3.20.2019

#MENIKAH_DENGAN_SETAN #PART_20 #PART_21




#MENIKAH_DENGAN_SETAN
#PART_20
#PART_21


Tiga malam berlalu, kondisi Halimah mulai membaik, namun raganya masih
terbaring lemah. Dokter memberikan izin padanya untuk rawat jalan.


"Bawa aku ke Genilangit Rhandra, hanya di sana aku bisa merasakan bahagia
bersamamu …"


Sesuai permintaan Halimah, Rhandra memutuskan membawanya ke Genilangit,
bersamanya ia akan merawat Halimah.


Desa Genilangit masih sama seperti terakhir ia tinggalkan. Halimah
berpangku pada pundak Rhandra yang begitu lebar, tangan kiri Rhandra
memeluk pundaknya dan yang lain memegang erat tangan Halimah.


Mobil yang dikendarai Darmin melintasi jalanan bebatuan, juga sungai yang
mengalir di sisi kanan juga kirinya. Gunung lawu menyambut kedatangan
mereka, kabut tak menghalangi perjalanan mereka, langit cerah, burung-burng
bersahutan menyanyikan lagu indah.


Halimah lemah, keberadaan Rhandra yang membuatnya semangat untuk hidup,
sejuknya udara Genilangit membantu mencairkan setiap darah yang panas,
begitu sejuk hingga membuat pikiran juga jiwa menjadi tenang.


Rhandra duduk disebelahnya, ada kebahagiaan di wajahnya. Kebahagiaan yang
sempat hilang beberapa waktu lalu. Keindahan taman genilangit membawa
khayalannya kian pasti. Rhandra gantung impian dan asa, dan ia berjanji
tidak akan mengecewakan dirinya juga Halimah. Keegoisan hanya menyiksa, tak
mengapa asal dia dan Halimah bahagia.


"Halimah."


"Hmm," jawab Halimah. Tubuhnya bersandar di dada Rhandra, tangan kanan
Rahndra melingkar di perutnya, dan yang satu erat memegang tangannya.
Selama perjalanan, keduanya sibuk menikmati pemandangan Genilangit.


"Katakan padaku apa yang mereka lakukan, sebelum aku datang?"


"Entahlah, Rhandra. Jumlah mereka sangat banyak, sepertinya mereka tidak
tahu keberadaanmu, mereka menuduhku menikah dengan setan, dan yang paling
aku ingat …"


"Apa?"


"Laki-laki itu, laki-laki yang menanyakan namamu, Ia bertanya 'dimana Abyakta?'


"Lalu?"


"Aku jawab tidak tahu, aku jawab kamu tidak pernah ada. Aku takut mereka
akan melakukan hal buruk padamu."


"Apa yang ia lakukan."


Halimah menangis, bahkan perih di rahang wajahnya masih ia rasakan. Refleks
ia memegang pipinya.


"Apa dia yang membuat wajah mu …"


Halimah mengangguk, Rhandra geram. Tubuh Halimah semakin ia peluk erat.


Aku akan balas mereka, aku akan membalas setiap perbuatan mereka padamu
Halimah, gerutu Rhandra dalam hati.


Mereka tiba di Genilangit, Rhandra membantu istrinya berjalan. Halimah
masih limbung. Halimah terkejut, Rhandra tau apa yang harus ia lakukan
untuk membahagiakan istrinya. Dilihatnya, Dasinun dan ke dua adiknya
menyambut kehadiran Halimah. Senyum mereka begitu lebar, begitu pun
Halimah. Sur dan Dwi berhamburan ke arah Halimah, mereka mencium tangan
kakak perempuannya.


Air mata mengiringi kebahagiaan mereka. Halimah mendekat menuju Dasinun,
wanita yang tak muda lagi itu menitikkan air mata bahagia, ia membuka lebar
tangan untuk ia peluk. Kedua tubuh itu bertemu, tangisan haru mengiringi
perjumpaan mereka. Rhandra yang berdiri di samping Halimah begitu terenyuh,
setidaknya saat ini dia pun memiliki seorang ibu.


"Rhandra … Ibuku."


Rhandra tersenyum, dia mengambil tangan Dasinun ia cium seperti yang
Halimah lakukan padanya.


"Terimakasih sudah menghadirkan Halimah di dunia."


Dasinun terenyuh, di peluknya laki-laki berbadan jangkung itu.
Sum sudah menyediakan makan siang untuk semua. Di meja makan, semua duduk
bersatu Dasinun, Rhandra, Halimah, Dwi, Sur, Sum, dan Darmin.


Mereka menikmati indahnya bersama, Rhandra menikmati perjumpaan yang begitu
mengharukan sepanjang sejarah hidupnya. Belum pernah ia merasakan memiliki
keluarga utuh seperti ini, akan lucu jika ia mempunyai seorang anak dari
Halimah, namun niat itu surut, dilihatnya wajah Halimah. Ia begitu cantik
saat tersenyum, tak ingin rasanya menghancurkan senyuman di wajahnya.
Biarlah bersamanya selama yang Halimah mau.


"Buee …" sapa Halimah setelah makan siang. Ibu dan anak itu tengah bicara
berdua di depan teras.


"Ya Nduk."


"Bue, apa bisa Mushaf Ayah untuk Halimah?"


"Loh kenapa, Nak?"


"Halimah rindu Ayah, Bue."


"Boleh Nak, Mushaf itu masih berada di rumah kita, Bue belum bisa kesana."


"Bue sudah tinggal di rumah lagi?"


"Sementara suamimu meminta kami menetap di Rumah suamimu di Magetan, Nak."


"Rhandra, khawatir Bue."


"Bue tahu Nak, Suamimu begitu perhatian dengan Bue juga adik-adikmu. Bue,
tidak bisa menginap, Dwi dan Sur harus tetap sekolah. InsyaAllah jika sudah
waktu libur mereka, Bue akan menginap disini bersamamu juga suamimu yang
tampan, gagah, dan baik itu."


Halimah tersenyum malu, penggambaran Dasinun akan Rhandra memang benar
adanya. Suaminya begitu gagah, wajahnya tampan dan hatinya begitu tulus dan
baik, ia melirik ke arah suaminya yang sedang duduk tak jauh dari mereka,
sepasang netra itu bertemu. Rhandra tersenyum, begitu pun Halimah yang
mengharu, perasaan Halimah mendesir saat Rhandra tersenyum padanya.


"Den …" sapa Darmin.


"Ya!" Rhandra bangkit.


"Dirjo yang memerintahkan orang untuk melakukan penembakan," ucap Darmin
setelah mendapatkan info dari kepolisian.


"Dirjo? siapa dia?"


"Kepala desa."


"Tunggu sebentar, bukanlah penembak itu berniat ingin menghabisiku?"


"Sepertinya, Den."


"Ada hubungan apa dia dengan semua ini!"


"Kita harus cari tahu Den, saat ini Dirjo sudah di amankan."


Dari jauh, Rhandra memandang Halimah. Ia tengah tersenyum memandangi langit
juga ke dua adiknya yang bermain lepas di halaman.


"Kita berangkat sekarang, Pak!"


Rhandra mendekat, menuju sang ratu di hatinya, disebelahnya duduk wanita
yang wajahnya hampir mirip dengannya.


"Halimah, suamimu datang. Buee bantu Mbok Sum sebentar."


"Nggih, Bue."


"Kamu senang?"


Halimah mengangguk. Rhandra duduk di bawah kursi tempat Halimah duduk,
kedua tangan Halimah ia pegang erat. Sepasang mata bertemu, mata Halimah
begitu teduh.


"Sayang … Aku harus pergi."


"Pergi kemana?"


"Ada yang harus ku selesaikan, aku akan meminta ibumu dan kedua adikmu
menemanimu hingga aku kembali. Sum juga akan menemanimu …"


"Rhandra, penyakitmu."


"Aku tidak apa-apa, Halimah. Percayalah."


"Berjanjilah, untuk tidak menangis selama kepergianku." lanjut Rhandra.


Halimah menyentuh pipi Rhandra, dengan lembut ia mengelus pipinya. Rhandra
meraih tangannya, ia cium tangan Halimah.


"Kamu istirahat ya … kondisimu belum pulih."


Halimah mengangguk dan tersenyum tipis ke arahnya. Wajah Halimah masih
pucat, dokter pun memintanya untuk dirawat di rumah, hingga kondisinya
benar-benar pulih. Cedera di kepalanya, masih terasa sakit kadang pusing
melanda dan mendadak mual.


Rhandra bangkit, ia tersenyum pada istrinya dan mulai membopong Halimah.


"Rhandra aku bisa jalan sendiri, turunkan aku," ucap Halimah malu, saat
kedua adik juga ibunya tersipu malu melihat mereka.


"Halimah, aku pun masih sanggup menggendongmu," jawab Rhandra tersenyum lebar.


Semua mata tertuju pada Rhandra yang begitu tulus mengantarkan Halimah
menuju kamarnya di lantai dua, tak lama ia rebahkan tubuh istrinya.
"
Beristirahatlah aku tak akan lama."


"Sebentar, bisa bantu aku bukakan itu." pinta Halimah menunjuk pada laci nakas.


"Ada apa?"


"Aku meninggalkan gelangku beberapa waktu lalu di sana."


Rhandra tersenyum, ia membuka laci nakas. Gelang pemberiannya masih
tersimpan rapih disana. Rhandra mengambilnya. Gelang yang sempat ia
tinggalkan saat Haikal menjemputnya.


"Alhamdulillah …" Halimah tersenyum seraya memeluk gelang pemberian Rhandra.


"Kenapa kamu tidak memakainya?"


"Maaf, Rhandra … aku takut benda ini hilang, benda ini pasti sangat berarti
untukmu. Biarlah cincin kayu ini saja yang menempel di tubuhku."


Halimah selalu tau bagaimana cara membuat Rhandra
bahagia. Laki-laki itu tersenyum, dan memeluknya kembali. Gelang yang
sebenarnya kalung peninggalan Arkadewi yang dilingkarkan di lehernya saat
ia masih berusia 6 bulan. Kalung yang menjadi saksi akan keberadaannya
sebagai putra Abyakta. Kalung emas dengan rantai yang begitu tipis dan
lembut juga sebuah liontin berlambang tulisan Abyakta. Kalung yang ia
berikan pada Halimah beberapa waktu lalu, saat di Genilangit. Wanita itu
sengaja melingkarkan di lengannya.


"Istirahatlah," ucapnya lembut seraya mengusap pipi Halimah yang semakin tirus.


Rhandra masuk ke dalam kamar mandi, untuk bersiap dan berganti pakaian. Tak
lama laki-laki itu keluar, ia mengenakan kaos berwarna hitam, dengan jaket
coklat. Rambutnya rapih ia ikat kebelakang. Halimah terperangah, belakangan
ia sering menjumpai penampilan Rhandra yang lebih rapih dari sebelumnya.


Terlintas di bayangan Halimah saat ia pertama kali berjumpa dengannya,
pakaian lusuh, rambut panjang dan janggut yang memenuhi wajahnya. Kini
Rhandra berubah, wajahnya terlihat lebih bersih, pakaian yang ia kenakan
pun lebih rapih dan pas di tubuhnya. Rhandra begitu gagah, senyum di wajah
membuat laki-laki itu terlihat semakin tampan. Pelan ia menghampiri Halimah
yang tengah memperhatikannya.


"Kenapa kamu terus memperhatikanku?" tanya Rhandra lembut.


"Tidak, aku hanya …"


"Khawatir?"


Halimah mengangguk.


"Khawatir akan kematianku atau …"


Halimah memukul pada dadanya, ledekkannya sungguh tak lucu baginya. Pelan
Rhandra tertawa melihat rasa khawatir di wajahnya lalu memeluknya.


"Hanya kamu Halimah ... Aku berjanji hanya kamu, tunggu aku. Aku berangkat.
Istirahatlah."


Rhandra mengecupnya dan tak lama berlalu dari pandangannya.


Rhandra turun, ia menemui Dasinun. Dengan penuh hormat juga takdzim ia
meraih tangan Dasinun, dan menciumnya.


"Tolong jaga Halimah, selama saya tidak ada."


Dasinun tersenyum, Rhandra anak yang bertanggung jawab. Sorot matanya
menunjukkan rasa cinta yang teramat dalam untuk putrinya.
____


Rhandra dan Darmin baru saja tiba di Polsek Magetan. Sudah beberapa kali
Rhandra datang ke tempat ini, sejak penemuan jasad Arkadewi, Rhandra juga
pihak kepolisian saling membantu untuk memecahkan misteri yang belum terjawab.


Berkas laporannya masih tergantung, bukti atau pun saksi yang menyudutkan
Puspa belum ditemukan.


Dirjo, adalah kepala desa yang juga Ayah dari Ayu. Kini menjadi tersangka
dalam kasus pembunuhan berencana pada Haikal Mahardika, penembakkan yang
harusnya di arahkan padanya.


Rhandra meminta bertemu dengan Dirjo, laki-laki yang ia anggap mengetahui
akan semua masalahnya. Semakin lama semakin terbongkar, siapa dalang
dibalik pemberontakan yang terjadi 30 tahun lalu di kediamannya.


Polisi mengantarkannya pada ruangan yang akan menghubungkannya dengan
Dirjo. Sebuah meja dan hanya ada 4 kursi, satu orang polisi berjaga di
dalam lengkap dengan bareta di lingkar pinggangnya. Rhandra duduk diam, ia
edarkan pandangan pada ruangan sempit berukuran 2 x 3 meter.


Sebuah pintu yang berhadapan dengannya akan mengantarkan Dirjo padanya.
Rhandra yakin, laki-laki itu adalah saksi dari semua kejadian ini. Tak lama
ia datang, laki-laki yang sudah mengenakan seragam biru itu kedua tangannya
di borgol.


Satu orang polisi menggeretnya ke dalam. Rhandra diam, ia mengusap wajah
yang penuh emosi, rahang di wajah Rhandra terlihat jelas. Laki-laki itu
begitu emosi dengan laki-laki penyebab kematian Haikal yang seharusnya
menjadi kematian untuknya. Dirjo duduk, wajahnya pucat.
Laki-laki itu kini tertunduk di hadapan Rhandra, air matanya mengalir.
Pakaian tahanan menempel di tubuhnya. Rhandra duduk berhadapan, ia
perhatikan wajahnya. Bagaimana bisa dia meminta seseorang untuk membunuh
dirinya.


"Dirjo!" sapa Rhandra.


Dirjo diam, ia gugup.


"Apa yang kau inginkan, dariku?" lanjut Rhandra.


"Aku difitnah, ini fitnah!" jawabnya seraya meremat meja yang ada dihadapan
dengan tangan terborgol.


"Lihat mataku! LIHAT MATAKU!" rutuk Rhandra.


Mendadak tubuh Dirjo bergetar, suara Rhandra membuat nyalinya menjadi ciut.
Pelan ia memandang wajah Rhandra yang bengis, keringatnya bercucuran
bibirnya bergetar.


"Apa alasanmu ingin membunuhku? katakan …
Dirjo diam, ia menelan salivanya.


"KATAKAN!" teriak Rhandra seraya menggebrak meja di hadapannya.


"Bohong, aku tak ingin membunuhmu. Tugasku hanya mendatangkan massa tidak
lebih. Aku tak punya kuasa untuk melakukan pembunuhan." Dirjo berkata
menangis dan ketakutan.


"Mendatangkan massa?" tanya Rhandra heran.
Dirjo diam, tak lama ia menangis.


"Tolong maafkan aku, aku tidak bersalah!"


"Katakan dengan jelas, siapa yang memintamu untuk melakukan itu?"


Dirjo diam, ketakutan menyelimutinya. Bibirnya bergemetar.


"Anggoro! dia yang meminta saya untuk mengusir Halimah dari kampung itu,
Anggoro yang melakukannya Tapi saya tidak menyuruh seseorang membawa
senjata. Saya bersumpah!"


Rhandra semakin heran dengan semua yang terkait dengan pembunuhan Haikal.
Bagaimana mungkin orang tuanya sendiri yang menjadi penyebab kematian Haikal.


"Lalu kenapa, Penembak itu menyebut namamu?" dengus Rhandra.


Dirjo menggeleng, air matanya terus menangis. Ada Rahasia yang ia sembunyikan.


"Katakan!" rutuk Rhandra.


"Saya mohon maafkan saya, tolong maafkan saya. Saya menelepon mereka dan
memberi tahu Abyakta masih hidup!"


"Siapa yang memberi tahu, aku masih hidup? dan kepada siapa kamu laporkan?"


Dirjo menelan saliva berulang kali. Laki-laki itu mulai ketakutan, wajahnya
panik. Suara Rhandra begitu tebal, wajahnya tampak bengis. Rhandra mampu
menghabisi nyawanya dalam sesaat. Dirjo tahu, siapa Rhandra jika kekuasaan
jatuh kepadanya, Dirjo yakin laki-laki ini akan membalas semua perbuatannya.


"KATAKAN!" teriak Rhandra emosi, Dirjo semakin tersudut.


"Haikal kemarin mencari berkas di balai desa, ia mencari tahu tentang
keberadaanmu. Ia berbicara dengan saya, bahwa Halimah mengatakan kamu masih
hidup, Haikal terus mencari keberadaanmu,"


"Lalu?"


"Saya menelepon …"


Rhandra menunggu.


"Saya … menelepon Puspa, sudah lama Puspa mencarimu. Saya memberi tahu
keberadaanmu juga pernikahanmu dengan Halimah. Saya sangat yakin, wanita
itu pasti yang telah menyuruh dua orang itu untuk membunuhmu.Saya sangat
yakin, Rhandra saya mohon maaf. Sayalah yang menyulut amarah warga hingga
ibumu mati malam itu, sayalah yang memberi tahu warga 30 tahun lalu, bahwa
Virus HIV berasal dari keluargamu. Maafkan saya Rhandra, saya mohon …
tolong bebaskan saya. Ini fitnah …" jawab Dirjo, tangisannya semakin pecah
memikirkan keluarganya yang mungkin saja terancam bahaya akan pengakuannya.


Amarah Rhandra semakin memuncak padanya. Wajah Rhandra memerah, ia geram.
Konsipirasi jahat yang begitu sempurna ia lakukan. Ia ingin membunuh
Arkadewi juga Rhandra bukan menggunakan tangannya. Pintar, licik itulah
wanita bernama Puspa.


"Itu pasti fitnah mereka, saya tidak ada urusan denganmu. Kematian mu tidak
menguntungkan bagi saya, percayalah pada saya. Siapa saya Rhandra? saya
hanyalah seorang budak berseragam. Saya malu dengan diri saya sendiri,
seragam yang saya pakai hanya menjadikan saya sebagai budak mereka yang
berkuasa. Sudah lama saya takut masalah ini akan terungkap!"


Rhandra diam, emosinya sedikit mereda. Dirjo benar ia tak memiliki motif
apapun untuk membunuhnya, ia tak lebih hanya seorang jongos yang di suruh
oleh mereka yang berkuasa. Rhandra menarik nafas, ia bangkit.


Tak lama ia keluar, mendadak Anggoro memaksa masuk kedalam. Laki-laki itu
datang dengan penuh amarah di wajahnya.


"BRENGSEK! ia merengkuh pakaian Dirjo dan memukul wajahnya. Rhandra diam,
dua orang yang menyebabkan keluarganya hancur berantakan kini saling
berseteru. Polisi membantu memisahkan ke duanya.


"Aku hanya menyuruhmu, mengusir gadis itu!!! kenapa kamu membunuh anakku!"
Polisi menahan tubuh Anggoro, ia mulai bertindak di luar kendali.


Tak lama Anggoro rapuh, ia diam. Dirjo terus menyangkal akan penembakkan
itu. Rhandra mendekati Anggoro yang rapuh sesaat menghantam pukulan keras
pada Dirjo, polisi membawa Dirjo masuk ke dalam.


"Jika ingin tahu, siapa yang berusaha membunuh Haikal. Tetaplah disini!"
pintanya pada Anggoro. Rhandra ingin membalas Puspa, ia ingin Anggoro
melaporkannya atas pembunuhan berencana yang menimpa pada anaknya. Jika
Puspa bisa membuat sebuah konspirasi hebat, akan pembunuhan ibunya. Ia pun
sanggup melakukannya.


Rhandra kembali menuju ke kepala polisi. Ia meminta untuk bertemu dengan
pelaku penembakan yang mengakibatkan hilangnya nyawa Haikal. Kepala Polisi
menyetujuinya, menurutnya laki-laki itu tetap yakin, bahwa Dirjo pelakunya.
Demi berjalannya penyelidikan, Polisi mengizinkan Rhandra untuk menemuinya.


Rhandra bersama Anggoro kembali ke ruangan yang sama. Anggoro hanya diam,
duduk di samping Rhandra. Penyesalan di wajah Anggoro begitu nyata,
berulang kali ia mengepal jemarinya, sorot matanya begitu tajam.


Salah seorang laki-laki di antara mereka datang, wajahnya begitu culas.
Laki-laki itu pula yang ia dengar telah menghantamkan pukulan keras ke arah
Halimah. Ia duduk di hadapan Rhandra dengan kondisi tangan terborgol.
Rhandra mendengakkan kepalanya, rasanya tak sabar menghabisi nyawanya.


"Siapa yang menyuruhmu, membunuhnya?" tanya Rhandra geram


"Dirjo!" Anggoro murka, ia semakin percaya Dirjo yang memintanya.


"Kamu yakin?!"


"Hee … Harusnya kamu yang mati, tapi laki-laki bodoh itu justru datang
melindungimu!"


Rhandra mulai jengkel dengan sikapnya. Anggoro menatap pada wajah Rhandra.
Ia pun merasa bersalah atas apa yang telah ia buat dulu pada Ayahnya.
Rhandra pantas hidup, kematian Haikal adalah balasan Tuhan pada Anggoro
akibat dosa besar yang pernah ia lakukan pada Abyakta dan keluarganya.
Anggoro diam, 'jika Rhandra yang ingin dibunuh, sudah bisa dipastikan …'
telisik Anggoro dalam pikirannya.


"Apa kau yang menampar wajah istriku?" tanya Rhandra. Pertanyaan aneh yang
membuat laki-laki di hadapannya tertawa.


"Pertanyaan apa itu, bodoh!" laki-laki itu semakin tertawa.


"KATAKAN!"


"YA!" jawabnya melotot. "Wanita bodoh itu, terus berusaha melindungi
laki-laki sepertimu, ia pantas menerimanya!"
Rhandra mulai menahan emosinya, polisi yang berjaga di ruangan membuatnya
menahan emosi untuk memukulnya. Tak lama Rhandra mengambil, jarum suntik
dalam tubuhnya.


"Apa yang kamu lakukan?"tanya laki-lak berseragam tahanan.


"Ini?"


"Mengambil sedikit darahku! … "Ehh …" Rhandra menyuntikkan jarum
kelengannya. lalu mengelap bagian ujung jarum suntik miliknya.


"Kamu tau aku sakit apa?"


Laki-laki dihadapannya menggeleng.


"HIV!"


Laki-laki di hadapan Rhandra mulai ketakutan dengan sikap Rhandra. Tak lama
Rhandra menangkap tangannya yang terborgol di arah depan.


"Lepaskan saya bodoh!" pintanya.


"Kamu tau, saya bisa menyuntikkan darah ini padamu. Darah yang akan membuat
dirimu, hidup juga keluargamu hancur. Virus ini akan mendarah daging hingga
perlahan kamu akan mati!" Dengus Rhandra pelan, ditelinganya.


"Katakan, siapa yang menyuruhmu menembakku?"


Tangan Rhandra begitu kuat, laki-laki itu tak bisa melawan. Ia mulai
ketakutan, jarum itu sudah mulai menempel di kulit.


"Katakan!"


Laki-laki itu masih bergeming,


Cuih! laki-laki itu meludah ke wajah Rhandra. Rhandra semakin geram, ia
mulai menekan jarum suntik di lengannya.


"Le … lepaskan!" jawabnya mulai ketakutan.


"JAWAB!" rutuk Rhandra, suntikan itu hampir menusuk.


"HARSA!" jawabnya ketakutan … "Harsa yang menyuruh kami!"


Cengkraman Rhandra terlepas, laki-laki itu ketakutan.
Anggoro mendengar jawaban laki-laki yang sedang berbicara dengan Rhandra.
Anggoro shock dan kaget, ia murka. Anak laki-laki satu-satunya meninggal
akibat Harsa Abyakta.
Rhandra berdiri, ia mendekat ke arah laki-laki di hadapannya.


"Berkatalah yang jujur di persidangan nanti, jika tidak keluargamu akan
habis ku suntikkan darahku!"


Laki-laki itu diam, wajahnya bengis menatap Rhandra.


"BUG!" Rhandra menendang tubuh juga menghantam wajahnya. Tubuh laki-laki
itu terpental, darah keluar dari hidungnya.


Polisi yang dibelakangnya seketika berdiri dan menahan ke dua tangan
Rhandra" Itu balasan pukulanmu untuk istriku!" teriak Rhandra, sorot
matanya begitu tajam.


"Orang seperti kalian, pantas mati! Bersyukurlah aku tidak
menyuntikkannya!" dengus Rhandra.


Misteri terungkap, semudah itu Rhandra menanyakan dan semudah itu juga ia
mendapat jawaban. Anggoro pun meminta pihak kepolisian, untuk segera
memproses dan menangkap Harsa, dalang dari penembakkan putranya. Berita
acara pemerikasaan pun dibuat. Kini Rhandra hanya tinggal menunggu berita
penangkapan Harsa, kakak tirinya.


Rhandra kembali, setidaknya bukan dia yang melaporkan Harsa kakak tirinya,
tapi orang lain. Allah berkuasa, Allah pun mampu membuka rahasia dari
segala misteri yang pernah terkubur. Satu-persatu orang yang menyakiti
Rhandra dan keluarganya dulu runtuh akibat perbuatannya sendiri.


____


PART 21


Rhandra kembali menuju Genilangit, rasa lega juga geram karena niat Harsa
yang ingin membunuhnya, membuat batinnya kesal, tangannya mengepal erat
pada kursi mobil. Rhandra menarik nafas.


"Pak … Berhenti!"


Darmin memberhentikan mobilnya.


"Obat saya, Pak!"


"Nggih Den."


Rhandra meminum obat sebelum ia bertemu Halimah, ia tak ingin wanita itu
melihat tubuhnya rapuh seperti beberapa hari lalu. Efek obat sebenarnya
yang membuat Rhandra lemah, kadang ia akan menjadi mual lalu muntah, kadang
berefek ke tubuhnya ruam atau bahkan tubuhnya yang lemas selalu
berubah-rubah tergantung kondisi tubuhnya.


Jika ia tidak meminum obat, CD4 dalam tubuhnya akan berkurang, dan membuat
tubuhnya menjadi lemah. Berbagai penyakit akan mudah menyerang tubuhnya.
HIV sendiri hanyalah menyerang sistem imun tubuh, dan yang membuat seorang
penderita HIV cepat meninggal adalah karena imun ditubuhnya sudah habis
hingga mudah terserang penyakit.


Hari sudah malam Genilangit begitu gelap, hanya cahaya lampu mobil yang
menerangi jalannya, Rhandra lemah, efek obat membuatnya muntah sepanjang
jalan. Rhandra tiba di Genilangit, tubuhnya lemah tak berdaya ia turun dari
mobil dan langsung naik menuju kamarnya. Dilihatnya, Halimah tertidur
pulas. Rhandra merebahkan tubuhnya, ia meringkuk. Mual masih ia rasakan.


Halimah terperangah, wanita yang kini sudah merasa lebih kuat membuka mata
dan melihat suaminya sedang meringkuk sakit di sebelahnya. Halimah
bergeser, ia memeluk tubuh Rhandra. Halimah tau, ia pasti baru meminum
obatnya. Rhandra sadar, keringat ditubuhnya mengucur deras. Ia memegang
tangan Halimah erat, keduanya kini saling berpelukan.


Embusan angin menerpa wajah mereka, begitu sejuknya hingga mengendurkan
semangat yang nyata. Rhandra dan Halimah terlelap. Pelan Halimah meraba
tangan Rhandra yang melingkar di perutnya, Rhandra tertidur begitu pulasnya.


"Aku ikhlas menjadi istrimu, nasibku hanya Dia yang tahu, tubuhku juga
ragaku tak akan datang kepadamu jika bukan atas kehendakNya, Aku ingin kamu
membagi denganku, membagi semua masalahmu, membagi semua rasa sakitmu, tak
peduli berapa lama Aku akan hidup denganmu di dunia, Aku hanya ingin
bernafas denganmu di surgaNya, karena hanya disanalah tempat abadi, tidak
ada sengsara, tangisan, sakit, luka …." gumam Halimah.


Rhandra terenyuh pelan ia membuka mata, ia diam mendengarkan Halimah. Ia
eratkan lingkaran tangannya, tubuh Halimah kini semakin dekat dipelukannya.
Keduanya berhadapan dengan panorama Genilangit yang begitu indah, langit
biru taburan bintang juga lengkungan rembulan yang memancarkan sinar
membentuk siluet-siluet indah di kamarnya semua berkumul menjadi satu
membentuk lukisan indah diatas langit. Embusan angin mengantarkan mereka
pada mimpi indah, mimpi yang hanya bisa didapatkan oleh jiwa yang tenang.


Malam itu langit menjadi saksi, rasa cinta Halimah pada Rhandra, begitu
tulus ia menerima keadaan Rhandra seutuhnya, laki-laki itu memeluknya erat
diranjang keduanya menghadap ke arah jendela. Halimah merasa lega, ia bisa
menjadi obat bagi rasa sakit juga kesedihan yang selama ini ia hadapi.


Halimah tak peduli atas apapun yang menimpa Rhandra, baginya ia tak bisa
hidup tanpa Rhandra, nafasnya sesak saat melihatnya menangis, ia tak bisa
tertawa sebelum Rhandra tertawa, Halimah hanyalah rusuk yang terbuat dari
tulangnya. Rhandra bukan makhluk berdosa, penyakit itu datang bukan karena
dosa-dosanya melainkan karena rahmat Allah untuknya.


"Terimakasih Halimah ...." bisik Rhandra di telinganya. Bulir air mata
menetes, laki-laki itu begitu terenyuh dengan cinta Halimah yang teramat
besar untuknya. Ingin rasanya bercerita pada Halimah, bahwa begitu banyak
masalah yang menimpanya, keluarga yang seharusnya menjadi pelindung
baginya, justru menginginkan kematiannya.


"Halimah ...."


"Hmm ...."


"Kamu merindukanku?"


Halimah mulai tersenyum, dan tertawa kecil.


"Kenapa kamu, sangat ingin kurindukan?"


"Karena hanya kamu yang selalu kurindukan Halimah.


"Sangat, Rhandra … Aku ingin terus bersamamu, memelukmu. Berpisah denganmu
hanya membuat rasa khawatirku menggila."


"khawatir akan penyakitku?"


"Hmm …"


"Aku tidak akan mati Halimah."


"Bagaimana urusanmu?"


Rhandra diam, ia menarik nafas. Hal yang sebenarnya tak di harapkan
terjadi. Hubungan dengan keluarga tirinya kini semakin memanas. Penembakan
yang ditujukan kepadanya adalah perbuatan Harsa, kakak tirinya yang
beberapa waktu lalu bertemu dengannya dan berpura-pura baik dengan Rhandra.


"Rhandra …"


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Sayang."


"Aku menunggumu, sejak tadi."


"Kamu menangis?"


"Hmm … tidak."


"Istirahatlah Rhandra, kamu pasti lelah."


"Aku tak ingin tidur, seharian ini aku pergi meninggalkanmu. Matahari
sebentar lagi datang, aku takut melewatkan hari, tanpa melakukan apapun
denganmu."


Halimah terenyuh. Kata-kata Rhandra begitu romantis, hingga menyentuh
relung hatinya.


"Apa kamu mau mendengar sebuah cerita?"


"Katakan Halimah ... ceritakan … hibur aku ...."


"Ini adalah kisah yang sering ku ceritakan pada murid-muridku ... tidak
apa-apa?"


"Ceritakan Halimah, aku ingin mendengarnya ...."


"Pernah mendengar kisah Ayub Alaisalam?"


"Belum, ceritakan Halimah."


"Dulu ada seorang nabi bernama Ayub. Ia adalah Nabi Allah yang memiliki
tingkat kesabaran yang paling tinggi dalam menghadapi cobaan dari Allah
swt." Suara Halimah begitu lembut terdengar.


"Cobaan apa Halimah?"


"Ia memiliki Harta namun hartanya yang banyak habis,ia memiliki anak namun
anak-anaknya meninggal dunia, Ia memiliki banyak ternak dan semua ternaknya
binasa, dan Nabi Ayyub 'alaihis salam sendiri menderita penyakit yang
sangat berat, tidak ada satu pun dari anggota badannya yang sakit, hanya
hati juga lisannya yang berfungsi. Nabi Ayub tetap sabar menjalani ujiannya."


Rhandra diam, mendengar kata penyakit. Halimah seperti sedang menyerang ruh
nya dengan nasihat, ia membuka hati untuk mendengarkan cerita Halimah.
Halimah menarik nafas. Cerita yang ia ingin sampaikan pun sepertinya persis
dengan yang ia dan suaminya alami. Perlahan cerita itu menusuk relung hati
Halimah, di pundaknya Halimah menangis.


"Teruskan Halimah …"


Halimah diam, ia mencoba menata hatinya. Halimah menelan salivanya.


"Dalam menghadapi musibah itu, ia tetap bersabar, Ayub hanya mengharapkan
pahala dari Allah. Ia berdzikir di malam dan siang, pagi dan petang.
Meskipun sakit ia tetap kuat dan yakin, bahwa ini ujian dari Allah dan
pasti Allah akan meringankannya juga menyembuhkannya kelak."


"Lanjutkan, sayaang," tanya Rhandra semakin penasaran. Laki-laki itu
penasaran apakah Allah akan memberikan Ayub kesembuhan.


"Hari pun berlalu, namun penderitaan Ayyub semakin berat, dan saat
penderitaan yang dialaminya semakin berat, maka kerabatnya menjauhinya,
demikian pula kawan-kawannya, juga …" Halimah menarik nafas panjang.


"Apa kamu akan meninggalkan ku, Halimah?" tanya Rhandra yang mulai
menitikkan air mata.


"Percayalah, tidak suamiku. Aku akan setia bersamamu. Hingga ajal menjemputku."


Rhandra berbalik, ia rengkuh kedua tangan istrinya. Halimah mulai menangis
tersedu-sedu.


"Halimah, aku harus berkata apa lagi padamu. Kenapa dirimu begitu
mencintaiku, apa yang telah kuperbuat hingga kamu begitu mencintaiku?"


Halimah menggeleng, "Cinta ini bukan datang darimu Rhandra, cinta itu Allah
berikan untukku. Allah ingin aku terus menjagamu, Allah ingin aku terus
menemanimu …" ucapnya lembut, Rhandra mulai terenyuh.


"Rhandra … apa kamu percaya dengan kisah, yang ku ceritakan tadi?"


Rhandra mengangguk.


"Teruskan, sayang … aku mohon."


"Istrinya Ayub yang bernama Sayyidah Rahmah begitu setia Rhandra. Wanita
itu rela bekerja menggantikan posisi suaminya, ia pernah bekerja di tukang
roti. Namun ia diusir karena mereka tahu, ia adalah istri Ayub. Penyakitnya
bisa menular ke siapa saja. Sayyidah tak berhenti, ia terus mencari akal
agar ia dan suaminya bisa makan, wanita itu sampai menjual rambutnya ke
pasar hanya untuk mendapatkan makanan …" Halimah menarik nafas, ia mulai
masuk merasakan apa yang kini di alami Sayyidah Rahmah, cobaan Halimah tak
terlalu berat tak seperti Sayyidah, Halimah yakin ia bisa melaluinya.


"Katakan, apa istrinya meninggalkannya?"


"Tidak, Rhandra … tidak. Sayyidah begitu kesal dengan suaminya, ia sangat
tahu. Jika suaminya mau ia pun bisa meminta kesembuhan pada Allah, dan
Allah akan segera mengangkat penyakitnya. Bahkan malaikat jibril pun terus
memaksanya untuk meminta pertolongan pada Allah."


"Kenapa Ayub begitu keras kepala Halimah?"


"Ayub begitu malu pada Allah, Rhandra … 80 tahun ia menikmati kekayaan,
kebahagiaan bersama keluarganya dan saat ia merasakan sakit yang baru
dideritanya selama 18 tahun lalu ia mengeluh, ia tetap bersabar. Laki-laki
itu ingin membuktikkan pada Allah ia sabar dengan cobaan yang Allah
berikan. Hingga suatu ketika, penyakitnya sudah sampai pangkal lidahnya,
barulah ia meminta kesembuhan."


"Lalu, apa yang terjadi ? apa ia meninggal?"


" Tidak … Nabi Ayub tetap ingat dan patuh kepada Allah. Dia selalu rajin
berdoa meminta kesembuhan dan ketabahan menerima segala ujian hidup. Setiap
kali akan salat, dia mencabut puluhan belatung yang menempel di lukanya.
Meski begitu, Nabi Ayub tak pernah membunuh belatung-belatung itu. Karena
pantang baginya membunuh sesama makhluk ciptaan Allah."


"Bagaimana dia bisa bertahan?"


"Dengan Doa Rhandra, dengan doa juga ketaatannya."


Rhandra diam. Sudah lama ia mempersalahkan Tuhan akan penyakit yang
menimpanya. Mendengar cerita Halimah, hatinya tersentuh.


Parau suara Halimah, namun ia tetap melanjutkan agar suaminya termotivasi
akan ceritanya.


"Apa ia sembuh?


"Ya … Allah begitu mencintai Ayub Alaissalam. Laki-laki itu menunjukkan
pada Allah bahwa ia sanggup menerima cobaan yang baginya itu tak sebanding
dengan nikmat yang telah Allah berikan padanya dulu. Allah menyembuhkannya
dalam sesaat, Allah memintanya untuk menghentakkan kakinya ke atas air.
Seketika penyakit kusta yang menyerangnya sembuh, belatung-belatung pergi
dan mati. Ayub sembuh … dia sembuh Rhandra, atas seizin Allah dia sembuh!"
ucap Halimah begitu bersemangat.


"Rhandra …"


"Hmm …."


"Tau kah … keadaan kita tak berbeda dengannya sekarang? aku ingin menjadi
istrimu seperti istri Sayyidah Rahmah yang selalu setia menemani suaminya,
aku ingin menjadi istrimu hingga Allah mencabut semua cobaan dan
penyakitmu. Aku ingin menjadi istrimu hingga Allah …"


"Hingga apa?"


"Hingga ia memberikan takdir baik untukmu." Halimah terisak.
Rhandra terenyuh, laki-laki itu mulai meneteskan air mata.


"Apa yang harus kulakukan Halimah? katakan?"


"Ayub tak akan sembuh jika bukan karena ketaatannya, Rhandra …"


"Rhandra ...." Halimah merengkuh wajah Rhandra, kedua matanya menatap mata
Rhandra yang sudah basah karena air mata.


"Hanya Tuhan lah, satu-satunya alasan kamu hidup, dan hanya Tuhan lah
satu-satunya alasan Aku bisa bersamamu, dan Hanya Tuhan lah, satu-satunya
Dzat maha penyembuh. Aku yakin kita bisa melewati ini, Aku yakin suatu saat
kita bisa berjalan bersama, memiliki anak-anak yang lucu, hingga kelak kita
sampai di surga ...." lanjut Halimah meyakinkannya.


Air mata itu menetes, perkataan Halimah sangat menyentuh relung hatinya.


"Katakan? Apa kamu mau hidup denganku selamanya?"


Rhandra mengangguk. Laki-laki itu semakin rapuh akan cinta Halimah padanya.


"Hanya surga tempat abadi Rhandra ... tak ada sakit disana, tak ada luka,
tangisan ... semua hanya kebahagian. Maukah ke Surga bersamaku?" tanya
Halimah, ia sudah tak sanggup menahan suaranya yang sudah parau.


Rhandra mengangguk.."Mau ... Mau …." Ia memeluk istrinya dengan erat.
Tangisan mereka berdua pecah.


Maha benar Allah atas segala firmannya,
"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga)
kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab
sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang
banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka
sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli
'Imrân/3 : 186]"


Alam menjadi saksi atas ketaatan Halimah pada Tuhan juga rasa takdzim pada
Suaminya. Alam pun menjadi saksi seorang Rhandra Abyakta yang dulu membenci
dan menafikkan Tuhan. Kini tertunduk lemah tak berdaya, mengakui setiap
kebesaran, mengakui setiap keindahan, ia sengaja di buat hidup oleh Tuhan
hanya untuk mengisi kebahagiaan Halimah, dan begitu pun Halimah ia di
lahirkan didunia hanya untuk bisa menjaga suaminya. Penyakit yang diderita
Rhandra hanya lah sebuah cobaan yang sama seperti yang Ayub derita. Rhandra
rapuh, ia lemah tak berdaya. Hidayah datang bukan karena Halimah, melainkan
turun langsung dari Ars Allah.


*TAMMAT*๐Ÿ˜›๐Ÿ˜›๐Ÿ˜›




Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:

Posting Komentar