#MENIKAH_DENGAN_SETAN
#PART_19_SURGA_YANG_NYATA
______
Hamparan rumput luas seperti menyatu dengan langit, warna hijau ditanah
bercampur dengan warna biru langit. Gemiricik suara air jelas terdengar
begitu lembutnya, air sungai dan beberapa ikan mas didalamnya begitu
menyilaukan mata, awan bergulung berwarna putih bersih berkumpul di
hadapannya. Matahari menyinari namun tidak menyilaukan, udara sejuk masuk
ke sela-sela tubuhnya.
Wanita itu mengembuskan nafas, ia tersenyum lebar. Halimah berlari kemudian
merebahkan tubuhnya di atas rerumputan. Tak ada satupun manusia di sana,
hanya Halimah dan alam yang seakan hidup.
"Surgakah ini?" tanyanya lembut. Halimah nikmati pemandangan alam yang
begitu sempurna. Ia rebahkan dirinya ke tanah, sejuk terasa. Tak ada sakit
yang ia rasa, tak ada pedih yang ia rasakan di jiwa.
"Halimah …." suara itu terdengar jernih ditelinganya. Halimah bangkit, ia
edarkan pandangannya mencari sumber suara. Sebuah pintu besar dan bercahaya
berada persis dihadapannya, didalamnya hanya ada kegelapan.
Seorang pria tengah berdiri disana memanggil-manggil namanya. Halimah
berlari, laki-laki itu terlihat menunggunya di bibir pintu. Seorang
laki-laki paruh baya berpakaian serba hitam, rambutnya sudah memutih,
garis-garis keriput terlihat jelas disekitar mata dan dahi. Ia tersenyum ke
arah Halimah, namun matanya menangis. Keringat mengucur dari dahinya. Sorot
matanya tajam, menusuk kalbu.
"Ayah …." Air mata Halimah meleleh, wanita itu berlari kearahnya, ada
dinding pemisah besar diantaranya.
"Masuk Ayah …."
Dia menggelengkan kepala.
"Ayah! Masuk … Udara di sini sangat sejuk, Ayo Ayah …."
Laki-laki itu menangis, tangisannya semakin hebat.
"Ayah kenapa?" Halimah terenyuh, air mata yang mengalir di pipinya membuat
hati Halimah luka.
"Ayah tidak boleh masuk, Nak?"
"Kenapa? pintu ini terbuka lebar, lompat saja!"
"Ayah tidak dizinkan masuk, berulang kali Ayah mencoba masuk berulang kali
pula Ayah terlempar keluar, tubuh Ayah sakit, sekujur tubuh Ayah menjerit
kesakitan."
"Ayah dimana?" suara Halimah semakin parau, ia tak tega mendengar
penjelasan Ayahnya.
"Ayah disini, Nak. Menunggu!"
"Menunggu apa?"
"Menunggu kamu menarik tangan Ayah, Nak!"
Halimah berlari, terus berlari semakin ia berlari pintu itu semakin menjauh.
"Kenapa sulit sekali menjangkau Ayah?" jawabnya tiada peluh ditubuhnya.
Halimah terus berlari, dan pintu itu semakin menjauh.
"Halimah berhenti Nak."
"Halimah sulit menggapai tangan Ayah!" lirihnya.
"Halimah … Ayah rindu dengan suaramu, kapan Halimah akan membuka Mushaf
lagi untuk Ayah?"
Halimah diam, sudah cukup lama ia tak membuka Mushafnya dan bertadarus.
Kecewa akan cobaan yang menimpa hidupnya juga suaminya membuat halimah lupa
akan kewajibannya sebagai anak, hanya seorang anak yang bisa memberikan
mahkota juga istana untuk orang tuanya, Halimah lupa tujuan ia membaca
Mushaf setiap harinya, ia lupa dimana kakinya berpijak.
"MasyaAllah! Astaghfirullah! Allah … Maafkan Halimah Ayah, Maafkan Halimah …."
Tangisan Halimah pecah ia tersungkur, tangannya memegang dada yang sesak,
tangan yang satu mengusap air di matanya.
"Bangunlah Nak … Bacakan ini untuk Ayah."
Mendadak mushaf Ayahnya ada di pelukan, Mushaf berawarna coklat tua, dengan
kancing penjepit didepannya. Warna kertasnya sudah berwarna kekuningan
terlihat dari setiap lipatan di sana. Halimah melihatnya dengan penuh haru.
Bukankah Dasinun pernah memintanya untuk membacanya, namun mengapa Rhandra
lebih berarti untuknya, mengapa Rhandra lebih segala-galanya untuknya.
Halimah menunduk malu, ia ciumi Mushaf Ayahnya dengan penuh rasa takdzim.
"Halimah janji akan baca Ayah …Halimah janji …"
"Bacalah Nak, hanya dengan itu Ayah bisa selamat, bacalah!"
Perlahan dinding itu memudar, langit dan rerumputan seperti menjadi satu.
Tubuh Halimah tertarik keatas, seseorang memanggil-manggil namanya dengan
kuat, suara tangisan, suara kerinduan membawanya kembali.
Air mata itu keluar dari kedua sudut mata Halimah, nafasnya
tersengal-sengal. Wanita itu masih terbaring lemah di Rumah sakit.
"Sayang! Sayang bangunlah …" suara bisikan itu terdengar jelas di telinga
Halimah, suaranya begitu parau dan tebal.
"Halimah! Sayang! Sadarlah sayang, aku disini … Rhandramu."
Halimah merespon, jari-jarinya bergerak. Rhandra bangkit, ia menatap ke
tangannya agar lebih yakin, tangan Halimah merespon.
"Dokter!" teriak Rhandra, tangan Halimah kembali merespon kali ini Ia tak
melepaskan tangan Rhandra. Matanya masih terpejam, namun hati juga
telinganya mendengar.
Rhandra tersenyum, ia melihat wajah istrinya. Ia dekatkan kepalanya.
"Aku disini sayang … Aku disini, Rhandramu." bisiknya ditelinga Halimah.
Bulir itu terlihat di ujung mata Halimah, pelan ia membuka matanya,
nafasnya begitu lemah.
"Rhandra …."
"Aku disini … Aku disini."
"Jangan pergi … Aku mohon jangan pergi …" ucap Halimah lemas.
"Tidak, Aku janji, Aku janji Halimah!" ia memeluk erat tubuh istrinya,
hatinya lega. Berulang kali ia mencium pundak Halimah dan keningnya.
Tangisan mengiringi kerinduan mereka. Luka yang selama ini ia pendam di
hatinya hilang dalam sekejap.
Halimah kembali terlelap, cedera di kepalanya membuat Halimah harus
beristirahat total. Tangan itu erat memegang tangan Rhandra, ia tak ingin
suaminya pergi lagi darinya.
Rhandra terjaga, Banyak yang suami Halimah itu pikirkan, mulai penembakan
yang terjadi pada Haikal, surat wasiat Ayahnya, kesehatan Halimah juga
dirinya, dan yang paling menyayat hati hubungan dia dengan Halimah, yang
terombang-ambing tak jelas.
Rhandra menyandarkan kepalanya, diatas tangan. Laki-laki itu terlelap untuk
beberapa jam disisi istrinya.
Beberapa saat Halimah membuka mata, wanita itu sudah sadar. Ia hadapkan
wajahnya ke arah tempat suaminya bersandar. Kepala rhandra menunduk
kebawah, tangannya yang satu memegang erat tangan Halimah, dan satunya ia
jadikan sandaran untuk tidur. Pelan Halimah menarik tangannya, Rhandra diam
ia tertidur begitu pulasnya.
Tangan Halimah membelai pipinya, ia mengusap rambut Rhandra yang tak
beraturan. Rhandra terperangah, Ia sadar tangan Halimah kini berada di
kepalanya. Laki-laki itu tersenyum, ia cium tangan istrinya, ia bangkit dan
memeluknya erat. Tubuh Halimah seakan masuk dan tertutupi pundaknya yang
lebar. "Aku bersyukur, kamu kembali … Aku mencintaimu Halimah"
Halimah membalas pelukannya, tangannya yang lemah itu terangkat ia letakkan
di pundak Rhandra. Halimah diam, ia biarkan tubuh suaminya bersandar begitu
lama di pelukannya.
"Berapa lama kamu akan memelukku?"
"Cukup lama … Aku janji tak akan melepaskan lagi pelukan ini, aku akan
biarkan tubuhmu selalu mengikutiku, aku akan biarkan suaramu terus mengusik
heningku, aku rindu Halimah, aku rindu suaramu, aku rindu senyummu, aku
rindu semua…."
Halimah menarik nafas lega, ada hikmah dari setiap kejadian yang menimpa
dirinya, jika tidak ada fitnah yang menimpa dirinya, mungkin ia tak akan
pernah berjumpa dengan laki-laki yang kini sedang memeluknya. Terlintas di
pikiran Rhandra untuk memberitahukan kepergian Haikal padanya, Halimah
berhak tahu. Laki-laki itu sudah banyak berjasa baginya juga Halimah. Jasad
Haikal mungkin tak lama lagi akan dikebumikan.
"Halimah …"
"Hmm …"
"Haikal …"
Halimah bergeming, mendengar namanya membuat hati Halimah jengkel, Ia tak
mau Rhandra mengulangi hal yang sama dengan menyerahkan dirinya pada Haikal.
"Haikal … sudah tidak ada."
"Heh!" Halimah mulai membuka suara, ia tak paham dengan maksud Rhandra.
Halimah melepaskan pelukan rhandra, menatap wajahnya yang penuh dengan
teka-teki.
"Maksudnya?"
"Haikal sudah meninggal , dia menyelamatkan nyawaku."
Halimah diam, tak lama nafasnya tersengal-sengal. Air mata mulai membasahi
lagi pipinya.
Halimah diam, ada penyesalan di raut wajahnya. Baru semalam ia bertemu
dengannya dan untuk kesekian kali ia menolaknya, melintas di pikiran
Halimah setiap kebaikan yang Haikal berikan, mulai dari pertemuan hingga
perhatian pada keluarganya. Bulir matanya mengalir hingga ke mulut. Halimah
menyesali apa yang sudah terjadi padanya.
"Maafkan Halimah, Mas Haikal … Maafkan …" Halimah sesak ia terus merasa
bersalah akan kepergian laki-laki yang dulu sempat singgah di hatinya.
Selintas bayangan akannya, senyumnya, perjuangan mendapatkan hatinya terus
menerus melintas terbayang di pikiran Halimah. Halimah rapuh, Rhandra
mendekat ia dekap tubuh istrinya dengan erat. Rhandra menyadari meskipun
tiada cinta dihati Halimah untuk Haikal namun kedekatan Halimah dan Haikal
tidak bisa dipungkiri. Ia biarkan istrinya menangis di pelukan. Halimah
bangkit,
"Aku ingin menemuinya, Rhandra …"
" Jasadnya sudah di bawa pulang keluarganya."
"Antarkan aku Rhandra, aku mohon."
Rhandra mengangguk.
___
Malam itu Rhandra mengantarnya menuju rumah Haikal, setelah mendapat izin
dari Dokter mereka bisa pergi, Rhandra membopong istrinya dari ranjang, ia
rebahkan tubuh Halimah di kursi roda, tangannya masih tertusuk cairan infus.
Jaraknya rumahnya tak jauh dari Rumah sakit, Darmin menyetir, Rhandra juga
Halimah duduk di tengah, wanita itu terus menangis di pelukan Rhandra.
Rumah beraksitektur jawa itu sudah penuh dengan puluhan mungkin ratusan
orang yang datang melayat, karangan bunga sudah berjejer di bibir jalan.
Rhandra memapah tubuh Halimah, dan membantunya duduk di kursi roda. Pelan
ia berjalan, semua mata tertuju pada mereka. Berita tentang hidupnya
Rhandra Abyakta sudah terdengar, HIV pun mulai terangkat. Beberapa warga
yang bodoh akan informasi HIV menjauhi Halimah juga Rhandra.
Bagus! pikir Rhandra, ia lebih mudah menemui Haikal untuk terakhir kalinya,
mereka yang takut mendekatinya seperti memberikan jalan untuk masuk ke dalam.
Dari jauh halimah bisa melihat Ayu, wanita itu bersandar tak jauh dari
jasad Haikal tubuhnya kaku, air matanya terus mengalir membasahi pipi. Pak
Anggoro yang terlihat cukup tegar menyambut beberapa tamu yang datang. dan
bu Anggoro diam memeluk tubuh Haikal.
Jasadnya sudah dimandikan, dan segera di makamkan. Halimah ingin melihatnya
untuk terakhir kalinya. Rhandra memapahnya, ia dekatkan tubuh Halimah pada
tubuh yang sudah tak bernyawa, bagian perutnya masih ada sisa darah, pelan
Rhandra membuka kain penutup wajahnya.
"Nak … Halimahmu datang Nak …." ucap bu Anggoro menggetarkan hati Halimah,
air mata seketika menetes. Wanita itu terus mengucapkan kalimat itu
berulang-ulang. Sorot mata penyesalan terlihat jelas.
"Bangun, Nak. Halimah mu sudah datang. Ibu mu yang akan memintanya untuk
menikahimu segera. Bangun Haikal." beberapa orang memegang tubuh bu
Anggoro, agar air mata tak jatuh di atas tubuh yang sudah suci.
Halimah melihat wajah Haikal, wajah itu sungguh bercahaya, bibirnya
menyungging ke atas seperti sedang tersenyum, tubuhnya kaku, jika saja
Halimah bersikap baik dengannya beberapa waktu lalu, mungkin ia tak akan
semenyesal ini.
"Maafkan Aku mas … Jannah terbuka lebar untukmu" bisik Halimah. Halimah
menunduk ia mencoba mengontrol emosi juga air mata, Rhandra memeluknya
erat. Halimah edarkan pandangannya, disudut ruangan ia lihat Ayu mantan
sahabatnya diam kaku bagai patung, semangat hidupnya lenyap, wajahnya
pucat, pakaian dinas masih menempel di tubuhnya.
Halimah mendekat, bagaimanapun Ayu adalah sahabat yang baik sebelum
kedatangan Haikal, wanita itu selalu membantu Halimah dikala susah, Ayu
bahkan tak jarang meminjamkannya uang saat ia dan keluarganya kesulitan.
Masa mudanya hanya ia habiskan dengan Ayu, curahan hati, tertawa bersama,
belajar bersama selalu mereka lakukan bersama, kini semua itu pupus. Ayu
kehilangan Haikal juga Halimah sahabatnya.
Pelan Halimah mendekatinya, tubuhnya ia geser mendekati Ayu, ia usap
pundaknya. Wanita itu bergeming, wajahnya terus menatap kedepan air mata
mengalir tiada henti. "Aku turut berduka Yu …."
Tak lama tangisannya pecah, ia merengek. "Maafkan aku … M … Maaf." Halimah
memeluknya, "Maafkan aku juga Yu …" Ayu menangis, merengek di pundak
Halimah, ia menyesali perbuatannya pada Halimah, ia menyesali kematian
Haikal yang begitu cepat.
Halimah lepaskan pelukan Ayu, ia bergeser menuju bu Anggoro. Halimah cium
tangannya dengan penuh rasa takdzim. "Haikal begitu mencintaimu, Nak …
Haikal begitu mencintai Halimah, Halimah mau menikah dengannya kan?"
Halimah diam, ia hanya mengiyakan perkataannya. Wanita itu berbicara
seakan-akan putranya hanya terlelap, air matanya sudah kering. Penyesalan
begitu besar terlihat di wajah. Ia mengusap pipi Halimah, "Maafkan ibu ya
Nak, Ibu akan menyiapkan semuanya,"
"Tolong bantu Haikal berkemas. Pengantinnya sudah datang!" teriaknya,
beberapa orang menangisi sikap juga jiwanya yang sakit terguncang. Anggoro
memeluk istrinya, dan terus mengingatkan akan kematian anaknya. Tak lama
rintihan suara terdengar "HAIKAL BELUM MATIII!!! PUTRAKU MASIH HIDUP!!
Harta, pangkat dan kedudukan tiada arti bagi mereka yang pernah merasakan
arti kehilangan. Bahwa manusia hanyalah debu, yang jika Allah mau bisa
hilang dalam sesaat. Bu Anggoro lupa bahwa dirinya dilahirkan dari tanah
yang sama dengan Halimah. Tak ada beda di mata Allah. Allah masih
mencintainya, setidaknya Allah masih memberikannya teguran akan kepergian
putranya, teguran atas fitnah bertubi-tubi yang ia layangkan pada gadis
suci seperti Halimah.
Halimah menangis, nafasnya sesak. Rhandra terus menguatkannya, "Halimah aku
mohon, kepalamu masih sakit." bisik Rhandra lembut di telinganya.
Haikal kini sudah bebas, ia tak perlu lagi memikirkan Halimah. Semua
perjuangannya di dunia sudah selesai. Keinginannya hanya sederhana bisa
membahagiakan wanita yang pernah ia cintai, penyesalan pernah meninggalkan
Halimah karena fitnah keji yang dilakukan ibunya telah ia bayar dengan
nyawanya. Haikal menyesal dan kini ia hanya tinggal menunggu janji Allah
untuk bisa membawanya ke surga.
#TO_BE_CONTINUE
Kisah Rhandra dan Halimah begitu menguras hati juga tenaga saya. Cerita ini
berawal dari inspirasi saya saat melihat seorang istri yang rela menikah
dengan seorang ODHA. Wanita itu rela dicaci, dihina,ditinggalkan demi
suaminya. Sampai akhir ia tetap menjaga suaminya.
ODHA bukanlah sampah, mereka juga memiliki hak yang sama di bumi. Harapan
besar saya, semoga cerita ini membuka mata bagi mereka yang menganggap
bahwa HIV adalah penyakit hina, HIV adalah penyakit kutukan. Dan memberikan
semangat bagi ODHA untuk terus berjuang melawan HIV. Bahwa penyebab
kematian bukanlah HIV, penyebab kematian hanyalah Allah Azza Wa Jalla, yang
jika ia mau orang sehat mungkin akan lebih awal pergi dibandingkan
penderita HIV. Orang HIV tidak lebih sakit dibandingkan orang normal.
Banyak yang bertanya mengapa mengambil judul menikah dengan setan? setan
disini hanyalah sebuah analogi semata dari seorang perwujudan manusia yang
membenci Tuhannya. Analogi dari penyakit HIV yang banyak orang katakan
penyakit memalukan, penyakit yang ditimbukan akibat perbuatan dosa.
Alhamdulillah naskah ini sudah selesai saya tulis. Masih perlu waktu untuk
tahap editing. Terimakasih untuk semua dukungan dan support yang tiada
henti pada saya. Bahwa saya hanyalah manusia biasa dan ilham baik
semata-mata datang dari Allah dan yang buruk murni dari saya pribadi.
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar