#menikahdengansetan
Part 16...
----
Halimah tak menyesali perkataannya, hatinya lelah. Jika Rhandra tak ingin
ia mendampingi hidupnya di dunia, biarlah ia menunggu hingga mati , agar
Halimah bisa menemani Rhandra di Surga, tempat yang abadi, kekal, tak ada
sakit ataupun luka. Halimah, wanita itu berjalan lemah, tubuh bagai di
lolosi tulang belulang yang remuk.
Wanita itu begitu mencintai suaminya, melihat penolakan, sorot mata yang
tajam, suara yang menggelegar membuat hatinya rapuh. Sesampai di rumah,
Halimah tak bicara banyak pada Dasinun, ia memilih untuk diam. Wanita itu
menjalani hari-harinya dengan sorot mata kosong tak ada arti. Ia membantu
Dasinun, dengan kondisi yang ia paksakan. Tubuhnya lemah, kepala nya sakit.
Ia biarkan tubuhnya habis di makan lelah atau sakit.
Sementara jauh di sana. Laki-laki bernama Haikal pun menyesali atas
kepergian Halimah dari Surau. Ia tak bisa berbuat banyak, usahanya untuk
membuatnya tetap di yayasan tak berhasil. Halimah sendiri yang meminta
untuk mundur.
Kebahagiaan di wajah Halimah tak dapat ia raih, laki-laki itu kini merasa
semakin jauh dengan Halimah. Wajah sinis halimah masih terbayang dipikiran.
Haikal semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Halimah. Laki-laki
itu untuk kedua kalinya mencari jejak akan Rhandra Abyakta. Ia semakin
yakin, bahwa laki-laki yang diceritakan Halimah adalah nyata.
Siang itu Haikal pergi menuju Gedong tua, ia lihat makam Rhandra, juga
beberapa makam lainnya disana. Kenapa Ayah Haikal begitu yakin, bahwa
Rhandra telah meninggal, dan ia begitu yakin anak yang ia rengkuh adalah
Rhandra. Haikal edarkan pandangan ke setiap sudut makam, ia melihat setiap
nama yang tertera di setiap makam. Disebelah Makam Rhandra persis, makam
Arkadewi ibunya, dan diantara mereka tertulis beberapa nama desa yang
dijadikan satu dalam sebuah makam besar.
Ia semakin penasaran, Haikal masuk ke dalam Gedong tua, ia langsung naik ke
lantai tiga, ia tahu hanya ruangan ini yang hidup saat terakhir ia datang.
Ia bongkar ranjang, setiap nakas ia buka, ia buka lemari, meja kerja
Rhandra tak luput ia periksa. Haikal melangkah, sebuah keramik kosong
terasa di ujung kakinya. Haikal menunduk, ia ketuk keramik yang berada
persis dibawah kakinya. Haikal membukanya, ia terperangah beberapa kertas
tertinggal disana. Sebuah hasil pemeriksaan hasil tes darah terlihat
disana, bertuliskan nama Rhandra Abyakta usia 31 tahun dan positif HIV.
Haikal ambruk, benar Halimah. Laki-laki itu belum meninggal, Haikal murka
bagaimana laki-laki yang jelas terinfeksi HIV itu tega menikahi Halimah.
Laki-laki itu menarik nafas, ia memikirkan nasib Halimah kedepannya. Namun
akalnya tak sanggup, ajaran agama melarang untuk seseorang mendekati istri
orang lain, berharap saja pun tak boleh.
Haikal pulang dengan perasaan tak menentu, cinta dan kesedihan Halimah
seperti berada di pelupuk matanya. Wajah Halimah selalu terlintas di
pikiran, mengetahui kabar bahwa Halimah sudah dinikahi Rhandra, hati Haikal
hancur. Jika memang Halimah resmi menikah dengan Rhandra, sudah semestinya
ia terkena efek penyakit yang sama. Namun sejak Haikal mendekati Halimah,
ia tak menemukan sedikit pun petunjuk yang mengarah kesana.
Haikal terjaga, ia tak pulang. Ia pergi menuju rumah Halimah, laki-laki itu
tak keluar dari mobilnya, ia hanya diam memperhatikan rumah Halimah, air
mata mengalir menangisi penyesalannya. Ia ingin melihat Halimah keluar dan
menyambut hati yang selalu terbuka untuknya.
Menjelang pagi, laki-laki itu belum beranjak dari tempatnya. Pikiran Haikal
terus membayangkan nasib wanita yang teramat ia cintai dan ia kagumi.
Penyesalan di hati begitu besar. Seandainya ia percaya pada Halimah, dan
tetap menikahinya mungkin Halimah tak akan semenderita ini. Bagaimana bisa
Halimah menikahi seseorang yang jelas-jelas memiliki virus hina pembunuh di
dalamnya, mengapa Allah memberikan cobaan itu untuknya. Haikal terus
memikirkan nasib hati juga nasib Halimah, ia ingin bertemu Rhandra dan
meluapkan emosi padanya.
Sementara itu cahaya bulan yang merekah masuk ke dalam kamar Rhandra
Abyakta menemaninya terjaga. Perkataan Halimah sangat menusuk hati. Wanita
itu sudah mulai pasrah dengan keadaan mereka, dengan hubungan mereka. Di
bawah sinar rembulan, laki-laki itu menatap bulan, sorot mata sinis,
'pergilah jika kamu mau' membuat nafasnya sesak. Mata sulit terpejam, hati
sulit berkompromi, Rhandra oleng memikirkan Halimah.
Tak lama pintu kamarnya terbuka, Darmin melihat Rhandra duduk diatas
ranjangnya, sejak pagi menurut Sum ia tak tidur, tak makan bahkan minum
obat. Tubuhnya sudah mulai drop, laki-laki di hadapan Darmin hancur. Wanita
yang menjadi harapan baginya, sudah mengikhkaskan kepergiannya.
"Den …."
Rhandra diam, bibirnya pucat, katup matanya gelap. Darmin menarik tubuhnya,
ia rebahkan tubuh Rhandra di dada. "Wanita itu … Dia sudah setuju ku
tinggalkan." ucapnya lemas. Rhandra berdehem, batuk dan terlihat roboh.
"Heh … Dia memintaku pergi!"
Ucapan halimah tadi siang begitu menghujam jantungnya. Tak ingin menyakiti
namun tak sanggup ditinggalkan itu lah Rhandra. Laki-laki itu rapu,
semangat hidupnya hilang. Laki-laki itu bangkit. Rhandra limbung. Sesekali
menarik nafas panjang, ia berjalan ke arah luar.
"Antarkan aku Darmin, aku ingin lihat dia untuk terakhir kali. Setelah ini,
biar aku nikmati sakit ini. Aku sudah muak dengan semua, Puspa, kematian
ibuku, aku tak peduli lagi."
Darmin menahan air matanya. 'Selamatkan ya Allah … semangat anak laki-laki
ini.' gumam Darmin dalam hati.
"Den …" sapa Sum, wanita itu begitu khawatir melihat kondisinya.
"Setidaknya makan dulu Den," pinta Sum memohon.
"Ayo Darmin!" Ia tak menghiraukan permintaan Sum, laki-laki itu terus
melanjutkan langkahnya.
Rhandra beranjak dari Rumahnya, Ia tahu Halimah sudah bangun sebelum
matahari terbit, malam ini pukul 3 malam Ia keluar dari rumahnya menuju
rumah Halimah. Sesampainya, Rhandra turun dan meminta Darmin untuk
menjemputnya. Laki-laki itu gundah, ia berharap suara hati Halimah bangun
untuk melihat ia di luar. Ia berjalan mondar-mandir di muka rumah Halimah.
Belum ada suara gemiricik air seperti biasanya. Sepi. Rhandra merebahkan
tubuhnya di sisi tembok belakang rumah Halimah.
Haikal terperangah, Seorang laki-laki bertubuh tegap dan jangkung keluar
dari mobil, ia mengenakan jaket tenun berrwarna hitam, rambutnya ia ikat
kebelakang terlihat sibuk di depan rumah Halimah.
Haikal keluar dari mobil, ia berjalan pelan menuju laki-laki yang kini
bersandar di balik tembok rumah Halimah. Kecurigaan Haikal, bahwa itu
adalah Rhandra sepertinya benar. Laki-laki itu terlihat lemah, katup di
matanya hitam, bibirnya pucat, ia bersandar seraya memejamkan mata.
"Rhandra!" Rhandra terperangah, pagi itu akhirnya ia bisa bertatap muka
dengan Haikal. Rhandra bergeming, ia bangkit dari tempat ia bersandar.
Sorot mata tajam ia arahkan ke Haikal.
"Kamu benar Rhandra kan?" tanya Haikal kembali, laki-laki itu maju
melangkah mendekat ke tubuh Rhandra.
Rhandra bergeming. Ia biarkan pertanyaan itu tergantung.
"Bugg! sebuah pukulan telak baru saja diarahkan ke wajah Rhandra.
"PENGECUT!" teriak Haikal.
Rhandra diam, ia mengusap luka di bibir akibat tampolan keras Haikal. Ia
bangkit dan menarik nafas.
"Kamu mau apa?" decik Rhandra.
"KENAPA KAMU MENIKAHI DIA! BRENGSEK!" tampolan kedua diarahkan lagi ke
wajah Rhandra. Rhandra tak menghindar, ia biarkan Haikal menghabisinya. Ia
biarkan pukulan itu sebagai penyesalan akan putusan Rhandra untuk menikahi
Halimah.
"PENYAKIT ITU! KATAKAN?! Apa sudah mengancam hidup Halimah?" Dengus Haikal,
Haikal menarik pakaian Rhandra.
Rhandra bergeming, "HAAA!" Teriak Haikal murka, seraya memberikan pukulan
telak ke tiga pada Rhandra. Rhandra tersungkur ke tanah, pukulan kali ini
begitu keras. Tubuh Rhandra yang lemah itu ambruk, Rhandra tak sanggup
membalas semua pukulan telak darinya. Ia biarkan laki-laki itu meluapkan
emosinya, ia sadar bahwa permintaan dia untuk menikahi Halimah didasari
dari sebuah dendam yang salah.
"Bunuh saya … dan nikahi dia!" rutuk Rhandra, wajahnya berdarah-darah
karena pukulannya.
"BRENGSEK!" Pukulan ke empat hendak dilayangkan.
"CUKUP!" suara Halimah terdengar. Pukulan itu berhenti didepan hidung
Rhandra. Wanita itu menyaksikan suaminya tersungkur ditanah, mulutnya
berdarah. Halimah berlari ketubuh Rhandra, wanita itu menangis, ia usap
darah di wajah Rhandra, nafas Halimah tersengal-sengal. Hati Halimah sakit.
Rhandra menatap mata Halimah, Rhandra payah, tubuhnya lemah, nafasnya
begitu pendek. Wajah Halimah memerah, ia murka akan perbuatan Haikal.
"Ha … Halimah." seru Haikal.
Halimah menoleh, sorot matanya tajam pada laki-laki yang dulu pernah
singgah dihatinya.
"HENTIKAN MAS! Berhentilah mengejar-ngejar aku, berhentilah perhatian
denganku, aku tidak pernah mencintaimu, berapa kali aku harus mengatakan
itu agar kamu percaya?" rutuk Halimah,
"Halimah dia …"
"Dia apa ?"
"Dia menderita …"
"Ya dia sakit aku tahu, Aku sangat mencintainya! Dia suamiku sekarang,
hidup matiku hanya untuknya, aku akan mati jika dia mati, aku akan hidup
selama dia bernafas. Dan kamu tak berhak memisahkan kami, karena kami sudah
sah dimataNya. kamu harusnya malu dengan gelar yang kamu sandang!"
Haikal diam, perkataan Halimah begitu telak memukul hatinya. Laki-laki itu
menangis, harapan di hati Haikal pupus. Dihadapannya ia melihat cinta yang
begitu besar dari seorang Halimah untuk Rhandra.
Halimah mengusap peluh di keringat Rhandra dan mengusap darah yang mengalir
di wajah Rhandra. Air mata itu mengiringi pelukan mereka.
"Aku mencintaimu Rhandra … Aku mohon berhentilah menghindar dariku … Aku
ingin bersamamu, aku ingin merawatmu, menghindar dariku hanya membuat aku
mati perlahan!" Halimah merengkuh kedua pipi Rhandra di tangan, sepasang
netra bertemu. Tangisan Halimah pecah, Rhandra terenyuh ia pun begitu
mencintai istrinya, ia menyerah ia membalas pelukan Halimah, diatas tanah
itu kini dua insan menyatu, alam bertasbih, alam bersujud pada sang Khalik
mengangungkan rasa syukur atas pertemuan dua kekasih yang halal di mataNya.
Haikal pergi, melihat mereka hanya membuat luka di hatinya bertambah parah.
Fajar menyingsing, Halimah memapah tubuh Rhandra yang lemah, sudah dua hari
laki-laki itu tak meminum obatnya. Ia tak sanggup menahan rindu yang begitu
dalam pada istrinya, sejak kepergian Halimah, laki-laki itu selalu
menyempatkan diri melihat Halimah dari jauh.
"Halimah … Dia?!" tanya Dasinun penasaran.
"Rhandra ….?" tanya Dasinun.
Putri Dasinun itu mengangguk, keringat di wajah mengucur deras. Pelan
Rhandra yang lemah itu menganggukkan kepalanya dihadapan Dasinun. Dasinun
menangis, bagaimana bisa keduanya saling mencintai begitu dalam.
"Masuklah …." Dasinun membantu Halimah, Rhandra lemah, katup matanya hitam
terlihat laki-laki itu menanggung sakit juga keresahan akan Halimah dua
hari ini.
Halimah merebahkan tubuh Rhandra di ranjang miliknya, laki-laki itu
langsung memejamkan mata, dan meringkuk, lelah di tubuh Rhandra seperti
sudah memuncak. Halimah bergegas, ia siapkan air hangat untuk suaminya, ia
buatkan bubur dengan sedikit sayuran yang tersisa di dapur. Semangat di
wajah Halimah kembali pulih. Dasinun melihat anaknya bangkit, nyawa Halimah
telah kembali.
"Ini Nak …." Sebuah handuk kecil diberikan Dasinun untuk Halimah, ia tahu
Halimah hendak mengelap tubuh suaminya.
"Terimakasih Bue …"
Halimah masuk ke kamar, Rhandra masih dengan posisinya yang sama. Halimah
memasukkan handuk ke bak berisi air hangat, ia peras. Perlahan ia buka tiap
kancing di baju Rhandra, Rhandra lemah … "Kamu mau apa?" tanyanya. Halimah
bergeming, ia terus fokus ingin membersihkan tubuh suaminya yang penuh
dengan tanah. Rhandra bangkit, ia turuti semua perintahnya, pupil mata
Rhandra mengikuti setiap gerak tubuh Halimah, Halimah mulai membuka pakaian
Rhandra.
Ruam ruam merah nampak di tubuhnya, Halimah tak peduli, ia meneruskan
mengelap tubuh suaminya. Wanita itu mengelap tubuh suaminya dengan penuh
haru, tanpa air mata, tanpa penyesalan, sorot mata kerinduan membuncah di
pelupuk matanya. Hati Rhandra hancur, ketegaran Halimah membuat semangatnya
kembali kepermukaan. Halimah bangkit, ia mengelap kaki Rhandra dengan penuh
rasa takdzim. Air mata itu tak sanggup ia tahan, setetes air jatuh, Halimah
menghapusnya, ia harus kuat agar Rhandra lebih kuat.
Halimah melanjutkan dengan mengambil handuk baru, ia sudah menyiapkan
alkohol dan air hangat terpisah, kini ia mengusap wajahnya yang penuh
dengan luka. Sorot mata Rhandra terus memandangi istrinya, Halimah terus
fokus ia tak ingin menatap sorot mata yang selalu membawa rindu untuknya,
setiap luka di wajah suaminya menimbulkan luka yang teramat dalam. Rambut
Rhandra yang tak beraturan ia usap, ia rapihkan. Rhandra diam, ia hanya
bisa menikmati bagaimana Halimah mencintainya.
Sesudahnya wanita itu bangkit, Ia ambil bubur didalam mangkuk yang masih
mengepulkan uap, bibirnya maju meniup-niup uap panas yang mengepul diatas
sendok, Halimah menyuapinya, Rhandra dengan senang hati membuka mulut.
Bubur habis di lahap, pelan Halimah mengusap bingkai di wajah Rhandra yang
basah karena bubur. Kedua mata itu bertemu, setelah sekian lama tak ada
sorot mata dendam, amarah, kebencian, luka, rindu, hanya ada cinta di
dalamnya. Halimah meraih tangan Rhandra, pupil mata Rhandra bergerak
mengikuti gerakannya. Ia cium tangan Rhandra dengan penuh cinta dan rasa
takdzim yang amat dalam.
Air mata Rhandra meleleh, akhirnya air mata itu keluar di hadapan Halimah.
Nafas Rhandra tersengal-sengal, dadanya sesak. Pagi itu ia menyadari akan
keagungan Allah, ia menyadari keadilan Allah sedang berpihak padanya. Ia
hadirkan Halimah disisinya, jika Allah mau bisa saja Haikal, laki-laki yang
begitu sempurna itu yang mengisi kehidupannya. Rhandra merengek, Halimah
meraih kepalanya, ia letakkan di dadanya.
"Terimakasih … Jangan tinggalkan aku Halimah …" Lidahnya begitu berat untuk
berucap, hanya Rhandra satu-satunya kekasih bagi Halimah, terlihat di sinar
matanya.
Halimah diam, ia tak sunggup berbicara. Mulutnya pun begitu berat untuk
terbuka. Mulut mereka beku, tak satu pun kata yang mampu mereka ucapkan,
sepasang netra kini bertemu dan saling bicara.
'Percayalah Halimah, kini dirimu lah yang selalu bertahta di hatiku, aku
akan selalu mengiringi setiap langkahmu, kau lah cinta dalam hidup ku
Halimah … untuk sisa usiaku' lanjut Rhandra dalam hatinya.
'Percayalah … hanya diriku yang paling mengerti kegelisahan dirimu Rhandra,
yakinlah hanya aku yang paling memahami bagaimana kecewanya hatimu' sahut
Halimah dalam hatinya.
Hari itu adalah hari terindah bagi Halimah juga bagi Rhandra setelah sekian
lama pedih mendera hati mereka. Keduanya terlelap, mereka saling
berhadapan, tangan Rhandra melingkar di perut Halimah, begitupun Halimah
yang berpangku pada lengannya, kedua hidung saling bertemu. Rhandra lelah
sejak pertemuan dirumahnya, saat ia melihat Halimah meronta-ronta memanggil
namanya, Rhandra selalu terjaga ia tak bisa tidur, pikiran dan hati selalu
berperang. Laki-laki itu tidak tidur selama 36 jam, perih, lelah, ia
rasakan dan pagi ini terbayar sudah semua peluh. Rhandra dan Halimah hanya
ingin mencinta, ingin berbagi, ingin menangis, ingin tertawa, satu sama
lain tanpa ada penghalang diantaranya.
Berpisah dengannya telah membuat Rhandra mengerti, betapa indah dan bahagia
hatinya saat bersama Halimah. Halimah adalah cinta dalam hidupnya,
kehilangan yang ia dera selama ini menghunus jantungnya. Perih, sakit namun
tak berdarah.
Jika malam adalah Rhandra maka bulan adalah Halimah yang meneranginya.
Sinar nya mampu menyalakan semangat yang mulai pudar, cahayanya mampu
menyalakan hati yang sudah mati. Jika Malam itu pergi maka bulan akan
senantiasa mengikutinya. Hidup Rhandra adalah kehidupan bagi Halimah. Mati
Rhandra adalah kematian yang nyata untuk Halimah
#bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar