@bende mataram@
Bagian 304
Tapi karena sang Dewaresi minta pertimbanganku, baiklah terserah kepada
sang Dewaresi menanggalkan pakaiannya sepotong demi sepotong. Itulah lebih
menggetarkan hati..." "Bagus!" sahut sang Dewaresi. Habis berka-ta
demikian, terus saja ia hendak mulai beker-ja. Mula-mula ia memperbaiki
pakaiannya dahulu, kemudian membungkuki Gusti Ayu Retnaningsih dan Nuraini.
Sudah barang tentu Gusti Ayu Retnaningsih dan Nuraini mendongkol bukan main
diperlakukan demikian. Kalau saja hatinya kurang tabah, pastilah mereka
akan jatuh pingsan dengan berbareng. Diam-diam mereka sudah mengambil
keputusan. Apabila mereka berani mencemarkan namanya, akan menggigit
lidahnya sendiri sampai mati. Pada saat itu, Sanjaya membungkuk memu-ngut
golok Nuraini yang tadi jatuh bergelon-tangan di atas lantai. Dengan sudut
matanya ia mengerling sang Dewaresi yang lagi menumpahkan seluruh
perhatiannya kepada Gusti Ayu Retnaningsih dan Nuraini. Kedua tangannya
mulai bekerja. Dengan cekatan, ia hampir dapat menyibakkan kain Gusti Ayu
Retnaningsih dan Nuraini berbareng. Mulutnya engulum senyum luar biasa
puas. Karena hatinya ikut berbicara, dahinya sampai ber-keringat. Itulah
suatu tanda, bahwa seluruh perasaannya terpusat pada apa yang bakal
terlihat nanti. Sekonyong-konyong terjadilah suatu ke-gemparan, di luar
dugaan Sanjaya nampak mengeraskan genggamannya. Dengan mengertak gigi—ia
melompat sambil meng-gerung. Kemudian menikam perut sang Dewa-resi dua kali
berturut-turut. Berbareng dengan itu, ia menendang meja sehingga terbalik.
Kejadian ini datangnya sangat tiba-tiba dan di luar dugaan. Baik Nuraini,
Gusti Ayu Retnaningsih, Fatimah, Titisari dan Sangaji kaget bercampur
heran. Sang Dewaresi sendiri mula-mula tak percaya akan kenyataan itu.
Itulah sebabnya pula, ia seperti terpaku tatkala kena tikaman yang pertama
kalinya. Tetapi begitu merasa sakit tersadarlah dia. Sebat luar biasa ia
menangkis tikaman Sanjaya yang kedua sambil melemparkan tubuh Gusti Ayu
Retnaningsih dan Nuraini berjungkir-balik. Kemudian dengan kecepatan
mengagumkan, ia menimpuk Sanjaya dengan cundrik Gusti Ayu Retnaningsih yang
tadi kena dirampasnya. Tetapi Sanjaya sudah bersiaga. Begitu melihat
berkeredepnya cundrik, ia melompat menghindar. Kemudian menjatuhkan diri
dengan bergulingan. Hatinya kecut dan ketakut-an. Sama sekali tak diduganya
bahwa sang Dewaresi masih mempunyai tenaga untuk melawan dan membalas.
Tanpa berpikir pan-jang lagi ia menjejak tanah hendak melarikan diri.
Tetapi karena hatinya terlalu takut, mendadak saja tenaganya seperti
hilang. Kedua kakinya terasa menjadi lemas dan tak mau menurut perintah
kemauannya. "Jahanam! Kau mau lari ke mana?" gertak sang Dewaresi. Karena
kesannya bercampur aduk luar biasa, mendadak saja ia tertawa terbahak-bahak
seperti iblis. Wajahnya menyeramkan dan berubah bengis luar biasa. Dengan
meminjam tenaga tangan, ia mencengkram pinggiran meja siap hendak meloncat
menubruk. "Hanya satu hal aku tak mengerti," katanya. "Aku sang Dewaresi
yang biasa hidup malang-melintang tanpa tandingan mengapa harus mampus di
tanganmu? Sanjaya! Apa sebab engkau membunuh aku?" Ditinjau selintasan
nampaknya alasan Sanjaya membunuh sang Dewaresi adalah bergolaknya rasa
cemburu semata-mata. Tetapi sebenarnya ia mempunyai alasannya sendiri yang
jauh lebih mendalam. Ia kena dikalahkan Sangaji. Bahkan kini ilmu
kepandaiannya sama sekali tak berarti apabila dibandingkan dengan Sangaji.
Kenyataan yang pahit benar-benar mengge-lisahkan hatinya. Dj luar dugaan,
mendadak saja ia mulai berkenalan dengan Kebo Bangah—paman sang Dewaresi
yang terkenal sebagai salah seorang tokoh sakti pada zaman itu. Maka
timbullah hasratnya untuk menjadi muridnya. Ia percaya manakala Kebo Bangah
mau mengambilnya sebagai murid di kemudi-an hari pasti bisa menandingi
Sangaji. Tetapi adat Kebo Bangah bukanlah seperti kebanyakan pendekar. Dia
tak dapat ditimbuni harta benda agar bisa menerimanya sebagai murid. Dalam
hidupnya ia hanya menerima seorang murid belaka. Yakni, sang Dewaresi. Oleh
kenyataan itu Umbulah niatnya hendak menyingkirkan sang Dewaresi. Pikirnya,
kalau sang Dewaresi tiada pastilah Kebo Bangah membutuhkan seorang ahli
waris ilmu kepandaiannya. Tetapi ia merasa diri tak mampu menyingkirkan
sang Dewaresi dengan terang-terangan. Dalam segala hal, ia merasa kalah.
Satu-satunya jalan hanyalah dengan menikam dari belakang secara tiba-tiba.
Tetapi niat itu tak mudah dilaksanakan. Sang Dewaresi adalah tokoh pendekar
yang sangat berwaspada dan tak gampang-gampang bisa diingusi. Mendadak saja
terjadilah peristiwa itu. Ia melihat betapa sang Dewaresi terlibat dalam
nafsu kebinatangannya hendak memperkosa tiga gadis dengan sekaligus yang
sebenarnya bertujuan untuk menggugurkan ketenangan hati Sangaji. Begitu
bernafsu dia sampai ia jadi lengah. Tahu-tahu sebatang golok menikam
perutnya dua kali berturut-turut. "Hai binatang! Mengapa engkau membunuh
aku?" bentaknya lagi. Sanjaya tak menjawab. Ia berusaha menguasai diri
hendak lari secepat mungkin meninggalkan benteng. Tetapi selagi tubuhnya
bersiaga hendak me-loncat, tiba-tiba lehernya telah kena cengke-ram.
Cengkeraman itu keras luar biasa bagai gaetan besi. Sanjaya kaget bukan
main. Gugup ia men-coba membebaskan diri. Segenap tenaganya dikerahkan.
Sekalipun demikian, ia tak berhasil. Malahan ia jatuh tersungkur dengan tak
dikehendaki sendiri. "Kau tak mau berbicara?" bentak sang Dewaresi dengan
suara menggerang. Terus saja ia menindih punggung Sanjaya. "Apakah engkau
akan membiarkan aku mati dengan penasaran?" Setelah berkata demikian, ia
tertawa iblis. Ternyata ia masih bertenaga kuat. "Baiklah... aku akan
memberi keterangan," sahut Sanjaya dengan suara putus asa. Dengan gemetaran
ia menuding kepada Nuraini yang masih saja rebah tak berkutik di atas meja.
Katanya kemudian "Tahukah kau siapakah dia?" Sang Dewaresi menoleh. Ia
melihat Nuraini dan merenungi sejenak. Kemudian menegas, "Dia... dia
siapa?" Mendadak saja ia berbatuk-batuk. Tangannya menggigil. Ternyata
darah yang meledak dari perutnya tak ubah banjir menje-bol bendungan.
"Dialah tunanganku," sahut Sanjaya. "Dua kali engkau menghina aku. Yang
pertama di lumbung desa. Dan kini... di sini. Masakan aku akan menjadi
seorang penonton belaka?" "Benar" kata sang Dewaresi. Ia tertawa perlahan
melalui dada. "Marilah kita pulang ke neraka dengan berbareng..." Terus
saja ia mengangkat tangan hendak menetak tengkuk. Ia adalah seorang yang
memiliki tenaga kuat luar biasa. Tadi ia bisa mengempur meja sampai
semplak. Karena itu dapat dibayangkan betapa akibatnya apabila tengkuk
Sanjaya kena kemplang. Sanjaya menutup matanya. Tahulah dia, bahwa saat
kematiannya akan tiba. Dalam benaknya, berkelebatlah
pengalaman-pengalamannya yang lalu. Dalam detik itu terasalah suatu
kesedihan mencekam ulu hatinya. Tetapi sekian lama ia menunggu, tangan sang
Dewaresi belum juga turun. Ia jadi heran dan menebak-nebak. Hati-hati ia
menjenakkan mata. Pandang mata sang Dewaresi masih tetap kejang dan
wajahnya menyeringai iblis. Mulutnya kelihatan mengulum senyum maut.
Tangannya terangkat setinggi kepala, namun sama sekali tak bergerak.
Sanjaya meronta dan merenggutkan diri. Ternyata tenaga sang Dewaresi tiada
lagi. Dengan suara gedebruk, tubuh sang Dewaresi terjengkang ke belakang
dan jatuh tersungkur di atas lantai. Nyawanya melayang pada saat tangannya
terangkat hendak menetak tengkuk. Sanjaya tercengang-cengang sampai
mulut-nya melongoh. Inilah suatu kejadian yang jarang terjadi. Nuraini yang
berada di atas meja heran pula. Tadi sewaktu mendengar kekasihnya kena
dibekuk sang Dewaresi, ingin ia meloncat memberi pertolongan. Tetapi ia tak
dapat berkutik hingga hatinya mengeluh. Sebaliknya begitu menyaksikan
betapa Sanjaya terlepas dari maut dengan tak terduga, ia malah jadi
terlongong-longong. Dengan langkah perlahan-lahan, Sanjaya menghampiri
Nuraini dan membebaskannya dari siksaan sang Dewaresi. Begitu Nuraini
merasa bebas, dengan cepat ia memberi pertolongan kepada Gusti Ayu
Retnaningsih dan Fatimah pula. Setelah itu ia menghampiri kekasihnya dan
mendadak saja mereka saling memeluk. Dalam keadaan demikian, banyak-lah
ungkapan kata yang meraung dalam hatinya. Tetapi mulutnya tak kuasa
menceraknya. Tatkala dengan tak sengaja merenungi mayat sang Dewaresi, hati
mereka bergeridik tak setahunya sendiri. Dalam pada itu, Fatimah dan Gusti
Ayu Retnaningsih telah memperbaiki pakaiannya. Hati mereka masih penuh
kesan peristiwa yang baru saja terlampaui. Namun begitu, mereka tak lupa
menyatakan terima kasih kepada penolongnya. Mereka tahu, siapakah Sanjaya.
Ternyata dia anak Pangeran Bumi Gede lawan Pangeran Ontowiryo. Meskipun
demikian, mereka tetap memberi hormat sebagai penolongnya yang membinasakan
sang Dewaresi. Demikianlah... setelah membungkuk hormat—mereka berjalan
dengan bergandengan tangan keluar dari benteng. Sebagai manusia yang tahu
apa artinya berhutang budi, tak mau mereka menganggap Sanjaya sebagai
musuhnya lagi. Itulah sebab-nya, golok dan cundrik mereka dibiarkan
menggeletak di atas lantai di bawah sinar obor yang berkelebat-kelebat dari
dinding ke dinding. ***
Bersambung
Sent with AquaMail for Android
https://www.mobisystems.com/aqua-mail

Tidak ada komentar:
Posting Komentar