3.16.2019

#MENIKAH_DENGAN_SETAN #PART13 ______




#MENIKAH_DENGAN_SETAN
#PART13


______


Halimah membuka mata, gemiricik air terdengar lembut di telinganya. Ia
lihat jam di kamarnya, sudah pukul 4 lewat 30 menit pagi. Hari ini ia
bangun lebih siang dari biasanya. Dwi, Sur dan Dasinun tengah bersiap untuk
sholat subuh berjamaah. Buru-buru Halimah mengambil wudu dan bergabung
dengan mereka.


Dwi mengucap salam, dan semua beriringan mengikuti. Selepas doa, kedua
adiknya mendekat juga Dasinun mencium kening Halimah.


"Semoga dengan berkurangnya usiamu, kamu semakin dewasa ya Nduk."


'Hah' Halima terperangah, hari ini adalah hari kelahirannya, genap 24 tahun
usianya.


"Semoga Mba Halimah diberikan kebahagiaan ya mba," ucap kedua adiknya
seraya mencium tangannya.


Hari semakin siang, seorang wanita tengah berdiri di pekarangan rumah
Halimah menunggunya keluar.


Wanita itu mengenakan setelan seragam pegawai balai desa, hijab coklat yang
ia lingkarkan di sekitar lehernya juga kacamata hitam. Wanita itu berdiri
bersandar di balik mobil sedan miliknya berwarna merah.


"Selamat ulang tahun Halimah," sapanya saat melihat Halimah keluar dari
pekarangan rumah.


"Ayu," ada dendam di hati Halimah, kesalahan Ayu padanya tak bisa ia
lupakan. Halimah melangkah maju ke arahnya, kemarahan di matanya terlihat
jelas.


Ayu membuka kaca matanya. "Rumah ini ternyata lebih nyaman ya, dibandingkan
yang lama."


Halimah melangkah ke hadapannya.


"PLAK!" Halimah baru saja menamparnya.


"Ini hanya sebuah tamparan,Yu. Belum hukuman dari Allah!" rutuk Halimah, di
hadapan wajahnya.
Ayu diam, ia tak membalas tamparan Halimah. Ayu menerima tamparan keras
darinya.


"Kesalahanku hanya mencintai Haikal, Halimah. Aku tak punya kemampuan untuk
mendatangkan warga kerumahmu, dan membakar rumahmu."


Halimah bergeming, ia berbalik dan melangkah menuju sepedanya.


"Berhentilah Halimah," Halimah menghentikan langkahnya.


"Mana yang lebih jahat, seorang sahabat yang sudah tau sahabatnya mencintai
seseorang lalu merebutnya atau …"


"Aku tidak pernah tau perasaanmu pada Haikal, Ayu!"


"Bodoh, apa aku perlu memberitahumu. Sebagai sahabat harusnya kamu paham
bagaimana perasaanku padanya!"


"Lalu menurutmu, apa yang kamu lakukan ini sudah benar?"


"Sangat benar!" rutuk Ayu membenarkan semua perbuatannya.


"Aku tidak lagi mengharapkan Haikal, saat ini aku sudah menikah. Pergilah
bersamanya jika kamu mau!"Halimah berbalik menjauhinya.


"Berhentilah menjadi manusia yang selalu ingin dikasihani," Ayu tau benar
cara menyakiti Halimah. Halimah diam, ia menarik nafas panjang.


'Semoga Allah memberikan aku kekuatan.' Halimah kembali melangkahkan kakinya.


"Kemarin karena miskin, dan sekarang karena halusinasi, menikah dengan
orang mati? he ... Segitu besarnya kah usahamu untuk mendapatkan Mas Haikal?"


Halimah diam. Ingin rasanya ia mejambak rambut juga menamparnya lagi.
Sabar, hanya itu yang bisa ia lakukan. Ia lanjutkan langkahnya dan
membiarkan Ayu akan prasangkanya.


Jauh di belakang ia meninggalkan Ayu. Ia berjalan melintasi perbukitan,
jalan raya hingga sampai ke surau tempat ia mengajar.


Sepanjang perjalanan warga desa sibuk membicarakan tentangnya, cibiran
bahkan hinaan pun melintas di telinganya.


Halimah bergeming, ia tak peduli dengan apa yang meraka katakan. Isu bahwa
Halimah telah dinikahi hantu mendiang Abyakta pun semakin kental.


Entah dari mana asal isu itu berasal, namun itu tak penting baginya.


Sesampai di Surau, Haikal menyambutnya di gerbang. Haikal masih terus
berusaha merebut kembali hatinya.
Ia lemparkan senyum ke Halimah, lesung pipitnya membuat Haikal terlihat
lebih manis.


"Assalamualaikum Halimah."


"Waalaikumsalam …."


"Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan juga kebahagiaan di sisa
umurmu."
Langkah Halimah terhenti, Haikal cukup membuat hatinya lelah, untuk
kesekian kalinya ia terus memberikan perhatian.


Laki-laki itu sangat tahu hari ini, hari kelahirannya.


"Terimakasih Mas," jawab Halimah, senyum itu akhirnya keluar dari wajahnya.


"Ini…," Haikal menyodorkan sebuah hadiah padanya.


"Apa ini?"


"Buka saja, tolong jangan ditolak. Jika Halimah memang tidak mau menerima
apapun hadiah dari mas, anggap saja ini hadiah terakhir dari Mas."


Sorotan matanya begitu tulus, laki-laki ini tahu betul bagaimana cara
membahagiakan perempuan.


"Terimakasih," Halimah menerimanya, ia masukkan hadiahnya ke dalam tas.


Halimah melangkah dengan tekad di hatinya, bahwa Rhandra akan datang
menjemputnya. Halimah berbalik, laki-laki itu diam.


Halimah mendekat.


"Terimakasih untuk segalanya Mas Haikal, percayalah bahwa Halimah sudah
bahagia, maafkan Halimah mas," ucap Halimah yang tidak ingin memberi
harapan padanya, wanita itu tersenyum begitu manisnya. Ia tak lagi
mengerutkan dahinya.


'Kamu tersenyum Halimah, besok mata itu hanya tertuju padaku.' tutur Haikal
dalam hati.


Halimah menjauh, ia berlari menuju kerumunan anak-anak yang tengah menunggunya.


Haikal menarik nafas panjang akan penolakan Halimah yang kesekian kalinya,
jodoh hanya kehendak Allah, jika ia tahu fitnah keji itu akan menimpa
Halimah ia tak akan pergi ke Jakarta, hanya sekedar untuk meminta restu ibunya.


Halimah memiliki 30 orang siswa, ia ditemani dua orang guru pendamping.
Semua murid-muridnya memiliki usia yang beragam, mulai dari usia 5 tahun
hingga 7 tahun.


Hari semakin siang, mengajar adalah cara Halimah untuk bisa melupakan
rindunya akan Rhandra.
"Bu guru … ini," seorang murid perempuan bertubuh tambun baru saja
mengantarkan bingkisan bunga mawar untuknya, mawar merah segar yang
dicampur dengan hiasan dedaunan di pinggirannya.


"Ini untuk Bu guru?" tanya Halimah lembut seraya mencubit pipinya yang tembam.


"Dari siapa sayang?"


Anak itu menunjuk kearah luar. Halimah bangkit, ia edarkan pandangan ke
setiap sudut yayasan. Dari jauh Haikal melemparkan senyum padanya.


Halimah diam, ia benar-benar merasa terusik dengan perhatian darinya. Kali
ini ia biarkan, ia biarkan bunga itu menghiasi kelasnya.


Halimah baru saja menyelesaikan aktivitasnya, dengan semangat ia kembali
pulang. Hari ini adalah hari kelahirannya, 11 Desember. Dasinun berjanji
akan membuatkan bubur candil kesukaannya. Dasinun juga memberikannya uang
dari sisa-sisa pemberian Rhandra untuk melunasi hutang sepedanya.


Halimah lebih percaya diri, Ia mengayuh sepedanya menuju Bengkel sepeda
langganannya, Pria tua yang biasa ia panggil Pakdhe itu tengan sibuk,
menambal ban salah satu penumpangnya.


"Pakdhe."


"Nggih Bu guru."


"Dalem badhe bayar utang engkang kolo wingi, Pakdhe,"[saya mau membayar
hutang yang kemarin, Pakdhe].


"Sampun dipun bayar kaleh, bu guru,"[sudah dibayar, bu guru].


"Sinten engkang sampun bayar?" [siapa yang bayar?].


"Dalem mboten tepang bu, Piyantun kakung taksih nem," [Saya tidak tahu bu,
laki-laki masih muda].


'Haikal' bisiknya menerka dalam hati.


"Matur nuwun, Pakdhe."


"Nggih sami-sami."


Lagi-lagi Haikal melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan. Halimah
sanngat memahami bagaimana lak-laki itu mencintainya, namun perhatiannya
selama ini justru menganggu dirinya.


Halimah harus yakin, bahwa Rhandra masih hidup. Bahwa Rhandra suaminya
belum melepaskannya. Sudah menjadi tugas baginya untuk menjaga kehormatan
juga kesetiaannya.


Halimah kembali ke yayasan, dilihatnya Haikal tengah sibuk memimpin rapat.
Halimah menunggunya, dari dalam Haikal melihatnya. Laki-laki itu keluar
dengan penuh suka cita.


"Mas, maaf jika saya menganggu. Menurut saya mas Haikal sudah berlebihan."


"Berlebihan apa Halimah," tanyanya heran.


"Bunga … melunasi hutang saya …."


Haikal diam tak mengerti, wanita itu terus nerocos mengeluarkan semua
unek-uneknya.


"Ini mas."


"Apa ini Halimah?" uang sebesar 400 ribu yang Halimah masukkan ke dalam amplop.
"Halimah tidak butuh bantuan Mas, Halimah mohon tolong terima."


"Tapi saya masih tidak mengerti Halimah."


"Mas Haikal yang membayarkan hutang saya bukan?"


"Hutang mu dengan siapa, bunga apa?"


"Mas Haikal tidak mengirimkan bunga?"


"Tidak."


"Hutang?"


"Hutang yang mana?"


Halimah terperangah, wajahnya tak menampakkan kebohongan. Haikal memang tak
tau menau soal hutangnya dengan pemilik bengkel sepeda.


"Rhandra," bisiknya dalam hati.


Halimah berbalik, ia berlari menuju bengkel. Harapan ada di hadapannya.


"HALIMAH!" teriak Haikal kebingungan.
Wanita itu berlari bagai angin, ke dua pucuk hijabnya terbang kearah
belakang. Semangatnya begitu menggebu-gebu. Ia mengambil sepedanya, ia
kayuh dengan semangat.


"Pakdhe!" teriaknya, nafasnya tersengal-sengal.


"Pakdhe, bisa dijelaskan seperti apa orang yang membayarkan hutang saya?"


"Inggil bu, rekmonipun dipun taleni, ngagem koco tingal cemeng," [tinggi
bu, rambutnya diikat, pakai kacamata hitam].


"Alhamdulillah."


Halimah lemas, ia menarik nafas lega. Ciri-ciri yang ia sebutkan persis
dengan suaminya Rhandra.


"Pakdhe tau dia kemana?"


"Ngga tau bu."


Penuh semangat juga harapan, halimah mengayuh dengan suka cita. Suaminya
ada bersamanya. Halimah menangis, air matanya terbang bersama angin.


Gedong tua kini berada persis didepannya.


Halimah berhenti, ia biarkan sepedanya tergeletak di tanah. Ia berlari
masuk kedalam.


"Rhandraa!"


"Rhandraa!"


Halimah diam, Gedong tua masih tampak sama dengan kemarin. Tidak ada
tanda-tanda kehidupan didalamnya.
Pelan, ia langkahkan kakinya menuju lantai dua. Ada rasa takut, namun ia
memberanikan diri. Ia edarkan pandangannya ke setiap sudut ruang di lantai dua.


Sepi.


Halimah beranjak, ia langkahkan kakinya menuju lantai tiga, dihadapannya
kini kamar Rhandra suaminya.


Gagang pintunya masih rusak, terakhir Haikal mendobraknya dengan paksa.


Pelan Halimah membukanya, tak ada siapapun disana. Halimah lelah, ia duduk
di atas ranjang. Ia melihat ke seluruh penjuru kamar, lukisan-lukisan itu
masih berada di tempat yang sama. Ia melangkahkan kaki menuju lukisan
miliknya yang dulu pernah ia lihat.


Halimah buka tirai yang menutupi lukisannya, kosong. Lukisan Halimah sudah
tak berada ditempatnya.


Halimah semakin yakin. Rhandra sedang menghindar darinya. Ia menarik nafas.


Ia diam, pikirannya terus menebak-nebak keberadaan Rhandra.


"Kamu dimana?"


Embusan angin menerpa wajahnya, embusan itu berputar mengellilingi kamar
Rhandra, beberapa tirai terlepas dari tempatnya, lukisan-lukisan yang
berdiri disana terjatuh karena kencangnya terpaan angin.


Halimah gemetar, ia berbalik badan, embusan perlahan berhenti. Dari
kesekian lukisan yang ada, hanya satu lukisan yang bertengger di
hadapannya. Lukisan wanita yang dulu pernah singgah di bayangannya.


Halimah diam, wanita itu seperti sedang menatapnya.


"Braak!" Suara pintu terbanting dan tertutup rapat.


Seketika tubuh Halimah mendingin, ia gemetar. Degup jantungnya kian cepat.
Keringat mengucur di setiap tubuhnya.


"Astaghfirullah … Astaghfirullah," ucapnya terus menerus berdzikir.


Halimah berjalan pelan ke arahnya, ia mencoba membukanya namun pintu
tertutup rapat.


"Buka … Buka … Tolooooong!"


"Braak!" Halimah terhempas, pintu itu mendadak tebuka lebar.


seorang wanita kuntilanak telah berdiri dihadapannya, ia berpakain serba
putih, darah bersimbah disekujur dadanya, ia menggelengkan kepala, matanya
melotot dan darah keluar dari kedua ujung matanya.


"HAAAAAA!" Ia berteriak.


Tiba-tiba tubuh Halimah terlempar kebelakang. Halimah lemah, kepalanya
terbentur dinding sangat keras. Halimah tak sadarkan diri.


"Halimaaah …," bisik seseorang di telinganya.


"Haaak!" Halimah terbangun, kepalanya sedikit pusing. pelan ia membuka
matanya, pintu kamar Rhandra sudah terbuka lebar. Ia mencari suara-suara
yang memanggilnya.


Gedong tua sepi dan semakin gelap, cahaya matahari sudah tertutup awan
senja, entah berapa lama Halimah tak sadarkan diri.


Halimah bangkit, ia mengambil tas nya dan berlari ke bawah.


Halimah terperangah, suasana lantai dua terlihat sungguh berbeda. Ruangan
itu begitu hidup, terang, beberapa perabotan pun tertata rapih, lampu-lampu
Kristal menyala begitu terang.


Ia arahkan wajahnya ke kanan, balkon tempatnya dulu berbincang-bincang
dengan Rhandra terbuka lebar, kain tirai yang menutupinya terbang tertiup
embusan angin.


Perlahan Halimah melangkahkan kakinya.


"TEGA KAMU ABYAKTA!"


suara itu terdengar begitu nyaring di telinganya. Halimah terperanjat, ia
mengikuti arah suara yang berasal dari kamarnya di lantai dua.


Dilihatnya seorang wanita sedang bertengkar dengan laki-laki dewasa.


"Maafkan aku sayang, aku tidak tahu jika ada penyakit ini didalam tubuhku!"
ucap laki-laki seraya bersimpuh di kaki perempuan yang terlihat seperti
istrinya.


"DIEF!" (bajingan)


"Ik hou van jou, Dewi," [aku mencintaimu, Dewi]


"Leugen!" [Bohong!]


"Ik lieg echt niet,[aku tidak berbohong], aku tak tahu apapun Dewi. Maafkan
aku, ini semua kesalahanku. Aku akan menebus semua kesalahanku."


"Kamu egois Abyakta, ketakutanmu justru membuatku hancur! Aku sedang
mengandung anakmu, dan kau tularkan aku dengan virusmu itu!"


"NEE? nee misschien!" [Tidak mungkin!]
"Katakan padaku, apa benar kamu sedang mengandung?"


"Ja!"


Laki-laki itu ambruk, ia ingin memiliki Dewi seutuhnya. Pikirannya sangat
pendek, ia tak tahu Dewi sedang mengandung anaknya. Tangisannya pecah, ia
bersimpuh di kakinya.


"Aku tidak mau kehilanganmu, Dewi!"


"Kita akan berobat, aku janji aku akan pastikan anak kita selamat, maafkan
aku, aku mohon maafkan aku!"


Tak lama ia terdiam, ia biarkan suaminya bersimpuh di kakinya. Tangisan
mengiringi percakapan mereka. Laki-laki itu lemah, ia terus memeluk dan
mencium tangan istrinya.


"Lakukan sesuatu dan rahasiakan ini dari siapapun, tak seorang pun boleh
tau kita mengidap penyakit menjijikan ini, tak ada satupun yang boleh tahu
akan kehamilanku."


Halimah terperangah, wanita itu adalah wanita yang ia lihat dalam mimpi
juga lukisan dikamar Rhandra. Wanita keturunan eropa, yang pernah mengusap
pipi Rhandra begitu lembutnya.


Halimah lemas, ia tak sanggup berkata apa-apa. Kenyataan pahit terlihat
nyata di hadapannya. Jika benar wanita itu adalah ibunya, dan Rhandra
adalah anak yang sedang ia kandung. Besar kemungkinan Rhandra memiliki
penyakit yang sama.


Tak lama, mereka hilang, angin berembus di wajahnya. Suasana gedong tua
kembali gelap. Halimah berdiri diantara dua lorong, Nafasnya tersengal-sengal .


Berulang kali Helimah menelan salivanya. Pelan ia langkahkan kakinya, ia
berbalik dan …


"KEMBALIKAN ANAKKU!"


Kuntilanak itu kembali datang di hadapannya, ia mencekik leher Halimah
dengan keras.


"HAAAAA!" teriak Halimah


"Huuuaak!" Halimah terbangun. Ia masih dalam ruangan yang sama kamar
Rhandra di lantai 3, tubuhnya masih bergetar. Keringat dingin mengucur dari
pelipisnya. Halimah bangkit, sakit di kepalanya begitu terasa.


Halimah berjalan terhuyung-huyung, dilihatnya pintu itu terbuka begitu
lebar, tidak ada cahaya, semua gelap. Halimah tak dapat melihat apapun.


Halimah terjatuh ia hampir tak sadarkan diri, tak lama suara langkah orang
berlari nyaring terdengar. Halimah masih sedikit sadar.


"HALIMAH!"


"Rhandra …," bisik Halimah, ia mengenal suaranya. setengah sadar Halimah
melihat wajahnya.


"Rhandra …."


Halimah tak sadarkan diri.


_____


Pagi yang cerah. Halimah bangun dalam kondisi yang kurang sehat, tengkuk
lehernya terasa nyeri. Pelan ia membuka matanya, ia tidak berada di rumah
maupun Gedong tua.


Ia edarkan pandangan ke setiap sudut ruang di tempat ia berbaring. Dinding
kamar yang penuh diisi dengan wall paper berhias garis vertical dan bunga
di sisi tengahnya, berawarna merah kecoklatan.


Cahaya matahari masuk dari jendela kamar, embusan angin lembut menerbangkan
tirai putih yang menempel diatasnya. Dibawahnya persis sebuah meja panjang
dan pot bunga yang ditelakkan di sisi tengahnya. Dua buah nakas di sisi
kanan juga kiri. Sebuah jaket terlihat di balik pintu, jaket yang ia rasa
miliknya yang ia tinggalkan di Villa Abyakta.


"Ehemm…." Halimah berdehem. Ia tak tahu dimana ia saat ini.


Tak lama knop pintu berputar, pandangannya masih kabur. Dari jauh ia
melihat seorang wanita membawakan makanan untuknya.


"Non."


"Mbok Sum!"


Halimah terperangah, bibirnya menyungging lancip ke atas. Ia begitu
bahagia. Wanita itu memeluk Sum dengan erat. Ia bernafas lega akhirnya bisa
bertemu dengannya. Air mata mengalir di kedua pipinya.


"Mbok Sum."


"Non, Non pasti menunggu lama ya?"


"Rhandra kemana Mbok?"


"Non, makan dulu."


Halimah menggelengkan kepala.


"Rhandra dimana Mbok?" suara parau terdengar begitu jelas.


"Aden ada urusan Non."


"Kenapa, kalian pergi meninggalkan saya Mbok?"
Sum diam.


"Mbok!"


"Biar nanti Aden yang bicara dengan Non, sekarang Non makan dulu."


"Saya ngga lapar mbok, kita dimana?"
"Aden menyewa rumah sementara Non, sampai semua masalahnya selesai baru ia
akan kembali."


"Masalah apa?"


"Mbok, tidak tahu Non."


"Aden minta sama si Mbok, Non harus makan dulu, Non kan tahu bagaimana Aden
jika dia tahu Non tidak makan?"


Halimah menyuap beberapa sendok ke dalam mulutnya, ia mengakhirinya dengan
minum air putih.


"Saya ingin sholat Mbok."


"Mbok ambilkan perlengkapannya ya Non.


Halimah bangkit dari tempat tidur, ia melangkah menuju jendela kamar,
matanya menatap kebawah. Suasana pedesaan luput dari matanya, ia lihat
dibawahnya, kendaraan hilir mudik memenuhi isi kota.


Sum datang membawakan perlengkapan sholat. Halimah pergi wudu dengan rasa
haru, rasa sudah tak sabar berjumpa dengan sang kekasih.
Halimah menggelar sajadah, dengan penuh haru juga takdzim pada Tuhannya, ia
bertakbir.


Shalawat dan salam juga doa ia panjatkan setelah sholat, kebahagiaan
terpancar dari wajahnya. Halimah bangkit, ia lipat mukenanya dan kembali ke
kamar mandi. Ia menatap dirinya di cermin,wajahnya penuh dengan debu pekat,
ia usap wajahnya dengan air, ia kulum bibirnya agar telihat lebih merona.
Pakaian yang ia kenakan pun tak karuan, kotor dan berantakan. Ia
tepuk-tepuk pakaiannya agar terlihat bersih. Ia harus terlihat cantik di
hadapan suaminya.


Tak lama seseorang mengetuk pintu kamarnya, dengan semangat ia membukanya.


"Pak Darmin!" ucap Halimah sedikit kecewa.


"Saya antar pulang Non."


"Pulang? kemana?"


"Kerumah Non."


"Tidak pak, tempat saya tinggal hanya bersama Rhandra."


"Non, Aden tidak ada disini."


"Saya akan menunggu pak."


"Aden, meminta Non untuk segera pulang."


"Kenapa?"


"Saya tidak tahu Non."


Halimah diam, wajahnya memerah karena kesal.


"Kalau begitu suruh dia yang meminta saya untuk pulang, saya tidak akan
pulang sebelum bertemu dengannya!" tutur Halimah seraya menutup pintu.


Halimah terkejut, dadanya sakit. Rhandra seperti menghindar darinya. Ia
bertahan, ia duduk diawah bersandar pada tempat tidur. Ia merenung menunggu
kedatangan Rhandra.


Air mata mengiringi harapannya. Wanita ringkih itu tak sanggup menahan rasa
rindu yang begitu besar di hatinya. Ia ingin berteriak, ia ingin menjerit
atau bahkan melompat dari jendela dan membiarkan tubuhnya mati agar Rhandra
mau datang untuknya.
Berjam-jam Halimah termenung, tubuhnya semakin lemah, ia hanya memasukkan
tiga suap makanan dan seteguk air hangat ketubuhnya. Sisa makanan masih
berada di atas nakas.


Suara langkah kaki jelas terdengar dari kamarnya.


'Deg … suara itu!' hati Halimah berdesir, ia sudah hafal bagaimana suara
langkah kaki suaminya.


Halimah menatap pada pintu, knop pintu berputar lalu terbuka.


Seorang laki-laki berpakaian rapih dengan kemeja lengan panjang yang ia
gulung sesiku, juga wajahnya yang begitu akrab baginya, janggut di wajahnya
sudah rapih, tak seperti dulu yang sangat berantakan tak karuan. Rambut
yang panjang ia tarik rapih ke belakang.


"Rhandra …."


Halimah merasakan seluruh tubuhnya lumpuh seketika, matanya terpaku
memandang sosok yang selama ini telah hilang dari hidupnya.


Mata mereka bertemu setelah sekian lama. Tak sanggup lagi menahan rindu,
keduanya berpelukan penuh haru, seolah menemukan kembali bagian diri yang
telah lama pergi. Seperti mimpi, masih tak percaya Halimah jika dirinya
kini kembali dalam rengkuhan suami yang ia cintai.


Halimah memeluknya sangat erat, ia luapkan kerinduan yang mendalam pada
suaminya. Rhandra cium ubun-ubun Halimah dengan penuh haru.


Rhandra menarik tangan Halimah, mereka duduk diatas ranjang di sebuah kamar
yang baru baginya. Halimah mengusap wajah Rhandra dengan jari-jarinya, ia
jalankan jarinya dari dahi, hidung hingga mulutnya.


Rhandra kini tak semenyeramkan dulu, wajahnya kini lebih bersinar, janggut
tipis juga kumis tipis menghiasi wajahnya, rambut panjangnya terlihat lebih
rapih dari sebelumnya.


Rhandra mengambil tangannya, ia genggem erat. Kedua mata saling melihat,
ada air yang bergulir di ujung mata Halimah. Rhandra mengecup setiap
tetesan air yang keluar dari matanya.


"Apa yang kamu lakukan di Gedong tua?"


"Aku mencarimu Rhandra."


"Pulanglah Halimah, dan berhentilah mencariku."


"Apa maksud kamu Rhandra?"


"Pergilah Halimah, raih kebahagiaan yang ingin kamu capai."


"Kebahagiaanku hanya ada bersamamu Rhandra."
Rhandra diam.


"Aku rindu kamu Rhandra, kenapa kamu tak datang untuk menjemputku?" lanjut
Halimah.


"Pulanglah Halimah."


Halimah menggelengkan kepalanya.


"Pulanglah."


"Kenapa aku harus pulang, tempatku disisimu Rhandra."


"Aku bukan suami yang baik untukmu, percayalah. Kamu akan lebih bahagia
tanpaku."
Halimah menggelengkan kepala, ia terkejut mendengar perkataan Rhandra.
Dadanya sesak, air mata kembali membasahi pipinya.


"Kenapa?"


Rhandra diam.


"JAWAB!" rutuk Halimah.


"Aku mohon pergilah Halimah...!"


"Aku istrimu Rhandra ... Aku siap dengan segala akibatnya? Katakan Rhandra
apa yang terjadi denganmu"


Nafas Halimah tersengal-sengal menahan perih yang ia rasakan di dadanya.


Rhandra bangkit, ia berdiri diantara jendela, kedua tangannya memegang
setiap sudut jendela, wajahnya menunduk, dari pundaknya terlihat ia menarik
nafas berulang-ulang.


"Aku membebaskanmu Halimah …," ucapnya ragu.


"Aku mencintaimu Rhandra ... aku mohon..." Tangisan wanita itu semakin pecah.


"CINTA MU HANYA MEMBUATKU BODOH!" teriak Rhandra menghadapnya, sorotan
matanya tajam.
"Aku benci perasaan ini ... Aku membencimu Halimah!" lanjutnya bengis, tak
ada air mata sedikitpun.


"Lalu apa alasanmu menikahiku?"


"Untuk membalas dendamku pada Tuhan ... Aku ingin menyakiti wanita polos
sepertimu Halimah, bahkan dulu aku ingin memperkosamu, aku haus akan
darahmu, tapi tangisanmu, cintamu merusak segalanya!" jawabnya seraya
memicingkan mata.


Seketika tubuh Halimah membeku, pipinya basah, tulang-tulangnya bagai
remuk. Halimah tersungkur dibelakangnya.


"Katakan padaku, apa alasanmu membenciNya, katakan Rhandra ...."


Rhandra diam, "PERGILAH ...!" teriak Rhandra.


"TIDAAK!" sahut Halimah "Aku tidak akan pergi sampai Aku tahu semuanya
...." rutuk Halimah


"Aku tidak bisa menyentuhmu Halimah, dalam darahku ini mengalir virus jahat
yang senantiasa bisa membunuhmu, Ibuku mati karenanya, begitupun Ayahku..
dan usiaku hanya tinggal menunggu waktu, kau bisa pergi sekarang ...." ujar
Rhandra, Ia masih berdiri membelakanginya, wajahnya memerah menahan pedih.


Rhandra tak sanggup menangis di hadapannya. Ia berusaha untuk kuat di
hadapan Halimah.


"HIV?" tanya Halimah pelan, Halimah menatapnya, kepala Rhandra terus
menduduk, wajahnya tertutup rambut keringat di dahinya mengucur deras.


Rhandra tak menjawab, nafasnya tersengal-sengal. Apa yang ditanyakan
Halimah adalah sebuah kenyataan pahit yang ia alami. Ia tak mampu menyakiti
Halimah, ia tak mampu memberikan keturunan padanya.


"Aku terlahir seperti ini Halimah, masa kecilku hanya kuhabiskan dengan
Mbok Sum dan Pak Darmin yang senantiasa membantuku bertahan hidup ... kamu
tidak akan mengerti."


Halimah mendengarkan cerita itu dengan hati perih. Ia merasa seperti ada
sebuah tombak berkarat yang menancap tepat di ulu hatinya. Tangisannya
meledak. Rhandra diam di tempatnya. Halimah tahu kenyataan itu pasti sangat
menyakitkan untuk Rhandra.


"Halimah, kau bisa pergi meninggalkanku, Pak Darmin akan mengantarkanmu
pulang, tak banyak yang tau kalau kau sudah menikah denganku, Haikal
laki-laki yang baik, kamu bisa bersamanya."


Halimah masih menangis tersedu-sedu. Halimah meremas remas kepalanya, tak
tahu ia harus berbuat apa saat itu. Halimah sangat kasihan pada suaminya,
rasa cintanya bukan memudar justru semakin menyeruak.


Halimah bangkit, perlahan ia mendekati Rhandra. Nafas laki-laki itu masih
tersengal-sengal.


Tak lama Rhandra merasakan ke dua tangan Halimah masuk melewati sela-sela
tangannya. Halimah memeluknya. Ia rasakan setiap tarikan nafas di pundak
Rhandra.


"Aku mencintaimu Rhandra, apapun yang terjadi padamu aku siap menerimanya
... Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku siap menanggung apapun, aku
hanya hidup untukmu, aku bisa mati tanpamu."


Rhandra begitu terenyuh mendengar perkataan Halimah. Ia berbalik, ia usap
air mata di pipi Halimah dengan penuh haru. Kedua tangannya ia letakkan di
kedua pipi Halimah, kepalanya menunduk dan berbicara dengan lembut padanya,
kedua mata mereka saling menatap.


"Dengarkan aku Halimah, Aku tidak akan pernah rela melihatmu menderita,
kamu tidak tahu bagaimana penyakit ini menghancurkan hidupmu. Aku ingin
melihatmu bahagia, memiliki anak-anak yang lucu seperti yang pernah kamu
bilang, hidupku sudah hancur Halimah. Haikal laki-laki yang baik, dia akan
melindungimu. Dia juga akan memberikanmu keturunan seperti yang kamu
harapkan, pergilah."


"Tidak … Aku tidak mau, aku lebih baik mati, kamu tidak bisa menentukan
mati atau hidupnya seseorang, kamu lupa kamu punya Tuhan, kamu lupa Rhandra
… ada Dia yang bisa menyelamatkan kita!"


"DARMIN, SUM!" teriak Rhandra.


"Kamu mau apa?" ucap Halimah, bibirnya sudah basah air mata memenuhi pipi
hingga mulutnya.


Tak lama dua orang itu masuk ke kamar mereka.


"Bawa dia."


"Tidak!"


Sum dan Darmin datang, mereka menarik lengan Halimah dengan kuat.


"Nggak… Lepasin Mbok Sum… Lepas … Rhandra!"


"Ayo Non!"


Halimah meronta-ronta, Sum dan Darmin kuat memegang pergelangan tangannya,
mereka menariknya keluar.


"Rhandra … Aku mohon Rhandra!


Halimah lemah, tangan Sum dan Darmin begitu kuat. Mereka menyeret tubuh
Halimah, Halimah tak mampu melawan. Mereka memaksa memasukkan Halimah ke
dalam mobil.


Rhandra masih diam, dari jendela kamarnya ia melihat Halimah menjerit-jerit
menyebut namanya.


Laki-laki itu menangis, tangisannya pecah. Ia menghantam dinding di
hadapannya dengan pulukan keras. Vas bunga yang berada di bawahnya ia
lempar hinga hancur berkeping-keping. Rhandra hancur, perasaannya pada
Halimah adalah sebuah kesalahan baginya.


Laki-laki itu tersungkur, ia duduk diantar dua kaki meja, wajahnya menunduk
kebawah, air matanya terus menetes.


Halimah pergi, hari ini adalah hari dimana Rhandra resmi meminta Halimah
untuk berpisah dengannya.


#BERSAMBUNG








Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar