@bende mataram@
Bagian 305
TITISARI YANG BERADA DIATAS LOTENG bersyukur dalam hatinya menyaksikan
Sanjaya dan Nuraini dapat bertemu dan berdamai kembali dengan cara luar
biasa. Sangaji pun berharap, mudah-mudahan Sanjaya berubah perangai dan
pendiriannya tiada lagi sudi menjadi anak angkat Pangeran Bumi Gede. Mereka
berdua saling memandang dan saling bersenyum. Kemudian pandang mereka
runtuh di bawah sana. Tatkala itu, terdengarlah suara Nuraini penuh mesra.
"Apakah engkau akan mem-biarkan jenazah sang Dewaresi terbaring di sini?"
Sanjaya seperti tersadar. Cepat ia menjawab sambil menghela napas. "Kita
harus menguburnya. Kalau sampai ketahuan pamannya, tiada lagi tempat bagi
kita dalam dunia ini." Nuraini tak berkata lagi. Dengan memungut golok
Fatimah terus saja ia membantu Sanjaya menggali tanah di luar benteng.
Kemudian Sanjaya membawa jenazah sang Dewaresi dan dikebumikan tanpa
upacara. Dalam pada itu malam sudah merangkak-rangkak melalui
keheningannya. Mereka menghempaskan diri dengan pikirannya masing-masing.
Tiada lagi mereka berbicara. Dan tahu-tahu mereka tertidur dengan nyenyak
sekali. Berbareng dengan datangnya pagi hari, Sanjaya nampak
membanting-banting kakinya. Waktu itu Nuraini baru saja datang dari sungai
yang berada tak jauh dari benteng. Begitu melihat perangai Sanjaya, ia jadi
heran. Hati-hati ia minta keterangan. "Kau kenapa?" "Benar-benar aku
goblok!" sahut Sanjaya setengah memekik. "Mengapa aku semalam melepaskan
kedua gadis itu? Mestinya, merekapun harus kubunuh. Dengan begitu, rahasia
ini akan terbungkam untuk selama-lamanya. Hm... ke mana kini aku harus
mencarinya?" Nuraini berdiri tertegun. Berkata, "Mengapa engkau hendak
membunuh mereka tanpa dosa?" "Paman sang Dewaresi adalah seorang pendekar
sakti tiada tandingnya. Kalau sampai mereka menceritakan pengalaman kita
semalam... kau bisa membayangkan sendiri apa akibatnya." Nuraini menaikkan
alisnya. Ia mempunyai pendapat yang berbeda. Katanya menggurui, "Seorang
laki-laki harus berani mempertang-gungjawabkan semua pekertinya. Kalau kau
takut menghadapi tanggung jawab, tak usahlah kau membunuhnya." Sanjaya
menunduk. Tak mau ia berdebat dengan Nuraini. Tetapi diam-diam, ia memeras
otak hendak mencari Fatimah dan Gusti Ayu Retnaningsih. "Paman sang
Dewaresi memang hebat," kata Nuraini menguatkan pendapatnya. "Kalau kita
cepat-cepat menyembunyikan diri, mustahil dia bisa mencari." "Adikku,"
potong Sanjaya dengan menarik napas "Pamannya itu luar biasa gagahnya.
Ingin aku berguru kepadanya. Karena itu, tak dapat kita menyingkir
daripadanya." "O, begitu?" Nuraini heran. "Sebenarnya sudah semenjak lama
aku memimpikan hal itu. Tetapi Kebo Bangah mempunyai adat istiadatnya
sendiri, la hanya mau mewariskan ilmunya kepada keturunan rumpun
keluarganya belaka. Sekarang sang Dewaresi mati. Kudengar, ia tak mempunyai
keturunan rumpun keluarga lagi. Dengan begitu, pastilah Kebo Bangah akan
mau menerima aku sebagai muridnya." Sanjaya berbicara dengan penuh semangat
sampai wajahnya nampak berseri-seri. Sebaliknya Nuraini jadi perihatin.
Setengah berbisik ia berkata, "Ah, kukira engkau mem-bunuh dia semata-mata
karena hendak meno-long aku. Ternyata engkau mempunyai alasanmu sendiri
demi kepentinganmu." "Adikku! Mengapa engkau berpikir begitu?" potong
Sanjaya dengan tertawa. Cepat ia memeluk Nuraini sambil berbisik. "Gntukmu
aku rela hancur lebur." "Tentang elanmu itu, baiklah kita bicarakan di
belakang hari," sahut Nuraini dingin. "Sekarang jawablah dahulu
pertanyaanku, engkau sudi kembali menjadi rakyat biasa atau akan tetap
bernaung di bawah kekuasaan musuh ayahmu?" Sanjaya terperanjat mendengar
pertanyaan itu, sampai melepaskan pelukannya. Kemudian ia mundur selangkah
dan menga-mat-amati wajah Nuraini yang cantik jelita. Pagi hari itu Nuraini
nampak segar bugar, sehingga tubuhnya yang montok benar-benar menggiurkan,
la jadi tertegun-tegun. "Apakah salahnya orang berjuang untuk hari
depannya?" katanya. "Baik. Tetapi masakan sudi menghamba di bawah naungan
lawan ayahmu?" "Kau salah adikku," sahut Sanjaya cepat. "Kau tahu...
seminggu yang lalu, perang telah pecah. Aku tahu, bahwa kadipaten Bumi Gede
akan hancur lebur." "Ya, itulah harapanku pula. Tetapi mengapa engkau masih
berada di samping pangeran itu?" "Ha, itulah soalnya," jawab Sanjaya.
Kemudian meneruskan dengan suara membujuk. "Ah, adikku. Biarlah persoalan
ini kupecahkan sendiri. Hanya pintaku, janganlah engkau meninggalkan aku.
Semenjak engkau melarikan diri dariku, hatiku pepat dan terasa kosong."
Setelah berkata demikian, ia maju selangkah hendak memeluk Nuraini lagi.
Mendengar suara Sanjaya yang lembut menggairahkan, hati Nuraini jadi
berguguran. Memang hatinya sudah terenggut Sanjaya semenjak pertemuannya di
Pekalongan. Karena itu, ia membiarkan dirinya dipeluk dengan mesra. Bukan
main bersyukurnya Sanjaya. Dengan pandang lembut ia mengamat-amati.
Mendadak saja timbullah birahinya. Ia menundukkan kepalanya hendak mencium.
Tapi belum lagi ia menciumnya, terdengarlah suara derap kuda di kejauhan.
Dengan agak terperanjat, Sanjaya mele-paskan pelukannya. Kemudian ia lari
meng-hampiri pintu dan menjenguk ke luar. Sekonyong-konyong dua benda hitam
me-layang ke atas. Ia mundur kaget. Setelah diamat-amati, ternyata dua ekor
lutung. Sanjaya jadi keheran-heranan. Lutung sia-pakah ini? Cepat ia
mengalihkan penglihatan-nya di jauh sana. Maka tertampaklah serom-bongan
pasukan kompeni berderap mendekati benteng. Sangaji waktu itu tengah
menggerumuti buah-buahan untuk makan pagi. Ia mendengar suara gemeresek di
atas genting. Dari sela-sela genting, ia melihat berkelebatnya dua ekor
lutung itu. Hatinya tercekat sampai mulutnya setengah terbuka. Titisari
adalah seorang gadis yang luar biasa cerdik. Begitu melihat kesan wajah
Sangaji, ia jadi bercuriga. Terus saja berkata, "Agaknya kau kenal pemilik
lutung ini." Sangaji tak pernah membohong. Maka ia mengangguk. Jawabnya,
"dahulu Ki Tunjung-biru memperlihatkan kecekatannya menangkap lutung itu.
Lutung itu dihadiahkan kepadaku. Kemudian... kuserahkan kepada..." la
melepaskan pandang ke bawah. Pandangnya mencoba menembus sela-sela pintu
benteng. Apabila matanya melihat berkelebatnya pasukan kompeni, wajahnya
berubah hebat. Katanya setengah memekik. "Hai! Apakah benar-benar dia
berada di sini?" "Siapa?" Titisari heran. "Sonny! Sonny de Hoop!" "Siapakah
dia?" Mendengar pertanyaan itu, barulah Sangaji sadar bahwa ia telah
kelepasan bicara. Tapi dasar dia seorang pemuda yang jujur dan polos hati,
segera ia berkata, "Itulah lutung pemberian Ki Tunjungbiru. Lutung itu
ku-berikan kepada Sonny de Hoop. Dialah tu-nanganku..." Pasukan berkuda itu
benar-benar memasuki benteng. Mereka saling berbicara dan melepaskan
aba-aba. Sanjaya terus mundur dan menarik tangan Nuraini. Kemudian dengan
berjingkat-jingkat ia bersembunyi di ruang belakang. Seorang gadis Indo
meloncat turun ke tanah. Kemudian bersiul-siul memanggil lutungnya.
Benar-benar lutung itu tahu diri. Begitu mendengar siul majikannya, dengan
berebutan mereka meloncat turun. Dan majikannya menyambut mereka dalam
pelukannya. "Apakah dia Sonny de Hoop?" bisik Titisari. Sangaji mengangguk.
Dan Titisari meng-arahkan pandangnya kepada seorang gadis Indo yang gagah
tegak dan berwajah cantik lembut. Tak dikehendaki sendiri, wajahnya berubah
hebat dan air matanya memenuhi kelopak matanya. "Kau telah bertunangan...
mengapa engkau tak pernah mengabarkan kepadaku?" tegurnya lembut. Sangaji
jadi bergelisah bukan main. Katanya sulit, "Pernah aku hendak
memberitahukan keadaanku kepadamu. Tapi selalu aku membatalkan, karena
khawatir engkau menjadi tak senang hati padaku. Lagipula... aku tak pernah
menganggap pertunangan itu sungguh-sungguh." "Bukankah dia tunanganmu?
Mengapa engkau tak bersungguh-sungguh?" "Entahlah, mengapa aku jadi begitu.
Dalam perasaanku, dia tak lebih kuanggap sebagai saudara kandungku sendiri.
Tiada keinginanku hendak mengawini." Titisari jadi heran. Sepercik cahaya
mem-bersit dalam hatinya. "Kenapa begitu?" "Karena pertunanganku dahulu,
bukan tim-bul dari niatku. Semata-mata atas kehendak Mayor de Hoop dan
kakak angkatku Mayor Willem Erbefeld. Tatkala itu, aku tak diberi
kesempatan untuk berpikir dan menimbang-nimbang. Mereka kuanggap
manusia-manusia yang sudah sering memberi pertolongan kepadaku. Aku merasa
berutang budi. Karena itu tak mau aku menyakitkan hati mereka. Tetapi
kini... setelah aku berkenalan denganmu... masakan aku akan kawin dengan
gadis lain?" "Lantas? Apakah yang hendak kau lakukan?" "Aku sendiri tak
tahu..." Titisari berdiam diri. Ia menarik napas panjang sekali. Kemudian
berkata setengah berbisik, "Baiklah... asalkan di dalam hatimu engkau
senantiasa memperlakukan aku dengan penuh cinta kasih, aku akan tetap
berada di sampingmu, meskipun engkau mengawini dia..." dia berhenti
sejenak. Berkata lagi, "hanya... kalau kau sudi mendengarkan... ingin
kupinta kepadamu, agar kau jangan mengambil seorang isteri selain aku.
Sebab, hatiku pasti kurang senang akan menyaksikan seorang wanita lain
selalu mengintil di belakangmu.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar