.


Efek dari obat kanker itu membuat gosong seluruh tubuh, bahkan beberapa
teman sekolahnya dulu di Belanda pernah bilang bahwa ia adalah manusia yang
dikutuk Tuhan. Itulah kenyataan pahit yang diterima Rhandra selama ia
menderita penyakit HIV. Ia pernah mengalami sekarat, , ia pun pernah
mengalami diare akut, ia pernah mengalami menurunnya sel darah putih yang
drastis dikarenakan virus HIV.


Kondisinya yang memprihatinkan kala itu memaksa Rhandra dan Dirk Haan,
untuk melakukan tes resistensi obat di Perancis. Hasil tes mengejutkan, ia
resisten terhadap 15 jenis obat, padahal ia baru menggunakan tujuh jenis di
antaranya sebagai ARV. Kondisi dia termasuk sangat langka karena dalam
waktu singkat, ia sudah resisten. Padahal Rhandra termasuk yang paling
disiplin minum obat. Rhandra sekarat.


Dirk Haan pun meyakinkan Rhandra saat ia sekarat, bahwa penyakitnya bukan
akhir dari segalanya, Haan menceritakan bagaimana virus itu masuk kedalam
tubuhnya, ia pun menceritakan bagaimana Arkadewi ibunya dibunuh secara
keji. Haan membuat semangat Rhandra bangkit, ia ingin keponakannya itu
terus semangat menjalani hidupnya. Rhandra bangkit, ia kembali ingin hidup.


HIV positif bukan hambatan untuk melanjutkan hidup. Haan sukses, Rhandra
hidup selayaknya orang sehat pada umumnya. Penggunaan obat ARV lini dua
membuat kondisi virus HIV pada tubuhnya membaik dan tak menjadi ganas,
kondisi CD4 pada tubuhnya pun kembali pada taraf normal.
Dengan HIV terkontrol, orang dengan HIV tidak lebih sakit dibandingkan
orang yang sehat.


Rhandra, sejak kembalinya ke Indonesia ia sudah bisa menjalani hidup
layaknya orang normal, dan ia hanya melakukan pemeriksaan ke rumah sakit
hanya dua kali dalam satu bulan.


"Aku mungkin bisa … Tapi kamu? Aku khawatir kamu tak kuat Halimah, aku tak
kuat jika harus kehilanganmu, melihatmu saja sudah cukup membuatku bahagia,
aku tak ingin melihatmu mati karena darahku yang kotor, darah mu begitu
suci Halimah, tak patut aku menodainya." bisik Rhandra, laki-laki itu terus
meratapi nasibnya. Cintanya pada Halimah membuatnya semakin hancur, dia
mungkin memiliki hati untuk mencintai Halimah, namun ia tak punya hati
untuk menyakitinya.


#BERSAMBUNG






Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar