2.24.2019

*NOGO SOSRO SABUK INTEN* *Jilid. : 364*

*Inspirasi Pagi,,,,,,,,,!!




*NOGO SOSRO SABUK INTEN*


*Jilid. : 364*




"Hamba sendiri sanggup melakukan Baginda. Hamba dapat melampauinya dengan
kuda yang berpacu kencang-kencang."


"Akan sama saja bahayanya, Paningron."


Paningron tidak lagi berkata-kata. Diikutinya saja kemudian Baginda
berjalan berkeliling. Tiba-tiba di sudut lapangan rumput itu Baginda
berhenti. Digesernya pusakanya dan dengan serta merta dirabanya hulu pusaka
itu.


Paningron pun segera melihat, sebuah bayangan yang berdiri tegak dihadapan
mereka.


"Siapa?" bertanya Paningron perlahan-lahan.


"Apakah aku berhadapan dengan Baginda?" desis bayangan itu.


"Oh" sahut Baginda.


"Eyang ternyata benar-benar datang."


"Tentu cucunda Baginda" sahut bayangan itu.


"Hamba sudah berjanji."


"Nah. Bagaimana dengan orang-orang itu, eyang?"


"Sudah hamba katakan Baginda, itulah yang dapat hamba sampaikan kepada
Baginda malam ini. Seperti yang pernah hamba sampaikan sebelumnya."


"Hem. Apakah nilai nama Sultan Trenggana dapat dipakai untuk kepentingan
seorang Karebet."


"Jangan Baginda menilai Karebet kini. Tetapi Karebet pada masa datang akan
mempunyai nilai tersendiri dalam hati Baginda. Dan bukankah Baginda juga
seorang ayah yang baik."


"Persetan dengan anak itu."


"Tetapi puteri Baginda akan dapat menderita seumur hidupnya. Dan bahkan
mungkin mengancam jiwanya."


Baginda itu pun kemudian termenung sesaat. Ternyata Baginda tidak dapat
mengingkari kenyataan bahwa puteri Baginda telah mencoba untuk membunuh
dirinya. Untunglah maksud itu dapat di urungkan. Entah karena malu, entah
karena Karebet yang hilang. Namun untuk seterusnya tak dapat memandang
hari-hari yang dilampauinya dengan gairah. Apalagi sebenarnya Sultan
sendiri tidak terlalu membeci Karebet. Justru Baginda sendiri pernah
melihat kelebihan-kelebihan yang ada pada anak itu.


"Bagaimana Baginda?" bertanya bayangan itu.


"Hem. Eyang telah membingungkan aku. Kalau aku membiarkan pemberontakan
ini, maka peristiwa yang serupa akan dapat terjadi dihari-hari yang akan
datang."


"Mereka sama sekali tidak memberontak terhadap Baginda. Mereka datang untuk
mencari Karebet."


Sekali lagi Baginda termenung.


Dan didengarnya bayangan itu berkata, "Selain dari itu Baginda, bukankah
hamba telah menolong Baginda mencarikan jalan untuk mencari kemungkinan
memanggil kembali anak itu, dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan."


"Aku merendahkan harga diriku. Trenggana adalah Sultan yang disegani lawan
dan kawan. Apakah aku tidak dapat memusnahkan mereka?"


"Tentu Baginda. Sebab mereka tidak akan berani melawan Baginda seandainya
Baginda sendiri keluar di medan pertempuran. Apalagi salah seorang pengawal
Baginda di panji-panji Gula Kelapa. Maka Gajah Sora pasti akan mati
ketakutan melihat panji-panji itu."


"Jadi bagaimana?" bertanya Baginda.


"Hamba adalah orang tua, Baginda. Orang tua yang telah tidak mempunyai
pamrih apa-apa lagi. Berpuluh-puluh tahun hamba menghilang. Sekarang hamba
ingin melihat Demak menjadi bertambah baik menilik persoalan-persoalan yang
terpendam di dalamnya."


"Jangan sebut lagi, keturunan Kakangmas Sekar Seda Lepen."


"Tidak. Aku tidak akan menyebutnya, tetapi hal itu tidak akan dapat
menghapus kenyataan itu."


"Ya. Eyang benar. Anak itu ada disini pula sekarang."


"Penangsang?"


"Ya"


Sesaat mereka terdiam.


Paningron menjadi bingung mendengar pembicaraan itu. Tetapi ia tidak berani
bertanya.


Yang didengarnya kemudian adalah suara Sultan. "Lalu bagaimana eyang?"


"Tergantung pada Baginda."


"Baiklah, besok pagi-pagi pasukanku akan bersiap menyongsong mereka menurut
rencana yang telah eyang buat. Mudah-mudahan semua berjalan dengan baik."


Bayangan itu pun kemudian mengangguk-angguk dalam-dalam. Perlahan-lahan
terdengar ia berkata. "Baginda ternyata telah berbuat sesuatu yang
mengagumkan hamba. Orang tua yang sama sekali sudah tidak berarti lagi.
Besok hamba tidak akan lagi bersembunyi. Namun hamba akan mengabdikan diri
dibawah duh Baginda."


"Ah. Eyang terlalu merendahkan diri."


"Sekarang Cucunda Baginda, biarlah aku pergi."


"Jangan eyang. Eyang harus berada disini. Kalau ada sesuatu kesalahan, maka
eyang akan dapat membantunya".


"Atau untuk menjadi tanggungan?"


"Tidak."


"Baiklah. Aku ikut Baginda."


Bayangan itu pun kemudian berjalan mengikuti Baginda disamping Paningron.
Namun mereka yang berjaga-jaga dimuka barak, sama sekali tidak
memperhatikan siapakah yang lewat dihadapan mereka. Ketika mereka melihat
Paningron, meka yang lain sama sekali tidak penting bagi mereka sebab
mereka tahu, bahwa Paningron adalah seorang perwira dari jabatan rahasia di
Demak.


Bulan yang bulat mengapung di langit dengan sangat lambatnya. Namun
pasukan-pasukan pengawal Baginda tiba-tiba menjadi ribut. Mereka segera
berlari-lari kedalam barak masing-masing untuk mengambil senjata mereka.
Paningron telah menjatuhkan perintah, supaya mereka bersedia menghadapi
setiap kemungkinan.


"Kekuatan mereka jauh lebih besar dari kekuatan kita," berkata Paningron
kepada para pemimpin Demak.


Tetapi seorang perwira Wira Tamtama menanggapinya dengan sebuah senyum.
Katanya di dalam hati, "Apakah yang dapat dilakukan oleh orang-orang pedesaan?"


Orang itu sama sekali tidak mau memikirkannya lagi.


"Besok mereka akan aku musnahkan," katanya. Orang itu adalah Tumenggung
Prabasemi. Seorang perwira Wira Tamtama yang terlalu menyadari
kelebihan-kelebihan yang ada pada dirinya. Malam itu semua prajurit siap
ditempatnya. Beberapa penjaga selalu mondar-mandir mengawasi keadaan.
Sedang yang lain beristirahat untuk menanti, apakah tugas yang akan mereka
lakukan besok pagi.


Namun senjata-senjata mereka telah melekat di tangan. Ketika matahari mulai
membayang di pagi dini hari, maka mulai membayang pulalah ketegangan di
wajah para prajurit Demak dan setiap orang dalam laskar Banyubiru.






*Bersambung*,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,


*(@Ww/tris)*🧡🧡🧡

Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar