@bende mataram@
Episode 003
Seri 3
Tetapi ia melupakan Kepala Kampung Krosak yang mengincar pula pusaka itu.
Maka begitu dia_hendak menubruk kedua pusaka Pangeran Semono, tangannya
kena dipapas tinju Kepala Kampung Krosak. Mereka berdua lantas berdiri.
Kedua-duanya sudah berumur lanjut. Kumis, jenggot dan alisnya memutih
kapuk. Pandang matanya suram kuyu. Mereka berusaha memperkasakan diri.
Kemudian sa¬ling menerjang dengan sekuat tenaga.
Mereka berbenturan dan tergetar mundur dua langkah. Tubuhnya
bergoyang-goyang. Tapi seperti kemasukan setan mereka mener¬jang lagi dan
bergumul rapat pepat.
Jaman dulu tak gampang orang jadi Kepala kampung. Dia harus seorang
perwira, berwibawa, berani dan cerdik sebagai syarat mutlak memperoleh
kewibawaan. Itulah sebabnya mereka kebanyakan terdiri dari bekas jagoan,
pembegal atau maling ampuh. Maka tak mengherankan, kalau mereka pandai
berkelahi dan ulet.
Waktu itu senja rembang telah tiba. Dalam rumah panjang itu seketika
menjadi gelap. Tubuh mereka yang berkelahi berkelebatan seperti bayangan.
Mereka mengadu ketajaman pendengaran dan berpedoman pada kesiur angin belaka.
Keempat orang kepala kampung itu sebenarnya tak mempunyai musuh tertentu.
Mereka hanya bersedia bertempur demi kedua pusaka. Siapa saja yang
menghampiri meja, lantas saja digempur bersama. Karuan saja, pertempuran
itu berlangsung sangat kacau.
Mula-mula, Kepala Kampung Kemarangan berhantam dengan Kepala Kampung
Gumrenggeng. Tiba-tiba mereka melihat pergulatan mati-matian antara Kepala
Kampung Karangtinalang dan Kepala Kampung Krosak. Ketika kedua kepala
kampung itu bergeser tempat sehingga mendekati meja, dengan berbareng
mereka menyerang. Karena serangan itu, pergulatan bubar tersentakkan.
Mereka mendongkol dan permusuhannya kini beralih kepada Kepala Kampung
Kemarangan dan Kepala Kampung Gumrenggeng.
"Kalian manusia rendah!" maki Kepala Kampung Karangtinalang.
"Apa kau bukan bangsa tikus pula?" Kepala Kampung Gumrenggeng membalas
bentakan itu. la mengayunkan tinju. Cepat-cepat Kepala Kampung
Karangtinalang menangkis. Maka bentroklah adu tenaga itu, sehingga
kedua-duanya mundur sempoyongan.
Dalam pada itu Kepala Kampung Krosak melayani Kepala Kampung Kemarang, yang
merangsak dengan hebat. Mereka mencakar dan menendang sejadi-jadinya.
Kedua-keduanya mengerang kesakitan, tetapi tak mau mengalah. Mereka
berputar memasuki gelanggang pertarungan Kepala Kampung Karang¬tinalang dan
Kepala Kampung Gemrenggeng. Justru waktu itu, Kepala Kampung Gemreng¬geng
sedang menyerang punggung. Karuan saja mereka berdua terkejut. Buru-buru
mere¬ka menangkis berbareng. Prak!
Mereka terjengkang ke samping. Mendadak Kepala Kampung Karangtinalang
berjongkok dan mengirimkan tendangan. Serangan ini samasekali tak diduga
oleh ketiga-tiganya. Lagipula, mereka bertiga tadi terkejut karena.
bentrokan tanpa rencana. Itulah sebabnya, maka masing-masing kena hajaran
tendangan kaki Kepala Kampung Karangtinalang. Mereka lantas kalangkabut dan
berbareng merangsak maju.
Sudah barang tentu, Kepala Kampung Ka¬rangtinalang ketakutan diserang
bertiga. Ontung ia tak kehabisan akal. Cepat ia merangkak menjauhi dan
mengumpet di bawah meja. Napasnya tersengal-sengal menyekat leher. Dalam
hati ia mengharap kedatangan dua pembantunya yang tadi disuruhnya mengawal
dari jauh. Tetapi semenjak ia masuk ke rumah Wayan Suage dan Made Tantre,
mereka jauh berada di luar. Apakah mereka mengetahui apa yang telah terjadi
pada petang hari itu.
Memikirkan hal itu, ia merayap keluar dari bawah meja. Hatinya tak rela
jika belum dapat menggenggam pusaka Pangeran Semono sebagai miliknya.
Tetapi begitu dia keluar dari kolong meja, segera ia terlibat dalam
pertempuran kalang kabut. Ia lantas menerjang dan mengamuk serabutan.
Pada saat itu Wayan Suage dan Made Tantre yang berdiri di luar gelanggang
tercengang-cengang menyaksikan terjadinya pertarungan. Lama-kelamaan mereka
mendongkol, jengkel dan geli. Bagaimana tidak? Sama sekali tak diduganya
kalau mereka berempat yang diharapkan menjadi saksi hak milik barang
pusaka, malahan saling berhantam begitu mati-matian. Perkakas rumahnya
rusak berantakan. Sedangkan Sapartinah dan Rukmini terlihat memepet dinding
dengan wajah ketakutan. Maklumlah, selama mereka mendirikan rumah tangga,
belum pernah sekali pun menyaksikan orang bertempur di depan hidungnya. Apa
lagi mereka yang bertempur adalah kepala-kepala kampung yang mereka hormati.
Sangaji dan Sanjaya sudah sejak tadi terkunci mulutnya. Mereka berdua
gemetaran, meringkaskan badan dan menyusup ke lambung ibunya masing-masing.
Mempertimbangkan keadaan keluarganya, Made Tantre habis kesabarannya.
Serentak ia lari ke dapur dan datang kembali dengan membawa kayu menyala.
Segera ia menyalakan lampu. Kemudian berbareng dengan nyala lampu, ia
berteriak nyaring,
"Berhenti! Mengapa kalian saling berhantam? Bukankah kalian kami undang
untuk menjadi saksi hak-milik pusaka kami?"
Mereka berhenti berkelahi dengan serentak. Tetapi bukan karena teriakan
Made Tantre, melainkan karena sinar terang yang menerangi ruang rumah.
Mereka saling memandang dengan pandang mengancam dan menyiasati. Raut muka
mereka bengis dan hawa pembunuhan mulai terasa.
Seketika itu di dalam rumah hanya terdengar napas mereka. Made Tantre
bergemetaran karena menahan marah. Ingin ia mendepaki muka mereka,
andaikata mereka bukan kepala-kepala kampung yang harus dihormati. Mendadak
ia mendengar suara lantang dari serambi depan. Suara itu mengalun dan
menusuk seluruh penjuru. Ia kaget dan cepat-cepat memepet dinding.
"Aku Wirapati, murid keempat Kyai Kasan Kesambi. Ada sesuatu hal yang harus
kusam-paikan kepadamu. Kuharap jangan salah paham!" bunyi suara itu.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar