#MENIKAH_DENGAN_SETAN
#PART_18_DUKA_MENDALAM
______
Rhandra terperangah, suara gemuruh di pekarangan rumah Halimah semakin
nyaring terdengar, ia edarkan pandangan istrinya tak ada disampingnya,
jendela tertutup begitupun pintu.
"BUNUH DIA!"
Rhandra bangkit suara itu membangunkannya, Ia berjalan, kondisinya lebih
baik dari sebelumnya. Obat ARV cukup meningkatkan jumlah CD4 dalam
tubuhnya, kondisinya mendadak lebih baik saat mendengar suara-suara gemuruh
dan teriakan Dasinun. Ia keluar dan menunjukkan wajah bengisnya.
Dilihatnya mereka sedang berkumpul diluar menghakimi Halimah juga keluarganya.
Haikal tiba, laki-laki itu langsung melewati penuhnya massa yang
mengerumini kediaman Halimah.
"BER …!" Teriakan Haikal terputus.
"BERHENTI…!" Teriak Rhandra sekuat tenaga, warga terperangah seorang
laki-laki baru saja keluar dari rumah Halimah. Laki-laki itu mengenakan
kemeja gombrong warna hitam. Tubuhnya tegap, rambutnya panjang sebahu tak
karuan, sorot matanya begitu tajam , ia melangkah ke arah Halimah dan
melindungi tubuh Halimah dengan tubuhnya.
Rhandra menoleh. Matanya melotot dan kemerahan, wajahnya bengis.
"Rhandraa .…"
Rhandra menghajar semua orang yang baru saja menyakiti Halimah dan
keluarganya dengan pukulan telak. Laki-laki itu mencoba untuk kuat, Ia
gunakan kayu untuk memukul siapapun yang merusak juga menyakiti keluarga
Halimah.
"HAAA! Habis kalian!" Rhandra murka, tua muda, laki perempuan ia tak
peduli. Mereka yang melempar mereka yang berusaha menyakiti, terkena
lemparan kayu juga pukulan telak dari Rhandra.
"Rhandra … kamu tak boleh terluka," ucap Halimah pelan suaranya hampir tak
terdengar, Halimah menyaksikan bagaimana Rhandra menghabisi mereka dengan
pukulan telak darinya, ia sanggup melawan tiga orang sekaligus dengan
tangannya. Tangannya terluka.
"Rhandra … Aku mohon." Halimah lemas. Bongkahan batu sempat melukai kepala
Halimah. Halimah oleng dan tak sadarkan diri.
Melihat amarahnya mereka lari ketakutan.
"HAAAAA!" Ia menghunuskan kayu pada warga. Matanya melotot berwarna merah,
wajah bengisnya terlihat cukup jelas, rambut yang tak karuan membuat
wajahnya terlihat lebih menakutkan. Mereka mundur, amarahnya menciutkan
hati mereka.
"Brengsek kalian, satu lemparan lagi habis kalian!" rutuknya.
Semua wajah tertuju padanya, laki-laki itu bagai singa kehausan, sorot
matanya tajam memandangi orang-orang yang merasa dirinya paling mulia
disisi Tuhan. Takut dan gemetar mengusai jantung juga hati yang melihatnya.
"SAYA RHANDRA ABYAKTA! dan saya masih hidup, apa yang kalian lakukan
terhadap Istri saya hari ini, akan saya perhitungkan!"
Semua orang tercengang mendengarnya. Rhandra Abyakta yang setahu mereka
hanyalah sesosok Ruh yang menikah dengan Halimah, kini benar nyata. Suara
suara cibiran rutukan akan Rhandra mulai berdatangan, HIV mulai terangkat
di permukaan.
Rhandra mendekati Halimah juga keluarganya yang sudah kepayahan dan tak
sadarkan diri. Pakaian yang Halimah kenakan sudah kotor karena tanah,
hijabnya terlepas tak jauh dari tempat ia berbaring Rhandra mengambilnya
dan menutupi rambut istrinya, ada luka di leher, di dahi juga bibirnya. Ia
mengusap setiap luka di wajahnya, darah di bibir Halimah ia usap dengan ibu
jarinya.
"Maafkan aku Halimah!" bisiknya seraya memeluknya erat. Keningnya ia cium.
" Halimah bangun, aku mohon! … "Bangun sayang, aku mohon!"
Hati Haikal terenyuh seketika, dua insan dihadapannya sudah tak bisa
dipisahkan. Namun cintanya pada Halimah tulus, tak mudah bagi Haikal
melupakannya. Rhandra memeluk erat tubuh Halimah yang lemah, sorot mata
dendam, cinta semua bercampur menjadi satu.
Haikal menunduk, air mata itu menetes. Hatinya perih bagai terhunus pedang.
Ia tak bisa melindungi wanita yang ia cintai, Haikal mengusap pipinya.
Putra Anggoro terperangah, dua orang asing nampak di hadapannya, mereka
bukan warga Desa, Haikal tau itu. Pikirannya terlintas akan seseorang yang
menjadi jongos ibunya untuk menyakiti Halimah dan keluarganya. Ia teliti
mereka, dari atas hingga bawah.
Tubuh mereka kekar seperti tentara, rambut plontos dan wajah yang bengis.
Keduanya memakai Jaket warna hitam, dan di sabuknya … "Senjata!" seru
Haikal, "Apa yang akan mereka lakukan?" tanyanya.
Haikal keluar dari kerumunan berusaha mendekati mereka. Tak lama salah
seorang dari mereka menggagar ke sabuknya, pistol itu diarahkan .
"HALIMAH!" teriaknya.
"DOR!"
Semua orang terkejut dan berhamburan. Tubuh Rhandra lemas seketika, darah
itu berceceran. Haikal laki-laki itu telah menyelamatkan Rhandra juga
Halimah, ia masih berdiri peluru itu tembus di perutnya, seketika tubuhnya
lemas, keringat dan air mata mengucur, laki-laki itu roboh. Beberapa orang
berteriak memanggil-manggil namanya, beberapa lainnya mengejar pelaku
penembakan. Rhandra terpaku, tubuh laki-laki itu kini berada persis di
belakangnya.
"Haikal!" Rhandra memindahkan tubuh Halimah ke pangkuan Dasinun lalu
menahan kucuran darah yang keluar dari tubuh Haikal.
"Pergilah … Pergi … selamatkan dirimu dan Halimah." Air mata Haikal
meleleh, Haikal terlihat kesakitan, wajahnya pucat ia terus menerus menahan
derasnya darah yang keluar dari perutnya.
"DEN!" Suara teriakan Darmin terdengar, laki-laki paruh baya itu mengajak
beberapa polisi bersamanya.
"BERHENTI!" "DORR!" Polisi berhasil melumpuhkan, pelaku yang baru saja
menembak Haikal.
Polisi segera membawa Haikal menuju Rumah Sakit menggunakan mobil yang
mereka bawa, didampingi Dwi.
Rhandra bangkit dan membopong istrinya, Halimah lemah tak berdaya, hijab
yang Rhandra tempel tak mampu menutupi semua rambutnya, lebam ada di kepala
Halimah.
"Darmin, kita ke Rumah sakit!"
Mereka naik. Dasinun duduk di posisi depan memangku Sur. dan Rhandra
memangku tubuh Halimah yang terbaring. Rhandra memandangi wajah Halimah,
ada darah di kepala nya, luka di sekujur tubuh, dahi, tangan dan telapak
kaki. Istrinya pasti menunggu kedatangannya.
"Bodoh! Halimah, kenapa kamu tak bangunkan aku. DARMIN CEPAT!"
Rhandra merengkuh pundak Halimah, ia mencium kening istrinya. Air mata
mengalir mengirinya.
Dasinun melihat anak laki-laki di belakangnya menangis, ia menangisi
keadaan putrinya. Lega, namun khawatir menyambangi pikiran juga hati Dasinun.
Mobil yang dikendarai Darmin, begitu pun Mobil polisi yang membawa Haikal
melaju dengan cepat beriringan. Tak jauh dari pandangannya, plank Rumah
sakit sudah terlihat. Rumah sakit wisma langit, Rumah sakit di daerah
Poncol Magetan.
Mobil itu kini berada persis di muka UGD, buru-buru Rhandra mengeluarkan
Halimah dari mobilnya, laki-laki jangkung itu membopong Halimah di tangannya.
Perawat berlarian memberikan bantuan, tak lama tubuh Halimah ia rebahkan di
atas ranjang pasien. Dokter dan ketiga asistantnya datang.
Mobil polisi datang, hati Rhandra tergerak akan kebaikan Haikal, Rhandra
meninggalkan Halimah sejenak dan membantu Haikal. Rhandra membantu polisi
lainnya membawa Haikal ke dalam.
"Keluar!" perintah mereka, pada yang tak berkepentingan. Mereka merobek
pakaiannya, nafas Haikal diperiksa juga aliran darah, tak lama mereka
memberikan bantalan pada luka tembaknya dan membalutnya dengan perban. Tim
medis berlarian, tampaknya operasi kecil akan mereka lakukan, semua
peralatan lengkap mereka ambil.
Rhandra mendekat, laki-laki itu masih setengah sadar, nafasnya pendek,
wajahnya pucat. Tangan nya Rhandra gapai
"Terimakasih!" ucapnya pada laki-laki yang telah menyelamatkannya.
"Aku menyelamatkan Halimah … Jaga dia!"
rintih Haikal, suara terdengar jelas namun pelan, nafasnya
tersengal-sengal. Tiada penyesalan di wajahnya, ucapannya membuktikan
besarnya cinta Haikal pada istrinya. Sorot matanya tulus, air mata itu
mengalir. Tak lama Haikal menarik nafas panjang, di mulutnya terucap
kalimat Tauhid, Haikal tak sadarkan diri
"DOKTER! CPR!" teriak Rhandra.
Rhandra mundur, Dokter mengejut jantungnya dengan CPR, AED pun dikeluarkan,
alat kejut jantung itu berusaha mengembalikan denyut jantungnya. Dokter
menyerah, darah yang keluar terlalu banyak, dan besar kemungkinan peluru
menghancurkan salah satu organ dalamnya.
Rhandra melihat Haikal mengembuskan nafas terakhirnya.
Laki-laki itu diam terpaku melihat Dokter menutup wajah Haikal dengan kain,
Halimah sangat berarti bagi hidup Haikal, 'jaga dia' lagi-lagi perkataannya
mengusik hati Rhandra. Rhandra menyesal, sebagai suami ia justru
membiarkan laki-laki lain yang melindungi Halimah.
Selama ini Haikal cukup membantunya untuk menjaga Halimah, kehadiran Haikal
sejujurnya tak pernah mengusik hati Rhandra, ia tahu betapa besar cinta
Haikal untuk istrinya, ia pun justru ingin Halimah bisa bersanding
dengannya karena bersamanya Halimah akan menderita. Namun hari ini nasib
itu berbalik, Rhandra teringat perkataan Halimah,
"... berapa harga nyawamu? 1 hari? 1 minggu? 1 bulan? 1 tahun? 10 tahun …
katakan? setiap manusia punya harga akan kematiannya, kamu tidak bisa
menakarnya. Kamu tak perlu khawatir Rhandra, aku tak akan bunuh diri. Biar
Allah yang menjemputku dengan tanganNya."
Puluhan tahun Rhandra menderita HIV, namun hingga saat ini ajal belum
menjemputnya dan kini laki-laki yang justru ia harapkan bisa melindungi
istrinya pergi lebih dulu.
#BERSAMBUNG
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar