@bende mataram@
Bagian 307
Setelah itu dengan bantuan cahaya surya, ia mulai mengamat-amati. Ternyata
guratan yang terdapat di atas keris Kyai Tunggulmanik dan Bende Mataram
berbeda. Guratan yang tertera di atas keris Kyai Tunggulmanik berbentuk
ukiran-ukiran rumit berkelompok-kelompok. Tiap sisi bergambar ukiran tujuh
kelompok. Dengan demikian, keris itu mempunyai empat belas kelompok ukiran.
Dan guratan yang berada di atas Bende Mataram merupakan sebuah lukisan
alam. Lukisan itu terbagi menjadi tujuh bagian. Yang pertama, sebuah
gundukan tinggi yang tertancapi sebuah kunci tajam. Lukisan ini terdapat
pada pencu bende. Yang kedua, sebuah gua yang teraling tiga batu raksasa.
Yang ketiga, jurang dalam dengan tebingnya yang terjal. Yang keempat, suatu
kisaran air yang bergelombang deras. Yang kelima, sebuah terusan panjang
dan di sana terdapat sebuah danau raksasa. Yang keenam, suatu tokoh raksasa
membawa busur dan pedang. Dan yang ketujuh, raksasa memanah dengan
anak-anak pedang tajam. Lukisan ini sangat menarik perhatian. Titisari
kemudian membalik benda itu. Ternyata di dalam rongga benda terdapat pula
sebuah lukisan dan corat-coret. Lukisannya menggambarkan sebatang pohon
raksasa yang terpotong dahannya. Di sana terlihat suatu garis panjang yang
melingkar-lingkar. Garis itu mendadak tiba pada gambar matahari, bulan dan
bintang. Titisari adalah seorang gadis yang memiliki kecerdasan otak yang
luar biasa. Ia merupakan satu-satunya wanita yang cemerlang otaknya pada
zaman itu. Setelah merenungi kedua pusaka itu, pandang matanya jadi
ber-kilat-kilat. Lantas berkata kepada Sangaji, "Aji! Meskipun engkau bukan
seorang pemuda yang serakah, tetapi engkau pernah mendengar tentang kedua
pusaka ini, bukan?" Sangaji tak mengerti maksud Titisari. Tetapi ia
mengangguk dengan kepala kosong. "Bagus!" Titisari gembira. "Coba ceritakan
padaku, apa kata Ki Hajar Karangpandan kepada orang tuamu tatkala memberi
kedua pusaka ini!" Sangaji mengerenyitkan dahi mengingat-ingat. Dengan
perlahan-lahan ia menjawab, "Apakah benar dia berkata demikian, tak tahulah
aku. Menurut Ibu, "Ki Hajar Karangpandan berkata bahwa barangsiapa memiliki
keris Kyai Tunggulmanik dia akan menjadi sakti tanpa guru. Gerak-geriknya
gesit. Otaknya lantas saja berubah menjadi cerdas, seumpama sekali melihat
sesuatu terus saja bisa menguasai. Sedangkan siapa yang memiliki Bende
Mataram, dia akan disujuti iblis setan dan jin. Suaranya akan didengar
setiap raja di seluruh Nusantara." Setelah berkata demikian, Sangaji
tersenyum geli. Tetapi Titisari nampak jadi bersungguh-sungguh. Katanya
penuh yakin, "Aji! Coba perhatikan kelompok ukiran keris itu. Apakah engkau
tidak menemukan sesuatu yang aneh?" Sangaji meruntuhkan pandangnya. Ia
mengamat-amati kelompok ukiran, tapi sama sekali tidak menemukan sesuatu
yang aneh. "Kau benar-benar tolol!" gerutu Titisari. "Aku memang tolol!"
sahut Sangaji cepat. Dan mendengar suara Sangaji, Titisari tercekat
hatinya. Ia seperti menyesali kata-katanya sendiri. Gugup ia tertawa riang,
kemudian mencium pipi Sangaji. "Biarlah kau tolol, tetapi aku tak
meng-izinkan orang lain mengatakan demikian. Kau adalah pahlawanku!" Hati
Sangaji berdegupan. la merasakan sesuatu yang nikmat. Bukan oleh sanjung
puji, tetapi justru kena cium kekasihnya. Tak dikehendaki sendiri, kedua
pipinya berubah menjadi merah semarak. "Lihat!" kata Titisari, "Sewaktu
engkau mengadu kepandaian melawan sang Dewaresi dan Kebo Bangah di tengah
lapangan dekat makam lmogiri dahulu, aku melihat gerakanmu berputar-putar
seperti kelompok lukisan ini. Meskipun agak berlainan, tetapi agaknya ada
persamaannya. Coba amat-amati sekali lagi, apakah kelompok ukiran itu bukan
ilmu maha tempur yang tinggi nilainya?" "Ah! Mengapa engkau bisa berpikir
sampai begitu?" Sangaji jadi iba. la menduga kekasihnya terlalu merindukan
ilmu kepandaian tinggi sampai melihat segala corat-coret dikiranya suatu
ajaran ilmu terpendam. "Hm—bukankah engkau berkata, bahwa barangsiapa
memiliki keris ini akan sakti tanpa guru? Gerak-geriknya gesit. Otaknya
berubah menjadi cerdas. Apalagi, kalau bukan suatu ilmu keramat luar biasa?
Apakah engkau percaya kepada tuah keris, sehingga dengan membawa-bawa benda
ini akan menjadi sakti tanpa guru dan berubah menjadi seorang cerdas luar
biasa? Ingatlah, gurumu sudah membawa keris ini. Tapi ia kena dianiaya
musuh-musuhnya," ia berhenti mengesankan. Meneruskan, "sebaliknya, apabila
guratan ukiran ini adalah ilmu maha sakti yang tinggi nilainya, dengan
sendirinya engkau akan mudah menyelami intisari setiap ilmu kepandaian.
Karena sesungguhnya ilmu kepandaian bertempur di seluruh jagad ini
bersumber pada satu tenaga hidup." Setelah meletuskan kata-kata ini,
mendadak saja wajah Titisari berseri-seri dan pandang matanya
berkilat-kilat luar biasa. Semenjak bertemu di rumah makan di Cirebon, hati
Sangaji sudah merasa takluk terhadap gadis itu. Meskipun kini hatinya masih
agak ragu-ragu, namun ia percaya kepada setiap patah kata kekasihnya. Maka
delapan bagian ia menganggap kata-kata Titisari mempunyai dasar alasan yang
nalar dan benar. Memperoleh keyakinan itu, segera ia mengamat-amati
kelompok ukiran itu dengan cermat. Mendadak saja selagi ia mengamat-amati,
darahnya bergolak hebat dan tulang-tulangnya berbunyi berkeretakan.
Wajahnya berubah hebat dan menjadi pucat lesi. Bukan main kagetnya
Titisari. Cepat ia menerkam pergelangan tangan Sangaji yang jadi menggigil
tak keruan. Kemudian dengan gugup ia berkata setengah memekik. "Tutup
matamu! Cepat! Tutup!" Tak mudah Sangaji melakukan saran Titisari. Hatinya
ingin berbuat demikian, tetapi matanya seolah-olah kena paku pada ukiran
keris. Otot-ototnya jadi kencang dan bergetaran. Menyaksikan demikian,
Titisari jadi bingung benar-benar. Sekonyong-konyong suatu pikir-an menusuk
benaknya. Tanpa menghiraukan tata susila lagi, terus saja ia menggigit
leher Sangaji sekuat-kuatnya. Ternyata usahanya untuk membuyarkan pemusatan
pikiran Sangaji, berhasil dengan bagus. Perlahan-lahan guncangan tubuh
Sangaji kian pudar, la dapat menutup mata dan dengan memaksa diri ia
mencoba menyalurkan napasnya yang jadi tersengal-sengal. "Benar! Benar!"
katanya tergagap-gagap. "Baiklah! Gntuk sementara, jangan pikirkan hal itu.
Tenagamu masih lemah dan kesehatanmu belum pulih," sahut Titisari.
Sebenarnya ia harus bangga karena terkaannya benar. Tapi melihat kekasihnya
jadi bersengsara, ia jadi tak menginginkan lagi kata pembenaran. Bahkan
dengan setengah menyesal, ia mendepak kedua benda itu ke pinggir. "Mengapa
kau ..." sanggah Sangaji. "Kesehatanmu harus pulih dahulu," potong
Titisari. "Tentang guratan pada alas Bende Mataram, biarlah perlahan-lahan
kita pecah-kan. Sekarang lupakan semuanya! Pabila kesehatanmu telah pulih
kembali, kukira belumlah kasep untuk menyelidiki lagi." Dengan mengeraskan
hati, Sangaji menco-ba menghapus semua corat-coret dari ingatannya. Hal itu
sebenarnya tidaklah mudah dilakukan. Untung, hati pemuda itu polos dan
sederhana. Perlahan-lahan tapi pasti, angannya kembali bersih dari suatu
ingatan. Dan tak lama kemudian ia tenggelam dalam semadinya. Tetapi
sebenarnya apakah yang menye-babkan Sangaji tergetar, begitu melihat
lukisan ukiran itu? Begini, seperti diketahui, Sangaji pernah menerima ilmu
ciptaan Kyai Kasan Kesambi yang berpokok kepada huruf Jawa. Betapa hebatnya
ilmu itu, sama sekali tak diketahui dan disadari sebelumnya. Ia hanya
berlatih membabi buta, bagai seorang buta huruf ingin berkirim surat kepada
kekasihnya dengan menghafal lekak-lekuk huruf yang harus dipahami dan
dihafalkan dahulu. Hasilnya sudah barang tentu kurang memuaskan. Tetapi
karena tekunnya, lambat-laun huruf yang dihapalkan itu bisa berbunyi juga
di luar pengertiannya sendiri. Demikianlah, semenjak itu dia mulai bisa
menangkap tenaga saluran siul bermantra yang diletupkan dari mulut Kebo
Bangah, Adipati Surengpati dan Gagak Seta. Tatkala Kebo Bangah dan Gagak
Seta bertempur mengadu tenaga siul, ia menekuni dengan diam-diam. Bahkan,
karena perang siul itulah dia mulai bisa memahami rahasia ilmu ciptaan Kyai
Kasan Kesambi. Lantas saja dia bergerak-gerak dengan tak disadarinya
sendiri sampai-sampai mengherankan Kebo Bangah, Adipati Surengpati dan
Gagak Seta. Demikianlah, kali ini dengan cara seperti tatkala memahami
perang siul antara para pendekar sakti, ia merenungi coretan ukiran keris
Kyai Tunggulmanik. Angannya dipusatkan dan mengikuti garis jalur tiap
ukiran yang berlekak-lekuk mirip huruf Jawa. Dan tiba-tiba saja darahnya
jadi bergolak. Semenjak ia kena cekek Bagas Wilatika, dalam dirinya timbul
suatu perubahan mendadak. Getah sakti Dewadaru melebur diri dengan gumpalan
tenaga sakti ilmu Kumayan Jati dan Bayu Sejati. Dengan bersatunya keti-ga
unsur ilmu sakti itu, darah dan daging Sangaji jadi perasa. Jangan lagi
sampai kena teraba. Memusatkan pikiran saja, ketiga ilmu sakti yang sudah
bersatu itu terus saja meng-adakan reaksi secara wajar. Sebenarnya hebat
peristiwa itu. Malahan terlalu hebat, andaikata Sangaji dalam keadaan segar
bugar. Sebaliknya, tubuhnya masih belum bebas dari derita luka parah.
Se-umpama Titisari tiada cepat-cepat menya-darkan, pasti nyawanya melayang.
Karena pergolakan yang terjadi dalam dirinya hebat luar biasa sampai
tubuhnya terguncang-gun-cang.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar