@bende mataram@
Bagian 306
Kalau pada suatu kali hatiku jadi panas, pedangku bisa melubangi dada
perempuan itu. Dan kau pasti akan mengutuki aku dan menyesali diriku selama
hidupku. Betapa aku bisa merasakan kebahagiaan hidup dalam keadaan
demikian? ... Coba dengarkan pembicaraan mereka." Pasukan berkuda itu
merumun di pekarangan, Sonny de Hoop berada di tengah-tengah mereka.
Wajahnya bercahaya terang dan berseri-seri. "Menurut laporan, dia berada di
sekitar desa ini," kata Sonny de Hoop lembut. Seperti diketahui, gerakan
Patih Danureja II dan Pangeran Bumi Gede memperoleh bantuan pihak kompeni.
Mereka datang ke Jawa Tengah untuk membantu pihak penentang Sultan Hamengku
Buwono H. Dengan sendirinya, mereka dekat dengan pihak Patih Danureja U dan
Pangeran Bumi Gede, sehingga mendengar pula laporan laskar dan
pendekar-pendekar undangan Pangeran Bumi Gede tentang Sangaji. Seperti
diketahui, Bagas Wilatikta dan kawannya pernah berhubungan dengan Pangeran
Bumi Gede dan Patih Danureja II untuk menjual pusaka keris Kyai
Tunggulmanik dan Bende Mataram. "Ingat-ingat! Sangaji tidak berpihak kepada
siapapun," kata Sonny de Hoop kepada seorang letnan. Dengan pihak Bumi Gede
ia bermusuhan. Dengan pihak kesultanan tiada sangkut-pautnya. Menurut
laporan ia diduga dalam keadaan luka parah. Aku lebih senang, apabila dia
bisa kita ketemukan dan kita bawa pulang ke tangsi, dia berhenti sejenak
seolah-olah Sangaji sudah pasti akan dapat diketemukan. Matanya terus saja
nampak berseri-seri dan berkata penuh semangat: "Ah! Pasti dia bakal
terkejut melihat kita datang dengan mendadak." . Sonny de Hoop adalah anak
seorang mayor. Dengan sendirinya bawahan ayahnya sangat menghormatinya.
Setiap katanya diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Hal itu gampang
dimengerti apa sebabnya. Mereka tak lebih dan tak kurang adalah manusia
lumrah yang mengharapkan kejatuhan rejeki dari sikap menghambanya terhadap
anak majikan. Maka mereka sibuk membicarakan dan mempersoalkan. Akhirnya
mereka berangkat meninggalkan benteng dengan bertebaran. Sonny de Hoop
berangkat pula dengan didampingi kepala peleton, seorang sersan dan empat
prajurit. Dengan demikian, benteng kembali menjadi sunyi. Hampir berbareng
Sangaji dan Titisari menghela napas, seakan-akan telah terbebas dari
ancaman maut. Memang ketenteraman hati mereka masing-masing hampir saja
kena gempur. Perbuatan sang Dewaresi semalam yang mirip tingkah laku seekor
binatang bukan main hebatnya. Hati Sangaji benar-benar terguncang. Begitu
pula Titisari. Hanya saja alasan terguncangnya hati mereka berlainan.
Sangaji terangsang oleh pekerti sang Dewaresi sebagai tunggal jenis
naluriah. Jantungnya berdegupan dan hatinya berge-taran sampai-sampai sendi
tenaganya terasa luluh oleh tegangnya urat syaraf. Sebaliknya, hati
Titisari mendadak saja menjadi kecut bercampur rasa amarah meluap-luap tak
terkekangkan. Ia menjadi gelisah dan resah luar biasa. Untung dalam
kekalapannya, ia mencurigai sepak terjang sang Dewaresi. Hal ini terjadi
berkat otaknya yang cerdik dan cer-das. Ia yakin, bahwa perbuatan sang
Dewaresi yang melebihi batas-batas kesopanan sengaja dilakukan untuk
menggugurkan iman Sangaji. Memperoleh keyakinan demikian, segera ia
berusaha menguasai hati Sangaji. Mula-mula ia memaksa Sangaji menutup kedua
matanya dan menyumpali telinganya. Setelah itu ia menyakiti seluruh tubuh
Sangaji dengan cubit-an-cubitan cengkeraman. Rasa sakit dan nyeri itulah
yang menyebabkan Sangaji memperoleh kesadarannya kembali, sehingga hatinya
menjadi tenang dan teguh. Setelah Sanjaya berhasil membinasakan sang
Dewaresi, barulah ketegangan hati mereka bubar buyar. Lantas saja, mereka
bisa terlena tidur sejenak. Tapi bertepatan dengan datangnya pagi hari,
kembali ketenangan hati mereka tergun-cang oleh kejadian yang tiba-tiba.
Kali ini lebih hebat pengaruhnya, karena mereka mempunyai kepentingan
langsung. Syukurlah, Sonny de Hoop meninggalkan benteng dengan cepat.
Meskipun demikian, keadaan mereka kuyu sayu seperti terlolosi seluruh sendi
tulangnya. Tak disadari sendiri mereka saling menyandarkan tubuhnya dan
melepaskan napasnya yang sesak dan terengah-engah. Mereka membungkam seribu
bahasa. Karena masing-masing sulit mene-mukan kata-kata untuk mengentengkan
beban penangguhan hati. Akhirnya terdengar suara Titisari berkesah dalam.
"Aji! Tunanganmu cantik dan gagah. Hanya saja, menurut penglihatanku ia
terlalu kuat. Tubuhnya begitu kukuh. Kalau kau mencoba mengadu tenaga
bergulat, pasti kau bakal ter-banting." Sebenarnya kata-kata Titisari itu
penuh ungkapan rasa pedih. Tapi karena hatinya terlalu ikut berbicara,
kesannya jadi lucu sehingga Sangaji bisa tersenyum geli. "Apakah potongan
tubuhnya mengingatkan engkau kepada seorang jagoan gulat?" Sangaji mencoba
melucu. "Idih... kau tak malu!" sahut Titisari cepat dan mencubit paha.
Sangaji tergeliat karena rasa sakit, namun hatinya agak ringan sedikit.
Perlahan-lahan ia bisa bernapas longgar. Sekalipun demikian, hal itu bukan
berarti ia terbebas dari rasa khawatir, la bukannya mengkhawatirkan
Titisari akan mencelakakan dengan tiba-tiba merenggutkan tangannya. Tetapi
ia takut akan ditinggalkan Titisari untuk selama-lamanya. Waktu itu,
matahari sudah sepenggalah tingginya. Mereka melemparkan pandang ke bawah,
keadaan benteng sunyi senyap. Sanjaya yang tadi menyembunyikan diri di
ruang belakang, belum juga menampakkan batang hidungnya. Karena kesenyapan
itu, Titisari mengelanakan pandangnya ke dinding ruang. Gundu matanya
runtuh kepada pasu pembasuh darah Sangaji. Kedua pusaka Bende Mataram tadi
direndam ke dalamnya, karena terlepot darah pula. Mendadak saja ia melihat
sesuatu yang menarik hatinya. Tak terasa terloncatlah kata-katanya. "Aji!
Lihat!" Sangaji melemparkan pandangnya ke arah telunjuk Titisari. Ia
melihat kedua pusaka itu jadi berkilauan. "Hai, apakah artinya ini?" kata
Titisari lagi. Dengan susah payah ia menarik pasu air. Segera ia hendak
mengambil kedua pusaka tersebut, sekonyong-konyong terloncatlah
perkataannya. "Aji! Kau pernah berkabar, bahwa kedua pusaka itu dahulu
direndam dalam lumpur air bertahun-tahun lamanya, sebelum gurumu Wirapati
memperolehnya kembali. Apakah gurumu pernah menerangkan kepadamu, bahwa
pusaka itu akan bercahaya apabila kena air?" "Waktu Guru kupapah ke
pertapaan, beliau tak dapat berbicara lagi," sahut Sangaji, Madanya sedih,
karena teringat akan nasib gurunya yang sudah membuang budi sebesar gunung
kepadanya. "Tapi apabila pusaka itu bercahaya manakala kena sentuh air,
mestinya baik Ibu, guruku maupun Ki Hajar Karangpandan akan menerangkan.
Seperti kauketahui, orang tuaku kedatangan Ki Hajar Karangpandan dalam
keadaan basah kuyup. Kedua pusaka itu yang disimpannya dalam kantong basah
pula. Mungkin pula basahdalam waktu berjam-jam. Namun tatkala di-sontak di
atas meja, benda itu tak lebih daripada benda logam lainnya. "Inilah aneh!"
potong Titisari. Dalam hal ini, meskipun Titisari cerdik tetapi ia tak kan
pernah menduga bahwa gurat pada kedua pusaka itu akan bisa nampak manakala
kena darah manusia. Bangsa Jawa pastilah akan menerangkan, bahwa hal itu
terjadi karena pengaruh mantra-mantra kuna yang penuh ajaib dan sakti.
Sebaliknya seorang pandai ahli besi yang berperabot nalar akan menerangkan,
bahwa pusaka itu terbuat dari semacam logam yang berpeka manakala terkena
sentuh zat cair tertentu atau darah manusia. Mungkin pula diperkuat dengan
keterangan tentang ramu-ramuan kadar persenyawaan kimia yang membuatnya
mempunyai sifat demikian. Semacam tinta-tinta rahasia, sifat radar,
alat-alat penangkapan suara, kunci-kunci kadar persenyawaan lainnya. Waktu
itu keterangan tentang sifat-sifat demikian belum bisa diuraikan. Ahli-ahli
pikir pada zaman itu hanya bisa menerangkan sebagai hasil kerja kemampuan
zamannya. Seperti tingkatan atau tataran nilai berpikir pada zaman Mesir
tentang piramida dan mumi ) yang sampai dewasa ini masih merupakan
teka-teki besar yang belum bisa terpecahkan rahasia keajaibannya. Diketahui
juga, bahwa di dalam piramida itu seringkali diketemukan benda-benda yang
jauh tinggi nilainya daripada hasil kerja kemampuan otak manusia-manusia
zaman kekinian. Pernah diketemukan setumpuk cita yang berwarna gelap
menyala (biru tua, merah tua, hijau tua, dsb.) yang tiada luntur oleh
tuanya zaman. Sedangkan kain itu diperkirakan berusia lebih dari 2000 tahun
yang lalu. "Sekiranya pusaka ini kita perlihatkan kepada eyang guru,
pastilah beliau dapat menerangkan," kata Sangaji. "Huuuh... apakah eyang
gurumu melebihi ayahku?" potong Titisari sengit. "Aku percaya, ayahku pasti
takkan bisa menerangkan. Dan kalau ayahku tak mampu, masakan eyang gurumu
bisa berbuat banyak?" Meskipun sengit kata-kata Titisari, tetapi da-!am hal
ini ia benar. Sebaliknya Sangaji yang percaya benar kepada kemampuan dan
kesanggupan eyang gurunya, kurang senang hatinya mendengar ujar Titisari.
Tetapi teringat akan kecerdasan Titisari, ia mau percaya bahwa kekasihnya
itu pasti mempunyai alasan kuat. "Marilah kita periksa!" ia mengalihkan
pem-bicaraan. Hati-hati Titisari mengangkat kedua pusaka warisan Pangeran
Semono dan dengan saputangan diletakkan di atas lantai. Ia berlaku sangat
hati-hati untuk menjaga adanya kadar racun.
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar